Senin, 12 November 2018

Karyenak Tyasing sasama

PUPUH SINOM Kajian Wedatama (15): Karyenak Tyasing Sasama Alhamdulillah, kajian kita sudah sampai pada bait ke-15, sudah masuk Pupuh Sinom. Seperti yang sudah disinggung di akhir Pupuh Pangkur, Pupuh Sinom ini ditujukan untuk kalangan muda yang masih bergairah tinggi dalam kehidupan bermasyarakat. Namun demikian gelora muda tidak sepantasnya disalurkan untuk foya-foya. Bahkan juga harus mulai berlatih mengendalikan hawa nafsu, kalau tidak akan menjadi kebiasaan buruk di masa tua. Sebagaimana orang bijak mengatakan, orang tua akan menjalani kehidupan sebagaimana ia menjalani masa muda. Selengkapnya bait ke-15 adalah sebagai berikut: Nuladha laku utama, tumrape wong Tanah Jawi. Wong agung ing Ngeksiganda, Panembahan Senopati, Kepati amarsudi, Sudane hawa lan nepsu, Pinesu tapa brata, Tanapi ing siyang ratri, Amamangun karyenak tyasing sasama. Terjemahan dalam Bahasa Indonesia. Contohlah perilaku utama. Untuk kalangan Orang Jawa, orang besar dari Mataram, Panembahan Senopati. Yang sangat keras berusaha, mengurangi hawa nafsu. Dengan jalan prihatin (tirakat). Sambil di siang malam, berbuat menyenangkan hati sesama. Kajian per kata: Nuladha (contohlah) laku (perilaku) utama (utama), tumrape (bagi) wong (orang) Tanah (wilayah) Jawi (Jawa). Contohlah perilaku utama, bagi orang yang tinggal di wilayah Jawa. Mencontoh (nuladha) adalah berbuat sebagaimana contoh sesuai dengan konteks yang dihadapi. Ini tidak sama dengan meniru (neniru). Meniru adalah menjiplak persis. Jadi dalam mencontoh ada konteks dari perbuatan sesuai tantangan yang dihadapi oleh pelaku yang mencontoh. Laku bisa diartikan perilaku atau kelakukan, juga bisa diartikan cara menjalani sesuatu. Nanti kita akan bertemu istilah laku sebagai ilmu praktis atau kalau meminjam istilah sufisme disebut suluk. Utama adalah yang terbaik, yang lebih baik dari yang baik. Jadi gatra ini lebih tepat kalau dimaknai: contohlah cara menjalani hidup yang utama. Dalam gatra kedua ini kalimat tumrah wong tanah Jawi, adalah pembatasan. Pembatasan ini tentu bukan bermaksud sektarian atau rasis, tetapi lebih karena pendekatan budaya saja. Mungkin bagi orang Jawa nasehat dalam serat ini baik jika diterapkan, tetapi bagi orang luar Jawa belum tentu baik. Semua itu karena perbedaan budaya semata. Wong (orang) agung (besar) ing (di) Ngeksiganda (Mataram), Panembahan Senopati. Orang besar dari negeri Mataram, Panembahan Senopati. Kata Mataram di atas diturunkan dari kata, ngeksi yang artinya melihat, melihat jelas pakai mata, maka diambil kata Mata. Kemudian kata ganda berarti bau, yang dimaksud adalah bau harum, maka diambil suku kata terakhir rum, disamarkan menjadi ram. Gabungan dua kata itu menjadi Mataram, nama kerajaan tempat orang besar tadi. Permainan kata seperti di atas lazim dilakukan dalam bahasa Jawa dan biasa disebut wangsalan. Panembahan Senopati adalah gelar dan nama raja pertama Mataram, orang yang akan kita tiru perilakunya. Kepati (sangat keras, bersungguh-sungguh) amarsudi (berusaha, melatih diri), sudane (berkurangnya) hawa lan nepsu (hawa nafsu). Sangat keras berusaha, berkurangnya hawa nafsu. Kepati artinya sangat-sangat, contoh pada kata gething kepati-pati, sangat-sangat benci. Amarsudi berarti berusaha, berlatih dengan tekun. Contoh pada kata marsudi raga, tekun berolah raga. Meski seringkali dijadikan kata majemuk, hawa nafsu sebenarnya dua kata yang punya arti sendiri. Hawa adalah rangsangan dari luar, nafsu adalah keinginan dari dalam. Di dalam falsafah kehidupan orang Jawa ada filosofi: nutup babahan hawa sanga, menutup sembilan lubang hawa. Yakni menutup rangsangan dari luar agar tidak masuk dan keinginan dari dalam agar tidak keluar. Caranya dengan menutup rangsangan hawa agar tidak masuk melalu sembilan lubang, dua mata, dua lubang hidung, dua lubang telinga, satu lubang mulut, satu lubang kelamin dan satu lubang dubur. Yang dimaksud menutup di sini adalah membatasi rangsangan yang masuk lewat lubang-lubang tersebut, misalnya dengan tidak memandang hal-hal yang membangkitkan nafsu, tidak sengaja mencium aroma yang mengundang selera, tidak mendengar percakapan yang tidak pantas, dll. Jadi gatra ini lebih tepat kalau dimaknai sebagai: berlatih dengan sungguh agar mencapai kondisi berkurangnya hawa dan nafsu. Jika nafsu tidak dituruti maka akan melemah, sehingga tidak bergejolak. Inilah kondisi yang ideal bagi manusia. Lalu bagaimana cara agar mencapai keadaan itu? Bait berikut menjelaskannya. Pinesu (dipaksa, diusahakan dengan keras) tapa brata (bertapa, tirakat). Dengan jalan laku tirakat. Berkurangnya hawa dan nafsu tadi dapat dicapai dengan bertapa. Di sini bertapa berarti tirakat, laku prihatin, mencegah atau berpantang dari sesuatu agar mendapat pencerahan. Yang umum dilakukan oleh orang jawa tempo dulu adalah mengurangi makan dan tidur (cegah dhahar lan guling), sambil berdzikir. Juga biasa dilakukan dengan berkhalwat, menyendiri (mahas ing asepi). Arti gatra ini yang sesuai: memaksa diri menjalani laku prihatin atau tirakat. Tanapi (sambil) ing (di) siyang (siang) ratri (malam), amamangun (mematut diri) karyenak (membuat enak) tyasing (hati) sasama (sesama, orang lain). Sambil di siang malam, berbuat menyenangkan hati sesama. Karena Panembahan Senopati adalah seorang raja yang terkenal suka laku tirakat, maka sangat mungkin yang dimaksud dengan gatra ini adalah: sambil berlatih terus untuk mengekang hawa dan nafsu beliau juga berusaha di siang dan malam, membuat kebijakan, memerintah, mengarahkan (itu semua disebut amamangun) agar rakyat merasa nyaman hidupnya dan (enak hati) tanpa rasa takut dan khawatir. Bagi orang Jawa contohlah tauladan dari orang besar di Mataram, Panembahan Senopati. Yang sangat keras berusaha mengurangi hawa dan nafsu dengan memaksa diri menjalai laku prihatin. Sambil di siang dan malam, berbuat kebijakan agar rakyatnya hidup nyaman tanpa rasa takut. Apa yang dilakukan Panembahan Senopati adalah pengabdian dua dimensi, dimensi vertikal dengan beribadah mendekatkan diri kepada Allah dengan jalan laku prihatin, mengurangi hawa nafsu. Dimensi horizontal, tetap hidup bermasyarakat, mengupayakan kesejahteraan rakyat sebagai pelaksanaan kewajiban seorang raja. Inilah tauladan baik yang semestinya dicontoh oleh orang Jawa. Kajian Wedatama (16): Nggayuh Geyonganing Kayun Bait ini masih melanjutkan bait terdahulu tentang perilaku Panembahan Senopati yang layak dijadikan tauladan bagi setiap generasi sesudahnya. Beliau adalah raja yang selalu menyebarkan kesejukan bagi setiap orang yang ditemui. Namun beliau juga tidak lalai dalam kehidupan spiritual, tetap hidup prihatin agar tercapai ketenangan jiwa. Sungguh tabiat seorang raja pinandita. Selengkapnya bait ke-16 adalah sebagai berikut: Samangsane pasamuwan, mamangun marta martani. Sinambi ing saben mangsa, kala kalaning asepi, lelana teki-teki. Nggayuh geyonganing kayun, Kayungyun heninging tyas, Sanityasa pinrihatin, Puguh panggah cegah dhahar lawan guling. Terjemahan dalam Bahasa Indonesia: Dalam setiap pertemuan, menciptakan suasana tenang dan menyejukkan. Sambil di setiap waktu, di kala ada waktu luang, mengembara bertapa, Menggapai kecenderungan hati, Terpesona ketenangan hati, Senantiasa melakukan hidup prihatin, Berpegang teguh tetap mengurangi makan dan tidur. Kajian per kata: Samangsane (dalam setiap) pasamuwan (pertemuan), mamangun (mencipta, membentuk) marta (santun, tenang) martani (menyejukkan). Dalam setiap pertemuan selalu menciptakan suasana tenang dan menyejukkan. Ini berkaitan dengan perilaku dari raja pertama Mataram Panembahan Senopati yang selalu bersikap tenang, sareh, dan menyebarkan kesejukan dalam setiap pertemuan. Bergaul dengan siapa saja sikap beliau selalu menyenangkan, tidak menyakiti hati orang lain sehingga membuat orang lain betah. Sinambi (sambil) ing (di) saben (setiap) mangsa (waktu), kala (di kala) kalaning ( ada waktu) asepi (luang, sepi pekerjaan), lelana (mengembara) teki-teki (teteki, bertapa). Sambil di setiap waktu, di kala ada waktu luang, mengembara untuk menyendiri, mengembara untuk bertapa. Walaupun sang Raja sangat sibuk, manakala ada waktu luang di sela-sela kesibukan, maka beliau menyempatkan melakukan hal-hal selain urusan pemerintahan. Yakni melakukan tapa, berkhalwat dengan sang Khalik, mendekatkan diri dengan Sang Pencipta. Walau seorang raja Senopati tidak melalaikan tugas kenegaraan, tetapi hatinya selalu tidak sabar menanti waktu luang untuk bertapa. Dia melakukan itu karena memang menyukai laku prihatin, tidak suka foya-foya. Karena memang ada yang dituju dalam hidupnya selain kekuasaan. Nggayuh (menggapai) geyonganing (kecenderungan) kayun (hati). Menggapai kecenderungan hati. Jadi bertapanya bukan untuk meraih kekuasaan, toh hal itu sudah didapatkan, melainkan karena memang kecenderungan hati. Cita-cita beliau adalah hidup prihatin untuk mencapai kesejatian, kesempurnaan hidup. Kayungyun (terpesona) heninging (ketenangan) tyas (hati). Terpesona ketenangan, keheningan hati. Karena beliau sangat terpesona dengan ketenangan hati. Tenang dalam arti dekat dengan Yang Maha Kuasa, bukan tenang dalam artian mengasingkan diri dari dunia. Toh beliau tetap bekerja sebagai raja pada setiap harinya. Sanityasa (senantiasa) pinrihatin (melakukan hidup prihatin). Senatiasa melakukan hidup prihatin. Beliau senantiasa hidup dengan cara yang sederhana dengan laku prihatin. Bukan karena keterpaksaan, tetapi karena tingkat pengendalian diri yang sudah paripurna. Tidak gampang kapiluyu (tergoda) oleh kemewahan dunia, meski seorang raja besar yang berkuasa. Puguh (berpegang teguh) panggah (tetap) cegah (mengurangi) dhahar (makan) lawan (maupun) guling (tidur). Berpegang teguh dengan tetap mengurangi makan dan tidur. Walau bisa hidup mewah sang raja justru mengurangi makan dan tidur. Itulah kunci dari hidup prihatin. Agar mata hati tetap terbuka, tidak tertutupi hawa nafsu. Catatan tambahan. Panembahan Senopati adalah penguasa Mataram pertama yang bergelar, Kanjeng Panembahan Senopati Ing Ngalaga Sayidin Panatagama Khalifatullah Tanah Jawa. Gelar di atas menunjukkan bahwa landasan dari kerajaan yang dibangun Senopati adalah religius. Kita tidak membahas itu sekarang, cukup informasi singkat ini sebagai gambaran ringkas tentang tokoh yang dalam serat Wedatama ini disebut sebagai orang besar yang patut dijadikan tauladan. Raja pertama Mataram ini meraih kekuasaan dengan jalan yang tidak mulus. Ketika masih bocah dia harus mengalahkan Adipati Jipang Arya Penangsang yang terkenal sakti mandraguna. Waktu itu Arya Penangsang dicurigai hendak memberontak kepada sultan Hadiwijaya di Pajang. Dalam satu pertempuran yang tidak imbang Senopati berhasil menewaskan Arya Penangsang secara dramatik. Atas kemenangannya itu Senopati yang waktu itu masih bernama Sutawijaya diganjar Alas Mentaok, yang masih berupa hutan rimba. Kemudian dia membabat hutan itu dan mendirikan tanah perdikan. Semakin lama semakin banyak pengikut yang bergabung di tanah baru itu. Tatkala kerajaan Pajang di bawah Sultan Hadiwijaya surut, pamor Sutawijaya meningkat, hingga dia berhasil mendirikan kerajaan baru yang dinamakan Mataram. Dia kemudian menjadi Raja dengan sebutan di atas, atau lebih dikenal sebagai Panembahan Senopati. Sutawijaya terkenal akan kegigihannya dalam bertapa, melakukan laku prihatin. Buahnya dia menjadi raja yang waskitha, cerdik dan tangguh. Kemampuan strateginya berhasil merangkul wilayah-wilayah timur untuk bergabung ke Mataram. Menjelang akhir kekuasaannya di tahun 1601M, Senopati telah mewariskan kerajaan yang besar. Bahkan kerajaannya tetap eksis hingga kini, yakni menjadi Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Kajian Wedatama (17): Mesu Reh Kasudarman Bait ini masih melanjutkan bait terdahulu tentang perilaku Panembahan Senopati yang gemar tirakat, menjalani tapa brata, mencegah makan-tidur dan suka berkelana di tempat sepi. Ini jelas bukan perilaku yang umum dilakukan para raja yang biasa bersikap hedonis, bermewah- mewahan dan memperturutkan hawa nafsu. Mungkin karena kecenderungan hati yang demikian beliau kemudian memilih untuk bergelar Panembahan Senopati. Raja yang suka manembah kepada Allah yang Maha suci. Selengkapnya bait ke-17, Pupuh Sinom dari Serat Wedatama adalah sebagai berikut. Saben mendra saking wisma, Lelana laladan sepi, Ngingsep sepuhing supana, Mrih pana pranaweng kapti, Tis tising tyas marsudi, Mardawaning budya tulus, Mesu reh kasudarman, Neng tepining jalanidhi, Sruning brata kataman wahyu dyatmika. Terjemahan dalam Bahasa Indonesia: Setiap pergi meninggalkan istana, Berkelana ke tempat yang sunyi, Menghisap berbagai ilmu yang baik, Agar jelas yang dikehendaki, Maksud hati tercapai, Kelembutan hati yang utama, Berusaha mempelajari tentang kebajikan, Di tepi samudra, Karena kerasnya bertapa mendapat anugerah Ilahi. Kajian per kata: Saben (setiap) mendra (keluar) saking (dari) wisma (rumah, dalam hal ini adalah istana), lelana (berkelana) laladan (tempat, wilayah) sepi (sunyi). Setiap keluar dari istana, berkelana di tempat sepi. Setiap keluar dari istana, sang raja selalu berkelana ke tempat yang sunyi. Gatra ini mengesankan sang raja “tak betah” untuk berada di istana. Setiap ada kesempatan selalu bersegera menyepi, seolah-olah hatinya sudah terpesona dengan kesepian, dengan laku tirakat. Ngingsep (menghisap) sepuhing (apuh, tuntas, sesuatu yang dihisap sampai tak tersisa saripatinya) supana (ilmu yang baik). Mempelajari ilmu yang baik sampai tuntas. Sang raja ke tempat sepi selain hendak tirakat juga sering berguru kepada para ahli ma’rifat. Ada banyak cerita bahwa Panembahan Senopati kerap ditemui oleh sunan Kalijaga ketika sedang menyepi, untuk diberi wejangan ilmu. Seperti kita ketahui bahwa Sunan Kajiga adalah Waliyullah yang berumur sangat panjang, dan masih sugeng ketika Mataram berdiri. Sunan Kalijaga adalah wali yang sangat peduli atas nasib para penguasa di tanah Jawa. Sejak berdirinya kerajaan Demak dilanjutkan Pajang sampai akhirnya Mataram muncul, sunan Kalijaga selalu njangkungi, memantau para raja-raja tersebut. Oleh karena itu Sunan Kalijaga juga sering dipanggil sebagai Syaikh Jangkung. Mrih (agar) pana (mengetahui) pranaweng ( pranawa ing, terang, jelas) kapti (kehendak). Agar mengetahui dengan jelas yang dikehendaki (hati). Bahwa seseorang itu terdinding dengan hatinya. Apa keinginan hatinya sendiri seringkali tidak disadari. Oleh karena itu perlu terus mengasah akal budi agar nalar kita peka terhadap kehendak hati. Tis tising (yang dituju, maksud) tyas (hati) marsudi (berusaha sungguh). Mardawaning (kelembutan) budya (budi, pikiran) tulus (tulus). Maksud hati mencapai kelembutan budi yang tulus. Jika kita bersungguh-sungguh melatih diri dengan berguru dan menjalani berbagai laku maka akan tercapai kelembutan hati, setulus-tulusnya. Sehingga apa yang tersembunyi dari kehendak hati menjadi terang. Mesu (berusaha keras, memaksa diri agar mampu) reh (segala hal) kasudarman (tentang kebajikan). Darma adalah perbuatan yang dilakukan untuk orang lain atau disebut kebajikan, kasudarman bermakna segala sesuatu tentang kebajikan. Berusaha keras untuk mempelajari ilmu tentang kebajikan. Karena kebajikan bukan teori semata-mata, maka memperlajari ilmu kebajikan adalah sebuah tindakan praktik, atau disebut laku. Di awal-awal telah saya singgung tentang suluk. Nanti akan bertemu tentang bait bahwa ilmu adalah laku. Neng (di) tepining (tepinya) jalanidhi (samudra). Di tepi samudra. Ini adalah tempat yang sering dipakai oleh Panembahan Senopati untuk menyepi. Di tempat inilah Sunan Kalijaga pernah hadir memberi wejangan kepada Senopati bagaimana harus menjadi raja yang baik. Sruning (karena kerasnya) brata (bertapa) kataman (mendapat) wahyu (anugrah) dyatmika (halus, kerohanian, Ilahiah). Karena kerasnya bertapa sehingga mendapat anugrah Ilahi. Wahyu dalam konsep budaya jawa adalah anugrah Ilahi yang berupa pencerahan atau penyingkapan sehingga yang menerima wahyu menjadi naik derajat spiritualnya. Dalam kisah klasik semisal pewayangan wahyu dipersonakan sebagai senjata yang ampuh sehingga dapat dipakai untuk mencapai tujuan tertentu, misal menjadi raja. Tentu saja ini hanya kiasan saja agar penonton lebih mudah dalam memahami.  

Tidak ada komentar: