Senin, 12 November 2018

Rosing Rasa Rumaketing Angga

Kajian Wedatama (40): Rosing Rasa Lumeketing Angga Bait ke-40, Pupuh Pucung, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV: Nora weruh, rosing rasa kang rinuruh, lumeketing angga. Anggere padha marsudi, Kana kene kaanane nora beda. Terjemahan dalam Bahasa Indonesia: Tidak tahu, inti dari rasa yang dicari, Melekat di badan sendiri, Asal semua mau berusaha, Di sana atau di sini keadaannya tak berbeda. Kajian per kata: Nora (tidak) weruh (tahu), rosing (inti dari) rasa (rasa) kang (yang) rinuruh (dicari), lumeketing (menempel, melekat) ing (di) angga (badan). Tidak tahu, inti dari rasa yang dicari, melekat di badan sendiri Di sini dikatakan bahwa perilaku yang disebutkan dalam bait ke-39 menunjukkan bahwa seseorang itu tidak tahu inti dari rasa atau capaian batin yang dicari, dalam praktek-praktek keagamaan sehari-hari. Bahwa segala ritual keagamaan pastilah menyasar dua sisi dari aspek manusia sebagai makhluk bidimensial. Pada sisi lahir adalah mendisiplinkan diri, menahan hawa nafsu agar kita terbiasa tidak diperbudak keinginan yang tak perlu. Pada sisi spiritual adalah mencapai pengetahuan tentang diri, sehingga kita mengenal Allah sebagai sang Pencipta. Nah inti dari ajaran agama adalah sisi batin tersebut, sedangkan aspek lahiriah adalah sebagai sarana saja. Kita akan mengambil salah satu contoh ibadah sehari-hari, yakni shalat. Ini adalah ibadah yang ditentukan waktu dan tatacaranya secara ketat. Oleh karena hal itu secara lahir kita menjadi terbiasa disiplin, orang yang shalat tak mungkin tidur mendengkur sampai siang karena akan kehilangan sholat subuh. Juga tak mungkin bekerja seharian tanpa jeda karena ada saat-saat tertentu harus berhenti untuk shalat. Dengan demikian ritme hidup orang yang shalat menjadi teratur, terkontrol dan seimbang. Selain itu dalam apek spritual shalat adalah sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah. Dalam shalat seolah kita mengadu jika ada masalah, seolah minta pertolongan jika butuh bantuan, seolah kita berterima kasih jika mendapat anugerah dan menjadi sarana untuk bermuhasabah jika kita hendak mulat sarira hangrasa wani, menilai tentang diri sendiri. Adapun inti dari shalat itu sendiri adalah amar ma’ruf nahi munkar terhadap diri sendiri. Orang yang shalat pastilah takkan berbuat keji dan buruk, sebaliknya akan selalu berbuat baik. Dalam segala ritual lain, ada inti dari rasa yang diharapkan hasilnya (rosing rasa kang rinuruh). Inilah yang mesthi diupayakan, jangan hanya puas pada sekedar aspek lahiriahnya saja. Rosing rasa yang dicari tadi sebenarnya melekat pada badan (lumeketing angga), pada jauh di kedalaman nurani. Maka hasil dari capaian diri mesti dilihat di sana. Suatu ritual ibadah akan disebut berhasil jika hati nurani semakin terang memancarkan gambaran Ilahiyat dan moralitas menjadi meningkat dengan akhlak yang mulia. Percuma saja rajin beribadah tetapi justru hati menjadi kotor oleh kedengkian dan merendahkan sesama. Lebih buruk lagi jika tak membekas dalam akhlak perilaku sehari-hari. Anggere (asalkan) padha (sama-sama) marsudi (berusaha keras), kana (di sana) kene (atau di sini) kaanane (keadaannya, hasilnya) nora (tidak) beda (berbeda). Asal sama-sama mau berusaha, di sana atau di sini keadaannya tidak berbeda. Asalkan dipraktekkan dengan sungguh-sungguh, sama-sama berusaha keras mengamalkan ritual ibadah dalam aspek lahir dan batinnya, maka hasilnya di sana atau di sini akan takkan berbeda. Baik shalat yang dilakukan di Arab atau di Jawa, asal dilakukan dengan tulus sebagai ibadah semata, hasilnya tidak akan berbeda. Sehingga apa yang dilakukan di sini tidak harus persis dengan yang disana. Kita kembali mengingat sebentar uraian bait ke-39, bahwa iklim dan lingkungan bisa memengaruhi cara hidup dan corak kebiasaan masyarakat. Denikian juga dalam hal ibadah. Sepanjang syarat dan rukun dipenuhi maka ibadah akan sah. Soal keutamaan tambahan, atau apa yang disebur sunnat maka disesuaikan dengan kondisi setempat. Misalnya di Arab jika berbuka disunatkan makan kurma, namun jika di Jawa makan kurma saat berbuka bisa menjadi makruh jika tak ada uang untuk membeli. Buah kurma itu mahal sekali, akan memberatkan bagi mereka yang tidak cukup uang. Tentu lebih baik jika diganti makanan lain yang kandungannya sama dan tersedia di Jawa. Maka mesti dicari rosing (inti) dari sunnat nabi menganjurkan kurma itu maksudnya apa? Misalnya agar energi yang hilang selama puasa cepat terganti agar tubuh tidak lemas, maka dicarilah buah lain yang dimaksud, pepaya misalnya. Jika kita bisa mencari rosing dari segala amalan-amalan agama, maka walau berbeda bentuk pelaksanaannya baik di sana (Arab) atau di sini (tempat lain), hasilnya akan sama saja. Karena tujuan pengamalan agama bukan pada bentuk amalannya, tetapi pada efeknya terhadap jiwa manusia. Kajian Wedatama (41): Kabul Kajating Urip Bait ke-41, Pupuh Pucung, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV: Uger lugu, den ta mrih pralebdeng kalbu. Yen kabul kabuka, ing drajad kajating urip. Kaya kang wus winahya sekar srinata. Terjemahan dalam Bahasa Indonesia: Asalkan sungguh-sungguh, yang berusaha meningkatkan hati, Bila terkabul terbukalah, Pada derajat tujuan hidup, Seperti yang diisyaratkan dalam tembang Sinom. Kajian per kata: Uger (asalkan, kalau) lugu (sungguh-sungguh), den ta (yang) mrih (agar supaya) pralebdeng (dari kata pra lebda ing, menjadi ahli dalam, meningkatkan diri, belajar untuk) kalbu (hati). Asalkan sungguh-sungguh, yang berusaha meningkatkan hati. Maksud gatra ini adalah siapa saja yang sungguh-sungguh berusaha untuk meningkatkan kemampuan hati. Kemampuan hati yang dimaksud sesuai dengan apa yang telah diuraikan dalam bait 36, yakni hati yang sudah penuh dengan limpahan cinta kasih Ilahi. Hati yang sudah tersucikan sehingga bisikan-bisikan yang keluar darinya adalah kebenaran, Al Haq, bukan sekedar duga-duga atau kekhawatiran, was-was. Yen (kalau) kabul (terkabul, diijinkan olehNya) kabuka (terbuka), ing (pada) drajad (derajat) kajating (yang dimaksud, yang dituju) urip (dalam hidup). Bila terkabul terbukalah, pada derajat tujuan hidup. Agar terkabul apa yang diusahakan tadi, atas ijin Allah sebagai pemilik segala hati dan berkuasa membolak-baliknya, maka penyucian hati harus diawali dengan menjauhi segala larangan dan mematuhi segala perintahnya, atau dalam bahasa agama disebut taqwa. Kajating urip merujuk pada tujuan akhir, atau puncak pencapaian manusia, atau juga sering disebut insan kamil dalam istilah para sufi. Apabila manusia berusaha keras untuk meningkatkan kemampuan hati agar hati senantiasa dilimpahi kasih sayang Ilahi maka tak mustahil akan sampai pada derajat tertinggi yang mungkin dicapai oleh manusia tersebut. Jika ini tercapai maka jadilah ia manusia paripurna yang menjadi prajurit Allah, menjadi tanganNya dalam merawat bumi ini. Kaya (seperti) kang (yang) wus (sudah) winahya (diisyaratkan) sekar (tembang) srinata (sinom). Seperti yang diisyaratkan dalam tembang Sinom. Hal-hal seperti yang sudah diuraikan dalam pupuh sinom pada awal serat Wedatama akan tercapai. Silakan lihat lagi pupun Sinom, pada bagian Wignya Met Tyasing Sasami. Kajian Wedatama (42): Ngelmu Iku Panemu lan Tapa Bait ke-42, Pupuh Pucung, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV: Basa ngelmu, mupakate lan panemu. Pasahe lan tapa. Yen satria tanah Jawi, kuna kuna kang ginulut triprakara. Terjemahan dalam Bahasa Indonesia: Bahasa ilmu, cocoknya dengan argumen, Berhasilnya dengan bertapa, Bagi satria tanah Jawa, Dahulu kala yang menjadi pegangan tiga hal. Kajian per kata: Basa (bahasa) ngelmu (ilmu), mupakate (cocoknya) lan (dengan) panemu (pendapat, argumen). Bahasa ilmu, cocoknya dengan argumen. Ilmu pengetahuan apapun, baik ilmiah, filosofis ataupun religius penyampaiannya adalah dengan argumen. Dengan dalil-dalil aqliyah ataupun naqliyah. Pemaparannya harus jelas sejelas-jelasnya sampai akal pikiran membenarkannya. Jika sesuatu diterima tanpa pertimbangan akal, maka bukan ilmu namanya. Mupakat dalam gatra ini maksudnya ada kecocokan pengertian, antara akal pikiran dan ilmu yang dipelajarinya. Kalau belum ada kecocokan pengertian belum bisa disebut ilmu, tetapi seperi melafalkan mantera saja. Tidak ada pengertiannya sama sekali. Pasahe (mempan, berhasil) lan (dengan) tapa (bertapa, tirakat). Berhasilnya dengan bertapa. Namun demikian ilmu bukanlah teori semata. Selalu ada maksud dan tujuan dipelajarinya suatu ilmu. Tujuan dari ilmu baru akan tercapai melalui pengamalan. Bertapa di sini bisa dimaknai sebagai amalan, praktek, laku atau suluk atau yang lain. Yang jelas bukan sekedar teori semata-mata. Terlebih-lebih ilmu rasa yang pusatnya ada di dalam hati manusia, harus melalui berbagai praktik, laku, ujian dan tantangan agar ilmu sumusup ing jiwangga, merasuk dalam jiwa, terbenam dalam hati. Yen (kalau) satria (ksatria) tanah Jawi (tanah Jawa), kuna kuna (kuna makuna, dahulu kala) kang (yang) ginulut (dipegang, menjadi pegangan) triprakara (tiga hal). Bagi satria tanah Jawa, dahulu kala yang menjadi pegangan tiga hal. Bagi ksatria Tanah Jawa jaman dahulu ada tiga hal yang dipegang dalam menghadapi ujian hidup. Apakah itu? Kita akan melanjutkan ke bait berikutnya karena masih merupakah satu kesatuan makna dengan bait ini. Kajian Wedatama (43): Tri Prakara: Lila, Trima dan Legawa Bait ke-43, Pupuh Pucung, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV: Lila lamun kelangan nora gegetun. Trima yen ketaman, sakserik sameng dumadi, Tri legawa nalangsa srah ing Bathara. Terjemah dalam Bahasa Indonesia: Rela apabila kehilangan, tidak larut dalam kecewa, Menerima bila mendapat, perlakuan yang menyakitkan hati dari orang lain, Yang ketiga ikhlas menyerahkan kepada Tuhan. Kajian per kata: Inilah tiga hal yang menjadi pegangan hidup para ksatria tanah Jawa jaman dahulu. Dengan tiga hal itu terbuktilah hati mereka tidak kosong, tapi telah penuh hikmat sehingga mampu bersikap bijak terhadap segala sesuatu yang tak diharapkan. Lila (rela) lamun (apabila) kelangan (kehilangan) nora (tidak) gegetun (kecewa berkepanjangan, larut dalam kecewa). Rela apabila kehilangan, tidak larut dalam kecewa. Yang pertama, rela apabila kehilangan, tidak larut berkepanjangan dalam kekecewaan. Bahwa apabila milik kita hilang atau tiba-tiba bukan lagi menjadi milik kita, wajarlah ada sedikit rasa kecewa. Namun kita tak boleh larut dalam kecewa yang berkepanjangan, hati selalu teringat akan yang hilang itu sehingga tak lagi mampu berpikir jernih dan bertindak bijak. Penyebab rasa kecewa yang berlebihan adalah kuatnya ikatan kita dengan hal-hal yang kita miliki tadi. Namun apabila kita selalu ingat bahwa pemilik sejati hanya Allah SWT, maka tak pantas kita meratapi sesuatu yang bukan milik kita. Dalam kearifan budaya Jawa ada istilah yang patut selalu kita pegang: pangkat mung sampiran, bandha mung titipan, nyawa mung gadhuhan. Pangkat mung sampiran, bermakna: bahwa jabatan apapun yang kita emban hanyalah sampiran. Laksana selendang yang disampirkan di pundak, sangat mudah untuk jatuh dan lepas dari tubuh kita. Begitu pun segala jabatan yang ada di pundak, sewaktu-waktu dapat copot dengan mudahnya pula. Bandha mung titipan, bermakna: segala harta adalah milik Allah yang dititipkan kepada kita. Sebagai titipan harta bisa sewaktu-waktu diambil oleh pemiliknya. Jikapun tidak diambil mungkin akan kita serahkan kepada yang berhak kelak, sementara kita hanyalah pembawa titipan itu. Nyawa mung gadhuhan, maknanya: nyawa (hidup) kita pun bukan milik kita, tetapi hanya gadhuhan. Gadhuhan adalah pinjaman yang diserahkan kepada kita untuk mengelolanya, sewaktu-waktu si pemilik akan mengambil sesuai kesepakatan awal. Nah, nyawa kita pun demikian, ada perjanjian kapan akan diambil, yakni apabila raga kita tak mampu lagi menjadi tempat bagi si nyawa itu, ketika kita mati. Oleh karena itu pula dalam budaya Jawa mati biasa disebut tumeka ing janji, artinya memang mati sudah menjadi perjanjian kita dengan Tuhan. Trima (menerima) yen (bila) ketaman (terkena, mendapat), sakserik (perlakuan menyakitkan) sameng (sesama) dumadi (makhluk, orang lain). Menerima bila mendapat, perlakuan yang menyakitkan hati dari orang lain. Yang kedua, menerima apabila mendapat perlakuan yang menyakitkan hati dari orang lain. Perlu diluruskan bahwa makna kalimat di atas bukan berarti kita menerima begitu saja bila hati kita disakiti orang lain, melainkan lebih bermakna bahwa kita jangan sampai sakit hati hanya karena perlakuan orang lain. Hati kita harus kuat dan besar, agar tidak mudah tersakiti. Sesungguhnya hidup kita berdasar kehendak dan usaha kita sendiri, bukan atas dasar sikap orang lain kepada kita. Maka seyogyanya kita tidak terlalu mengikuti kehendak orang dalam menentukan sikap dan perilaku. Kita harus punya prinsip sendiri dalam bertindak, berdasar apa yang kita yakini. Dalam hal kebahagiaan dan kesedihan kita juga tak seharusnya terlalu terpengaruh sikap orang lain. Apabila kita telah melakukan hal yang kita yakini benar tetapi orang lain justru membenci, kita tak perlu risau. Kuatkan tekad, mantapkan kehendak, dan melangkahlah! Tri (ketiga) legawa (ikhlas) nalangsa (nelangsa) srah (menyerahkan) ing (kepada) Bathara (Tuhan). Yang ketiga ikhlas dengan merendahkan diri, menyerahkan segalanya kepada Tuhan. Yang ketiga, ikhlas dengan segenap kerendahan hati menyerahkan segala sesuatu kepada Tuhan. Ini berkaitan dengan setiap usaha dan amalan kita sehari-hari. Jangan terlalu berharap muluk dan panjang angan. Karena kita tak tahu apa yang sesungguhnya baik untuk kita. Maka dalam segala hal kita harus mengikhlaskan setiap usaha kita, seraya dengan penuh kerendahan (nalangsa) menyerahkan hasilnya kepada Tuhan. Itulah tiga hal pokok yang menjadi pegangan hidup ksatria tanah Jawa jaman dahulu yang masih perlu juga untuk kita pedomani. Tiga hal tersebut disebut triprakara yang secara ringkas kita sebutkan sebagai: lila, trima dan legawa. Kajian Wedatama (44): Inguger Graning Jajantung Bait ke-44, Pupuh Pucung, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV: Bathara gung, inguger graning jajantung, Jenek Hyang Wisesa, Sana pasenedan suci, Nora kaya si mudha mudhar angkara. Terjemahan dalam bahasa Indonesia: Yang Maha Besar, ditempatkan dalam jantung, Yang Maha Kuasa Kerasan, di tempat peristirahatan yang suci, Tidak seperti si muda yang mengumbar angkara. Kajian per kata: Bathara (Tuhan) gung (besar), inguger (diikat, ditempatkan) graning (gra ing, di pucuk) jajantung (jantung). Yang Maha Besar, ditempatkan dalam jantung. Ini bermakna bahwa Tuhan Yang Maha Besar selalu diingat namanya dalam hati, menjadi motivasi dari setiap aliran darah yang mengalir ke seluruh tubuh. Maknanya, Tuhan menjadi alasan dari setiap perbuatan, hanya karena Dia kita berbuat. Seorang yang telah mencapai paripurna dalam ilmu dan amal, akan selalu menempatkan Tuhan Yang Maha Besar sebagai motif setiap tindakan. Dalam bahasa agama, semua perbuatan dilakukan ikhlas lillahi ta’ala. Jenek (kerasan) Hyang (Yang) Wisesa (Kuasa), sana (di tenpat) pasenedan (tempat peristirahatan) suci (suci). Yang Maha Kuasa Kerasan, di tempat peristirahatan yang suci. Apabila sedang berkarya selalu mengingat Tuhan Yang Maha Kuasa. Ketika sedang beristirahat atau sedang menyepi senantiasa tenggelam dalam zikir, mengingat Tuhan Yang Maha Kuasa. Begitulah watak dan kebiasaan dari orang-orang yang telah mencapai ilmu rasa sejati. Motif dari semua tindakan dan diamnya hanyalah Allah semata-mata. Tidak ada dalam kamusnya keinginan untuk mengikuti hawa nafsu atau praduga angan-angannya sendiri. ini jauh dari sifat orang muda yang belum gaduk (sampai) ilmunya. Nora (tidak) kaya (seperti) si mudha (si muda) mudhar (menuruti, mengumbar) angkara (angkara). Tidak seperti si muda yang mengumbar angkara. Amatlah jauh, sangat berkebalikan, dengan perbuatan seorang muda yang baru menapak ilmu kehidupan. Masih sering tergelincir mengumbar nafsu angkara. Menuruti angan-angan tanpa ilmu, bertindak atas dasar duga-duga tanpa klarifikasi, menyebar kabar hoax tanpa verifikasi. Asal komentar tanpa berpikir soal kepantasan, nyinyir asal njeplak tanpa proporsi, suka-dan benci atas dasar nafsu semata, dll. Yang begini pun sering kita temui di dunia maya, lebih- lebih lewat medsos. Jangan ditiru, nak! Jangan!.......... Kajian Wedatama (45): Kadya Buta Buteng Bait ke-45, Pupuh Pucung, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV: Nora uwus, kareme anguwus uwus. Uwose tan ana. Mung janjine muring-muring. Kaya buta buteng betah nganiaya. Terjemahan dalam bahasa Indonesia: Tiada henti-hentinya, kesukaannya mencaci maki, (Perkataannya) tak ada isinya, Hanya asal marah-marah, Seperti raksasa mudah naik darah dan menganiaya. Kajian per kata: Nora (tiada) uwus (uwis, berhenti), kareme (sukanya) anguwus uwus (bicara terus). Tiada henti-hentinya, kesukaannya bicara terus. Anguwus dari kata angwuwus (bicara), anguwus-uwus adalah kata majemuk yang berarti menyangatkan. Ini umumnya dilakukan seorang yang tak puas atau sedang marah sehingga berkata-kata terus, terus saja tak henti-henti sampai puas rasa di hati. Nah karena kadar perkatannya sebenarnya sudah over, maka biasanya perkataannya asal-asalan saja. Uwose (isinya) tan (tak) ana (ada). (Perkataanya) tak ada isinya. Intinya apa tak jelas, hanya meracau. Karena hanya sekedar menumpahkan kekesalan maka yang diomongkan pun tak ada pokok-pokok maksudnya, asal njeplak, asal mangap. Yang demikian itu sering dilakukan oleh orang yang kecewa, baik dalam kehidupan mayarakat sehari-hari maupun dalam kehidupan berpolitik di tingkat elit. Kalau Anda perhatikan ada beberapa politisi yang suka bicara terus, menohok sana, menyikat sini, nyinyir sana kritik sini. Kadang ucapannya tak proporsional, hanya asal beda (waton sulaya) dengan yang dikritik. Mung (hanya) janjine (janji, perkataan) muring-muring (marah-marah). Hanya berkata asal marah-marah. Yang penting menumpahkan rasa amarah di dada. Tak peduli perasaan orang lain. Tak peduli kerja dan dedikasi orang lain. Kaya (kaya) buta (raksasa) buteng (gelap mata, naik darah) betah (suka) nganiaya (menganiaya). Seperti raksasa mudah naik darah dan menganiaya. Wataknya seperti raksasa yang sudah gelap mata, cepat naik darah. Jika sudah begitu tak peduli orang lain. Tak ada rasa empati, tepa slira, bertindak di luar batas alias aniaya. Dan tampaknya suka sekali berbuat demikian. Buta adalah raksasa. Dalam budaya Jawa buta adalah species lain, jadi bukan manusia. Meski kadang ada sedikit interaksi dan bisa juga kawin campur. Watak dari raksasa yang paling dominan adalah pemarah. Biasanya perilakunya briga-brigi, pecicilan, penyunyukan, tak nyaman diam, tak bisa tenang, tidak sopan. Dan yang paling membuat jengkel suka sekali berisik, berkata kasar dengan volume maksimal. Kalau dalam pewayangan buta selalu digambarkan bermulut lebar menganga dengan siyung (gigi taring) mencuat siap mencabik lawan. Ada lagu bahasa Jawa tentang buta ini yang dahulu sering didendangkan anak-anak sewaktu bermain di terangnya sinar bulan: Buta-buta galak, solahe lunjak-lunjak, Sarwa sigrak-sigrak, nyandhak kanca nuli tanjak, Bali ngadeg maneh, rupamu ting celoneh, Iki buron apa, tak sengguh buron kang aneh, Lha wong kowe..we..we Sing mara-marai hi-hi...... Aku wedi, ayo kanca padha bali, Galo kae-galo kae..... Matane plerak-plerok, Kulite ambengkerok, hi..hi.. Aku wedi, ayo kanca padha bali Orang yang sukanya berkata terus, mengumpat-umpat tanpa henti, bicara kasar, marah-marah tanpa proporsional wataknya pastilah seperti buta tadi.

Aywa Kongsi Babar Angkara

Kajian wedatama (34): Aywa Kongsi Mbabar Angkara Bait ke-34, Pupuh Pucung, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV: Angkara gung, neng angga anggung gumulung, Gegolonganira. Triloka lekere kongsi. Yen den umbar ambabar dadi rubeda. Terjemahan dalam Bahasa Inonesia: Nafsu angkara yang besar, di dalam diri selalu berkumpul, dengan kelompoknya. Sampai menguasai tiga dunia. Bila dibiarkan berkembang menjadi bahaya. Kajian per kata Angkara (angkara, keburukan) gung (besar), neng (pada, di) angga (tubuh, diri) anggung (selalu) gumulung (berkumpul, menyatu), gegolonganira. Nafsu angkara yang besar, di dalam diri berkumpul, bersama dengan kelompoknya Nafsu angkara di dalam diri jika membesar akan berkelompok-kelompok. Keinginan satu dengan lain akan saling berjalin dan saling menguatkan satu sama lain. Jika yang satu dipuaskan maka akan memicu yang lain untuk semakin membelenggu manusia. Jalinan nafsu angkara akan saling menyeret satu dengan lainya ke dalam lembah dosa. Nafsu menguasai akan menyeret kedzaliman. Nafsu memiliki akan mengendong kekhilafan, orang Jawa menyebutnya melik nggendong lali. Nafsu makan akan menyeret perilaku melampuai batas, atau leluwihan. Nafsu pamer akan menyeret perilaku merendahkan orang lain, dan lain-lain. Jika nafsu angkara sudah bergerombol dan saling mendukung, akan sulit dipangkas mata rantainya karena jalinannya makin kuat. Triloka (tiga dunia) lekere (dikuasai) kongsi (sampai). Sampai menguasai tiga dunia. Konsep triloka sudah ada dalam budaya Jawa sejak dulu kala. Karena istilah itu pun ada dalam agama-agama sebelum Islam masuk. Tapi kita akan membatasi pengertian triloka menurut pengertian ketika serat Wedatam ini ditulis. Triloka adalah sebutan tiga dunia yang meliputi: alam material, alam mental dan alam ruh. Alam material adalah dunia seisinya ini. Dunia yang sebenarnya ada dalam tingkat paling rendah dalam gradasi wujud. Ada yang menyebut bahwa sesungguhnya dunia inilah alam maya, mayaloka. Sedangkan tingkat di atasnya justru adalah alam nyata, yang sekarang tak kasat mata.   Alam mental, atau angan-angan atau imajinal atau alam psikis. Alam ini tempat jiwa tumbuh dan mencapai kedewasaan. Sering juga oleh para filosof muslim alam ini disebut sebagai barzakh, karena sifatnya ditengah-tengah, sebagai antara (barzakh) antara alam dunia dan akhirat. Segala sesuatu di alam ini adalah campuran antara yang maya dan Yang Nyata. Alam ruh, atau alam spirit. Ini adalah alam tertinggi tempat ruh yang dahulu ditiupkan oleh Allah berada. Alam tempat segala penyaksian akan kebenaran ditempatkan. Alam tempat seruan-seruan kebenaran bergema. Penghuni alam ini adalah antara lain hati nurani. Manusia hidup dalam ketiga alam tersebut secara pararel. Dengan masing-masing tingkat wujud yang juga dianugerahkan kepada manusia. Manusia punya badan wadag untuk hidup di dunia materi, punya jiwa untuk hidup di alam mental dan punya ruh bawaan Tuhan untuk hidup di alam spirit. Walau manusia mempunyai tiga komponen untuk hidup di tiga alam itu, namun segala corak kehidupan manusia di dunia ini, bahagia dan sengsara, akan ditentukan oleh bagaimana ia hidup dengan ketiga alam itu. Yang lebih menghidupkan alam materi jelas akan terjebak dalam kefanaan abadi. Karena materi bersifat rusak, tak sempurna dan sementara, ia akan senantiasa merasa kurang dan selalu ingin menggapai yang lebih tinggi lagi. Sebaliknya orang yang lebih hidup dalam alam mental akan selalu diliputi was-was dan penyesalan diri berkepanjangan. Was-was dalam arti khawatir akan kehidupannya kelak, penyesalan dalam arti merasa belum berusaha maksimal dalam menjalani hidup. Dua perasaan itu sangat bernuansa material. Namun seringkali di alam ini juga muncul pengharapan dan semangat, dua perasaan yang bernuansa spiritual. Yah namanya juga alam campuran, jadi perasaannya juga campur-campur deh! Puncak dari pencapaian manusia adalah ketika ia mampu hidup di alam spiritual. Di sinilah segala ketenangan berada. Tak ada rasa takut atau khawatir, apalagi was-was. Baik tentang masa depan atau tentang segala hal di dunia ini, karena adanya kesadaran bahwa semua ini hanya milik Allah semata. Yen (bila) den (di) umbar (biarkan) ambabar (berkembang, menjadi banyak) dadi (menjadi) rubeda (bahaya). Bila dibiarkan berkembang menjadi bahaya. Nah, jika nafsu angkara di atas dibiarkan membesar sehingga menguasai tiga alam manusia, triloka, akan menjadi monster yang mengerikan daya rusaknya terhadap hidup manusia. Tiga piranti yang diberikan Tuhan sebagai alat manusia hidup di ketiga alam itu akan hancur dilalap nafsu angkara. Badan sebagai alat hidup di alam materi akan rusak karena diperalat nafsu angkara, seperti pada rusaknya tubuh oleh karena perbuatan maksiat, minum khamar, ngepil, ngoplos, dll. Jiwa manusia sebagai piranti hidup di alam mental pun akan tumbang dengan berbagai penyakit mental, depresi, halusinasi, waham-waham, dll. Hati nurani sebagai penghuni alam ruh pun akan tumpul, tak lagi bisa membedakan benar dan salah, bahkan cenderung menjadi pembenar dari setiap tindak kejahatan yang dilakukan. Kajian wedatama (35): Amardi Martatama Bait ke-35, Pupuh Pucung, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV: Beda lamun kang wis sengsem reh ngasamun. Semune ngaksama, sesamane bangsa sisip. Sarwa sareh saking mardi martatama. Terjemahan dalam Bahasa Indonesia: Berbeda halnya dengan yang sudah gemar kepada hal rohaniyah, Cenderung selalu mengampuni, Segala kesalahan, Bersikap sabar berusaha berbudi baik. Kajian per kata: Beda (berbeda) lamun (kalau) kang (yang) wis (sudah) sengsem (gemar, terpesona) reh (hal) ngasamun (sepi, ruhaniyah). Berbeda halnya dengan yang sudah gemar kepada hal rohaniyah. Kebalikan dengan sifat-sifat diri yang dikuasai angkara sampai ketiga alam, orang yang gemar melakukan olah rasa dengan menyepi akan bersikap berbeda dalam menghadapi persoalan hidup, sebagaimana digambarkan dalam gatra berikut ini. Semune (cenderung) ngaksama (mengampuni), sesamane (segala) bangsa (sejenisnya) sisip (kekurangan, kesalahan). Cenderung selalu mengampuni, segala sesuatu kesalahan (orang lain). Sesungguhnya segala tindak angkara berasal dari nafsu yang dimanjakan (diumbar), tidak dikekang, tidak ditahan dan senantiasa dipenuhi. Bagi yang kayungyun heninging tyas, terpesona ketenangan hati, maka menahan nafsu bukanlah pekerjaan sulit. Selain lebih mudah, lebih hemat, juga lebih bermanfaat dalam hidup. Bonus lain adalah hadirnya sikap terpuji dalam perilaku sehari-hari. Salah satunya adalah kecenderungan untuk mengampuni setiap kesalahan orang lain, memakluminya dan bukan malah membesar-besarkannya. Sarwa (serba) sareh (sabar) saking (dari) mardi (berusaha) martatama (berbudi baik). Bersikap sabar dan berusaha bersikap baik. Sareh adalah sikap hati-hati, tidak tergesa-gesa, mendahulukan pertimbangan sebelum mengambil tindakan. Sikap ini hanya muncul dari hati yang tenang yang dicapai dengan latihan kontemplasi yang rutin, senantiasa mahas ing ngasepi. Sikap hati-hati akan melahirkan budi yang tajam, tanggap dan responsif. Sebuah tindakan yang diawali dengan sabar pasti akan berujung kepada perbuatan baik. Dalam serat Wedatama ini berulang kali ditekankan tentang pentinya menyendiri di dalam sepi. Ini bukan kiasan tetapi memang anjuran agar dilakukan secara fisik. Tujuan dari menyepi adalah menyusutkan nafsu sampai ke tingkat minimum yang sekedar diperlukan untuk hidup, karena bagaimanapun selama hayat dikandung badan nafsu tetap diperlukan. Mengapa ini penting? Karena hati nurani hanya dapat jujur di kala orang sendirian, tidak bergerombol bersama golongannya. Dalam kesunyian hati lebih jujur menilai diri sendiri, sudah benarkah perilakunya sehari-hari, sudah tepatkah pemikiran yang diyakini, sudah luruskah jalan yang diambil, dsb. Mengenai menyepi ini juga banyak diajarkan oleh aliran keyakinan dan agama-agama. Bentuk paling sederhana adalah mengheningkan cipta, seperti yang sering kita lakukan pada upacara bendera ketika sekolah dulu. Ada juga yang berbentuk samadhi, yakni berdiam diri dalam waktu yang lama dengan posisi tertentu. Dalam agama Islam ada ritual shalat tahajud, shalat yang dikerjakan sendirian di kala malam hari, ketika tak terlihat orang lain. Kajian wedatama (36): Karoban Sihing Gusti Bait ke-36, Pupuh Pucung, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV: Taman limut, durgameng tyas kang meh limput, kerem ing karamat, Karama karoban ing sih, Sihing sukma ngrebda saardi gengira. Terjemahan dalam Bahasa Indonesia: Di dalam keadaan gelap, hati jahat yang menguasai, Tenggelam dalam rahmat, Sebab dikuasai cinta kasih, Cinta kasih sukma berkembang menjadi segunung besarnya. Kajian per kata: Taman (terkena, dalam keadaan) limut (gelap), durgameng (jahatnya) tyas (hati) kang (yang) meh (hampir) limput (tertutup), kerem (tenggelam) ing (dalam) karamat (rahmat). Di dalam keadaan gelap, hati jahat yang menguasai, tenggelam dalam rahmat. Keadaan gelap disini merujuk pada keadaan sepi karena menyendiri, seperti yang sudah dibahas pada bait-bait yang lalu. Dalam keadaan gelap tersebut, justru hati nurani akan tampak bercahaya. Watak jahat akan tenggelam dalam rahmat Ilahi sehingga tidak jadi membesar menguasai hati. Ibarat cahaya lilin yang tak nampak di kala siang, tetapi ketika di dalam kegelapan akan memberi terang. Seperti itulah hati nurani. Maka ketika lilin kecil hati nurani tadi memberi cahaya, perlahan-lahan akan mengusir kegelapan dalam hati. Apa saja yang telah membuat kita lalai, apa saja yang membuat kita menuruti si angkara (durgameng), sedikit demi sedikit akan lenyap. Nah ketika itulah hati yang tertutupi (kalimput) oleh nafsu angkara perlahan akan mulai menuju kepada terang. Tentu saja ini sebuah proses yang panjang dan melelahkan, dengan latihan yang berulang- ulang tanpa bosan. Ketika hati telah tenggelam dalam rahmat Ilahi maka cinta kasih Ilahiyah akan semakin meliputi hati. Karama (karena, oleh sebab) karoban (terkena, tertutupi) ing sih (cinta kasih). Sebab dikuasai cinta kasih. Hati yang sudah siap menuju terang akan dibanjiri (karoban) oleh cinta kasih Ilahi. Barang siapa yang bersedia dan bersiap-siap untuk melakukan perjalanan menuju Tuhan, maka Dia akan menyambut dengan Kasih. Secara perlahan akan dibuka jalan-jalan menuju padaNya, selangkah-selangkah jalan-jalan akan dibuat terang. Sihing (cinta kasih) Sukma (Ruh) ngrebda (berkembang) saardi (segunung) gengira (besarnya). Cinta kasih sukma berkembang menjadi segunung besarnya. Sukma di sini berati ruh, karena yang mempunyai cinta kasih hanyalah Allah semata, kata sukma dalam gatra ini lebih dekat dengan makna Sukma, atau Ruh Ilahi. Ini sesuai dengan pengertian pada gatra ini bahwa jika kita telah mempunyai hati yang condong pada kebaikan maka rahmat ilahi akan turun ke hati, meliputinya, menenggelamkannya. Jika demikian maka cinta kasih Ilahi akan membanjiri hati kita dan menumbuhkan cinta kasih di hati. Lama-lama cinta di hati kita akan membesar menjadi laksana gunung (saardi gengira). Maka jadilah kita tanganNya dalam menebar cinta kasih di bumi ini. Berbuat baik kepada sesama, dan mengajak kepada kebaikan, dengan dasar limpahan kasih Ilahi yang telah kita terima tadi. Kajian wedatama (37): Mundhi Diri Rapal Makna Bait ke-37, Pupuh Pucung, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV: Yeku patut, tinulad tulad tinurut, sapituduhira, Aja kaya jaman mangkin. Keh pra mudha mundhi diri rapal makna. Terjemahan dalam Bahasa Indonesia: Yang demimkian pantas dicontoh-contoh dan diikuti, segala petunjuknya, Jangan seperti jaman sekaran. Banyak anak mudha mengagungkan diri dengan arti lafal. Kajian per kata: Yeku (yang demikian) patut (pantas), tinulad (dicontoh) tulad (contoh) tinurut (diikuti), sapituduhira (segala tetunjuknya). Yang demikian pantas dicontoh-contoh dan diikuti., segala petunjuknya. Yang dimaksud patut tinulad (pantas dicontoh) dalam gatra ini adalah sifat-sifat mulia yang telah diuraikan dalam bait sebelumnya, tentang orang yang sudah mencapai maqon penyampai cinta kasih Ilahi, bertindak sebagai tanganNya dalam merawat alam semesta. Orang yang demikian itu patut dicontoh-contoh dalam perbuatannya dan pantas dituruti jalan yang telah ditempuhnya. Yakni jalan orang-orang yang sudah sampai pada pengamalan kebaikan yang sejati, yang sudah ikhlas dalam berbuat, tidak sekedar unjuk diri, tidak sekedar pamer kebaikan. Orang-orang yang telah mencapai derajat ini pantas didengar segala pentunjuknya, pantas diikuti segala contoh tauladannya. Aja (jangan) kaya (seperti) jaman (zaman) mangkin (sekarang). Jangan seperti zaman sekarang. Gatra ini membandingkan dengan keadaan jaman sekarang (pada waktu serat ini digubah), yang banyak orang berwatak dangkal, tidak tulus dalam beramal sholeh, ada maksud tersembunyi yang berkaitan dengan kemasyhuran, kekayaan, nama besar dan kepentingan diri lainnya. Tentu yang dimaksud tidak semua orang begitu, tetapi kebanyakan yang terjadi adalah demikian. Keh (banyak) pra (para) mudha (anak mudha) mundhi (mengagungkan) dhiri (diri) rapal (lafal) makna (arti). Banyak anak mudha mengagungkan diri dengan arti lafal. Pada jaman sekarang banyak anak muda yang menyombongkan diri, bersikap ujub, membanggakan amalah-amalannya dan membanggakan makna lafal (rapal makna). Rapal makna di sini sesuai konteks kalimat pada bait sesudahnya nanti yang akan kami uraikan pada postingan mendatang adalah teks-teks keagamaan, baik yang diambil dari Al Quran, hadits maupun kitab-kitab lainnya. Kata rapal menunjuk pada teks-teks keagamaan, sedangkan kata makna menunjuk pada tafsir atau terjemah, sebab pada waktu itu bahasa Arab belum banyak dipahami oleh orang Indonesia, sehigga teks-teks yang dia pakai untuk pamer ilmu, menyombongkan diri adalah teks-teks terjemahan saja. Bait ini sebenarnya mempunyai satu pengertian dengan bait sesudahnya, tetapi karena kita konsisten mengkaji per bait, maka harus kita akhiri sampai di sini. Pada kajian selanjutnya makna bait ini akan kami rujuk lagi sebagai kesatuan pengertian. Kajian wedatama (38): Kesusu Kaselak Besus Bait ke-38, Pupuh Pucung, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV: Durung pecus kesusu kaselak besus, Amaknani rapal, kaya sayid weton Mesir, Pendhak pendhak angendhak gunaning jamna. Terjemahan dalam Bahasa Indonesia: Belum pandai tergesa-gesa ingin berlagak, Menerangkan lafal, Seperti sayyid dari Mesir, Seringkali meremehkan kepandaian orang lain. Kajian per kata: Durung (belum) pecus (bisa, pandai) kesusu (tergesa-gesa) kaselak (terburu-buru) besus (tampilan mengesankan, berlagak). Belum pandai tergesa-gesa ingin berlagak Belum pandai benar, belum menguasai ilmu secara tuntas, sudah terburu-buru, tak sabar ingin tampil pintar, berlagak di depan orang banyak. Inilah ciri-ciri pelajar yang baru mengenal ilmu, selalu bangga dan seolah hanya dirinya yang tahu. Kadang perilakunya tak terkontrol, menyalahkan sana-sini, seolah-olah hanya dirinya yang paling mengerti. Hal ini sering ditemui pada para pelajar baru dalam bidang apa saja, terlebih-lebih dalam masalah agama. Amaknani (menerangkan) rapal (lafal, teks), kaya (seperti) sayid (sayyid, keturunan nabi, ahli agama) weton (lulusan) Mesir (Negeri Mesir). Menerangkan lafal, seperti sayyid dari Mesir . Rapal dalam gatra di atas sesuai konteks dalam kalimat, seperti sudah kami singgung pada bait terdahulu, merujuk pada teks-teks keagamaan atau dalil-dalil naqli, baik dari Al Quran, hadits maupun kitab lainnya. Hal ini dikuatkan dengan frasa kaya sayyid weton mesir. Sayyid adalah keturunan nabi yang membawa ajaran Islam ke Indonesia, jadi pastilah pintar dalam ilmu agama. Sedangkan Mesir sudah lama dikenal sebagai gudangnya orang pintar (ulama). Ada universitas tertua di dunia berdiri di sana, yakni Universitas Al Azhar yang sudah berdiri sejak tahun 900an Masehi. Jadi arti gatra di atas sesuai konteks dalam kalimat, adalah: menerangkan dalil-dalil keagamaan seolah-olah, bergaya seperti, orang pintar (ulama) dari Mesir. Pendhak-pendhak (seringkali) angendhak (meremehkan) gunaning (ilmunya) jamna (orang lain, sesama manusia). Seringkali meremehkan kepandaian orang lain. Seringkali, si anak muda yang baru belajar tadi, meremehkan ilmunya orang lain. Orang lain dianggap bodoh tidak mengerti ajaran agama seperti dirinya. Dari kajian terhadap bait 37 dan 38, diperoleh makna keseluruhan sebagai berikut.: Janganlah seperti orang jaman sekarang. Para anak muda yang menyombongkan diri dengan dalil-dalil. Padahal mereka sebenarnya belum ahli di bidang itu, tetapi tidak sabar untuk berlagak pintar dalam menerangkan dalil-dalil. Seolah-olah mereka ulama lulusan Mesir yang sudah terkenal kedalaman ilmunya. Seringkali mereka meremehkan ilmu orang lain. Sekali lagi ini adalah fenomena pengamalan keagamaan pada jaman serat Wedatama digubah. Apakah kondisi seperti itu masih ditemui di jaman sekarang? Semoga saja tidak. Walau begitu kita tetap harus waspada agar hal yang sama tidak terjadi lagi. Kajian wedatama (39): Elok, Jawa Denmohi? Bait ke-39, Pupuh Pucung, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV: Kang kadyeku, kalebu wong ngaku aku, Akale alangka, Elok Jawa denmohi, Paksa langkah ngangkah met kawruh ing Mekah. Terjemahan dalam Bahasa Indonesia: Yang seperti itu, termasuk orang yang mengaku-aku, Pandangannya tak masuk akal, Aneh, tak suka pada kejawaan, Memaksa diri melangkah seperti pengetahuan orang di Mekkah. Kajian per kata: Kang (yang) kadyeku (seperti itu), kalebu (termasuk) wong (orang) ngaku (mengaku) aku (aku). Yang seperti itu, termasuk orang yang mengaku-aku. Dalam bait ke-38 dijelaskan tentang fenomena orang-orang yang sok tahu. Mereka sekedar mengaku-aku berilmu saja. Tidak berdasar mulat sarira hangrasa wani, melihat diri dan berani menilai diri sendiri. Inilah waham yang sering hinggap pada orang-orang pemula yang baru belajar sedikit ilmu. Mereka menjadi merasa pintar sekali, seolah-olah orang lain tak mempunyai pengetahuan sepertinya. Dalam belajar ilmu agama pun waham seperti ini juga sering menjangkiti para murid pemula. Akibatnya banyak perilaku mereka yang justru menjauh dari sifat-sifat seorang yang menjalani agama. Sombong, berlagak pintar bak orang alim dari Mesir dan meremehkan ilmu orang lain. Akale (akalnya) alangka (tak ada). Tak ada akalnya, pandangannya tak masuk akal. Wawasannya dangkal, pandangan hidupnya menjadi aneh. Karena sepotong-sepotong dalam memahami ajaran agama, maka yang terjadi justru terkesan menggelikan, tak masuk akal. Padahal orang beragama harus menggunakan akalnya secara maksimal untuk menangkap isyarat alam, tanda-tanda kekuasanNya. Elok (aneh) Jawa (jawa, kejawaan) denmohi (tak mau, tak suka). Aneh, kejawaan tak disukai. Yang lebih aneh lagi kemudian membuang segala hal yang berbau kejawaan dan menggantinya dengan segala hal ke-Arab-Araban. Walau sebenarnya secara konteks tidak cocok dan tidak perlu, karena pokok ajaran agama adalah moral yang baik, akhlak mulia. Memang ada beberapa hal dalam diri manusia yang bersifat abadi, tidak berubah sejak pertama kali diciptakan sampai hari ini. Nah, dalam hal yang seperti ini agama membuat peraturan yang universal juga. Namun untuk hal-hal yang sangat berkaitan dengan kondisi lingkungan maka ada beberapa hal yang harus disesuaikan. Misalnya, sejak dahulu seorang anak adalah tanggungan orang tuanya dalam mengasuh dan memberi makan, maka berbakti kepada orang tua adalah ajaran agama yang tidak memandang tempat dan waktu. Dimana saja sejak dahulu sampai sekarang menghormati orang tua adalah wajib. Namun bentuk-bentuk penghormatan itu berlainan di tiap tempat, bergantung pada budaya setempat. Jadi tak harus kemudian ikut-ikutan dengan tatacara di tanah Arab sana. Paksa (memaksa) langkah (melangkah) ngangkah (menjangkau) met (sampai) kawruh (pengetahuan) ing (di) Mekah (Makkah, Arab). Memaksa diri melangkah seperti pengetahuan orang di Mekkah. Memaksakan satu kebiasaan suatu bangsa kepada bangsa lain tidak akan selalu cocok. Apalagi Jawa dan Arab terpisah jarak yang jauh, berbeda iklim dan lingkungan maka jelas akan ada perbedaan yang sangat jauh. Misalnya dari segi jenis tanaman pokok yang tumbuh. Di Arab kurma tumbuh subur berbuah lebat, di Jawa walau bisa subur tapi tak dapat berbuah. Makan kurma bagi orang Arab adalah keutamaan, bagi orang Jawa makan kurma adalah bermewah-mewahan, karena harus didatangkan dari Arab, tentu biayanya mahal. Di Arab pakaian lelaki yang cocok adalah baju panjang, ghamis. Di sana tidak menjadi masalah karena iklimnya cocok. Orang dengan pakaian itu juga tidak sumuk karena kelembaban udara rendah. Juga masih bisa bercocok tanam karena tanah di sana keras dan berpasir, jenis tanaman pun lain. Coba jika dipakai orang Jawa, sebentar sudah risih karena sumuk. Juga tidak bisa bekerja di sawah karena kondisi tanah becek dan berlumpur. Bayangkan seorang membajak sawah pakai ghamis, warna putih lagi. Pasti sepulangnya dari sawah sudah tak karuan bentuknya. Nah dalam hal inilah beberapa adat kebiasaan di Arab sana mesthi disesuaikan dengan konteks kejawaan. Meski demikian agama selalu membawa nilai-nilai universal yang ada pada setiap manusia, untuk yang ini kita memang harus tunduk, sami’na wa atho’na.  

Wenganing Rasa Tumlawung

Kajian Wedatama (30): Wenganing Rasa Tumlawung Bait ke-30, Pupuh Sinom, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV: Kang wus waspada ing patrap, manganyut ayat winasis. Wasana wosing jiwangga, melok tanpa aling-aling. Kang ngalingi kalingling. Wenganing rasa tumlawung, keksi saliring jaman, Angelangut tanpa tepi, Yeku aran tapa tapaking Hyang Sukma. Terjemahan dalam Bahasa Indonesia: Yang sudah mengetahui caranya, Menghayati aturan yang bijaksana, Akhirnya inti pribadinya, terlihat nyata tanpa penghalang, Yang menghalangi tersingkir. Terbukalah rasa haru bercampur bahagia, terlihatlah segala keadaan. Tampak luas sekali tak berbatas, Itulah yang mendapat bimbingan Yang Maha Suci. Kajian per kata: Kang (yang) wus (sudah) waspada (mengetahui) ing (dalam) patrap (perilaku, cara-cara), manganyut (menghayati) ayat (aturan) winasis (pengetahuan, bijaksana). Yang sudah mengetahui cara-caranya, menghayati aturan yang bijaksana. Yang dimaksud di sini adalah orang yang telah memahami cara melakukan perbuatan baik, dalam hal ini melaksanakan syariat, menahan hawa nafsu melalui tirakat, serta mengasingkan diri untuk berkomtemplasi atau muhasabah. Tiga hal itu sering kita temui secara berulang- ulang pada bait-bait yang lalu. Sedikit kami tambahkan bahwa dikalangan orang Jawa ada 4 lapis pengamalan kebaikan yang bersumber dari ajaran agama Islam, yakni: Syariat, Tarekat, Hakekat dan Ma’rifat. Dua pertama berurusan dengan badan, syariat adalah aturan-aturan yang mengikat tubuh manusia, sedangkan tarekat atau tirakat dalam pelafalan lidah Jawa, adalah syariat yang diberlakukan khusus bagi seseorang di bawah bimbingan guru spiritual dengan tujuan mencapai kematangan spiritual bagi yang menjalaninya. Jika syariat mengatur manusia secara umum, maka tarekat mengatur secara khusus. Tentu saja masih di dalam koridor syari’at sebagai bingkai besar pelaksanaan agama. Tarekat memberdayakan spiritual seseorang secara khusus. Misalnya seseorang yang selalu tak tahan godaan untuk makan banyak, maka amalan apakah yang harus dilakukan secara intensif akan dipilihkan oleh sang guru. Seorang yang selalu menyombongkan diri setiap saat, sapa sira sapa ingsun, maka untuknya juga akan diterapi dengan amalan khusus yang dipilihkan oleh sang guru. Tentu saja semua amalan-amalan itu dalam batas-batas yang dibolehkan syariat dan tidak membahayakan hidup sang salik. Dua yang terakhir, yakni Hakekat dan Ma’rifat adalah amalan yang berhubungan dengan hati (atau badan halus manusia). Hakekat manusia adalah hamba Allah, itu mudah dihapalkan, mudah diucapkan, tetapi kesadaran tentang itu takkan mudah dicapai tanpa pengamalan syariat secara umum dan tarekat secara khusus tadi, ditambah hati yang pasrah dan sepi dari pamrih. Oleh karena itu laku dari tahap hakekat adalah mengasingkan diri. Dengan harapan ketika diri terasing dalam sepi muncul kesadaran bahwa kita ini tiada, Yang Ada hanya Allah. Itulah ma’rifat! Sebagai contoh saya akan ambil satu amalah yang menjadi rukun Islam, yakni puasa. Secara syariat berpuasa adalah menahan makan dan minum sejak terbit fajar sampai matahari terbenam. Jadi kalau sudah lewat maghrib mau makan sampai 6 kali juga boleh. Tetapi tarekat memberi tatacara lebih kepada pelakunya: tahanlah nafsu makanmu. Meski dibolehkan jangan berlebih-lebihan, tetapi makanlah sekadarnya saja agar tubuhmu tetap kuat. Ketika malam menjelang, ditambah amalan shalat malam yang kusyu’ dalam kesunyian, orang yang berpuasa tadi menyadari betapa kecilnya dirinya, betapa dia butuh Sang Pencipta. Wong baru tidak makan sehari saja sudah lemah seluruh badan kok, tanda bahwa dirinya tidak mempunyai kekuatan apapun jika Allah tidak memberi, kesadaran inilah yang disebut hakekat. Kesadaran akan lemahnya diri ini kemudian memicu terbukanya, tersingkapnya, wajah Allah yang Maha Kuasa, bahwa hanya Dia Yang Ada, inilah ma’rifat. Pada bait-bait yang akan datang masalah ini akan dikupas lebih lanjut dalam bagian tentang catur sembah. Wasana (akhirnya) wosing (inti) jiwangga (pribadinya), melok (terlihat) tanpa (tanpa) aling-aling (penghalang). Akhirnya inti pribadinya, terlihat tanpa penghalang. Bagi yang sudah menjalani tatacara yang bijaksana tadi, yang sudah diatur para guru dan ahli agama, maka terbukalah hakekat diri pribadinya, tanpa penghalang sedikitpun. Menjadi jelaslah siapa dirinya yang sejati. Kang (yang) ngalingi (menghalangi) kalingling (tersingkir). Yang menghalangi bakal tersingkir, bersama tersingkirnya hawa nafsu. Ini adalah buah dari laku tirakat tadi, yakni terbukanya pintu hakekat. Terbuka lebar dan tampak jelas dengan sendirinya, setelah tatacaranya dilaksanakan dengan sebaik-baiknya, dengan penuh ketekunan dan keikhlasan. Pada akhirnya akan terbuka tabir yang menghalangi seseorang dari diri sejatinya, dari hati nuraninya yang tersimpan di pusat kesadaran. Wenganing (terbukalah) rasa (perasaan) tumlawung (haru campur gembira, bahagia), keksi (terlihat) saliring (semua) jaman (keadaan). Terbukalah rasa haru bercampur bahagia, terlihatlah semua keadaan. Setelah tercapainya hakekat dari segala sesuatu, tentu saja setelah menjalani amalan-amalan yang lengkap dan banyak, maka terbukalah perasaan haru bercampur bahagia, tersingkapnya rahasia alam semesta dan posisi masing-masing, tampak jelas. Angelangut (tampak luas sekali) tanpa (tanpa) tepi (tepi). Tampak luas sekali tanpa batas. Inilah kekuasaan Allah Yang Maha Besar yang luas tanpa batas. Hanya ada Dia, kita tiada. kekuasaanNya meliputi segalanya, di langit dan di bumi. Segala kehidupan di dunia seolah menjadi tak tampak, tak berarti karena sangking kecilnya. Yeku (itulah) aran (yang disebut) tapa (bertapa) tapaking (mendapatkan petunjuk) Hyang Sukma (Yang Maha Suci). Itulah yang mendapat bimbingan Yang Maha Suci. Yang demikian itulah yang disebut pertapaan (laku) yang mendapat petunjuk dari Allah yang Maha Suci. Kata tapaking artinya ada bekas dari rahmat Allah yang mewujud dalam diri manusia yang melakukan tapa tadi. Artinya apa yang dilakukan, yakni beribadah dengan amalan syariat dan tarekat, tadi membuahkan hasil berupa kesadaran diri (hakekat) dan pengenalan kepada Allah (ma’rifat). Hal ini jauh berbeda jika pengamalan syariat tidak berujung ma’rifat, yang terjadi amalan tersebut hanya akan melahirkan kesombongan (umbag). Kajian Wedatama (31): Wignya met Tyasing Sesami Bait ke-31, Pupuh Sinom, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV: Mangkono jamna utama, tuman tumanem ing sepi.Ing saben rikala mangsa, masah amemasuh budi. Laire anetepi, ing reh kasatriyanipun. Susila anoraga, wignya met tyasing sesami. Yeku aran wong barek berag agama. Terjemahan dalam Bahasa Indonesia: Begitulah manusia utama, gemar membiasakan diri dalam sepi. Pada tiap saat-saat tertentu, mempertajam dan membersihkan jiwa. Caranya dengan bertahan, pada keluhuran sikap. Bersikap sopan rendah hati, pandai bergaul menarik hati orang lain. Itulah orang yang disebut baik dan bersemangat beragama. Kajian per kata: Mangkono (begitulah) jamna (manusia) utama (utama), tuman (gemar, ketagihan) tumanem (tertanam, terbiasa) ing (dalam) sepi (sepi). Begitulah manusia yang utama, gemar menanamkan diri dalam sepi. Ini merujuk bait yang lalu tentang bagaimana mengamalkan agama. Tuman artinya ketagihan atau gemar, tumanem artinya menanamkan diri, yang berarti secara sengaja menanampan diri dalam sepi. Yang dimaksud sepi di sini adalah sepi hawa nafsu, atau sepi dari kepentingan diri. Ini sudah diuraikan dalam bait terdahulu. Ing (pada) saben (tiap) rikala (saat-saat) mangsa (tertentu), masah (menajamkan) amemasuh (membersihkan) budi (budi). Pada tiap saat-saat tertentu, menajamkan dan membersihkan budi. Kata mangsa artinya tiba masanya, menandakan keterencanaan, jadi memang disengaja di tiap-tiap waktu. Masah adalah menajamkan alat atau senjata dengan menggosokkan secara berulang pada batu keras. Ini sebuah tindakan berulang yang memerlukan waktu dan kesabaran agar hasilnya baik. Masuh adalah membersihkan dengan air agar hilang kotoran yang menempel. Jadi tindakan menajamkan akal budi adalah tindakan berulang dan memerlukan waktu. Dalam konteks perbuatan sehari-hari ini berati membiasakan diri dengan sikap tertentu, inilah tarekat (tirakat). Laire (secara lahir) anetepi (bertahan, menjalani), ing (pada) reh (hal-hal) kasatriyanipun (keluhuran sikap). Secara lahir dengan mempertahankan, dalam hal-hal keluhuran sikap. Secara lahir hal di atas dilakukan dengan mempertahankan sikap luhur (ksatria), yakni sikap yang baik dan adil, tidak culas, tidak curang, fair play, sportif, sesuai aturan main. Susila (sopan) anoraga (santun, rendah hati), wignya (pandai) met (bertemu, tidak berselisih, menarik) tyasing (hati) sesami (sesama, orang lain). Bersikap sopan dan rendah hati, pandai bergaul menarik hati orang lain. Sikapnya secara lahiriah sopan, santun, rendah hati. Melengkapi sikap lahir, batin juga harus diasah agar membuahkan menyenangkan hati. Kata met artinya bertemu, tidak selisih dengan perasaan orang lain, bisa menghormati orang lain, tidak menyombongkan diri, tidak berperilaku tak patut. Secara umum dapat dikatakan buah dari latihan memasah dan memasuh budi tadi adalah pandai bergaul dan menarik hati orang lain. Ini menjadi penting karena menjadi ukuran keberhasilan seseorang dalam meningkatkan kualitas dirinya. Bagaimana mungkin kita bisa disebut berhasil memperbaiki diri jika malah orang-orang di sekitar kita menjadi tak nyaman, terganggu hati dan pikirannya akibat perbuatan kita? Yeku (itulah) aran (yang disebut) wong (orang) barek (baik) berag (bergembira, semangat) agama (beragama). Itulah orang yang disebut baik dan bersemangat dalam beragama. Inilah yang disebut orang yang sudah mampu menghayati dan mengamalkan agamanya. Karena buah terbaik dari pengamalan agama adalah akhlak yang mulia, maka sikap kita terhadap sesama dan respon mereka terhadap diri kita adalah tolok ukurnya. Kita jangan berkilah bahwa orang-orang jahat pasti tak suka dengan orang beragama karena kepentingannya terganggu. Yang demikian tidak benar. Karena seperti yang terjadi pada Nabi Muhammad, orang-orang walau membenci dakwah Nabi tetapi tidak membenci akhlak Nabi. Mereka para kaum kafir rela Nabi menjadi raja, jika mau menghentikan dakwahnya. Jadi yang mereka benci bukan akhlak Nabi, melainkan gerakan dakwahnya yang mengganggu kepentingan mereka. Ini harus dibedakan. Kajian Wedatama (32): Aywa Kongsi Njunjurken Kapti Bait ke-32, Pupuh Sinom, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV: Ing jaman mengko pan ora. Arahe para taruni, yen antuk tuduh kang nyata, nora pisan den lakoni. Banjur njujurkenkapti, Kakekne arsa winuruk, Ngandelaken gurunira, Panditane praja sidik, Tur wis manggon pamucunge mring makripat. Terjemahan dalam Bahasa Indonesia: Di jaman sekarang tidak demikian. Sikapnya anak muda, apabila mendapat petunjuk yang nyata, tidak pernah sekalipun dijalani, Lalu menuruti kehendakhatinya, kakeknya akan diberi pelajaran, mengandalkan gurunya. Seorang pendeta negara yang pandai, dan juga sudah menguasai ilmu ma’rifat. Kajian per kata: Ing (di) jaman (jaman) mengko (nanti) pan ora (tidak demikian). Di jaman sekarang tidak demikian. Ini merujuk pada bait sebelumnya. Bahwa yang dapat bersikap seperti yang digambarkan pada bait ke-31, di jaman sekarang ini sudah langka ditemukan. Ini hanya sentilan saja, kiasan bahwa isi bait ini mesti diperhatikan, terutama bagi anak muda. Arahe (sikap, kelakuan) para taruni (para anak muda), yen (kalau) antuk (mendapat) tuduh (petunjuk) kang (yang) nyata (nyata, benar), nora (tidak) pisan (sekali) den (dia) lakoni (jalani). Sikapnya anak muda jaman sekarang, apabila mendapat petunjuk yang nyata, tak pernah sekalipun dia jalani. Sikap anak muda jaman sekarang suka mengabaikan petuah orang-orang tua. Apabila diberi pengertian oleh mereka berdasarkan pengalaman nyata mereka, anak-anak muda sering mengabaikan. Tak mau sekalipun menjalani. Maido, menyangkal, dan menganggapnya kuno, tak sesuai keadaan jaman kini. Padahal anak-anak muda itu sebenarnya masih belum mengerti tantangan jaman yang akan datang. Banjur (lalu) njujurken (menuruti sendiri) kapti (kehendak), kakekne (kakeknya) arsa (akan) winuruk (diajari), ngandelaken (mengandalkan) gurunira (gurunya). Lalu menuruti kehendak sendiri. Bahkan, kakeknya akan diberi pelajaran, mengandalkan gurunya. Lalu menuruti kehendak sendiri, berdasar pengetahuan yang dia terima. Merasa sudah pintar, malah-malah kakek mereka akan mereka ajari karena sudah merasa pandai sekali. Ini bener- bener sikap yang sudah melampaui batas dan tidak seyogyianya dilakukan. Mengapa mereka melakukan itu? Ya, karena memang jiwa muda sering kali berlebihan dalam merespon pengetahuan yang baru diterima dari luar. Mereka mengandalkan guru mereka. Anak-anak muda ketika baru belajar sering mengalami kekagetan, oh kok ternyata begini, oh berarti aku salah selama ini. Oh, kok aku tidak dibiasakan seperti ajaran para guru, berarti ayah-kakek tak mengerti cara yang benar. Begitulah kira-kira jalan pikirannya. Padahal apa yang diajarkan guru-guru mereka baru sebagian dari keseluruhan ilmu-ilmu yang ada. Panditane (pendetanya) praja (negara) sidik (pandai), tur (dan) wis (sudah) manggon (menempati, sampai pada) pamucunge (penguasaan) mring (pada) makripat (tingkat ma’rifat). Seorang pendeta yang pandai, dan sudah menguasai ilmu ma’rifat. Mereka, anak-anak muda tadi terlalu mengidolakan guru-guru mereka yang punya jabatan prestise di kerajaan, terlihat mentereng dan sangat pandai. Selalu tampak bijaksana dan menguasai semua ilmu ma’rifat. Tentu kesan itu jauh berbeda dengan ayah atau kakek mereka yang orang-orang sederhana dan tidak tampil sholeh. Mungkin itulah yang menyebabkan mereka abai terhadap nasehat dari orang tua mereka sendiri. Dengan selesainya bait ke-32 ini selesailah Pupuh sinom dari serat Wedatama. Secara garis besar pupuh Sinom berisi petuah bagaimana seharusnya orang hidup yang bermartabat dan terpuji. Di dalamnya ditekankan untuk mengambil laku lebih dari sekedar kulit luar dari sebuah ajaran, termasuk ajaran agama atau petuah leluhur. Sehingga dicapailah kemampuan diri yang punjul ing apapak, lebih dari sekedar orang-orang kebanyakan. Ini adalah hal yang berat dan melelahkan. Bersikap ksatria dengan memelihara keluhuran budi seringkali tidak populer dan mengundang cibiran di dunia yang kebanyakan orang hanya melihat kulit luarnya saja. Kebanyakan orang lebih terpesona dengan gebyaring kadonyan, misalnya lebih takjub jika melihat seorang kaya raya meski kekayaannya didapat dengan curang, dibanding dengan orang yang jujur dalam mencari nafkah. Pesona duniawi yang begitu menyeret manusia hanyut di dalamnya itulah yang seringkali menjerumuskan seseorang pada perilaku yang leluwihan, berlebihan dalam mengejar dunia. Penggubah Wedatama menawarkan solusi untuk mengatasi hal tersebut, yakni tiga hal: berpegang teguh pada syariat agama, lelaku tirakat dengan menahan hawa nafsu dan mengasingkan diri untuk mencapai ma’rifat. Dan di jaman ini, tiga hal tersebut juga kurang populer, terutama dua yang terakhir. Itu dia sadari sejak semula seperti terangkum dalam bait ini. Dan juga disadari oleh yang mengkajinya di sini. Tetapi hal baik mesti disampaikan, sebagai kewajiban orang yang tahu. Adapun hasilnya, terserah kepada Allah sebagai pemilik segala kehidupan. PUPUH PUCUNG Kajian wedatama (33): Kelakone Kanthi Laku Bait ke-33, Pupuh Pucung, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV: Ilmu iku, kelakone kanthi laku. Lekase lawan kas. Tegese kas nyantosani. Setya budya pangekesing dur angkara. Terjemahan dalam Bahasa Inonesia: Ilmu itu terwujudnya dengan dijalani. Dimulai dengan kemauan. Kemauan inilah yang membuat sentosa. Budi yang setia itu penghancur nafsu angkara. Kajian per kata: Ilmu (ilmu) iku (itu), kelakone (terlaksananya, terwujudnya) kanthi (dengan) laku (dijalani). Ilmu itu terwujudnya dengan dijalani. Inilah ilmu tentang diri, yang berbeda dengan ilmu pengetahuan tentang dunia luar (sains). Dalam ilmu tentang diri perangkat utama sebagai alat untuk mengetahu adalah hati. Dalam istilah budaya Jawa disebut rasa. Ini sudah disinggung pada bait ke-2 dalam postingan berjudul sepa asepah samun. Melalui olah rasa itulah diri dikenali. Apa makna dari mengenali diri? Dahulu kala ketika manusia hendak dilahirkan ke dunia Allah SWT telah menciptakan diri manusia di alam ruh. Di alam ruh itu bakal calon manusia telah diperkenalkan dengan Tuhan Yang Mengatur alam raya. Namun ketika turun ke dunia, pekat dan gelapnya alam materi membuat kita lupa akan asal-usul kita. Dan kita juga lupa tujuan akhir perjalanan yang semestinya kita tempuh. Dalam budaya Jawa asal-usul dan tujuan hidup ini disebut sangkan paraning dumadi. Mengenali diri dengan demikian pada hakekatnya adalah mengingat (zikir) tentang sangkan paraning dumadi. Disebut mengingat karena dahulu kita telah mengetaui. Jadi itu bukan pengetahuan yang baru, melainkan telah tertanam dalam sanubari kita. Laku yang arti harfiahnya adalah berjalan, adalah proses mengingat itu. Dalam laku ada tatacara yeng harus ditempuh agar rasa kita terasah. Tatacara yang utama adalah syariat agama, yang kedua menahan hawa nafsu dan yang terakhir adalah menyepi. Tujuan menyepi adalah kontemplasi agar sang diri dikenali. Pengenalan diri menghasilkan apa yang disebut sebagai budya (budi). Ia adalah pikiran yang sadar diri. Pikiran yang berhasil melakukan sinkronisasi dengan hati yang berzikir. Oleh karena itu budi kadang diartikan sebagai pikiran, seperti pada kata akal budi, budidaya, . Dan di lain tempat diartikan sebagai hati, seperti pada kata budi luhur, berbudi, budi mulia, budiman. Seorang yang berbudi adalah seorang yang sudah paham akan sangkan paraning dumadi. Dalam bahasa filsafat modern budi disebut sebagai intelek, dalam bahasa Arab disebut fuad. Lekase (dimulainya) lawan (dengan) kas (kemauan). Dimulai dengan kemauan. Laku tadi adalah sesuatu yang berat dilaksanakan, maka diperlukan kemauan yang keras dalam memulainya. Tanpa kemauan jalan yang akan dilalui untuk laku tidak akan tampak. Ibarat orang yang memegang obor di kegelapan. Seratus langkah ke depan adalah gelap semata, jika dia berkemauan untuk melangkah satu langkah, maka satu langkah ke depan akan terang. Begitu seterusnya sampai seratus langkah lagi, maka yang tadinya gelap akan kelihatan. Tegese (maknanya) kas (kemauan) nyantosani (membuat sentosa). Kemauan inilah yang membuat sentosa. Kemauan akan membuat seseorang kuat dalam menjalani laku. Karena selangkah demi selangkah jalan di depan akan terang dan terbuka untuk dilewati. Jika kemauan terpelihara sepanjang jalan maka proses laku akan mencapai titik akhir pada saatnya. Seperti kata pepatah, perjalanan seribu langkah selalu diawali dengan langkah pertama. Setya (setia) budya (budi) pangekesing (penghancur) dur (keburukan) angkara (angkara). Budi yang setia itu penghancur nafsu angkara. Sesudah akal budi terbentuk, aktual, mewujud dalam diri, maka akan mudah untuk menumpas nafsu angkara. Inilah puncak kekuatan manusia yang sebenarnya, mengalahkan dur angkara dalam dirinya. Seperti sabda Nabi, orang yang paling kuat adalah orang yang dapat mengalahkan hawa nafsunya.

Manulat Nabi Ginawe Umbag

Kajian Wedatama (22): Manulad Nabi Ginawe Umbag Bait ke-22, Pupuh Sinom, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV: Lowung kalamun tinimbang, ngaurip tanpa prihatin. Nanging ta ing jaman mangkya, Pra mudha kang den karemi, Manulad nelad Nabi, Nayakengrat Gusti Rasul, Anggung ginawe umbag. Saben seba mampir masjid, ngajab-ajab mukjijad tibaning drajad. Terjemahan dalam Bahasa Indonesia: Masih lumayan dibanding, orang hidup tanpa prihatin. Namun di masa kini, para muda yang digemari, meniru-niru Nabi, utusan Allah Gusti Rasul. Yang hanya dipakai sombong-sombongan. Setiap akan kerja singgah dulu ke masjid, mengharap mukjijat agar naik pangkat. Kajian per kata: Lowung (masih lumayan) kalamun (jika) tinimbang (dibandingkan), ngaurip (hidup) tanpa, (tanpa) prihatin (prihatin). Masih lumayan dibanding orang yang hidup tanpa prihatin. Bahwa sebisa-bisa, sekuat-kuatnya, kita berusaha meniru para pendahulu kita dalam bersusah payah meningkatkan nilai diri melalui tapabrata, menahan nafsu dan bermuhasabah dalam kesunyian. Mungkin kita takkan mampu menyamai kegigihan mereka dalam usaha itu, tetapi jangan lantas putus asa dan tidak berbuat apa-apa. Apapun hasilnya apa yang kita usahakan masih lebih baik daripada orang yang hidupnya tidak pernah prihatin sama sekali. Nanging ta (namun demikian) ing ( di ) jaman (jaman) mangkya (sekarang), pra (para) mudha (muda) kang (yang) den (di) karemi (sukai), manulad (meniru) nelad (perbuatan) Nabi (Nabi), nayakengrat (nayaka ing rat, utusan jagad, Allah) Gusti (tuan, kanjeng) Rasul (utusan). Namun demikian pada jaman sekarang, yang digemari anak muda adalah meniru- niru Nabi, utusan Allah, Gusti Rasul. Anak-anak muda zaman itu (ditulisnya serat Wedatama ini) mulai meninggalkan laku prihatin. Yang sekarang digemari adalah meniru-niru Nabi Muhammad utusan Allah. Tampaknya gejala meniru-niru Nabi ini sudah ada sejak zaman dahulu. Meniru pakaian, gaya dan perilaku nabi tapi hanya kulit luarnya saja, tidak disertai meniru semangat moral yang menjadi landasan perilaku seseorang. 48 Anggung (yang hanya) ginawe (dipakai buat) umbag (sombong-sombongan). Meniru-niru Nabi namun hanya dipakai sombong-sombongan. Apalagi kalau peniruan itu hanya dipakai untuk menyombongkan diri, agar berkesan paling suci, paling islami, paling “sunnah” daripada yang lain. Ini tentu menjadi tidak baik, dan justru bertentangan dengan pesan moral Nabi agar kita senantiasa tawadlu, tidak menyombongkan diri, tidak merasa lebih baik dari yang lain. Saben (setiap) seba (sowan ke kraton, kerja di kraton) mampir (mampir ke) masjid (masjid). Setiap hari masuk kerja di kraton mampir ke masjid. Ngajab-ajab (mengharap) mukjijad (mukjizt, keajaiban) tibaning (agar diberi) drajad (pangkat). Berdoa mengharap mukjizat agar naik pangkat. Terlebih-lebih tidak elok apabila muara dari segala sikap religius tadi hanyalah demi kepentingan pribadi, ingin dilihat sebagai orang alim, ingin dinilai orang sholeh, ingin diberi kelebihan oleh Allah sehingga mudah naik pangkat, maupun keinginan sangat pribadi seperti ingin menggaet anak gadis sang tumenggung, dll. Yang demikian tentu tidak baik. Apa yang diceritakan dalam bait ke-22 ini adalah fenomena kehidupan pada jaman itu, pada masa kolonialisme dulu. Namun demikian, watak manusia sejak Nabi Adam sampai hari kiamat tidak akan pernah berubah. Walau teknologi, kedokteran, pertanian, sudah berkembang pesat hingga mengubah gaya hidup manusia, watak ruhaniyah manusia tetap sama. Karena itulah kita patut waspada agar hal-hal kurang baik yang terjadi pada masa lalu tidak terulang di masa depan. Kajian Wedatama (23): Anggung Anggubel Sarengat Bait ke-23, Pupuh Sinom, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV: Anggung anggubel sarengat, saringane tan den weruhi. Dalil dalaning ijemak, kiyase nora mikani. Ketungkul mungkul sami, bengkrakan mring masjid Agung. Kalamun maca khutbah, lelagone Dandhang Gendhis, swara arum ngumandhang cengkok palaran. Terjemahan dalam Bahasa Indonesia: Hanya menggeluti soal syari’at saja, dasar pedoman hukumnya tak diketahui. Dalil sampai kepada ijma’, qiyasnya tak diketahui. Terlena dalam suatu tindakan, bertingkah cari perhatian di Masjid Agung. Bila membaca kutbah, berirama indah seperti Dandhanggula, suaranya merdu bergaya palaran. Kajian per kata: Anggung (hanya) anggubel (menggeluti) sarengat (syariat saja). Hanya menggeluti syariat saja. Mengutamakan fikih, tanpa peduli bagaimana sebuah hukum diambil. Hanya berpatokan dari yang tertulis pada kitab, sehingga hukum menjadi kaku dan tidak luwe dipraktikan dalam masyarakat. Malah terkesan hanya seperti gagah-gagahan saja. Saringane (dasar dan pedoman hukum) tan (tidak) den (di) weruhi (ketahui). Dasar pedoman hukumnya tak diketahui. Itu semua karena hanya mendasarkan pada hukum fikih atau fatwa-fatwa saja. Dasar pertimbangan dibalik sebuah fatwa tidak diketahui dengan baik, akibatnya salah menerapkan. Kurang tepat dalam mengambil qiyas dan penerapan dalil-dalilnya. Dalil (dalil-dalil) dalaning (sampai kepada) ijemak (ijma’), kiyase (qiyasnya) nora (tidak) mikani (diketahui). Dalil sampai kepada ijma’, qiyasnya juga tak diketahui. Dalil dan pertimbangan apa yang membuat suatu hukum diambil dan disepakati oleh para ulama. Ijma’ adalah kesepakatan para ulama tentang suatu hukum keagamaan. Apabila ada pertentangan satu ulama dengan yang lain, tak boleh suatu hukum dipaksakan berlaku untuk semua Sedangkan qiyas adalah menerapkan hukum pada masalah yang belum ada hukumnya tetapi sifatnya mirip dengan suatu perkara yang sudah ada hukumnya. Contohnya apakah ciu itu haram atau tidak? Karena ciu tidak ada di zaman Nabi maka tidak diketahui hukumnya. Maka kemudian diqiyaskan dengan khamr, karena sifat ciu mirip dengan khamr, yakni memabukkan. Dengan demikian diperoleh hukum bahwa ciu adalah haram. Namun demikian tidak boleh sembarang orang melakukan penyimpulan seperti itu, harus seorang ulama mumpuni yang boleh melakukannya. Ketungkul (terlena) mungkul (terfokus suatu tindakan) sami (semua), bengkrakan (bertingkah cari perhatian) mring (di dalam) masjid Agung (masjid agung, masjid kraton). Terlenalah mereka dalam suatu tindakan, mencari perhatian di Masjid Agung. Mereka hanya terlena dalam urusan syariat, fikih, tanpa belajar dasar-dasar hukum agama. Ini adalah gejala pendangkalan agama pada masa itu. Ketika seseorang terlalu berpegang pada hukum-hukum fikih tanpa memahami benar dasar-dasar hukum dan perimbangan apa saja yang dipakai untuk mengambil suatu hukum. Bahwa sebuah produk hukum-hukum fikih harus melalui serangkaian ijma’ para ulama, dan apabila tidak memungkinkan paling tidak harus dilakukan ijtihad dengan qiyas oleh ulama yang mumpuni dalam ilmu-ilmu keislaman. Tidak bisa seseorang menyimpulkan hukum sendiri tanpa ilmu yang cukup. Pemahaman yang hanya pada kulit luar tanpa memahami hakekat dari sebuah produk hukum akan menjadi sangat kaku dan susah diterapkan dalam masyarakat. Kerap menimbulkan sikap eksklusif, merasa benar sendiri dan kurang toleran terhadap pendapat yang berbeda. Akibatnya walau terlihat religius orang-orang ini bisa menimbulkan kesan tak nyaman, apatis, sinis atau malah merendahkan terhadap sesama. Perbuatan mereka malah terkesan over-acting, hanya mencari-cari perhatian atau terkesan hanya untuk pamer saja. Kalamun (jikalau) maca (membaca) khutbah (khutbah), lelagone (berirama seperti tembang) Dandhang Gendhis (dandhanggula), swara (suara) arum (merdu) ngumandhang (berkumandang) cengkok (bergaya) palaran (palaran, gaya lagu yang runtut dan bersemangat). Jikalau membaca khutbah, berirama seperti lagu Dandhanggula, suaranya merdu berkumandang bergaya palaran. Ini kiasan ketika membaca khutbah sangat piawai, mempesona layaknya lagu Dandhanggula. Runtut, sangat lancar berkumandang layaknya gaya palaran (nama garapan gendhing yang iramanya lancar, runtut dan bersemangat). Artinya mereka sangat fasih ketika berbicara tentang syariat, seolah sudah hapal di luar kepala, sangat runtut, bersemangat menggebu- nggebu. Ini adalah fenomena keagamaan di zaman itu, ketika orang-orang muda bersemangat dalam menjalankan syariat tetapi kurang memperhatikan hakekat dari hukum-hukum agama, apalagi mereka juga sudah mulai meninggalkan laku prihatin, sebuah jalan hidup yang akan menghantarkan kepada ma’rifat, pengenalan akan Allah SWT. Kajian Wedatama (24): Nuladha mBaka Sethithik Bait ke-24, Pupuh Sinom, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV: Lamun sira paksa nulad, tuladhaning Kanjeng Nabi, O, ngger kadohan panjangka. Wateke tan betah kaki. Rehne sira ta Jawi, sethithik wae wus cukup. Aywa guru aleman, nelad kang ngepleki pekih. Lamun pengkuh pangangkah yekti karahmat. Terjemahan Bahasa Indonesia: Bila kamu bertekad mencontoh, Tindak tanduk Kanjeng Nabi, O, nak terlalu muluk anganmu, Kau tak akan mampu, Karena kamu orang Jawa, sedikit saja sudah cukup. Jangan mencari pujian, Dalam meniru sama persis seperti dalam fikih. Apabila kuat harapan sebenarnya akan mendapat rahmat. Kajian per kata: Lamun (kalau) sira (kamu) paksa (bertekad) nulad (mencontoh). Tuladhaning (tindak- tanduk) Kanjeng (Kanjeng) Nabi (Nabi). O, ngger (O, nak) kadohan (muluk-muluk, terlalu jauh) panjangka (angan-angan). Jika kamu bertekad mencontoh, tindak tanduk Kanjeng Nabi. O, nak terlalu jauh angan-anganmu. Jika kamu bertekad mencontoh tindak tanduk Nabi secara persis seperti apa yang dahulu dilakukan Kanjeng Nabi dalam segala hal, itu terlalu jauh angan-anganmu nak! Kanjeng Nabi adalah manusia agung yang ahlaknya mulia. Kita takkan mampu menirunya dengan mudah, jadi jangan panjang angan-angan dahulu. Wateke (wataknya) tan (tidak) betah (betah meniru, takkan kosisten sepanjang waktu) kaki (nak). Kau takkan mampu meniru secara konsisten nak, disebabkan watak Kanjeng Nabi terlalu agung. Watakmu takkan betah, tak mampu untuk konsisten disebabkan Kanjeng Nabi adalah manusia agung yang berakhlak sangat mulia. Kau takkan bisa bertahan lama jika bermaksud menirunya dalam segala hal. Rehne (karena, berhubung) sira (kau) ta (kan) Jawi (orang Jawa), sethithik (sedikit) wae (saja) wus (sudah) cukup (cukup). Karena kau kan orang Jawa, sedikit-sedikit saja sudah cukup. Apalagi kau adalah orang Jawa, pasti berbeda dalam perikehidupan, adat budaya, dan lingkungan dengan Kanjeng Nabi. Sedangkan meniru sesama orang Jawa dari jaman dulu saja tidak bisa sama persis, apalagi meniru Kanjeng Nabi yang beda zaman dan beda lingkungan. Ini bukan berarti tidak boleh meniru Kanjeng Nabi, namun pasti takkan bisa, apalagi oleh anak muda yang belum terbiasa mengalami perikehidupan yang berat. Sedangkan cobaan seorang nabi sungguh sangat berat. Oleh karena itu tirulah sedikit demi sedikit, disesuaikan dengan kemampuan dan keadaanmu. Misalnya Kanjeng Nabi kuat shalat sepanjang malam, lha kamu kuat gak? Kira-kira begitulah. Ini tidak berarti tidak boleh meniru perilaku Kanjeng Nabi, tetapi memang amatlah sulit, jadi jangan sombong dulu. Mengingat perilaku Nabi adalah perilaku orang mulia yang didalamnya terkandung banyak kebaikan. Jadi akan sangat sulit ditiru. Aywa (jangan) guru (memburu, mengejar) aleman (pujian), nelad (meniru) kang (yang) ngepleki (persis) pekih (kitab fikih). Jangan sekedar mengejar pujian, dalam meniru persis seperti dalam kitab-kitab fikih. Apalagi jika peniruan itu hanya dilandasi karena mengejar pujian, biar dikira orang suci, biar dikira orang yang sudah paham agama, maka yang demikian itu tidak benar. Lebih baik sebagai orang Jawa bersikap tenang dan tidak memperlihatkan kebaikan diri. Lamun (apabila) pengkuh (mampu, kuat) pangangkah (harapan) yekti (sebenarnya) karahmat (mendapat rahmat). Apabila kuat harapan sebenarnya akan mendapat rahmat. Sesungguhnya meniru tindak tanduk Nabi seperti yang diriwayatkan dalam kitab-kitab fikih apabila mampu, akan mendatangkan banyak rahmat dari Allah SWT. Namun harus dilakukan secara gradual karena meniru sesuatu yang agung tidaklah mudah. Walau demikian bila dalam melakukan amal perbuatan sehari-hari dilakukan dengan tekad yang kuat, sebenarnya akan mendapat rahmat dari Allah. Sehingga tidak harus sama persis dengan apa yang dilakukan oleh Nabi. Demikianlah pendapat penggubah serat Wedatama ini. Kajian Wedatama (25): Maksih Butuh Ngupa Boga Bait ke-25, Pupuh Sinom, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV: Nanging enak ngupa boga, rehne ta tinitah langip. Apata suwiteng nata, tani tanapi agrami, Mangkono mungguh mami, padune wong dhahat cubluk, durung weruh cara Arab, Jawaku wae tan ngenting, Parandene paripaksa mulang putra. Terjemahan dalam Bahasa Indonesia. Namun masih harus mencari nafkah, Karena tercipta sebagai orang yang lemah, Bisa mengabdi pada raja, Bertani ataupun berdagang, Begitulah menurut pendapat saya, Itu karena saya orang bodoh, Tidak tahu tatacara di tanah Arab, Sedangkan pengetahuan tatacara Jawa saja tak memadai, tetapi memaksakan diri mendidik anak. Kajian per kata: Nanging (namun) enak (yang nyaman, kiasan untuk kata harus) ngupa (mencari) boga (makan, nafkah), rehne (karena) ta tinitah (tercipta sebagai ) langip ( laif, dari kata dhaif, orang lemah, miskin). Namun masih harus mencari nafkah, karena tercipta sebagai orang yang lemah. Bait ini merupakan sambungan dari bait sebelumnya, bahwa meniru perilaku hidup Kanjeng Nabi sebenarnya dapat mendatangkan rahmat. Namun kita masih harus mencari nafkah untuk mencukupi kebutuhan, karena tercipta sebagai makhluk lemah. Berbeda dengan Kanjeng Nabi yang dalam hidupnya sudah tidak peduli dengan harta-benda dunia dan mencukupkan diri dengan rahmat Allah yang beliau terima. Nabi hanya disibukkan mengurus umat dan beribadah di siang dan malam. Ini juga menjadi salah satu alasan mengapa meniru Nabi menjadi sangat sulit, karena kita masih disibukkan perkara mencari nafkah. Sedangkan nabi sudah sampai pada maqom tidak memikirkan nafkah lagi, melainkan hanya menerima rejeki hari itu untuk hari itu juga. Pemahaman kita tentang hidup belumlah setinggi itu. Kita masih orang yang lemah dalam berkeyakinan dan secara ekonomi juga masih sulit. Apata (bisa berupa) suwiteng (mengabdi) nata (raja, menjadi pegawai negeri), tani (bertani) tanapi (ataupun) agrami (berdagang). Bisa mengabdi pada raja, bertani atau berdagang. Bekerja dengan menjadi pegawe negeri, yang berarti akan sangat sempit waktu untuk beribadah. Atau bekerja menjadi petani maupun berdagang, akan lebih-lebih sempit lagi waktu untuk beribadah sesuai teladan Nabi. Mangkono (begitulah, yang demikian) mungguh (menurut) mami (pendapat saya), padune (itu karena) wong (orang) dhahat (sangat) cubluk (bodoh), purung (belum) weruh (melihat, mengerti) cara (tatacara kehidupan) Arab (orang Arab). Begitulah menurut pendapat saya. Itu karena saya orang sangat bodoh, yang belum mengerti tatacara kehidupan orang di Arab sana. Demikian itulah pendapat saya (sang penggubah serat ini). Mencontoh kehidupan Nabi hendaklah dilakukan semampunya, agar keduanya (ibadah dan bekerja) sama-sama mendapat perhatian. Pendapatku tadi tidaklah mutlak benar, karena saya adalah orang yang bodoh, tidak mengerti tentang tatacara perikehidupan orang Arab. Ini adalah pernyataan penulis kitab Wedatama yang rendah hati. Walau beliau mempunyai pendapat tentang bagaimana seharusnya mencontoh kehidupan nabi, namun pendapatnya tidak diklaim sebagai kebenaran mutlak. Malah beliau menyatakan kurangnya pengetahuan tentang hal itu. Jawaku wae (sedangkan jawaku saja) tan (tidak) ngenting (memadai), parandene (namun) paripaksa (memaksakan diri) mulang (mendidik) putra (anak-cucu). Sedangkan pengetahuanku tentang tatacara Jawa saja tak memadai, tetapi memaksakan diri mendidik anak. Sedangkan terhadap pengetahuan tatacara yang baik menurut budaya Jawa saja pengetahuanku tak memadai. Namun memaksakan diri mendidik anak cucu, lewat penulisan kitab ini. Sekali lagi sebuah pernyataan yang rendah hati diungkapkan sang penggubah serat ini, yang merasa bahwa beliau belum pantas untuk memberi nasihat. Beliau tidak bersikap mentang- mentang sebagai penguasa kemudian menulis serat yang isinya perintah dan fatwa, tetapi tetap memakai gaya penulisan yang lazim dipakai para penulis lain. Semoga sikap rendah hati ini bisa kita contoh di kemudian hari.  

Karyenak Tyasing sasama

PUPUH SINOM Kajian Wedatama (15): Karyenak Tyasing Sasama Alhamdulillah, kajian kita sudah sampai pada bait ke-15, sudah masuk Pupuh Sinom. Seperti yang sudah disinggung di akhir Pupuh Pangkur, Pupuh Sinom ini ditujukan untuk kalangan muda yang masih bergairah tinggi dalam kehidupan bermasyarakat. Namun demikian gelora muda tidak sepantasnya disalurkan untuk foya-foya. Bahkan juga harus mulai berlatih mengendalikan hawa nafsu, kalau tidak akan menjadi kebiasaan buruk di masa tua. Sebagaimana orang bijak mengatakan, orang tua akan menjalani kehidupan sebagaimana ia menjalani masa muda. Selengkapnya bait ke-15 adalah sebagai berikut: Nuladha laku utama, tumrape wong Tanah Jawi. Wong agung ing Ngeksiganda, Panembahan Senopati, Kepati amarsudi, Sudane hawa lan nepsu, Pinesu tapa brata, Tanapi ing siyang ratri, Amamangun karyenak tyasing sasama. Terjemahan dalam Bahasa Indonesia. Contohlah perilaku utama. Untuk kalangan Orang Jawa, orang besar dari Mataram, Panembahan Senopati. Yang sangat keras berusaha, mengurangi hawa nafsu. Dengan jalan prihatin (tirakat). Sambil di siang malam, berbuat menyenangkan hati sesama. Kajian per kata: Nuladha (contohlah) laku (perilaku) utama (utama), tumrape (bagi) wong (orang) Tanah (wilayah) Jawi (Jawa). Contohlah perilaku utama, bagi orang yang tinggal di wilayah Jawa. Mencontoh (nuladha) adalah berbuat sebagaimana contoh sesuai dengan konteks yang dihadapi. Ini tidak sama dengan meniru (neniru). Meniru adalah menjiplak persis. Jadi dalam mencontoh ada konteks dari perbuatan sesuai tantangan yang dihadapi oleh pelaku yang mencontoh. Laku bisa diartikan perilaku atau kelakukan, juga bisa diartikan cara menjalani sesuatu. Nanti kita akan bertemu istilah laku sebagai ilmu praktis atau kalau meminjam istilah sufisme disebut suluk. Utama adalah yang terbaik, yang lebih baik dari yang baik. Jadi gatra ini lebih tepat kalau dimaknai: contohlah cara menjalani hidup yang utama. Dalam gatra kedua ini kalimat tumrah wong tanah Jawi, adalah pembatasan. Pembatasan ini tentu bukan bermaksud sektarian atau rasis, tetapi lebih karena pendekatan budaya saja. Mungkin bagi orang Jawa nasehat dalam serat ini baik jika diterapkan, tetapi bagi orang luar Jawa belum tentu baik. Semua itu karena perbedaan budaya semata. Wong (orang) agung (besar) ing (di) Ngeksiganda (Mataram), Panembahan Senopati. Orang besar dari negeri Mataram, Panembahan Senopati. Kata Mataram di atas diturunkan dari kata, ngeksi yang artinya melihat, melihat jelas pakai mata, maka diambil kata Mata. Kemudian kata ganda berarti bau, yang dimaksud adalah bau harum, maka diambil suku kata terakhir rum, disamarkan menjadi ram. Gabungan dua kata itu menjadi Mataram, nama kerajaan tempat orang besar tadi. Permainan kata seperti di atas lazim dilakukan dalam bahasa Jawa dan biasa disebut wangsalan. Panembahan Senopati adalah gelar dan nama raja pertama Mataram, orang yang akan kita tiru perilakunya. Kepati (sangat keras, bersungguh-sungguh) amarsudi (berusaha, melatih diri), sudane (berkurangnya) hawa lan nepsu (hawa nafsu). Sangat keras berusaha, berkurangnya hawa nafsu. Kepati artinya sangat-sangat, contoh pada kata gething kepati-pati, sangat-sangat benci. Amarsudi berarti berusaha, berlatih dengan tekun. Contoh pada kata marsudi raga, tekun berolah raga. Meski seringkali dijadikan kata majemuk, hawa nafsu sebenarnya dua kata yang punya arti sendiri. Hawa adalah rangsangan dari luar, nafsu adalah keinginan dari dalam. Di dalam falsafah kehidupan orang Jawa ada filosofi: nutup babahan hawa sanga, menutup sembilan lubang hawa. Yakni menutup rangsangan dari luar agar tidak masuk dan keinginan dari dalam agar tidak keluar. Caranya dengan menutup rangsangan hawa agar tidak masuk melalu sembilan lubang, dua mata, dua lubang hidung, dua lubang telinga, satu lubang mulut, satu lubang kelamin dan satu lubang dubur. Yang dimaksud menutup di sini adalah membatasi rangsangan yang masuk lewat lubang-lubang tersebut, misalnya dengan tidak memandang hal-hal yang membangkitkan nafsu, tidak sengaja mencium aroma yang mengundang selera, tidak mendengar percakapan yang tidak pantas, dll. Jadi gatra ini lebih tepat kalau dimaknai sebagai: berlatih dengan sungguh agar mencapai kondisi berkurangnya hawa dan nafsu. Jika nafsu tidak dituruti maka akan melemah, sehingga tidak bergejolak. Inilah kondisi yang ideal bagi manusia. Lalu bagaimana cara agar mencapai keadaan itu? Bait berikut menjelaskannya. Pinesu (dipaksa, diusahakan dengan keras) tapa brata (bertapa, tirakat). Dengan jalan laku tirakat. Berkurangnya hawa dan nafsu tadi dapat dicapai dengan bertapa. Di sini bertapa berarti tirakat, laku prihatin, mencegah atau berpantang dari sesuatu agar mendapat pencerahan. Yang umum dilakukan oleh orang jawa tempo dulu adalah mengurangi makan dan tidur (cegah dhahar lan guling), sambil berdzikir. Juga biasa dilakukan dengan berkhalwat, menyendiri (mahas ing asepi). Arti gatra ini yang sesuai: memaksa diri menjalani laku prihatin atau tirakat. Tanapi (sambil) ing (di) siyang (siang) ratri (malam), amamangun (mematut diri) karyenak (membuat enak) tyasing (hati) sasama (sesama, orang lain). Sambil di siang malam, berbuat menyenangkan hati sesama. Karena Panembahan Senopati adalah seorang raja yang terkenal suka laku tirakat, maka sangat mungkin yang dimaksud dengan gatra ini adalah: sambil berlatih terus untuk mengekang hawa dan nafsu beliau juga berusaha di siang dan malam, membuat kebijakan, memerintah, mengarahkan (itu semua disebut amamangun) agar rakyat merasa nyaman hidupnya dan (enak hati) tanpa rasa takut dan khawatir. Bagi orang Jawa contohlah tauladan dari orang besar di Mataram, Panembahan Senopati. Yang sangat keras berusaha mengurangi hawa dan nafsu dengan memaksa diri menjalai laku prihatin. Sambil di siang dan malam, berbuat kebijakan agar rakyatnya hidup nyaman tanpa rasa takut. Apa yang dilakukan Panembahan Senopati adalah pengabdian dua dimensi, dimensi vertikal dengan beribadah mendekatkan diri kepada Allah dengan jalan laku prihatin, mengurangi hawa nafsu. Dimensi horizontal, tetap hidup bermasyarakat, mengupayakan kesejahteraan rakyat sebagai pelaksanaan kewajiban seorang raja. Inilah tauladan baik yang semestinya dicontoh oleh orang Jawa. Kajian Wedatama (16): Nggayuh Geyonganing Kayun Bait ini masih melanjutkan bait terdahulu tentang perilaku Panembahan Senopati yang layak dijadikan tauladan bagi setiap generasi sesudahnya. Beliau adalah raja yang selalu menyebarkan kesejukan bagi setiap orang yang ditemui. Namun beliau juga tidak lalai dalam kehidupan spiritual, tetap hidup prihatin agar tercapai ketenangan jiwa. Sungguh tabiat seorang raja pinandita. Selengkapnya bait ke-16 adalah sebagai berikut: Samangsane pasamuwan, mamangun marta martani. Sinambi ing saben mangsa, kala kalaning asepi, lelana teki-teki. Nggayuh geyonganing kayun, Kayungyun heninging tyas, Sanityasa pinrihatin, Puguh panggah cegah dhahar lawan guling. Terjemahan dalam Bahasa Indonesia: Dalam setiap pertemuan, menciptakan suasana tenang dan menyejukkan. Sambil di setiap waktu, di kala ada waktu luang, mengembara bertapa, Menggapai kecenderungan hati, Terpesona ketenangan hati, Senantiasa melakukan hidup prihatin, Berpegang teguh tetap mengurangi makan dan tidur. Kajian per kata: Samangsane (dalam setiap) pasamuwan (pertemuan), mamangun (mencipta, membentuk) marta (santun, tenang) martani (menyejukkan). Dalam setiap pertemuan selalu menciptakan suasana tenang dan menyejukkan. Ini berkaitan dengan perilaku dari raja pertama Mataram Panembahan Senopati yang selalu bersikap tenang, sareh, dan menyebarkan kesejukan dalam setiap pertemuan. Bergaul dengan siapa saja sikap beliau selalu menyenangkan, tidak menyakiti hati orang lain sehingga membuat orang lain betah. Sinambi (sambil) ing (di) saben (setiap) mangsa (waktu), kala (di kala) kalaning ( ada waktu) asepi (luang, sepi pekerjaan), lelana (mengembara) teki-teki (teteki, bertapa). Sambil di setiap waktu, di kala ada waktu luang, mengembara untuk menyendiri, mengembara untuk bertapa. Walaupun sang Raja sangat sibuk, manakala ada waktu luang di sela-sela kesibukan, maka beliau menyempatkan melakukan hal-hal selain urusan pemerintahan. Yakni melakukan tapa, berkhalwat dengan sang Khalik, mendekatkan diri dengan Sang Pencipta. Walau seorang raja Senopati tidak melalaikan tugas kenegaraan, tetapi hatinya selalu tidak sabar menanti waktu luang untuk bertapa. Dia melakukan itu karena memang menyukai laku prihatin, tidak suka foya-foya. Karena memang ada yang dituju dalam hidupnya selain kekuasaan. Nggayuh (menggapai) geyonganing (kecenderungan) kayun (hati). Menggapai kecenderungan hati. Jadi bertapanya bukan untuk meraih kekuasaan, toh hal itu sudah didapatkan, melainkan karena memang kecenderungan hati. Cita-cita beliau adalah hidup prihatin untuk mencapai kesejatian, kesempurnaan hidup. Kayungyun (terpesona) heninging (ketenangan) tyas (hati). Terpesona ketenangan, keheningan hati. Karena beliau sangat terpesona dengan ketenangan hati. Tenang dalam arti dekat dengan Yang Maha Kuasa, bukan tenang dalam artian mengasingkan diri dari dunia. Toh beliau tetap bekerja sebagai raja pada setiap harinya. Sanityasa (senantiasa) pinrihatin (melakukan hidup prihatin). Senatiasa melakukan hidup prihatin. Beliau senantiasa hidup dengan cara yang sederhana dengan laku prihatin. Bukan karena keterpaksaan, tetapi karena tingkat pengendalian diri yang sudah paripurna. Tidak gampang kapiluyu (tergoda) oleh kemewahan dunia, meski seorang raja besar yang berkuasa. Puguh (berpegang teguh) panggah (tetap) cegah (mengurangi) dhahar (makan) lawan (maupun) guling (tidur). Berpegang teguh dengan tetap mengurangi makan dan tidur. Walau bisa hidup mewah sang raja justru mengurangi makan dan tidur. Itulah kunci dari hidup prihatin. Agar mata hati tetap terbuka, tidak tertutupi hawa nafsu. Catatan tambahan. Panembahan Senopati adalah penguasa Mataram pertama yang bergelar, Kanjeng Panembahan Senopati Ing Ngalaga Sayidin Panatagama Khalifatullah Tanah Jawa. Gelar di atas menunjukkan bahwa landasan dari kerajaan yang dibangun Senopati adalah religius. Kita tidak membahas itu sekarang, cukup informasi singkat ini sebagai gambaran ringkas tentang tokoh yang dalam serat Wedatama ini disebut sebagai orang besar yang patut dijadikan tauladan. Raja pertama Mataram ini meraih kekuasaan dengan jalan yang tidak mulus. Ketika masih bocah dia harus mengalahkan Adipati Jipang Arya Penangsang yang terkenal sakti mandraguna. Waktu itu Arya Penangsang dicurigai hendak memberontak kepada sultan Hadiwijaya di Pajang. Dalam satu pertempuran yang tidak imbang Senopati berhasil menewaskan Arya Penangsang secara dramatik. Atas kemenangannya itu Senopati yang waktu itu masih bernama Sutawijaya diganjar Alas Mentaok, yang masih berupa hutan rimba. Kemudian dia membabat hutan itu dan mendirikan tanah perdikan. Semakin lama semakin banyak pengikut yang bergabung di tanah baru itu. Tatkala kerajaan Pajang di bawah Sultan Hadiwijaya surut, pamor Sutawijaya meningkat, hingga dia berhasil mendirikan kerajaan baru yang dinamakan Mataram. Dia kemudian menjadi Raja dengan sebutan di atas, atau lebih dikenal sebagai Panembahan Senopati. Sutawijaya terkenal akan kegigihannya dalam bertapa, melakukan laku prihatin. Buahnya dia menjadi raja yang waskitha, cerdik dan tangguh. Kemampuan strateginya berhasil merangkul wilayah-wilayah timur untuk bergabung ke Mataram. Menjelang akhir kekuasaannya di tahun 1601M, Senopati telah mewariskan kerajaan yang besar. Bahkan kerajaannya tetap eksis hingga kini, yakni menjadi Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Kajian Wedatama (17): Mesu Reh Kasudarman Bait ini masih melanjutkan bait terdahulu tentang perilaku Panembahan Senopati yang gemar tirakat, menjalani tapa brata, mencegah makan-tidur dan suka berkelana di tempat sepi. Ini jelas bukan perilaku yang umum dilakukan para raja yang biasa bersikap hedonis, bermewah- mewahan dan memperturutkan hawa nafsu. Mungkin karena kecenderungan hati yang demikian beliau kemudian memilih untuk bergelar Panembahan Senopati. Raja yang suka manembah kepada Allah yang Maha suci. Selengkapnya bait ke-17, Pupuh Sinom dari Serat Wedatama adalah sebagai berikut. Saben mendra saking wisma, Lelana laladan sepi, Ngingsep sepuhing supana, Mrih pana pranaweng kapti, Tis tising tyas marsudi, Mardawaning budya tulus, Mesu reh kasudarman, Neng tepining jalanidhi, Sruning brata kataman wahyu dyatmika. Terjemahan dalam Bahasa Indonesia: Setiap pergi meninggalkan istana, Berkelana ke tempat yang sunyi, Menghisap berbagai ilmu yang baik, Agar jelas yang dikehendaki, Maksud hati tercapai, Kelembutan hati yang utama, Berusaha mempelajari tentang kebajikan, Di tepi samudra, Karena kerasnya bertapa mendapat anugerah Ilahi. Kajian per kata: Saben (setiap) mendra (keluar) saking (dari) wisma (rumah, dalam hal ini adalah istana), lelana (berkelana) laladan (tempat, wilayah) sepi (sunyi). Setiap keluar dari istana, berkelana di tempat sepi. Setiap keluar dari istana, sang raja selalu berkelana ke tempat yang sunyi. Gatra ini mengesankan sang raja “tak betah” untuk berada di istana. Setiap ada kesempatan selalu bersegera menyepi, seolah-olah hatinya sudah terpesona dengan kesepian, dengan laku tirakat. Ngingsep (menghisap) sepuhing (apuh, tuntas, sesuatu yang dihisap sampai tak tersisa saripatinya) supana (ilmu yang baik). Mempelajari ilmu yang baik sampai tuntas. Sang raja ke tempat sepi selain hendak tirakat juga sering berguru kepada para ahli ma’rifat. Ada banyak cerita bahwa Panembahan Senopati kerap ditemui oleh sunan Kalijaga ketika sedang menyepi, untuk diberi wejangan ilmu. Seperti kita ketahui bahwa Sunan Kajiga adalah Waliyullah yang berumur sangat panjang, dan masih sugeng ketika Mataram berdiri. Sunan Kalijaga adalah wali yang sangat peduli atas nasib para penguasa di tanah Jawa. Sejak berdirinya kerajaan Demak dilanjutkan Pajang sampai akhirnya Mataram muncul, sunan Kalijaga selalu njangkungi, memantau para raja-raja tersebut. Oleh karena itu Sunan Kalijaga juga sering dipanggil sebagai Syaikh Jangkung. Mrih (agar) pana (mengetahui) pranaweng ( pranawa ing, terang, jelas) kapti (kehendak). Agar mengetahui dengan jelas yang dikehendaki (hati). Bahwa seseorang itu terdinding dengan hatinya. Apa keinginan hatinya sendiri seringkali tidak disadari. Oleh karena itu perlu terus mengasah akal budi agar nalar kita peka terhadap kehendak hati. Tis tising (yang dituju, maksud) tyas (hati) marsudi (berusaha sungguh). Mardawaning (kelembutan) budya (budi, pikiran) tulus (tulus). Maksud hati mencapai kelembutan budi yang tulus. Jika kita bersungguh-sungguh melatih diri dengan berguru dan menjalani berbagai laku maka akan tercapai kelembutan hati, setulus-tulusnya. Sehingga apa yang tersembunyi dari kehendak hati menjadi terang. Mesu (berusaha keras, memaksa diri agar mampu) reh (segala hal) kasudarman (tentang kebajikan). Darma adalah perbuatan yang dilakukan untuk orang lain atau disebut kebajikan, kasudarman bermakna segala sesuatu tentang kebajikan. Berusaha keras untuk mempelajari ilmu tentang kebajikan. Karena kebajikan bukan teori semata-mata, maka memperlajari ilmu kebajikan adalah sebuah tindakan praktik, atau disebut laku. Di awal-awal telah saya singgung tentang suluk. Nanti akan bertemu tentang bait bahwa ilmu adalah laku. Neng (di) tepining (tepinya) jalanidhi (samudra). Di tepi samudra. Ini adalah tempat yang sering dipakai oleh Panembahan Senopati untuk menyepi. Di tempat inilah Sunan Kalijaga pernah hadir memberi wejangan kepada Senopati bagaimana harus menjadi raja yang baik. Sruning (karena kerasnya) brata (bertapa) kataman (mendapat) wahyu (anugrah) dyatmika (halus, kerohanian, Ilahiah). Karena kerasnya bertapa sehingga mendapat anugrah Ilahi. Wahyu dalam konsep budaya jawa adalah anugrah Ilahi yang berupa pencerahan atau penyingkapan sehingga yang menerima wahyu menjadi naik derajat spiritualnya. Dalam kisah klasik semisal pewayangan wahyu dipersonakan sebagai senjata yang ampuh sehingga dapat dipakai untuk mencapai tujuan tertentu, misal menjadi raja. Tentu saja ini hanya kiasan saja agar penonton lebih mudah dalam memahami.  

Rabu, 19 September 2018

Ngaji sastra Wulangreh

 Serat Wulangreh karya besar Sri Susuhunan Pakubua IV yang sangat populer di kalangan masyarakat Jawa sejak dulu hinga sekarang, digunakan oleh orang Jawa sebagai pedoman hidup yang adiluhung karena di dalamnya terdapat nilai-nilai yang arif dan dapat dijadikan panutan hidup masyarakat. Serat Wulangreh yang konon sebagai lambang status kebangsawanan Jawa, kini dihadapkan pada budaya alternatif (budaya massa) sebagai salah satu alternatif pelestarian. Serat Wulangreh yang konon merupakan tembang yang digunakan sebagai wejangan (pengingat) dan pituduh (petunjuk), kini Sera t Wulangreh hanya lantunan lagu yang sudah tidak dikenal lagi oleh masyarakat banyak. Serat Wulangreh, bagi masyarakat Jawa tentu memiliki arti tersendiri, bukan saja tentang nada ataupun makna, tetapi juga pengaruh yang dimunculkan oleh Serat Wulangreh, sejarah dan filosofi yang sarat makna, bahkan telah menjadi semacam Filosofi Hidup. Serat Wulangreh, pada zaman dahulu telah menjadi suatu tembang yang menarik untuk didengarkan sebagai tuntunan akhlak Jawa (unggah-ungguh), dipandang sebagai suatu bentuk karya seni dan spiritual yang sangat indah untuk diperbincangkan dari berbagai aspek. Bukan saja pada aspek lirik maupun makna, tetapi juga aspek sejarah dan evolusi perkembangannya. Sebut saja, beberapa jenis tembang yang ada dalam SeratWulangreh seperti Pucung, Sinom, pangkur, dhandanggula, gambuh, maskumambang, durma, wirangrong, mijil, girisa, megatruh, kinanti, dan asmarandana yang sampai sekarang masih dikenal oleh sebagian masyarakat kecil walaupun hanya sebatas syair (dolanan) mainan saja. Serat Wulangreh adalah senjata sekaligus karya seni yang bernilai tinggi. Nilainya terletak pada keindahan syair dan makna yang terkandung dalam syair tembang, bahkan proses pembuatannya yang memerlukan waktu yang lama dan pemikiran yang sangat dalam serta ketekunan dan ketrampilan yang khusus. Orang yang memiliki cita rasa (taste) seni tinggi niscaya mengagumi Serat Wulangreh sebagai seni budaya yang berharga. sebagai seni budaya, Serat Wulangreh lazim digandrungi seluruh masyarakat Jawa. Seiring berjalannya waktu, budaya Serat Wulangreh kemudian menyebar keseluruhan Jawa khususnya Jawa Tengah dan Jawa Timur. Serat Wulangreh termasuk jenis tembang Jawa, namun tidak semua tembang Jawa adalah Serat Wulangreh. Setting Keraton Surakarta didirikan oleh Sunan Pakubuana II (1725-1749) pada tahun 1745 sebagai penganti Keraton Surakarta yang rusak parah akibat seranganpara pemberontak (geger pecinan ), yaitu pertempuran antara Cina dengan VOC yang meletus di Batavia dan merambah ke Jawa termasuk Kartasura, sehinga pertempuran itu memaksa Keraton Kartasura untuk pindah. Ahirnya para petinggi keraton pun sepakat untuk mencari lokasi pengganti keraton Kartasura yang telah rusak, diantara petinggi-petinggi keraton itu ialah Patih llebet Adipati Sindurejo,patih Jawi Adipati Pringgoloyo, dan beberapa wakil bari belanda. Dari pencarian lokasi itu ahirnya mendapatkan tiga tempat yang di angap cocok, antaranya; desa Kalipada desa Sanasewu dan desa Sala, dari ketiga desa itu di seleksi lagi oleh pihak keraton, berdasarkan penilaian megis dan mistis serta tata letak desa secara geografis, maka desa sala yang di jadikan tempat berdirinya Keraton sebagai penganti Keraton yang telah hancur. Maka setelah berdiri Keraton baru di Sala maka munculah perjanjian Gayatri yang di tandatangani pada tahun 1755 yang melibatkan tiga komponen, yaitu pihak VOC, pihak Pakubuana III, dan pihak Mangkuubumi atau yang di kenal dengan peristiwa Paliyan Nagari. Dalam perjanjian Gayatri tanggal 13 Februari 1755 berisi tentang bembagian wilayah, yakni kekuasaan wilayah Mataram di bagi menjadi dua yang sama besarnya yaitu antara kekuasaan Kasununan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta, yang masing-masing bebas dalam kewenangan pemerintahan dan penyelengaraan kebudayaan Jawa. Akan tetepai seiring berjalanya waktu Keraton Surakarta harus kehilangan sebagian wilayahnya sebesar 4000 karya, pada tangga 17 Maret 1757 untuk diberikan kepada Raden mas Said (KGPPA Mangkunegaran I) atas kesediaanya mengahiri perlawananya terhadap Kasunanan Surakarta. Tidak hanya sebatas itu pergolakan kekuasaan di Kerajaan-kerajaan Jawa yang melibatkan Kasununan Surakarta, akan tetapi pergolakan itu terus bermunculan, berganti dan berubah-ubah hingga masa kepemimpinan Sri Susuhunan Pakubuana IV pada tahun 1788-1820 M yang mengantikan kepemimpinan Sunan Pakubuana III. Pada masa kepemimpinan Sri Susuhunsn Pakubuana IV inilah Kasunanan Surakarta bisa di katakan keadaanaya berubah drastis mulai dari tradisi, kebiasaan, pola hidup, serta keadaan yang ada di Surakarta, hal ini di karenakan nuansa keagamaan (religius) pada masa kepemimpinan Pakubuana IV sangat menonjol, seperti halnya pakaian, kebiasaan, serta bangunan-banguna di sekitar wilayah Keraton Surakarta mulai berubah. Bahkan Pakubuana telah mendirikan Masjid di Kasununun Surakarta dan mengajarkan nilai-nilai luhur agama, sosial, budaya, budi pekerti serta moral dan prilaku yang baik melalui sastra-sastra jawa yang indah dan njawani sesuai dengan prilaku wong jowo. Sosok Dalam suasana setting sosial yang semacam itu Sunan Pakubuwana IV menggubah Serat Wulangreh. Sri Susuhunan Paku Buwana IV lebih dikenal dengan sebutan Sunan Bagus, yang mewarisi darah kaprabon dan kapujanggan ramandanya. Mendapat gelar demikian karena memang memiliki wajah yang sangat tampan. Dalam usia yang masih muda, Sunan Bagus naik tahta menggantikan ayahandanya Pakubuwana III. Sunan Bagus atau Pakubuwana IV memegang kekuasaan pemerintahan Kraton Surakarta Hadiningrat sejak tahun 1788 sampai dengan 1820 M. Nama kecil Paku Buwana IV adalah Bendara Raden Mas Sambadya. Beliau lahir dari permaisuri Sunan Paku Buwana III yang bernama Gusti Ratu Kencana, pada hari Kamis Wage, 18 Rabiul Akhir 1694 Saka atau 2 September 1768 Masehi. Memegang pemerintahan selama 32 tahun (1788-1820), dan wafat pada hari Senin Pahing, 25 Besar 1747 Saka atau 2 Oktober 1820 M. Kontemplasi Dalam Serat Wulangreh terdapat beberapa jenis tembang dan di setiap tembang terdapat beberapa bait syair, di setiap tembang dan syair mempunyai makna yang berbeda-beda. Maka dalam kesempatan ini penulis ingin menyelami makna yang terkandung didalam Serat Wulangreh karya Sri Susuhunan Paku Buana IV pada umumnya dan unsur-unsur Islam dalam Tembang Dhandangula pada khususnya. Serat Wulangreh merupakan tembang klasik asli Jawa, yang pertama kali muncul pada awal Kraton Surakarta dibawah kekuasaan Sri Susuhunan Paku Buana IV, dimana Sri Susuhunan Paku Buana IV pada saat itu ingin mengingatkan dan mengenalkan Islam melalui budaya. Diantaranya adalah melalui syair tembang yang di tulis dalam Serat Wulangreh yang di ciptakanya. Berdasarkan jenis dan urutannya Serat Wulangreh ini sebenarnya menggambarkan perjalanan hidup manusia, yaitu tahap-tahap kehidupan manusia yang di mulai alam ruh (di dalam kandungan Ibu) sampai dengan meninggal. Serat Wulangreh disusun menggunakan tembang-tembang Jawa, yang jumlahnya mencapai 283 bait. Diantaranya 8 (delapan) bait sekar Dhandanggulo,16 (enam belas) bait sekar Kinanti,17 (tujuh belas) bait sekar Gambuh, 17 (tujuh belas) bait sekar Pangkur, 34 (tiga puluh empat) bait sekar Maskumambang, 17 (Tujuh belas) bait sekar Megatruh, 12 (Sebelas) bait sekar Durma, 27 ( Dua puluh tujuh) bait sekar Wirangrong, 23 (dua puluh tiga) bait sekar pucung, 26 (dua puluh enam) sekar Mijil, 28 (dua puluh delapan) bait sekar Asmarandana, 33(tiga puluh tiga) bait sekar Sinom, 25 (dua puluh lima) bait sekar Grisa Masing-masing tembang mempunyai makna, sifat atau watak sesuai dengan penggunaan dan kepentingannya. Oleh karena itu pemaparan atau penggambaran sesuatu hal biasanya diselaraskan dengan sifat /watak tembangnya. Serat Wulangreh mempunyai perbedaan dengan serat piwulang karya pujanga lainya karena Serat Wulangreh mempunyai kecenderungan ajaran mistik, religius serta miitik berat kan pada ajaran moral serta etika untuk memperbaiki prilaku hidup sesuai dengan ajaran agama Islam.