Minggu, 25 November 2018

Selasa, 20 November 2018

Mengenal Ken Arok

Naskahkuno KITAB PARA DATU ATAU KISAH KEN ANGROK. Tuhan, Pencipta, Pelindung dan Pengakhir Alam, Semoga tak ada halangan, Sudjudku sesempurna sempurnanya. I. Demikian inilah kisah Ken Angrok. Asal mulanja, ia didjadikan manusia: Adalah seorang anak janda di Jiput, bertingkah laku tak baik, memutus - mutus tali kekang kesusilaan, menjadi gangguan Hyang yang bersifat gaib; pergilah ia dari Jiput, mengungsi ke daerah Bulalak. Nama yang dipertuan di Bulalak itu: Mpu Tapawangkeng, ia sedang membuat pintu gerbang asramanya, dimintai seekor kambing merah jantan oleh roh pintu. Kata Tapawangkèng: "Tak akan berhasil berpusing kepala, akhirnya ini akan menjebabkan diriku jatuh kedalam dosa, kalau sampai terjadi aku membunuh manusia, tak akan ada yang dapat menyelesaikan permintaan korban kambing merah itu." Kemudian orang yang memutus mutus tali kekang kesusilaan tadi berkata, sanggup mejadi korban pintu Mpu Tapawangkeng, sungguh ia bersedia dijadikan korban, agar ini dapat menjadi lantaran untuk dapat kembali ke surga dewa Wisnu dan menjelma lagi didalam kelahiran mulia, ke alam tengah lagi, demikianlah permintaannya. Demikianlah ketika ia direstui oleh Mpu Tapawangkeng, agar dapat menjelma, disetujui inti sari kematiannya, akan menikmati tujuh daerah. Sesudah mati, maka ia dijadikan korban oleh Mpu Tapawangkeng. Selesai itu, ia terbang ke surga Wisnu, dan tidak bolak inti perjanjian yang dijadikan korban, ia meminta untuk dijelmakan di sebelah timur Kawi. Dewa Brahma melihat lihat siapa akan dijadikan temanya bersepasang. Sesudah demikian itu, adalah mempelai baru, sedang cinta mencintai, yang laki laki bernama Gajahpara, yang perempuan bernama Ken Endok, mereka ini bercocok tanam. Ken Endok pergi ke sawah, mengirim suaminya, yalah: si Gadjahpara; nama sawah tempat ia: mengirim : Ayuga; desa Ken Endok bernama Pangkur. Dewa Brahma turun kesitu, bertemu dengan Ken Endok, pertemuan mereka kedua ini terdjadi di ladang Lalaten; dewa Brahma mengenakan perjanjian kepada isteri itu: "Jangan kamu bertemu dengan lakimu lagi, kalau kamu bertemu dengan suamimu, ia akan mati, lagi pula akan tercampur anakku itu, nama anakku itu: Ken Angrok, dialah yang kelak akan memerintah tanah Jawa". Dewa Brahma lalu menghilang. Ken Endok lalu ke sawah, berjumpa dengan Gajahpara. Kata Ken Endok: "Kakak Gajahpara, hendaknyalah maklumi, saya ditemani didalam pertemuan oleh Hyang yang tidak tampak di ladang Lalateng, pesan beliau kepadaku: jangan tidur dengan lakimu lagi, akan matilah lakimu, kalau ia memaksa tidur dengan kamu, dan akan tercampurlah anakku itu. Lalu pulanglah Gajahpara, sesampainya di rumah Ken Endok diajak tidur, akan ditemani didalam pertemuan lagi. Ken Endok segan terhadap Gajahpara. "Wahai, kakak Gajahpara putuslah perkawinanku dengan kakak, saya takut kepada perkataan Sang Hyang. Ia tidak mengijinkan aku berkumpul dengan kakak lagi." Kata Gadjahpara: "Adik, bagaimana ini, apa yang harus kuperbuat, nah tak berkeberatan saya, kalau saya harus bercerai dengan kamu; adapun harta benda pembawaanmu kembali kepadamu lagi, adik, harta benda milikku kembali pula kepadaku lagi". Sesudah itu Ken Endok pulang ke Pangkur di seberang utara, dan Gajahpara tetap bertempat tinggal di Campara di seberang selatan. Belum genap sepekan kemudian matilah Gajahpara. Kata orang yang mempercakapkan: "Luar biasa panas anak didalam kandungan itu, belum seberapa lama perceraian orang tua laki laki perempuan sudah diikuti, orang tua laki laki segera meninggal dunia". Akhirnja sesudah genap bulannya, lahirlah seorang anak laki-laki, dibuang di kuburan kanak kanak oleh Ken Endok. Selanjutnya ada seorang pencuri, bernama Lembong, tersesat di kuburan anak anak itu, melihat benda bernyala, didatangi oleh Lembong, mendengar anak menangis, setelah didekati oleh Lembong itu, nyatalah yang menyala itu anak yang menangis tadi, diambil diambin dan dibawa pulang diaku anak oleh Lembong. Ken Endok mendengar, bahwa Lembong memungut seorang anak, teman Lembonglah yang memberitakan itu dengan menyebut nyebut anak, yang didapatinya di kuburan kanak kanak, tampak bernyala pada waktu malam hari. Lalu Ken Endok datang kepadanya, sungguhlah itu anaknya sendiri. Kata Ken Endok: "Kakak Lembong, kiranya tuan tidak tahu tentang anak yang tuan dapat itu, itu adalah anak saya, kakak, jika kakak ingin tahu riwayatnya, demikianlah: Dewa Brahma bertemu dengan saya, jangan tuan tidak memuliakan anak itu, karena dapat diumpamakan, anak itu beribu dua berayah satu, demikian persamaannya." Lembong beserta keluarganya semakin cinta dan senang, lambat laun anak itu akhirnya menjadi besar, dibawa pergi mencuri oleh Lembong. Setelah mencapai usia sebaya dengan anak gembala, Ken Angrok bertempat tinggal di Pangkur. Habislah harta benda Ken Endok dan harta benda Lembong, habis dibuat taruhan oleh Ken Angrok. Kemudian ia menjadi anak gembala pada yang dipertuan di Lebak, menggembalakan sepasang kerbau, lama kelamaan kerbau yang digembalakan itu hilang, kerbau sepasang diberi harga delapan ribu oleh yang dipertuan di Lebak, Ken Angrok sekarang dimarahi oleh orang tua laki laki dan perempuan, kedua duanya: "Nah buyung, kami berdua mau menjadi hamba tanggungan, asal kamu tidak pergi saja, kami sajalah yang akan menjalani, menjadi budak tanggungan pada yang dipertuan di Lebak". Akhirnya tidak dihiraukan, Ken Angrok pergi, kedua orang tuanya ditinggalkan di Campara dan di Pangkur. Lalu Ken Angrok pergi mencari perlindungan di Kapundungan; Orang yang diungsi dan dimintai tempat berlindung tak menaruh belas kasihan. Ada seorang penjudi permainan Saji berasal dari Karuman, bernama Bango Samparan, kalah bertaruhan dengan seorang bandar judi di Karuman, ditagih tak dapat membayar uang, Bango Samparan itu pergi dari Karuman, berjiarah ke tempat keramat Rabut Jalu, mendengar kata dari angkasa, disuruh pulang ke Karuman lagi. "Kami mempunyai anak yang akan dapat menyelesaikan hutangmu ia bernama Ken Angrok." Pergilah Bango Samparan dari Rabut Jalu, berjalan pada waktu malam, akhirnya menjumpai seorang anak, dicocokkan oleh Bango Samparan dengan petunjuk Hyang, sungguhlah itu Ken Angrok, dibawa puIang ke Karuman, diaku anak oleh Bango Samparan. Dia itu lalu ketempat berjudi, bandar judi ditemui oleh Bango Samparan dilawan berjudi, kalahlah bandar itu, kembali kekalahan Bango Samparan, memang betul petunjuk Hyang itu, Bango Samparan pulang, Ken Angrok dibawa pulang oleh Bango Samparan. Bango Samparan berbayuh dua orang bersaudara, Genuk Buntu nama istri tuanja. dan Tirtaya nama isteri mudanja. Adapun nama anak anaknya dari isteri muda, yalah Panji Bawuk, anak tengah Panji Kuncang, adiknya ini Panji Kunal dan Panji Kenengkung, bungsu seorang anak perempuan bernama Cucu Puranti. Ken Angrok diambil anak oleh Genuk Buntu. Lama ia berada di Karuman, tidak dapat sehati dengan semua para Panji itu, Ken Angrok berkehendak pergi dari Karuman. Lalu ia ke Kapundungan bertermu dengan seorang anak gembala anak tuwan Sahaja, kepala desa tertua di Sagenggeng, bernama Tuwan Tita; ia bersahabat karib dengan Ken Angrok. Tuwan Tita dan Ken Angrok sangat cinta mencinta, selanjutnya Ken Angrok bertermpat tinggal pada Tuwan Sahaja, tak pernah berpisahlah Ken Angrok dan Tuwan Sahaja itu, mereka ingin tahu tentang bentuk huruf huruf, pergilah ke seorang guru di Sagenggeng, sangat ingin menjadi murid, minta diajar sastera. Mereka diberi pelajaran tentang bentuk bentuk bentuk dan penggunaan pengetahuan tentang huruf huruf hidup dan huruf huruf mati, semua perobahan huruf, juga diajar tentang sengkalan, perincian hari tengah bulan, bulan, tahun Saka, hari enam, hari lima, hari tujuh, hari tiga, hari dua, hari sembilan, nama nama minggu. Ken Angrok dan Tuwan Tita kedua duanya pandai diajar pengetahuan oleh Guru. Ada tanaman guru, menjadi hiasan halaman, berupa pohon jambu, yang ditanamnya sendiri. Buahnya sangat lebat, sungguh padat karena sedang musimnya, dijaga baik tak ada yang diijinkan memetik, tak ada yang berani mengambil buah jambu itu. Kata guru: "Jika sudah masak jambu itu, petiklah". Ken Angrok sangat ingin, melihat buah jambu itu, sangat dikenang kenangkan buah jambu tadi. Setelah malam tiba waktu orang tidur sedang nyenyak nyenyaknya, Ken Angrok tidur, kini keluarlah kelelawar dari ubun ubun Ken Angrok, berbondong bondong tak ada putusnya, semalam malaman makan buah jambu sang guru. Pada waktu paginya buah jambu tampak berserak serak di halaman, diambil oleh pengiring guru. Ketika guru melihat buah jambu rusak berserakan di halaman itu, maka rnendjadi susah. Kata guru kepada murid murid: "Apakah sebabnya maka jambu itu rusak." Menjawablah pengiring guru: "Tuanku rusaklah itu, karena bekas kelelawar makan jambu itu". Kemudian guru mengambil duri rotan untuk mengurung jambunya dan dijaga semalam malaman. Ken Angrok tidur lagi diatas balai balai sebelah selatan, dekat tempat daun ilalang kering, di tempat ini guru biasanya menganyam atap. Menurut penglihatan, guru melihat kelelawar penuh sesak berbondong bondong, keluar dari ubun ubun Ken Angrok, semuanya makan buah jambu guru, bingunglah hati guru itu, merasa tak berdaya mengusir kelelawar yang banyak dan memakan jambunya, marahlah guru itu, Ken Angrok diusir oleh guru, kira kira pada waktu tengah malam guru rnengusirnya. Ken Angrok terperanjat, bangun terhuyung huyung, lalu keluar, pergi tidur di tempat ilalang di luar. Ketika guru menengoknya keluar, ia melihat ada benda menyala di tengah ilalang, guru terperanjat mengira kebakaran, setelah diperiksa yang tampak menyala itu adalah Ken Angrok, ia disuruh bangun, dan pulang, diajak tidur di dalam rumah lagi, menurutlah Ken Angrok pergi tidur di ruang tengah lagi. Pagi paginya ia disuruh mengambil buah jambu oleh guru, Ken Angrok senang. katanya : "Aku mengharap semoga aku menjadi orang, aku akan membalas budi kepada guru." Lama kelamaan Ken Angrok telah menjadi dewasa, menggembala dengan Tuwan Tita, membuat pondok, bertempat di sebelah timur Sagenggeng, di ladang Sanja, dijadikan tempatnya untuk menghadang orang yang lalu lintas di jalan, dengan Tuwan Titalah temannya. Adalah seorang penyadap enau di hutan orang Kapundungan, mempunyai seorang anak perempuan cantik, ikut serta pergi ke hutan, dipegang oleh Ken Angrok, ditemani didalam pertemuan didalam hutan, hutan itu bernama Adiyuga. Makin lama makin berbuat rusuhlah Ken Angrok, kemudian ia memperkosa orang yang melalui jalan, hal ini diberitakan sampai di negara Daha, bahwasanya Ken Angrok berbuat rusuh itu, maka ia ditindak untuk dilenyapkan oleh penguasa daerah yang berpangkat akuwu, bernama Tunggul Ametung. Pergilah Ken Angrok dari Sagenggêng, mengungsi ke tempat keramat. Rabut Gorontol. "Semoga tergenang didalam air, orang yang akan melenyapkan saya" kutuk Ken Angrok, semoga keluar air dan tidak ada, sehingga terdjadilah tahun tak ada kesukaran di Jawa." Ia pergi dari Rabut Gorontol, mengungsi ke Wayang, ladang di Sukamanggala. Ada seorang pemikat burung pitpit, ia memperkosa orang yang sedang rnemanggil manggil burung itu, lalu menuju ke tempat keramat Rabut Katu. Ia heran, melihat tumbuh tumbuhan katu sebesar beringin, dari situ lari mengungsi ke Jun Watu, daerah orang sempurna, mengungsi ke Lulumbang, bertempat tinggal pada penduduk desa, keturunan golongan tentara, bernana Gagak Uget. Lamalah ia bertempat tinggal disitu, memerkosa orang yang sedang rnelalui jalan. Ia lalu pergi ke Kapundungan, mencuri di Pamalantenan, ketahuanlah ia, dikejar dikepung, tak tahu kemana ia akan mengungsi, ia memanjat pohon tal, di tepi sungai, setelah siang, diketahui, bahwasanya ia memanjat pohon tal itu, ditunggu orang Kepundungan dibawah, sambil dipukulkan canang, Pohon tal itu ditebang oleh orang-orang yang mengejarnya. Sekarang hi menangis, menyebut nyebut Sang Pentjipta Kebaikan atas dirinya, akhirnya ia mendengar sabda dari angkasa, ia disuruh memotong daun tal, untuk didjadikan sayapnya kiri kanan, agar supaya dapat melayang ke seberang timur, mustahil ia akan mati, lalu ia memotong daun tal mendapat dua helai, dijadikan sayapnya kiri kanan, ia melayang keseberang timur, dan mengungsi ke Nagamasa, diikuti dikejar, mengungsilah ia kedaerah Oran masih juga dikejar diburu, lari mengungsi ke daerah Kapundungan, yang dipertuan di daerah Kapundungan didapatinya sedang bertanam, Ken Angrok ditutupi dengan cara diaku anak oleh yang dipertuan itu. Anak yang dipertuan di daerah itu sedang bertanam, banyaknya enam orang, kebetulan yang seoarang sedang pergi mengeringkan empangan, tinggal 1ima orang; yang sedang pergi itu diganti menanam oleh ken Angrok, datanglah yang mengejarnya, seraya berkata kepada penguasa daerah: "Wahai, tuan kepala daerah, ada seorang perusuh yang kami kejar, tadi mengungsi kemari." meanjawablah penguasa daerah itu: "Tuan tuan, kami tidak sungguh bohong kami tuan, ia tidak disini; anak kami enam orang, yang sedang bertanam ini genap enam orang, hitunglah sendiri saja, jika lebih dari enam orang tentu ada orang lain disini" Kata orang-orang yang mengejar: "Memang sungguh, anak penguasa daerah enam orang, betul juga yang bertanam itu ada enam orang." Segera pergilah yang mengejar. Kata penguasa daerah kepada ken Angrok: "Pergilah kamu, buyung, jangan jangan kembali yang mengejar kamu, kalau kalau ada yang membicarakan kata kataku tadi, akan sia sia kamu berlindung kepadaku, pergilah mengungsi ke hutan". Maka kata ken Angrok: "Semoga berhenti lagilah yang mengejar, itulah sebabnya maka Ken Angrok bersembunyi di dalam hutan, Patangtangan nama hutan itu. Selanjutnya ia mengungsi ke Ano, pergi ke hutan Terwag. ia semakin merusuh. Adalah seorang kepala lingkungan daerah Luki akan melakukan pekerjaan membajak tanah, berangkatlah ia membajak ladang, mempesiapkan. tanahnya untuk ditanami kacang, membawa nasi untuk anak yang menggembalakan lembu kepala Lingkungan itu, dimasukkin kedalam tabung bambu, diletakkan diatas onggokan; sangat asyiklah kepala Lingkungan itu, selalu membajak ladang kacang saja, maka dirunduk diambil dan dicari nasinya oleh Ken Angrok, tiap tiap hari terdjadi demikian itu, kepala Lingkungan bingunglah, karena tiap tiap hari kehilangan nasi untuk anak gembalanya, kata kepala Lingkungan: "Apakah sebabnya maka nasi itu hilang".

Senin, 12 November 2018

Dumadya Angratoni

Kajian Wedatama (18): Dumadya Angratoni Bait ini menceritakan hubungan antara Panembahan Senopati dan Ratu Kidul. Jauh dari kesan bahwa Ratu Kidul adalah penguasa alam ghaib yang juga berkuasa atas nasib manusia, di dalam bait ini justru dikisahkan bahwa Ratu Kidul tunduk di bawah wibawa Raja Mataram. Selengkapnya bait ke-18, Pupuh Sinom dari Serat Wedatama adalah sebagai berikut. Wikan wengkoning samudra, kederan wus den ideri. Kinemat kamot ing driya. Rinegan sagegem dadi, dumadya angratoni. Nenggih kanjeng ratu kidul, ndedel nggayuh nggegana. Umara marak maripih. Sor prabawa lan wong agung Ngeksiganda. Terjemahan dalam Bahasa Indonesia: Mengetahui luasnya wilayah samudera, Seluruhnya sudah dilalui, Dirasakan dan diresapi dalam sanubari. Dimuat dalam genggaman, jadilah (laut itu) dikuasai. Tersebutlah kanjeng Ratu Kidul, melesat menggapai angkasa. Datang menghadap dengan hormat. Kalah wibawa dengan orang besar dari Mataram. Kajian per kata: Wikan (tahu, mengetahui) wengkoning (keliling wilayah) samudra (samudera), kederan (kelilingnya) wus (sudah) den (di) ideri (dilewati dengan tuntas). Mengetahui luasnya wilayah samudera, sudah tuntas dikelilingi seluruh wilayahnya. Ini berkaitan dengan tempat bertapa Panembahan Senopati yang berada di pinggir laut. Bahwa beliau sudah mengetahui wilayah luasnya samudera karena sudah berkeliling sampai tuntas, tak ada sejengkal pun yang terlewati. Sekeliling samudera sudah dijelajahi. Kinemat (dirasakan sungguh-sungguh) kamot (dimuat ) ing (di dalam) driya (hati). Sudah dikuasai isinya, dimasukkan dalam hati. Ini berkaitan dengan potensi lautan tersebut. Hal apa saja yang dapat dilakukan di lautan tersebut. Apakah dibudidayakan potensi penghasil ikannya, atau dikembangkan potensi lainnya. Rinegan (dinilai, dikerta aji) sagegem (satu genggaman) dadi (muat), dumadya (jadilah) angratoni (menjadi ratu/raja). Ditaksir muat dalam genggaman, jadilah laut itu dengan segala isinya dapat dikuasai. Setelah dinilai, disurvey dengan berkeliling tadi, maka digenggamlah, artinya siap dieksplorasi. Sudah disiapkan rencana eksekusi untuk menggali potensi kelautan tersebut. Angratoni berarti menjadi raja di laut itu. Dalam bahasa jawa ratu bisa bersinonim dengan kata raja, tidak terkait dengan gender. Contohnya pada paribasan, adoh ratu cedhak watu, yang bermakna jauh dari raja dekat dengan batu, kiasan untuk orang di pedalaman yang tidak mengenal etika kenegaraan. Nenggih (tersebutlah) kanjeng (yang berdiri) ratu kidul (sebagai ratu di selatan), ndedel (melesat) nggayuh (mencapai) nggegana (mengangkasa, mengudara). Tersebutlah yang berdiri sebagai ratu di selatan (Ratu Kidul), melesat menggapai angkasa. Ini merujuk ke tokoh ghaib yang dipercaya menguasai laut selatan dan sering dipanggil sebagai Ratu Kidul. Tersebutlah ratu Kidul, yang berada di dalam laut selatan, Samudera Indonesia. Dari tempatnya di dalam lautan, melesat menggapai angkasa di atas permukaan laut, setelah melihat sepak terjang Panembahan Senopati tersebut. Umara (datang) marak (menghadap) maripih (dengan hormat). Datang menghadap dengan sikap hormat. Maripih adalah sikap hormat, gestur menghormati, sebagai pertanda bahwa yang dihadapi adalah orang besar yang berwibawa. Jadi gatra ini menunjukkan bahwa Ratu Kidul datang menghormati Panembahan Senopati. Sor (lebih rendah) prabawa (wibawa) lan (dengan) wong (orang) agung (besar) Ngeksiganda (Mataram). Kalah wibawa dengan orang besar dari Mataram. Mengapa Ratu Kidul mendatangi? Karena memang kalah wibawa, merasa dirinya lebih rendah derajatnya dibanding orang besar dari Mataram itu. Bait ke-18 ini meluruskan mitos yang selama ini beredar bahwa Panembahan Senopati bertapa di pinggir Samudera adalah untuk minta restu pada Ratu Kidul agar didukung menjadi raja. Yang benar menurut bait di atas adalah memang Ratu Kidul yang datang karena kewibawaan Senopati yang derajat spiritualnya sudah melampaui Ratu Kidul sendiri. Catatan tambahan: Bahwa cerita tentang Ratu Kidul ini sudah beredar di kalangan masyarakat sampai ke lapisan bawah. Sebagian orang memang menganggap Ratu Kidul sedemikian berkuasa sehingga mampu mengubah nasib seseorang. Sebagian lagi menganggap Ratu Kidul adalah mitos yang sengaja dihembuskan agar Panembahan Senopati mendapat legitimasi spiritual untuk menjadi raja Mataram. Pendapat yang masuk akal adalah pendapat terakhir, dari seorang pakar filsafat asal Jogja. Bahwa cerita tentang Ratu Kidul adalah simbolisme menyatunya Raja Mataram dengan alam. Kelak ada cerita bahwa raja-raja Mataram harus menikahi Ratu Kidul. Ini juga simbolisme bahwa penguasaan Mataram terhadap alam khususnya bumi tidak boleh eksploitatif, tetapi relasinya harus mirip orang menikah, mengasihi (alam) dan memberdayakan(nya). Saya cukupkan tambahan keterangan ini, kelak semoga dapat mengkaji lebih jauh. Karena pokok bahasan kita kali ini hanya soal makna gramatikal Werat Wedatama, tak bijak jika melebar ke mana-mana. Kajian Wedatama (19): Teken Janggut Suku Jaja Bait ke-19, Serat Wedatama, Pupuh Sinom. Dhahat denira aminta Sinupeket pangkat kanthi, Jroning alam palimunan, Ing pasaban saben sepi, Sumanggen anyanggemi, Ing karsa kang wus tinamtu, Pamrihe amung aminta, Supangate teki teki, Nora ketang teken janggut suku jaja. Terjemahan dalam Bahasa Indonesia: Dengan sangat dirinya meminta, Agar akrab didudukkan sebagai pengikut, Di dalam alam ghaib, Di kala mengembara di alam sepi, Siap menyanggupi, Kehendak yang sudah ditentukan, Harapannya hanya meminta Restu dalam bertapa, Walau harus bersusah payah jalannya. Kajian per kata: Dhahat (Betul-betul, dengan sangat) denira (dirinya) aminta (meminta), sinupeket (didekatkan menjadi lengket, akrab) pangkat (kedudukan, diberi pangkat, diikutkan) kanthi (dengan).Ratu Kidul meminta dengan sangat, didekatkan agar akrab dengan diberi kedudukan Karena sudah kalah wibawa dengan Panembahan Senopati, Ratu Kidul datang menghadap dengan hormat dan meminta dengan sangat agar diberi kedudukan sebagai pengikut, tak lain agar dapat membantu sesuai dengan kemampuannya. Jroning (di dalam) alam (alam) palimunan (tak kasat mata,ghaib), ing (di) pasaban (pengembaraan) saben (setiap waktu, setiap tempat) sepi (sepi). Di alam tak kasat mata, alam ghaib, dalam pengembaraan di alam sepi. Yakni, sebagai penghuni yang berkuasa di alam ghaib, dikala mengembara di alam sepi. Maksud dari gatra ini adalah apabila Panembahan Senopati berkelana di alam sepi, maka sudah ada pengikutnya yang akan setia menemani, yakni Ratu Kidul. Sumanggen (bersedia) anyanggemi (menyanggupkan diri). Ing (pada) karsa (kehendak) kang (yang) wus (sudah) tinamtu (ditentukan). Bersedia, menyanggupkan diri menerima perintah, pada kehendak (sang raja) yang telah ditentukan. Ratu Kidul bersedia, menyanggupkan diri pada semua kehendak dan perintah sang raja yang telah ditentukan baginya. Dia takkan membantah atau mengabaikan perintah itu. Pamrihe (Yang diharapkan) amung (hanya) aminta (meminta), supangate (restu, perkenan) teki teki (bertapa). Yang diharapkan hanya diijinkan meminta, restu dalam bertapa. Adapun alasan dari Ratu Kidul dalam menyanggupi tersebut adalah agar dia dijadikan sebagai pengikut dan direstui dalam bertapa. Sudah umum menjadi kepercayaan masyarakat Jawa bahwa Ratu Kidul adalah seorang bidadari yang tidak diterima naik ke kahyangan akibat telah berbuat salah. Oleh karena itu dia kemudian bertapa di laut selatan. Ketika melihat cara bertapa Panembahan Senopati, tampaknya dia terpesona dengan cara beliau bertapa. Demi agar pertapaannya berhasil Ratu Kidul hendak berguru atau mencontoh pertapaan sang raja. Inilah alasan dari ketundukan Ratu Kidul pada raja Mataram itu. Nora ketang (walau) teken (bertongkat) janggut (dagu) suku (kaki) jaja (dada). Walau bertongkat dagu berkaki dada. Ini adalah peribahasa Jawa, ateken janggut asuku jaja. Arti tekstualnya, memakai dagu sebagai tongkat dan memakai dada sebagai kaki dalam berjalan, merangkak atau ngesot. Maksudnya adalah usaha yang keras dan bersusah payah sampai batas kemampuan. Di sini Ratu Kidul menyatakan kesanggupan untuk menerima perintah dari raja Mataram agar mendapat restu dalam bertapa. Ratu Kidul hendak meneladani pertapaan raja Mataram itu, walau pertapaannya itu nanti akan sangat sulit baginya. Dia (Ratu Kidul) bertekad melaksanakannya walau dengan susah payah, ibarat bertongkat dadu berkaki dada. Kajian Wedatama (20): Teladan Abadi Bait ke-19, Pupuh Sinom, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV: Prajanjine abipraya, Saturun turuning wuri. Mangkono trahing ngawirya. Yen amasah mesu bedi, dumadya glis dumugi. Iya ing sakarsanipun, wong agung Ngeksiganda. Nugrahane prapteng mangkin, Trah tumerah dharahe padha wibawa. Terjemahan dalam Bahasa Indonesia: Perjanjian yang bertujuan baik. Sampai anak cucu di kemudian hari. Begitulah sikap keturunan orang luhur. Bila mempertajam hati, akhirnya segera kesampaian. Apa yag dimaksud, orang besar dari Mataram. Anugrahnya (lestari) sampai sekarang, seluruh keturunan berwibawa. Kajian per kata: Prajanjine (perjanjiannya) abipraya (rencana, tujuan). Perjanjiannya bertujuan baik. Tampaknya bait ini masih mengacu pada bait sebelumnya, tentang permintaan dari Ratu Kidul agar direkrut menjadi pengikut Senopati. Sungguh ini adalah sebuah ketegasan dan keteguhan mental yang luar biasa dari Panembahan Senopati. Bila ini terjadi pada orang lain mungkin akan menyerah pada pesona ratu lelembut itu. Tapi dengan tegas Panembahan Senopati mendudukkan Ratu Kidul hanya sebagai pengikut yang membantu cita-citanya memakmurkan kerajaan Mataram. Saturun (sampai turun) turuning (temurun) wuri (nanti). Sampai turun-temurun, ke anak- cucu di kemudian hari. Langkah yang diambil Senopati sangat menguntungkan bagi keturunannya di kemudian hari. Sikapnya akan menjadi preseden tentang bagaimana hubungan antara manusia dan alam tak kasat mata. Kelak ada cerita bahwa raja-raja sepeninggal Senopati akan mewarisi pernikahan dengan Ratu Kidul. Tentu ini adalah simbolisme dari kekalnya relasi yang telah dirintis oleh Panembahan Senopati. Mangkono (begitulah) trahing (keturunan) ngawirya (orang perwira, ksatria, luhur). Begitulah sikap keturunan orang luhur. Orang-orang yang berjiwa luhur meninggalkan keteladanan yang diwariskan kepada anak cucu, sehingga akan mudahlah bagi penerusnya nanti untuk melakukan hal yang sama. Sikap keperwiraan yang ditunjukkan akan menjadi teladan bagi anak cucu, sebagaimana Senopati juga hanya mewarisi sikap serupa dari para leluhurnya yang sudah terkenal keperwiraannya. Yen (kalau) amasah (mengasah) mesu (menajamkan) budi (akal budi), dumadya (yang diharap) glis (segera) dumugi (kesampaian). Bila berusaha mengasah ketajaman akal budi, kepekaan hat, yang diharap bisa segera kesampaian. Karena sudah ada teladan dari Panembahan Senopati itulah, anak cucunya nanti tidak akan bersusah payah dalam upaya mempertajam akal budi, melatih kepekaan hati melalui laku tirakat, menahan hawa nafsu, merenung di tempat sepi, dll. Yang demikian karena sudah ada teladan dari leluhur mereka. Iya (iya ini) ing sakarsanipun (yang dikehendaki), wong (orang) agung (besar) Ngeksiganda (Mataram). Yang demikian inilah yang dikehendai, orang besar dari Mataram. Apa yang dilakukan oleh Panembahan Senopati di atas, yang telah bersusah payah bertapa dan menahan hawa nafsu, serta tak tergoda pesona alam lelembut, itu semua demi agar anak cucu kelak mudah dalam menjalankan pemerintahan di Mataram. Itulah yang dikehendaki oleh orang besar dari Mataram itu. Nugrahane (anugrahnya) prapteng (datang) mangkin (hingga nanti). Anugrahnya masih lestari sampai sekarang. Usaha keras Panembahan Senopati buahnya masih berbekas sampai sekarang.Tak hilang sepeninggalnya, karena anak cucu meneruskan langkah-langkah bajiknya. Trah (keturunan) tumerah (semuanya) dharahe (darahnya) padha (semua) wibawa (berwibawa). Seluruh keturunannya berwibawa. Seluruh keturunan Panembahan Senopati membawa dharah orang besar, tak mengherankan jika sampai kini mereka semua menjadi orang yang berwibawa. Sebuah bibit unggul akan menumbuhkan pohon yang kuat dan elok. Kajian Wedatama (21): Tinelad Sakuwasane Bait ke-21, Pupuh Sinom, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV: Ambawani tanah Jawa, kang padha jumeneng aji. Satriya dibya sumbaga. Tan lyan trahing Senopati, Pan iku pantes ugi, tinelad labetanipun, ing sakuwasanira, Enake lan jaman mangkin, Sayektine tan bisa ngepleki kuna. Terjemahan Bahasa Indonesia: Menguasai tanah Jawa, yang menjadi raja. Satria sakti terkenal. Tidak lain keturunan Senopati. Hal ini pantas juga, untuk diteladani, sesuai kemampuan. Disesuaikan dengan jaman sekarang, Sebenarnya tak bisa persis sama dengan jaman dulu. Kajian per kata: Bait ini bercerita tentang anak keturunan Senopati yang menjadi penguasa di tanah Jawa sepeninggalnya. Seperti kita ketahui bahwa setelah Senopati wafat kerajaan Mataram di tangan para anak-cucunya mengalami dinamika yang cukup pelik. Kemudian di masa ditulisnya kitab ini telah terpecah menjadi 4 bagian kerajaan, yakni Yogyakarta, Surakarta, Mangkunegaran dan Pakualaman. Ambawani (menguasai) tanah Jawa, kang (yang) padha (pada, pada berkuasa) jumeneng (berdiri sebagai) aji (raja). Menguasai tanah Jawa, yang pada berdiri sebagai raja. Para penguasa tanah Jawa, yang memegang jabatan raja-raja di 4 kerajaan itu, seperti Pangeran Mangkubumi, Pangeran Sambernyawa, Raja Pakubuwana IV, dan banyak yang lain. Satriya (ksatria) dibya (sakti, perwira) sumbaga (termasyhur, terkenal). Ksatria yang sakti, panglima perang yang tangguh dan cerdik, yang terkenal di negeri ini. Para ksatria-ksatria, panglima perang yang tangguh, Dipanegara, Panembahan Rama, Pangeran Singosari dan ksatria terkenal lainnya yang mewarnai dinamika ketatanegaraan di empat kerajaan tersebut. Tan (tidak) lyan (lain) trahing (keturunan dari) Senopati (Panembahan Senopati). Tak lain adalah keturunan Panembahan Senopati. Tidak lain adalah keturunan Panembahan Senopati. Setelah sekian abad berkuasa di Tanah Jawa keturunan Panembahan Senopati amatlah banyak. Dari sekian banyaknya itu lahirlah orang-orang besar yang berprestasi, yang berkemampuan lebih dari orang kebanyakan. Pan (hal) iku (itu) pantes (pantas) ugi (juga), tinelad (diteladani) labetanipun (jasa-jasanya), ing sakuwasanira. Hal itu juga pantas, untuk diteladani jasa-jasanya, sesuai kemampuan masing-masing Para raja-raja dan ksatria-ksatria itu juga telah melakukan banyak hal untuk kehidupan masyarakat. Banyak jasa-jasa mereka untuk kemanusiaan, walau tentu ada juga kelemahannya, mereka pantas dijadikan teladan. Maka hendaklah meneladani perbuatan dan sikap hidup mereka berbangsa dan bermasyarakat sesuai kemampuan masing-masing. Enake (enaknya, dibuat enak) lan (sesuai) jaman (jaman) mangkin (sekarang). Disesuaikan dengan keadaan jaman sekarang. Dalam meneladani para leluhur tersebut, hendaknya disesuaikan dengan keadaan zaman sekarang. Di ambil pesan moralnya dan diterapkan sesuai dengan kondisi dan situasi zaman kini. Sayektine (sebenarnya) tan (tidak) bisa (bisa) ngepleki (persis menyerupai) kuna (jaman dulu). Sebenarnya tidak bisa persis menyerupai jaman dulu. Di dalam mencontoh teladan orang-orang dulu sebenarnya tidak dapat persis serupa. Tetapi disesuaikan tantangan jaman dan permasalahan yang dihadapi. Jika dahulu semangat Panembahan Senopati dalam mencegah hawa nafsu sampai bersusah payah, maka hendaklah generasi sekarang mempunyai tekad yang sama terhadap godaan korupsi misalnya. Jika dahulu Pangeran Mangkubumi dan Pangeran Sambernyawa gigih menentang pengaruh Belanda yang berusaha memperboneka kerajaan Surakarta, maka hendaklah sekarang para perwira-perwira kusumaning negeri juga punya semangat yang sama dalam menentang hegemoni asing dalam kehidupan masyarakat, baik lewat politik, keagamaan atau ekonomi. Yang jelas bentuk-bentuk sumbangsih terhadap kemanusiaan takkan pernah serupa, tetapi sikap kita, semangat kita, kegigihan usaha kita hendaklah sama dengan para pendahulu kita yang telah meninggalkan keteladanan yang menakjubkan.  

Karyenak Tyasing sasama

PUPUH SINOM Kajian Wedatama (15): Karyenak Tyasing Sasama Alhamdulillah, kajian kita sudah sampai pada bait ke-15, sudah masuk Pupuh Sinom. Seperti yang sudah disinggung di akhir Pupuh Pangkur, Pupuh Sinom ini ditujukan untuk kalangan muda yang masih bergairah tinggi dalam kehidupan bermasyarakat. Namun demikian gelora muda tidak sepantasnya disalurkan untuk foya-foya. Bahkan juga harus mulai berlatih mengendalikan hawa nafsu, kalau tidak akan menjadi kebiasaan buruk di masa tua. Sebagaimana orang bijak mengatakan, orang tua akan menjalani kehidupan sebagaimana ia menjalani masa muda. Selengkapnya bait ke-15 adalah sebagai berikut: Nuladha laku utama, tumrape wong Tanah Jawi. Wong agung ing Ngeksiganda, Panembahan Senopati, Kepati amarsudi, Sudane hawa lan nepsu, Pinesu tapa brata, Tanapi ing siyang ratri, Amamangun karyenak tyasing sasama. Terjemahan dalam Bahasa Indonesia. Contohlah perilaku utama. Untuk kalangan Orang Jawa, orang besar dari Mataram, Panembahan Senopati. Yang sangat keras berusaha, mengurangi hawa nafsu. Dengan jalan prihatin (tirakat). Sambil di siang malam, berbuat menyenangkan hati sesama. Kajian per kata: Nuladha (contohlah) laku (perilaku) utama (utama), tumrape (bagi) wong (orang) Tanah (wilayah) Jawi (Jawa). Contohlah perilaku utama, bagi orang yang tinggal di wilayah Jawa. Mencontoh (nuladha) adalah berbuat sebagaimana contoh sesuai dengan konteks yang dihadapi. Ini tidak sama dengan meniru (neniru). Meniru adalah menjiplak persis. Jadi dalam mencontoh ada konteks dari perbuatan sesuai tantangan yang dihadapi oleh pelaku yang mencontoh. Laku bisa diartikan perilaku atau kelakukan, juga bisa diartikan cara menjalani sesuatu. Nanti kita akan bertemu istilah laku sebagai ilmu praktis atau kalau meminjam istilah sufisme disebut suluk. Utama adalah yang terbaik, yang lebih baik dari yang baik. Jadi gatra ini lebih tepat kalau dimaknai: contohlah cara menjalani hidup yang utama. Dalam gatra kedua ini kalimat tumrah wong tanah Jawi, adalah pembatasan. Pembatasan ini tentu bukan bermaksud sektarian atau rasis, tetapi lebih karena pendekatan budaya saja. Mungkin bagi orang Jawa nasehat dalam serat ini baik jika diterapkan, tetapi bagi orang luar Jawa belum tentu baik. Semua itu karena perbedaan budaya semata. Wong (orang) agung (besar) ing (di) Ngeksiganda (Mataram), Panembahan Senopati. Orang besar dari negeri Mataram, Panembahan Senopati. Kata Mataram di atas diturunkan dari kata, ngeksi yang artinya melihat, melihat jelas pakai mata, maka diambil kata Mata. Kemudian kata ganda berarti bau, yang dimaksud adalah bau harum, maka diambil suku kata terakhir rum, disamarkan menjadi ram. Gabungan dua kata itu menjadi Mataram, nama kerajaan tempat orang besar tadi. Permainan kata seperti di atas lazim dilakukan dalam bahasa Jawa dan biasa disebut wangsalan. Panembahan Senopati adalah gelar dan nama raja pertama Mataram, orang yang akan kita tiru perilakunya. Kepati (sangat keras, bersungguh-sungguh) amarsudi (berusaha, melatih diri), sudane (berkurangnya) hawa lan nepsu (hawa nafsu). Sangat keras berusaha, berkurangnya hawa nafsu. Kepati artinya sangat-sangat, contoh pada kata gething kepati-pati, sangat-sangat benci. Amarsudi berarti berusaha, berlatih dengan tekun. Contoh pada kata marsudi raga, tekun berolah raga. Meski seringkali dijadikan kata majemuk, hawa nafsu sebenarnya dua kata yang punya arti sendiri. Hawa adalah rangsangan dari luar, nafsu adalah keinginan dari dalam. Di dalam falsafah kehidupan orang Jawa ada filosofi: nutup babahan hawa sanga, menutup sembilan lubang hawa. Yakni menutup rangsangan dari luar agar tidak masuk dan keinginan dari dalam agar tidak keluar. Caranya dengan menutup rangsangan hawa agar tidak masuk melalu sembilan lubang, dua mata, dua lubang hidung, dua lubang telinga, satu lubang mulut, satu lubang kelamin dan satu lubang dubur. Yang dimaksud menutup di sini adalah membatasi rangsangan yang masuk lewat lubang-lubang tersebut, misalnya dengan tidak memandang hal-hal yang membangkitkan nafsu, tidak sengaja mencium aroma yang mengundang selera, tidak mendengar percakapan yang tidak pantas, dll. Jadi gatra ini lebih tepat kalau dimaknai sebagai: berlatih dengan sungguh agar mencapai kondisi berkurangnya hawa dan nafsu. Jika nafsu tidak dituruti maka akan melemah, sehingga tidak bergejolak. Inilah kondisi yang ideal bagi manusia. Lalu bagaimana cara agar mencapai keadaan itu? Bait berikut menjelaskannya. Pinesu (dipaksa, diusahakan dengan keras) tapa brata (bertapa, tirakat). Dengan jalan laku tirakat. Berkurangnya hawa dan nafsu tadi dapat dicapai dengan bertapa. Di sini bertapa berarti tirakat, laku prihatin, mencegah atau berpantang dari sesuatu agar mendapat pencerahan. Yang umum dilakukan oleh orang jawa tempo dulu adalah mengurangi makan dan tidur (cegah dhahar lan guling), sambil berdzikir. Juga biasa dilakukan dengan berkhalwat, menyendiri (mahas ing asepi). Arti gatra ini yang sesuai: memaksa diri menjalani laku prihatin atau tirakat. Tanapi (sambil) ing (di) siyang (siang) ratri (malam), amamangun (mematut diri) karyenak (membuat enak) tyasing (hati) sasama (sesama, orang lain). Sambil di siang malam, berbuat menyenangkan hati sesama. Karena Panembahan Senopati adalah seorang raja yang terkenal suka laku tirakat, maka sangat mungkin yang dimaksud dengan gatra ini adalah: sambil berlatih terus untuk mengekang hawa dan nafsu beliau juga berusaha di siang dan malam, membuat kebijakan, memerintah, mengarahkan (itu semua disebut amamangun) agar rakyat merasa nyaman hidupnya dan (enak hati) tanpa rasa takut dan khawatir. Bagi orang Jawa contohlah tauladan dari orang besar di Mataram, Panembahan Senopati. Yang sangat keras berusaha mengurangi hawa dan nafsu dengan memaksa diri menjalai laku prihatin. Sambil di siang dan malam, berbuat kebijakan agar rakyatnya hidup nyaman tanpa rasa takut. Apa yang dilakukan Panembahan Senopati adalah pengabdian dua dimensi, dimensi vertikal dengan beribadah mendekatkan diri kepada Allah dengan jalan laku prihatin, mengurangi hawa nafsu. Dimensi horizontal, tetap hidup bermasyarakat, mengupayakan kesejahteraan rakyat sebagai pelaksanaan kewajiban seorang raja. Inilah tauladan baik yang semestinya dicontoh oleh orang Jawa. Kajian Wedatama (16): Nggayuh Geyonganing Kayun Bait ini masih melanjutkan bait terdahulu tentang perilaku Panembahan Senopati yang layak dijadikan tauladan bagi setiap generasi sesudahnya. Beliau adalah raja yang selalu menyebarkan kesejukan bagi setiap orang yang ditemui. Namun beliau juga tidak lalai dalam kehidupan spiritual, tetap hidup prihatin agar tercapai ketenangan jiwa. Sungguh tabiat seorang raja pinandita. Selengkapnya bait ke-16 adalah sebagai berikut: Samangsane pasamuwan, mamangun marta martani. Sinambi ing saben mangsa, kala kalaning asepi, lelana teki-teki. Nggayuh geyonganing kayun, Kayungyun heninging tyas, Sanityasa pinrihatin, Puguh panggah cegah dhahar lawan guling. Terjemahan dalam Bahasa Indonesia: Dalam setiap pertemuan, menciptakan suasana tenang dan menyejukkan. Sambil di setiap waktu, di kala ada waktu luang, mengembara bertapa, Menggapai kecenderungan hati, Terpesona ketenangan hati, Senantiasa melakukan hidup prihatin, Berpegang teguh tetap mengurangi makan dan tidur. Kajian per kata: Samangsane (dalam setiap) pasamuwan (pertemuan), mamangun (mencipta, membentuk) marta (santun, tenang) martani (menyejukkan). Dalam setiap pertemuan selalu menciptakan suasana tenang dan menyejukkan. Ini berkaitan dengan perilaku dari raja pertama Mataram Panembahan Senopati yang selalu bersikap tenang, sareh, dan menyebarkan kesejukan dalam setiap pertemuan. Bergaul dengan siapa saja sikap beliau selalu menyenangkan, tidak menyakiti hati orang lain sehingga membuat orang lain betah. Sinambi (sambil) ing (di) saben (setiap) mangsa (waktu), kala (di kala) kalaning ( ada waktu) asepi (luang, sepi pekerjaan), lelana (mengembara) teki-teki (teteki, bertapa). Sambil di setiap waktu, di kala ada waktu luang, mengembara untuk menyendiri, mengembara untuk bertapa. Walaupun sang Raja sangat sibuk, manakala ada waktu luang di sela-sela kesibukan, maka beliau menyempatkan melakukan hal-hal selain urusan pemerintahan. Yakni melakukan tapa, berkhalwat dengan sang Khalik, mendekatkan diri dengan Sang Pencipta. Walau seorang raja Senopati tidak melalaikan tugas kenegaraan, tetapi hatinya selalu tidak sabar menanti waktu luang untuk bertapa. Dia melakukan itu karena memang menyukai laku prihatin, tidak suka foya-foya. Karena memang ada yang dituju dalam hidupnya selain kekuasaan. Nggayuh (menggapai) geyonganing (kecenderungan) kayun (hati). Menggapai kecenderungan hati. Jadi bertapanya bukan untuk meraih kekuasaan, toh hal itu sudah didapatkan, melainkan karena memang kecenderungan hati. Cita-cita beliau adalah hidup prihatin untuk mencapai kesejatian, kesempurnaan hidup. Kayungyun (terpesona) heninging (ketenangan) tyas (hati). Terpesona ketenangan, keheningan hati. Karena beliau sangat terpesona dengan ketenangan hati. Tenang dalam arti dekat dengan Yang Maha Kuasa, bukan tenang dalam artian mengasingkan diri dari dunia. Toh beliau tetap bekerja sebagai raja pada setiap harinya. Sanityasa (senantiasa) pinrihatin (melakukan hidup prihatin). Senatiasa melakukan hidup prihatin. Beliau senantiasa hidup dengan cara yang sederhana dengan laku prihatin. Bukan karena keterpaksaan, tetapi karena tingkat pengendalian diri yang sudah paripurna. Tidak gampang kapiluyu (tergoda) oleh kemewahan dunia, meski seorang raja besar yang berkuasa. Puguh (berpegang teguh) panggah (tetap) cegah (mengurangi) dhahar (makan) lawan (maupun) guling (tidur). Berpegang teguh dengan tetap mengurangi makan dan tidur. Walau bisa hidup mewah sang raja justru mengurangi makan dan tidur. Itulah kunci dari hidup prihatin. Agar mata hati tetap terbuka, tidak tertutupi hawa nafsu. Catatan tambahan. Panembahan Senopati adalah penguasa Mataram pertama yang bergelar, Kanjeng Panembahan Senopati Ing Ngalaga Sayidin Panatagama Khalifatullah Tanah Jawa. Gelar di atas menunjukkan bahwa landasan dari kerajaan yang dibangun Senopati adalah religius. Kita tidak membahas itu sekarang, cukup informasi singkat ini sebagai gambaran ringkas tentang tokoh yang dalam serat Wedatama ini disebut sebagai orang besar yang patut dijadikan tauladan. Raja pertama Mataram ini meraih kekuasaan dengan jalan yang tidak mulus. Ketika masih bocah dia harus mengalahkan Adipati Jipang Arya Penangsang yang terkenal sakti mandraguna. Waktu itu Arya Penangsang dicurigai hendak memberontak kepada sultan Hadiwijaya di Pajang. Dalam satu pertempuran yang tidak imbang Senopati berhasil menewaskan Arya Penangsang secara dramatik. Atas kemenangannya itu Senopati yang waktu itu masih bernama Sutawijaya diganjar Alas Mentaok, yang masih berupa hutan rimba. Kemudian dia membabat hutan itu dan mendirikan tanah perdikan. Semakin lama semakin banyak pengikut yang bergabung di tanah baru itu. Tatkala kerajaan Pajang di bawah Sultan Hadiwijaya surut, pamor Sutawijaya meningkat, hingga dia berhasil mendirikan kerajaan baru yang dinamakan Mataram. Dia kemudian menjadi Raja dengan sebutan di atas, atau lebih dikenal sebagai Panembahan Senopati. Sutawijaya terkenal akan kegigihannya dalam bertapa, melakukan laku prihatin. Buahnya dia menjadi raja yang waskitha, cerdik dan tangguh. Kemampuan strateginya berhasil merangkul wilayah-wilayah timur untuk bergabung ke Mataram. Menjelang akhir kekuasaannya di tahun 1601M, Senopati telah mewariskan kerajaan yang besar. Bahkan kerajaannya tetap eksis hingga kini, yakni menjadi Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Kajian Wedatama (17): Mesu Reh Kasudarman Bait ini masih melanjutkan bait terdahulu tentang perilaku Panembahan Senopati yang gemar tirakat, menjalani tapa brata, mencegah makan-tidur dan suka berkelana di tempat sepi. Ini jelas bukan perilaku yang umum dilakukan para raja yang biasa bersikap hedonis, bermewah- mewahan dan memperturutkan hawa nafsu. Mungkin karena kecenderungan hati yang demikian beliau kemudian memilih untuk bergelar Panembahan Senopati. Raja yang suka manembah kepada Allah yang Maha suci. Selengkapnya bait ke-17, Pupuh Sinom dari Serat Wedatama adalah sebagai berikut. Saben mendra saking wisma, Lelana laladan sepi, Ngingsep sepuhing supana, Mrih pana pranaweng kapti, Tis tising tyas marsudi, Mardawaning budya tulus, Mesu reh kasudarman, Neng tepining jalanidhi, Sruning brata kataman wahyu dyatmika. Terjemahan dalam Bahasa Indonesia: Setiap pergi meninggalkan istana, Berkelana ke tempat yang sunyi, Menghisap berbagai ilmu yang baik, Agar jelas yang dikehendaki, Maksud hati tercapai, Kelembutan hati yang utama, Berusaha mempelajari tentang kebajikan, Di tepi samudra, Karena kerasnya bertapa mendapat anugerah Ilahi. Kajian per kata: Saben (setiap) mendra (keluar) saking (dari) wisma (rumah, dalam hal ini adalah istana), lelana (berkelana) laladan (tempat, wilayah) sepi (sunyi). Setiap keluar dari istana, berkelana di tempat sepi. Setiap keluar dari istana, sang raja selalu berkelana ke tempat yang sunyi. Gatra ini mengesankan sang raja “tak betah” untuk berada di istana. Setiap ada kesempatan selalu bersegera menyepi, seolah-olah hatinya sudah terpesona dengan kesepian, dengan laku tirakat. Ngingsep (menghisap) sepuhing (apuh, tuntas, sesuatu yang dihisap sampai tak tersisa saripatinya) supana (ilmu yang baik). Mempelajari ilmu yang baik sampai tuntas. Sang raja ke tempat sepi selain hendak tirakat juga sering berguru kepada para ahli ma’rifat. Ada banyak cerita bahwa Panembahan Senopati kerap ditemui oleh sunan Kalijaga ketika sedang menyepi, untuk diberi wejangan ilmu. Seperti kita ketahui bahwa Sunan Kajiga adalah Waliyullah yang berumur sangat panjang, dan masih sugeng ketika Mataram berdiri. Sunan Kalijaga adalah wali yang sangat peduli atas nasib para penguasa di tanah Jawa. Sejak berdirinya kerajaan Demak dilanjutkan Pajang sampai akhirnya Mataram muncul, sunan Kalijaga selalu njangkungi, memantau para raja-raja tersebut. Oleh karena itu Sunan Kalijaga juga sering dipanggil sebagai Syaikh Jangkung. Mrih (agar) pana (mengetahui) pranaweng ( pranawa ing, terang, jelas) kapti (kehendak). Agar mengetahui dengan jelas yang dikehendaki (hati). Bahwa seseorang itu terdinding dengan hatinya. Apa keinginan hatinya sendiri seringkali tidak disadari. Oleh karena itu perlu terus mengasah akal budi agar nalar kita peka terhadap kehendak hati. Tis tising (yang dituju, maksud) tyas (hati) marsudi (berusaha sungguh). Mardawaning (kelembutan) budya (budi, pikiran) tulus (tulus). Maksud hati mencapai kelembutan budi yang tulus. Jika kita bersungguh-sungguh melatih diri dengan berguru dan menjalani berbagai laku maka akan tercapai kelembutan hati, setulus-tulusnya. Sehingga apa yang tersembunyi dari kehendak hati menjadi terang. Mesu (berusaha keras, memaksa diri agar mampu) reh (segala hal) kasudarman (tentang kebajikan). Darma adalah perbuatan yang dilakukan untuk orang lain atau disebut kebajikan, kasudarman bermakna segala sesuatu tentang kebajikan. Berusaha keras untuk mempelajari ilmu tentang kebajikan. Karena kebajikan bukan teori semata-mata, maka memperlajari ilmu kebajikan adalah sebuah tindakan praktik, atau disebut laku. Di awal-awal telah saya singgung tentang suluk. Nanti akan bertemu tentang bait bahwa ilmu adalah laku. Neng (di) tepining (tepinya) jalanidhi (samudra). Di tepi samudra. Ini adalah tempat yang sering dipakai oleh Panembahan Senopati untuk menyepi. Di tempat inilah Sunan Kalijaga pernah hadir memberi wejangan kepada Senopati bagaimana harus menjadi raja yang baik. Sruning (karena kerasnya) brata (bertapa) kataman (mendapat) wahyu (anugrah) dyatmika (halus, kerohanian, Ilahiah). Karena kerasnya bertapa sehingga mendapat anugrah Ilahi. Wahyu dalam konsep budaya jawa adalah anugrah Ilahi yang berupa pencerahan atau penyingkapan sehingga yang menerima wahyu menjadi naik derajat spiritualnya. Dalam kisah klasik semisal pewayangan wahyu dipersonakan sebagai senjata yang ampuh sehingga dapat dipakai untuk mencapai tujuan tertentu, misal menjadi raja. Tentu saja ini hanya kiasan saja agar penonton lebih mudah dalam memahami.  

Bangkit Mangukut Jiwangga

Kajian Wedatama (12): Bangkit Mangukut Jiwangga Kajian Serat Wedatama karya KGPAA Mangkunegara IV, bait ke-12, Pupuh Pangkur. Bait ini berisi wejangan bagaimana seharusnya bertindak jika menerima wahyu Ilahi. Menerima wahyu di sini bisa diartikan mendapat pencerahan, ilham atau belajar memperdalam Al Quran sehingga benar-benar paham akan kandungannya. Ini bait yang agak berat dan saya berharap mendapat hidayah dalam menguraikannya. Semoga tidak salah tafsir. Selengkapnya bait ke-12 adalah sebagai berikut: Sapantuk wahyuning Allah, gya dumilah mangulah ilmu bangkit. Bangkit mikat reh mangukut, kukuting jiwangga. Yen mangkono kena sinebut wong sepuh, lire sepuh sepi hawa. Awas roroning atunggil. Terjemahan dalam bahasa Indonesia secara tekstual: Siapa yang mendapat wahyu Ilahi, lalu segera mampu menguasai ilmu. Mampu menguasai ilmu kasampurnan, kasampurnan diri pribadi. Orang yang demikian yang pantas disebut orang tua, Arti tua adalah jauh dari hawa nafsu. Tajam dalam melihat dwi tunggal. Kajian makna secara rinci kata per kata: Sapantuk (dari kata sapa antuk, siapa mendapat) wahyuning (ilham atau pencerahan) Allah (Allah), gya (bersegera) dumilah (bercahaya, bersinar) mangulah (menguasai, melakukan) ilmu (ilmu) bangkit (mampu). Siapa yang mendapat wahyu Ilahi, lalu segera mampu menguasai ilmu. Siapa yang mendapat pencerahan, maka serta-merta bersinarlah ia sehingga mampu menguasai ilmu. Ini berkenaan dengan petunjuk Allah kepada manusia. Barang siapa Dia kehendaki untuk suatu perkara maka akan dimudahkanNya caranya. Serta-merta, bersegera seseorang menjadi semangat dalam menunut ilmu sehingga menjadi mudahlah ilmu itu meresap dalam jiwanya. Bangkit (dapat, mampu, bersemangat) mikat (memikat) reh (segala hal) mangukut (mengemasi), kukuting (mengemasi) jiwangga (jiwa, kedirian). Mampu menguasai ilmu kesempurnaan, kesempurnaan diri pribadi. Dalam hal ini saya melihat bahwa yang dimaksud oleh dua gatra ini adalah seseorang yang menjadi bersemangat untuk meniadakan diri, dalam arti memutus ego, kedirian. Sudah kita ketahui bersama bahwa penghalang manusia dan hakekat adalah nafsu yang egosentris. Ego ini menjadi pangkal dari segala sifat buruk, sombong, takabur, ujub, dan pongah. Jika seseorang bisa mretheli, melepas, mencopot (mangukut) sifat-sifat buruknya tadi, maka terbukalah kesempurnaan ilmunya. Copotnya sifat-sifat buruk berarti juga copotnya ego (kedirian). Dia kemudian dapat melihat segala sesuatu sebagai ayat-ayat Allah, tanda-tanda kebesaranNya. Yen (jika) mangkono (demikian) kena (bisa) sinebut (disebut) wong (orang) sepuh (tua), lire (arti) sepuh (tua) sepi (jauh dari) hawa (hawa nafsu). Orang yang demikian yang pantas disebut orang tua, arti tua adalah jauh dari hawa nafsu. Jika demikian bisa disebut sebagai orang tua. Arti tua di sini adalah sudah mampu menyingkirkan hawa nafsu. Sepi hawa adalah ungkapan untuk orang yang sudah tidak banyak keinginan lagi. Dalam budaya Jawa tua memang tidak selalu berkaitan dengan umur. Sering kali ungkapan wong tuwa dipakai untuk menyebut orang pintar dalam olah kebatinan, tempat para warga bertanya dan minta nasehat. Bahkan dukun juga sering dipanggil wong tuwa, semata-mata karena dianggap tahu tentang hal-hal ghaib. Awas (tajam penglihatan, kiasan untuk pengertian yang sempurna) roroning (duanya) atunggil (menjadi satu). Tajam dalam melihat dwi tunggal. Makna gatra ini sesuai konteks adalah merujuk kepada orang yang sudah menguasai tentang konsep dualisme dalam penciptaan. Kata awas sering dipakai untuk menyebut orang yang pandangannya tajam, ini adalah kiasan bagi orang yang telah menguasai ilmu sejati, yakni yang telah memahami kesatuan wujud. Antara yang lahir dan yang batin sebenarnya adalah satu wujud, hanya beda penampakan laksana dua sisi mata uang. Siang dan malam adalah satu putaran waktu, keduanya tak beda. Pria dan wanita adalah sama-sama manifestasi nama-nama ilahi dalam kadar yang parsial, pernikahan menyatukan keduanya. Demikianlah dualisme dalam ciptaan, yang sebenarnya adalah satu. Namun karena diri kita parsial maka terlihat sebagai dualisme. Jika kita telah menjadi manusia paripurna (insan kamil) atau univers maka dualisme lenyap dan tampak jelas kesatuan wujud. Inilah yang disebut tauhid sejati. Yang diciptakan adalah manifestasi dari Yang Menciptakan, jadi hanya ada satu wujud sejati. Ini adalah konsep Satunggaling Kawula-Gusti. Saya cukupkan dulu, karena pokok bahasan kita bukan tentang ini. Kajian Wedatama (13): Sumusuping Rasa Jati Tembang Pangkur pada bait ke-13 Serat Wedatama karya KGPAA Mangkunegara IV di bawah ini sering dipakai untuk suluk oleh para dalang pada pertunjukan wayang kulit. Biasanya dipakai saat adegan raja sedang masuk di kamar pemujaan dengan maksud untuk mendapat petunjuk atas masalah yang dihadapi. Kandungan makna bait ini memang sangat pas dengan adegan tersebut. Bait ini menggambarkan keadaan orang yang mendapat pencerahan melalui muhasabah dalam uzlah, ketika menyepi, mengasingkan diri. Bahwa datangnya pencerahan masuk ke dalam hati di waktu antara tidur dan jaga, sekelebat seolah melesatnya mimpi. Selengkapnya bait ke-13 adalah sebagai berikut: Tan samar pamoring suksma, sinuksmaya winahya ing ngasepi. Sinimpen telenging kalbu, pambukaning warana. Tarlen saking liyep layaping aluyup, pindha pesating sumpena. Sumusuping rasa jati. Terjemahan tekstual dalam Bahasa Indonesia: Tak ragu menyatunya citra Suksma (Ilahi), meresapnya didapatkan di waktu sepi, Tersimpan di dalam hati, sebagai pembuka tirai. Antara keadaan jaga dan tidur, seperti kilatan mimpi. Merasuknya rasa sejati. Kajian per kata: Tan (tak) samar (keraguan) pamoring (menyatunya) suksma (ruh, yang dimaksud adalah wahyu Ilahi), sinuksmaya (meresap kedalam) winahya (didapatkan) ing ngasepi (ketika sepi). Tak ragu menyatunya citra Suksma (Ilahi), meresapnya didapatkan di waktu sepi, Kata pamor berasal dari amor yang artinya mengumpul atau menyatu. Pamor artinya sebuah keadaan penyatuan. Kata pamor juga mengingatkan kita pada pamor keris, yakni motif yang timbul pada bilah keris akibat metode tempa logam. Motif pamor ini akan semakin terlihat jelas jika keris sudah berusia lama, dan disebut pecah pamore, artinya keindahan keris makin tampak jelas. Pamor pada keris membuat keris kelihatan indah laksana mengeluarkan sinar. Oleh karena itu pamor juga sering diartikan sebagai pancaran keindahan. Kata pamor juga dipakai pada kalimat: bocan wadon kuwi sudah pecah pamore (anak gadis itu sudah bersinar pamornya). Kalimat ini dipakai untuk menggambarkan gadis yang sudah melewati usia akil baligh, sudah nampak pesona kecantikannya. Suksma di sini sesuai konteks bisa diartikan Suksma (pakai S besar), artinya ruh atau Citra Ilahi. Disebut citra karena sesungguhnya yang menyatu bukanlah Dzat Allah, melainkan kesadaran ilahiyah yang bangkit dari dalam hati. Sebenarnya di dalam diri manusia telah ditiupkan Citra Ilahiyah tersebut dalam bentuk ruh, yang menyertai manusia sejak lahir. Namun dalam kehidupan ruh ini tersembunyi jauh di dasar wujud manusia. Melalui penggalian yang keras (di dalam diri), akhirnya ditemukan. Laksana seorang penambang permata yang menemukan sebongkah permata di dasar palung diri manusia. Sedangkan winahya berarti kawedhar, atau tampak atau sudah muncul, sudah didapatkan. Sehingga gatra tersebut dapat diartikan, tak ada keraguan menyatunya citra Ilahi, meresapnya dalam hati didapatkan ketika sepi. Secara sederhana bisa dikatakan bahwa seringkali kita menyepi, sengaja mengasingkan diri agar mendapat petunjuk atas masalah yang kita hadapi atau untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Misalnya pada saat-saat malam ketika sepi dengan shalat malam, bermuhasabah, mengadu kepada Allah, berkhalwat dengan Allah. Di waktu-waktu tersebut kadang kita mendapat pencerahan sehingga mendapatkan kesadaran baru. Kita sebut pencerahan karena tiba-tiba kita menjadi cerah, seperti kena sinar yang memancar (pamor). Sinimpen (tersimpan) telenging (pusat, di dalam) kalbu (hati), pambukaning (sebagai pembuka) warana (tirai). Tersimpan di dalam hati, sebagai pembuka tirai. Pencerahan, ilham atau inspirasi yang kita dapatkan tadi tiba-tiba tersimpan dalam hati, menjadi pembuka bagi segala keruwetan yang menimpa, solusi bagi permasalahan yang ada. Jadi sifatnya bisa tiba-tiba, mak bedunduk ada dalam pikiran kita, oh begini! Tarlen (tak lain) saking liyep(tidur ayam) layaping (keadaan orang setengah ingat setengah tidak) aluyup (ngantuk), pindha (seperti) pesating (melesatnya) sumpena (mimpi). Antara keadaan jaga dan tidur, seperti kilatan mimpi. Pencerahan tadi datang ke dalam hati ketika kita justru sedang tidak konsentrasi masalah yang ada, ibaratnya seperti orang yang setengah jaga setengah tidur, tiba-tiba terilhami akan sesuatu. Terbersit dalam hati seperti kilatan mimpi, sekejab saja. Plass! Dan tiba-tiba kita telah mendapat solusi atas masalah kita. Anda semua pasti pernah mengalami seperti ini. Sumusuping (merasuk) rasa (rasa) jati (sejati). Merasuknya rasa sejati. Bagi yang sudah terbiasa melakukan uzlah untuk bermuhasabah, bermujahadah, datangnya pencerahan bisa berulang sehingga merasuklah ke dalam hati ilmu rasa sejati. Dalam bait- bait yang lalu telah disinggung bahwa watak ilmu sejati adalah menyenangkan hati, oleh karena itu datangnya pencerahan ini juga membuat hati menjadi tenteram. Tak heran kalau orang bisa sangat menikmati saat-saat sedang menyendiri, bertapa, meditasi, shalat malam atau berbagai macam ritual meditasi lainnya. Kajian Wedatama (14): Mulih Mula Mulanira Bait ini adalah akhir dari Pupuh Pangkur yang berjumlah 14 bait. Menarik untuk disimak bahwa Wedatama memulai piwulang tentang kehidupan justru dengan memakai tembang Pangkur. Di dalam budaya Jawa Pangkur sering diartikan sebagai mungkur saka kadonyan, memalingkan diri dari keduniawian. Tampaknya serat Wedatama memang ditujukan bagi kalangan orang tua yang sudah separuh perjalanan menempuh kehidupan. Ini ditandai dengan kalimat, mingkar-mingkuring angkara, akarana karenan mardisiwi pada bait pertama. Kandungan pesan pada bait terakhir Pupuh Pangkur ini semakin mengukuhkan kesan tersebut. Selengkapnya bait ke-14: Sejatine kang mangkana, wus kakenan nugrahaning Hyang Widhi. Bali alaming ngasuwung, tan karem karameyan. Ingkang sipat wisesa winisesa wus, mulih mula mulanira. Mulane wong anom sami. Terjemahan bait ini ke dalam Bahasa Indonesia: Sebenarnya yang demikian itu, sudah mendapat anugrah Tuhan yang Maha Benar. Kembali ke alam kosong (keakhiratan), tidak mabuk keramaian (keduniawian). Yang bersifat kuasa menguasai, kembali ke asal mula. Oleh karena itu wahai anak muda semua. Kajian per kata: Sejatine (sebenarnya) kang (yang) mangkana (demikian itu), wus (sudah) kakenan (terkena, mendapat) nugrahaning (anugrah) Hyang (Yang Maha) Widhi (Benar). Sebenarnya yang demikian itu,sudah mendapat anugrah Tuhan yang Maha Benar. Gatra ini bisa dianggap merujuk ke bait sebelumnya, yakni seseorang yang mendapat pencerahan. Yang demikian itu sebenarnya adalah karena anugerah Yang Maha Benar. Jika tidak kita pun akan sulit mencapai hakekat hidup di dunia ini. Tugas kita sebagai manusia hanya menyiapkan diri, adapun turunnya anugrah adalah sepenuhnya kehendak Allah. Bali (kembali) alaming (ke alam) ngasuwung (kosong, maksudnya kosong dari hawa nafsu), tan (tidak) karem (sangat suka, mabuk) karameyan (keramaian, kiasan untuk alam dunia). Kembali ke alam kosong (keakhiratan), tidak mabuk keramaian (keduniawian). Karena anugrah Yang Maha Benar kita dapat kembali ke alam kosong. Kosong di sini adalah kosong dari hawa nafsu. Ini adalah merujuk pada hati yang kosong dari keinginan terhadap dunia, jiwa kemudian condong kepada alam keakhiratan. Tan karem karameyan, adalah tidak suka lagi dengan ramainya dunia, alam materi yang banyak warna-warni dengan segala permasalahannya ini. Ingkang (yang) sipat (bersifat) wisesa (kuasa) winisesa (menguasa) wus (sudah), mulih (pulang) mula (asal) mulanira (mula, muasal). Yang bersifat kuasa menguasai, kembali ke asal mula. Kalau kita perhatika bahwa kehidupan duniawi didominasi nafsu meraih kepentingan diri atau egoisme. Ada yang sangat ingin meraih kekayaan materi sehingga tamak akan harta. Mencari harta-benda dengan cara yang tidak halal. Ada yang syahwat politiknya overdosis sehingga senantiasa menjadi motif dari setiap tindakan. Ada yang kemudian membungkusnya dengan pura-pura memihak kaum lemah. Ada yang membungkus dengan tampilan religius demi menarik simpati ummat. Yang demikian itulah kehidupan duniawi, dengan segala riuh-riak di dalamnya. Maka bait ini mengingatkan agar kembali ke asal mula, yakni makhluk Allah yang muasalnya bukan dari dunia ini tapi dari alam lain yang kelak kita semua akan kembali (mulih). Mulane (oleh karena itu) wong (wahai orang) anom (muda) sami (sekalian, semua). Oleh karena itu wahai anak muda. Gatra ke-7 ini bisa disebut sasmita kepada lanjutan Pupuh berikutnya yakni Pupuh Sinom, maka memakai isyarat kata anom. Selain itu menjadi isyarat bahwa bait-bait berikutnya ajaran piwulang ini, nasehat ini, lebih ditujukan untuk anak muda. Selesai sudah kajian Pupuh Pangkur dari Serat Wedatama. Penggubah serat ini mungkin mendahulukan Pupuh Pangkur sebagai penegasan bahwa mungkur dari kadonyan adalah awal dari kehidupan manusia yang sebenarnya. Kita mungkin disebut mati di alam dunia ini jika kelak umur kita habis, tetapi kita akan hidup di alam lain yang lebih elok, indah dan menyenangkan. Itulah kehidupan yang sejati. Berulang kali kata jati ditekankan pada Pupuh Pangkur agar kita selalu ingat bahwa sejatinya alam kita bukan di sini. Kita masih harus berlatih untuk membuka tabir yang menutupi pandangan kita tentang alam sejati itu. Tip dan triks agar tabirnya terbuka adalah dengan meninggalkan perbuatan tercela (angkara), menahane (nahen) hawa nafsu, bermuhasab, bermujahadah di kesepian (ngasepi) agar memancar cahaya Ilahi (pamoring Suksma) kepada diri kita. Jika sudah demikian rasa jati akan sumusup ing jiwangga, ilmu rasa jati akan merasuk dalam jiwa.  

Nalar Pating Saluwir

Kajian Wedatama (6): Nalare pating saluwir Kita lanjutkan lagi kajian tentang Serat Wedatama karya KGPAA Mangkunegara IV, kali ini sampai pada bait ke-6, masih termasuk dalam Pupuh Pangkur. Bait ini masih menerangkan keadaan orang bodoh, perumpamaan hidupnya yang mirip dengan deru angin, istilah yang dipakai adalah gumrunggung, berdengung tak beraturan. Selengkapnya bait ke-6 adalah sebagai berikut: Uripe sepisan rusak, nora mulur nalare ting saluwir. Kadi ta guwa kang sirung, sinerang ing maruta, gumrenggeng anggereng anggung gumrunggung. Pindha padhane si mudha, prandene paksa kumaki. Terjemahan dalam Bahasa Indonesia: Hidup hanya sekali berantakan, tidak berkembang, pikiran tercabik-cabik. Ibarat goa gelap menyeramkan, terserang angin, suaranya bising berdengung-dengung. Demikian gambaran anak mudha (yang masih bodoh), namun demikian sombongnya minta ampun. Kajian per kata: Bait ini menggambarkan keadaan hati seorang yang kurang pengetahuan tapi banyak bicara, goyah dan tidak mantap akidahnya. Ibaratnya seperti goa gelap yang dalam, tertiup angin menimbulkan suara gaduh berdengung, tak jelas apa bunyinya. Seperti perilaku anak muda yang masih labil, tetapi sombongnya minta ampun. Uripe (hidupnya) sepisan (satu kali) rusak (berantakan), nora (tidak) mulur (berkembang) nalare (akalnya) ting saluwir (tercabik-cabik, tercerai-berai). Hidup hanya sekali berantakan, tidak berkembang, pikiran tercabik-cabik. Hidup orang bodoh yang tak menguasai ilmu rasa akan rusak berantakan. Akal budi tidak berkembang, tidak punya akidah yang membuatnya bisa berpikir benar. Akalnya bagai tercabik-cabik, tercerai berai. Frasa ting saluwir adalah keadaan seperti daun pisang yang sudah tuwa yang tertiup angin sehingga tercabik-cabik, tercerai berai jika angin datang. Begitulah jalan pemikiran orang-orang bodoh yang tak mengerti ilmu rasa tadi. Kadi ta (seperti) guwa (goa) kang (yang) sirung (dalam, ceruk), sinerang (terkena hembusan) ing (oleh) maruta (angin), gumrenggeng anggereng (berderu-deru), anggung (selalu) gumrunggung (berdengung-dengung). Ibarat goa gelap menyeramkan, terserang angin, suaranya selalu berdengung-dengung. Keadaan hati orang bodoh adalah laksana goa yang dalam ceruknya. Apabila tertiup angin menimbulkan suara deru, jika besar anginnya semakin berdengung-dengung. Suara-suara itu yang tak beraturan dan berirama. Ini adalah kiasan bagi orang yang bicaranya tak ada maknanya, hanya mirip deru angin saja. Pindha (seperti) padhane (sama keadaannya) si mudha (dengan anak mudha, bodoh), prandene (namun demikian) paksa (memaksa) kumaki (sombong). Demikian gambaran anak mudha (yang masih bodoh), namun demikian sombongnya minta ampun. Keadaan orang bodoh juga mirip keadaan anak muda yang belum dewasa. Oleh karena itu dalam bahasa Jawa lama kata mudha juga berarti bodoh. Gatra ini mengingatkan kepada frasa senajan tuwa pikun pada bait ke-2, yakni orang yang sudah tua seharusnya memahami ilmu rasa, tidak berkelakuan seperti anak muda, yang memaksakan diri bertingkah sombong. Bait ini menggambarkan isi hati orang bodoh. Nalarnya tidak berkembang, tercerai berai karena tak punya akidah yang mantap. Isi hatinya penuh dengan gejolak, berbolak-balik, penuh berbagai bisikan-bisikan liar, berdengung-dengung tak karuan. Ini jelas bukan pencapaian yang diharapkan bagi orang yang sudah lanjut usia. Bahkan, perilakunya juga masih seperti anak muda yang labil, bersikap sangat sombong. Kajian Wedatama (7): Ngandelaken Yayah Wibi Kajian Serat Wedatama karya KGPAA Mangkunegara IV, kali ini sampai pada bait ke-7, masih termasuk dalam Pupuh Pangkur. Bait ini menerangkan keadaan orang bodoh yang perilakunya masih seperti anak muda. Belum mampu hidup mandiri selayaknya seorang yang sudah harus memikul tanggung jawab. Selengkapnya bait ke-6 adalah sebagai berikut: Kikisane mung sapala, palayune ngendelaken yayah wibi, bangkit tur bangsane luhur, Lha iya ingkang rama, balik sira sasrawungan bae durung. Mring atining tatakrama, nggon anggon agama suci. Terjemahan dalam Bahasa Indonesia: Tekadnya remeh sekali, bila menghadapi masalah berlindung di balik orang tuanya, yang terpandang dan bangsawan. Itu kan ayahnya, sedangkan kamu belum lagi mengenal. Dengan intisari sopan santun, yang merupakan ajaran agama suci. Kajian per kata: Kikisane (batas tekadnya) mung (hanya) sapala (sedikit, kecil, remeh), palayune (larinya) ngendelaken (mengandalkan) yayah (ayah) wibi (ibu), bangkit (berdiri, kiasan untuk orang terpandang) tur (dan) bangsane luhur (berkedudukan tinggi). Tekadnya remeh sekali, bila menghadapi masalah berlindung di balik orang tuanya, yang terpandang dan bangsawan, Inilah gambaran orang yang tidak dewasa, seperti anak kecil. Tekadnya sangat terbatas, jika ada masalah langsung lari mengandalkan orang tuanya, yang mempunyai jabatan dan pangkat yang tinggi. Perilaku seperti ini masih sering kita jumpai di masa kini, dan juga sudah ada di zaman dulu. Seorang anak muda (atau pun sudah tua) yang masih mengandalkan orang tuanya, walaupun seharusnya dia sudah hidup mandiri karena sudah dewasa. Lha iya (itukan) ingkang rama (ayahnya), balik (sedangkan) sira (kamu) sasrawungan (mengenal) bae (saja) durung (belum). Itu kan ayahnya, sedangkan kamu belum lagi mengenal. Gatra ini mempertanyakan, itukan ayahmu, lha kamu? Sedangkan kamu mengenal saja belum. Kenal apa? Jawabannya di gatra selanjutnya. Mring (terhadap) atining (intisari) tatakrama (sopan santun), nggon (tempat) anggon (pakaian) agama suci. Dengan intisari sopan santun, yang merupakan ajaran agama suci. Anggon di sini berarti makna kiasan untuk sifat yang melekat pada seseorang, terhadap intisari sopan santun, pakaian yang seharusnya dipakai oleh orang yang beragama. Bait ini cukup jelas menerangkan sifat orang yang terlambat dewasa. Tekadnya lemah sekali. Jika ada masalah lari ke orang tuanya, mengandalkan kedudukan, pangkat dan jabatannya. Lha itu kan ayahnya? Sedangkan dia sendiri seharusnya juga mengerti sopan santun, adab yang berlaku dalam masyarakat. Itulah pakaian (sifat-sifat) yang seharusnya dipakai oleh orang beragama. Kajian Wedatama (8): Katungkul Reh Kaprawiran Kajian Serat Wedatama karya KGPAA Mangkunegara IV, kali ini sampai pada bait ke-8, masih termasuk dalam Pupuh Pangkur. Bait ini menerangkan keadaan orang yang terlena mengejar kehebatan dalam hal keperwiraan. Jika dilihat konteks ketika kitab ini ditulis sangat mungkin yang dimaksud adalah orang yang terlena mengejar kedudukan, karena pada jaman itu keperwiraan erat kaitannya dengan kekuasaan atau pengikut (prajurit) yang banyak. Selengkapnya bait ke-8 adalah sebagai berikut: Socaning jiwangganira, jer katara lamun pocapan pasthi. Lumuh asor kudu unggul, semengah sesongaran, Yen mangkono kena ingaranan katungkul, karem ing reh kaprawiran. Nora enak iku kaki. Terjemahan tekstual dalam Bahasa Indonesia: Intisari sifat-sifat pribadimu, pasti akan tampak ketika bertutur kata. Tak mau kalah harus menang, sombong dan membanggakan diri. Yang demikian itu bisa disebut terlena, tergila-gila pada kehebatan (diri). Tidak baik itu nak! Kajian per kata: Socaning (mata, intisari) jiwangganira (pribadi, sifat-sfat pribadimu), jer katara (akan kelihatan) lamun (ketika) pocapan (berucap) pasthi (pasti). Intisari sifat-sifat pribadimu, pasti akan tampak ketika bertutur kata. Gatra ini menyatakan bahwa kepribadian seseorang pasti akan tampak dari cara ia bertutur kata. Orang yang bertutur kata dengan santun dan sabar pastilah pribadinya telah terlatih dalam olah ilmu rasa. Sedangkan tutur kata yang kasar, memaki, nyinyir dan tak pernah menghargai sesama pastilah muncul dari pribadi yang penuh kedengkian. Lumuh (tak mau) asor (kalah) kudu (harus) unggul (menang), semengah (sombong) sesongaran (membanggakan diri di depan orang banyak). Tak mau kalah harus menang, sombong dan membanggakan diri. Di sini digambarkan sifat orang yang tak mau kalah, selalu harus menang. Senantiasa menyombongkan diri di depan orang banyak. Orang ini menganggap bahwa mengalahkan orang lain itu penting, sehingga harus selalu menang. Orang berwatak seperti ini suka memamerkan kelebihan diri agar eksis dalam pergaulan luas. Baginya penting untuk selalu tampil lebih baik daripada orang lain. Yen (kalau) mangkono (demikian itu) kena (bisa) ingaranan (disebut) katungkul (terlena), karem (sangat suka, tergila-gila) ing (pada) reh (segala hal) kaprawiran (tentang keperwiraan). Nora (tidak) enak (nyaman, tak baik) iku (itu) kaki (nak). Yang demikian itu bisa disebut terlena,tergila-gila pada kehebatan (diri). Tidak baik itu nak! Gatra terakhir ini menggambarkan orang yang terlena dengan keperwiraan, kemenangan dan kehebatan diri. Padahal seharusnya dia sudah harus mulai ngudi kasampurnaning urip, mencari kesempurnaan hidup. Kata katungkul menandakan bahwa hal-hal yang dilakukan itu sudah melebihi porsi yang seharusnya. Yang demikian itu tidak baik nak! Bait ini memberi petuah bahwa kepribadian kita akan terpancar dalam tutur kata kita sehari- hari. Seharusnya semakin bertambah usia tutur kata semakin santun dan sabar, perilaku juga harus mulai tampak lebih bijaksana. Jika masih suka bertengkar dan tak mau kalah, masih mengunggul-unggulkan kehebatan diri, berlaku sombong dan berbangga diri, pertanda bahwa yang bersangkutan terlena dalam mencari keperwiraan. Yang demikian itu adalah sifat yang tidak terpuji, tanda bahwa pribadinya belum dewasa. Itu tidak baik! Kajian Wedatama (9): Kekerane Ngelmu Karang Kajian Serat Wedatama karya KGPAA Mangkunegara IV, kali ini sampai pada bait ke-9, masih termasuk dalam Pupuh Pangkur. Bait ini menerangkan keadaan orang yang mengaku menguasai ilmu gaib, padahal sebenarnya hanya hasil karangannya sendiri saja. Praktik seperti ini banyak kita jumpai pada dunia perdukunan. Banyak orang mengaku mendapat bisikan gaib sehingga dapat menolong orang, padahal ilmu yang berdasarkan hal-hal tersebut bukanlah intisari dari ilmu yang sejati. Ibarat pengetahuan hanya pada kulit terluar saja, belum masuk ke dalam hakekat ilmu. Selengkapnya bait ke-9 adalah sebagai berikut: Kekerane ngelmu karang, Kekarangan saking bangsaning gaib. Iku boreh paminipun, tan rumasuk ing jasad, amung aneng sanjabaning daging kulup. Yen kapengkok pancabaya, upayane mbalenjani. Terjemahan secara tekstual ke dalam bahasa Indonesia: Di dalam penguasaan ilmu rekaan, rekaan dari hal-hal gaib. Itu ibarat bedak, tidak meresap ke dalam jiwa, hanya ada di luar daging saja nak! Apabila terbentur mara bahaya, tak dapat diandalkan (Yang disanggupi diingkari). Kajian per kata: Kekerane (dalam penguasaan) ngelmu (ilmu) karang (rekaan), Kekarangan (rekaan) saking (dari) bangsaning (sejenis hal) gaib (ghaib). Di dalam penguasaan ilmu rekaan, rekaan dari hal-hal gaib. Maksud gatra ini adalah ilmu perdukunan yang berlandaskan bisikan ghaib (wisik). Orang tersebut sebenarnya hanya mereka-reka berdasarkan wangsit (isyarat ghaib) yang merasa dia terima. Padahal belum tentu itu benar-benar ilham dari Yang Maha Kuasa, alih-alih hanya merupakan angan-angannya sendiri saja. Ilmu yang demikian itu sangat berbahaya bila kita percayai. Iku (itu) boreh (bedak) paminipun (seumpama), tan (tidak) rumasuk (meresap) ing (di dalam) jasad (tubuh), amung (hanya) aneng (berada di) sanjabaning (luar) daging (daging), kulup (nak). Itu ibarat bedak, tidak meresap ke dalam jiwa, hanya ada di luar daging saja nak! Ilmu rekaan tadi hanyalah tampak seperti ilmu di permukaan, laksana orang memakai bedak. Tidak meresap dalam hati, seumpama bedak yang hanya di permukaan kulit, tidak masuk ke dalam tubuh. Hanya berada di luar daging saja. Jadi hanya tampak seperti ilmu saja, alias ilmu palsu. Maka waspadalah wahai anak muda! Yen (kalau) kapengkok (bertemu) pancabaya (marabahaya), upayane (usahanya) mbalenjani (mengingkari). Apabila terbentur mara bahaya, yang disanggupi diingkari. Maksud dari gatra ini adalah jika betul-betul bertemu dengan marabahaya, ilmu yang digembar-gemborkan tadi tak dapat diandalkan. Semua upaya yang disyaratkan akan sia-sia, tanpa hasil. Sejak jaman dahulu orang mengaku-aku pinter itu sudah menjadi jamak lumrah (kebiasaan). Pada jaman sekarang pun juga masih banyak ditemukan, terutama pada dunia perdukunan. Banyak orang percaya karena mereka mengaku sebagai orang pintar yang mendapat bisikan langit. Wangsit atau isyarat dari langit adalah klaim mereka ketika meramalkan langkah apa yang disarankan kepada klien. Selain itu ada wisik atau bisikan halus yang greed-nya lebih jelas. Kita tidak menyangkal ada beberapa orang memang mempunyai kemampuan seperti itu. Namun ada banyak orang yang hanya mengaku-aku saja. Celakanya golongan terakhir ini lebih agresif mencari mangsa. Orang-orang yang sedang galau seringkali menjadi korban. Bait tembang Pangkur di atas memberi petuah agar kita waspada, bahwa pemilik ilmu sejati tidak akan berperilaku demikian. Orang yang bener-bener pintar akan membenamkan ilmunya sehingga tak seorang pun tahu. Sedangkan yang banyak bicara adalah orang yang mengaku-aku, ilmunya palsu. Kajian Wedatama (10): Puruhita Kang Patut Kajian Serat Wedatama karya KGPAA Mangkunegara IV, bait ke-10, Pupuh Pangkur. Bait ini menerangkan pentingnya menjaga hati agar selalu penuh kebaikan. Caranya antara lain dengan berguru sesuai kemampuan diri, menepati aturan yang berlaku dalam masyarakat dan senantiasa mengikuti rukun-rukun beribadah kepada Sang Pencipta. Selengkapnya bait ke-10 adalah sebagai berikut: Marma ing sabisa-bisa, bebasane muriha ing tyas basuki. Puruhita kang patut, lan traping angganira. Ana uga angger ugering kaprabun, abon-aboning panembah, kang kambah ing siyang ratri. Terjemahan secara tekstual ke dalam bahasa Indonesia: Oleh karena itu sebisa-bisanya, berusahalah menjaga hati. Berguru secara pantas, dan sepadan dengan kemampuan diri. Ada juga aturan dan pedoman bernegara, perlengkapan beribadah, yang diamalkan siang dan malam. Kajian per kata: Marma (oleh karena) ing sabisa-bisa (sebisa-bisanya, maksudnya usahakan secara maksimal), bebasane (seumpama) muriha (agar supaya) ing (dalam) tyas (hati) basuki (selamat). Oleh karena itu sebisa-bisanya, berusahalah menjaga hati. Maksud dari gatra ini adalah sebisa-bisanya, artinya dengan usaha maksimal untuk menjaga hati, agar selalu penuh keselamatan. Yang dimaksud adalah menjaga agar hati tak dijangkiti penyakit hati berupa sombong, dengki, meremehkan orang, ugungan (gila pujian), malas (hanya mengandalkan orang tua), seperti yang digambarkan pada bait-bait sebelumnya. Puruhita (berguru) kang (yang) patut (pantas), lan (dan) traping (sesuai) angganira (keadaanmu). Berguru secara pantas,dan sepadan dengan kemampuan diri. Agar hati kita terjaga dari penyakit maka kita harus berguru menuntut ilmu rasa. Maka penting di sini untuk mencari guru yang pantas digurui agar kita dapat belajar darinya sesuai dengan kemampuan kita masing-masing. Ana (ada) uga (juga) angger (aturan) ugering (pedoman) kaprabun (kerajaan) , abon- aboning (perlengkapan) panembah (beribadah), kang (yang) kambah (disentuh, lebih tepat diartikan: diamalkan) ing (di) siyang (siang) ratri (malam). Selain harus belajar juga harus mengikuti aturan dan pedoman bernegara dan hidup bermasyarakat. Hal ini berkaitan dengan sikap kita yang harus bergaul dengan baik dengan orang lain, hablumminannaas. Yang tak kalah penting adalah mengamalkan tatacara atau rukun (perlengkapan) beribadah kepada Sang Pencipta, yang harus dilakukan siang malam, hablumminallah. Tanpa kedua hal ini niscaya sulit dicapai keadaan hati yang bebas dari penyakit. Keadaan harmonis secara horinzontal dengan sesama manusia dan lingkungan, dan harmonis secara vertikal dengan Sang Pencipta adalah prasarat tercapainya hati yang selamat, tyas basuki tadi. Kajian Wedatama (11): Nggeguru Mring Kang Tulus Kajian Serat Wedatama karya KGPAA Mangkunegara IV, kali ini sampai pada bait ke-11, masih dalam Pupuh Pangkur. Jika bait terdahulu memberi arahan agar kita berguru secara pantas sesuai kemampuan, bait ini berisi anjuran untuk berguru pada orang-orang yang mampu mengendalikan diri, berhati tulus dan kuat menahan hawa nafsu. Guru yang demikian adalah pemilik ilmu sejati. Ada kalanya bisa ditemui di mana saja, tidak harus berusia tua, bahkan bisa dari kalangan anak muda dan orang biasa. Selengkapnya bait ke-11 adalah sebagai berikut: Iku kaki takokena, marang para sarjana kang martapi. Mring tapaking tepas tulus, kawawa nahen hawa. Wruhanira mungguh sanyataning ngelmu, tan mesthi neng jamna wredha. Tuwin mudha sudra kaki. Terjemahan secara tekstual ke dalam Bahasa Indonesia. Begitulah nak, bertanyalah, kepada para sarjana yang bertapa. Yang mampu menerapkan hati tulus, kuat menahan hawa nafsu. Ketahuhilah bahwa ilmu sejati, tak selalu berada pada orang lanjut usia, Dan adakalanya dari orang mudha atau orang biasa nak! Kajian per kata: Iku (begitulah) kaki (nak) takokena (bertanyalah), marang (kepada) para (para) sarjana (sarjana, orang pintar) kang (yang) martapi (bertapa). Begitulah nak, bertanyalah, kepada para sarjana yang bertapa. Berguru hendaknya tidak kepada sembarang orang tetapi kepada yang benar-benar pantas digurui. Gatra ini menunjukkan ciri orang tersebut, yakni para orang pandai yang gemar bertapa. Kalau dalam konteks jaman dahulu berarti mengasingkan diri dari keramaian, dalam konteks jaman modern bertapa adalah menjauhkan diri dari kepentingan diri sendiri, semisal keinginan untuk berkuasa, untuk mengeruk keuntungan, dll. Mring (kepada) tapaking (jejaknya, berkesan mampu) tepas (menerapkan) tulus (hati tulus), kawawa (kuat) nahen (menahan) hawa (hawa nafsu). Yang mampu menerapkan hati tulus, kuat menahan hawa nafsu Yang telah mampu menerapkan dalam dirinya sifat tulus, kuat menahan godaan hawa nafsu. Orang yang telah berlatih menahan diri, sifat-sifatnya akan berkesan dalam perilaku sehari- hari. Nah lihatlah itu! Orang tersebut telah mampu menahan godaan nafsu duniawi. Jika dia berkuasa pasti mampu menahan godaan untuk berlaku zhalim, jika sedang berada dalam posisi sebagai guru pasti akan mampu menghindari nafsu mengeruk keuntungan. Nah, kepada orang seperti inilah hendaknya kita berguru. Wruhanira (ketahuilah) mungguh (bahwa) sanyataning (sejatinya) ngelmu (ilmu), tan (tak) mesthi (selalu) neng (ada) jamna (orang) wredha (tua), tuwin (dan adakalanya) mudha (dari orang muda) sudra (orang remeh, orang biasa) kaki (nak). Ketahuhilah bahwa ilmu sejati, tak selalu berada pada orang lanjut usia. Dan adakalanya didapat dari orang mudha atau orang biasa nak! Ketahuilah, bahwa orang-orang pintar dengan kemampuan seperti di atas tidak selalu harus berusia tua, adakalanya masih muda, dari kalangan orang yang kelihatan remeh. Ketahuilah Nak! Jadi di sini ditegaskan bahwa ilmu yang sejati adalah milik mereka yang mampu menjalani pantangan dari berbagai godaan duniawi. Usia tua bukan jaminan seseorang lebih menguasai ilmu sejati, yakni ilmu rasa yang sudah sering disinggung pada bait-bait awal. Berkedudukan tinggi, terhormat dalam masyarakat juga bukan jaminan seseorang lebih berilmu. Malah adakalanya ilmu sejati justru dikuasai mereka yang dalam keseharian kita anggap remeh. Maka bagi yang hendak berguru harus teliti dan cermat mengenali orang-orang tersebut.

Agama Ageming Aji

SERAT WEDATAMA  PUPUH PANGKUR Kajian Wedatama (1): Agama Ageming Aji Dalam budaya Jawa ada ungkapan Agama ageming Aji. Apa maknanya? Marilah kita lihat dahulu arti menurut kata per kata. Agem artinya pakai, ageman artinya pakaian, ageming dari kata agem dan ing, artinya pakaianya atau dipakai oleh. Sedangkan aji berarti bernilai atau mulia, bisa juga berarti raja. Dua arti ini masih berkaitan karena raja biasanya di-aji-aji alias dihormati. Agama ageming aji bisa berarti agama adalah pakaian para raja, bisa juga berarti agama adalah pakaian orang mulia. Dari dua pengertian itu yang terakhir lebih universal, berlaku pada semua orang, karena ungkapan orang Jawa untuk memeluk agama adalah ngrasuk, contoh: ngrasuk agami Islam. Rasukan adalah sinonim dari ageman, yang artinya pakaian. Ungkapan agama ageming aji terdapat pada serat Wedatama, pada Pupuh Pangkur, bait pertama. Tembang selengkapnya adalah: Mingkar mingkuring angkar, akarana karenan mardisiwi.  Sinawung resmining kidung, sinuba sinukarta.  Mrih kretarta pakartining ngelmu luhung.  Kang tumrap neng tanah Jawa, agama ageming aji. Terjemahan dalam Bahasa Indonesia sebagai berikut Menjauhkan dan membelakangi sifat angkara, karena berkehendak mendidik anak. Dibingkai dalam bentuk syair dan lagu, Dihias dan diperbagus, Biar menjiwai praktik ilmu luhur Yang bagi orang di tanah Jawa Agama adalah pakaian orang mulia Kajian per kata: Mingkar (menghindar) mingkuring (membelakangi) angkara (sifat angkara), akarana (karena) karenan (hendak) mardisiwi (mendidik anak). Menjauhkan dan membelakangi sifat angkara, karena berkehendak mendidik anak. Pendidikan yang paling efektif bagi anak adalah memberikan contoh. Di sini orang tua sebelum memberi perintah untuk melakukan hal-hal yang baik dan melarang yang buruk hendaknya melakukan sendiri terlebih dahulu. Seorang ayah yang berkehendak untuk mendidik anak, maka hendaknya menghindari perilaku buruk agar kelak si anak dapat mencontoh ayahnya. Sinawung (dibingkai, disamarkan) resmining (dalam keindahan) kidung (lagu), sinuba (dihias) sinukarta (diperbagus). Dibingkai dalam keindahan lagu, dihias dan diperbagus (syairnya). Dalam mendidik anak hendaknya dilakukan dengan bahasa yang baik dan cara yang bijaksana. Sinawung resmining kidung artinya nasehat tadi dibingkai dalam bentuk lagu, seperti bait-bait serat Wedatama ini. Dalam bentuk lagu yang mendengar akan berkesan dan mengingat selalu nasihat yang disampaikan. Ini juga mengandung kiasan agar dalam memberi nasihat hendaknya dilakukan dengan perkataan baik, agar yang mendengar senang dan berkesan, bukan malah marah dan tersinggung. Sinuba sinukarta bermakna si anak harus diperlakukan dengan selayaknya dan dengan perlakuan yang baik dan mempesona. Semua itu agar si anak tidak tertekan, merasa disayang sehingga timbul kecenderungan terhadap kebaikan. Mrih (agar) kretarta (berkembang) pakartine (perbuatan) ngelmu (ilmu) luhung (luhur). Agar berkembang perbuatan yang berdasar ilmu luhur. Setelah si anak terbiasa melihat contoh dan sudah cenderung ke arah kebaikan maka ia akan mudah untuk dibiasakan melakukan perbuatan baik. Segala amalan kebaikan akan dijiwai dengan sepenuh hati. Si anak akan mengembangkan kebaikan-kebaikan pada dirinya sehingga pada akhirnya si anak akan mencapai tahap ilmu luhung. Ilmu Luhung adalah kesempurnaan ilmu menurut ajaran Jawa, yakni ilmu batin, akhlaki, bukan sekedar petuah- petuah dan juga bukan sekedar gerak tubuh, tetapi pencapaian jiwa. Ini adalah konsep sufistik dari ajaran Jawa, membiasakan diri agar kemampuan batin berkembang. Kang (yang) tumrap (bagi) ing (orang di) tanah Jawa (tanah Jawa), agama (agama) ageming (pakaian) aji (orang mulia). Yang bagi orang Jawa, agama adalah pakaian orang mulia. Nah inilah pamungkas dari seluruh rangkaian pendidikan yakni: kemuliaan jiwa. Seorang yang berjiwa mulia akan sangat pantas berbaju agama. Karena itu redaksi kalimat ini adalah agama ageming aji, yang artinya agama adalah pakaian orang mulia. Jika seseorang berbaju (ngrasuk) agama tetapi belum ada kesiapan mental-spritual maka yang terjadi adalah kemunafikan, berbaju agama tapi culas. Lain di bibir lain di hati. Justru yang seperti ini berbahaya karena akan merusak tatanan kehidupan dan memakai agama untuk kepentingan nafsunya sendiri. Di sini kemuliaan disyaratkan terlebih dulu sebelum ngrasuk agama. Ini bukan berarti orang jahat tidak boleh beragama, yang dimaksud adalah membersihkan hati terlebih dulu dari kehendak jahat atau menjalani pertobatan, agar siap menjalani perintah agama. Seperti halnya kita jika akan berpakaian seyogyanya mandi dulu agar kotoran yang menempel di tubuh tidak menodai pakaian kita.   Kajian Wedatama (2): Sepa Lir Sepah Samun Dalam bait terdahulu yang berjudul Agama Ageming Aji sudah ada sedikit gambaran tentang perlunya sikap batin yang tulus dalam ngrasuk agama bagi seseorang. Karena agama adalah pakaian orang mulia, hendaknya sebelum memakainya terlebih dulu membersihkan diri melalui pertobatan. Mengapa ini perlu? Agar ilmu luhung turun menghias (kretarta) dalam diri kita. Sebab jika tidak walau telah berusia tua, orang tidak mencapai kedewasaan, seperti diungkap dalam bait ke-2 berikut ini: Jinejer ing Wedatama, mrih tan kemba kembenganing pambudi. Mangka nadyan tuwa piku, yen tan mikani rasa, yekti sepi asepa lir sepah samu. Samangsane pasamuwan, gonyak-ganyuk nglilingsemi. Terjemahan dalam Bahasa Indonesia: Disajikan dalam Wedatama, agar tidak berkurang penuhnya usaha mempertajam akal budi. Bahwa sebenarnya walaupun sudah lanjut usia, kalau tidak mengerti rasa, benar-benar hatinya sepi tanpa rasa seperti ampas yang samar. Bila dalam pertemuan, bertingkah konyol memalukan. Kajian per kata: Jinejer (disajikan, dipertontonkan dengan cara dijajar) ing (dalam) wedatama (nama kitab ini), mrih (agar) tan (tidak) kemba (berkurang, putus asa) kembenganing (penuhnya) pambudi (usaha mempertajam akal budi). Disajikan dalam Wedatama, agar tidak berkurang penuhnya usaha mempertajam akal budi. Dalam kitab Wedatama ini disajikan petuah-petuah agar manusia tidak berkurang dalam upaya mempertajam akal budi. Kata kembeng biasanya dipakai untuk menggambarkan kandungan tanah yang jenuh air sehingga airnya meluap, contoh pada kata: sawahe wis kembeng banyu (sawahnya sudah jenuh air). Frasa kembenganing pambudi menggambarkan orang selalu penuh dengan upaya mempertajam akal budi. Perlu ditekankan di sini yang penuh adalah upayanya. Kalimat di atas tidak merujuk pada kondisi akal budi yang telah tajam, tetapi upaya yang keras untuk menajamkan akal budi. Kelak kita akan bertemu dengan ungkapan: memasah mingising budi (mengasah ketajaman akal budi). Mangka (bahwa sebenarnya, padahal) nadyan (walaupun) tuwa pikun (lanjut usia), yen tan (kalau tidak) mikani (mengerti) rasa (perasaan, rasa dalam konteks kalimat ini juga bisa berarti etika, sopan santun), yekti (benar-benar) sepi asepa (hatinya sepi tanpa rasa) lir (seperti) sepah (ampas) samun (samar, tak kelihatan). Bahwa sebenarnya walaupun sudah lanjut usia, kalau tidak mengerti rasa, benar-benar hatinya sepi tanpa rasa seperti ampas yang samar. Pengertian dari gatra di atas adalah walaupun seseorang telah lanjut usia, jika tidak pernah mengolah rasa, hatinya akan sepi dari kebijaksanaan, tidak tumbuh menjadi pribadi yang dewasa, selayaknya ampas yang tak berguna. Frasa sepi asepa berarti hatinya sepi tanpa rasa. Sepa sering dipakai untuk menyebut rasa makanan yang kurang bumbu, rasanya tak enak seperti tak dibumbui. Maknanya adalah hati yang tumpul tak mampu mengenali situasi, perasaan orang lain, tak mampu menangkap isyarat atau tanda-tanda zaman. Lir sepah samun, artinya seperti ampas yang samar, tak kelihatan, tak ada gunanya. Samangsane (jika pada waktu) pasamuwan (pertemuan), gonyak-ganyuk (bertindak ceroboh, bertingkah konyol) nglilingsemi (memalukan, membuat malu kawan atau saudara). Jika pada waktu pertemuan, bertingkah konyol memalukan. Jadi orang yang tidak terbiasa mengolah rasa tidak akan punya kepekaan terhadap lingkungan, manakala dalam pertemuan atau bertemu dengan orang banyak, atau dalam pergaulan luas seringkali bertindak ceroboh, bertingkah konyol sehingga membuat malu sanak saudara dan kawan-kawan.     Kajian Wedatama (3): Sesadon Ing Adu Manis Kita melanjutkan kajian kita tentang Serat Wedatama karya KGPAA Mangkunegara IV, pada bait ke-3, Pupuh Pangkur. Bait ini menerangkan tentang perbedaan sifat-sifat seorang yang tak berilmu rasa dan orang yang telah berilmu. Selengkapnya bait ke-3 adalah sebagai berikut. Nggugu karsaning priyangga, nora nganggo peparah lamun angling. Lumuh ingaran balilu, uger guru aleman. Nanging jamna ingkang wus waspadeng semu, sinamun ing samudana, Sesadon ing adu manis. Terjemahan tekstual dalam Bahasa Indonesia adalah sebagai berikut: Menuruti kehendak diri sendiri, tidak memakai perhitungan ketika berkata. Tidak mau dianggap bodoh, hanya mencari pujian. Tetapi (bagi) orang yang waspada terhadap gelagat. Menyamarkan dengan sikap merendah, menanggapi dengan ramah. Kajian per kata: Nggugu (menuruti) karsaning (kehendak) priyangga (diri sendiri), nora (tidak) nganggo (memakai) peparah (perhitungan, perasaan) lamun (ketika) angling (berkata). Menuruti kehendak diri sendiri, tidak memakai perhitungan ketika berkata. Orang yang tanpa ilmu rasa tadi suka memperturutkan kehendak sendiri, tidak memakai perhitungan ketika berbicara. Bahwa berbicara dengan orang banyak harus memperhitungkan perasaan dan akibat-akibat yang ditimbulkan bagi orang lain. Karena bisa saja perkataan kita menyinggung orang lain. Orang yang tidak berilmu rasa tidak peduli akan hal itu, pokoknya dia merasa sudah pantas berdasarkan pendapatnya sendiri. Lumuh (tidak mau) ingaran (dikatakan) balilu (bodoh), uger (hanya) guru aleman (mencari pujian). Tidak mau dikatakan bodoh, hanya mencari pujian. Gatra ini juga masih membicarakan watak orang tak berilmu rasa tadi. Biasanya dia tidak mau dikatakan bodoh, sehingga cenderung banyak bicara supaya kelihatan pintar. Gemar akan pujian sehingga kadang-kadang bicaranya terlalu ngawur, dan jauh dari kenyataan, alias membesar-besarkan sesuatu. Nanging (tetapi) jamna (manusia) ingkang (yang) wus (sudah) waspadeng (dari kata waspada ing, artinya waspada akan) semu (gelagat). Tetapi (bagi) orang yang sudah waspada terhadap gelagat. Pada gatra ini tinjauan beralih pada orang-orang di sekitar si bodoh yang tak mengerti ilmu rasa tadi. Orang-orang di sekitarnya yang sudah menguasai ilmu rasa melihat gelagat kebodohan dari orang yang banyak omong tadi. Maka dia bersikap selayaknya orang pandai seperti pada gatra berikut. Sinamun (disamarkan) ing samudana (dengan sikap berpura-pura, maksudnya merendah, atau mengiyakan saja) sesadon (ditanggapi) ingadu (dengan tatap muka) manis (raut muka manis, ramah). Menyamarkan dengan sikap merendah, menanggapi dengan ramah. Bagi seorang yang telah menguasai ilmu rasa jika bertemu dengan orang bodoh yang banyak bicara, dia tak mau membantah dan larut dalam perdebatan, tetapi justru ngemong, mengiyakan saja dan tetap menanggapi dengan raut muka yang ramah. Apa yang diuraikan dalam tembang di atas masih sering kita temui di jalam modern ini. Acapkali kita menemukan orang yang sebenarnya tidak tahu tentang masalah kehidupan tetapi banyak omong hanya agar dikira pintar. Mereka rela membual dan menyelisihi banyak orang demi agar mendapat pujian semata-mata, agar dikira hebat, supaya dianggap mumpuni dan lebih suci dari yang lain. Terhadap orang yang berperilaku seperti di atas, seseorang yang telah matang dalam berfikir dan menguasai ilmu rasa tidak akan larut menanggapi, malah sengaja membiarkan saja dengan tetap bergaul seperti biasa, tanpa kehilangan sikap ramah. Itulah orang-orang yang telah paripurna dalam menjiwai rasa sejati, sejatining rasa.   Kajian Wedatama (4): Si Wasis Waskitha Ngalah Kita lanjutkan kajian tentang Serat Wedatama karya KGPAA Mangkunegara IV, kali imi sampai pada bait ke-4, bab Pangkur. Bait ini masih menerangkan tentang perbedaan sifat-sifat seorang yang tak berilmu rasa dan orang yang sempurna ilmunya. Selengkapnya bait ke-4 adalah sebagai berikut: Si pengung nora nglegewa, sansayarda denira cacariwis. Angandhar-andhar angendhukur, kandhane nora kaprah, saya elok alangka longkanganipun. Si wasis waskhita ngalah, ngalingi marang si pingging. Terjemahan secara tekstual ke dalam Bahasa Indonesia: Si bodoh tidak menyadari, semakin bertambah-tambah dia banyak omong. Melantur kemana-mana, bicaranya tidak masuk akal, makin aneh tidak ada selanya. Si pintar memahami dan mengalah, menutupi (kelakuan) si bodoh. Kajian per kata: Si pengung (si bodoh) nora (tidak) nglegewa (menyadari), sansayarda (bertambah-tambah) denira (dia lakukan) cacariwis (kata majemuk ceriwis-ceriwis, banyak omong). Si bodoh tidak menyadari, semakin bertambah-tambah banyak omong. Bait ini merupakan sambungan dari bait ke-3, ketika si pintar bersikap ngemong dan menanggapi dengan ramah semua bualannya, si bodoh justru semakin menjadi-jadi. Ini berarti si bodoh tak peka terhadap sikap orang lain kepadanya. Dikiranya sikap yang ramah tersebut sebagai pembenaran atas ulahnya, maka dia semakin tidak karuan bicaranya. Angandhar-andhar (melantur kemana-kemana) angendhukur (angan yang tinggi-tinggi, serba wah), kandhane (bicaranya) nora (tidak) kaprah (logis, lazim), saya elok (makin bicara hal yang mengagumkan) alangka (tidak ada) longkangipun (selanya). Melantur kemana-mana, bicaranya tidak lazim, makin aneh tidak ada selanya. Si bodoh semakin lama semakin panjang bicaranya, angan-angannya yang tinggi semakin tumpah, mengatakan yang serba wah. Bicaranya tidak lazim, yang sebenarnya lawan bicaranya pun mengetahui, namun dia tetap nekad bicara melantur. Semakin bicara tentang hal yang mengagumkan dan makin intens, tidak ada jeda, bicara terus. Dalam bahasa jawa disebut ngethuprus. Si wasis (si pintar, maksudnya lawan bicara si bodoh tadi) waskhita (memahami, memaklumi) ngalah (mengalah), ngalingi (menutupi) marang (terhadap) si pingging (si pengung, si bodoh). Si pintar memahami dan mengalah, menutupi (kelakuan) si bodoh. Gatra ini menggambarkan sikap orang pintar yang berhadapan dengan orang bodoh cerewet tadi. Si pintar tidak lantas mendebat -karena juga tak ada gunanya-, tidak hanya ngemong dengan sikap ramah tetapi juga sebisa-bisanya menutupi aib lawan bicaranya. Jika mungkin membelokkan bicara agar si bodoh tidak semakin menjadi-jadi bualannya, sehingga mempermalukan dirinya sendiri. Si pintar tidak ikut terpancing pameran ilmu, sebuah tindakan yang justru mendegradasi kepintarannya. Inilah watak yang utama dari orang-orang yang sudah pintar dalam ilmu rasa, jika mendapati seseorang bicara melantur harus menutupi dengan berbagai upaya, tidak malah menyebarkan kebodohan orang lain atau justru menviralkan di medsos.   Kajian Wedatama (5): Ngelmu Kang Nyata Kita lanjutkan kajian tentang Serat Wedatama karya KGPAA Mangkunegara IV, kali ini sampai pada bait ke-5, yang masih termasuk dalam Pupuh Pangkur. Bait ini masih menerangkan sifat-sifat orang yang telah menguasai ilmu rasa, perilakunya sehari-hari dan perbedaannya dengan orang bodoh. Selengkapnya bait ke-5 adalah sebagai berikut: Mangkono ngelmu kang nyata, sanyatane mung weh reseping ati.  Bungah ingaranan cubluk, sukeng tyas yen denina. Nora kaya si punggung anggung gumrunggung, ugungan sadina-dina. Aja mangkono wong urip. Terjemahan tekstual ke dalam Bahasa Indeonesia: Demikianlah ilmu yang sejati, Sebenarnya hanya menyenangkan hati. Gembira bila dianggap bodoh, Senang hati bila dihina, Tidak seperti si dungu yang sombong dan banyak suara, ingin dipuja setiap hari. Jangan demikianlah hidup dalam pergaulan. Kajian kata perkata: Mangkono (demikianlah) ngelmu (ilmu) kang (yang) nyata (sejati), sanyatane (sebenarnya) mung (hanya) weh (memberi) reseping (menyenangkan) ati (hati). Demikianlah ilmu yang sejati, sebenarnya hanya menyenangkan hati. Demikianlah ilmu sejati seperti yang diuraikan pada bait-bait ke-1 sampai ke-4 terdahulu. Ilmu sejati ini hanya memberi rasa menyenangkan hati, hati menjadi tenang, tanpa bergolak, tanpa berbolak-balik, pertanda hati sudah mantap dalam keyakinan. Tidak mudah larut dalam riak-riak kehidupan (ombyaking swasana). Ini adalah gambaran dari kesempurnaan hati seperti yang sering kita minta dalam do’a setiap hari, tsabit qalbii ‘alaa diinika! Bungah (gembira) ingaranan (bila dianggap) cubluk (bodoh), sukeng (senang) tyas (hati) yen (jika) denina (dihina). Gembira bila dianggap bodoh, senang hati bila dihina Hati yang telah mantap tadi tidak terpengaruh oleh pendapat orang lain. Dia takkan menjadi sedih bila dianggap bodoh dan bahkan senang hati menerimanya. Kalimat “suka bila dianggap bodoh, senang hati jika dihina” tidak berarti bahwa dia sengaja mencari penghinaan, tetapi sesuai konteks kalimat di atas lebih bermakna anggapan bodoh dan penghinaan tidak akan membuat hati menjadi sedih. Justru dia akan gembira karena kesempatan memperbaiki diri lebih mudah, lebih termotivasi untuk menjadi lebih baik lagi. Sifat-sifat tersebut di atas hanya mungkin menjadi milik orang-orang yang telah mikani rasa, mengetahui rahasia hati, orang yang telah melatih ilmu dengan praktik amalan untuk memantapkan hati pada satu keyakinan. Sehingga tidak mudah goyah oleh pendapat atau bujuk rayu orang lain. Nora (tidak) kaya (seperti) si punggung (si bodoh) anggung (selalu) gumrunggung (banyak bersuara), ugungan (mencari pujian) sadina-dina (sehari-hari). Aja (jangan) mangkono (begitu) wong (orang) urip (hidup). Tidak seperti si dungu yang sombong dan banyak suara,ingin dipuja setiap hari. Jangan demikianlah orang hidup (dalam pergaulan). Pada gatra ini kembali digambarkan watak orang bodoh yang suka berbicara. Gumrunggung secara harfiah berarti banyak bersuara tak jelas, seperti suara tawon besar berdengung tak karuan, maknanya si bodoh walau banyak bicara namun tidak ada pengertian yang di sampaikan. Karena memang orang bodoh tidak mempunyai ilmu yang cukup, hanya bicara ngalor-ngidul diulang-ulang saja. Watak ini sangat tercela dalam pergaulan. Oleh karena dalam tembang ini dilarang dalam gatra terakhir, aja mangkono wong urip (jangan begitu orang hidup dalam pergaulan). Keseluruhan bait ke-5 ini mengandung anjuran untuk bersikap moderat dalam pergaulan. Tidak menonjolkan diri dan tidak gampang tersinggung oleh cacian, hinaan orang lain. Juga tidak gampang terseret dalam gaya bicara orang lain. Menahan diri dan tetap istiqomah dalam keyakinan yang mantap. Inilah ilmu rasa sejati yang menenteramkan hati.