Gunungtugel peristiwa sebuah awal peradaban lama,yang telah mengawali peradaban baru sebagai pondasi awal terwujadnya ri Bhumi Mataram.Hal yang demikian diperoleh dari winarah para Sepuh dari jaman ke jaman.Diantaranya winarah yang diperoleh mbah Datrim dari mbah Datuk Kahfi.winarah yang di maksut adalah latar belakang Gunungtugel.Demikian juga winarah dari mbah Bakri dari eyang Muhsin.Eyang Muhsin dari Syeh Abdurahman,dari Ki Buyut Manguneng.
Senin, 12 November 2018
Manulat Nabi Ginawe Umbag
Kajian Wedatama (22): Manulad Nabi Ginawe Umbag
Bait ke-22, Pupuh Sinom, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV:
Lowung kalamun tinimbang, ngaurip tanpa prihatin. Nanging ta ing jaman mangkya, Pra mudha kang den karemi, Manulad nelad Nabi, Nayakengrat Gusti Rasul, Anggung ginawe umbag.
Saben seba mampir masjid, ngajab-ajab mukjijad tibaning drajad.
Terjemahan dalam Bahasa Indonesia:
Masih lumayan dibanding, orang hidup tanpa prihatin. Namun di masa kini,
para muda yang digemari, meniru-niru Nabi,
utusan Allah Gusti Rasul.
Yang hanya dipakai sombong-sombongan. Setiap akan kerja singgah dulu ke masjid, mengharap mukjijat agar naik pangkat.
Kajian per kata:
Lowung (masih lumayan) kalamun (jika) tinimbang (dibandingkan), ngaurip (hidup) tanpa, (tanpa) prihatin (prihatin). Masih lumayan dibanding orang yang hidup tanpa prihatin.
Bahwa sebisa-bisa, sekuat-kuatnya, kita berusaha meniru para pendahulu kita dalam bersusah payah meningkatkan nilai diri melalui tapabrata, menahan nafsu dan bermuhasabah dalam kesunyian. Mungkin kita takkan mampu menyamai kegigihan mereka dalam usaha itu, tetapi jangan lantas putus asa dan tidak berbuat apa-apa. Apapun hasilnya apa yang kita usahakan masih lebih baik daripada orang yang hidupnya tidak pernah prihatin sama sekali.
Nanging ta (namun demikian) ing ( di ) jaman (jaman) mangkya (sekarang), pra (para) mudha (muda) kang (yang) den (di) karemi (sukai), manulad (meniru) nelad (perbuatan) Nabi (Nabi), nayakengrat (nayaka ing rat, utusan jagad, Allah) Gusti (tuan, kanjeng) Rasul (utusan). Namun demikian pada jaman sekarang, yang digemari anak muda adalah meniru- niru Nabi, utusan Allah, Gusti Rasul.
Anak-anak muda zaman itu (ditulisnya serat Wedatama ini) mulai meninggalkan laku prihatin. Yang sekarang digemari adalah meniru-niru Nabi Muhammad utusan Allah. Tampaknya gejala meniru-niru Nabi ini sudah ada sejak zaman dahulu. Meniru pakaian, gaya dan perilaku nabi tapi hanya kulit luarnya saja, tidak disertai meniru semangat moral yang menjadi landasan perilaku seseorang.
48
Anggung (yang hanya) ginawe (dipakai buat) umbag (sombong-sombongan). Meniru-niru Nabi namun hanya dipakai sombong-sombongan.
Apalagi kalau peniruan itu hanya dipakai untuk menyombongkan diri, agar berkesan paling suci, paling islami, paling “sunnah” daripada yang lain. Ini tentu menjadi tidak baik, dan justru bertentangan dengan pesan moral Nabi agar kita senantiasa tawadlu, tidak menyombongkan diri, tidak merasa lebih baik dari yang lain.
Saben (setiap) seba (sowan ke kraton, kerja di kraton) mampir (mampir ke) masjid (masjid). Setiap hari masuk kerja di kraton mampir ke masjid. Ngajab-ajab (mengharap) mukjijad (mukjizt, keajaiban) tibaning (agar diberi) drajad (pangkat). Berdoa mengharap mukjizat agar naik pangkat.
Terlebih-lebih tidak elok apabila muara dari segala sikap religius tadi hanyalah demi kepentingan pribadi, ingin dilihat sebagai orang alim, ingin dinilai orang sholeh, ingin diberi kelebihan oleh Allah sehingga mudah naik pangkat, maupun keinginan sangat pribadi seperti ingin menggaet anak gadis sang tumenggung, dll. Yang demikian tentu tidak baik.
Apa yang diceritakan dalam bait ke-22 ini adalah fenomena kehidupan pada jaman itu, pada masa kolonialisme dulu. Namun demikian, watak manusia sejak Nabi Adam sampai hari kiamat tidak akan pernah berubah. Walau teknologi, kedokteran, pertanian, sudah berkembang pesat hingga mengubah gaya hidup manusia, watak ruhaniyah manusia tetap sama. Karena itulah kita patut waspada agar hal-hal kurang baik yang terjadi pada masa lalu tidak terulang di masa depan.
Kajian Wedatama (23): Anggung Anggubel Sarengat
Bait ke-23, Pupuh Sinom, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV:
Anggung anggubel sarengat,
saringane tan den weruhi.
Dalil dalaning ijemak,
kiyase nora mikani.
Ketungkul mungkul sami,
bengkrakan mring masjid Agung.
Kalamun maca khutbah,
lelagone Dandhang Gendhis,
swara arum ngumandhang cengkok palaran.
Terjemahan dalam Bahasa Indonesia:
Hanya menggeluti soal syari’at saja,
dasar pedoman hukumnya tak diketahui. Dalil sampai kepada ijma’,
qiyasnya tak diketahui.
Terlena dalam suatu tindakan,
bertingkah cari perhatian di Masjid Agung. Bila membaca kutbah,
berirama indah seperti Dandhanggula, suaranya merdu bergaya palaran.
Kajian per kata:
Anggung (hanya) anggubel (menggeluti) sarengat (syariat saja). Hanya menggeluti syariat saja.
Mengutamakan fikih, tanpa peduli bagaimana sebuah hukum diambil. Hanya berpatokan dari yang tertulis pada kitab, sehingga hukum menjadi kaku dan tidak luwe dipraktikan dalam masyarakat. Malah terkesan hanya seperti gagah-gagahan saja.
Saringane (dasar dan pedoman hukum) tan (tidak) den (di) weruhi (ketahui). Dasar pedoman hukumnya tak diketahui.
Itu semua karena hanya mendasarkan pada hukum fikih atau fatwa-fatwa saja. Dasar pertimbangan dibalik sebuah fatwa tidak diketahui dengan baik, akibatnya salah menerapkan. Kurang tepat dalam mengambil qiyas dan penerapan dalil-dalilnya.
Dalil (dalil-dalil) dalaning (sampai kepada) ijemak (ijma’), kiyase (qiyasnya) nora (tidak) mikani (diketahui). Dalil sampai kepada ijma’, qiyasnya juga tak diketahui.
Dalil dan pertimbangan apa yang membuat suatu hukum diambil dan disepakati oleh para ulama. Ijma’ adalah kesepakatan para ulama tentang suatu hukum keagamaan. Apabila ada pertentangan satu ulama dengan yang lain, tak boleh suatu hukum dipaksakan berlaku untuk semua
Sedangkan qiyas adalah menerapkan hukum pada masalah yang belum ada hukumnya tetapi sifatnya mirip dengan suatu perkara yang sudah ada hukumnya. Contohnya apakah ciu itu haram atau tidak? Karena ciu tidak ada di zaman Nabi maka tidak diketahui hukumnya. Maka kemudian diqiyaskan dengan khamr, karena sifat ciu mirip dengan khamr, yakni memabukkan. Dengan demikian diperoleh hukum bahwa ciu adalah haram. Namun demikian tidak boleh sembarang orang melakukan penyimpulan seperti itu, harus seorang ulama mumpuni yang boleh melakukannya.
Ketungkul (terlena) mungkul (terfokus suatu tindakan) sami (semua), bengkrakan (bertingkah cari perhatian) mring (di dalam) masjid Agung (masjid agung, masjid kraton). Terlenalah mereka dalam suatu tindakan, mencari perhatian di Masjid Agung.
Mereka hanya terlena dalam urusan syariat, fikih, tanpa belajar dasar-dasar hukum agama. Ini adalah gejala pendangkalan agama pada masa itu. Ketika seseorang terlalu berpegang pada hukum-hukum fikih tanpa memahami benar dasar-dasar hukum dan perimbangan apa saja yang dipakai untuk mengambil suatu hukum. Bahwa sebuah produk hukum-hukum fikih harus melalui serangkaian ijma’ para ulama, dan apabila tidak memungkinkan paling tidak harus dilakukan ijtihad dengan qiyas oleh ulama yang mumpuni dalam ilmu-ilmu keislaman. Tidak bisa seseorang menyimpulkan hukum sendiri tanpa ilmu yang cukup.
Pemahaman yang hanya pada kulit luar tanpa memahami hakekat dari sebuah produk hukum akan menjadi sangat kaku dan susah diterapkan dalam masyarakat. Kerap menimbulkan sikap eksklusif, merasa benar sendiri dan kurang toleran terhadap pendapat yang berbeda. Akibatnya walau terlihat religius orang-orang ini bisa menimbulkan kesan tak nyaman, apatis, sinis atau malah merendahkan terhadap sesama. Perbuatan mereka malah terkesan over-acting, hanya mencari-cari perhatian atau terkesan hanya untuk pamer saja.
Kalamun (jikalau) maca (membaca) khutbah (khutbah), lelagone (berirama seperti tembang) Dandhang Gendhis (dandhanggula), swara (suara) arum (merdu) ngumandhang (berkumandang) cengkok (bergaya) palaran (palaran, gaya lagu yang runtut dan bersemangat). Jikalau membaca khutbah, berirama seperti lagu Dandhanggula, suaranya merdu berkumandang bergaya palaran.
Ini kiasan ketika membaca khutbah sangat piawai, mempesona layaknya lagu Dandhanggula. Runtut, sangat lancar berkumandang layaknya gaya palaran (nama garapan gendhing yang iramanya lancar, runtut dan bersemangat). Artinya mereka sangat fasih ketika berbicara tentang syariat, seolah sudah hapal di luar kepala, sangat runtut, bersemangat menggebu- nggebu.
Ini adalah fenomena keagamaan di zaman itu, ketika orang-orang muda bersemangat dalam menjalankan syariat tetapi kurang memperhatikan hakekat dari hukum-hukum agama, apalagi mereka juga sudah mulai meninggalkan laku prihatin, sebuah jalan hidup yang akan menghantarkan kepada ma’rifat, pengenalan akan Allah SWT.
Kajian Wedatama (24): Nuladha mBaka Sethithik
Bait ke-24, Pupuh Sinom, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV:
Lamun sira paksa nulad,
tuladhaning Kanjeng Nabi,
O, ngger kadohan panjangka.
Wateke tan betah kaki.
Rehne sira ta Jawi,
sethithik wae wus cukup.
Aywa guru aleman,
nelad kang ngepleki pekih.
Lamun pengkuh pangangkah yekti karahmat.
Terjemahan Bahasa Indonesia:
Bila kamu bertekad mencontoh, Tindak tanduk Kanjeng Nabi, O, nak terlalu muluk anganmu, Kau tak akan mampu,
Karena kamu orang Jawa,
sedikit saja sudah cukup.
Jangan mencari pujian,
Dalam meniru sama persis seperti dalam fikih.
Apabila kuat harapan sebenarnya akan mendapat rahmat.
Kajian per kata:
Lamun (kalau) sira (kamu) paksa (bertekad) nulad (mencontoh). Tuladhaning (tindak- tanduk) Kanjeng (Kanjeng) Nabi (Nabi). O, ngger (O, nak) kadohan (muluk-muluk, terlalu jauh) panjangka (angan-angan). Jika kamu bertekad mencontoh, tindak tanduk Kanjeng Nabi. O, nak terlalu jauh angan-anganmu.
Jika kamu bertekad mencontoh tindak tanduk Nabi secara persis seperti apa yang dahulu dilakukan Kanjeng Nabi dalam segala hal, itu terlalu jauh angan-anganmu nak! Kanjeng Nabi adalah manusia agung yang ahlaknya mulia. Kita takkan mampu menirunya dengan mudah, jadi jangan panjang angan-angan dahulu.
Wateke (wataknya) tan (tidak) betah (betah meniru, takkan kosisten sepanjang waktu) kaki (nak). Kau takkan mampu meniru secara konsisten nak, disebabkan watak Kanjeng Nabi terlalu agung.
Watakmu takkan betah, tak mampu untuk konsisten disebabkan Kanjeng Nabi adalah manusia agung yang berakhlak sangat mulia. Kau takkan bisa bertahan lama jika bermaksud menirunya dalam segala hal.
Rehne (karena, berhubung) sira (kau) ta (kan) Jawi (orang Jawa), sethithik (sedikit) wae (saja) wus (sudah) cukup (cukup). Karena kau kan orang Jawa, sedikit-sedikit saja sudah cukup.
Apalagi kau adalah orang Jawa, pasti berbeda dalam perikehidupan, adat budaya, dan lingkungan dengan Kanjeng Nabi. Sedangkan meniru sesama orang Jawa dari jaman dulu saja tidak bisa sama persis, apalagi meniru Kanjeng Nabi yang beda zaman dan beda lingkungan.
Ini bukan berarti tidak boleh meniru Kanjeng Nabi, namun pasti takkan bisa, apalagi oleh anak muda yang belum terbiasa mengalami perikehidupan yang berat. Sedangkan cobaan seorang nabi sungguh sangat berat. Oleh karena itu tirulah sedikit demi sedikit, disesuaikan dengan kemampuan dan keadaanmu. Misalnya Kanjeng Nabi kuat shalat sepanjang malam, lha kamu kuat gak? Kira-kira begitulah.
Ini tidak berarti tidak boleh meniru perilaku Kanjeng Nabi, tetapi memang amatlah sulit, jadi jangan sombong dulu. Mengingat perilaku Nabi adalah perilaku orang mulia yang didalamnya terkandung banyak kebaikan. Jadi akan sangat sulit ditiru.
Aywa (jangan) guru (memburu, mengejar) aleman (pujian), nelad (meniru) kang (yang) ngepleki (persis) pekih (kitab fikih). Jangan sekedar mengejar pujian, dalam meniru persis seperti dalam kitab-kitab fikih.
Apalagi jika peniruan itu hanya dilandasi karena mengejar pujian, biar dikira orang suci, biar dikira orang yang sudah paham agama, maka yang demikian itu tidak benar. Lebih baik sebagai orang Jawa bersikap tenang dan tidak memperlihatkan kebaikan diri.
Lamun (apabila) pengkuh (mampu, kuat) pangangkah (harapan) yekti (sebenarnya) karahmat (mendapat rahmat). Apabila kuat harapan sebenarnya akan mendapat rahmat.
Sesungguhnya meniru tindak tanduk Nabi seperti yang diriwayatkan dalam kitab-kitab fikih apabila mampu, akan mendatangkan banyak rahmat dari Allah SWT. Namun harus dilakukan secara gradual karena meniru sesuatu yang agung tidaklah mudah. Walau demikian bila dalam melakukan amal perbuatan sehari-hari dilakukan dengan tekad yang kuat, sebenarnya akan mendapat rahmat dari Allah. Sehingga tidak harus sama persis dengan apa yang dilakukan oleh Nabi. Demikianlah pendapat penggubah serat Wedatama ini.
Kajian Wedatama (25): Maksih Butuh Ngupa Boga
Bait ke-25, Pupuh Sinom, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV:
Nanging enak ngupa boga,
rehne ta tinitah langip.
Apata suwiteng nata,
tani tanapi agrami,
Mangkono mungguh mami,
padune wong dhahat cubluk, durung weruh cara Arab,
Jawaku wae tan ngenting, Parandene paripaksa mulang putra.
Terjemahan dalam Bahasa Indonesia.
Namun masih harus mencari nafkah,
Karena tercipta sebagai orang yang lemah,
Bisa mengabdi pada raja,
Bertani ataupun berdagang,
Begitulah menurut pendapat saya,
Itu karena saya orang bodoh,
Tidak tahu tatacara di tanah Arab,
Sedangkan pengetahuan tatacara Jawa saja tak memadai, tetapi memaksakan diri mendidik anak.
Kajian per kata:
Nanging (namun) enak (yang nyaman, kiasan untuk kata harus) ngupa (mencari) boga (makan, nafkah), rehne (karena) ta tinitah (tercipta sebagai ) langip ( laif, dari kata dhaif, orang lemah, miskin). Namun masih harus mencari nafkah, karena tercipta sebagai orang yang lemah.
Bait ini merupakan sambungan dari bait sebelumnya, bahwa meniru perilaku hidup Kanjeng Nabi sebenarnya dapat mendatangkan rahmat. Namun kita masih harus mencari nafkah untuk mencukupi kebutuhan, karena tercipta sebagai makhluk lemah. Berbeda dengan Kanjeng Nabi yang dalam hidupnya sudah tidak peduli dengan harta-benda dunia dan mencukupkan diri dengan rahmat Allah yang beliau terima. Nabi hanya disibukkan mengurus umat dan beribadah di siang dan malam.
Ini juga menjadi salah satu alasan mengapa meniru Nabi menjadi sangat sulit, karena kita masih disibukkan perkara mencari nafkah. Sedangkan nabi sudah sampai pada maqom tidak memikirkan nafkah lagi, melainkan hanya menerima rejeki hari itu untuk hari itu juga. Pemahaman kita tentang hidup belumlah setinggi itu. Kita masih orang yang lemah dalam berkeyakinan dan secara ekonomi juga masih sulit.
Apata (bisa berupa) suwiteng (mengabdi) nata (raja, menjadi pegawai negeri), tani (bertani) tanapi (ataupun) agrami (berdagang). Bisa mengabdi pada raja, bertani atau berdagang.
Bekerja dengan menjadi pegawe negeri, yang berarti akan sangat sempit waktu untuk beribadah. Atau bekerja menjadi petani maupun berdagang, akan lebih-lebih sempit lagi waktu untuk beribadah sesuai teladan Nabi.
Mangkono (begitulah, yang demikian) mungguh (menurut) mami (pendapat saya), padune (itu karena) wong (orang) dhahat (sangat) cubluk (bodoh), purung (belum) weruh (melihat, mengerti) cara (tatacara kehidupan) Arab (orang Arab). Begitulah menurut pendapat saya. Itu karena saya orang sangat bodoh, yang belum mengerti tatacara kehidupan orang di Arab sana.
Demikian itulah pendapat saya (sang penggubah serat ini). Mencontoh kehidupan Nabi hendaklah dilakukan semampunya, agar keduanya (ibadah dan bekerja) sama-sama mendapat perhatian. Pendapatku tadi tidaklah mutlak benar, karena saya adalah orang yang bodoh, tidak mengerti tentang tatacara perikehidupan orang Arab.
Ini adalah pernyataan penulis kitab Wedatama yang rendah hati. Walau beliau mempunyai pendapat tentang bagaimana seharusnya mencontoh kehidupan nabi, namun pendapatnya tidak diklaim sebagai kebenaran mutlak. Malah beliau menyatakan kurangnya pengetahuan tentang hal itu.
Jawaku wae (sedangkan jawaku saja) tan (tidak) ngenting (memadai), parandene (namun) paripaksa (memaksakan diri) mulang (mendidik) putra (anak-cucu). Sedangkan pengetahuanku tentang tatacara Jawa saja tak memadai, tetapi memaksakan diri mendidik anak.
Sedangkan terhadap pengetahuan tatacara yang baik menurut budaya Jawa saja pengetahuanku tak memadai. Namun memaksakan diri mendidik anak cucu, lewat penulisan kitab ini.
Sekali lagi sebuah pernyataan yang rendah hati diungkapkan sang penggubah serat ini, yang merasa bahwa beliau belum pantas untuk memberi nasihat. Beliau tidak bersikap mentang- mentang sebagai penguasa kemudian menulis serat yang isinya perintah dan fatwa, tetapi tetap memakai gaya penulisan yang lazim dipakai para penulis lain. Semoga sikap rendah hati ini bisa kita contoh di kemudian hari.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar