Gunungtugel peristiwa sebuah awal peradaban lama,yang telah mengawali peradaban baru sebagai pondasi awal terwujadnya ri Bhumi Mataram.Hal yang demikian diperoleh dari winarah para Sepuh dari jaman ke jaman.Diantaranya winarah yang diperoleh mbah Datrim dari mbah Datuk Kahfi.winarah yang di maksut adalah latar belakang Gunungtugel.Demikian juga winarah dari mbah Bakri dari eyang Muhsin.Eyang Muhsin dari Syeh Abdurahman,dari Ki Buyut Manguneng.
Senin, 12 November 2018
Lumampah Tanpa Arah
Kajian Wedatama (90): Kadya Lumampah Ing Margi Gawat
Bait ke-90, Pupuh Kinanthi, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV:
Umpama wong lumaku, marga gawat den liwati. Lamun kurang ing pangarah, sayekti karendhet ing ri. Apese kasandhung padhas, babak bundhas anemahi
Terjemahan dalam bahasa Indonesia:
Perumpamaannya adalah orang yang sedang berjalan, di jalan yang berbahaya.
Jika kurang perhitungan ,
bisa terganggu oleh semak berduri.
Kalau sial bisa terantuk batu cadas, sehingga babak belur yang dirasa.
Kajian per kata:
Umpama (perumpamaannya) wong (orang) lumaku (berjalan), marga (jalan) gawat (bahaya) den (di) liwati (lewati). Perumpamaannya adalah orang yang sedang berjalan, di jalan yang berbahaya.
Perumpamaan ini mengambil seting di jaman dahulu ketika belum tersedia alat transport seperti jaman sekarang. Jalanan juga masih berupa jalan setapak yang belum diperkeras aspal. Jadi jalan yang berbahaya yang dimaksud adalah jalanan yang jarang dilewati orang sehingga penuh semak belukar dan bebatuan.
Lamun (jika) kurang (kurang) ing pangarah (perhitungan), sayekti (bisa-bisa) karendhet (terganggu) ing (oleh) ri (duri). Jika kurang perhitungan, bisa terganggu oleh semak berduri.
Pangarah yang dimaksud adalah perkiraan dalam berjalan, kira-kira ada lobang atau tidak, kira-kira banyak duri atau tidak. Ini perlu perhitungan dan kehati-hatian. Jika salah perhitungan, akan terkena duri-duri di sepanjang jalan. Karendhet adalah keadaan berjalannya menjadi sulit dan lama karena harus menyingkirkan penghalang, perjalanannya menjadi kurang lancar.
Apese (kalau sial) kasandhung (terantuk) padhas (batu cadas), babak bundhas (babak belur) anemahi (yang dirasa). Kalau sial bisa terantuk batu cadas, sehingga babak belur yang dirasa.
Keadaan terkena duri di atas masih mendingan, kalau sial bisa mendapat halangan yang lebih besar lagi. Bisa-bisa terantuk bebatuan, terjatuh dan babak belur. Kasandhung adalah kaki menendang secara tak sengaja batu atau penghalang apapun di jalan. Babak bundhas adalah
184
keadaan lecet-lecet di sekujur badan, jadi lecetnya amat banyak. Padanan kata dalam bahasa Indonesia adalah babak belur, meski kedua kata itu mempunyai perbedaan yang tipis. Dalam bahasa Jawa babak belur sering dipakai untuk menyebut kondisi luka akibat dihajar orang atau berkelahi, sedangkan kata babak bundhas dipakai untuk menyebut banyak luka karena jatuh.
Apa yang disampaikan dalam bait ini adalah perumpamaan orang yang dalam hidupnya akan mengalami banyak rintangan disebabkan karena kurang hati-hati ketika masih muda, yakni suka melakukan perbuatan kotor seperti yang disebut dalam bait yang lalu. Orang seperti ini dalam perjalanan hidupnya akan sering mendapat halangan walau hanya kecil. Akibat perbuatan kotornya di masa lalu akan menjadi duri-duri dalam hidupnya, menjadi rerendhet yang membuat laju hidupnya menjadi lambat. Bahkan jika perbuatan kotornya juga besar maka seolah menjadi batu sandungan yang membuatnya terjatuh dan luka.
Oleh karena itu hendaklah setiap orang menjaga dirinya dari perbuatan tak baik, agar kelak perjalanan hidupnya menjadi lancar. Syukur-syukur bisa memperbanyak amal kebajikan, kelak pun juga akan banyak yang menolong jika dalam kesulitan. Itulah hukum alam yang berlaku, sunatullah yang mesti kita yakini dan kita pegangi sebagai pedoman hidup.
185
Kajian Wedatama (91): Atetamba Sawuse Bucik
Bait ke-91, Pupuh Kinanthi, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV:
Lumrah bae yen kadyeku, atetamba yen wus bucik. Duweya kawruh sabodhag, yen tan martani ing kapti. Dadi kawruhe kinarya, ngupaya kasil lan melik
Terjemahan dalam bahasa Indonesia:
Wajar saja kalau seperti itu,
berobat kalau sudah terluka.
Walau mempunyai ilmu sebakul besar,
kalau sikapnya tidak menyejukkan hati.
Sehingga pengetahuannya hanya dipakai,
untuk mencari harta dan meraih pamrih (kepentingan).
Kajian per kata:
Lumrah (wajar) bae (saja) yen(kalau) kadyeku (seperti itu), atetamba (berobat) yen (kalau) wus (sudah) bucik (terluka). Wajar saja kalau seperti itu, berobat kalau sudah terluka.
Kebanyakan kita lalai dalam banyak urusan penjagaan. Tidak bersiap-siap dalam menghadapi marabahaya. Baru tersadar kalau sudah terluka. Ternyata berjaga-jaga itu perlu. Tapi tetap dalam batas yang wajar. Kewaspadaan adalah suatu sikap untuk mempersiapkan diri menghadapi segala kemungkinan yang bisa terjadi. Ini suatu tindakan nyata, bukan sekedar waham atau paranoid. Jadi setelah bersiap-siap sebaiknya tawakal dan tidak usah terlalu khawatir. Inilah sikap yang benar.
Tetapi yang menjadi kelaziman seseorang baru kelabakan kalau sudah tertimpa marabahaya. Setelah pernah jatuh baru berhati-hati. Seperti sebuah kampung yang baru menggalakkan ronda setelah ada pencurian. Seperti sebuah negara yang kemudian melakukan mitigasi setelah ada bencana. Padahal sebelumnya abai terhadap potensi yang mengancam. Ini diibaratkan dalam peribahasa atetamba yen wis bucik, berobat setelah lecet. Ada juga peribahasa lain, beboreh sawise benjut, berbedak setelah benjol. Tampaknya sikap abai terhadap bahaya ini sudah menjadi watak yang muncul sejak dahulu. Yang demikian harus dihindari. Mulai sekarang bersiap-siaplah untuk menyambut potensi bahaya yang bisa datang sewaktu-waktu, tetapi harus tetap tawakal, tidak boleh berwaham atau was-was.
Duweya (walau punya) kawruh (pengetahuan) sabodhag (bakul, tenggok besar), yen (kalau) tan (tidak) martani (menyejukkan) ing kapti (kehendak, hati). Walau mempunyai ilmu sebakul besar kalau sikapnya tidak menyejukkan hati.
186
Gatra ini menyoroti watak lain dari manusia yang jauh dari harapan, tetapi juga masih menjadi kelaziman, yakni tentang seseorang yang mempunyai banyak ilmu. Sabodhag artinya sebakul besar, atau tenggok besar. Tenggok adalah bakul dari anyaman bambu yang sering dipakai untuk membawa sesuatu. Bodhag adalah tenggok besar. Biasanya jarang yang punya karena ukurannya yang besar tidak akan kuat diangkat satu orang apabila diisi beras misalnya.
Walaupun punya ilmu yang banyak tetapi kalau sikapnya tidak menyejukkan, bahkan membuat resah dengan ilmunya itu, hal demikian juga tidak baik. Jika mempunyai ilmu di bidang agama, bukan mengajari agar orang bertambah baik, malah menakut-takuti dengan neraka. Sedikit-sedikit bicaranya ini dosa, itu dosa, ini salah, itu salah. Hal yang demikian sangat tidak bijak. Akan lebih bermanfaat apabila ilmunya dipakai untuk pengarahan tentang yang baik dan buruk, dengan tetap mengingat kemampuan belajar orang banyak. Ada yang mampu menyerap banyak ilmu, ada yang cuma sedikit. Nah, disesuaikan saja sebatas kemampuan mereka. Terhadap hal-hal yang kurang sempurna, apabila tidak sangat urgen semoga Allah memaafkan. Ini lebih baik daripada hamtam krama ini salah, itu salah, yang malah berujung antipati.
Dadi (sehingga) kawruhe (pengetahuannya) kinarya (hanya dipakai), ngupaya (mencari) kasil (harta) lan (dan) melik (pamrih). Sehingga pengetahuannya hanya dipakai untuk mencari harta dan meraih pamrih (kepentingan).
Semestinya hal-hal di atas yang harus dilakukan oleh orang berilmu. Kalau ada orang berilmu justru membuat resah itu pantas dicurigai, jangan-jangan ketinggian ilmunya hanya untuk mencari sesuatu kepentingan pribadi. Misalnya mengancam-ngancam orang berharta yang tidak segera pergi haji atau umrah akan mendapat siksa, eh ujung-ujungnya dia mendirikan biro travel umrah. Mengancam orang-orang yang tidak bersedekah dengan siksa kubur, eh ujung-ujungnya membuat lembaga penampung sedekah, dan lain-lain. Jika ada, sekali lagi, jika ada yang demikian itu, dialah orang yang telah menjual agamanya dengan murah. Tak patut diikuti.
187
Kajian Wedatama (92): Melok Yen Arsa Muluk
Bait ke-92, Pupuh Kinanthi, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV:
Meloke yen arsa muluk, muluk ujare lir wali. Wola-wali ora nyata, anggepe pandhita luwih. Kaluwihane tan ana, kabeh tandha tandha sepi.
Terjemahan dalam bahasa Indonesia:
Terlihat jelas kalau hendak menguasai,
perkataannya meninggi seperti (ujaran) wali.
Namun berkali-kali (yang dikatankannya) tidak terwujud,
menganggap diri sebagai pendeta yang mempunyai kelebihan. Kelebihannya tak ada,
semua tanda-tanda (yang menunjukkan bahwa ia pendeta) tidak nampak.
Kajian per kata:
Meloke (terlihat nyata) yen (kalau) arsa (hendak) muluk (menguasai), muluk (terbang, meninggi) ujare (perkataannya) lir (seperti) wali (orang pintar agama). Terlihat jelas kalau hendak menguasai, perkataannya meninggi seperti (ujaran) wali.
Bait ini masih melanjutkan bait sebelumnya yang menguraikan tentang perilaku tak baik dari seorang yang berilmu tinggi, sabodhag, tetapi mencari pamrih dan keuntungan untuk diri sendiri. Bait ini menguraikan lebih lanjut ciri-ciri manusia seperti itu. Maka hendaklah diperhatikan agar tidak terkecoh.
Di sini ada susunan kata yang sangat apik. Dua kata muluk digunakan berdekatan dengan dua arti yang berbeda. Kata muluk pada gatra pertama berarti mengepal makanan untuk dimasukkan ke mulut, sebuah kiasan dari menguasai sesuatu untuk diri sendiri. Kata muluk pada gatra kedua berarti terbang, kiasan untuk sebuah perkataan yang membumbung tinggi ke langit, meninggalkan kenyataan. Kata yang lebih sederhananya adalah umuk, ngethupruk, ngethuprus, yakni banyak bicara yang besar-besar, yang tinggi-tinggi, yang belum tentu nyata terjadi.
Yang dimaksud pada gatra di atas adalah tanda-tanda orang yang ingin menguasai sesuatu untuk diri sendiri, terlihat jelas dari perkataannya yang tinggi-tinggi di awang-awang seperti janji-janji atau harapan yang setinggi langit (muluk). Perkataannya sama sekali tidak berpijak pada kenyataan, seorang bodoh yang berlagak seperti wali (ahli agama, merujuk para wali pada jaman dulu, seperti wali sanga,dll)
188
Wola-wali (namun berkali-kali) ora (tidak) nyata (terwujud), anggepe (menganggap diri) pandhita (pendeta) luwih (lebih, hebat). Namun berkali-kali (yang dikatankannya) tidak terwujud, menganggap diri sebagai pendeta yang mempunyai kelebihan.
Lagi-lagi kita menemui permainan kata yang indah, kali ini tentang kata wali. Pada gatra kedua kata wali dipakai untuk merujuk pada ahli agama pada jaman itu, sedangkan pada gatra ketiga kata wali dipakai sebagai kata majemuk wola-wali, yang artinya berkali-kali.
Orang-orang yang hatinya sarat pamrih tersebut walau kelihatan pintar (karena bicaranya) atau memang pintar beneran (tapi keblinger oleh nafsu) berkali-kali perkataannya tak terwujud. Menyebar isu ini dan itu, tetapi ternyata hoax. Menduga ini dan itu tetapi ternyata tak didukung data akurat yang terpercaya. Walau demikian mereka sedemikian percaya diri menganggap diri mereka pendeta (atau ulama, orang berilmu agama) yang mempunyai kelebihan.
Kata pandhita berarti pemuka agama lain, tetapi dalam serat Wedatama ini dipakai untuk menyebut seseorang yang menjalankan agama Islam dengan tekun dan berilmu tinggi. Hal ini sesuai konteks dan agama penggubah serat yang adalah beragama Islam. Jadi istilah pandhita adalah istilah pinjaman saja.
Kaluwihane (kelebihannya) tan (tak) ana (ada), kabeh (semua) tandha tandha (pertanda) sepi (tak nampak). Kelebihannya tak ada, semua tanda-tanda (yang menunjukkan bahwa ia pandhita) tidak nampak.
Jika ada orang yang mengaku-aku pintar, mengaku-aku ulama, mengaku-aku imam besar, maka perhatikan tanda-tanda dari pengakuan itu. Apakah orang yang mengaku-aku itu mempunyai tanda-tanda atau sifat-sifat dari yang diklaimnya itu? Apabila tidak terdapat tanda-tanda itu maka nyatalah bahwa dia seorang penipu. Hendaklah diri ini teliti agar tak dimanipulasi.
189
Kajian Wedatama (93): Kawruhe Mung Ana Wuwus
Bait ke-93, Pupuh Kinanthi, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV:
Kawruhe mung ana wuwus, wuwuse gumaib gaib. Kasliring thithik tan kena, mencereng alise gathik. Apa pandhita antiga,
kang mangkono iku kaki.
Terjemahan dalam bahasa Indonesia:
Pengetahuannya hanya ada di perkataan,
apa yang dikatankannya pun serba tak nampak. Disela sedikit tak mau,
melotot alisnya tumbuk.
Apakah pendeta palsu,
yang demikian itu anakku?
Kajian per kata:
Bait ini masih melanjutkan uraian tentang orang-orang yang mengaku-aku pintar sebagaimana telah dikaji sebagian dalam bait ke-92.
Kawruhe (pengetahuannya) mung (hanya) ana (ada di) wuwus (perkataan), wuwuse (apa yang dikatakannya pun) gumaib gaib (serba tak nampak). Pengetahuannya hanya ada di perkataan, apa yang dikatankannya pun serba tak nampak.
Pengetahuannya hanya ada dalam perkataan, tidak tampak tanda-tandanya dalam pengamalan sehari-hari. Itu pun yang dikatakannya tentang yang ghaib-ghaib, yang serba tak nampak, serba tak dapat diklarifikasi untuk mengetahui kebenarannya, bersifat top secret sehingga hanya dia sendiri yang mengetahui, bersumber dari orang dalam yang tak mau disebut namanya, dll.
Orang yang demikian ini pasti pernah Anda lihat bahkan di zaman kini, karena sifat manusia memang tak lekang oleh zaman. Terhadap orang seperti ini haruslah selalu waspada, berhati- hatilah sebelum mempercayainya, atau abaikan saja.
Kasliring (disela) thithik (sedikit) tan (tak) kena (mau), mencereng (melotot) alise (alisnya) gathik (tumbuk). Disela sedikit tak mau, melotot alisnya tumbuk.
Disela pembicaraannya sedikit saja tak mau, malah bersikap tak simpatik. Mencereng alise gathik, adalah ekspresi orang yang tak berkenan. Mimik ini ditandai dengan tertariknya otot pada alis, sehingga alisnya mengumpul (gathik), dahi berkerut, dan biasanya dipadu dengan mata melotot. Mimik orang yang setengah marah, atau sesaat sebelum marah. Maka hati- hatilah jangan sering berekspresi demikian, nanti dikira marah betulan lho..
190
Umumnya yang bersikap demikian adalah orang yang merasa pintar, atau seorang senior kepada bawahan atau petinggi kepada pegawai rendahan. Ekpresi tidak berkenan ini memang tak enak dipandang, dan bikin jengkel yang melihat. Oleh karena itu orang-orang besar yang sudah melatih diri juga jarang terlihat dalam mimik yang demikian.
Apa (apakah) pandhita (pandhita) antiga (palsu), kang (yang) mangkono (demikian) iku (itu) kaki (Nak). Apakah pandhita palsu, yang demikian itu anakku?
Kalimat di atas seperti pertanyaan, tetapi sesungguhnya adalah penegasan. Memang demikianlah orang pintar yang palsu. Tidak mau jika ada yang menyanggah atau sekedar menyela, karena orang lain dianggap bodoh sehingga harus selalu mendengar saja.
191
Kajian Wedatama (94): Lakune Ngelmu Sejati
Bait ke-94, Pupuh Kinanthi, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV:
Mangka ta kang aran laku, lakune ngelmu sejati.
Tan dahwen pati openan,
tan panasten nora jahil.
Tan njurungi ing kadurakan, amung eneng amrih ening.
Terjemahan dalam bahasa Indonesia:
Inilah yang disebut laku,
pengamalan ilmu sejati.
Yakni, tidak suka mencerca, tak suka memungut (berita buruk),
tidak nyinyir (mempovokatori) dan tidak suka mengganggu orang lain. Tidak mendorong pada tindak kejahatan,
hanya diam agar (hati) menjadi bening.
Kajian per kata:
Mangka ta (inilah) kang (yang) aran (disebut) laku (laku), lakune (pengamalan) ngelmu (ilmu) sejati (sejati). Inilah yang disebut laku, pengamalan ilmu sejati.
Kita sudah mempelajari tentang ilmu sejati dalam bait-bait awal serat Wedatama ini, apa dan bagaimananya ilmu sejati itu sudah kita bahas secara panjang lebar. Sekarang tinggal pengamalannya dalam kehidupan sehari-hari sebagai buah dari ilmu yang baik. Karena sesungguhnya jenis pohon yang baik diketahui dari buahnya, maka ilmu sejati yang telah dipelajari tadi sudah benar jika melahirkan akhlak yang terpuji.
Tan (tidak) dahwen (suka mencerca) pati openan (suka memungut), tan panasten (kedengkian) nora jahil. Yakni, tidak suka mencerca, tak suka memungut (berita buruk), tidak nyinyir (memprovokasi) dan tidak suka mengganggu orang lain.
Dahwen adalah suka mencerca orang lain, suka mengungkap kesalahan orang lain. Pati open adalah perilaku yang rajin memungut berita tak baik yang didengar. Panasten adalah suka nyinyir kepada orang lain, memanas-manasi, memprovokasi. Jail (jahil) adalah sifat suka mengganggu orang lain
Tan (tidak) njurungi (mendorong) ing (pada) kadurakan (tindak kejahatan), amung (hanya) eneng (diam) amrih (agar) ening (bening). Tidak mendorong pada tindak kejahatan, hanya diam agar (hati) menjadi bening.
Sesungguhnya jiwa manusia ibarat bejana yang penuh air lumpur. Kecenderungan, hasrat angkara, seharusnya mengendap di dasar bejana. Namun adakalanya hasrat tersebut mubal, bergejolak sehingga muncul dalam perbuatan buruk. Maka hati menjadi kotor oleh aneka
192
perbuatan jahat yang dituruti. Jika sudah demikian hidup serasa tak berguna, lebih berharga selembar daun jati kering rasanya.
Maka orang-orang yang sudah terdidik dan berlatih mengamalkan ilmu sejati tahu apa yang harus dilakukan. Mereka mencegah perbuatan jahat muncul dalam diri, seperti mencegahnya lumpur bergolak dalam bejana. Jika hati tidak terdorong oleh hasrat angkara, atau tidak mendorong orang lain dalam keangkaraan, maka perlahan kotoran hati akan mengendap dan hati menjadi besih.
Ini mirip dengan air di bejana tadi, apabila kita tenang dan tidak bergerak-gerak, lumpur akan mengendap dan air menjadi bening. Sungguh ini adalah perumpamaan yang sangat tepat dalam menggambarkan keadaan dan sifat-sifat hati.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar