Gunungtugel peristiwa sebuah awal peradaban lama,yang telah mengawali peradaban baru sebagai pondasi awal terwujadnya ri Bhumi Mataram.Hal yang demikian diperoleh dari winarah para Sepuh dari jaman ke jaman.Diantaranya winarah yang diperoleh mbah Datrim dari mbah Datuk Kahfi.winarah yang di maksut adalah latar belakang Gunungtugel.Demikian juga winarah dari mbah Bakri dari eyang Muhsin.Eyang Muhsin dari Syeh Abdurahman,dari Ki Buyut Manguneng.
Senin, 12 November 2018
Rosing Rasa Rumaketing Angga
Kajian Wedatama (40): Rosing Rasa Lumeketing Angga
Bait ke-40, Pupuh Pucung, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV:
Nora weruh, rosing rasa kang rinuruh, lumeketing angga.
Anggere padha marsudi,
Kana kene kaanane nora beda.
Terjemahan dalam Bahasa Indonesia:
Tidak tahu, inti dari rasa yang dicari, Melekat di badan sendiri,
Asal semua mau berusaha,
Di sana atau di sini keadaannya tak berbeda.
Kajian per kata:
Nora (tidak) weruh (tahu), rosing (inti dari) rasa (rasa) kang (yang) rinuruh (dicari), lumeketing (menempel, melekat) ing (di) angga (badan). Tidak tahu, inti dari rasa yang dicari, melekat di badan sendiri
Di sini dikatakan bahwa perilaku yang disebutkan dalam bait ke-39 menunjukkan bahwa seseorang itu tidak tahu inti dari rasa atau capaian batin yang dicari, dalam praktek-praktek keagamaan sehari-hari. Bahwa segala ritual keagamaan pastilah menyasar dua sisi dari aspek manusia sebagai makhluk bidimensial.
Pada sisi lahir adalah mendisiplinkan diri, menahan hawa nafsu agar kita terbiasa tidak diperbudak keinginan yang tak perlu. Pada sisi spiritual adalah mencapai pengetahuan tentang diri, sehingga kita mengenal Allah sebagai sang Pencipta. Nah inti dari ajaran agama adalah sisi batin tersebut, sedangkan aspek lahiriah adalah sebagai sarana saja.
Kita akan mengambil salah satu contoh ibadah sehari-hari, yakni shalat. Ini adalah ibadah yang ditentukan waktu dan tatacaranya secara ketat. Oleh karena hal itu secara lahir kita menjadi terbiasa disiplin, orang yang shalat tak mungkin tidur mendengkur sampai siang karena akan kehilangan sholat subuh. Juga tak mungkin bekerja seharian tanpa jeda karena ada saat-saat tertentu harus berhenti untuk shalat. Dengan demikian ritme hidup orang yang shalat menjadi teratur, terkontrol dan seimbang.
Selain itu dalam apek spritual shalat adalah sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah. Dalam shalat seolah kita mengadu jika ada masalah, seolah minta pertolongan jika butuh bantuan, seolah kita berterima kasih jika mendapat anugerah dan menjadi sarana untuk bermuhasabah jika kita hendak mulat sarira hangrasa wani, menilai tentang diri sendiri. Adapun inti dari shalat itu sendiri adalah amar ma’ruf nahi munkar terhadap diri sendiri.
Orang yang shalat pastilah takkan berbuat keji dan buruk, sebaliknya akan selalu berbuat baik.
Dalam segala ritual lain, ada inti dari rasa yang diharapkan hasilnya (rosing rasa kang rinuruh). Inilah yang mesthi diupayakan, jangan hanya puas pada sekedar aspek lahiriahnya saja.
Rosing rasa yang dicari tadi sebenarnya melekat pada badan (lumeketing angga), pada jauh di kedalaman nurani. Maka hasil dari capaian diri mesti dilihat di sana. Suatu ritual ibadah akan disebut berhasil jika hati nurani semakin terang memancarkan gambaran Ilahiyat dan moralitas menjadi meningkat dengan akhlak yang mulia. Percuma saja rajin beribadah tetapi justru hati menjadi kotor oleh kedengkian dan merendahkan sesama. Lebih buruk lagi jika tak membekas dalam akhlak perilaku sehari-hari.
Anggere (asalkan) padha (sama-sama) marsudi (berusaha keras), kana (di sana) kene (atau di sini) kaanane (keadaannya, hasilnya) nora (tidak) beda (berbeda). Asal sama-sama mau berusaha, di sana atau di sini keadaannya tidak berbeda.
Asalkan dipraktekkan dengan sungguh-sungguh, sama-sama berusaha keras mengamalkan ritual ibadah dalam aspek lahir dan batinnya, maka hasilnya di sana atau di sini akan takkan berbeda. Baik shalat yang dilakukan di Arab atau di Jawa, asal dilakukan dengan tulus sebagai ibadah semata, hasilnya tidak akan berbeda. Sehingga apa yang dilakukan di sini tidak harus persis dengan yang disana.
Kita kembali mengingat sebentar uraian bait ke-39, bahwa iklim dan lingkungan bisa memengaruhi cara hidup dan corak kebiasaan masyarakat. Denikian juga dalam hal ibadah. Sepanjang syarat dan rukun dipenuhi maka ibadah akan sah. Soal keutamaan tambahan, atau apa yang disebur sunnat maka disesuaikan dengan kondisi setempat.
Misalnya di Arab jika berbuka disunatkan makan kurma, namun jika di Jawa makan kurma saat berbuka bisa menjadi makruh jika tak ada uang untuk membeli. Buah kurma itu mahal sekali, akan memberatkan bagi mereka yang tidak cukup uang. Tentu lebih baik jika diganti makanan lain yang kandungannya sama dan tersedia di Jawa. Maka mesti dicari rosing (inti) dari sunnat nabi menganjurkan kurma itu maksudnya apa? Misalnya agar energi yang hilang selama puasa cepat terganti agar tubuh tidak lemas, maka dicarilah buah lain yang dimaksud, pepaya misalnya.
Jika kita bisa mencari rosing dari segala amalan-amalan agama, maka walau berbeda bentuk pelaksanaannya baik di sana (Arab) atau di sini (tempat lain), hasilnya akan sama saja. Karena tujuan pengamalan agama bukan pada bentuk amalannya, tetapi pada efeknya terhadap jiwa manusia.
Kajian Wedatama (41): Kabul Kajating Urip
Bait ke-41, Pupuh Pucung, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV:
Uger lugu, den ta mrih pralebdeng kalbu. Yen kabul kabuka,
ing drajad kajating urip.
Kaya kang wus winahya sekar srinata.
Terjemahan dalam Bahasa Indonesia:
Asalkan sungguh-sungguh, yang berusaha meningkatkan hati, Bila terkabul terbukalah,
Pada derajat tujuan hidup,
Seperti yang diisyaratkan dalam tembang Sinom.
Kajian per kata:
Uger (asalkan, kalau) lugu (sungguh-sungguh), den ta (yang) mrih (agar supaya) pralebdeng (dari kata pra lebda ing, menjadi ahli dalam, meningkatkan diri, belajar untuk) kalbu (hati). Asalkan sungguh-sungguh, yang berusaha meningkatkan hati.
Maksud gatra ini adalah siapa saja yang sungguh-sungguh berusaha untuk meningkatkan kemampuan hati. Kemampuan hati yang dimaksud sesuai dengan apa yang telah diuraikan dalam bait 36, yakni hati yang sudah penuh dengan limpahan cinta kasih Ilahi. Hati yang sudah tersucikan sehingga bisikan-bisikan yang keluar darinya adalah kebenaran, Al Haq, bukan sekedar duga-duga atau kekhawatiran, was-was.
Yen (kalau) kabul (terkabul, diijinkan olehNya) kabuka (terbuka), ing (pada) drajad (derajat) kajating (yang dimaksud, yang dituju) urip (dalam hidup). Bila terkabul terbukalah, pada derajat tujuan hidup.
Agar terkabul apa yang diusahakan tadi, atas ijin Allah sebagai pemilik segala hati dan berkuasa membolak-baliknya, maka penyucian hati harus diawali dengan menjauhi segala larangan dan mematuhi segala perintahnya, atau dalam bahasa agama disebut taqwa.
Kajating urip merujuk pada tujuan akhir, atau puncak pencapaian manusia, atau juga sering disebut insan kamil dalam istilah para sufi. Apabila manusia berusaha keras untuk meningkatkan kemampuan hati agar hati senantiasa dilimpahi kasih sayang Ilahi maka tak mustahil akan sampai pada derajat tertinggi yang mungkin dicapai oleh manusia tersebut. Jika ini tercapai maka jadilah ia manusia paripurna yang menjadi prajurit Allah, menjadi tanganNya dalam merawat bumi ini.
Kaya (seperti) kang (yang) wus (sudah) winahya (diisyaratkan) sekar (tembang) srinata (sinom). Seperti yang diisyaratkan dalam tembang Sinom.
Hal-hal seperti yang sudah diuraikan dalam pupuh sinom pada awal serat Wedatama akan tercapai. Silakan lihat lagi pupun Sinom, pada bagian Wignya Met Tyasing Sasami.
Kajian Wedatama (42): Ngelmu Iku Panemu lan Tapa
Bait ke-42, Pupuh Pucung, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV:
Basa ngelmu, mupakate lan panemu. Pasahe lan tapa.
Yen satria tanah Jawi,
kuna kuna kang ginulut triprakara.
Terjemahan dalam Bahasa Indonesia:
Bahasa ilmu, cocoknya dengan argumen, Berhasilnya dengan bertapa,
Bagi satria tanah Jawa,
Dahulu kala yang menjadi pegangan tiga hal.
Kajian per kata:
Basa (bahasa) ngelmu (ilmu), mupakate (cocoknya) lan (dengan) panemu (pendapat, argumen). Bahasa ilmu, cocoknya dengan argumen.
Ilmu pengetahuan apapun, baik ilmiah, filosofis ataupun religius penyampaiannya adalah dengan argumen. Dengan dalil-dalil aqliyah ataupun naqliyah. Pemaparannya harus jelas sejelas-jelasnya sampai akal pikiran membenarkannya. Jika sesuatu diterima tanpa pertimbangan akal, maka bukan ilmu namanya. Mupakat dalam gatra ini maksudnya ada kecocokan pengertian, antara akal pikiran dan ilmu yang dipelajarinya. Kalau belum ada kecocokan pengertian belum bisa disebut ilmu, tetapi seperi melafalkan mantera saja. Tidak ada pengertiannya sama sekali.
Pasahe (mempan, berhasil) lan (dengan) tapa (bertapa, tirakat). Berhasilnya dengan bertapa.
Namun demikian ilmu bukanlah teori semata. Selalu ada maksud dan tujuan dipelajarinya suatu ilmu. Tujuan dari ilmu baru akan tercapai melalui pengamalan. Bertapa di sini bisa dimaknai sebagai amalan, praktek, laku atau suluk atau yang lain. Yang jelas bukan sekedar teori semata-mata.
Terlebih-lebih ilmu rasa yang pusatnya ada di dalam hati manusia, harus melalui berbagai praktik, laku, ujian dan tantangan agar ilmu sumusup ing jiwangga, merasuk dalam jiwa, terbenam dalam hati.
Yen (kalau) satria (ksatria) tanah Jawi (tanah Jawa), kuna kuna (kuna makuna, dahulu kala) kang (yang) ginulut (dipegang, menjadi pegangan) triprakara (tiga hal). Bagi satria tanah Jawa, dahulu kala yang menjadi pegangan tiga hal.
Bagi ksatria Tanah Jawa jaman dahulu ada tiga hal yang dipegang dalam menghadapi ujian hidup. Apakah itu? Kita akan melanjutkan ke bait berikutnya karena masih merupakah satu kesatuan makna dengan bait ini.
Kajian Wedatama (43): Tri Prakara: Lila, Trima dan Legawa
Bait ke-43, Pupuh Pucung, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV:
Lila lamun kelangan nora gegetun. Trima yen ketaman,
sakserik sameng dumadi,
Tri legawa nalangsa srah ing Bathara.
Terjemah dalam Bahasa Indonesia:
Rela apabila kehilangan, tidak larut dalam kecewa, Menerima bila mendapat,
perlakuan yang menyakitkan hati dari orang lain, Yang ketiga ikhlas menyerahkan kepada Tuhan.
Kajian per kata:
Inilah tiga hal yang menjadi pegangan hidup para ksatria tanah Jawa jaman dahulu. Dengan tiga hal itu terbuktilah hati mereka tidak kosong, tapi telah penuh hikmat sehingga mampu bersikap bijak terhadap segala sesuatu yang tak diharapkan.
Lila (rela) lamun (apabila) kelangan (kehilangan) nora (tidak) gegetun (kecewa berkepanjangan, larut dalam kecewa). Rela apabila kehilangan, tidak larut dalam kecewa.
Yang pertama, rela apabila kehilangan, tidak larut berkepanjangan dalam kekecewaan. Bahwa apabila milik kita hilang atau tiba-tiba bukan lagi menjadi milik kita, wajarlah ada sedikit rasa kecewa. Namun kita tak boleh larut dalam kecewa yang berkepanjangan, hati selalu teringat akan yang hilang itu sehingga tak lagi mampu berpikir jernih dan bertindak bijak.
Penyebab rasa kecewa yang berlebihan adalah kuatnya ikatan kita dengan hal-hal yang kita miliki tadi. Namun apabila kita selalu ingat bahwa pemilik sejati hanya Allah SWT, maka tak pantas kita meratapi sesuatu yang bukan milik kita. Dalam kearifan budaya Jawa ada istilah yang patut selalu kita pegang: pangkat mung sampiran, bandha mung titipan, nyawa mung gadhuhan.
Pangkat mung sampiran, bermakna: bahwa jabatan apapun yang kita emban hanyalah sampiran. Laksana selendang yang disampirkan di pundak, sangat mudah untuk jatuh dan lepas dari tubuh kita. Begitu pun segala jabatan yang ada di pundak, sewaktu-waktu dapat copot dengan mudahnya pula.
Bandha mung titipan, bermakna: segala harta adalah milik Allah yang dititipkan kepada kita. Sebagai titipan harta bisa sewaktu-waktu diambil oleh pemiliknya. Jikapun tidak diambil mungkin akan kita serahkan kepada yang berhak kelak, sementara kita hanyalah pembawa titipan itu.
Nyawa mung gadhuhan, maknanya: nyawa (hidup) kita pun bukan milik kita, tetapi hanya gadhuhan. Gadhuhan adalah pinjaman yang diserahkan kepada kita untuk mengelolanya, sewaktu-waktu si pemilik akan mengambil sesuai kesepakatan awal. Nah, nyawa kita pun demikian, ada perjanjian kapan akan diambil, yakni apabila raga kita tak mampu lagi menjadi tempat bagi si nyawa itu, ketika kita mati. Oleh karena itu pula dalam budaya Jawa mati biasa disebut tumeka ing janji, artinya memang mati sudah menjadi perjanjian kita dengan Tuhan.
Trima (menerima) yen (bila) ketaman (terkena, mendapat), sakserik (perlakuan menyakitkan) sameng (sesama) dumadi (makhluk, orang lain). Menerima bila mendapat, perlakuan yang menyakitkan hati dari orang lain.
Yang kedua, menerima apabila mendapat perlakuan yang menyakitkan hati dari orang lain. Perlu diluruskan bahwa makna kalimat di atas bukan berarti kita menerima begitu saja bila hati kita disakiti orang lain, melainkan lebih bermakna bahwa kita jangan sampai sakit hati hanya karena perlakuan orang lain. Hati kita harus kuat dan besar, agar tidak mudah tersakiti.
Sesungguhnya hidup kita berdasar kehendak dan usaha kita sendiri, bukan atas dasar sikap orang lain kepada kita. Maka seyogyanya kita tidak terlalu mengikuti kehendak orang dalam menentukan sikap dan perilaku. Kita harus punya prinsip sendiri dalam bertindak, berdasar apa yang kita yakini.
Dalam hal kebahagiaan dan kesedihan kita juga tak seharusnya terlalu terpengaruh sikap orang lain. Apabila kita telah melakukan hal yang kita yakini benar tetapi orang lain justru membenci, kita tak perlu risau. Kuatkan tekad, mantapkan kehendak, dan melangkahlah!
Tri (ketiga) legawa (ikhlas) nalangsa (nelangsa) srah (menyerahkan) ing (kepada) Bathara (Tuhan). Yang ketiga ikhlas dengan merendahkan diri, menyerahkan segalanya kepada Tuhan.
Yang ketiga, ikhlas dengan segenap kerendahan hati menyerahkan segala sesuatu kepada Tuhan. Ini berkaitan dengan setiap usaha dan amalan kita sehari-hari. Jangan terlalu berharap muluk dan panjang angan. Karena kita tak tahu apa yang sesungguhnya baik untuk kita. Maka dalam segala hal kita harus mengikhlaskan setiap usaha kita, seraya dengan penuh kerendahan (nalangsa) menyerahkan hasilnya kepada Tuhan.
Itulah tiga hal pokok yang menjadi pegangan hidup ksatria tanah Jawa jaman dahulu yang masih perlu juga untuk kita pedomani. Tiga hal tersebut disebut triprakara yang secara ringkas kita sebutkan sebagai: lila, trima dan legawa.
Kajian Wedatama (44): Inguger Graning Jajantung
Bait ke-44, Pupuh Pucung, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV:
Bathara gung, inguger graning jajantung, Jenek Hyang Wisesa,
Sana pasenedan suci,
Nora kaya si mudha mudhar angkara.
Terjemahan dalam bahasa Indonesia:
Yang Maha Besar, ditempatkan dalam jantung, Yang Maha Kuasa Kerasan,
di tempat peristirahatan yang suci,
Tidak seperti si muda yang mengumbar angkara.
Kajian per kata:
Bathara (Tuhan) gung (besar), inguger (diikat, ditempatkan) graning (gra ing, di pucuk) jajantung (jantung). Yang Maha Besar, ditempatkan dalam jantung.
Ini bermakna bahwa Tuhan Yang Maha Besar selalu diingat namanya dalam hati, menjadi motivasi dari setiap aliran darah yang mengalir ke seluruh tubuh. Maknanya, Tuhan menjadi alasan dari setiap perbuatan, hanya karena Dia kita berbuat. Seorang yang telah mencapai paripurna dalam ilmu dan amal, akan selalu menempatkan Tuhan Yang Maha Besar sebagai motif setiap tindakan. Dalam bahasa agama, semua perbuatan dilakukan ikhlas lillahi ta’ala.
Jenek (kerasan) Hyang (Yang) Wisesa (Kuasa), sana (di tenpat) pasenedan (tempat peristirahatan) suci (suci). Yang Maha Kuasa Kerasan, di tempat peristirahatan yang suci.
Apabila sedang berkarya selalu mengingat Tuhan Yang Maha Kuasa. Ketika sedang beristirahat atau sedang menyepi senantiasa tenggelam dalam zikir, mengingat Tuhan Yang Maha Kuasa. Begitulah watak dan kebiasaan dari orang-orang yang telah mencapai ilmu rasa sejati. Motif dari semua tindakan dan diamnya hanyalah Allah semata-mata. Tidak ada dalam kamusnya keinginan untuk mengikuti hawa nafsu atau praduga angan-angannya sendiri. ini jauh dari sifat orang muda yang belum gaduk (sampai) ilmunya.
Nora (tidak) kaya (seperti) si mudha (si muda) mudhar (menuruti, mengumbar) angkara (angkara). Tidak seperti si muda yang mengumbar angkara.
Amatlah jauh, sangat berkebalikan, dengan perbuatan seorang muda yang baru menapak ilmu kehidupan. Masih sering tergelincir mengumbar nafsu angkara. Menuruti angan-angan tanpa ilmu, bertindak atas dasar duga-duga tanpa klarifikasi, menyebar kabar hoax tanpa verifikasi. Asal komentar tanpa berpikir soal kepantasan, nyinyir asal njeplak tanpa proporsi, suka-dan benci atas dasar nafsu semata, dll. Yang begini pun sering kita temui di dunia maya, lebih- lebih lewat medsos. Jangan ditiru, nak! Jangan!..........
Kajian Wedatama (45): Kadya Buta Buteng
Bait ke-45, Pupuh Pucung, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV:
Nora uwus, kareme anguwus uwus. Uwose tan ana.
Mung janjine muring-muring. Kaya buta buteng betah nganiaya.
Terjemahan dalam bahasa Indonesia:
Tiada henti-hentinya, kesukaannya mencaci maki, (Perkataannya) tak ada isinya,
Hanya asal marah-marah,
Seperti raksasa mudah naik darah dan menganiaya.
Kajian per kata:
Nora (tiada) uwus (uwis, berhenti), kareme (sukanya) anguwus uwus (bicara terus). Tiada henti-hentinya, kesukaannya bicara terus.
Anguwus dari kata angwuwus (bicara), anguwus-uwus adalah kata majemuk yang berarti menyangatkan. Ini umumnya dilakukan seorang yang tak puas atau sedang marah sehingga berkata-kata terus, terus saja tak henti-henti sampai puas rasa di hati. Nah karena kadar perkatannya sebenarnya sudah over, maka biasanya perkataannya asal-asalan saja.
Uwose (isinya) tan (tak) ana (ada). (Perkataanya) tak ada isinya.
Intinya apa tak jelas, hanya meracau. Karena hanya sekedar menumpahkan kekesalan maka yang diomongkan pun tak ada pokok-pokok maksudnya, asal njeplak, asal mangap. Yang demikian itu sering dilakukan oleh orang yang kecewa, baik dalam kehidupan mayarakat sehari-hari maupun dalam kehidupan berpolitik di tingkat elit. Kalau Anda perhatikan ada beberapa politisi yang suka bicara terus, menohok sana, menyikat sini, nyinyir sana kritik sini. Kadang ucapannya tak proporsional, hanya asal beda (waton sulaya) dengan yang dikritik.
Mung (hanya) janjine (janji, perkataan) muring-muring (marah-marah). Hanya berkata asal marah-marah.
Yang penting menumpahkan rasa amarah di dada. Tak peduli perasaan orang lain. Tak peduli kerja dan dedikasi orang lain.
Kaya (kaya) buta (raksasa) buteng (gelap mata, naik darah) betah (suka) nganiaya (menganiaya). Seperti raksasa mudah naik darah dan menganiaya.
Wataknya seperti raksasa yang sudah gelap mata, cepat naik darah. Jika sudah begitu tak peduli orang lain. Tak ada rasa empati, tepa slira, bertindak di luar batas alias aniaya. Dan tampaknya suka sekali berbuat demikian.
Buta adalah raksasa. Dalam budaya Jawa buta adalah species lain, jadi bukan manusia. Meski kadang ada sedikit interaksi dan bisa juga kawin campur. Watak dari raksasa yang paling dominan adalah pemarah. Biasanya perilakunya briga-brigi, pecicilan, penyunyukan, tak nyaman diam, tak bisa tenang, tidak sopan. Dan yang paling membuat jengkel suka sekali berisik, berkata kasar dengan volume maksimal. Kalau dalam pewayangan buta selalu digambarkan bermulut lebar menganga dengan siyung (gigi taring) mencuat siap mencabik lawan.
Ada lagu bahasa Jawa tentang buta ini yang dahulu sering didendangkan anak-anak sewaktu bermain di terangnya sinar bulan:
Buta-buta galak, solahe lunjak-lunjak,
Sarwa sigrak-sigrak, nyandhak kanca nuli tanjak, Bali ngadeg maneh, rupamu ting celoneh,
Iki buron apa, tak sengguh buron kang aneh,
Lha wong kowe..we..we
Sing mara-marai hi-hi......
Aku wedi, ayo kanca padha bali,
Galo kae-galo kae.....
Matane plerak-plerok,
Kulite ambengkerok, hi..hi.. Aku wedi, ayo kanca padha bali
Orang yang sukanya berkata terus, mengumpat-umpat tanpa henti, bicara kasar, marah-marah tanpa proporsional wataknya pastilah seperti buta tadi.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar