Senin, 12 November 2018

Sesirih Srabedaning Budi

Kajian Wedatama (85): Kekes Srabedaning Budi Bait ke-84, Pupuh Kinanthi, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV: Pangasahe sepi samun, aywa esah ing salami. Samangsa wis kawistara, lelandhepe mingis-mingis. Pasahe wukir reksamuka, kekes srabedaning budi. Terjemahan dalam bahasa Indonesia: Penajamannya dengan menyendiri di tempat sepi, jangan sampai putus selamanya. Apabila sudah terlihat (hasilnya), bagian tajamnya berkilat-kilat (tanda telah tajam). Dapat memotong gunung reksamuka, maka lenyaplah semua penghalang. Kajian per kata: Pangasahe (penajamannya) sepi (sepi) samun (samar), aywa (jangan) esah (putus) ing salami (selamanya). Penajamannya dengan menyendiri di tempat sepi, jangan sampai putus selamanya. Pada bait-bait awal serat Wedatama, terutama pada Pupuh Sinom sudah banyak dibahas tentang cara menajamkan rasa, yakni dengan cara menyepi. Di tempat sepi penglihatan menjadi tajam, seperti tajamnya penglihatan di kamar gelap. Hati menjadi peka terhadap mobah mosiking kahanan, awas terhadap marabahaya yang akan datang, eling terhadap potensi diri yang dapat terseret nafsu angkara. Ini adalah sebentuk latihan yang harus dilakukan terus menerus, jangan sampai terputus sepanjang hidup. Seperti pemain bola profesional, walau sudah sangat mahir tetap harus latihan, kalau tidak kemampuan bisa menghilang, refleks tubuh bisa melemah, kecepatan dan akurasi menurun. Samangsa (apabila) wis (sudah) kawistara (terlihat), lelandhepe (ujungnya, mata) mingis- mingis (berkilat-kilat). Apabila sudah terlihat (hasilnya), bagian tajamnya berkilat-kilat (tanda telah tajam). Apabila sudah terlihat hasil dari latihan menajamkan budi tersebut maka akan terlihat bagian tajamnya mingis-mingis. Mingis-mingis adalah kata yang sering dipakai untuk menyebut keadaan mata pisau atau pedang yang selesai diasah, terlihat putih berkilat-kilat. Kesan tajamnya sudah terlihat dari pandangan sekilas. Seperti itulah perumpamaan akal budi yang diasah menjadi tajam sekali, mingis-mingis. Pasah (dapat memotong) wukir (gunung) reksamuka (penghalang), kekes (lenyap) srabedaning (semua penghalang) budi (budi). Dapat memotong gunung reksamuka, maka lenyaplah semua penghalang. Pasah artinya tedhas, mampu memangkas, mampu memotong, tidak tumpul atau patah ketika dipakai untuk memotong, dapat diandalkan. Reksamuka adalah nama gunung dalam pewayangan yang medannya penuh rintangan. Srabeda, kabeh rubeda, semua rintangan. Ini kiasan bahwa tajamnya akal budi yang sudah diasah tadi bahkan mampu memotong rintangan sebesar gunung. Maka lenyapnyah, hancurlah segala penghalang kehidupan. Kajian Wedatama (86): Wisesaaning Hyang Tunggal Bait ke-86, Pupuh Kinanthi, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV: Dene awas tegesipun, weruh warananing urip, miwah wisesaning tunggal. Kang atunggil rina wengi, kang mukitan ing sakarsa, gumelar ngalam sakalir Terjemahan dalam bahasa Indonesia: Adapun awas maknanya, mengetahu penghalang (hijab) kehidupan, serta adanya kekuasaan Yang Satu. Yang selalu bersatu di siang dan malam, dan yang meluluskan segala kehendak, seluruh alam seisinya. Kajian per kata: Dene (adapun) awas (awas) tegesipun (maknanya), weruh (mengetahui) warananing (penghalang) urip (kehidupan), miwah (serta) wisesaning (kekuasaan) tunggal (yang satu). Adapun awas maknanya, mengetahui penghalang (hijab) kehidupan, serta adanya kekuasaan Yang Satu. Warana adalah kain atau partisi atau apapun yang dipakai untuk menutupi sesuatu agar tak terlihat. Warananing urip yang dimaksud adalah hijab Allah, penghalang antara makhluk dan Tuhan. Mengapa Tuhan bersembunyi di balik tabir? Karena Dia adalah Dzat Yang Maha Indah, sehingga tak semua mahklukNya akan mampu memandangNya dengan mata telanjang. Hanya orang-orang yang sudah membersihkan diri dari nafsu angkara yang dapat “melihat”-Nya. Inilah rahasia ketuhanan yang mesti dicari manusia. di balik semua ini ada hikmat yang tersembunyi. Manakala Wujud Tuhan tampak nyata niscaya semua mahkluk akan terbakar oleh keagunganNya. Ini justru tidak baik. Hikmah penciptakan mengharuskan seseorang berlatih sedikit demi sedikit secata bertahap hingga dapat melihat kebenaran abadi, Al Haq, mulai dari ‘ilmul yaqin, ainul yaqin sampai haqqul yakin. Tahap-tahap pendakian wujud itu telah disediakan oleh Yang Maha Tahu, dengan mengutus para utusan (Rasul) dan memberi contoh melalui hidup para Nabi dengan syariat yang bertahap pula. Mulai dari syariat yang sederhama sejak Kanjeng Nabi Adam sampai syariat yang sempurna di jaman Kanjeng Nabi Muhammad. Agar manusia dapat belajar sedikit demi sedikit pula, hingga tidak kemlekeren, gumoh dan akhirnya malah gagal total. Siapapun yang telah menempuh jalan pendakian wujud ini dengan pandangan yang awas, teliti dan selalu ingat watak-wantunya sendiri, akan dapat menangkap rahasia di balik tabir, bahwa sang dalang dari setiap kejadian adalah Allah Yang Maha Suci lagi Maha Tinggi semata-mata. Kang (yang) atunggil (selalu bersatu) rina (siang) wengi (malam), kang (yang) mukitan (meluluskan) ing sakarsa (segala kehendak), gumelar(terhampar) ngalam (alam) sakalir (seisinya). Yang selalu bersatu di siang dan malam, dan yang meluluskan segala kehendak seluruh alam seisinya. Dialah Allah yang selalu mengurus makhluknya di siang dan malam, tak sedetikpun meninggalkannya. Dia senantiasa menangani segala urusan. Meluluskan segala pengharapan, menampung segala kehendak, mengabulkan segala doa, menggenapkan segala kekurangan, mengarahkan yang terbaik untuk makhluknya. Dia berada di dekat kita semua, lebih dekat dari urat leher kita sendiri. Dia senantiasa dalam keadaan peduli, menjaga, memberi petunjuk, dan menerangi jalan kemuliaan. Namun Dia tidak memaksakan segala sesuatu disebabkan karena kehendak bebas yang telah Dia janjikan kepada manusia, sebagai batu ujiaan bagi manusia apakah sebentuk ketaatan manusia padaNya merupakan sebuah tindakan sukarela atau terpaksa. Bagi yang menurut kehendak dan titahNya dengan sukarela akan diberikan ganjaran yang agung berupa surga. Bagi yang menurut dengan terpaksa akan diberikan hukuman dengan dibuka tabir rahasia, sehingga mereka akan menyesal dan berkata, “Lhoh kok ngono!” Penyesalan itu dipersonifikasi dalam bentuk neraka, tempat manusia durjana akan tercebur di dalamnya. Kajian Wedatama (87): Den Sembadeng Sedya Bait ke-87, Pupuh Kinanthi, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV: Aywa sembrana ing kalbu, wawasen wuwuse sireki. Ing kono yekti karasa, dudu ucape pribadi. Marma den sembadeng sedya, wewesen praptaning uwis. Terjemahan dalam bahasa Indonesia: Janganlah ceroboh dalam kalbu (hati), perhatikanlah kata (hati)mu. Di situ akan benar-benar terasa, bahwa yang disuarakan bukanlah ucapan pribadi. Maka dari itu hendaklah dituruti niat (yang terbersit) itu, paksakan sampai datangnya akhir (kehidupan). Kajian per kata: Aywa (jangan) sembrana (ceroboh) ing (dalam) kalbu (hati), wawasen (lihatlah, perhatikanlah) wuwuse (perkataan) sireki (engkau). Janganlah ceroboh dalam kalbu (hati), perhatikanlah kata (hati)mu. Dua bait sebelumnya berbicara tentang latihan untuk menajamkan akal budi, membuka tirai kegaiban, menyingkirkan hijab Allah sehingga tampaknya yang Haq, atau kasunyatan. Jika latihan sudah berhasil maka hati menjadi sangat peka terhadap tanda-tanda keagungan Allah. Di sini yang berperan kemudian adalah hati, rasa, akal budi, yang sanggup menerima “bisikan ghaib” dari langit, semacam ilham atau pencerahan. Maka hati yang sudah terhubung dengan kebenaran langit tadi bagaikan bersinar, kita sering mendengar istilah itu dalam kehidupan sehari-hari, yakni hati nurani. Sesungguhnya konsep hati nurani ini bukan hal yang asing karena kita sudah sering mendengarnya dalam perckapan orang awam sekalipun. Tetapi apa dan bagaimananya banyak dari kita yang belum begitu paham. Hati nurani ini akan menangkap kebenaran sejati manakala seseorang mengasah kemampuan akal budinya dengan cara yang telah diuraikan pada banyak kesempatan di kajian ini. Namun apabila seseorang cenderung pada kejahatan hati nurani ini akan padam dan tidak peka dalam menangkap kebenaran. Oleh karena itu kita mesti berhati-hati, tidak boleh ceroboh dalam mendengarkan bisikannya. Lihatlah dengan seksama (wawasen), apa yang dikatakan hati nuranimu! Ing (di) kono (situ) yekti (benar-benar) karasa (terasa), dudu (bukan) ucape (ucapannya) pribadi (sendiri). Di situ akan benar-benar terasa, bahwa yang disuarakan bukanlah ucapan pribadi. Jika latihan kita benar-benar berhasil, akan terlihat jelas bahwa apa yang disuarakan hati nurani bukanlah ucapan kita pribadi, tetapi bisikan Tuhan yang halus, sebagai pengingat manusia agar tak tersesat. Hati nurani yang terasah baik tidak akan menjadi bisikan palsu, yang sejatinya adalah bisikan nafsu rendah yang dibungkus kesalehan. Untuk membedakannya cukuplah dengan melihat pada diri sendiri apakah dalam kehidupan sehari- hari sudah bisa mengendalikan nafsu angkara yang timbul dari keinginan diri? Jika belum maka perbaikilah cara kita hidup agar hati nurani bersinar kembali. Marma (maka dari itu) den (hendaklah) sembadeng (turutilah) sedya (niat itu), wewesen (paksakan sampai) praptaning (datangnya) uwis (akhir). Maka dari itu hendaklah dituruti niat (yang terbersit) itu, paksakan sampai datangnya akhir (kehidupan). Gatra ini berisi petuah agar kita selalu menuruti kehendak hati nurani tadi dalam kehidupan sehari-hari. Kata sembada di sini bermakna menuruti dengan sentausa, dengan kekuatan, dengan pilihan yang mantap, tidak ragu-ragu. Jika masih agak-agak ragu paksakan untuk menuruti itu sampai datangnya akhir kehidupan, artinya sampai selesainya masa kita di dunia ini. Kami ringkaskan dalam satu paragraf agar menjadi simpulan: Hendaknya engkau tidak ceroboh dalam mendengarkan kata hati. Perhatikan dengan seksama agar kata hatimu menyuarakan sesuatu yang bukan kepentinganmu pribadi, bukan bias nafsumu. Jika sudah demikian, hendaklah engkau turuti dengan kekuatan, singkirkan keraguan, paksakan dirimu untuk mengikutinya sampai akhir hidupmu! Kajian Wedatama (88): Dalaning Kasidan Bait ke-88, Pupuh Kinanthi, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV: Sirnakna semanging kalbu, den waspada ing pangeksi. Yeku dalaning kasidan. Sinuda saka sethithik, pamothahing nafsu hawa. Linalantih mamarih titih. Terjemahan dalam bahasa Indonesia: Hilangkan keragu-raguan hati, waspadalah dengan pandanganmu. Itulah jalan keselamatan abadi. Dikurangi dari sedikit, keinginan hawa nafsu. Dibiasakan agar (diri) menjadi unggul. Kajian per kata: Sirnakna (hilangkan) semanging (keragu-raguan) kalbu (hati), den waspada (waspadalah) ing (terhadap) pangeksi (pandanganmu). Yeku (itulah) dalaning (jalan) kasidan (keselamatan abadi). Hilangkan keragu-raguan hati, waspadalah dengan pandanganmu. Itulah jalan keselamatan abadi. Bait sebelumnya berisi anjuran untuk memaksakan diri agar mengikuti apa kata hati nurani. Bait ke-88 ini berisi anjuran agar kita menghilangkan segala keragu-raguan dalam hati (semanging kalbu). Ada kalanya kita dalam melakukan sesuatu harus diawali dengan perang batin yang hebat di dada. Antara mengikuti pertimbangan hati dan kehendak diri. Nah yang demikian ini haruslah dihilangkan, karena itu merupakan tanda bahwa diri kita belum tunduk pada kebenaran. Suara hati nurani adalah tetap menjadi prioritas di sepanjang waktu. Maka kita harus mempertajan akal budi kita, agar pandangan kita terhadap segala seuatu menjadi awas (den waspada ing pangeksi). Jika sudah demikian, mengikuti hati nurani pastilah menjadi jaminan bahwa diri kita sudah menuju ke arah yang benar. Karena seperti yang sudah kita ketahui bersama akal budi yang terasah tajam akan membuat hati kita bening laksana cermin, sehingga kebenaran pun terpantul di sana dengan jelas, tiada keraguan lagi. Jika kita sudah bisa melaksanakan ini, itulah jalan keselamatan yang sejati. Kata kasidan bersinonim dengan lestantun, lestari, artinya keselamatan yang terus-menerus, atau abadi. Orang Jawa sering menyebut mati sebagai murud ing kasidan jati, mundur ke alam keselamatan sejati. Tentu saja bila yang bersangkutan baik amalnya selama di dunia. Sinuda (dikurangi) saka (dari) sethithik (sedikit), pamothahing (keinginan) nafsu hawa (hawa nafsu). Linalantih (dibiasakan) mamarih (agar) titih (unggul, sempurna). Dikurangi dari sedikit, keinginan hawa nafsu. Dibiasakan agar (diri) menjadi unggul. Cara agar kita dapat menghilangkan keragu-raguan hati tersebut adalah dengan mengurangi sedikit demi sedikit keinginan hawa nafsu. Karena sesungguhnya manusia dalam keadaan yang lemah tentang diri sendiri. Belajar berjalan, hidup mandiri pun sulit bagi manusia. Tidak seperti anak ayam, atau kambing yang sudah bisa berjalan di hari pertama kelahirannya, manusia memerlukan waktu yang lama untuk itu. Apalagi untuk mengasah akal budi agar tajam dan mampu menangkap kebenaran, diperlukan waktu yang panjang dan kehendak yang kuat. Hal ini hendaknya dibiasakan sejak dini, agar kelak diri kita menjadi manusia yang unggul (titih), yang menang dari godaan hawa nafsu. Kajian Wedatama (89) Sambekala Den Kaliling Bait ke-89, Pupuh Kinanthi, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV: Aywa mematuh nalutuh, tanpa tuwas tanpa kasil, kasalibuk ing srabeda. Marma dipun ngati-ati, urip keh rencananira, sambekala den kaliling Terjemahan dalam bahasa Indonesia: Jangan membiasakan diri berbuat kotor, itu tidak ada pahalanya dan tak ada hasilnya, (justru) akan membuat diri terjerat oleh banyak rintangan. Oleh karena itu harap berhati-hati, dalam hidup banyak rencana-rencanamu, segala halangan hendaklah dilihat dengan cermat. Kajian per kata: Aywa (jangan) mematuh (membiasakan diri) nalutuh (berbuat kotor), tanpa (tanpa) tuwas (buah, pahala, bayaran) tanpa (tanpa) kasil (hasil), kasalibuk (terjerat) ing (oleh) srabeda (banyak rintangan). Jangan membiasakan diri berbuat kotor, itu tidak ada pahalanya dan tak ada hasilnya, (justru) akan membuat diri terjerat oleh banyak rintangan. Jangan membiasakan diri berbuat kotor. Nalutuh adalah mengeluarkan tlutuh (getah), maksudnya berbuat yang tidak menyenangkan orang. Hal itu tidak ada pahalanya, dan tak ada hasilnya. Tuwas atau pituwas adalah buah dari perbuatan (yang berkonotasi baik), bisa berarti pahala (ganjaran) atau bayaran. Kasil atau asil adalah perolehan yang diakibatkan oleh suatu perbuatan, biasanya berupa materi. Kedua hal itu tak akan kita peroleh dari pebuatan kotor, perbuatan yang tidak menyenangkan orang. Justru yang akan kita peroleh adalah banyak masalah, satu persatu akibat dari perbuatan tersebut akan membuat kita terjerat (kasalibuk) dalam banyak rintangan hidup (srabeda). Tetapi mengapa seseorang bisa melakukan perbuatan tercela atau kotor itu? Sekali lagi inilah hasil dari hawa nafsu yang tidak didisiplinkan. Tidak dijaga dalam batas yang sewajarnya. Sekali hawa nafsu diperturutkan akan mengajak bala tentaranya, yakni segala sifat buruk bersarang di dalam hati, dan outputnya adalah perbuatan tercela. Marma (oleh karena itu) dipun (harap) ngati-ati (berhati-hati), urip (hidup) keh (banyak) rencananira (rencana-rencanamu), sambekala (segala halangan) den (harap) kaliling (dilihat dengan cermat). Oleh karena itu harap berhati-hati, dalam hidup banyak rencana- rencanamu, segala halangan hendaklah dilihat dengan cermat. Oleh karena akibat perbuatan buruk tadi akan membuat kita banyak halangan, maka kita harus berhati-hati dalam merencanakan hidup. Apa saja halangan yang mungkin timbul, yang bisa terjadi akibat perbuatan kita sendiri di masa lalu. Misalnya seseorang yang mau mencalonkan gubernur, eh kok tiba-tiba gagal karena ternyata dahulu pernah memalsukan umur ketika melamar pekerjaan. Pada waktu melamar pekerjaan tidak terbersit sedikitpun kekhawatiran kalau perbuatan curangnya yang hanya sepele itu akan membuat dirinya tersandung kelak, lha wong dia juga tidak mengira kalau bakal ada kesempatan maju sebagai calon gubernur. Tetapi begitulah yang terjadi kadang kesempatan kita menjadi sempit karena di masa lalu pernah melakukan sesuatu yang tidak baik. Maka alangkah baiknya jika kita mulai menjaga diri dengan sungguh-sungguh agar tak terpaksa berbuat curang, siapa tahu kelak kita mendapat kesempatan bagus dalam hidup ini sehingga modal moral kita cukup untuk mengemban setiap tugas. Selain hal di atas, sebaiknya kita mengenali dulu halangan-halangan apa saja yang mungkin kita temui sebelum membuat rencana-rencana. Sambekala adalah segala sesuatu yang bisa membuat kita terganggu dalam mewujudkan suatu rencana. Itu bisa banyak hal, yang diuraikan di atas adalah salah satunya. Selain itu halangan dan rintangan juga bisa datang dari banyak pihak luar, lingkungan atau orang lain. Kaliling adalah melihat dengan jelas dari dekat. Ada istilah ngliling bayi, yakni melihat dengan adu pandangan agar sang bayi bisa melihat kita dengan jelas sehingga tertawa atau berhenti nangis. Sambekala den kaliling, artinya melihat potensi halangan dengan cermat sedetail-detailnya agar semua potensi yang merintangi rencana itu dapat diketahui.

Tidak ada komentar: