Gunungtugel peristiwa sebuah awal peradaban lama,yang telah mengawali peradaban baru sebagai pondasi awal terwujadnya ri Bhumi Mataram.Hal yang demikian diperoleh dari winarah para Sepuh dari jaman ke jaman.Diantaranya winarah yang diperoleh mbah Datrim dari mbah Datuk Kahfi.winarah yang di maksut adalah latar belakang Gunungtugel.Demikian juga winarah dari mbah Bakri dari eyang Muhsin.Eyang Muhsin dari Syeh Abdurahman,dari Ki Buyut Manguneng.
Senin, 12 November 2018
Aywa Kongsi Babar Angkara
Kajian wedatama (34): Aywa Kongsi Mbabar Angkara
Bait ke-34, Pupuh Pucung, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV:
Angkara gung, neng angga anggung gumulung, Gegolonganira.
Triloka lekere kongsi.
Yen den umbar ambabar dadi rubeda.
Terjemahan dalam Bahasa Inonesia:
Nafsu angkara yang besar, di dalam diri selalu berkumpul, dengan kelompoknya.
Sampai menguasai tiga dunia.
Bila dibiarkan berkembang menjadi bahaya.
Kajian per kata
Angkara (angkara, keburukan) gung (besar), neng (pada, di) angga (tubuh, diri) anggung (selalu) gumulung (berkumpul, menyatu), gegolonganira. Nafsu angkara yang besar, di dalam diri berkumpul, bersama dengan kelompoknya
Nafsu angkara di dalam diri jika membesar akan berkelompok-kelompok. Keinginan satu dengan lain akan saling berjalin dan saling menguatkan satu sama lain. Jika yang satu dipuaskan maka akan memicu yang lain untuk semakin membelenggu manusia.
Jalinan nafsu angkara akan saling menyeret satu dengan lainya ke dalam lembah dosa. Nafsu menguasai akan menyeret kedzaliman. Nafsu memiliki akan mengendong kekhilafan, orang Jawa menyebutnya melik nggendong lali. Nafsu makan akan menyeret perilaku melampuai batas, atau leluwihan. Nafsu pamer akan menyeret perilaku merendahkan orang lain, dan lain-lain. Jika nafsu angkara sudah bergerombol dan saling mendukung, akan sulit dipangkas mata rantainya karena jalinannya makin kuat.
Triloka (tiga dunia) lekere (dikuasai) kongsi (sampai). Sampai menguasai tiga dunia.
Konsep triloka sudah ada dalam budaya Jawa sejak dulu kala. Karena istilah itu pun ada dalam agama-agama sebelum Islam masuk. Tapi kita akan membatasi pengertian triloka menurut pengertian ketika serat Wedatam ini ditulis. Triloka adalah sebutan tiga dunia yang meliputi: alam material, alam mental dan alam ruh.
Alam material adalah dunia seisinya ini. Dunia yang sebenarnya ada dalam tingkat paling rendah dalam gradasi wujud. Ada yang menyebut bahwa sesungguhnya dunia inilah alam maya, mayaloka. Sedangkan tingkat di atasnya justru adalah alam nyata, yang sekarang tak kasat mata.
Alam mental, atau angan-angan atau imajinal atau alam psikis. Alam ini tempat jiwa tumbuh dan mencapai kedewasaan. Sering juga oleh para filosof muslim alam ini disebut sebagai barzakh, karena sifatnya ditengah-tengah, sebagai antara (barzakh) antara alam dunia dan akhirat. Segala sesuatu di alam ini adalah campuran antara yang maya dan Yang Nyata.
Alam ruh, atau alam spirit. Ini adalah alam tertinggi tempat ruh yang dahulu ditiupkan oleh Allah berada. Alam tempat segala penyaksian akan kebenaran ditempatkan. Alam tempat seruan-seruan kebenaran bergema. Penghuni alam ini adalah antara lain hati nurani.
Manusia hidup dalam ketiga alam tersebut secara pararel. Dengan masing-masing tingkat wujud yang juga dianugerahkan kepada manusia. Manusia punya badan wadag untuk hidup di dunia materi, punya jiwa untuk hidup di alam mental dan punya ruh bawaan Tuhan untuk hidup di alam spirit.
Walau manusia mempunyai tiga komponen untuk hidup di tiga alam itu, namun segala corak kehidupan manusia di dunia ini, bahagia dan sengsara, akan ditentukan oleh bagaimana ia hidup dengan ketiga alam itu. Yang lebih menghidupkan alam materi jelas akan terjebak dalam kefanaan abadi. Karena materi bersifat rusak, tak sempurna dan sementara, ia akan senantiasa merasa kurang dan selalu ingin menggapai yang lebih tinggi lagi.
Sebaliknya orang yang lebih hidup dalam alam mental akan selalu diliputi was-was dan penyesalan diri berkepanjangan. Was-was dalam arti khawatir akan kehidupannya kelak, penyesalan dalam arti merasa belum berusaha maksimal dalam menjalani hidup. Dua perasaan itu sangat bernuansa material. Namun seringkali di alam ini juga muncul pengharapan dan semangat, dua perasaan yang bernuansa spiritual. Yah namanya juga alam campuran, jadi perasaannya juga campur-campur deh!
Puncak dari pencapaian manusia adalah ketika ia mampu hidup di alam spiritual. Di sinilah segala ketenangan berada. Tak ada rasa takut atau khawatir, apalagi was-was. Baik tentang masa depan atau tentang segala hal di dunia ini, karena adanya kesadaran bahwa semua ini hanya milik Allah semata.
Yen (bila) den (di) umbar (biarkan) ambabar (berkembang, menjadi banyak) dadi (menjadi) rubeda (bahaya). Bila dibiarkan berkembang menjadi bahaya.
Nah, jika nafsu angkara di atas dibiarkan membesar sehingga menguasai tiga alam manusia, triloka, akan menjadi monster yang mengerikan daya rusaknya terhadap hidup manusia. Tiga piranti yang diberikan Tuhan sebagai alat manusia hidup di ketiga alam itu akan hancur dilalap nafsu angkara.
Badan sebagai alat hidup di alam materi akan rusak karena diperalat nafsu angkara, seperti pada rusaknya tubuh oleh karena perbuatan maksiat, minum khamar, ngepil, ngoplos, dll. Jiwa manusia sebagai piranti hidup di alam mental pun akan tumbang dengan berbagai penyakit mental, depresi, halusinasi, waham-waham, dll. Hati nurani sebagai penghuni alam ruh pun akan tumpul, tak lagi bisa membedakan benar dan salah, bahkan cenderung menjadi pembenar dari setiap tindak kejahatan yang dilakukan.
Kajian wedatama (35): Amardi Martatama
Bait ke-35, Pupuh Pucung, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV:
Beda lamun kang wis sengsem reh ngasamun. Semune ngaksama,
sesamane bangsa sisip.
Sarwa sareh saking mardi martatama.
Terjemahan dalam Bahasa Indonesia:
Berbeda halnya dengan yang sudah gemar kepada hal rohaniyah, Cenderung selalu mengampuni,
Segala kesalahan,
Bersikap sabar berusaha berbudi baik.
Kajian per kata:
Beda (berbeda) lamun (kalau) kang (yang) wis (sudah) sengsem (gemar, terpesona) reh (hal) ngasamun (sepi, ruhaniyah). Berbeda halnya dengan yang sudah gemar kepada hal rohaniyah.
Kebalikan dengan sifat-sifat diri yang dikuasai angkara sampai ketiga alam, orang yang gemar melakukan olah rasa dengan menyepi akan bersikap berbeda dalam menghadapi persoalan hidup, sebagaimana digambarkan dalam gatra berikut ini.
Semune (cenderung) ngaksama (mengampuni), sesamane (segala) bangsa (sejenisnya) sisip (kekurangan, kesalahan). Cenderung selalu mengampuni, segala sesuatu kesalahan (orang lain).
Sesungguhnya segala tindak angkara berasal dari nafsu yang dimanjakan (diumbar), tidak dikekang, tidak ditahan dan senantiasa dipenuhi. Bagi yang kayungyun heninging tyas, terpesona ketenangan hati, maka menahan nafsu bukanlah pekerjaan sulit. Selain lebih mudah, lebih hemat, juga lebih bermanfaat dalam hidup. Bonus lain adalah hadirnya sikap terpuji dalam perilaku sehari-hari. Salah satunya adalah kecenderungan untuk mengampuni setiap kesalahan orang lain, memakluminya dan bukan malah membesar-besarkannya.
Sarwa (serba) sareh (sabar) saking (dari) mardi (berusaha) martatama (berbudi baik). Bersikap sabar dan berusaha bersikap baik.
Sareh adalah sikap hati-hati, tidak tergesa-gesa, mendahulukan pertimbangan sebelum mengambil tindakan. Sikap ini hanya muncul dari hati yang tenang yang dicapai dengan latihan kontemplasi yang rutin, senantiasa mahas ing ngasepi. Sikap hati-hati akan melahirkan budi yang tajam, tanggap dan responsif. Sebuah tindakan yang diawali dengan sabar pasti akan berujung kepada perbuatan baik.
Dalam serat Wedatama ini berulang kali ditekankan tentang pentinya menyendiri di dalam sepi. Ini bukan kiasan tetapi memang anjuran agar dilakukan secara fisik. Tujuan dari menyepi adalah menyusutkan nafsu sampai ke tingkat minimum yang sekedar diperlukan untuk hidup, karena bagaimanapun selama hayat dikandung badan nafsu tetap diperlukan.
Mengapa ini penting? Karena hati nurani hanya dapat jujur di kala orang sendirian, tidak bergerombol bersama golongannya. Dalam kesunyian hati lebih jujur menilai diri sendiri, sudah benarkah perilakunya sehari-hari, sudah tepatkah pemikiran yang diyakini, sudah luruskah jalan yang diambil, dsb.
Mengenai menyepi ini juga banyak diajarkan oleh aliran keyakinan dan agama-agama. Bentuk paling sederhana adalah mengheningkan cipta, seperti yang sering kita lakukan pada upacara bendera ketika sekolah dulu. Ada juga yang berbentuk samadhi, yakni berdiam diri dalam waktu yang lama dengan posisi tertentu. Dalam agama Islam ada ritual shalat tahajud, shalat yang dikerjakan sendirian di kala malam hari, ketika tak terlihat orang lain.
Kajian wedatama (36): Karoban Sihing Gusti
Bait ke-36, Pupuh Pucung, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV:
Taman limut, durgameng tyas kang meh limput, kerem ing karamat,
Karama karoban ing sih,
Sihing sukma ngrebda saardi gengira.
Terjemahan dalam Bahasa Indonesia:
Di dalam keadaan gelap, hati jahat yang menguasai, Tenggelam dalam rahmat,
Sebab dikuasai cinta kasih,
Cinta kasih sukma berkembang menjadi segunung besarnya.
Kajian per kata:
Taman (terkena, dalam keadaan) limut (gelap), durgameng (jahatnya) tyas (hati) kang (yang) meh (hampir) limput (tertutup), kerem (tenggelam) ing (dalam) karamat (rahmat). Di dalam keadaan gelap, hati jahat yang menguasai, tenggelam dalam rahmat.
Keadaan gelap disini merujuk pada keadaan sepi karena menyendiri, seperti yang sudah dibahas pada bait-bait yang lalu. Dalam keadaan gelap tersebut, justru hati nurani akan tampak bercahaya. Watak jahat akan tenggelam dalam rahmat Ilahi sehingga tidak jadi membesar menguasai hati.
Ibarat cahaya lilin yang tak nampak di kala siang, tetapi ketika di dalam kegelapan akan memberi terang. Seperti itulah hati nurani. Maka ketika lilin kecil hati nurani tadi memberi cahaya, perlahan-lahan akan mengusir kegelapan dalam hati. Apa saja yang telah membuat kita lalai, apa saja yang membuat kita menuruti si angkara (durgameng), sedikit demi sedikit akan lenyap. Nah ketika itulah hati yang tertutupi (kalimput) oleh nafsu angkara perlahan akan mulai menuju kepada terang.
Tentu saja ini sebuah proses yang panjang dan melelahkan, dengan latihan yang berulang- ulang tanpa bosan. Ketika hati telah tenggelam dalam rahmat Ilahi maka cinta kasih Ilahiyah akan semakin meliputi hati.
Karama (karena, oleh sebab) karoban (terkena, tertutupi) ing sih (cinta kasih). Sebab dikuasai cinta kasih.
Hati yang sudah siap menuju terang akan dibanjiri (karoban) oleh cinta kasih Ilahi. Barang siapa yang bersedia dan bersiap-siap untuk melakukan perjalanan menuju Tuhan, maka Dia akan menyambut dengan Kasih. Secara perlahan akan dibuka jalan-jalan menuju padaNya, selangkah-selangkah jalan-jalan akan dibuat terang.
Sihing (cinta kasih) Sukma (Ruh) ngrebda (berkembang) saardi (segunung) gengira (besarnya). Cinta kasih sukma berkembang menjadi segunung besarnya.
Sukma di sini berati ruh, karena yang mempunyai cinta kasih hanyalah Allah semata, kata sukma dalam gatra ini lebih dekat dengan makna Sukma, atau Ruh Ilahi. Ini sesuai dengan pengertian pada gatra ini bahwa jika kita telah mempunyai hati yang condong pada kebaikan maka rahmat ilahi akan turun ke hati, meliputinya, menenggelamkannya. Jika demikian maka cinta kasih Ilahi akan membanjiri hati kita dan menumbuhkan cinta kasih di hati.
Lama-lama cinta di hati kita akan membesar menjadi laksana gunung (saardi gengira). Maka jadilah kita tanganNya dalam menebar cinta kasih di bumi ini. Berbuat baik kepada sesama, dan mengajak kepada kebaikan, dengan dasar limpahan kasih Ilahi yang telah kita terima tadi.
Kajian wedatama (37): Mundhi Diri Rapal Makna
Bait ke-37, Pupuh Pucung, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV:
Yeku patut, tinulad tulad tinurut, sapituduhira,
Aja kaya jaman mangkin.
Keh pra mudha mundhi diri rapal makna.
Terjemahan dalam Bahasa Indonesia:
Yang demimkian pantas dicontoh-contoh dan diikuti, segala petunjuknya,
Jangan seperti jaman sekaran.
Banyak anak mudha mengagungkan diri dengan arti lafal.
Kajian per kata:
Yeku (yang demikian) patut (pantas), tinulad (dicontoh) tulad (contoh) tinurut (diikuti), sapituduhira (segala tetunjuknya). Yang demikian pantas dicontoh-contoh dan diikuti., segala petunjuknya.
Yang dimaksud patut tinulad (pantas dicontoh) dalam gatra ini adalah sifat-sifat mulia yang telah diuraikan dalam bait sebelumnya, tentang orang yang sudah mencapai maqon penyampai cinta kasih Ilahi, bertindak sebagai tanganNya dalam merawat alam semesta.
Orang yang demikian itu patut dicontoh-contoh dalam perbuatannya dan pantas dituruti jalan yang telah ditempuhnya. Yakni jalan orang-orang yang sudah sampai pada pengamalan kebaikan yang sejati, yang sudah ikhlas dalam berbuat, tidak sekedar unjuk diri, tidak sekedar pamer kebaikan. Orang-orang yang telah mencapai derajat ini pantas didengar segala pentunjuknya, pantas diikuti segala contoh tauladannya.
Aja (jangan) kaya (seperti) jaman (zaman) mangkin (sekarang). Jangan seperti zaman sekarang.
Gatra ini membandingkan dengan keadaan jaman sekarang (pada waktu serat ini digubah), yang banyak orang berwatak dangkal, tidak tulus dalam beramal sholeh, ada maksud tersembunyi yang berkaitan dengan kemasyhuran, kekayaan, nama besar dan kepentingan diri lainnya. Tentu yang dimaksud tidak semua orang begitu, tetapi kebanyakan yang terjadi adalah demikian.
Keh (banyak) pra (para) mudha (anak mudha) mundhi (mengagungkan) dhiri (diri) rapal (lafal) makna (arti). Banyak anak mudha mengagungkan diri dengan arti lafal.
Pada jaman sekarang banyak anak muda yang menyombongkan diri, bersikap ujub, membanggakan amalah-amalannya dan membanggakan makna lafal (rapal makna). Rapal
makna di sini sesuai konteks kalimat pada bait sesudahnya nanti yang akan kami uraikan pada postingan mendatang adalah teks-teks keagamaan, baik yang diambil dari Al Quran, hadits maupun kitab-kitab lainnya.
Kata rapal menunjuk pada teks-teks keagamaan, sedangkan kata makna menunjuk pada tafsir atau terjemah, sebab pada waktu itu bahasa Arab belum banyak dipahami oleh orang Indonesia, sehigga teks-teks yang dia pakai untuk pamer ilmu, menyombongkan diri adalah teks-teks terjemahan saja.
Bait ini sebenarnya mempunyai satu pengertian dengan bait sesudahnya, tetapi karena kita konsisten mengkaji per bait, maka harus kita akhiri sampai di sini. Pada kajian selanjutnya makna bait ini akan kami rujuk lagi sebagai kesatuan pengertian.
Kajian wedatama (38): Kesusu Kaselak Besus
Bait ke-38, Pupuh Pucung, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV:
Durung pecus kesusu kaselak besus,
Amaknani rapal,
kaya sayid weton Mesir,
Pendhak pendhak angendhak gunaning jamna.
Terjemahan dalam Bahasa Indonesia:
Belum pandai tergesa-gesa ingin berlagak, Menerangkan lafal,
Seperti sayyid dari Mesir,
Seringkali meremehkan kepandaian orang lain.
Kajian per kata:
Durung (belum) pecus (bisa, pandai) kesusu (tergesa-gesa) kaselak (terburu-buru) besus (tampilan mengesankan, berlagak). Belum pandai tergesa-gesa ingin berlagak
Belum pandai benar, belum menguasai ilmu secara tuntas, sudah terburu-buru, tak sabar ingin tampil pintar, berlagak di depan orang banyak. Inilah ciri-ciri pelajar yang baru mengenal ilmu, selalu bangga dan seolah hanya dirinya yang tahu. Kadang perilakunya tak terkontrol, menyalahkan sana-sini, seolah-olah hanya dirinya yang paling mengerti. Hal ini sering ditemui pada para pelajar baru dalam bidang apa saja, terlebih-lebih dalam masalah agama.
Amaknani (menerangkan) rapal (lafal, teks), kaya (seperti) sayid (sayyid, keturunan nabi, ahli agama) weton (lulusan) Mesir (Negeri Mesir). Menerangkan lafal, seperti sayyid dari Mesir .
Rapal dalam gatra di atas sesuai konteks dalam kalimat, seperti sudah kami singgung pada bait terdahulu, merujuk pada teks-teks keagamaan atau dalil-dalil naqli, baik dari Al Quran, hadits maupun kitab lainnya. Hal ini dikuatkan dengan frasa kaya sayyid weton mesir. Sayyid adalah keturunan nabi yang membawa ajaran Islam ke Indonesia, jadi pastilah pintar dalam ilmu agama. Sedangkan Mesir sudah lama dikenal sebagai gudangnya orang pintar (ulama). Ada universitas tertua di dunia berdiri di sana, yakni Universitas Al Azhar yang sudah berdiri sejak tahun 900an Masehi.
Jadi arti gatra di atas sesuai konteks dalam kalimat, adalah: menerangkan dalil-dalil keagamaan seolah-olah, bergaya seperti, orang pintar (ulama) dari Mesir.
Pendhak-pendhak (seringkali) angendhak (meremehkan) gunaning (ilmunya) jamna (orang lain, sesama manusia). Seringkali meremehkan kepandaian orang lain.
Seringkali, si anak muda yang baru belajar tadi, meremehkan ilmunya orang lain. Orang lain dianggap bodoh tidak mengerti ajaran agama seperti dirinya.
Dari kajian terhadap bait 37 dan 38, diperoleh makna keseluruhan sebagai berikut.:
Janganlah seperti orang jaman sekarang. Para anak muda yang menyombongkan diri dengan dalil-dalil. Padahal mereka sebenarnya belum ahli di bidang itu, tetapi tidak sabar untuk berlagak pintar dalam menerangkan dalil-dalil. Seolah-olah mereka ulama lulusan Mesir yang sudah terkenal kedalaman ilmunya. Seringkali mereka meremehkan ilmu orang lain.
Sekali lagi ini adalah fenomena pengamalan keagamaan pada jaman serat Wedatama digubah. Apakah kondisi seperti itu masih ditemui di jaman sekarang? Semoga saja tidak. Walau begitu kita tetap harus waspada agar hal yang sama tidak terjadi lagi.
Kajian wedatama (39): Elok, Jawa Denmohi?
Bait ke-39, Pupuh Pucung, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV:
Kang kadyeku, kalebu wong ngaku aku,
Akale alangka,
Elok Jawa denmohi,
Paksa langkah ngangkah met kawruh ing Mekah.
Terjemahan dalam Bahasa Indonesia:
Yang seperti itu, termasuk orang yang mengaku-aku, Pandangannya tak masuk akal,
Aneh, tak suka pada kejawaan,
Memaksa diri melangkah seperti pengetahuan orang di Mekkah.
Kajian per kata:
Kang (yang) kadyeku (seperti itu), kalebu (termasuk) wong (orang) ngaku (mengaku) aku (aku). Yang seperti itu, termasuk orang yang mengaku-aku.
Dalam bait ke-38 dijelaskan tentang fenomena orang-orang yang sok tahu. Mereka sekedar mengaku-aku berilmu saja. Tidak berdasar mulat sarira hangrasa wani, melihat diri dan berani menilai diri sendiri. Inilah waham yang sering hinggap pada orang-orang pemula yang baru belajar sedikit ilmu. Mereka menjadi merasa pintar sekali, seolah-olah orang lain tak mempunyai pengetahuan sepertinya.
Dalam belajar ilmu agama pun waham seperti ini juga sering menjangkiti para murid pemula. Akibatnya banyak perilaku mereka yang justru menjauh dari sifat-sifat seorang yang menjalani agama. Sombong, berlagak pintar bak orang alim dari Mesir dan meremehkan ilmu orang lain.
Akale (akalnya) alangka (tak ada). Tak ada akalnya, pandangannya tak masuk akal.
Wawasannya dangkal, pandangan hidupnya menjadi aneh. Karena sepotong-sepotong dalam memahami ajaran agama, maka yang terjadi justru terkesan menggelikan, tak masuk akal. Padahal orang beragama harus menggunakan akalnya secara maksimal untuk menangkap isyarat alam, tanda-tanda kekuasanNya.
Elok (aneh) Jawa (jawa, kejawaan) denmohi (tak mau, tak suka). Aneh, kejawaan tak disukai.
Yang lebih aneh lagi kemudian membuang segala hal yang berbau kejawaan dan menggantinya dengan segala hal ke-Arab-Araban. Walau sebenarnya secara konteks tidak cocok dan tidak perlu, karena pokok ajaran agama adalah moral yang baik, akhlak mulia.
Memang ada beberapa hal dalam diri manusia yang bersifat abadi, tidak berubah sejak pertama kali diciptakan sampai hari ini. Nah, dalam hal yang seperti ini agama membuat peraturan yang universal juga. Namun untuk hal-hal yang sangat berkaitan dengan kondisi lingkungan maka ada beberapa hal yang harus disesuaikan.
Misalnya, sejak dahulu seorang anak adalah tanggungan orang tuanya dalam mengasuh dan memberi makan, maka berbakti kepada orang tua adalah ajaran agama yang tidak memandang tempat dan waktu. Dimana saja sejak dahulu sampai sekarang menghormati orang tua adalah wajib. Namun bentuk-bentuk penghormatan itu berlainan di tiap tempat, bergantung pada budaya setempat. Jadi tak harus kemudian ikut-ikutan dengan tatacara di tanah Arab sana.
Paksa (memaksa) langkah (melangkah) ngangkah (menjangkau) met (sampai) kawruh (pengetahuan) ing (di) Mekah (Makkah, Arab). Memaksa diri melangkah seperti pengetahuan orang di Mekkah.
Memaksakan satu kebiasaan suatu bangsa kepada bangsa lain tidak akan selalu cocok. Apalagi Jawa dan Arab terpisah jarak yang jauh, berbeda iklim dan lingkungan maka jelas akan ada perbedaan yang sangat jauh. Misalnya dari segi jenis tanaman pokok yang tumbuh. Di Arab kurma tumbuh subur berbuah lebat, di Jawa walau bisa subur tapi tak dapat berbuah. Makan kurma bagi orang Arab adalah keutamaan, bagi orang Jawa makan kurma adalah bermewah-mewahan, karena harus didatangkan dari Arab, tentu biayanya mahal.
Di Arab pakaian lelaki yang cocok adalah baju panjang, ghamis. Di sana tidak menjadi masalah karena iklimnya cocok. Orang dengan pakaian itu juga tidak sumuk karena kelembaban udara rendah. Juga masih bisa bercocok tanam karena tanah di sana keras dan berpasir, jenis tanaman pun lain. Coba jika dipakai orang Jawa, sebentar sudah risih karena sumuk. Juga tidak bisa bekerja di sawah karena kondisi tanah becek dan berlumpur. Bayangkan seorang membajak sawah pakai ghamis, warna putih lagi. Pasti sepulangnya dari sawah sudah tak karuan bentuknya.
Nah dalam hal inilah beberapa adat kebiasaan di Arab sana mesthi disesuaikan dengan konteks kejawaan. Meski demikian agama selalu membawa nilai-nilai universal yang ada pada setiap manusia, untuk yang ini kita memang harus tunduk, sami’na wa atho’na.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar