Gunungtugel peristiwa sebuah awal peradaban lama,yang telah mengawali peradaban baru sebagai pondasi awal terwujadnya ri Bhumi Mataram.Hal yang demikian diperoleh dari winarah para Sepuh dari jaman ke jaman.Diantaranya winarah yang diperoleh mbah Datrim dari mbah Datuk Kahfi.winarah yang di maksut adalah latar belakang Gunungtugel.Demikian juga winarah dari mbah Bakri dari eyang Muhsin.Eyang Muhsin dari Syeh Abdurahman,dari Ki Buyut Manguneng.
Senin, 12 November 2018
Wenganing Alam Kinaot
Kajian Wedatama (60): Wenganing Alam Kinaot
Pada atau bait ke-60, Pupuh Gambuh, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV:
Mring jatining pandulu,
Panduk ing ndom dedalan satuhu, Lamun lugu legutaning reh maligi, Lageyane tumalawung, Wenganing alam kinaot.
Terjemahan dalam bahasa Indonesia:
Pada pandangan yang sebenarnya,
Mencapai pedoman jalan yang benar,
Jika sungguh-sungguh biasannya (ada pertanda) khusus, Ciri khasnya keadaan haru bercampur bahagia. Terbukanya alam yang lain.
Kajian per kata:
Mring (kepada) jatining (sejatinya) pandulu (pandangan). Pada pandangan yang sebenarnya.
Orang yang berhasil dalam sembah kalbu akan terbuka kepada pandangan yang sebenarnya, tentang hakekat kehidupan. Itu terjadi karena sembah kalbu membuat seseorang mampu berpikir jernih akibat tidak terkontaminasi hawa nafsu. Karena sudah dibiasakan untuk sekedar memenuhi kebutuhan saja, tanpa mengumbar keinginan yang tak perlu.
Sering terjadi dan acapkali kita lihat bahwa meskipun seseorang terdidik dan pandai tetapi sering blawur (rabun) dalam melihat kenyataan. Boleh jadi hal tersebut karena yang bersangkutan menyimpan pamrih dalam hati. Cobalah perhatikan hari-hari ketika menjelang pilkada, pasti ada satu-dua orang pintar yang berpendapat minor, tak masuk akal, dan kadang terlalu vulgar sikap ngawurnya, hanya karena dia mendukung salah satu cakada.
Dalam kazanah budaya Jawa ada ungkapan melik nggendhong lali, artinya ketika seseorang menyimpan hasrat memiliki (entah apapun) dalam hatinya, pikirannya menjadi khilaf. Oleh karena itu amat sangat penting membersihkan diri dari hasrat-hasrat dalam hati.
Panduk (terkena, menerima, mencapai) ing (pada) ndom (pandom, pedoman) dedalan (jalan) satuhu (yang benar). Mencapai pedoman jalan yang benar.
Karena pandangannya lebih awas dalam melihat hakekat kehidupan, maka akan tercapai pedoman perikehidupan yang sebenarnya. Ibarat orang yang berjalan dan mampu melihat rambu-rambu di sepanjang jalan, maka dia pasti mengetahui arah yang benar dan takkan tersesat.
Lamun (jika) lugu (sungguh-sungguh) legutaning (biasanya) reh (hal) maligi (khusus). Jika bersungguh-sungguh biasanya (ada pertanda) khusus.
Jika bersungguh-sungguh dalam melakukan sembah kalbu maka akan ada pertanda khusus sebagai isyarat bahwa jalan yang ditempuh sudah benar.
Manusia ketika hidup di dunia ini memang hanya mampu melihat tanda-tanda kekuasaan Allah SWT. Tanda-tanda itu bisa kuat bisa lemah, tergantung pada kemampuan spiritual yang bersangkutan. Oleh karena itu sudah seharusnya manusia selalu berusaha mempertajam kepekaan dalam mengenali tanda-tanda tersebut melalui latihan-latihan. Dalam budaya Jawa ada istilah memasah mingising budi, mengasah ketajaman akal-budi. Sembah kalbu adalah salah satunya.
Lageyane (ciri khasnya, sifatnya) tumalawung (haru bercampur bahagia, seperti melihat kebesaran Tuhan). Ciri khasnya keadaan haru bercampur bahagia.
Ciri khasnya adalah munculnya perasaan haru campur bahagia. Ini biasa terjadi jika kita sedang kusyu’ berdoa, mendekatkan diri kepada Tuhan (biasanya pada saat shalat), ada rasa haru di hati, ada rasa lega, plong seperti beban yang hilang diangkat. Ada rasa tunduk dan khidmat seolah sudah menghadap Allah Yang Maha Besar, mengadukan segala masalah, memohon pertolongan, memohon kekuatan, dan rasanya plong, lega sekali.
Wenganing (terbukanya) alam (alam) kinaot (terpaut, yang lain). Terbukanya alam yang lain.
Ketika sampai pada keadaan yang demikian itu maka terbukalah alam lain, alam yang lebih tinggi dari alam materi yang didalamnya kita juga hidup sekarang ini. Karena sesungguhnya kita sekarang tidak hidup di satu alam saja, melainkan berlapis-lapis. Hal itu sudah kami jelaskan pada saat membahas triloka pada bait ke-34, Aywa Kongsi Mbabar Angkara.
Kajian Wedatama (61): Ilanging Rasa Tumlawung
Bait ke-61, Pupuh Gambuh, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV:
Yen wis kambah kadyeku.
Sarat sareh saniskareng laku. Kalakone saka eneng ening eling. Ilanging rasa tumlawung.
Kono adiling Hyang Manon.
Terjemahan dalam bahasa Indonesia:
Bila sudah mencapai keadaan itu.
Saratnya sabar segala tindak tanduk. Terlaksananya dengan cara tenang syahdu ingat. Hilangnya rasa haru campur bahagia.
Itulah Maha adilnya Tuhan Yang Maha Melihat.
Kajian per kata:
Yen (Bila) wis (sudah) kambah (mencapai) kadyeku (keadaan itu), sarat (syarat) sareh (sabar) saniskareng (saniskara ing, segala) laku (tindak-tanduk). Bila sudah mencapai keadaan itu, saratnya sabar segala tindak tanduk.
Bila sudah mencapai keadaan itu, yakni terbukanya alam lain yang lebih tinggi (bait ke-60), maka harus dijaga agar keadaan itu secara terus menerus hadir dalam kalbu.
Apapun pencapaian spiritual manusia apabila tak dijaga bisa hilang sewaktu-waktu, maka harus selalu dipertahankan agar tidak kembali melorot derajatnya. Dalam sembah kalbu yang selalu harus dijaga adalah sabar dalam segala tindak-tanduk, sehari-hari, selama-lamanya.
Kalakone (terlaksananya) saka (dengan cara) eneng (tenang) ening (syahdu) eling (ingat). Terlaksananya dengan cara tenang syahdu ingat.
Terlaksananya kontinuitas sembah kalbu adalah dengan cara eneng, ening dan eling. Eneng adalah keadaan diam, yang dimaksud adalah diamnya pikiran dari segala gerak-gerik keinginan. Dalam eneng pikiran-pikiran kotor akan mengendap, sehingga pikiran menjadi jernih, khidmat dan dipenuhi keagungan (syahdu).
Ening adalah jernihnya pikiran karena kotorannya telah mengendap. Karena telah mengendap, maka pikiran yang telah jernih tadi akan mampu mengingat (eling) akan diri pra- kreasi. Ini adalah proses mengingat fitrah manusia pada masa sebelum penciptaan, ketika kita pernah berkata: “Aku bersaksi!” terhadap keagungan Allah. Jadi eling adalah mengingat (zikir) akan posisi azali kita di hadapan Allah SWT.
Eneng, ening, eling adalah proses kesadaran yang selalu harus dijaga agar selalu menjadi watak sehari-hari, karena apabila hilang sungguh akan merugikan sendiri. Mengapa?
Ilanging (hilangnya) rasa (perasaan) tumlawung (haru campur bahagia). Hilangnya rasa haru campur bahagia.
Hilangnya eneng, ening, eling karena lalai tidak mengupayakannya terus-menerus akan berakibat hilangnya perasaan haru bercampur bahagia (tumlawung) yang selalau dirasakan manakala sedang shalat. Ini adalah kemunduran karena shalatnya kemudian menjadi semata- mata sembah raga saja.
Kono (di situ) adiling (adilnya) Hyang (Yang) Manon (Maha Melihat). Itulah Maha Adilnya Tuhan Yang Maha Melihat.
Di situlah keadilan Allah Yang Maha Melihat. Dia senantiasa memantau keadaan hamba- hambanya, tak mengabaikan walau hanya sebentar. Kepada yang telah bersungguh-sungguh berusaha dia akan memberikan rahmatNya, kepada yang lalai Dia akan mencabutnya kembali. Dia menangani segala urusan, dan tak pernah tidur. Gusti Allah ora sare, kata orang Jawa.
Kajian Wedatama (62): Gagare Ngunggar Kayun
Pada atau bait ke-62, Pupuh Gambuh, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV:
Gagare ngunggar kayun,
Tan kayungyun mring ayuning kayun, Bangsa anggit yen ginigit nora dadi, Marma den awas den emut,
Mring pamurunging lelakon.
Terjemahan dalam bahasa Indonesia:
Gagalnya membiarkan kehendak hati.
Tidak tertarik kepada keindahan tujuan,
Hal yang direka-reka bila dirasakan tidak terwujud, Maka dari itu harap waspada dan ingat,
Terhadap penghalang di perjalanan.
Kajian per kata:
Gagare (gagalnya) ngunggar (membiarkan) kayun (hati, kehendak). Gagalnya membiarkan kehendak hati.
Melihat konteks kalimat di atas lebih tepat jika diartikan sebagai: gagalnya mewujudkan potensi hati, gagalnya meraih potensi maksimalnya. Hati kita sebenarnya dapat berpotensi untuk meraih hal-hal yang telah disebutkan dalam bait sebelumnya, tetapi hal tersebut dapat gagal karena berbagai sebab. Jadi membiarkan hati dalam gatra ini lebih tepat diartikan sebagai membiarkan hati meraih potensi terbaiknya.
Tan (tidak) kayungyun (tertarik, terpesona) mring (pada) ayuning (kindahan) kayun (hati).
Antara lain sebab gagalnya adalah; hati tidak tertarik pada keindahan bentuk sempurnanya. Hal ini merujuk pada kisah Panembahan senopati pada bait ke-16 yang kayungyun eningingtyas, terpesona kaheningan hati sehingga beliau terpacu semangatnya untuk menyepi. Apa hubungan ening dan ayu? Keduanya sama-sama bentuk puncak dari potensi hati yang diasah melalui pertapaan, atau mengurangi hawa nafsu. Jadi kurang lebih keduanya serupa. Jika seseorang sudah tidak tertarik pada keindahan hati, maka dipastikan usaha untuk meraihnya pun mengendur.
Bangsa (semacam hal) anggit (direka-reka) yen (kalau) ginigit (digigit, dirasakan) nora (tidak) dadi (terwujud). Hal yang direka-reka bila dirasakan tidak terwujud.
Hal tersebut (tidak tertariknya hati) membuat hati enggan, seolah terpaksa untuk meraih ayuningtyas, sehingga cenderung untuk mereka-reka (nganggit). Bisa jadi hal ini karena enggan menempuh laku sembah kalbu karena kemalasan sehingga merasa sudah mencapai tujuannya. Padahal itu hanya tujuan semu, yang kalau dirasakan (ginigit) tidak ada wujudnya (nora dadi).
Marma (oleh karena itu) den (harap) awas (awas) den (dan harap) emut (ingat), mring (terhadap) pamurunging (penghalang) lelakon (diperjalanan). Maka dari itu harap waspada dan ingat, terhadap penghalang di perjalanan.
Ghirah dalam beribadah secara fisik (sembah raga) kepada Allah dapat naik-turun, kadang sangat bersemangat tetapi kadang tak bergairah, loyo. Hal itu bisa karena berbagai kondisi, mungkin terlalu lelah fisik sehingga hati menjadi kendur, mungkin karena hati terlalu terpaut pada dunia sehingga tak lagi cenderung pada ibadah, maka tubuh yang kuat pun tak mampu tergerak.
Dalam hal sembah kalbu, godaan lebih berat lagi karena sembah kalbu adalah ibadah yang tak tampak oleh orang lain. Tidak ada istilah riya’ dalam sembah kalbu karena sembah kalbu tak dapat dilihat oleh orang lain. Yang memotivasi adalah diri sendiri.
Beberapa hal yang membuat gagalnya sembah kalbu adalah ketidaksabaran, kurang hati-hati dan merasa cukup. Maka perlu kiranya selalu menjaga hati agar senantiasa bersikap tata, titi, ngati-ati, sareh dan telaten. Pengertian masing-masing sikap telah diuraikan dalam bait-bait sebelumnya.
Bait ini adalah bait terakhir yang membahas sembah kalbu, bait selanjutnya akan berbicara tentang sembah jiwa. Apakah itu? Silakan terus mengikuti kajian ini.
Kajian Wedatama (63): Sembah Jiwa
Pada atau bait ke-63, Pupuh Gambuh, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV:
Samengko kang tinutur,
sembah katri kang sayekti katur,
mring Hyang sukma sukmanen saari-ari. Arahen dipun kacakup,
sembahing jiwa sutengong.
Terjemahan dalam bahasa Indonesia:
Sekarang yang dibicarakan,
sembah ke tiga yang sebenarnya diperuntukkan, untuk Yang Ghaib, dijalankan setiap hari. Arahkan agar tercakup,
sembah jiwa ini, anakku!
Kajian per kata:
Samengko (sekarang) kang (yang) tinutur (dibicarakan), sembah (sembah, ibadah) katri (yang ketiga) kang (yang) sayekti (sebenarnya) katur (diperuntukkan), mring (kepada) Hyang (Yang) Sukma (Ruh, Ghaib), sukmanen (hayatilah, jiwailah) saari-ari (sehari-hari) Sekarang yang dibicarakan, sembah ke tiga yang sebenarnya diperuntukkan, bagi Yang Ghaib, maka jalankan sehari-hari.
Setelah membicarakan tentang sembah kalbu dalam bait-bait terdahulu, sekarang tibalah saatnya membicarakan sembah selanjutnya. Sembah yang ketiga ini diperuntukkan bagi Yang Ghaib, maka jiwailah, hayatilah setiap saat, sehari-hari.
Sukma adalah padanan (sinonim) dari kata ruh, maka sembah yang ketiga ini diperuntukkan bagi Yang Maha Ghaib, Pemilik alam Ruh. Ruh adalah dzat yang membuat kita hidup. Tanpa ruh kita adalah bukan manusia lagi, maka frasa sukmanen saari-ari yang secara tekstual berarti ruhilah sehari-hari, bermakna hayatilah dalam kehidupan sehari-hari.
Arahen (arahkan) dipun (agar) kacakup (tercakup), sembahing (sembahnya) jiwa (jiwa) sutengong (suta ingong, anakku). Arahkan segala sembah terdahulu agar mencakup sembah yang ini, yakni sembah jiwa, anakku.
Sembah yang ketiga inilah sembah jiwa. Dalam budaya Jawa jiwa bisa berarti hidup, menghayati, maka sembah Jiwa berarti menghayati sembah sebagai sifat yang merasuk (sukmanen, merasuklah) ke dalam dzat manusia itu sendiri. Sehingga tidak perlu mengusahakan hadirnya dalam kalbu sebagaimana sembah kalbu, tetapi senantiasa menetap dalam diri manusia. Dalam redaksi yang lebih mudah dipahami sembah jiwa adalah menyembah Allah secara menjiwai, mendarah-daging, terpatri dalam sifat dan dzat manusia yang melakukan sembah itu.
Orang yang telah berhasil dalam sembah jiwa akan tetap menyembah dalam diam dan gerakan. Dalam shalat dan diluar shalat. Dalam berbagai kegiatan yang bahkan terlihat sebagai kegiatan duniawi. Dirinya sudah ikhlas dalam segala hal. Dirinya sudah fana dalam diri-nya sendiri, hingga hanya menyisakan Dia Yang Ada. Inilah ibadahnya jiwa.
Kami cukupkan sekian dulu tentang sembah jiwa ini, dalam bait-bait berikutnya akan diuraikan agar semakin jelas maknanya. Jangan sampai ketinggalan!
Kajian Wedatama (64): Pepuntoning Laku
Bait atau pada ke-64, Pupuh Gambuh, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV:
Sayekti luwih perlu,
Ingaranan pepuntoning laku,
Kalakuwan tumrap kang bangsaning batin, Sucine lan awas emut,
Mring alaming lama maot.
Terjemahan dalam bahasa Indonesia:
Sebenarnya lebih penting,
Disebut penghabisannya tindakan,
Tindakan yang bersangkutan dengan batin, Pembersihnya dengan awas dan ingat,
Kepada alam lama yang memuat, (alam prakreasi).
Kajian per kata:
Sayekti (sebenarnya) luwih (lebih) perlu (penting), ingaranan (disebut) pepuntoning (penghabisannya) laku (tindakan). Sebenarnya lebih penting, disebut penghabisannya tindakan.
Sebenarnya sembah jiwa ini adalah akhir dari perjalanan (laku). Mengapa disebut demikian? Karena dari fakultas manusia yang dipakai untuk melakukan sembah sejak mulai dari raga, cipta (kalbu) sampai jiwa, kesemuanya itu mempunyai sifat yang tidak sempurna. Raga jelas tidak sempurna karena bisa luka, menderita sakit dan mati. Cipta (kalbu) juga tidak sempurna karena seringkali berpikir liar, tidak fokus, berbolak-balik (qalb), sering tidak fokus dalam tujuannya. Jiwa juga tidak sempurna karena kemantapannya sangat tergantung pengendalian diri dari nafsu-nafsu. Jiwa mudah diseret hawa nafsu menuju ke tempat hina. Karena harus selalu diawasi dengan waspada dan berhati-hati.
Terhadap segala ketaksempurnaan itulah segala latihan dan tirakat ditujukan. Agar semua fakultas tersebut menjadi disiplin dan terkendali sehingga cemerlang dan menjadi penerang dalam mencapai tujuan. Ini berbeda dengan sembah rasa yang akan kita bahas nanti.
Kalakuwan (tindakan) tumrap (kepada) kang (yang) bangsaning (berkaitan) batin (alam batin). Tindakan yang bersangkutan dengan batin.
Akhir dari perjalanan yang berkaitan dengan alam batin. Setelahnya tidak ada lagi laku lagi, baik raga maupun jiwa, setelah ini adalah sampai pada tujuan. Oleh karena itu sembah jiwa ini adalah laku yang penting.
Sucine (pembersihnya) lan (dengan) awas (awas) emut (mengingat). Pembersihnya dengan awas dan ingat.
Jika sembah raga bersucinya dengan air, sembah kalbu bersucinya dengan mengurangi hasrat di hati, maka sembah jiwa bersucinya dengan waspada dan mengingat. Awas terhadap tujuan bermakna, jangan sampai salah mengenali apakah yang dituju sudah benar-benar tujuan hidup yang sebenarnya. Atau dalam bahasa yang lebih mudah apakah yang disembah adalah Tuhan yang sebenarnya? Ataukah hanya sosok lain yang dipertuhankan? Hal ini penting karena banyak orang silau dengan gemerlapnya alam batin sehingga salah mengenali kenyataan, Al Haq.
Mengingat bermakna mengingat-ingat asal kejadian atau sangkaning dumadi. Kita sudah menjelaskan dalam bait yang lalu, dan kita ingat kembali dalam gatra di bawah ini.
Mring (kepada) alaming (alam) lama (lama, pra keabadian) maot (yang memuat). Kepada alam lama yang memuat, (alam prakreasi).
Ingat pada perjanjian pra-azali ketika kita sudah menyatkan, “Aku bersaksi, Bala syahidna!” Yang terakhir ini hanya mungkin jika kita mengenal fitrah kita sebagai manusia. Dengan fitrah itulah kita mengenal sedikit demi sedikit alam lama kita yang kita pernal tinggal di sana (lebih tepatnya disemai di sana).
Bagaimana caranya kita melakukan itu? Kita sudah mulai melakukan itu sejak ketika kita lakukan sembah raga di awal perjalanan. Dengan itu kita telah sedikit-demi sedikit membersihkan kerak yang menutupi hati, semakin dalam kita lakukan sembah dengan sembah kalbu dan sembah jiwa ini semakin tampak cahaya hati yang bersinar terang. Hanya tinggal menunggu waktu untuk sampai. Bersabarlah sampai pada bait-bait akhir serat Wedatama ini.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar