Senin, 07 Januari 2019

Ngaji Sastra Jawa

Sinau angertosi babagan sastra jawai insya Allah baten wonten olonipun.Sastra paninggalan jaman kina menika ngawujuddaken ruh kekiatan jatidiri bangsa kita.Ingkang taksih saget dipun padosi sumberipun,kadosta kifab Wredhatama,wulangreh,Paramayoga,ugi kitab kitab Kakawin.

Minggu, 25 November 2018

Selasa, 20 November 2018

Mengenal Ken Arok

Naskahkuno KITAB PARA DATU ATAU KISAH KEN ANGROK. Tuhan, Pencipta, Pelindung dan Pengakhir Alam, Semoga tak ada halangan, Sudjudku sesempurna sempurnanya. I. Demikian inilah kisah Ken Angrok. Asal mulanja, ia didjadikan manusia: Adalah seorang anak janda di Jiput, bertingkah laku tak baik, memutus - mutus tali kekang kesusilaan, menjadi gangguan Hyang yang bersifat gaib; pergilah ia dari Jiput, mengungsi ke daerah Bulalak. Nama yang dipertuan di Bulalak itu: Mpu Tapawangkeng, ia sedang membuat pintu gerbang asramanya, dimintai seekor kambing merah jantan oleh roh pintu. Kata Tapawangkèng: "Tak akan berhasil berpusing kepala, akhirnya ini akan menjebabkan diriku jatuh kedalam dosa, kalau sampai terjadi aku membunuh manusia, tak akan ada yang dapat menyelesaikan permintaan korban kambing merah itu." Kemudian orang yang memutus mutus tali kekang kesusilaan tadi berkata, sanggup mejadi korban pintu Mpu Tapawangkeng, sungguh ia bersedia dijadikan korban, agar ini dapat menjadi lantaran untuk dapat kembali ke surga dewa Wisnu dan menjelma lagi didalam kelahiran mulia, ke alam tengah lagi, demikianlah permintaannya. Demikianlah ketika ia direstui oleh Mpu Tapawangkeng, agar dapat menjelma, disetujui inti sari kematiannya, akan menikmati tujuh daerah. Sesudah mati, maka ia dijadikan korban oleh Mpu Tapawangkeng. Selesai itu, ia terbang ke surga Wisnu, dan tidak bolak inti perjanjian yang dijadikan korban, ia meminta untuk dijelmakan di sebelah timur Kawi. Dewa Brahma melihat lihat siapa akan dijadikan temanya bersepasang. Sesudah demikian itu, adalah mempelai baru, sedang cinta mencintai, yang laki laki bernama Gajahpara, yang perempuan bernama Ken Endok, mereka ini bercocok tanam. Ken Endok pergi ke sawah, mengirim suaminya, yalah: si Gadjahpara; nama sawah tempat ia: mengirim : Ayuga; desa Ken Endok bernama Pangkur. Dewa Brahma turun kesitu, bertemu dengan Ken Endok, pertemuan mereka kedua ini terdjadi di ladang Lalaten; dewa Brahma mengenakan perjanjian kepada isteri itu: "Jangan kamu bertemu dengan lakimu lagi, kalau kamu bertemu dengan suamimu, ia akan mati, lagi pula akan tercampur anakku itu, nama anakku itu: Ken Angrok, dialah yang kelak akan memerintah tanah Jawa". Dewa Brahma lalu menghilang. Ken Endok lalu ke sawah, berjumpa dengan Gajahpara. Kata Ken Endok: "Kakak Gajahpara, hendaknyalah maklumi, saya ditemani didalam pertemuan oleh Hyang yang tidak tampak di ladang Lalateng, pesan beliau kepadaku: jangan tidur dengan lakimu lagi, akan matilah lakimu, kalau ia memaksa tidur dengan kamu, dan akan tercampurlah anakku itu. Lalu pulanglah Gajahpara, sesampainya di rumah Ken Endok diajak tidur, akan ditemani didalam pertemuan lagi. Ken Endok segan terhadap Gajahpara. "Wahai, kakak Gajahpara putuslah perkawinanku dengan kakak, saya takut kepada perkataan Sang Hyang. Ia tidak mengijinkan aku berkumpul dengan kakak lagi." Kata Gadjahpara: "Adik, bagaimana ini, apa yang harus kuperbuat, nah tak berkeberatan saya, kalau saya harus bercerai dengan kamu; adapun harta benda pembawaanmu kembali kepadamu lagi, adik, harta benda milikku kembali pula kepadaku lagi". Sesudah itu Ken Endok pulang ke Pangkur di seberang utara, dan Gajahpara tetap bertempat tinggal di Campara di seberang selatan. Belum genap sepekan kemudian matilah Gajahpara. Kata orang yang mempercakapkan: "Luar biasa panas anak didalam kandungan itu, belum seberapa lama perceraian orang tua laki laki perempuan sudah diikuti, orang tua laki laki segera meninggal dunia". Akhirnja sesudah genap bulannya, lahirlah seorang anak laki-laki, dibuang di kuburan kanak kanak oleh Ken Endok. Selanjutnya ada seorang pencuri, bernama Lembong, tersesat di kuburan anak anak itu, melihat benda bernyala, didatangi oleh Lembong, mendengar anak menangis, setelah didekati oleh Lembong itu, nyatalah yang menyala itu anak yang menangis tadi, diambil diambin dan dibawa pulang diaku anak oleh Lembong. Ken Endok mendengar, bahwa Lembong memungut seorang anak, teman Lembonglah yang memberitakan itu dengan menyebut nyebut anak, yang didapatinya di kuburan kanak kanak, tampak bernyala pada waktu malam hari. Lalu Ken Endok datang kepadanya, sungguhlah itu anaknya sendiri. Kata Ken Endok: "Kakak Lembong, kiranya tuan tidak tahu tentang anak yang tuan dapat itu, itu adalah anak saya, kakak, jika kakak ingin tahu riwayatnya, demikianlah: Dewa Brahma bertemu dengan saya, jangan tuan tidak memuliakan anak itu, karena dapat diumpamakan, anak itu beribu dua berayah satu, demikian persamaannya." Lembong beserta keluarganya semakin cinta dan senang, lambat laun anak itu akhirnya menjadi besar, dibawa pergi mencuri oleh Lembong. Setelah mencapai usia sebaya dengan anak gembala, Ken Angrok bertempat tinggal di Pangkur. Habislah harta benda Ken Endok dan harta benda Lembong, habis dibuat taruhan oleh Ken Angrok. Kemudian ia menjadi anak gembala pada yang dipertuan di Lebak, menggembalakan sepasang kerbau, lama kelamaan kerbau yang digembalakan itu hilang, kerbau sepasang diberi harga delapan ribu oleh yang dipertuan di Lebak, Ken Angrok sekarang dimarahi oleh orang tua laki laki dan perempuan, kedua duanya: "Nah buyung, kami berdua mau menjadi hamba tanggungan, asal kamu tidak pergi saja, kami sajalah yang akan menjalani, menjadi budak tanggungan pada yang dipertuan di Lebak". Akhirnya tidak dihiraukan, Ken Angrok pergi, kedua orang tuanya ditinggalkan di Campara dan di Pangkur. Lalu Ken Angrok pergi mencari perlindungan di Kapundungan; Orang yang diungsi dan dimintai tempat berlindung tak menaruh belas kasihan. Ada seorang penjudi permainan Saji berasal dari Karuman, bernama Bango Samparan, kalah bertaruhan dengan seorang bandar judi di Karuman, ditagih tak dapat membayar uang, Bango Samparan itu pergi dari Karuman, berjiarah ke tempat keramat Rabut Jalu, mendengar kata dari angkasa, disuruh pulang ke Karuman lagi. "Kami mempunyai anak yang akan dapat menyelesaikan hutangmu ia bernama Ken Angrok." Pergilah Bango Samparan dari Rabut Jalu, berjalan pada waktu malam, akhirnya menjumpai seorang anak, dicocokkan oleh Bango Samparan dengan petunjuk Hyang, sungguhlah itu Ken Angrok, dibawa puIang ke Karuman, diaku anak oleh Bango Samparan. Dia itu lalu ketempat berjudi, bandar judi ditemui oleh Bango Samparan dilawan berjudi, kalahlah bandar itu, kembali kekalahan Bango Samparan, memang betul petunjuk Hyang itu, Bango Samparan pulang, Ken Angrok dibawa pulang oleh Bango Samparan. Bango Samparan berbayuh dua orang bersaudara, Genuk Buntu nama istri tuanja. dan Tirtaya nama isteri mudanja. Adapun nama anak anaknya dari isteri muda, yalah Panji Bawuk, anak tengah Panji Kuncang, adiknya ini Panji Kunal dan Panji Kenengkung, bungsu seorang anak perempuan bernama Cucu Puranti. Ken Angrok diambil anak oleh Genuk Buntu. Lama ia berada di Karuman, tidak dapat sehati dengan semua para Panji itu, Ken Angrok berkehendak pergi dari Karuman. Lalu ia ke Kapundungan bertermu dengan seorang anak gembala anak tuwan Sahaja, kepala desa tertua di Sagenggeng, bernama Tuwan Tita; ia bersahabat karib dengan Ken Angrok. Tuwan Tita dan Ken Angrok sangat cinta mencinta, selanjutnya Ken Angrok bertermpat tinggal pada Tuwan Sahaja, tak pernah berpisahlah Ken Angrok dan Tuwan Sahaja itu, mereka ingin tahu tentang bentuk huruf huruf, pergilah ke seorang guru di Sagenggeng, sangat ingin menjadi murid, minta diajar sastera. Mereka diberi pelajaran tentang bentuk bentuk bentuk dan penggunaan pengetahuan tentang huruf huruf hidup dan huruf huruf mati, semua perobahan huruf, juga diajar tentang sengkalan, perincian hari tengah bulan, bulan, tahun Saka, hari enam, hari lima, hari tujuh, hari tiga, hari dua, hari sembilan, nama nama minggu. Ken Angrok dan Tuwan Tita kedua duanya pandai diajar pengetahuan oleh Guru. Ada tanaman guru, menjadi hiasan halaman, berupa pohon jambu, yang ditanamnya sendiri. Buahnya sangat lebat, sungguh padat karena sedang musimnya, dijaga baik tak ada yang diijinkan memetik, tak ada yang berani mengambil buah jambu itu. Kata guru: "Jika sudah masak jambu itu, petiklah". Ken Angrok sangat ingin, melihat buah jambu itu, sangat dikenang kenangkan buah jambu tadi. Setelah malam tiba waktu orang tidur sedang nyenyak nyenyaknya, Ken Angrok tidur, kini keluarlah kelelawar dari ubun ubun Ken Angrok, berbondong bondong tak ada putusnya, semalam malaman makan buah jambu sang guru. Pada waktu paginya buah jambu tampak berserak serak di halaman, diambil oleh pengiring guru. Ketika guru melihat buah jambu rusak berserakan di halaman itu, maka rnendjadi susah. Kata guru kepada murid murid: "Apakah sebabnya maka jambu itu rusak." Menjawablah pengiring guru: "Tuanku rusaklah itu, karena bekas kelelawar makan jambu itu". Kemudian guru mengambil duri rotan untuk mengurung jambunya dan dijaga semalam malaman. Ken Angrok tidur lagi diatas balai balai sebelah selatan, dekat tempat daun ilalang kering, di tempat ini guru biasanya menganyam atap. Menurut penglihatan, guru melihat kelelawar penuh sesak berbondong bondong, keluar dari ubun ubun Ken Angrok, semuanya makan buah jambu guru, bingunglah hati guru itu, merasa tak berdaya mengusir kelelawar yang banyak dan memakan jambunya, marahlah guru itu, Ken Angrok diusir oleh guru, kira kira pada waktu tengah malam guru rnengusirnya. Ken Angrok terperanjat, bangun terhuyung huyung, lalu keluar, pergi tidur di tempat ilalang di luar. Ketika guru menengoknya keluar, ia melihat ada benda menyala di tengah ilalang, guru terperanjat mengira kebakaran, setelah diperiksa yang tampak menyala itu adalah Ken Angrok, ia disuruh bangun, dan pulang, diajak tidur di dalam rumah lagi, menurutlah Ken Angrok pergi tidur di ruang tengah lagi. Pagi paginya ia disuruh mengambil buah jambu oleh guru, Ken Angrok senang. katanya : "Aku mengharap semoga aku menjadi orang, aku akan membalas budi kepada guru." Lama kelamaan Ken Angrok telah menjadi dewasa, menggembala dengan Tuwan Tita, membuat pondok, bertempat di sebelah timur Sagenggeng, di ladang Sanja, dijadikan tempatnya untuk menghadang orang yang lalu lintas di jalan, dengan Tuwan Titalah temannya. Adalah seorang penyadap enau di hutan orang Kapundungan, mempunyai seorang anak perempuan cantik, ikut serta pergi ke hutan, dipegang oleh Ken Angrok, ditemani didalam pertemuan didalam hutan, hutan itu bernama Adiyuga. Makin lama makin berbuat rusuhlah Ken Angrok, kemudian ia memperkosa orang yang melalui jalan, hal ini diberitakan sampai di negara Daha, bahwasanya Ken Angrok berbuat rusuh itu, maka ia ditindak untuk dilenyapkan oleh penguasa daerah yang berpangkat akuwu, bernama Tunggul Ametung. Pergilah Ken Angrok dari Sagenggêng, mengungsi ke tempat keramat. Rabut Gorontol. "Semoga tergenang didalam air, orang yang akan melenyapkan saya" kutuk Ken Angrok, semoga keluar air dan tidak ada, sehingga terdjadilah tahun tak ada kesukaran di Jawa." Ia pergi dari Rabut Gorontol, mengungsi ke Wayang, ladang di Sukamanggala. Ada seorang pemikat burung pitpit, ia memperkosa orang yang sedang rnemanggil manggil burung itu, lalu menuju ke tempat keramat Rabut Katu. Ia heran, melihat tumbuh tumbuhan katu sebesar beringin, dari situ lari mengungsi ke Jun Watu, daerah orang sempurna, mengungsi ke Lulumbang, bertempat tinggal pada penduduk desa, keturunan golongan tentara, bernana Gagak Uget. Lamalah ia bertempat tinggal disitu, memerkosa orang yang sedang rnelalui jalan. Ia lalu pergi ke Kapundungan, mencuri di Pamalantenan, ketahuanlah ia, dikejar dikepung, tak tahu kemana ia akan mengungsi, ia memanjat pohon tal, di tepi sungai, setelah siang, diketahui, bahwasanya ia memanjat pohon tal itu, ditunggu orang Kepundungan dibawah, sambil dipukulkan canang, Pohon tal itu ditebang oleh orang-orang yang mengejarnya. Sekarang hi menangis, menyebut nyebut Sang Pentjipta Kebaikan atas dirinya, akhirnya ia mendengar sabda dari angkasa, ia disuruh memotong daun tal, untuk didjadikan sayapnya kiri kanan, agar supaya dapat melayang ke seberang timur, mustahil ia akan mati, lalu ia memotong daun tal mendapat dua helai, dijadikan sayapnya kiri kanan, ia melayang keseberang timur, dan mengungsi ke Nagamasa, diikuti dikejar, mengungsilah ia kedaerah Oran masih juga dikejar diburu, lari mengungsi ke daerah Kapundungan, yang dipertuan di daerah Kapundungan didapatinya sedang bertanam, Ken Angrok ditutupi dengan cara diaku anak oleh yang dipertuan itu. Anak yang dipertuan di daerah itu sedang bertanam, banyaknya enam orang, kebetulan yang seoarang sedang pergi mengeringkan empangan, tinggal 1ima orang; yang sedang pergi itu diganti menanam oleh ken Angrok, datanglah yang mengejarnya, seraya berkata kepada penguasa daerah: "Wahai, tuan kepala daerah, ada seorang perusuh yang kami kejar, tadi mengungsi kemari." meanjawablah penguasa daerah itu: "Tuan tuan, kami tidak sungguh bohong kami tuan, ia tidak disini; anak kami enam orang, yang sedang bertanam ini genap enam orang, hitunglah sendiri saja, jika lebih dari enam orang tentu ada orang lain disini" Kata orang-orang yang mengejar: "Memang sungguh, anak penguasa daerah enam orang, betul juga yang bertanam itu ada enam orang." Segera pergilah yang mengejar. Kata penguasa daerah kepada ken Angrok: "Pergilah kamu, buyung, jangan jangan kembali yang mengejar kamu, kalau kalau ada yang membicarakan kata kataku tadi, akan sia sia kamu berlindung kepadaku, pergilah mengungsi ke hutan". Maka kata ken Angrok: "Semoga berhenti lagilah yang mengejar, itulah sebabnya maka Ken Angrok bersembunyi di dalam hutan, Patangtangan nama hutan itu. Selanjutnya ia mengungsi ke Ano, pergi ke hutan Terwag. ia semakin merusuh. Adalah seorang kepala lingkungan daerah Luki akan melakukan pekerjaan membajak tanah, berangkatlah ia membajak ladang, mempesiapkan. tanahnya untuk ditanami kacang, membawa nasi untuk anak yang menggembalakan lembu kepala Lingkungan itu, dimasukkin kedalam tabung bambu, diletakkan diatas onggokan; sangat asyiklah kepala Lingkungan itu, selalu membajak ladang kacang saja, maka dirunduk diambil dan dicari nasinya oleh Ken Angrok, tiap tiap hari terdjadi demikian itu, kepala Lingkungan bingunglah, karena tiap tiap hari kehilangan nasi untuk anak gembalanya, kata kepala Lingkungan: "Apakah sebabnya maka nasi itu hilang".

Senin, 12 November 2018

Dumadya Angratoni

Kajian Wedatama (18): Dumadya Angratoni Bait ini menceritakan hubungan antara Panembahan Senopati dan Ratu Kidul. Jauh dari kesan bahwa Ratu Kidul adalah penguasa alam ghaib yang juga berkuasa atas nasib manusia, di dalam bait ini justru dikisahkan bahwa Ratu Kidul tunduk di bawah wibawa Raja Mataram. Selengkapnya bait ke-18, Pupuh Sinom dari Serat Wedatama adalah sebagai berikut. Wikan wengkoning samudra, kederan wus den ideri. Kinemat kamot ing driya. Rinegan sagegem dadi, dumadya angratoni. Nenggih kanjeng ratu kidul, ndedel nggayuh nggegana. Umara marak maripih. Sor prabawa lan wong agung Ngeksiganda. Terjemahan dalam Bahasa Indonesia: Mengetahui luasnya wilayah samudera, Seluruhnya sudah dilalui, Dirasakan dan diresapi dalam sanubari. Dimuat dalam genggaman, jadilah (laut itu) dikuasai. Tersebutlah kanjeng Ratu Kidul, melesat menggapai angkasa. Datang menghadap dengan hormat. Kalah wibawa dengan orang besar dari Mataram. Kajian per kata: Wikan (tahu, mengetahui) wengkoning (keliling wilayah) samudra (samudera), kederan (kelilingnya) wus (sudah) den (di) ideri (dilewati dengan tuntas). Mengetahui luasnya wilayah samudera, sudah tuntas dikelilingi seluruh wilayahnya. Ini berkaitan dengan tempat bertapa Panembahan Senopati yang berada di pinggir laut. Bahwa beliau sudah mengetahui wilayah luasnya samudera karena sudah berkeliling sampai tuntas, tak ada sejengkal pun yang terlewati. Sekeliling samudera sudah dijelajahi. Kinemat (dirasakan sungguh-sungguh) kamot (dimuat ) ing (di dalam) driya (hati). Sudah dikuasai isinya, dimasukkan dalam hati. Ini berkaitan dengan potensi lautan tersebut. Hal apa saja yang dapat dilakukan di lautan tersebut. Apakah dibudidayakan potensi penghasil ikannya, atau dikembangkan potensi lainnya. Rinegan (dinilai, dikerta aji) sagegem (satu genggaman) dadi (muat), dumadya (jadilah) angratoni (menjadi ratu/raja). Ditaksir muat dalam genggaman, jadilah laut itu dengan segala isinya dapat dikuasai. Setelah dinilai, disurvey dengan berkeliling tadi, maka digenggamlah, artinya siap dieksplorasi. Sudah disiapkan rencana eksekusi untuk menggali potensi kelautan tersebut. Angratoni berarti menjadi raja di laut itu. Dalam bahasa jawa ratu bisa bersinonim dengan kata raja, tidak terkait dengan gender. Contohnya pada paribasan, adoh ratu cedhak watu, yang bermakna jauh dari raja dekat dengan batu, kiasan untuk orang di pedalaman yang tidak mengenal etika kenegaraan. Nenggih (tersebutlah) kanjeng (yang berdiri) ratu kidul (sebagai ratu di selatan), ndedel (melesat) nggayuh (mencapai) nggegana (mengangkasa, mengudara). Tersebutlah yang berdiri sebagai ratu di selatan (Ratu Kidul), melesat menggapai angkasa. Ini merujuk ke tokoh ghaib yang dipercaya menguasai laut selatan dan sering dipanggil sebagai Ratu Kidul. Tersebutlah ratu Kidul, yang berada di dalam laut selatan, Samudera Indonesia. Dari tempatnya di dalam lautan, melesat menggapai angkasa di atas permukaan laut, setelah melihat sepak terjang Panembahan Senopati tersebut. Umara (datang) marak (menghadap) maripih (dengan hormat). Datang menghadap dengan sikap hormat. Maripih adalah sikap hormat, gestur menghormati, sebagai pertanda bahwa yang dihadapi adalah orang besar yang berwibawa. Jadi gatra ini menunjukkan bahwa Ratu Kidul datang menghormati Panembahan Senopati. Sor (lebih rendah) prabawa (wibawa) lan (dengan) wong (orang) agung (besar) Ngeksiganda (Mataram). Kalah wibawa dengan orang besar dari Mataram. Mengapa Ratu Kidul mendatangi? Karena memang kalah wibawa, merasa dirinya lebih rendah derajatnya dibanding orang besar dari Mataram itu. Bait ke-18 ini meluruskan mitos yang selama ini beredar bahwa Panembahan Senopati bertapa di pinggir Samudera adalah untuk minta restu pada Ratu Kidul agar didukung menjadi raja. Yang benar menurut bait di atas adalah memang Ratu Kidul yang datang karena kewibawaan Senopati yang derajat spiritualnya sudah melampaui Ratu Kidul sendiri. Catatan tambahan: Bahwa cerita tentang Ratu Kidul ini sudah beredar di kalangan masyarakat sampai ke lapisan bawah. Sebagian orang memang menganggap Ratu Kidul sedemikian berkuasa sehingga mampu mengubah nasib seseorang. Sebagian lagi menganggap Ratu Kidul adalah mitos yang sengaja dihembuskan agar Panembahan Senopati mendapat legitimasi spiritual untuk menjadi raja Mataram. Pendapat yang masuk akal adalah pendapat terakhir, dari seorang pakar filsafat asal Jogja. Bahwa cerita tentang Ratu Kidul adalah simbolisme menyatunya Raja Mataram dengan alam. Kelak ada cerita bahwa raja-raja Mataram harus menikahi Ratu Kidul. Ini juga simbolisme bahwa penguasaan Mataram terhadap alam khususnya bumi tidak boleh eksploitatif, tetapi relasinya harus mirip orang menikah, mengasihi (alam) dan memberdayakan(nya). Saya cukupkan tambahan keterangan ini, kelak semoga dapat mengkaji lebih jauh. Karena pokok bahasan kita kali ini hanya soal makna gramatikal Werat Wedatama, tak bijak jika melebar ke mana-mana. Kajian Wedatama (19): Teken Janggut Suku Jaja Bait ke-19, Serat Wedatama, Pupuh Sinom. Dhahat denira aminta Sinupeket pangkat kanthi, Jroning alam palimunan, Ing pasaban saben sepi, Sumanggen anyanggemi, Ing karsa kang wus tinamtu, Pamrihe amung aminta, Supangate teki teki, Nora ketang teken janggut suku jaja. Terjemahan dalam Bahasa Indonesia: Dengan sangat dirinya meminta, Agar akrab didudukkan sebagai pengikut, Di dalam alam ghaib, Di kala mengembara di alam sepi, Siap menyanggupi, Kehendak yang sudah ditentukan, Harapannya hanya meminta Restu dalam bertapa, Walau harus bersusah payah jalannya. Kajian per kata: Dhahat (Betul-betul, dengan sangat) denira (dirinya) aminta (meminta), sinupeket (didekatkan menjadi lengket, akrab) pangkat (kedudukan, diberi pangkat, diikutkan) kanthi (dengan).Ratu Kidul meminta dengan sangat, didekatkan agar akrab dengan diberi kedudukan Karena sudah kalah wibawa dengan Panembahan Senopati, Ratu Kidul datang menghadap dengan hormat dan meminta dengan sangat agar diberi kedudukan sebagai pengikut, tak lain agar dapat membantu sesuai dengan kemampuannya. Jroning (di dalam) alam (alam) palimunan (tak kasat mata,ghaib), ing (di) pasaban (pengembaraan) saben (setiap waktu, setiap tempat) sepi (sepi). Di alam tak kasat mata, alam ghaib, dalam pengembaraan di alam sepi. Yakni, sebagai penghuni yang berkuasa di alam ghaib, dikala mengembara di alam sepi. Maksud dari gatra ini adalah apabila Panembahan Senopati berkelana di alam sepi, maka sudah ada pengikutnya yang akan setia menemani, yakni Ratu Kidul. Sumanggen (bersedia) anyanggemi (menyanggupkan diri). Ing (pada) karsa (kehendak) kang (yang) wus (sudah) tinamtu (ditentukan). Bersedia, menyanggupkan diri menerima perintah, pada kehendak (sang raja) yang telah ditentukan. Ratu Kidul bersedia, menyanggupkan diri pada semua kehendak dan perintah sang raja yang telah ditentukan baginya. Dia takkan membantah atau mengabaikan perintah itu. Pamrihe (Yang diharapkan) amung (hanya) aminta (meminta), supangate (restu, perkenan) teki teki (bertapa). Yang diharapkan hanya diijinkan meminta, restu dalam bertapa. Adapun alasan dari Ratu Kidul dalam menyanggupi tersebut adalah agar dia dijadikan sebagai pengikut dan direstui dalam bertapa. Sudah umum menjadi kepercayaan masyarakat Jawa bahwa Ratu Kidul adalah seorang bidadari yang tidak diterima naik ke kahyangan akibat telah berbuat salah. Oleh karena itu dia kemudian bertapa di laut selatan. Ketika melihat cara bertapa Panembahan Senopati, tampaknya dia terpesona dengan cara beliau bertapa. Demi agar pertapaannya berhasil Ratu Kidul hendak berguru atau mencontoh pertapaan sang raja. Inilah alasan dari ketundukan Ratu Kidul pada raja Mataram itu. Nora ketang (walau) teken (bertongkat) janggut (dagu) suku (kaki) jaja (dada). Walau bertongkat dagu berkaki dada. Ini adalah peribahasa Jawa, ateken janggut asuku jaja. Arti tekstualnya, memakai dagu sebagai tongkat dan memakai dada sebagai kaki dalam berjalan, merangkak atau ngesot. Maksudnya adalah usaha yang keras dan bersusah payah sampai batas kemampuan. Di sini Ratu Kidul menyatakan kesanggupan untuk menerima perintah dari raja Mataram agar mendapat restu dalam bertapa. Ratu Kidul hendak meneladani pertapaan raja Mataram itu, walau pertapaannya itu nanti akan sangat sulit baginya. Dia (Ratu Kidul) bertekad melaksanakannya walau dengan susah payah, ibarat bertongkat dadu berkaki dada. Kajian Wedatama (20): Teladan Abadi Bait ke-19, Pupuh Sinom, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV: Prajanjine abipraya, Saturun turuning wuri. Mangkono trahing ngawirya. Yen amasah mesu bedi, dumadya glis dumugi. Iya ing sakarsanipun, wong agung Ngeksiganda. Nugrahane prapteng mangkin, Trah tumerah dharahe padha wibawa. Terjemahan dalam Bahasa Indonesia: Perjanjian yang bertujuan baik. Sampai anak cucu di kemudian hari. Begitulah sikap keturunan orang luhur. Bila mempertajam hati, akhirnya segera kesampaian. Apa yag dimaksud, orang besar dari Mataram. Anugrahnya (lestari) sampai sekarang, seluruh keturunan berwibawa. Kajian per kata: Prajanjine (perjanjiannya) abipraya (rencana, tujuan). Perjanjiannya bertujuan baik. Tampaknya bait ini masih mengacu pada bait sebelumnya, tentang permintaan dari Ratu Kidul agar direkrut menjadi pengikut Senopati. Sungguh ini adalah sebuah ketegasan dan keteguhan mental yang luar biasa dari Panembahan Senopati. Bila ini terjadi pada orang lain mungkin akan menyerah pada pesona ratu lelembut itu. Tapi dengan tegas Panembahan Senopati mendudukkan Ratu Kidul hanya sebagai pengikut yang membantu cita-citanya memakmurkan kerajaan Mataram. Saturun (sampai turun) turuning (temurun) wuri (nanti). Sampai turun-temurun, ke anak- cucu di kemudian hari. Langkah yang diambil Senopati sangat menguntungkan bagi keturunannya di kemudian hari. Sikapnya akan menjadi preseden tentang bagaimana hubungan antara manusia dan alam tak kasat mata. Kelak ada cerita bahwa raja-raja sepeninggal Senopati akan mewarisi pernikahan dengan Ratu Kidul. Tentu ini adalah simbolisme dari kekalnya relasi yang telah dirintis oleh Panembahan Senopati. Mangkono (begitulah) trahing (keturunan) ngawirya (orang perwira, ksatria, luhur). Begitulah sikap keturunan orang luhur. Orang-orang yang berjiwa luhur meninggalkan keteladanan yang diwariskan kepada anak cucu, sehingga akan mudahlah bagi penerusnya nanti untuk melakukan hal yang sama. Sikap keperwiraan yang ditunjukkan akan menjadi teladan bagi anak cucu, sebagaimana Senopati juga hanya mewarisi sikap serupa dari para leluhurnya yang sudah terkenal keperwiraannya. Yen (kalau) amasah (mengasah) mesu (menajamkan) budi (akal budi), dumadya (yang diharap) glis (segera) dumugi (kesampaian). Bila berusaha mengasah ketajaman akal budi, kepekaan hat, yang diharap bisa segera kesampaian. Karena sudah ada teladan dari Panembahan Senopati itulah, anak cucunya nanti tidak akan bersusah payah dalam upaya mempertajam akal budi, melatih kepekaan hati melalui laku tirakat, menahan hawa nafsu, merenung di tempat sepi, dll. Yang demikian karena sudah ada teladan dari leluhur mereka. Iya (iya ini) ing sakarsanipun (yang dikehendaki), wong (orang) agung (besar) Ngeksiganda (Mataram). Yang demikian inilah yang dikehendai, orang besar dari Mataram. Apa yang dilakukan oleh Panembahan Senopati di atas, yang telah bersusah payah bertapa dan menahan hawa nafsu, serta tak tergoda pesona alam lelembut, itu semua demi agar anak cucu kelak mudah dalam menjalankan pemerintahan di Mataram. Itulah yang dikehendaki oleh orang besar dari Mataram itu. Nugrahane (anugrahnya) prapteng (datang) mangkin (hingga nanti). Anugrahnya masih lestari sampai sekarang. Usaha keras Panembahan Senopati buahnya masih berbekas sampai sekarang.Tak hilang sepeninggalnya, karena anak cucu meneruskan langkah-langkah bajiknya. Trah (keturunan) tumerah (semuanya) dharahe (darahnya) padha (semua) wibawa (berwibawa). Seluruh keturunannya berwibawa. Seluruh keturunan Panembahan Senopati membawa dharah orang besar, tak mengherankan jika sampai kini mereka semua menjadi orang yang berwibawa. Sebuah bibit unggul akan menumbuhkan pohon yang kuat dan elok. Kajian Wedatama (21): Tinelad Sakuwasane Bait ke-21, Pupuh Sinom, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV: Ambawani tanah Jawa, kang padha jumeneng aji. Satriya dibya sumbaga. Tan lyan trahing Senopati, Pan iku pantes ugi, tinelad labetanipun, ing sakuwasanira, Enake lan jaman mangkin, Sayektine tan bisa ngepleki kuna. Terjemahan Bahasa Indonesia: Menguasai tanah Jawa, yang menjadi raja. Satria sakti terkenal. Tidak lain keturunan Senopati. Hal ini pantas juga, untuk diteladani, sesuai kemampuan. Disesuaikan dengan jaman sekarang, Sebenarnya tak bisa persis sama dengan jaman dulu. Kajian per kata: Bait ini bercerita tentang anak keturunan Senopati yang menjadi penguasa di tanah Jawa sepeninggalnya. Seperti kita ketahui bahwa setelah Senopati wafat kerajaan Mataram di tangan para anak-cucunya mengalami dinamika yang cukup pelik. Kemudian di masa ditulisnya kitab ini telah terpecah menjadi 4 bagian kerajaan, yakni Yogyakarta, Surakarta, Mangkunegaran dan Pakualaman. Ambawani (menguasai) tanah Jawa, kang (yang) padha (pada, pada berkuasa) jumeneng (berdiri sebagai) aji (raja). Menguasai tanah Jawa, yang pada berdiri sebagai raja. Para penguasa tanah Jawa, yang memegang jabatan raja-raja di 4 kerajaan itu, seperti Pangeran Mangkubumi, Pangeran Sambernyawa, Raja Pakubuwana IV, dan banyak yang lain. Satriya (ksatria) dibya (sakti, perwira) sumbaga (termasyhur, terkenal). Ksatria yang sakti, panglima perang yang tangguh dan cerdik, yang terkenal di negeri ini. Para ksatria-ksatria, panglima perang yang tangguh, Dipanegara, Panembahan Rama, Pangeran Singosari dan ksatria terkenal lainnya yang mewarnai dinamika ketatanegaraan di empat kerajaan tersebut. Tan (tidak) lyan (lain) trahing (keturunan dari) Senopati (Panembahan Senopati). Tak lain adalah keturunan Panembahan Senopati. Tidak lain adalah keturunan Panembahan Senopati. Setelah sekian abad berkuasa di Tanah Jawa keturunan Panembahan Senopati amatlah banyak. Dari sekian banyaknya itu lahirlah orang-orang besar yang berprestasi, yang berkemampuan lebih dari orang kebanyakan. Pan (hal) iku (itu) pantes (pantas) ugi (juga), tinelad (diteladani) labetanipun (jasa-jasanya), ing sakuwasanira. Hal itu juga pantas, untuk diteladani jasa-jasanya, sesuai kemampuan masing-masing Para raja-raja dan ksatria-ksatria itu juga telah melakukan banyak hal untuk kehidupan masyarakat. Banyak jasa-jasa mereka untuk kemanusiaan, walau tentu ada juga kelemahannya, mereka pantas dijadikan teladan. Maka hendaklah meneladani perbuatan dan sikap hidup mereka berbangsa dan bermasyarakat sesuai kemampuan masing-masing. Enake (enaknya, dibuat enak) lan (sesuai) jaman (jaman) mangkin (sekarang). Disesuaikan dengan keadaan jaman sekarang. Dalam meneladani para leluhur tersebut, hendaknya disesuaikan dengan keadaan zaman sekarang. Di ambil pesan moralnya dan diterapkan sesuai dengan kondisi dan situasi zaman kini. Sayektine (sebenarnya) tan (tidak) bisa (bisa) ngepleki (persis menyerupai) kuna (jaman dulu). Sebenarnya tidak bisa persis menyerupai jaman dulu. Di dalam mencontoh teladan orang-orang dulu sebenarnya tidak dapat persis serupa. Tetapi disesuaikan tantangan jaman dan permasalahan yang dihadapi. Jika dahulu semangat Panembahan Senopati dalam mencegah hawa nafsu sampai bersusah payah, maka hendaklah generasi sekarang mempunyai tekad yang sama terhadap godaan korupsi misalnya. Jika dahulu Pangeran Mangkubumi dan Pangeran Sambernyawa gigih menentang pengaruh Belanda yang berusaha memperboneka kerajaan Surakarta, maka hendaklah sekarang para perwira-perwira kusumaning negeri juga punya semangat yang sama dalam menentang hegemoni asing dalam kehidupan masyarakat, baik lewat politik, keagamaan atau ekonomi. Yang jelas bentuk-bentuk sumbangsih terhadap kemanusiaan takkan pernah serupa, tetapi sikap kita, semangat kita, kegigihan usaha kita hendaklah sama dengan para pendahulu kita yang telah meninggalkan keteladanan yang menakjubkan.