Gunungtugel peristiwa sebuah awal peradaban lama,yang telah mengawali peradaban baru sebagai pondasi awal terwujadnya ri Bhumi Mataram.Hal yang demikian diperoleh dari winarah para Sepuh dari jaman ke jaman.Diantaranya winarah yang diperoleh mbah Datrim dari mbah Datuk Kahfi.winarah yang di maksut adalah latar belakang Gunungtugel.Demikian juga winarah dari mbah Bakri dari eyang Muhsin.Eyang Muhsin dari Syeh Abdurahman,dari Ki Buyut Manguneng.
Senin, 12 November 2018
Agama Ageming Aji
SERAT WEDATAMA
PUPUH PANGKUR Kajian Wedatama (1): Agama Ageming Aji
Dalam budaya Jawa ada ungkapan Agama ageming Aji. Apa maknanya? Marilah kita lihat dahulu arti menurut kata per kata. Agem artinya pakai, ageman artinya pakaian, ageming dari kata agem dan ing, artinya pakaianya atau dipakai oleh. Sedangkan aji berarti bernilai atau mulia, bisa juga berarti raja. Dua arti ini masih berkaitan karena raja biasanya di-aji-aji alias dihormati.
Agama ageming aji bisa berarti agama adalah pakaian para raja, bisa juga berarti agama adalah pakaian orang mulia. Dari dua pengertian itu yang terakhir lebih universal, berlaku pada semua orang, karena ungkapan orang Jawa untuk memeluk agama adalah ngrasuk, contoh: ngrasuk agami Islam. Rasukan adalah sinonim dari ageman, yang artinya pakaian.
Ungkapan agama ageming aji terdapat pada serat Wedatama, pada Pupuh Pangkur, bait pertama. Tembang selengkapnya adalah:
Mingkar mingkuring angkar, akarana karenan mardisiwi.
Sinawung resmining kidung, sinuba sinukarta.
Mrih kretarta pakartining ngelmu luhung.
Kang tumrap neng tanah Jawa, agama ageming aji.
Terjemahan dalam Bahasa Indonesia sebagai berikut
Menjauhkan dan membelakangi sifat angkara, karena berkehendak mendidik anak. Dibingkai dalam bentuk syair dan lagu, Dihias dan diperbagus,
Biar menjiwai praktik ilmu luhur Yang bagi orang di tanah Jawa Agama adalah pakaian orang mulia
Kajian per kata:
Mingkar (menghindar) mingkuring (membelakangi) angkara (sifat angkara), akarana (karena) karenan (hendak) mardisiwi (mendidik anak). Menjauhkan dan membelakangi sifat angkara, karena berkehendak mendidik anak.
Pendidikan yang paling efektif bagi anak adalah memberikan contoh. Di sini orang tua sebelum memberi perintah untuk melakukan hal-hal yang baik dan melarang yang buruk hendaknya melakukan sendiri terlebih dahulu. Seorang ayah yang berkehendak untuk mendidik anak, maka hendaknya menghindari perilaku buruk agar kelak si anak dapat mencontoh ayahnya.
Sinawung (dibingkai, disamarkan) resmining (dalam keindahan) kidung (lagu), sinuba (dihias) sinukarta (diperbagus). Dibingkai dalam keindahan lagu, dihias dan diperbagus (syairnya).
Dalam mendidik anak hendaknya dilakukan dengan bahasa yang baik dan cara yang bijaksana. Sinawung resmining kidung artinya nasehat tadi dibingkai dalam bentuk lagu, seperti bait-bait serat Wedatama ini. Dalam bentuk lagu yang mendengar akan berkesan dan mengingat selalu nasihat yang disampaikan. Ini juga mengandung kiasan agar dalam memberi nasihat hendaknya dilakukan dengan perkataan baik, agar yang mendengar senang dan berkesan, bukan malah marah dan tersinggung.
Sinuba sinukarta bermakna si anak harus diperlakukan dengan selayaknya dan dengan perlakuan yang baik dan mempesona. Semua itu agar si anak tidak tertekan, merasa disayang sehingga timbul kecenderungan terhadap kebaikan.
Mrih (agar) kretarta (berkembang) pakartine (perbuatan) ngelmu (ilmu) luhung (luhur). Agar berkembang perbuatan yang berdasar ilmu luhur.
Setelah si anak terbiasa melihat contoh dan sudah cenderung ke arah kebaikan maka ia akan mudah untuk dibiasakan melakukan perbuatan baik. Segala amalan kebaikan akan dijiwai dengan sepenuh hati. Si anak akan mengembangkan kebaikan-kebaikan pada dirinya sehingga pada akhirnya si anak akan mencapai tahap ilmu luhung. Ilmu Luhung adalah kesempurnaan ilmu menurut ajaran Jawa, yakni ilmu batin, akhlaki, bukan sekedar petuah- petuah dan juga bukan sekedar gerak tubuh, tetapi pencapaian jiwa. Ini adalah konsep sufistik dari ajaran Jawa, membiasakan diri agar kemampuan batin berkembang.
Kang (yang) tumrap (bagi) ing (orang di) tanah Jawa (tanah Jawa), agama (agama) ageming (pakaian) aji (orang mulia). Yang bagi orang Jawa, agama adalah pakaian orang mulia.
Nah inilah pamungkas dari seluruh rangkaian pendidikan yakni: kemuliaan jiwa. Seorang yang berjiwa mulia akan sangat pantas berbaju agama. Karena itu redaksi kalimat ini adalah agama ageming aji, yang artinya agama adalah pakaian orang mulia. Jika seseorang berbaju (ngrasuk) agama tetapi belum ada kesiapan mental-spritual maka yang terjadi adalah kemunafikan, berbaju agama tapi culas. Lain di bibir lain di hati. Justru yang seperti ini berbahaya karena akan merusak tatanan kehidupan dan memakai agama untuk kepentingan nafsunya sendiri.
Di sini kemuliaan disyaratkan terlebih dulu sebelum ngrasuk agama. Ini bukan berarti orang jahat tidak boleh beragama, yang dimaksud adalah membersihkan hati terlebih dulu dari kehendak jahat atau menjalani pertobatan, agar siap menjalani perintah agama. Seperti halnya kita jika akan berpakaian seyogyanya mandi dulu agar kotoran yang menempel di tubuh tidak menodai pakaian kita.
Kajian Wedatama (2): Sepa Lir Sepah Samun
Dalam bait terdahulu yang berjudul Agama Ageming Aji sudah ada sedikit gambaran tentang perlunya sikap batin yang tulus dalam ngrasuk agama bagi seseorang. Karena agama adalah pakaian orang mulia, hendaknya sebelum memakainya terlebih dulu membersihkan diri melalui pertobatan. Mengapa ini perlu? Agar ilmu luhung turun menghias (kretarta) dalam diri kita. Sebab jika tidak walau telah berusia tua, orang tidak mencapai kedewasaan, seperti diungkap dalam bait ke-2 berikut ini:
Jinejer ing Wedatama,
mrih tan kemba kembenganing pambudi. Mangka nadyan tuwa piku,
yen tan mikani rasa,
yekti sepi asepa lir sepah samu. Samangsane pasamuwan, gonyak-ganyuk nglilingsemi.
Terjemahan dalam Bahasa Indonesia:
Disajikan dalam Wedatama,
agar tidak berkurang penuhnya usaha mempertajam akal budi. Bahwa sebenarnya walaupun sudah lanjut usia,
kalau tidak mengerti rasa,
benar-benar hatinya sepi tanpa rasa seperti ampas yang samar. Bila dalam pertemuan,
bertingkah konyol memalukan.
Kajian per kata:
Jinejer (disajikan, dipertontonkan dengan cara dijajar) ing (dalam) wedatama (nama kitab ini), mrih (agar) tan (tidak) kemba (berkurang, putus asa) kembenganing (penuhnya) pambudi (usaha mempertajam akal budi). Disajikan dalam Wedatama, agar tidak berkurang penuhnya usaha mempertajam akal budi.
Dalam kitab Wedatama ini disajikan petuah-petuah agar manusia tidak berkurang dalam upaya mempertajam akal budi. Kata kembeng biasanya dipakai untuk menggambarkan kandungan tanah yang jenuh air sehingga airnya meluap, contoh pada kata: sawahe wis kembeng banyu (sawahnya sudah jenuh air).
Frasa kembenganing pambudi menggambarkan orang selalu penuh dengan upaya mempertajam akal budi. Perlu ditekankan di sini yang penuh adalah upayanya. Kalimat di atas tidak merujuk pada kondisi akal budi yang telah tajam, tetapi upaya yang keras untuk menajamkan akal budi. Kelak kita akan bertemu dengan ungkapan: memasah mingising budi (mengasah ketajaman akal budi).
Mangka (bahwa sebenarnya, padahal) nadyan (walaupun) tuwa pikun (lanjut usia), yen tan (kalau tidak) mikani (mengerti) rasa (perasaan, rasa dalam konteks kalimat ini juga bisa berarti etika, sopan santun), yekti (benar-benar) sepi asepa (hatinya sepi tanpa rasa) lir (seperti) sepah (ampas) samun (samar, tak kelihatan). Bahwa sebenarnya walaupun sudah lanjut usia, kalau tidak mengerti rasa, benar-benar hatinya sepi tanpa rasa seperti ampas yang samar.
Pengertian dari gatra di atas adalah walaupun seseorang telah lanjut usia, jika tidak pernah mengolah rasa, hatinya akan sepi dari kebijaksanaan, tidak tumbuh menjadi pribadi yang dewasa, selayaknya ampas yang tak berguna.
Frasa sepi asepa berarti hatinya sepi tanpa rasa. Sepa sering dipakai untuk menyebut rasa makanan yang kurang bumbu, rasanya tak enak seperti tak dibumbui. Maknanya adalah hati yang tumpul tak mampu mengenali situasi, perasaan orang lain, tak mampu menangkap isyarat atau tanda-tanda zaman. Lir sepah samun, artinya seperti ampas yang samar, tak kelihatan, tak ada gunanya.
Samangsane (jika pada waktu) pasamuwan (pertemuan), gonyak-ganyuk (bertindak ceroboh, bertingkah konyol) nglilingsemi (memalukan, membuat malu kawan atau saudara). Jika pada waktu pertemuan, bertingkah konyol memalukan.
Jadi orang yang tidak terbiasa mengolah rasa tidak akan punya kepekaan terhadap lingkungan, manakala dalam pertemuan atau bertemu dengan orang banyak, atau dalam pergaulan luas seringkali bertindak ceroboh, bertingkah konyol sehingga membuat malu sanak saudara dan kawan-kawan.
Kajian Wedatama (3): Sesadon Ing Adu Manis
Kita melanjutkan kajian kita tentang Serat Wedatama karya KGPAA Mangkunegara IV, pada bait ke-3, Pupuh Pangkur. Bait ini menerangkan tentang perbedaan sifat-sifat seorang yang tak berilmu rasa dan orang yang telah berilmu. Selengkapnya bait ke-3 adalah sebagai berikut.
Nggugu karsaning priyangga,
nora nganggo peparah lamun angling.
Lumuh ingaran balilu,
uger guru aleman.
Nanging jamna ingkang wus waspadeng semu, sinamun ing samudana,
Sesadon ing adu manis.
Terjemahan tekstual dalam Bahasa Indonesia adalah sebagai berikut:
Menuruti kehendak diri sendiri,
tidak memakai perhitungan ketika berkata.
Tidak mau dianggap bodoh,
hanya mencari pujian.
Tetapi (bagi) orang yang waspada terhadap gelagat. Menyamarkan dengan sikap merendah,
menanggapi dengan ramah.
Kajian per kata:
Nggugu (menuruti) karsaning (kehendak) priyangga (diri sendiri), nora (tidak) nganggo (memakai) peparah (perhitungan, perasaan) lamun (ketika) angling (berkata). Menuruti kehendak diri sendiri, tidak memakai perhitungan ketika berkata.
Orang yang tanpa ilmu rasa tadi suka memperturutkan kehendak sendiri, tidak memakai perhitungan ketika berbicara. Bahwa berbicara dengan orang banyak harus memperhitungkan perasaan dan akibat-akibat yang ditimbulkan bagi orang lain. Karena bisa saja perkataan kita menyinggung orang lain. Orang yang tidak berilmu rasa tidak peduli akan hal itu, pokoknya dia merasa sudah pantas berdasarkan pendapatnya sendiri.
Lumuh (tidak mau) ingaran (dikatakan) balilu (bodoh), uger (hanya) guru aleman (mencari pujian). Tidak mau dikatakan bodoh, hanya mencari pujian.
Gatra ini juga masih membicarakan watak orang tak berilmu rasa tadi. Biasanya dia tidak mau dikatakan bodoh, sehingga cenderung banyak bicara supaya kelihatan pintar. Gemar akan pujian sehingga kadang-kadang bicaranya terlalu ngawur, dan jauh dari kenyataan, alias membesar-besarkan sesuatu. Nanging (tetapi) jamna (manusia) ingkang (yang) wus (sudah) waspadeng (dari kata waspada ing, artinya waspada akan) semu (gelagat). Tetapi (bagi) orang yang sudah waspada terhadap gelagat.
Pada gatra ini tinjauan beralih pada orang-orang di sekitar si bodoh yang tak mengerti ilmu rasa tadi. Orang-orang di sekitarnya yang sudah menguasai ilmu rasa melihat gelagat kebodohan dari orang yang banyak omong tadi. Maka dia bersikap selayaknya orang pandai seperti pada gatra berikut.
Sinamun (disamarkan) ing samudana (dengan sikap berpura-pura, maksudnya merendah, atau mengiyakan saja) sesadon (ditanggapi) ingadu (dengan tatap muka) manis (raut muka manis, ramah). Menyamarkan dengan sikap merendah, menanggapi dengan ramah.
Bagi seorang yang telah menguasai ilmu rasa jika bertemu dengan orang bodoh yang banyak bicara, dia tak mau membantah dan larut dalam perdebatan, tetapi justru ngemong, mengiyakan saja dan tetap menanggapi dengan raut muka yang ramah.
Apa yang diuraikan dalam tembang di atas masih sering kita temui di jalam modern ini. Acapkali kita menemukan orang yang sebenarnya tidak tahu tentang masalah kehidupan tetapi banyak omong hanya agar dikira pintar. Mereka rela membual dan menyelisihi banyak orang demi agar mendapat pujian semata-mata, agar dikira hebat, supaya dianggap mumpuni dan lebih suci dari yang lain.
Terhadap orang yang berperilaku seperti di atas, seseorang yang telah matang dalam berfikir dan menguasai ilmu rasa tidak akan larut menanggapi, malah sengaja membiarkan saja dengan tetap bergaul seperti biasa, tanpa kehilangan sikap ramah. Itulah orang-orang yang telah paripurna dalam menjiwai rasa sejati, sejatining rasa.
Kajian Wedatama (4): Si Wasis Waskitha Ngalah
Kita lanjutkan kajian tentang Serat Wedatama karya KGPAA Mangkunegara IV, kali imi sampai pada bait ke-4, bab Pangkur. Bait ini masih menerangkan tentang perbedaan sifat-sifat seorang yang tak berilmu rasa dan orang yang sempurna ilmunya. Selengkapnya bait ke-4 adalah sebagai berikut:
Si pengung nora nglegewa, sansayarda denira cacariwis.
Angandhar-andhar angendhukur, kandhane nora kaprah, saya elok alangka longkanganipun.
Si wasis waskhita ngalah, ngalingi marang si pingging.
Terjemahan secara tekstual ke dalam Bahasa Indonesia:
Si bodoh tidak menyadari,
semakin bertambah-tambah dia banyak omong. Melantur kemana-mana,
bicaranya tidak masuk akal,
makin aneh tidak ada selanya.
Si pintar memahami dan mengalah,
menutupi (kelakuan) si bodoh.
Kajian per kata:
Si pengung (si bodoh) nora (tidak) nglegewa (menyadari), sansayarda (bertambah-tambah) denira (dia lakukan) cacariwis (kata majemuk ceriwis-ceriwis, banyak omong). Si bodoh tidak menyadari, semakin bertambah-tambah banyak omong.
Bait ini merupakan sambungan dari bait ke-3, ketika si pintar bersikap ngemong dan menanggapi dengan ramah semua bualannya, si bodoh justru semakin menjadi-jadi. Ini berarti si bodoh tak peka terhadap sikap orang lain kepadanya. Dikiranya sikap yang ramah tersebut sebagai pembenaran atas ulahnya, maka dia semakin tidak karuan bicaranya.
Angandhar-andhar (melantur kemana-kemana) angendhukur (angan yang tinggi-tinggi, serba wah), kandhane (bicaranya) nora (tidak) kaprah (logis, lazim), saya elok (makin bicara hal yang mengagumkan) alangka (tidak ada) longkangipun (selanya). Melantur kemana-mana, bicaranya tidak lazim, makin aneh tidak ada selanya.
Si bodoh semakin lama semakin panjang bicaranya, angan-angannya yang tinggi semakin tumpah, mengatakan yang serba wah. Bicaranya tidak lazim, yang sebenarnya lawan bicaranya pun mengetahui, namun dia tetap nekad bicara melantur. Semakin bicara tentang hal yang mengagumkan dan makin intens, tidak ada jeda, bicara terus. Dalam bahasa jawa disebut ngethuprus. Si wasis (si pintar, maksudnya lawan bicara si bodoh tadi) waskhita (memahami, memaklumi) ngalah (mengalah), ngalingi (menutupi) marang (terhadap) si pingging (si pengung, si bodoh). Si pintar memahami dan mengalah, menutupi (kelakuan) si bodoh.
Gatra ini menggambarkan sikap orang pintar yang berhadapan dengan orang bodoh cerewet tadi. Si pintar tidak lantas mendebat -karena juga tak ada gunanya-, tidak hanya ngemong dengan sikap ramah tetapi juga sebisa-bisanya menutupi aib lawan bicaranya. Jika mungkin membelokkan bicara agar si bodoh tidak semakin menjadi-jadi bualannya, sehingga mempermalukan dirinya sendiri. Si pintar tidak ikut terpancing pameran ilmu, sebuah tindakan yang justru mendegradasi kepintarannya.
Inilah watak yang utama dari orang-orang yang sudah pintar dalam ilmu rasa, jika mendapati seseorang bicara melantur harus menutupi dengan berbagai upaya, tidak malah menyebarkan kebodohan orang lain atau justru menviralkan di medsos.
Kajian Wedatama (5): Ngelmu Kang Nyata
Kita lanjutkan kajian tentang Serat Wedatama karya KGPAA Mangkunegara IV, kali ini sampai pada bait ke-5, yang masih termasuk dalam Pupuh Pangkur. Bait ini masih menerangkan sifat-sifat orang yang telah menguasai ilmu rasa, perilakunya sehari-hari dan perbedaannya dengan orang bodoh. Selengkapnya bait ke-5 adalah sebagai berikut:
Mangkono ngelmu kang nyata, sanyatane mung weh reseping ati.
Bungah ingaranan cubluk, sukeng tyas yen denina.
Nora kaya si punggung anggung gumrunggung, ugungan sadina-dina.
Aja mangkono wong urip.
Terjemahan tekstual ke dalam Bahasa Indeonesia:
Demikianlah ilmu yang sejati,
Sebenarnya hanya menyenangkan hati.
Gembira bila dianggap bodoh,
Senang hati bila dihina,
Tidak seperti si dungu yang sombong dan banyak suara, ingin dipuja setiap hari.
Jangan demikianlah hidup dalam pergaulan.
Kajian kata perkata:
Mangkono (demikianlah) ngelmu (ilmu) kang (yang) nyata (sejati), sanyatane (sebenarnya) mung (hanya) weh (memberi) reseping (menyenangkan) ati (hati). Demikianlah ilmu yang sejati, sebenarnya hanya menyenangkan hati.
Demikianlah ilmu sejati seperti yang diuraikan pada bait-bait ke-1 sampai ke-4 terdahulu. Ilmu sejati ini hanya memberi rasa menyenangkan hati, hati menjadi tenang, tanpa bergolak, tanpa berbolak-balik, pertanda hati sudah mantap dalam keyakinan. Tidak mudah larut dalam riak-riak kehidupan (ombyaking swasana). Ini adalah gambaran dari kesempurnaan hati seperti yang sering kita minta dalam do’a setiap hari, tsabit qalbii ‘alaa diinika!
Bungah (gembira) ingaranan (bila dianggap) cubluk (bodoh), sukeng (senang) tyas (hati) yen (jika) denina (dihina). Gembira bila dianggap bodoh, senang hati bila dihina
Hati yang telah mantap tadi tidak terpengaruh oleh pendapat orang lain. Dia takkan menjadi sedih bila dianggap bodoh dan bahkan senang hati menerimanya. Kalimat “suka bila dianggap bodoh, senang hati jika dihina” tidak berarti bahwa dia sengaja mencari penghinaan, tetapi sesuai konteks kalimat di atas lebih bermakna anggapan bodoh dan penghinaan tidak akan membuat hati menjadi sedih. Justru dia akan gembira karena kesempatan memperbaiki diri lebih mudah, lebih termotivasi untuk menjadi lebih baik lagi. Sifat-sifat tersebut di atas hanya mungkin menjadi milik orang-orang yang telah mikani rasa, mengetahui rahasia hati, orang yang telah melatih ilmu dengan praktik amalan untuk memantapkan hati pada satu keyakinan. Sehingga tidak mudah goyah oleh pendapat atau bujuk rayu orang lain.
Nora (tidak) kaya (seperti) si punggung (si bodoh) anggung (selalu) gumrunggung (banyak bersuara), ugungan (mencari pujian) sadina-dina (sehari-hari). Aja (jangan) mangkono (begitu) wong (orang) urip (hidup). Tidak seperti si dungu yang sombong dan banyak suara,ingin dipuja setiap hari. Jangan demikianlah orang hidup (dalam pergaulan).
Pada gatra ini kembali digambarkan watak orang bodoh yang suka berbicara. Gumrunggung secara harfiah berarti banyak bersuara tak jelas, seperti suara tawon besar berdengung tak karuan, maknanya si bodoh walau banyak bicara namun tidak ada pengertian yang di sampaikan. Karena memang orang bodoh tidak mempunyai ilmu yang cukup, hanya bicara ngalor-ngidul diulang-ulang saja.
Watak ini sangat tercela dalam pergaulan. Oleh karena dalam tembang ini dilarang dalam gatra terakhir, aja mangkono wong urip (jangan begitu orang hidup dalam pergaulan).
Keseluruhan bait ke-5 ini mengandung anjuran untuk bersikap moderat dalam pergaulan. Tidak menonjolkan diri dan tidak gampang tersinggung oleh cacian, hinaan orang lain. Juga tidak gampang terseret dalam gaya bicara orang lain. Menahan diri dan tetap istiqomah dalam keyakinan yang mantap. Inilah ilmu rasa sejati yang menenteramkan hati.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar