Senin, 12 November 2018

Bangkit Mangukut Jiwangga

Kajian Wedatama (12): Bangkit Mangukut Jiwangga Kajian Serat Wedatama karya KGPAA Mangkunegara IV, bait ke-12, Pupuh Pangkur. Bait ini berisi wejangan bagaimana seharusnya bertindak jika menerima wahyu Ilahi. Menerima wahyu di sini bisa diartikan mendapat pencerahan, ilham atau belajar memperdalam Al Quran sehingga benar-benar paham akan kandungannya. Ini bait yang agak berat dan saya berharap mendapat hidayah dalam menguraikannya. Semoga tidak salah tafsir. Selengkapnya bait ke-12 adalah sebagai berikut: Sapantuk wahyuning Allah, gya dumilah mangulah ilmu bangkit. Bangkit mikat reh mangukut, kukuting jiwangga. Yen mangkono kena sinebut wong sepuh, lire sepuh sepi hawa. Awas roroning atunggil. Terjemahan dalam bahasa Indonesia secara tekstual: Siapa yang mendapat wahyu Ilahi, lalu segera mampu menguasai ilmu. Mampu menguasai ilmu kasampurnan, kasampurnan diri pribadi. Orang yang demikian yang pantas disebut orang tua, Arti tua adalah jauh dari hawa nafsu. Tajam dalam melihat dwi tunggal. Kajian makna secara rinci kata per kata: Sapantuk (dari kata sapa antuk, siapa mendapat) wahyuning (ilham atau pencerahan) Allah (Allah), gya (bersegera) dumilah (bercahaya, bersinar) mangulah (menguasai, melakukan) ilmu (ilmu) bangkit (mampu). Siapa yang mendapat wahyu Ilahi, lalu segera mampu menguasai ilmu. Siapa yang mendapat pencerahan, maka serta-merta bersinarlah ia sehingga mampu menguasai ilmu. Ini berkenaan dengan petunjuk Allah kepada manusia. Barang siapa Dia kehendaki untuk suatu perkara maka akan dimudahkanNya caranya. Serta-merta, bersegera seseorang menjadi semangat dalam menunut ilmu sehingga menjadi mudahlah ilmu itu meresap dalam jiwanya. Bangkit (dapat, mampu, bersemangat) mikat (memikat) reh (segala hal) mangukut (mengemasi), kukuting (mengemasi) jiwangga (jiwa, kedirian). Mampu menguasai ilmu kesempurnaan, kesempurnaan diri pribadi. Dalam hal ini saya melihat bahwa yang dimaksud oleh dua gatra ini adalah seseorang yang menjadi bersemangat untuk meniadakan diri, dalam arti memutus ego, kedirian. Sudah kita ketahui bersama bahwa penghalang manusia dan hakekat adalah nafsu yang egosentris. Ego ini menjadi pangkal dari segala sifat buruk, sombong, takabur, ujub, dan pongah. Jika seseorang bisa mretheli, melepas, mencopot (mangukut) sifat-sifat buruknya tadi, maka terbukalah kesempurnaan ilmunya. Copotnya sifat-sifat buruk berarti juga copotnya ego (kedirian). Dia kemudian dapat melihat segala sesuatu sebagai ayat-ayat Allah, tanda-tanda kebesaranNya. Yen (jika) mangkono (demikian) kena (bisa) sinebut (disebut) wong (orang) sepuh (tua), lire (arti) sepuh (tua) sepi (jauh dari) hawa (hawa nafsu). Orang yang demikian yang pantas disebut orang tua, arti tua adalah jauh dari hawa nafsu. Jika demikian bisa disebut sebagai orang tua. Arti tua di sini adalah sudah mampu menyingkirkan hawa nafsu. Sepi hawa adalah ungkapan untuk orang yang sudah tidak banyak keinginan lagi. Dalam budaya Jawa tua memang tidak selalu berkaitan dengan umur. Sering kali ungkapan wong tuwa dipakai untuk menyebut orang pintar dalam olah kebatinan, tempat para warga bertanya dan minta nasehat. Bahkan dukun juga sering dipanggil wong tuwa, semata-mata karena dianggap tahu tentang hal-hal ghaib. Awas (tajam penglihatan, kiasan untuk pengertian yang sempurna) roroning (duanya) atunggil (menjadi satu). Tajam dalam melihat dwi tunggal. Makna gatra ini sesuai konteks adalah merujuk kepada orang yang sudah menguasai tentang konsep dualisme dalam penciptaan. Kata awas sering dipakai untuk menyebut orang yang pandangannya tajam, ini adalah kiasan bagi orang yang telah menguasai ilmu sejati, yakni yang telah memahami kesatuan wujud. Antara yang lahir dan yang batin sebenarnya adalah satu wujud, hanya beda penampakan laksana dua sisi mata uang. Siang dan malam adalah satu putaran waktu, keduanya tak beda. Pria dan wanita adalah sama-sama manifestasi nama-nama ilahi dalam kadar yang parsial, pernikahan menyatukan keduanya. Demikianlah dualisme dalam ciptaan, yang sebenarnya adalah satu. Namun karena diri kita parsial maka terlihat sebagai dualisme. Jika kita telah menjadi manusia paripurna (insan kamil) atau univers maka dualisme lenyap dan tampak jelas kesatuan wujud. Inilah yang disebut tauhid sejati. Yang diciptakan adalah manifestasi dari Yang Menciptakan, jadi hanya ada satu wujud sejati. Ini adalah konsep Satunggaling Kawula-Gusti. Saya cukupkan dulu, karena pokok bahasan kita bukan tentang ini. Kajian Wedatama (13): Sumusuping Rasa Jati Tembang Pangkur pada bait ke-13 Serat Wedatama karya KGPAA Mangkunegara IV di bawah ini sering dipakai untuk suluk oleh para dalang pada pertunjukan wayang kulit. Biasanya dipakai saat adegan raja sedang masuk di kamar pemujaan dengan maksud untuk mendapat petunjuk atas masalah yang dihadapi. Kandungan makna bait ini memang sangat pas dengan adegan tersebut. Bait ini menggambarkan keadaan orang yang mendapat pencerahan melalui muhasabah dalam uzlah, ketika menyepi, mengasingkan diri. Bahwa datangnya pencerahan masuk ke dalam hati di waktu antara tidur dan jaga, sekelebat seolah melesatnya mimpi. Selengkapnya bait ke-13 adalah sebagai berikut: Tan samar pamoring suksma, sinuksmaya winahya ing ngasepi. Sinimpen telenging kalbu, pambukaning warana. Tarlen saking liyep layaping aluyup, pindha pesating sumpena. Sumusuping rasa jati. Terjemahan tekstual dalam Bahasa Indonesia: Tak ragu menyatunya citra Suksma (Ilahi), meresapnya didapatkan di waktu sepi, Tersimpan di dalam hati, sebagai pembuka tirai. Antara keadaan jaga dan tidur, seperti kilatan mimpi. Merasuknya rasa sejati. Kajian per kata: Tan (tak) samar (keraguan) pamoring (menyatunya) suksma (ruh, yang dimaksud adalah wahyu Ilahi), sinuksmaya (meresap kedalam) winahya (didapatkan) ing ngasepi (ketika sepi). Tak ragu menyatunya citra Suksma (Ilahi), meresapnya didapatkan di waktu sepi, Kata pamor berasal dari amor yang artinya mengumpul atau menyatu. Pamor artinya sebuah keadaan penyatuan. Kata pamor juga mengingatkan kita pada pamor keris, yakni motif yang timbul pada bilah keris akibat metode tempa logam. Motif pamor ini akan semakin terlihat jelas jika keris sudah berusia lama, dan disebut pecah pamore, artinya keindahan keris makin tampak jelas. Pamor pada keris membuat keris kelihatan indah laksana mengeluarkan sinar. Oleh karena itu pamor juga sering diartikan sebagai pancaran keindahan. Kata pamor juga dipakai pada kalimat: bocan wadon kuwi sudah pecah pamore (anak gadis itu sudah bersinar pamornya). Kalimat ini dipakai untuk menggambarkan gadis yang sudah melewati usia akil baligh, sudah nampak pesona kecantikannya. Suksma di sini sesuai konteks bisa diartikan Suksma (pakai S besar), artinya ruh atau Citra Ilahi. Disebut citra karena sesungguhnya yang menyatu bukanlah Dzat Allah, melainkan kesadaran ilahiyah yang bangkit dari dalam hati. Sebenarnya di dalam diri manusia telah ditiupkan Citra Ilahiyah tersebut dalam bentuk ruh, yang menyertai manusia sejak lahir. Namun dalam kehidupan ruh ini tersembunyi jauh di dasar wujud manusia. Melalui penggalian yang keras (di dalam diri), akhirnya ditemukan. Laksana seorang penambang permata yang menemukan sebongkah permata di dasar palung diri manusia. Sedangkan winahya berarti kawedhar, atau tampak atau sudah muncul, sudah didapatkan. Sehingga gatra tersebut dapat diartikan, tak ada keraguan menyatunya citra Ilahi, meresapnya dalam hati didapatkan ketika sepi. Secara sederhana bisa dikatakan bahwa seringkali kita menyepi, sengaja mengasingkan diri agar mendapat petunjuk atas masalah yang kita hadapi atau untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Misalnya pada saat-saat malam ketika sepi dengan shalat malam, bermuhasabah, mengadu kepada Allah, berkhalwat dengan Allah. Di waktu-waktu tersebut kadang kita mendapat pencerahan sehingga mendapatkan kesadaran baru. Kita sebut pencerahan karena tiba-tiba kita menjadi cerah, seperti kena sinar yang memancar (pamor). Sinimpen (tersimpan) telenging (pusat, di dalam) kalbu (hati), pambukaning (sebagai pembuka) warana (tirai). Tersimpan di dalam hati, sebagai pembuka tirai. Pencerahan, ilham atau inspirasi yang kita dapatkan tadi tiba-tiba tersimpan dalam hati, menjadi pembuka bagi segala keruwetan yang menimpa, solusi bagi permasalahan yang ada. Jadi sifatnya bisa tiba-tiba, mak bedunduk ada dalam pikiran kita, oh begini! Tarlen (tak lain) saking liyep(tidur ayam) layaping (keadaan orang setengah ingat setengah tidak) aluyup (ngantuk), pindha (seperti) pesating (melesatnya) sumpena (mimpi). Antara keadaan jaga dan tidur, seperti kilatan mimpi. Pencerahan tadi datang ke dalam hati ketika kita justru sedang tidak konsentrasi masalah yang ada, ibaratnya seperti orang yang setengah jaga setengah tidur, tiba-tiba terilhami akan sesuatu. Terbersit dalam hati seperti kilatan mimpi, sekejab saja. Plass! Dan tiba-tiba kita telah mendapat solusi atas masalah kita. Anda semua pasti pernah mengalami seperti ini. Sumusuping (merasuk) rasa (rasa) jati (sejati). Merasuknya rasa sejati. Bagi yang sudah terbiasa melakukan uzlah untuk bermuhasabah, bermujahadah, datangnya pencerahan bisa berulang sehingga merasuklah ke dalam hati ilmu rasa sejati. Dalam bait- bait yang lalu telah disinggung bahwa watak ilmu sejati adalah menyenangkan hati, oleh karena itu datangnya pencerahan ini juga membuat hati menjadi tenteram. Tak heran kalau orang bisa sangat menikmati saat-saat sedang menyendiri, bertapa, meditasi, shalat malam atau berbagai macam ritual meditasi lainnya. Kajian Wedatama (14): Mulih Mula Mulanira Bait ini adalah akhir dari Pupuh Pangkur yang berjumlah 14 bait. Menarik untuk disimak bahwa Wedatama memulai piwulang tentang kehidupan justru dengan memakai tembang Pangkur. Di dalam budaya Jawa Pangkur sering diartikan sebagai mungkur saka kadonyan, memalingkan diri dari keduniawian. Tampaknya serat Wedatama memang ditujukan bagi kalangan orang tua yang sudah separuh perjalanan menempuh kehidupan. Ini ditandai dengan kalimat, mingkar-mingkuring angkara, akarana karenan mardisiwi pada bait pertama. Kandungan pesan pada bait terakhir Pupuh Pangkur ini semakin mengukuhkan kesan tersebut. Selengkapnya bait ke-14: Sejatine kang mangkana, wus kakenan nugrahaning Hyang Widhi. Bali alaming ngasuwung, tan karem karameyan. Ingkang sipat wisesa winisesa wus, mulih mula mulanira. Mulane wong anom sami. Terjemahan bait ini ke dalam Bahasa Indonesia: Sebenarnya yang demikian itu, sudah mendapat anugrah Tuhan yang Maha Benar. Kembali ke alam kosong (keakhiratan), tidak mabuk keramaian (keduniawian). Yang bersifat kuasa menguasai, kembali ke asal mula. Oleh karena itu wahai anak muda semua. Kajian per kata: Sejatine (sebenarnya) kang (yang) mangkana (demikian itu), wus (sudah) kakenan (terkena, mendapat) nugrahaning (anugrah) Hyang (Yang Maha) Widhi (Benar). Sebenarnya yang demikian itu,sudah mendapat anugrah Tuhan yang Maha Benar. Gatra ini bisa dianggap merujuk ke bait sebelumnya, yakni seseorang yang mendapat pencerahan. Yang demikian itu sebenarnya adalah karena anugerah Yang Maha Benar. Jika tidak kita pun akan sulit mencapai hakekat hidup di dunia ini. Tugas kita sebagai manusia hanya menyiapkan diri, adapun turunnya anugrah adalah sepenuhnya kehendak Allah. Bali (kembali) alaming (ke alam) ngasuwung (kosong, maksudnya kosong dari hawa nafsu), tan (tidak) karem (sangat suka, mabuk) karameyan (keramaian, kiasan untuk alam dunia). Kembali ke alam kosong (keakhiratan), tidak mabuk keramaian (keduniawian). Karena anugrah Yang Maha Benar kita dapat kembali ke alam kosong. Kosong di sini adalah kosong dari hawa nafsu. Ini adalah merujuk pada hati yang kosong dari keinginan terhadap dunia, jiwa kemudian condong kepada alam keakhiratan. Tan karem karameyan, adalah tidak suka lagi dengan ramainya dunia, alam materi yang banyak warna-warni dengan segala permasalahannya ini. Ingkang (yang) sipat (bersifat) wisesa (kuasa) winisesa (menguasa) wus (sudah), mulih (pulang) mula (asal) mulanira (mula, muasal). Yang bersifat kuasa menguasai, kembali ke asal mula. Kalau kita perhatika bahwa kehidupan duniawi didominasi nafsu meraih kepentingan diri atau egoisme. Ada yang sangat ingin meraih kekayaan materi sehingga tamak akan harta. Mencari harta-benda dengan cara yang tidak halal. Ada yang syahwat politiknya overdosis sehingga senantiasa menjadi motif dari setiap tindakan. Ada yang kemudian membungkusnya dengan pura-pura memihak kaum lemah. Ada yang membungkus dengan tampilan religius demi menarik simpati ummat. Yang demikian itulah kehidupan duniawi, dengan segala riuh-riak di dalamnya. Maka bait ini mengingatkan agar kembali ke asal mula, yakni makhluk Allah yang muasalnya bukan dari dunia ini tapi dari alam lain yang kelak kita semua akan kembali (mulih). Mulane (oleh karena itu) wong (wahai orang) anom (muda) sami (sekalian, semua). Oleh karena itu wahai anak muda. Gatra ke-7 ini bisa disebut sasmita kepada lanjutan Pupuh berikutnya yakni Pupuh Sinom, maka memakai isyarat kata anom. Selain itu menjadi isyarat bahwa bait-bait berikutnya ajaran piwulang ini, nasehat ini, lebih ditujukan untuk anak muda. Selesai sudah kajian Pupuh Pangkur dari Serat Wedatama. Penggubah serat ini mungkin mendahulukan Pupuh Pangkur sebagai penegasan bahwa mungkur dari kadonyan adalah awal dari kehidupan manusia yang sebenarnya. Kita mungkin disebut mati di alam dunia ini jika kelak umur kita habis, tetapi kita akan hidup di alam lain yang lebih elok, indah dan menyenangkan. Itulah kehidupan yang sejati. Berulang kali kata jati ditekankan pada Pupuh Pangkur agar kita selalu ingat bahwa sejatinya alam kita bukan di sini. Kita masih harus berlatih untuk membuka tabir yang menutupi pandangan kita tentang alam sejati itu. Tip dan triks agar tabirnya terbuka adalah dengan meninggalkan perbuatan tercela (angkara), menahane (nahen) hawa nafsu, bermuhasab, bermujahadah di kesepian (ngasepi) agar memancar cahaya Ilahi (pamoring Suksma) kepada diri kita. Jika sudah demikian rasa jati akan sumusup ing jiwangga, ilmu rasa jati akan merasuk dalam jiwa.  

Tidak ada komentar: