Senin, 12 November 2018

Dumadya Angratoni

Kajian Wedatama (18): Dumadya Angratoni Bait ini menceritakan hubungan antara Panembahan Senopati dan Ratu Kidul. Jauh dari kesan bahwa Ratu Kidul adalah penguasa alam ghaib yang juga berkuasa atas nasib manusia, di dalam bait ini justru dikisahkan bahwa Ratu Kidul tunduk di bawah wibawa Raja Mataram. Selengkapnya bait ke-18, Pupuh Sinom dari Serat Wedatama adalah sebagai berikut. Wikan wengkoning samudra, kederan wus den ideri. Kinemat kamot ing driya. Rinegan sagegem dadi, dumadya angratoni. Nenggih kanjeng ratu kidul, ndedel nggayuh nggegana. Umara marak maripih. Sor prabawa lan wong agung Ngeksiganda. Terjemahan dalam Bahasa Indonesia: Mengetahui luasnya wilayah samudera, Seluruhnya sudah dilalui, Dirasakan dan diresapi dalam sanubari. Dimuat dalam genggaman, jadilah (laut itu) dikuasai. Tersebutlah kanjeng Ratu Kidul, melesat menggapai angkasa. Datang menghadap dengan hormat. Kalah wibawa dengan orang besar dari Mataram. Kajian per kata: Wikan (tahu, mengetahui) wengkoning (keliling wilayah) samudra (samudera), kederan (kelilingnya) wus (sudah) den (di) ideri (dilewati dengan tuntas). Mengetahui luasnya wilayah samudera, sudah tuntas dikelilingi seluruh wilayahnya. Ini berkaitan dengan tempat bertapa Panembahan Senopati yang berada di pinggir laut. Bahwa beliau sudah mengetahui wilayah luasnya samudera karena sudah berkeliling sampai tuntas, tak ada sejengkal pun yang terlewati. Sekeliling samudera sudah dijelajahi. Kinemat (dirasakan sungguh-sungguh) kamot (dimuat ) ing (di dalam) driya (hati). Sudah dikuasai isinya, dimasukkan dalam hati. Ini berkaitan dengan potensi lautan tersebut. Hal apa saja yang dapat dilakukan di lautan tersebut. Apakah dibudidayakan potensi penghasil ikannya, atau dikembangkan potensi lainnya. Rinegan (dinilai, dikerta aji) sagegem (satu genggaman) dadi (muat), dumadya (jadilah) angratoni (menjadi ratu/raja). Ditaksir muat dalam genggaman, jadilah laut itu dengan segala isinya dapat dikuasai. Setelah dinilai, disurvey dengan berkeliling tadi, maka digenggamlah, artinya siap dieksplorasi. Sudah disiapkan rencana eksekusi untuk menggali potensi kelautan tersebut. Angratoni berarti menjadi raja di laut itu. Dalam bahasa jawa ratu bisa bersinonim dengan kata raja, tidak terkait dengan gender. Contohnya pada paribasan, adoh ratu cedhak watu, yang bermakna jauh dari raja dekat dengan batu, kiasan untuk orang di pedalaman yang tidak mengenal etika kenegaraan. Nenggih (tersebutlah) kanjeng (yang berdiri) ratu kidul (sebagai ratu di selatan), ndedel (melesat) nggayuh (mencapai) nggegana (mengangkasa, mengudara). Tersebutlah yang berdiri sebagai ratu di selatan (Ratu Kidul), melesat menggapai angkasa. Ini merujuk ke tokoh ghaib yang dipercaya menguasai laut selatan dan sering dipanggil sebagai Ratu Kidul. Tersebutlah ratu Kidul, yang berada di dalam laut selatan, Samudera Indonesia. Dari tempatnya di dalam lautan, melesat menggapai angkasa di atas permukaan laut, setelah melihat sepak terjang Panembahan Senopati tersebut. Umara (datang) marak (menghadap) maripih (dengan hormat). Datang menghadap dengan sikap hormat. Maripih adalah sikap hormat, gestur menghormati, sebagai pertanda bahwa yang dihadapi adalah orang besar yang berwibawa. Jadi gatra ini menunjukkan bahwa Ratu Kidul datang menghormati Panembahan Senopati. Sor (lebih rendah) prabawa (wibawa) lan (dengan) wong (orang) agung (besar) Ngeksiganda (Mataram). Kalah wibawa dengan orang besar dari Mataram. Mengapa Ratu Kidul mendatangi? Karena memang kalah wibawa, merasa dirinya lebih rendah derajatnya dibanding orang besar dari Mataram itu. Bait ke-18 ini meluruskan mitos yang selama ini beredar bahwa Panembahan Senopati bertapa di pinggir Samudera adalah untuk minta restu pada Ratu Kidul agar didukung menjadi raja. Yang benar menurut bait di atas adalah memang Ratu Kidul yang datang karena kewibawaan Senopati yang derajat spiritualnya sudah melampaui Ratu Kidul sendiri. Catatan tambahan: Bahwa cerita tentang Ratu Kidul ini sudah beredar di kalangan masyarakat sampai ke lapisan bawah. Sebagian orang memang menganggap Ratu Kidul sedemikian berkuasa sehingga mampu mengubah nasib seseorang. Sebagian lagi menganggap Ratu Kidul adalah mitos yang sengaja dihembuskan agar Panembahan Senopati mendapat legitimasi spiritual untuk menjadi raja Mataram. Pendapat yang masuk akal adalah pendapat terakhir, dari seorang pakar filsafat asal Jogja. Bahwa cerita tentang Ratu Kidul adalah simbolisme menyatunya Raja Mataram dengan alam. Kelak ada cerita bahwa raja-raja Mataram harus menikahi Ratu Kidul. Ini juga simbolisme bahwa penguasaan Mataram terhadap alam khususnya bumi tidak boleh eksploitatif, tetapi relasinya harus mirip orang menikah, mengasihi (alam) dan memberdayakan(nya). Saya cukupkan tambahan keterangan ini, kelak semoga dapat mengkaji lebih jauh. Karena pokok bahasan kita kali ini hanya soal makna gramatikal Werat Wedatama, tak bijak jika melebar ke mana-mana. Kajian Wedatama (19): Teken Janggut Suku Jaja Bait ke-19, Serat Wedatama, Pupuh Sinom. Dhahat denira aminta Sinupeket pangkat kanthi, Jroning alam palimunan, Ing pasaban saben sepi, Sumanggen anyanggemi, Ing karsa kang wus tinamtu, Pamrihe amung aminta, Supangate teki teki, Nora ketang teken janggut suku jaja. Terjemahan dalam Bahasa Indonesia: Dengan sangat dirinya meminta, Agar akrab didudukkan sebagai pengikut, Di dalam alam ghaib, Di kala mengembara di alam sepi, Siap menyanggupi, Kehendak yang sudah ditentukan, Harapannya hanya meminta Restu dalam bertapa, Walau harus bersusah payah jalannya. Kajian per kata: Dhahat (Betul-betul, dengan sangat) denira (dirinya) aminta (meminta), sinupeket (didekatkan menjadi lengket, akrab) pangkat (kedudukan, diberi pangkat, diikutkan) kanthi (dengan).Ratu Kidul meminta dengan sangat, didekatkan agar akrab dengan diberi kedudukan Karena sudah kalah wibawa dengan Panembahan Senopati, Ratu Kidul datang menghadap dengan hormat dan meminta dengan sangat agar diberi kedudukan sebagai pengikut, tak lain agar dapat membantu sesuai dengan kemampuannya. Jroning (di dalam) alam (alam) palimunan (tak kasat mata,ghaib), ing (di) pasaban (pengembaraan) saben (setiap waktu, setiap tempat) sepi (sepi). Di alam tak kasat mata, alam ghaib, dalam pengembaraan di alam sepi. Yakni, sebagai penghuni yang berkuasa di alam ghaib, dikala mengembara di alam sepi. Maksud dari gatra ini adalah apabila Panembahan Senopati berkelana di alam sepi, maka sudah ada pengikutnya yang akan setia menemani, yakni Ratu Kidul. Sumanggen (bersedia) anyanggemi (menyanggupkan diri). Ing (pada) karsa (kehendak) kang (yang) wus (sudah) tinamtu (ditentukan). Bersedia, menyanggupkan diri menerima perintah, pada kehendak (sang raja) yang telah ditentukan. Ratu Kidul bersedia, menyanggupkan diri pada semua kehendak dan perintah sang raja yang telah ditentukan baginya. Dia takkan membantah atau mengabaikan perintah itu. Pamrihe (Yang diharapkan) amung (hanya) aminta (meminta), supangate (restu, perkenan) teki teki (bertapa). Yang diharapkan hanya diijinkan meminta, restu dalam bertapa. Adapun alasan dari Ratu Kidul dalam menyanggupi tersebut adalah agar dia dijadikan sebagai pengikut dan direstui dalam bertapa. Sudah umum menjadi kepercayaan masyarakat Jawa bahwa Ratu Kidul adalah seorang bidadari yang tidak diterima naik ke kahyangan akibat telah berbuat salah. Oleh karena itu dia kemudian bertapa di laut selatan. Ketika melihat cara bertapa Panembahan Senopati, tampaknya dia terpesona dengan cara beliau bertapa. Demi agar pertapaannya berhasil Ratu Kidul hendak berguru atau mencontoh pertapaan sang raja. Inilah alasan dari ketundukan Ratu Kidul pada raja Mataram itu. Nora ketang (walau) teken (bertongkat) janggut (dagu) suku (kaki) jaja (dada). Walau bertongkat dagu berkaki dada. Ini adalah peribahasa Jawa, ateken janggut asuku jaja. Arti tekstualnya, memakai dagu sebagai tongkat dan memakai dada sebagai kaki dalam berjalan, merangkak atau ngesot. Maksudnya adalah usaha yang keras dan bersusah payah sampai batas kemampuan. Di sini Ratu Kidul menyatakan kesanggupan untuk menerima perintah dari raja Mataram agar mendapat restu dalam bertapa. Ratu Kidul hendak meneladani pertapaan raja Mataram itu, walau pertapaannya itu nanti akan sangat sulit baginya. Dia (Ratu Kidul) bertekad melaksanakannya walau dengan susah payah, ibarat bertongkat dadu berkaki dada. Kajian Wedatama (20): Teladan Abadi Bait ke-19, Pupuh Sinom, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV: Prajanjine abipraya, Saturun turuning wuri. Mangkono trahing ngawirya. Yen amasah mesu bedi, dumadya glis dumugi. Iya ing sakarsanipun, wong agung Ngeksiganda. Nugrahane prapteng mangkin, Trah tumerah dharahe padha wibawa. Terjemahan dalam Bahasa Indonesia: Perjanjian yang bertujuan baik. Sampai anak cucu di kemudian hari. Begitulah sikap keturunan orang luhur. Bila mempertajam hati, akhirnya segera kesampaian. Apa yag dimaksud, orang besar dari Mataram. Anugrahnya (lestari) sampai sekarang, seluruh keturunan berwibawa. Kajian per kata: Prajanjine (perjanjiannya) abipraya (rencana, tujuan). Perjanjiannya bertujuan baik. Tampaknya bait ini masih mengacu pada bait sebelumnya, tentang permintaan dari Ratu Kidul agar direkrut menjadi pengikut Senopati. Sungguh ini adalah sebuah ketegasan dan keteguhan mental yang luar biasa dari Panembahan Senopati. Bila ini terjadi pada orang lain mungkin akan menyerah pada pesona ratu lelembut itu. Tapi dengan tegas Panembahan Senopati mendudukkan Ratu Kidul hanya sebagai pengikut yang membantu cita-citanya memakmurkan kerajaan Mataram. Saturun (sampai turun) turuning (temurun) wuri (nanti). Sampai turun-temurun, ke anak- cucu di kemudian hari. Langkah yang diambil Senopati sangat menguntungkan bagi keturunannya di kemudian hari. Sikapnya akan menjadi preseden tentang bagaimana hubungan antara manusia dan alam tak kasat mata. Kelak ada cerita bahwa raja-raja sepeninggal Senopati akan mewarisi pernikahan dengan Ratu Kidul. Tentu ini adalah simbolisme dari kekalnya relasi yang telah dirintis oleh Panembahan Senopati. Mangkono (begitulah) trahing (keturunan) ngawirya (orang perwira, ksatria, luhur). Begitulah sikap keturunan orang luhur. Orang-orang yang berjiwa luhur meninggalkan keteladanan yang diwariskan kepada anak cucu, sehingga akan mudahlah bagi penerusnya nanti untuk melakukan hal yang sama. Sikap keperwiraan yang ditunjukkan akan menjadi teladan bagi anak cucu, sebagaimana Senopati juga hanya mewarisi sikap serupa dari para leluhurnya yang sudah terkenal keperwiraannya. Yen (kalau) amasah (mengasah) mesu (menajamkan) budi (akal budi), dumadya (yang diharap) glis (segera) dumugi (kesampaian). Bila berusaha mengasah ketajaman akal budi, kepekaan hat, yang diharap bisa segera kesampaian. Karena sudah ada teladan dari Panembahan Senopati itulah, anak cucunya nanti tidak akan bersusah payah dalam upaya mempertajam akal budi, melatih kepekaan hati melalui laku tirakat, menahan hawa nafsu, merenung di tempat sepi, dll. Yang demikian karena sudah ada teladan dari leluhur mereka. Iya (iya ini) ing sakarsanipun (yang dikehendaki), wong (orang) agung (besar) Ngeksiganda (Mataram). Yang demikian inilah yang dikehendai, orang besar dari Mataram. Apa yang dilakukan oleh Panembahan Senopati di atas, yang telah bersusah payah bertapa dan menahan hawa nafsu, serta tak tergoda pesona alam lelembut, itu semua demi agar anak cucu kelak mudah dalam menjalankan pemerintahan di Mataram. Itulah yang dikehendaki oleh orang besar dari Mataram itu. Nugrahane (anugrahnya) prapteng (datang) mangkin (hingga nanti). Anugrahnya masih lestari sampai sekarang. Usaha keras Panembahan Senopati buahnya masih berbekas sampai sekarang.Tak hilang sepeninggalnya, karena anak cucu meneruskan langkah-langkah bajiknya. Trah (keturunan) tumerah (semuanya) dharahe (darahnya) padha (semua) wibawa (berwibawa). Seluruh keturunannya berwibawa. Seluruh keturunan Panembahan Senopati membawa dharah orang besar, tak mengherankan jika sampai kini mereka semua menjadi orang yang berwibawa. Sebuah bibit unggul akan menumbuhkan pohon yang kuat dan elok. Kajian Wedatama (21): Tinelad Sakuwasane Bait ke-21, Pupuh Sinom, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV: Ambawani tanah Jawa, kang padha jumeneng aji. Satriya dibya sumbaga. Tan lyan trahing Senopati, Pan iku pantes ugi, tinelad labetanipun, ing sakuwasanira, Enake lan jaman mangkin, Sayektine tan bisa ngepleki kuna. Terjemahan Bahasa Indonesia: Menguasai tanah Jawa, yang menjadi raja. Satria sakti terkenal. Tidak lain keturunan Senopati. Hal ini pantas juga, untuk diteladani, sesuai kemampuan. Disesuaikan dengan jaman sekarang, Sebenarnya tak bisa persis sama dengan jaman dulu. Kajian per kata: Bait ini bercerita tentang anak keturunan Senopati yang menjadi penguasa di tanah Jawa sepeninggalnya. Seperti kita ketahui bahwa setelah Senopati wafat kerajaan Mataram di tangan para anak-cucunya mengalami dinamika yang cukup pelik. Kemudian di masa ditulisnya kitab ini telah terpecah menjadi 4 bagian kerajaan, yakni Yogyakarta, Surakarta, Mangkunegaran dan Pakualaman. Ambawani (menguasai) tanah Jawa, kang (yang) padha (pada, pada berkuasa) jumeneng (berdiri sebagai) aji (raja). Menguasai tanah Jawa, yang pada berdiri sebagai raja. Para penguasa tanah Jawa, yang memegang jabatan raja-raja di 4 kerajaan itu, seperti Pangeran Mangkubumi, Pangeran Sambernyawa, Raja Pakubuwana IV, dan banyak yang lain. Satriya (ksatria) dibya (sakti, perwira) sumbaga (termasyhur, terkenal). Ksatria yang sakti, panglima perang yang tangguh dan cerdik, yang terkenal di negeri ini. Para ksatria-ksatria, panglima perang yang tangguh, Dipanegara, Panembahan Rama, Pangeran Singosari dan ksatria terkenal lainnya yang mewarnai dinamika ketatanegaraan di empat kerajaan tersebut. Tan (tidak) lyan (lain) trahing (keturunan dari) Senopati (Panembahan Senopati). Tak lain adalah keturunan Panembahan Senopati. Tidak lain adalah keturunan Panembahan Senopati. Setelah sekian abad berkuasa di Tanah Jawa keturunan Panembahan Senopati amatlah banyak. Dari sekian banyaknya itu lahirlah orang-orang besar yang berprestasi, yang berkemampuan lebih dari orang kebanyakan. Pan (hal) iku (itu) pantes (pantas) ugi (juga), tinelad (diteladani) labetanipun (jasa-jasanya), ing sakuwasanira. Hal itu juga pantas, untuk diteladani jasa-jasanya, sesuai kemampuan masing-masing Para raja-raja dan ksatria-ksatria itu juga telah melakukan banyak hal untuk kehidupan masyarakat. Banyak jasa-jasa mereka untuk kemanusiaan, walau tentu ada juga kelemahannya, mereka pantas dijadikan teladan. Maka hendaklah meneladani perbuatan dan sikap hidup mereka berbangsa dan bermasyarakat sesuai kemampuan masing-masing. Enake (enaknya, dibuat enak) lan (sesuai) jaman (jaman) mangkin (sekarang). Disesuaikan dengan keadaan jaman sekarang. Dalam meneladani para leluhur tersebut, hendaknya disesuaikan dengan keadaan zaman sekarang. Di ambil pesan moralnya dan diterapkan sesuai dengan kondisi dan situasi zaman kini. Sayektine (sebenarnya) tan (tidak) bisa (bisa) ngepleki (persis menyerupai) kuna (jaman dulu). Sebenarnya tidak bisa persis menyerupai jaman dulu. Di dalam mencontoh teladan orang-orang dulu sebenarnya tidak dapat persis serupa. Tetapi disesuaikan tantangan jaman dan permasalahan yang dihadapi. Jika dahulu semangat Panembahan Senopati dalam mencegah hawa nafsu sampai bersusah payah, maka hendaklah generasi sekarang mempunyai tekad yang sama terhadap godaan korupsi misalnya. Jika dahulu Pangeran Mangkubumi dan Pangeran Sambernyawa gigih menentang pengaruh Belanda yang berusaha memperboneka kerajaan Surakarta, maka hendaklah sekarang para perwira-perwira kusumaning negeri juga punya semangat yang sama dalam menentang hegemoni asing dalam kehidupan masyarakat, baik lewat politik, keagamaan atau ekonomi. Yang jelas bentuk-bentuk sumbangsih terhadap kemanusiaan takkan pernah serupa, tetapi sikap kita, semangat kita, kegigihan usaha kita hendaklah sama dengan para pendahulu kita yang telah meninggalkan keteladanan yang menakjubkan.  

Tidak ada komentar: