Gunungtugel peristiwa sebuah awal peradaban lama,yang telah mengawali peradaban baru sebagai pondasi awal terwujadnya ri Bhumi Mataram.Hal yang demikian diperoleh dari winarah para Sepuh dari jaman ke jaman.Diantaranya winarah yang diperoleh mbah Datrim dari mbah Datuk Kahfi.winarah yang di maksut adalah latar belakang Gunungtugel.Demikian juga winarah dari mbah Bakri dari eyang Muhsin.Eyang Muhsin dari Syeh Abdurahman,dari Ki Buyut Manguneng.
Senin, 12 November 2018
Nalar Pating Saluwir
Kajian Wedatama (6): Nalare pating saluwir
Kita lanjutkan lagi kajian tentang Serat Wedatama karya KGPAA Mangkunegara IV, kali ini sampai pada bait ke-6, masih termasuk dalam Pupuh Pangkur. Bait ini masih menerangkan keadaan orang bodoh, perumpamaan hidupnya yang mirip dengan deru angin, istilah yang dipakai adalah gumrunggung, berdengung tak beraturan. Selengkapnya bait ke-6 adalah sebagai berikut:
Uripe sepisan rusak,
nora mulur nalare ting saluwir.
Kadi ta guwa kang sirung,
sinerang ing maruta,
gumrenggeng anggereng anggung gumrunggung. Pindha padhane si mudha,
prandene paksa kumaki.
Terjemahan dalam Bahasa Indonesia:
Hidup hanya sekali berantakan,
tidak berkembang, pikiran tercabik-cabik.
Ibarat goa gelap menyeramkan,
terserang angin,
suaranya bising berdengung-dengung.
Demikian gambaran anak mudha (yang masih bodoh), namun demikian sombongnya minta ampun.
Kajian per kata:
Bait ini menggambarkan keadaan hati seorang yang kurang pengetahuan tapi banyak bicara, goyah dan tidak mantap akidahnya. Ibaratnya seperti goa gelap yang dalam, tertiup angin menimbulkan suara gaduh berdengung, tak jelas apa bunyinya. Seperti perilaku anak muda yang masih labil, tetapi sombongnya minta ampun.
Uripe (hidupnya) sepisan (satu kali) rusak (berantakan), nora (tidak) mulur (berkembang) nalare (akalnya) ting saluwir (tercabik-cabik, tercerai-berai). Hidup hanya sekali berantakan, tidak berkembang, pikiran tercabik-cabik.
Hidup orang bodoh yang tak menguasai ilmu rasa akan rusak berantakan. Akal budi tidak berkembang, tidak punya akidah yang membuatnya bisa berpikir benar. Akalnya bagai tercabik-cabik, tercerai berai. Frasa ting saluwir adalah keadaan seperti daun pisang yang sudah tuwa yang tertiup angin sehingga tercabik-cabik, tercerai berai jika angin datang. Begitulah jalan pemikiran orang-orang bodoh yang tak mengerti ilmu rasa tadi.
Kadi ta (seperti) guwa (goa) kang (yang) sirung (dalam, ceruk), sinerang (terkena hembusan) ing (oleh) maruta (angin), gumrenggeng anggereng (berderu-deru), anggung (selalu) gumrunggung (berdengung-dengung). Ibarat goa gelap menyeramkan, terserang angin, suaranya selalu berdengung-dengung.
Keadaan hati orang bodoh adalah laksana goa yang dalam ceruknya. Apabila tertiup angin menimbulkan suara deru, jika besar anginnya semakin berdengung-dengung. Suara-suara itu yang tak beraturan dan berirama. Ini adalah kiasan bagi orang yang bicaranya tak ada maknanya, hanya mirip deru angin saja.
Pindha (seperti) padhane (sama keadaannya) si mudha (dengan anak mudha, bodoh), prandene (namun demikian) paksa (memaksa) kumaki (sombong). Demikian gambaran anak mudha (yang masih bodoh), namun demikian sombongnya minta ampun.
Keadaan orang bodoh juga mirip keadaan anak muda yang belum dewasa. Oleh karena itu dalam bahasa Jawa lama kata mudha juga berarti bodoh. Gatra ini mengingatkan kepada frasa senajan tuwa pikun pada bait ke-2, yakni orang yang sudah tua seharusnya memahami ilmu rasa, tidak berkelakuan seperti anak muda, yang memaksakan diri bertingkah sombong.
Bait ini menggambarkan isi hati orang bodoh. Nalarnya tidak berkembang, tercerai berai karena tak punya akidah yang mantap. Isi hatinya penuh dengan gejolak, berbolak-balik, penuh berbagai bisikan-bisikan liar, berdengung-dengung tak karuan. Ini jelas bukan pencapaian yang diharapkan bagi orang yang sudah lanjut usia. Bahkan, perilakunya juga masih seperti anak muda yang labil, bersikap sangat sombong.
Kajian Wedatama (7): Ngandelaken Yayah Wibi
Kajian Serat Wedatama karya KGPAA Mangkunegara IV, kali ini sampai pada bait ke-7, masih termasuk dalam Pupuh Pangkur. Bait ini menerangkan keadaan orang bodoh yang perilakunya masih seperti anak muda. Belum mampu hidup mandiri selayaknya seorang yang sudah harus memikul tanggung jawab. Selengkapnya bait ke-6 adalah sebagai berikut:
Kikisane mung sapala,
palayune ngendelaken yayah wibi, bangkit tur bangsane luhur,
Lha iya ingkang rama,
balik sira sasrawungan bae durung. Mring atining tatakrama,
nggon anggon agama suci.
Terjemahan dalam Bahasa Indonesia:
Tekadnya remeh sekali,
bila menghadapi masalah berlindung di balik orang tuanya, yang terpandang dan bangsawan.
Itu kan ayahnya,
sedangkan kamu belum lagi mengenal.
Dengan intisari sopan santun,
yang merupakan ajaran agama suci.
Kajian per kata:
Kikisane (batas tekadnya) mung (hanya) sapala (sedikit, kecil, remeh), palayune (larinya) ngendelaken (mengandalkan) yayah (ayah) wibi (ibu), bangkit (berdiri, kiasan untuk orang terpandang) tur (dan) bangsane luhur (berkedudukan tinggi). Tekadnya remeh sekali, bila menghadapi masalah berlindung di balik orang tuanya, yang terpandang dan bangsawan,
Inilah gambaran orang yang tidak dewasa, seperti anak kecil. Tekadnya sangat terbatas, jika ada masalah langsung lari mengandalkan orang tuanya, yang mempunyai jabatan dan pangkat yang tinggi. Perilaku seperti ini masih sering kita jumpai di masa kini, dan juga sudah ada di zaman dulu. Seorang anak muda (atau pun sudah tua) yang masih mengandalkan orang tuanya, walaupun seharusnya dia sudah hidup mandiri karena sudah dewasa.
Lha iya (itukan) ingkang rama (ayahnya), balik (sedangkan) sira (kamu) sasrawungan (mengenal) bae (saja) durung (belum). Itu kan ayahnya, sedangkan kamu belum lagi mengenal.
Gatra ini mempertanyakan, itukan ayahmu, lha kamu? Sedangkan kamu mengenal saja belum. Kenal apa? Jawabannya di gatra selanjutnya.
Mring (terhadap) atining (intisari) tatakrama (sopan santun), nggon (tempat) anggon (pakaian) agama suci. Dengan intisari sopan santun, yang merupakan ajaran agama suci.
Anggon di sini berarti makna kiasan untuk sifat yang melekat pada seseorang, terhadap intisari sopan santun, pakaian yang seharusnya dipakai oleh orang yang beragama.
Bait ini cukup jelas menerangkan sifat orang yang terlambat dewasa. Tekadnya lemah sekali. Jika ada masalah lari ke orang tuanya, mengandalkan kedudukan, pangkat dan jabatannya. Lha itu kan ayahnya? Sedangkan dia sendiri seharusnya juga mengerti sopan santun, adab yang berlaku dalam masyarakat. Itulah pakaian (sifat-sifat) yang seharusnya dipakai oleh orang beragama.
Kajian Wedatama (8): Katungkul Reh Kaprawiran
Kajian Serat Wedatama karya KGPAA Mangkunegara IV, kali ini sampai pada bait ke-8, masih termasuk dalam Pupuh Pangkur. Bait ini menerangkan keadaan orang yang terlena mengejar kehebatan dalam hal keperwiraan. Jika dilihat konteks ketika kitab ini ditulis sangat mungkin yang dimaksud adalah orang yang terlena mengejar kedudukan, karena pada jaman itu keperwiraan erat kaitannya dengan kekuasaan atau pengikut (prajurit) yang banyak.
Selengkapnya bait ke-8 adalah sebagai berikut:
Socaning jiwangganira,
jer katara lamun pocapan pasthi.
Lumuh asor kudu unggul,
semengah sesongaran,
Yen mangkono kena ingaranan katungkul, karem ing reh kaprawiran.
Nora enak iku kaki.
Terjemahan tekstual dalam Bahasa Indonesia:
Intisari sifat-sifat pribadimu,
pasti akan tampak ketika bertutur kata. Tak mau kalah harus menang, sombong dan membanggakan diri. Yang demikian itu bisa disebut terlena, tergila-gila pada kehebatan (diri). Tidak baik itu nak!
Kajian per kata:
Socaning (mata, intisari) jiwangganira (pribadi, sifat-sfat pribadimu), jer katara (akan kelihatan) lamun (ketika) pocapan (berucap) pasthi (pasti). Intisari sifat-sifat pribadimu, pasti akan tampak ketika bertutur kata.
Gatra ini menyatakan bahwa kepribadian seseorang pasti akan tampak dari cara ia bertutur kata. Orang yang bertutur kata dengan santun dan sabar pastilah pribadinya telah terlatih dalam olah ilmu rasa. Sedangkan tutur kata yang kasar, memaki, nyinyir dan tak pernah menghargai sesama pastilah muncul dari pribadi yang penuh kedengkian.
Lumuh (tak mau) asor (kalah) kudu (harus) unggul (menang), semengah (sombong) sesongaran (membanggakan diri di depan orang banyak). Tak mau kalah harus menang, sombong dan membanggakan diri.
Di sini digambarkan sifat orang yang tak mau kalah, selalu harus menang. Senantiasa menyombongkan diri di depan orang banyak. Orang ini menganggap bahwa mengalahkan orang lain itu penting, sehingga harus selalu menang. Orang berwatak seperti ini suka memamerkan kelebihan diri agar eksis dalam pergaulan luas. Baginya penting untuk selalu tampil lebih baik daripada orang lain.
Yen (kalau) mangkono (demikian itu) kena (bisa) ingaranan (disebut) katungkul (terlena), karem (sangat suka, tergila-gila) ing (pada) reh (segala hal) kaprawiran (tentang keperwiraan). Nora (tidak) enak (nyaman, tak baik) iku (itu) kaki (nak). Yang demikian itu bisa disebut terlena,tergila-gila pada kehebatan (diri). Tidak baik itu nak!
Gatra terakhir ini menggambarkan orang yang terlena dengan keperwiraan, kemenangan dan kehebatan diri. Padahal seharusnya dia sudah harus mulai ngudi kasampurnaning urip, mencari kesempurnaan hidup. Kata katungkul menandakan bahwa hal-hal yang dilakukan itu sudah melebihi porsi yang seharusnya. Yang demikian itu tidak baik nak!
Bait ini memberi petuah bahwa kepribadian kita akan terpancar dalam tutur kata kita sehari- hari. Seharusnya semakin bertambah usia tutur kata semakin santun dan sabar, perilaku juga harus mulai tampak lebih bijaksana. Jika masih suka bertengkar dan tak mau kalah, masih mengunggul-unggulkan kehebatan diri, berlaku sombong dan berbangga diri, pertanda bahwa yang bersangkutan terlena dalam mencari keperwiraan. Yang demikian itu adalah sifat yang tidak terpuji, tanda bahwa pribadinya belum dewasa. Itu tidak baik!
Kajian Wedatama (9): Kekerane Ngelmu Karang
Kajian Serat Wedatama karya KGPAA Mangkunegara IV, kali ini sampai pada bait ke-9, masih termasuk dalam Pupuh Pangkur. Bait ini menerangkan keadaan orang yang mengaku menguasai ilmu gaib, padahal sebenarnya hanya hasil karangannya sendiri saja. Praktik seperti ini banyak kita jumpai pada dunia perdukunan. Banyak orang mengaku mendapat bisikan gaib sehingga dapat menolong orang, padahal ilmu yang berdasarkan hal-hal tersebut bukanlah intisari dari ilmu yang sejati. Ibarat pengetahuan hanya pada kulit terluar saja, belum masuk ke dalam hakekat ilmu.
Selengkapnya bait ke-9 adalah sebagai berikut:
Kekerane ngelmu karang,
Kekarangan saking bangsaning gaib. Iku boreh paminipun,
tan rumasuk ing jasad,
amung aneng sanjabaning daging kulup. Yen kapengkok pancabaya,
upayane mbalenjani.
Terjemahan secara tekstual ke dalam bahasa Indonesia:
Di dalam penguasaan ilmu rekaan,
rekaan dari hal-hal gaib.
Itu ibarat bedak,
tidak meresap ke dalam jiwa,
hanya ada di luar daging saja nak!
Apabila terbentur mara bahaya,
tak dapat diandalkan (Yang disanggupi diingkari).
Kajian per kata:
Kekerane (dalam penguasaan) ngelmu (ilmu) karang (rekaan), Kekarangan (rekaan) saking (dari) bangsaning (sejenis hal) gaib (ghaib). Di dalam penguasaan ilmu rekaan, rekaan dari hal-hal gaib.
Maksud gatra ini adalah ilmu perdukunan yang berlandaskan bisikan ghaib (wisik). Orang tersebut sebenarnya hanya mereka-reka berdasarkan wangsit (isyarat ghaib) yang merasa dia terima. Padahal belum tentu itu benar-benar ilham dari Yang Maha Kuasa, alih-alih hanya merupakan angan-angannya sendiri saja. Ilmu yang demikian itu sangat berbahaya bila kita percayai.
Iku (itu) boreh (bedak) paminipun (seumpama), tan (tidak) rumasuk (meresap) ing (di dalam) jasad (tubuh), amung (hanya) aneng (berada di) sanjabaning (luar) daging (daging), kulup (nak). Itu ibarat bedak, tidak meresap ke dalam jiwa, hanya ada di luar daging saja nak!
Ilmu rekaan tadi hanyalah tampak seperti ilmu di permukaan, laksana orang memakai bedak. Tidak meresap dalam hati, seumpama bedak yang hanya di permukaan kulit, tidak masuk ke dalam tubuh. Hanya berada di luar daging saja. Jadi hanya tampak seperti ilmu saja, alias ilmu palsu. Maka waspadalah wahai anak muda!
Yen (kalau) kapengkok (bertemu) pancabaya (marabahaya), upayane (usahanya) mbalenjani (mengingkari). Apabila terbentur mara bahaya, yang disanggupi diingkari.
Maksud dari gatra ini adalah jika betul-betul bertemu dengan marabahaya, ilmu yang digembar-gemborkan tadi tak dapat diandalkan. Semua upaya yang disyaratkan akan sia-sia, tanpa hasil.
Sejak jaman dahulu orang mengaku-aku pinter itu sudah menjadi jamak lumrah (kebiasaan). Pada jaman sekarang pun juga masih banyak ditemukan, terutama pada dunia perdukunan. Banyak orang percaya karena mereka mengaku sebagai orang pintar yang mendapat bisikan langit. Wangsit atau isyarat dari langit adalah klaim mereka ketika meramalkan langkah apa yang disarankan kepada klien. Selain itu ada wisik atau bisikan halus yang greed-nya lebih jelas.
Kita tidak menyangkal ada beberapa orang memang mempunyai kemampuan seperti itu. Namun ada banyak orang yang hanya mengaku-aku saja. Celakanya golongan terakhir ini lebih agresif mencari mangsa. Orang-orang yang sedang galau seringkali menjadi korban.
Bait tembang Pangkur di atas memberi petuah agar kita waspada, bahwa pemilik ilmu sejati tidak akan berperilaku demikian. Orang yang bener-bener pintar akan membenamkan ilmunya sehingga tak seorang pun tahu. Sedangkan yang banyak bicara adalah orang yang mengaku-aku, ilmunya palsu.
Kajian Wedatama (10): Puruhita Kang Patut
Kajian Serat Wedatama karya KGPAA Mangkunegara IV, bait ke-10, Pupuh Pangkur. Bait ini menerangkan pentingnya menjaga hati agar selalu penuh kebaikan. Caranya antara lain dengan berguru sesuai kemampuan diri, menepati aturan yang berlaku dalam masyarakat dan senantiasa mengikuti rukun-rukun beribadah kepada Sang Pencipta.
Selengkapnya bait ke-10 adalah sebagai berikut:
Marma ing sabisa-bisa,
bebasane muriha ing tyas basuki. Puruhita kang patut,
lan traping angganira.
Ana uga angger ugering kaprabun, abon-aboning panembah,
kang kambah ing siyang ratri.
Terjemahan secara tekstual ke dalam bahasa Indonesia:
Oleh karena itu sebisa-bisanya, berusahalah menjaga hati.
Berguru secara pantas,
dan sepadan dengan kemampuan diri. Ada juga aturan dan pedoman bernegara, perlengkapan beribadah,
yang diamalkan siang dan malam.
Kajian per kata:
Marma (oleh karena) ing sabisa-bisa (sebisa-bisanya, maksudnya usahakan secara maksimal), bebasane (seumpama) muriha (agar supaya) ing (dalam) tyas (hati) basuki (selamat). Oleh karena itu sebisa-bisanya, berusahalah menjaga hati.
Maksud dari gatra ini adalah sebisa-bisanya, artinya dengan usaha maksimal untuk menjaga hati, agar selalu penuh keselamatan. Yang dimaksud adalah menjaga agar hati tak dijangkiti penyakit hati berupa sombong, dengki, meremehkan orang, ugungan (gila pujian), malas (hanya mengandalkan orang tua), seperti yang digambarkan pada bait-bait sebelumnya.
Puruhita (berguru) kang (yang) patut (pantas), lan (dan) traping (sesuai) angganira (keadaanmu). Berguru secara pantas,dan sepadan dengan kemampuan diri.
Agar hati kita terjaga dari penyakit maka kita harus berguru menuntut ilmu rasa. Maka penting di sini untuk mencari guru yang pantas digurui agar kita dapat belajar darinya sesuai dengan kemampuan kita masing-masing.
Ana (ada) uga (juga) angger (aturan) ugering (pedoman) kaprabun (kerajaan) , abon- aboning (perlengkapan) panembah (beribadah), kang (yang) kambah (disentuh, lebih tepat diartikan: diamalkan) ing (di) siyang (siang) ratri (malam).
Selain harus belajar juga harus mengikuti aturan dan pedoman bernegara dan hidup bermasyarakat. Hal ini berkaitan dengan sikap kita yang harus bergaul dengan baik dengan orang lain, hablumminannaas. Yang tak kalah penting adalah mengamalkan tatacara atau rukun (perlengkapan) beribadah kepada Sang Pencipta, yang harus dilakukan siang malam, hablumminallah.
Tanpa kedua hal ini niscaya sulit dicapai keadaan hati yang bebas dari penyakit. Keadaan harmonis secara horinzontal dengan sesama manusia dan lingkungan, dan harmonis secara vertikal dengan Sang Pencipta adalah prasarat tercapainya hati yang selamat, tyas basuki tadi.
Kajian Wedatama (11): Nggeguru Mring Kang Tulus
Kajian Serat Wedatama karya KGPAA Mangkunegara IV, kali ini sampai pada bait ke-11, masih dalam Pupuh Pangkur. Jika bait terdahulu memberi arahan agar kita berguru secara pantas sesuai kemampuan, bait ini berisi anjuran untuk berguru pada orang-orang yang mampu mengendalikan diri, berhati tulus dan kuat menahan hawa nafsu. Guru yang demikian adalah pemilik ilmu sejati. Ada kalanya bisa ditemui di mana saja, tidak harus berusia tua, bahkan bisa dari kalangan anak muda dan orang biasa.
Selengkapnya bait ke-11 adalah sebagai berikut:
Iku kaki takokena,
marang para sarjana kang martapi.
Mring tapaking tepas tulus,
kawawa nahen hawa.
Wruhanira mungguh sanyataning ngelmu, tan mesthi neng jamna wredha.
Tuwin mudha sudra kaki.
Terjemahan secara tekstual ke dalam Bahasa Indonesia.
Begitulah nak, bertanyalah,
kepada para sarjana yang bertapa.
Yang mampu menerapkan hati tulus,
kuat menahan hawa nafsu.
Ketahuhilah bahwa ilmu sejati,
tak selalu berada pada orang lanjut usia,
Dan adakalanya dari orang mudha atau orang biasa nak!
Kajian per kata:
Iku (begitulah) kaki (nak) takokena (bertanyalah), marang (kepada) para (para) sarjana (sarjana, orang pintar) kang (yang) martapi (bertapa). Begitulah nak, bertanyalah, kepada para sarjana yang bertapa.
Berguru hendaknya tidak kepada sembarang orang tetapi kepada yang benar-benar pantas digurui. Gatra ini menunjukkan ciri orang tersebut, yakni para orang pandai yang gemar bertapa. Kalau dalam konteks jaman dahulu berarti mengasingkan diri dari keramaian, dalam konteks jaman modern bertapa adalah menjauhkan diri dari kepentingan diri sendiri, semisal keinginan untuk berkuasa, untuk mengeruk keuntungan, dll.
Mring (kepada) tapaking (jejaknya, berkesan mampu) tepas (menerapkan) tulus (hati tulus), kawawa (kuat) nahen (menahan) hawa (hawa nafsu). Yang mampu menerapkan hati tulus, kuat menahan hawa nafsu
Yang telah mampu menerapkan dalam dirinya sifat tulus, kuat menahan godaan hawa nafsu. Orang yang telah berlatih menahan diri, sifat-sifatnya akan berkesan dalam perilaku sehari- hari. Nah lihatlah itu! Orang tersebut telah mampu menahan godaan nafsu duniawi. Jika dia berkuasa pasti mampu menahan godaan untuk berlaku zhalim, jika sedang berada dalam posisi sebagai guru pasti akan mampu menghindari nafsu mengeruk keuntungan. Nah, kepada orang seperti inilah hendaknya kita berguru.
Wruhanira (ketahuilah) mungguh (bahwa) sanyataning (sejatinya) ngelmu (ilmu), tan (tak) mesthi (selalu) neng (ada) jamna (orang) wredha (tua), tuwin (dan adakalanya) mudha (dari orang muda) sudra (orang remeh, orang biasa) kaki (nak). Ketahuhilah bahwa ilmu sejati, tak selalu berada pada orang lanjut usia. Dan adakalanya didapat dari orang mudha atau orang biasa nak!
Ketahuilah, bahwa orang-orang pintar dengan kemampuan seperti di atas tidak selalu harus berusia tua, adakalanya masih muda, dari kalangan orang yang kelihatan remeh. Ketahuilah Nak!
Jadi di sini ditegaskan bahwa ilmu yang sejati adalah milik mereka yang mampu menjalani pantangan dari berbagai godaan duniawi. Usia tua bukan jaminan seseorang lebih menguasai ilmu sejati, yakni ilmu rasa yang sudah sering disinggung pada bait-bait awal. Berkedudukan tinggi, terhormat dalam masyarakat juga bukan jaminan seseorang lebih berilmu. Malah adakalanya ilmu sejati justru dikuasai mereka yang dalam keseharian kita anggap remeh. Maka bagi yang hendak berguru harus teliti dan cermat mengenali orang-orang tersebut.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar