Senin, 12 November 2018

Manulat Nabi Ginawe Umbag

Kajian Wedatama (22): Manulad Nabi Ginawe Umbag Bait ke-22, Pupuh Sinom, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV: Lowung kalamun tinimbang, ngaurip tanpa prihatin. Nanging ta ing jaman mangkya, Pra mudha kang den karemi, Manulad nelad Nabi, Nayakengrat Gusti Rasul, Anggung ginawe umbag. Saben seba mampir masjid, ngajab-ajab mukjijad tibaning drajad. Terjemahan dalam Bahasa Indonesia: Masih lumayan dibanding, orang hidup tanpa prihatin. Namun di masa kini, para muda yang digemari, meniru-niru Nabi, utusan Allah Gusti Rasul. Yang hanya dipakai sombong-sombongan. Setiap akan kerja singgah dulu ke masjid, mengharap mukjijat agar naik pangkat. Kajian per kata: Lowung (masih lumayan) kalamun (jika) tinimbang (dibandingkan), ngaurip (hidup) tanpa, (tanpa) prihatin (prihatin). Masih lumayan dibanding orang yang hidup tanpa prihatin. Bahwa sebisa-bisa, sekuat-kuatnya, kita berusaha meniru para pendahulu kita dalam bersusah payah meningkatkan nilai diri melalui tapabrata, menahan nafsu dan bermuhasabah dalam kesunyian. Mungkin kita takkan mampu menyamai kegigihan mereka dalam usaha itu, tetapi jangan lantas putus asa dan tidak berbuat apa-apa. Apapun hasilnya apa yang kita usahakan masih lebih baik daripada orang yang hidupnya tidak pernah prihatin sama sekali. Nanging ta (namun demikian) ing ( di ) jaman (jaman) mangkya (sekarang), pra (para) mudha (muda) kang (yang) den (di) karemi (sukai), manulad (meniru) nelad (perbuatan) Nabi (Nabi), nayakengrat (nayaka ing rat, utusan jagad, Allah) Gusti (tuan, kanjeng) Rasul (utusan). Namun demikian pada jaman sekarang, yang digemari anak muda adalah meniru- niru Nabi, utusan Allah, Gusti Rasul. Anak-anak muda zaman itu (ditulisnya serat Wedatama ini) mulai meninggalkan laku prihatin. Yang sekarang digemari adalah meniru-niru Nabi Muhammad utusan Allah. Tampaknya gejala meniru-niru Nabi ini sudah ada sejak zaman dahulu. Meniru pakaian, gaya dan perilaku nabi tapi hanya kulit luarnya saja, tidak disertai meniru semangat moral yang menjadi landasan perilaku seseorang. 48 Anggung (yang hanya) ginawe (dipakai buat) umbag (sombong-sombongan). Meniru-niru Nabi namun hanya dipakai sombong-sombongan. Apalagi kalau peniruan itu hanya dipakai untuk menyombongkan diri, agar berkesan paling suci, paling islami, paling “sunnah” daripada yang lain. Ini tentu menjadi tidak baik, dan justru bertentangan dengan pesan moral Nabi agar kita senantiasa tawadlu, tidak menyombongkan diri, tidak merasa lebih baik dari yang lain. Saben (setiap) seba (sowan ke kraton, kerja di kraton) mampir (mampir ke) masjid (masjid). Setiap hari masuk kerja di kraton mampir ke masjid. Ngajab-ajab (mengharap) mukjijad (mukjizt, keajaiban) tibaning (agar diberi) drajad (pangkat). Berdoa mengharap mukjizat agar naik pangkat. Terlebih-lebih tidak elok apabila muara dari segala sikap religius tadi hanyalah demi kepentingan pribadi, ingin dilihat sebagai orang alim, ingin dinilai orang sholeh, ingin diberi kelebihan oleh Allah sehingga mudah naik pangkat, maupun keinginan sangat pribadi seperti ingin menggaet anak gadis sang tumenggung, dll. Yang demikian tentu tidak baik. Apa yang diceritakan dalam bait ke-22 ini adalah fenomena kehidupan pada jaman itu, pada masa kolonialisme dulu. Namun demikian, watak manusia sejak Nabi Adam sampai hari kiamat tidak akan pernah berubah. Walau teknologi, kedokteran, pertanian, sudah berkembang pesat hingga mengubah gaya hidup manusia, watak ruhaniyah manusia tetap sama. Karena itulah kita patut waspada agar hal-hal kurang baik yang terjadi pada masa lalu tidak terulang di masa depan. Kajian Wedatama (23): Anggung Anggubel Sarengat Bait ke-23, Pupuh Sinom, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV: Anggung anggubel sarengat, saringane tan den weruhi. Dalil dalaning ijemak, kiyase nora mikani. Ketungkul mungkul sami, bengkrakan mring masjid Agung. Kalamun maca khutbah, lelagone Dandhang Gendhis, swara arum ngumandhang cengkok palaran. Terjemahan dalam Bahasa Indonesia: Hanya menggeluti soal syari’at saja, dasar pedoman hukumnya tak diketahui. Dalil sampai kepada ijma’, qiyasnya tak diketahui. Terlena dalam suatu tindakan, bertingkah cari perhatian di Masjid Agung. Bila membaca kutbah, berirama indah seperti Dandhanggula, suaranya merdu bergaya palaran. Kajian per kata: Anggung (hanya) anggubel (menggeluti) sarengat (syariat saja). Hanya menggeluti syariat saja. Mengutamakan fikih, tanpa peduli bagaimana sebuah hukum diambil. Hanya berpatokan dari yang tertulis pada kitab, sehingga hukum menjadi kaku dan tidak luwe dipraktikan dalam masyarakat. Malah terkesan hanya seperti gagah-gagahan saja. Saringane (dasar dan pedoman hukum) tan (tidak) den (di) weruhi (ketahui). Dasar pedoman hukumnya tak diketahui. Itu semua karena hanya mendasarkan pada hukum fikih atau fatwa-fatwa saja. Dasar pertimbangan dibalik sebuah fatwa tidak diketahui dengan baik, akibatnya salah menerapkan. Kurang tepat dalam mengambil qiyas dan penerapan dalil-dalilnya. Dalil (dalil-dalil) dalaning (sampai kepada) ijemak (ijma’), kiyase (qiyasnya) nora (tidak) mikani (diketahui). Dalil sampai kepada ijma’, qiyasnya juga tak diketahui. Dalil dan pertimbangan apa yang membuat suatu hukum diambil dan disepakati oleh para ulama. Ijma’ adalah kesepakatan para ulama tentang suatu hukum keagamaan. Apabila ada pertentangan satu ulama dengan yang lain, tak boleh suatu hukum dipaksakan berlaku untuk semua Sedangkan qiyas adalah menerapkan hukum pada masalah yang belum ada hukumnya tetapi sifatnya mirip dengan suatu perkara yang sudah ada hukumnya. Contohnya apakah ciu itu haram atau tidak? Karena ciu tidak ada di zaman Nabi maka tidak diketahui hukumnya. Maka kemudian diqiyaskan dengan khamr, karena sifat ciu mirip dengan khamr, yakni memabukkan. Dengan demikian diperoleh hukum bahwa ciu adalah haram. Namun demikian tidak boleh sembarang orang melakukan penyimpulan seperti itu, harus seorang ulama mumpuni yang boleh melakukannya. Ketungkul (terlena) mungkul (terfokus suatu tindakan) sami (semua), bengkrakan (bertingkah cari perhatian) mring (di dalam) masjid Agung (masjid agung, masjid kraton). Terlenalah mereka dalam suatu tindakan, mencari perhatian di Masjid Agung. Mereka hanya terlena dalam urusan syariat, fikih, tanpa belajar dasar-dasar hukum agama. Ini adalah gejala pendangkalan agama pada masa itu. Ketika seseorang terlalu berpegang pada hukum-hukum fikih tanpa memahami benar dasar-dasar hukum dan perimbangan apa saja yang dipakai untuk mengambil suatu hukum. Bahwa sebuah produk hukum-hukum fikih harus melalui serangkaian ijma’ para ulama, dan apabila tidak memungkinkan paling tidak harus dilakukan ijtihad dengan qiyas oleh ulama yang mumpuni dalam ilmu-ilmu keislaman. Tidak bisa seseorang menyimpulkan hukum sendiri tanpa ilmu yang cukup. Pemahaman yang hanya pada kulit luar tanpa memahami hakekat dari sebuah produk hukum akan menjadi sangat kaku dan susah diterapkan dalam masyarakat. Kerap menimbulkan sikap eksklusif, merasa benar sendiri dan kurang toleran terhadap pendapat yang berbeda. Akibatnya walau terlihat religius orang-orang ini bisa menimbulkan kesan tak nyaman, apatis, sinis atau malah merendahkan terhadap sesama. Perbuatan mereka malah terkesan over-acting, hanya mencari-cari perhatian atau terkesan hanya untuk pamer saja. Kalamun (jikalau) maca (membaca) khutbah (khutbah), lelagone (berirama seperti tembang) Dandhang Gendhis (dandhanggula), swara (suara) arum (merdu) ngumandhang (berkumandang) cengkok (bergaya) palaran (palaran, gaya lagu yang runtut dan bersemangat). Jikalau membaca khutbah, berirama seperti lagu Dandhanggula, suaranya merdu berkumandang bergaya palaran. Ini kiasan ketika membaca khutbah sangat piawai, mempesona layaknya lagu Dandhanggula. Runtut, sangat lancar berkumandang layaknya gaya palaran (nama garapan gendhing yang iramanya lancar, runtut dan bersemangat). Artinya mereka sangat fasih ketika berbicara tentang syariat, seolah sudah hapal di luar kepala, sangat runtut, bersemangat menggebu- nggebu. Ini adalah fenomena keagamaan di zaman itu, ketika orang-orang muda bersemangat dalam menjalankan syariat tetapi kurang memperhatikan hakekat dari hukum-hukum agama, apalagi mereka juga sudah mulai meninggalkan laku prihatin, sebuah jalan hidup yang akan menghantarkan kepada ma’rifat, pengenalan akan Allah SWT. Kajian Wedatama (24): Nuladha mBaka Sethithik Bait ke-24, Pupuh Sinom, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV: Lamun sira paksa nulad, tuladhaning Kanjeng Nabi, O, ngger kadohan panjangka. Wateke tan betah kaki. Rehne sira ta Jawi, sethithik wae wus cukup. Aywa guru aleman, nelad kang ngepleki pekih. Lamun pengkuh pangangkah yekti karahmat. Terjemahan Bahasa Indonesia: Bila kamu bertekad mencontoh, Tindak tanduk Kanjeng Nabi, O, nak terlalu muluk anganmu, Kau tak akan mampu, Karena kamu orang Jawa, sedikit saja sudah cukup. Jangan mencari pujian, Dalam meniru sama persis seperti dalam fikih. Apabila kuat harapan sebenarnya akan mendapat rahmat. Kajian per kata: Lamun (kalau) sira (kamu) paksa (bertekad) nulad (mencontoh). Tuladhaning (tindak- tanduk) Kanjeng (Kanjeng) Nabi (Nabi). O, ngger (O, nak) kadohan (muluk-muluk, terlalu jauh) panjangka (angan-angan). Jika kamu bertekad mencontoh, tindak tanduk Kanjeng Nabi. O, nak terlalu jauh angan-anganmu. Jika kamu bertekad mencontoh tindak tanduk Nabi secara persis seperti apa yang dahulu dilakukan Kanjeng Nabi dalam segala hal, itu terlalu jauh angan-anganmu nak! Kanjeng Nabi adalah manusia agung yang ahlaknya mulia. Kita takkan mampu menirunya dengan mudah, jadi jangan panjang angan-angan dahulu. Wateke (wataknya) tan (tidak) betah (betah meniru, takkan kosisten sepanjang waktu) kaki (nak). Kau takkan mampu meniru secara konsisten nak, disebabkan watak Kanjeng Nabi terlalu agung. Watakmu takkan betah, tak mampu untuk konsisten disebabkan Kanjeng Nabi adalah manusia agung yang berakhlak sangat mulia. Kau takkan bisa bertahan lama jika bermaksud menirunya dalam segala hal. Rehne (karena, berhubung) sira (kau) ta (kan) Jawi (orang Jawa), sethithik (sedikit) wae (saja) wus (sudah) cukup (cukup). Karena kau kan orang Jawa, sedikit-sedikit saja sudah cukup. Apalagi kau adalah orang Jawa, pasti berbeda dalam perikehidupan, adat budaya, dan lingkungan dengan Kanjeng Nabi. Sedangkan meniru sesama orang Jawa dari jaman dulu saja tidak bisa sama persis, apalagi meniru Kanjeng Nabi yang beda zaman dan beda lingkungan. Ini bukan berarti tidak boleh meniru Kanjeng Nabi, namun pasti takkan bisa, apalagi oleh anak muda yang belum terbiasa mengalami perikehidupan yang berat. Sedangkan cobaan seorang nabi sungguh sangat berat. Oleh karena itu tirulah sedikit demi sedikit, disesuaikan dengan kemampuan dan keadaanmu. Misalnya Kanjeng Nabi kuat shalat sepanjang malam, lha kamu kuat gak? Kira-kira begitulah. Ini tidak berarti tidak boleh meniru perilaku Kanjeng Nabi, tetapi memang amatlah sulit, jadi jangan sombong dulu. Mengingat perilaku Nabi adalah perilaku orang mulia yang didalamnya terkandung banyak kebaikan. Jadi akan sangat sulit ditiru. Aywa (jangan) guru (memburu, mengejar) aleman (pujian), nelad (meniru) kang (yang) ngepleki (persis) pekih (kitab fikih). Jangan sekedar mengejar pujian, dalam meniru persis seperti dalam kitab-kitab fikih. Apalagi jika peniruan itu hanya dilandasi karena mengejar pujian, biar dikira orang suci, biar dikira orang yang sudah paham agama, maka yang demikian itu tidak benar. Lebih baik sebagai orang Jawa bersikap tenang dan tidak memperlihatkan kebaikan diri. Lamun (apabila) pengkuh (mampu, kuat) pangangkah (harapan) yekti (sebenarnya) karahmat (mendapat rahmat). Apabila kuat harapan sebenarnya akan mendapat rahmat. Sesungguhnya meniru tindak tanduk Nabi seperti yang diriwayatkan dalam kitab-kitab fikih apabila mampu, akan mendatangkan banyak rahmat dari Allah SWT. Namun harus dilakukan secara gradual karena meniru sesuatu yang agung tidaklah mudah. Walau demikian bila dalam melakukan amal perbuatan sehari-hari dilakukan dengan tekad yang kuat, sebenarnya akan mendapat rahmat dari Allah. Sehingga tidak harus sama persis dengan apa yang dilakukan oleh Nabi. Demikianlah pendapat penggubah serat Wedatama ini. Kajian Wedatama (25): Maksih Butuh Ngupa Boga Bait ke-25, Pupuh Sinom, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV: Nanging enak ngupa boga, rehne ta tinitah langip. Apata suwiteng nata, tani tanapi agrami, Mangkono mungguh mami, padune wong dhahat cubluk, durung weruh cara Arab, Jawaku wae tan ngenting, Parandene paripaksa mulang putra. Terjemahan dalam Bahasa Indonesia. Namun masih harus mencari nafkah, Karena tercipta sebagai orang yang lemah, Bisa mengabdi pada raja, Bertani ataupun berdagang, Begitulah menurut pendapat saya, Itu karena saya orang bodoh, Tidak tahu tatacara di tanah Arab, Sedangkan pengetahuan tatacara Jawa saja tak memadai, tetapi memaksakan diri mendidik anak. Kajian per kata: Nanging (namun) enak (yang nyaman, kiasan untuk kata harus) ngupa (mencari) boga (makan, nafkah), rehne (karena) ta tinitah (tercipta sebagai ) langip ( laif, dari kata dhaif, orang lemah, miskin). Namun masih harus mencari nafkah, karena tercipta sebagai orang yang lemah. Bait ini merupakan sambungan dari bait sebelumnya, bahwa meniru perilaku hidup Kanjeng Nabi sebenarnya dapat mendatangkan rahmat. Namun kita masih harus mencari nafkah untuk mencukupi kebutuhan, karena tercipta sebagai makhluk lemah. Berbeda dengan Kanjeng Nabi yang dalam hidupnya sudah tidak peduli dengan harta-benda dunia dan mencukupkan diri dengan rahmat Allah yang beliau terima. Nabi hanya disibukkan mengurus umat dan beribadah di siang dan malam. Ini juga menjadi salah satu alasan mengapa meniru Nabi menjadi sangat sulit, karena kita masih disibukkan perkara mencari nafkah. Sedangkan nabi sudah sampai pada maqom tidak memikirkan nafkah lagi, melainkan hanya menerima rejeki hari itu untuk hari itu juga. Pemahaman kita tentang hidup belumlah setinggi itu. Kita masih orang yang lemah dalam berkeyakinan dan secara ekonomi juga masih sulit. Apata (bisa berupa) suwiteng (mengabdi) nata (raja, menjadi pegawai negeri), tani (bertani) tanapi (ataupun) agrami (berdagang). Bisa mengabdi pada raja, bertani atau berdagang. Bekerja dengan menjadi pegawe negeri, yang berarti akan sangat sempit waktu untuk beribadah. Atau bekerja menjadi petani maupun berdagang, akan lebih-lebih sempit lagi waktu untuk beribadah sesuai teladan Nabi. Mangkono (begitulah, yang demikian) mungguh (menurut) mami (pendapat saya), padune (itu karena) wong (orang) dhahat (sangat) cubluk (bodoh), purung (belum) weruh (melihat, mengerti) cara (tatacara kehidupan) Arab (orang Arab). Begitulah menurut pendapat saya. Itu karena saya orang sangat bodoh, yang belum mengerti tatacara kehidupan orang di Arab sana. Demikian itulah pendapat saya (sang penggubah serat ini). Mencontoh kehidupan Nabi hendaklah dilakukan semampunya, agar keduanya (ibadah dan bekerja) sama-sama mendapat perhatian. Pendapatku tadi tidaklah mutlak benar, karena saya adalah orang yang bodoh, tidak mengerti tentang tatacara perikehidupan orang Arab. Ini adalah pernyataan penulis kitab Wedatama yang rendah hati. Walau beliau mempunyai pendapat tentang bagaimana seharusnya mencontoh kehidupan nabi, namun pendapatnya tidak diklaim sebagai kebenaran mutlak. Malah beliau menyatakan kurangnya pengetahuan tentang hal itu. Jawaku wae (sedangkan jawaku saja) tan (tidak) ngenting (memadai), parandene (namun) paripaksa (memaksakan diri) mulang (mendidik) putra (anak-cucu). Sedangkan pengetahuanku tentang tatacara Jawa saja tak memadai, tetapi memaksakan diri mendidik anak. Sedangkan terhadap pengetahuan tatacara yang baik menurut budaya Jawa saja pengetahuanku tak memadai. Namun memaksakan diri mendidik anak cucu, lewat penulisan kitab ini. Sekali lagi sebuah pernyataan yang rendah hati diungkapkan sang penggubah serat ini, yang merasa bahwa beliau belum pantas untuk memberi nasihat. Beliau tidak bersikap mentang- mentang sebagai penguasa kemudian menulis serat yang isinya perintah dan fatwa, tetapi tetap memakai gaya penulisan yang lazim dipakai para penulis lain. Semoga sikap rendah hati ini bisa kita contoh di kemudian hari.  

Karyenak Tyasing sasama

PUPUH SINOM Kajian Wedatama (15): Karyenak Tyasing Sasama Alhamdulillah, kajian kita sudah sampai pada bait ke-15, sudah masuk Pupuh Sinom. Seperti yang sudah disinggung di akhir Pupuh Pangkur, Pupuh Sinom ini ditujukan untuk kalangan muda yang masih bergairah tinggi dalam kehidupan bermasyarakat. Namun demikian gelora muda tidak sepantasnya disalurkan untuk foya-foya. Bahkan juga harus mulai berlatih mengendalikan hawa nafsu, kalau tidak akan menjadi kebiasaan buruk di masa tua. Sebagaimana orang bijak mengatakan, orang tua akan menjalani kehidupan sebagaimana ia menjalani masa muda. Selengkapnya bait ke-15 adalah sebagai berikut: Nuladha laku utama, tumrape wong Tanah Jawi. Wong agung ing Ngeksiganda, Panembahan Senopati, Kepati amarsudi, Sudane hawa lan nepsu, Pinesu tapa brata, Tanapi ing siyang ratri, Amamangun karyenak tyasing sasama. Terjemahan dalam Bahasa Indonesia. Contohlah perilaku utama. Untuk kalangan Orang Jawa, orang besar dari Mataram, Panembahan Senopati. Yang sangat keras berusaha, mengurangi hawa nafsu. Dengan jalan prihatin (tirakat). Sambil di siang malam, berbuat menyenangkan hati sesama. Kajian per kata: Nuladha (contohlah) laku (perilaku) utama (utama), tumrape (bagi) wong (orang) Tanah (wilayah) Jawi (Jawa). Contohlah perilaku utama, bagi orang yang tinggal di wilayah Jawa. Mencontoh (nuladha) adalah berbuat sebagaimana contoh sesuai dengan konteks yang dihadapi. Ini tidak sama dengan meniru (neniru). Meniru adalah menjiplak persis. Jadi dalam mencontoh ada konteks dari perbuatan sesuai tantangan yang dihadapi oleh pelaku yang mencontoh. Laku bisa diartikan perilaku atau kelakukan, juga bisa diartikan cara menjalani sesuatu. Nanti kita akan bertemu istilah laku sebagai ilmu praktis atau kalau meminjam istilah sufisme disebut suluk. Utama adalah yang terbaik, yang lebih baik dari yang baik. Jadi gatra ini lebih tepat kalau dimaknai: contohlah cara menjalani hidup yang utama. Dalam gatra kedua ini kalimat tumrah wong tanah Jawi, adalah pembatasan. Pembatasan ini tentu bukan bermaksud sektarian atau rasis, tetapi lebih karena pendekatan budaya saja. Mungkin bagi orang Jawa nasehat dalam serat ini baik jika diterapkan, tetapi bagi orang luar Jawa belum tentu baik. Semua itu karena perbedaan budaya semata. Wong (orang) agung (besar) ing (di) Ngeksiganda (Mataram), Panembahan Senopati. Orang besar dari negeri Mataram, Panembahan Senopati. Kata Mataram di atas diturunkan dari kata, ngeksi yang artinya melihat, melihat jelas pakai mata, maka diambil kata Mata. Kemudian kata ganda berarti bau, yang dimaksud adalah bau harum, maka diambil suku kata terakhir rum, disamarkan menjadi ram. Gabungan dua kata itu menjadi Mataram, nama kerajaan tempat orang besar tadi. Permainan kata seperti di atas lazim dilakukan dalam bahasa Jawa dan biasa disebut wangsalan. Panembahan Senopati adalah gelar dan nama raja pertama Mataram, orang yang akan kita tiru perilakunya. Kepati (sangat keras, bersungguh-sungguh) amarsudi (berusaha, melatih diri), sudane (berkurangnya) hawa lan nepsu (hawa nafsu). Sangat keras berusaha, berkurangnya hawa nafsu. Kepati artinya sangat-sangat, contoh pada kata gething kepati-pati, sangat-sangat benci. Amarsudi berarti berusaha, berlatih dengan tekun. Contoh pada kata marsudi raga, tekun berolah raga. Meski seringkali dijadikan kata majemuk, hawa nafsu sebenarnya dua kata yang punya arti sendiri. Hawa adalah rangsangan dari luar, nafsu adalah keinginan dari dalam. Di dalam falsafah kehidupan orang Jawa ada filosofi: nutup babahan hawa sanga, menutup sembilan lubang hawa. Yakni menutup rangsangan dari luar agar tidak masuk dan keinginan dari dalam agar tidak keluar. Caranya dengan menutup rangsangan hawa agar tidak masuk melalu sembilan lubang, dua mata, dua lubang hidung, dua lubang telinga, satu lubang mulut, satu lubang kelamin dan satu lubang dubur. Yang dimaksud menutup di sini adalah membatasi rangsangan yang masuk lewat lubang-lubang tersebut, misalnya dengan tidak memandang hal-hal yang membangkitkan nafsu, tidak sengaja mencium aroma yang mengundang selera, tidak mendengar percakapan yang tidak pantas, dll. Jadi gatra ini lebih tepat kalau dimaknai sebagai: berlatih dengan sungguh agar mencapai kondisi berkurangnya hawa dan nafsu. Jika nafsu tidak dituruti maka akan melemah, sehingga tidak bergejolak. Inilah kondisi yang ideal bagi manusia. Lalu bagaimana cara agar mencapai keadaan itu? Bait berikut menjelaskannya. Pinesu (dipaksa, diusahakan dengan keras) tapa brata (bertapa, tirakat). Dengan jalan laku tirakat. Berkurangnya hawa dan nafsu tadi dapat dicapai dengan bertapa. Di sini bertapa berarti tirakat, laku prihatin, mencegah atau berpantang dari sesuatu agar mendapat pencerahan. Yang umum dilakukan oleh orang jawa tempo dulu adalah mengurangi makan dan tidur (cegah dhahar lan guling), sambil berdzikir. Juga biasa dilakukan dengan berkhalwat, menyendiri (mahas ing asepi). Arti gatra ini yang sesuai: memaksa diri menjalani laku prihatin atau tirakat. Tanapi (sambil) ing (di) siyang (siang) ratri (malam), amamangun (mematut diri) karyenak (membuat enak) tyasing (hati) sasama (sesama, orang lain). Sambil di siang malam, berbuat menyenangkan hati sesama. Karena Panembahan Senopati adalah seorang raja yang terkenal suka laku tirakat, maka sangat mungkin yang dimaksud dengan gatra ini adalah: sambil berlatih terus untuk mengekang hawa dan nafsu beliau juga berusaha di siang dan malam, membuat kebijakan, memerintah, mengarahkan (itu semua disebut amamangun) agar rakyat merasa nyaman hidupnya dan (enak hati) tanpa rasa takut dan khawatir. Bagi orang Jawa contohlah tauladan dari orang besar di Mataram, Panembahan Senopati. Yang sangat keras berusaha mengurangi hawa dan nafsu dengan memaksa diri menjalai laku prihatin. Sambil di siang dan malam, berbuat kebijakan agar rakyatnya hidup nyaman tanpa rasa takut. Apa yang dilakukan Panembahan Senopati adalah pengabdian dua dimensi, dimensi vertikal dengan beribadah mendekatkan diri kepada Allah dengan jalan laku prihatin, mengurangi hawa nafsu. Dimensi horizontal, tetap hidup bermasyarakat, mengupayakan kesejahteraan rakyat sebagai pelaksanaan kewajiban seorang raja. Inilah tauladan baik yang semestinya dicontoh oleh orang Jawa. Kajian Wedatama (16): Nggayuh Geyonganing Kayun Bait ini masih melanjutkan bait terdahulu tentang perilaku Panembahan Senopati yang layak dijadikan tauladan bagi setiap generasi sesudahnya. Beliau adalah raja yang selalu menyebarkan kesejukan bagi setiap orang yang ditemui. Namun beliau juga tidak lalai dalam kehidupan spiritual, tetap hidup prihatin agar tercapai ketenangan jiwa. Sungguh tabiat seorang raja pinandita. Selengkapnya bait ke-16 adalah sebagai berikut: Samangsane pasamuwan, mamangun marta martani. Sinambi ing saben mangsa, kala kalaning asepi, lelana teki-teki. Nggayuh geyonganing kayun, Kayungyun heninging tyas, Sanityasa pinrihatin, Puguh panggah cegah dhahar lawan guling. Terjemahan dalam Bahasa Indonesia: Dalam setiap pertemuan, menciptakan suasana tenang dan menyejukkan. Sambil di setiap waktu, di kala ada waktu luang, mengembara bertapa, Menggapai kecenderungan hati, Terpesona ketenangan hati, Senantiasa melakukan hidup prihatin, Berpegang teguh tetap mengurangi makan dan tidur. Kajian per kata: Samangsane (dalam setiap) pasamuwan (pertemuan), mamangun (mencipta, membentuk) marta (santun, tenang) martani (menyejukkan). Dalam setiap pertemuan selalu menciptakan suasana tenang dan menyejukkan. Ini berkaitan dengan perilaku dari raja pertama Mataram Panembahan Senopati yang selalu bersikap tenang, sareh, dan menyebarkan kesejukan dalam setiap pertemuan. Bergaul dengan siapa saja sikap beliau selalu menyenangkan, tidak menyakiti hati orang lain sehingga membuat orang lain betah. Sinambi (sambil) ing (di) saben (setiap) mangsa (waktu), kala (di kala) kalaning ( ada waktu) asepi (luang, sepi pekerjaan), lelana (mengembara) teki-teki (teteki, bertapa). Sambil di setiap waktu, di kala ada waktu luang, mengembara untuk menyendiri, mengembara untuk bertapa. Walaupun sang Raja sangat sibuk, manakala ada waktu luang di sela-sela kesibukan, maka beliau menyempatkan melakukan hal-hal selain urusan pemerintahan. Yakni melakukan tapa, berkhalwat dengan sang Khalik, mendekatkan diri dengan Sang Pencipta. Walau seorang raja Senopati tidak melalaikan tugas kenegaraan, tetapi hatinya selalu tidak sabar menanti waktu luang untuk bertapa. Dia melakukan itu karena memang menyukai laku prihatin, tidak suka foya-foya. Karena memang ada yang dituju dalam hidupnya selain kekuasaan. Nggayuh (menggapai) geyonganing (kecenderungan) kayun (hati). Menggapai kecenderungan hati. Jadi bertapanya bukan untuk meraih kekuasaan, toh hal itu sudah didapatkan, melainkan karena memang kecenderungan hati. Cita-cita beliau adalah hidup prihatin untuk mencapai kesejatian, kesempurnaan hidup. Kayungyun (terpesona) heninging (ketenangan) tyas (hati). Terpesona ketenangan, keheningan hati. Karena beliau sangat terpesona dengan ketenangan hati. Tenang dalam arti dekat dengan Yang Maha Kuasa, bukan tenang dalam artian mengasingkan diri dari dunia. Toh beliau tetap bekerja sebagai raja pada setiap harinya. Sanityasa (senantiasa) pinrihatin (melakukan hidup prihatin). Senatiasa melakukan hidup prihatin. Beliau senantiasa hidup dengan cara yang sederhana dengan laku prihatin. Bukan karena keterpaksaan, tetapi karena tingkat pengendalian diri yang sudah paripurna. Tidak gampang kapiluyu (tergoda) oleh kemewahan dunia, meski seorang raja besar yang berkuasa. Puguh (berpegang teguh) panggah (tetap) cegah (mengurangi) dhahar (makan) lawan (maupun) guling (tidur). Berpegang teguh dengan tetap mengurangi makan dan tidur. Walau bisa hidup mewah sang raja justru mengurangi makan dan tidur. Itulah kunci dari hidup prihatin. Agar mata hati tetap terbuka, tidak tertutupi hawa nafsu. Catatan tambahan. Panembahan Senopati adalah penguasa Mataram pertama yang bergelar, Kanjeng Panembahan Senopati Ing Ngalaga Sayidin Panatagama Khalifatullah Tanah Jawa. Gelar di atas menunjukkan bahwa landasan dari kerajaan yang dibangun Senopati adalah religius. Kita tidak membahas itu sekarang, cukup informasi singkat ini sebagai gambaran ringkas tentang tokoh yang dalam serat Wedatama ini disebut sebagai orang besar yang patut dijadikan tauladan. Raja pertama Mataram ini meraih kekuasaan dengan jalan yang tidak mulus. Ketika masih bocah dia harus mengalahkan Adipati Jipang Arya Penangsang yang terkenal sakti mandraguna. Waktu itu Arya Penangsang dicurigai hendak memberontak kepada sultan Hadiwijaya di Pajang. Dalam satu pertempuran yang tidak imbang Senopati berhasil menewaskan Arya Penangsang secara dramatik. Atas kemenangannya itu Senopati yang waktu itu masih bernama Sutawijaya diganjar Alas Mentaok, yang masih berupa hutan rimba. Kemudian dia membabat hutan itu dan mendirikan tanah perdikan. Semakin lama semakin banyak pengikut yang bergabung di tanah baru itu. Tatkala kerajaan Pajang di bawah Sultan Hadiwijaya surut, pamor Sutawijaya meningkat, hingga dia berhasil mendirikan kerajaan baru yang dinamakan Mataram. Dia kemudian menjadi Raja dengan sebutan di atas, atau lebih dikenal sebagai Panembahan Senopati. Sutawijaya terkenal akan kegigihannya dalam bertapa, melakukan laku prihatin. Buahnya dia menjadi raja yang waskitha, cerdik dan tangguh. Kemampuan strateginya berhasil merangkul wilayah-wilayah timur untuk bergabung ke Mataram. Menjelang akhir kekuasaannya di tahun 1601M, Senopati telah mewariskan kerajaan yang besar. Bahkan kerajaannya tetap eksis hingga kini, yakni menjadi Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Kajian Wedatama (17): Mesu Reh Kasudarman Bait ini masih melanjutkan bait terdahulu tentang perilaku Panembahan Senopati yang gemar tirakat, menjalani tapa brata, mencegah makan-tidur dan suka berkelana di tempat sepi. Ini jelas bukan perilaku yang umum dilakukan para raja yang biasa bersikap hedonis, bermewah- mewahan dan memperturutkan hawa nafsu. Mungkin karena kecenderungan hati yang demikian beliau kemudian memilih untuk bergelar Panembahan Senopati. Raja yang suka manembah kepada Allah yang Maha suci. Selengkapnya bait ke-17, Pupuh Sinom dari Serat Wedatama adalah sebagai berikut. Saben mendra saking wisma, Lelana laladan sepi, Ngingsep sepuhing supana, Mrih pana pranaweng kapti, Tis tising tyas marsudi, Mardawaning budya tulus, Mesu reh kasudarman, Neng tepining jalanidhi, Sruning brata kataman wahyu dyatmika. Terjemahan dalam Bahasa Indonesia: Setiap pergi meninggalkan istana, Berkelana ke tempat yang sunyi, Menghisap berbagai ilmu yang baik, Agar jelas yang dikehendaki, Maksud hati tercapai, Kelembutan hati yang utama, Berusaha mempelajari tentang kebajikan, Di tepi samudra, Karena kerasnya bertapa mendapat anugerah Ilahi. Kajian per kata: Saben (setiap) mendra (keluar) saking (dari) wisma (rumah, dalam hal ini adalah istana), lelana (berkelana) laladan (tempat, wilayah) sepi (sunyi). Setiap keluar dari istana, berkelana di tempat sepi. Setiap keluar dari istana, sang raja selalu berkelana ke tempat yang sunyi. Gatra ini mengesankan sang raja “tak betah” untuk berada di istana. Setiap ada kesempatan selalu bersegera menyepi, seolah-olah hatinya sudah terpesona dengan kesepian, dengan laku tirakat. Ngingsep (menghisap) sepuhing (apuh, tuntas, sesuatu yang dihisap sampai tak tersisa saripatinya) supana (ilmu yang baik). Mempelajari ilmu yang baik sampai tuntas. Sang raja ke tempat sepi selain hendak tirakat juga sering berguru kepada para ahli ma’rifat. Ada banyak cerita bahwa Panembahan Senopati kerap ditemui oleh sunan Kalijaga ketika sedang menyepi, untuk diberi wejangan ilmu. Seperti kita ketahui bahwa Sunan Kajiga adalah Waliyullah yang berumur sangat panjang, dan masih sugeng ketika Mataram berdiri. Sunan Kalijaga adalah wali yang sangat peduli atas nasib para penguasa di tanah Jawa. Sejak berdirinya kerajaan Demak dilanjutkan Pajang sampai akhirnya Mataram muncul, sunan Kalijaga selalu njangkungi, memantau para raja-raja tersebut. Oleh karena itu Sunan Kalijaga juga sering dipanggil sebagai Syaikh Jangkung. Mrih (agar) pana (mengetahui) pranaweng ( pranawa ing, terang, jelas) kapti (kehendak). Agar mengetahui dengan jelas yang dikehendaki (hati). Bahwa seseorang itu terdinding dengan hatinya. Apa keinginan hatinya sendiri seringkali tidak disadari. Oleh karena itu perlu terus mengasah akal budi agar nalar kita peka terhadap kehendak hati. Tis tising (yang dituju, maksud) tyas (hati) marsudi (berusaha sungguh). Mardawaning (kelembutan) budya (budi, pikiran) tulus (tulus). Maksud hati mencapai kelembutan budi yang tulus. Jika kita bersungguh-sungguh melatih diri dengan berguru dan menjalani berbagai laku maka akan tercapai kelembutan hati, setulus-tulusnya. Sehingga apa yang tersembunyi dari kehendak hati menjadi terang. Mesu (berusaha keras, memaksa diri agar mampu) reh (segala hal) kasudarman (tentang kebajikan). Darma adalah perbuatan yang dilakukan untuk orang lain atau disebut kebajikan, kasudarman bermakna segala sesuatu tentang kebajikan. Berusaha keras untuk mempelajari ilmu tentang kebajikan. Karena kebajikan bukan teori semata-mata, maka memperlajari ilmu kebajikan adalah sebuah tindakan praktik, atau disebut laku. Di awal-awal telah saya singgung tentang suluk. Nanti akan bertemu tentang bait bahwa ilmu adalah laku. Neng (di) tepining (tepinya) jalanidhi (samudra). Di tepi samudra. Ini adalah tempat yang sering dipakai oleh Panembahan Senopati untuk menyepi. Di tempat inilah Sunan Kalijaga pernah hadir memberi wejangan kepada Senopati bagaimana harus menjadi raja yang baik. Sruning (karena kerasnya) brata (bertapa) kataman (mendapat) wahyu (anugrah) dyatmika (halus, kerohanian, Ilahiah). Karena kerasnya bertapa sehingga mendapat anugrah Ilahi. Wahyu dalam konsep budaya jawa adalah anugrah Ilahi yang berupa pencerahan atau penyingkapan sehingga yang menerima wahyu menjadi naik derajat spiritualnya. Dalam kisah klasik semisal pewayangan wahyu dipersonakan sebagai senjata yang ampuh sehingga dapat dipakai untuk mencapai tujuan tertentu, misal menjadi raja. Tentu saja ini hanya kiasan saja agar penonton lebih mudah dalam memahami.  

Rabu, 19 September 2018

Ngaji sastra Wulangreh

 Serat Wulangreh karya besar Sri Susuhunan Pakubua IV yang sangat populer di kalangan masyarakat Jawa sejak dulu hinga sekarang, digunakan oleh orang Jawa sebagai pedoman hidup yang adiluhung karena di dalamnya terdapat nilai-nilai yang arif dan dapat dijadikan panutan hidup masyarakat. Serat Wulangreh yang konon sebagai lambang status kebangsawanan Jawa, kini dihadapkan pada budaya alternatif (budaya massa) sebagai salah satu alternatif pelestarian. Serat Wulangreh yang konon merupakan tembang yang digunakan sebagai wejangan (pengingat) dan pituduh (petunjuk), kini Sera t Wulangreh hanya lantunan lagu yang sudah tidak dikenal lagi oleh masyarakat banyak. Serat Wulangreh, bagi masyarakat Jawa tentu memiliki arti tersendiri, bukan saja tentang nada ataupun makna, tetapi juga pengaruh yang dimunculkan oleh Serat Wulangreh, sejarah dan filosofi yang sarat makna, bahkan telah menjadi semacam Filosofi Hidup. Serat Wulangreh, pada zaman dahulu telah menjadi suatu tembang yang menarik untuk didengarkan sebagai tuntunan akhlak Jawa (unggah-ungguh), dipandang sebagai suatu bentuk karya seni dan spiritual yang sangat indah untuk diperbincangkan dari berbagai aspek. Bukan saja pada aspek lirik maupun makna, tetapi juga aspek sejarah dan evolusi perkembangannya. Sebut saja, beberapa jenis tembang yang ada dalam SeratWulangreh seperti Pucung, Sinom, pangkur, dhandanggula, gambuh, maskumambang, durma, wirangrong, mijil, girisa, megatruh, kinanti, dan asmarandana yang sampai sekarang masih dikenal oleh sebagian masyarakat kecil walaupun hanya sebatas syair (dolanan) mainan saja. Serat Wulangreh adalah senjata sekaligus karya seni yang bernilai tinggi. Nilainya terletak pada keindahan syair dan makna yang terkandung dalam syair tembang, bahkan proses pembuatannya yang memerlukan waktu yang lama dan pemikiran yang sangat dalam serta ketekunan dan ketrampilan yang khusus. Orang yang memiliki cita rasa (taste) seni tinggi niscaya mengagumi Serat Wulangreh sebagai seni budaya yang berharga. sebagai seni budaya, Serat Wulangreh lazim digandrungi seluruh masyarakat Jawa. Seiring berjalannya waktu, budaya Serat Wulangreh kemudian menyebar keseluruhan Jawa khususnya Jawa Tengah dan Jawa Timur. Serat Wulangreh termasuk jenis tembang Jawa, namun tidak semua tembang Jawa adalah Serat Wulangreh. Setting Keraton Surakarta didirikan oleh Sunan Pakubuana II (1725-1749) pada tahun 1745 sebagai penganti Keraton Surakarta yang rusak parah akibat seranganpara pemberontak (geger pecinan ), yaitu pertempuran antara Cina dengan VOC yang meletus di Batavia dan merambah ke Jawa termasuk Kartasura, sehinga pertempuran itu memaksa Keraton Kartasura untuk pindah. Ahirnya para petinggi keraton pun sepakat untuk mencari lokasi pengganti keraton Kartasura yang telah rusak, diantara petinggi-petinggi keraton itu ialah Patih llebet Adipati Sindurejo,patih Jawi Adipati Pringgoloyo, dan beberapa wakil bari belanda. Dari pencarian lokasi itu ahirnya mendapatkan tiga tempat yang di angap cocok, antaranya; desa Kalipada desa Sanasewu dan desa Sala, dari ketiga desa itu di seleksi lagi oleh pihak keraton, berdasarkan penilaian megis dan mistis serta tata letak desa secara geografis, maka desa sala yang di jadikan tempat berdirinya Keraton sebagai penganti Keraton yang telah hancur. Maka setelah berdiri Keraton baru di Sala maka munculah perjanjian Gayatri yang di tandatangani pada tahun 1755 yang melibatkan tiga komponen, yaitu pihak VOC, pihak Pakubuana III, dan pihak Mangkuubumi atau yang di kenal dengan peristiwa Paliyan Nagari. Dalam perjanjian Gayatri tanggal 13 Februari 1755 berisi tentang bembagian wilayah, yakni kekuasaan wilayah Mataram di bagi menjadi dua yang sama besarnya yaitu antara kekuasaan Kasununan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta, yang masing-masing bebas dalam kewenangan pemerintahan dan penyelengaraan kebudayaan Jawa. Akan tetepai seiring berjalanya waktu Keraton Surakarta harus kehilangan sebagian wilayahnya sebesar 4000 karya, pada tangga 17 Maret 1757 untuk diberikan kepada Raden mas Said (KGPPA Mangkunegaran I) atas kesediaanya mengahiri perlawananya terhadap Kasunanan Surakarta. Tidak hanya sebatas itu pergolakan kekuasaan di Kerajaan-kerajaan Jawa yang melibatkan Kasununan Surakarta, akan tetapi pergolakan itu terus bermunculan, berganti dan berubah-ubah hingga masa kepemimpinan Sri Susuhunan Pakubuana IV pada tahun 1788-1820 M yang mengantikan kepemimpinan Sunan Pakubuana III. Pada masa kepemimpinan Sri Susuhunsn Pakubuana IV inilah Kasunanan Surakarta bisa di katakan keadaanaya berubah drastis mulai dari tradisi, kebiasaan, pola hidup, serta keadaan yang ada di Surakarta, hal ini di karenakan nuansa keagamaan (religius) pada masa kepemimpinan Pakubuana IV sangat menonjol, seperti halnya pakaian, kebiasaan, serta bangunan-banguna di sekitar wilayah Keraton Surakarta mulai berubah. Bahkan Pakubuana telah mendirikan Masjid di Kasununun Surakarta dan mengajarkan nilai-nilai luhur agama, sosial, budaya, budi pekerti serta moral dan prilaku yang baik melalui sastra-sastra jawa yang indah dan njawani sesuai dengan prilaku wong jowo. Sosok Dalam suasana setting sosial yang semacam itu Sunan Pakubuwana IV menggubah Serat Wulangreh. Sri Susuhunan Paku Buwana IV lebih dikenal dengan sebutan Sunan Bagus, yang mewarisi darah kaprabon dan kapujanggan ramandanya. Mendapat gelar demikian karena memang memiliki wajah yang sangat tampan. Dalam usia yang masih muda, Sunan Bagus naik tahta menggantikan ayahandanya Pakubuwana III. Sunan Bagus atau Pakubuwana IV memegang kekuasaan pemerintahan Kraton Surakarta Hadiningrat sejak tahun 1788 sampai dengan 1820 M. Nama kecil Paku Buwana IV adalah Bendara Raden Mas Sambadya. Beliau lahir dari permaisuri Sunan Paku Buwana III yang bernama Gusti Ratu Kencana, pada hari Kamis Wage, 18 Rabiul Akhir 1694 Saka atau 2 September 1768 Masehi. Memegang pemerintahan selama 32 tahun (1788-1820), dan wafat pada hari Senin Pahing, 25 Besar 1747 Saka atau 2 Oktober 1820 M. Kontemplasi Dalam Serat Wulangreh terdapat beberapa jenis tembang dan di setiap tembang terdapat beberapa bait syair, di setiap tembang dan syair mempunyai makna yang berbeda-beda. Maka dalam kesempatan ini penulis ingin menyelami makna yang terkandung didalam Serat Wulangreh karya Sri Susuhunan Paku Buana IV pada umumnya dan unsur-unsur Islam dalam Tembang Dhandangula pada khususnya. Serat Wulangreh merupakan tembang klasik asli Jawa, yang pertama kali muncul pada awal Kraton Surakarta dibawah kekuasaan Sri Susuhunan Paku Buana IV, dimana Sri Susuhunan Paku Buana IV pada saat itu ingin mengingatkan dan mengenalkan Islam melalui budaya. Diantaranya adalah melalui syair tembang yang di tulis dalam Serat Wulangreh yang di ciptakanya. Berdasarkan jenis dan urutannya Serat Wulangreh ini sebenarnya menggambarkan perjalanan hidup manusia, yaitu tahap-tahap kehidupan manusia yang di mulai alam ruh (di dalam kandungan Ibu) sampai dengan meninggal. Serat Wulangreh disusun menggunakan tembang-tembang Jawa, yang jumlahnya mencapai 283 bait. Diantaranya 8 (delapan) bait sekar Dhandanggulo,16 (enam belas) bait sekar Kinanti,17 (tujuh belas) bait sekar Gambuh, 17 (tujuh belas) bait sekar Pangkur, 34 (tiga puluh empat) bait sekar Maskumambang, 17 (Tujuh belas) bait sekar Megatruh, 12 (Sebelas) bait sekar Durma, 27 ( Dua puluh tujuh) bait sekar Wirangrong, 23 (dua puluh tiga) bait sekar pucung, 26 (dua puluh enam) sekar Mijil, 28 (dua puluh delapan) bait sekar Asmarandana, 33(tiga puluh tiga) bait sekar Sinom, 25 (dua puluh lima) bait sekar Grisa Masing-masing tembang mempunyai makna, sifat atau watak sesuai dengan penggunaan dan kepentingannya. Oleh karena itu pemaparan atau penggambaran sesuatu hal biasanya diselaraskan dengan sifat /watak tembangnya. Serat Wulangreh mempunyai perbedaan dengan serat piwulang karya pujanga lainya karena Serat Wulangreh mempunyai kecenderungan ajaran mistik, religius serta miitik berat kan pada ajaran moral serta etika untuk memperbaiki prilaku hidup sesuai dengan ajaran agama Islam.

Kasidanjati Wong Agung

Kamis, 13 September 2018

Ngaji sastra jawa

Menu  TUHAN & MANUSIA أشهد أن لا اله الا الله Ùˆ أشهد أن محمدا رسول الله  Iklan  Report this ad serat wulangreh putri Serat Wulang Reh Putri Serat Wulang Reh Putri adalah teks Jawa yang berbahasa dan beraksara Jawa serta berbentuk tembang macapat yang terdiri atas, pupuh Mijil (10 pada atau bait), Asmaradana (17 pada atau bait), Dhandhanggula (19 pada atau bait), dan Kinanthi (31 pada atau bait). Serat Wulang Reh Putri berisi nasihat dari Paku Buana X kepada para putri-putrinya tentang bagaimana sikap seorang wanita dalam mendampingi suami. Isi nasihat itu antara lain bahwa seorang istri harus selalu taat pada suami. Disebutkan bahwa suami itu bagaikan seorang raja, bila istri membuat kesalahan, suami berhak memberi hukuman. Istri harus selalu setia, penuh pengertian, menurut kehendak suami, dan selalu ceria dalam menghadapi suami meski hatinya sedang sedih. Berikut ini adalah suntingan teks “SERAT WULANG REH PUTRI” beserta terjemahannya. Pupuh M I J I L 1. Ingsun nulis ing layang puniki / atembang pamiyos / awawarah wuruk ing wijile / marang sagung putraningsun estri / tingkahing akrami / suwita ing kakung //. 2. Nora gampang babo wong alaki / luwih saking abot / kudu weruh ing tata titine / miwah cara-carane wong laki / lan wateke ugi / den awas den emut // 3. Yen pawestri tan kena mbawani / tumindak sapakon / nadyan sireku putri arane / nora kena ngandelken sireki / yen putreng narpati / temah dadi lu p ut // 4. Pituture raja Cina dhingin / iya luwih abot / pamuruke marang atmajane / Dewi Adaninggar duk ngunggahi / mring Sang Jayengmurti / angkate winuruk // 5. Pan wekase banget wanti-wanti / mring putrane wadon / nanging Adaninggar tan angangge / mulane patine nora becik / pituture yogi / Prabu Cina luhung // 6. Babo nini sira sun tuturi / prakara kang abot / rong prakara gedhene panggawe / ingkang dhingin parentah narpati / kapindhone laki / padha abotipun // 7. Yen tiwasa wenang mbilaheni / panggawe kang roro / padha lawan angguguru lire / kang meruhken salameting pati / ratu lawan laki / padha tindakipun // 8. Wadya bala pan kak ing narpati / wadon khak ing bojo / pan kawasa barang pratikele / asiyasat miwah anatrapi / Sapra- tingkahneki / luput wenang ngukum //. 9. Sapolahe yen wong amrih becik / den amrih karaos / pon-ponane kapoka ing tembe / nora kena anak lawan rabi / luput ngapureki / tan wande anempuh //. 10. Amung bala wenang ngapureki / polahe kang awon / beda lawan rabi ing lekase / pan mangkono nini wong ngakrami / apaitan eling / amrih asmareng kung // Pupuh ASMARANDANA 1. Pratikele wong akrami / dudu brana dudu rupa / amung ati paitane / luput pisan kena pisan / yen gampang luwih gampang / yen angel-angel kelangkung / tan kena tinambak arta // . 2. Tan kena tinambak warni / uger-ugere wong krama / kudu eling paitane / eling kawiseseng priya / ora kena sembrana / kurang titi kurang emut / iku luput ngambra-ambra // 3. Wong lali rehing akrami / wong kurang titi agesang / Wus wenang ingaran pedhot / titi iku katemenan / tumancep aneng manah / yen wis ilang temenipun / ilang namaning akrama // 4. Iku wajib kang rinukti / apan jenenging wanita / kudu eling paitane / eling kareh ing wong lanang / dadi eling parentah / nastiti wus duwekipun / yen ilang titine liwar // 5. Pedhot liwaring pawestri / tan ngamungken wong azina /ya kang ilang nastitine / wong pedhot dherodhot bedhot / datan mangan ing ngarah / pratandhane nora emut / yen laki paitan manah // 6. Dosa lahir dosa batin / ati ugering manungsa / yen tan pi nantheng ciptane / iku atine binubrah / tan wurung karusakan / owah ing ati tan emut / yen ati ratuning badan // 7. Badan iki mapan darmi / nglakoni osiking manah / yen ati ilang elinge / ilang jenenging manungsa / yen manungsane ilang / amung rusak kang tinemu / tangeh manggiha raharja // 8. Iku wong durjana batin/ uripe nora rumangsa / lamun ana nitahake / pagene nora kareksa / ugere wong ngagesang / teka kudu sasar susur / wong lali kaisen setan // 9. Ora eling wong aurip / uger-uger aneng manah / wong mikir marang uripe / ora ngendhaleni manah / anjarag kudu rusak / kasusu kagedhen angkuh / kena ginodha ing setan // 10. Pan wus panggawening eblis/yen ana wong lali bungah / setane njoged angleter / yen ana wong lengus lanas / iku den aku kadang / tan wruh dadalan rahayu / tinuntun panggawe setan // 11. Wong nora wruh maring sisip/ iku sajinis lan setan / kasusu manah gumedhe / tan wruh yen padha tinitah / iku wong tanpa tekad / pan wus wateke wong lengus / ambuwang ugering tekad // 12. Iku nini dipunelin /lamun sira tinampanan / marang Sang Jayengpalugon / ya garwane loro ika / putri teka Karsinah / iya siji putri Kanjun / aja sira duwe cipta // 13. Maru nira loro nini /nadyan padha anak raja / uger gedhe namaning ngong / lan asugih ratu cina / parangakik Karsinah / rangkepa karatonipun / maksih sugih ratu Cina // 14. Budi kang mangkono nini / buwangen aja kanggonan / mung nganggowa andhap asor / karya rahayuning badan / den kapara memelas / budi ingkang dhingin iku / wong ladak anemu rusak // 15. Yen bisa sira susupi / tan kena ginawe ala / yen kalakon andhap asor / yen marumu duwe cipta /ala yekti tan teka / andhap asorira iku / kang rumeksa badanira // 16. Lamun sira lengus nini / miwah yen anganggo lanas/ dadi nini sira dhewe / angrusak mring badanira /marumu loro ika / sun watara Jayengsastru / dadi tyase loro pisan // 17. Telas pituturireki / mring putra Sang Prabu Cina / prayoga tiniru mangke /marang sakehing wanodya / iki pituturira / ing Tarnite Sang Aprabu / Geniyara gula drawa // Pupuh DHANDHANGGULA 1. Lenggah madyeng pandhapa Sang Aji / lan kang garwa munggwing nging dhadhampar / panganten estri kalihe / munggwing ngarsa Sang Prabu / duk wineling kang putra kalih / winuruk ing masalah / angladosi kakung / Prabu Tarnite ngandika / anak ingsun babo den angati-ati / abagus lakinira // 2. Suteng nata prajurit sinekti / tur kinondhang Sang Prabu Jenggala / amumpuni sarjanane / ing pramudita kasub / wicaksana alus ing budi / prawira mandraguna / prakoseng dibya nung / ratu abala kakadang / amepeki musthikane wong sabumi / taruna nateng Jawa // 3. Marma babo dibegjanireki / sinaruwe mring prabu Jenggala / pira-pira ing maripe / ing Jawa nggoning semu / wit sasmita wingiting janmi / babo dipangupaya/wiweka weh sadu / mungguhing paniti krama / wong alaki tadhah sakarsaning laki / padhanen lan jawata // 4. Nistha madya utama den eling/utamane babo wong akrama / jawata nekseni kabeh / pan ana kang tiniru / Putri Adi Manggada nguni / wido dari kungkulan / ing sawarnanipun / lan sinung cahya murwendah / Citrawati sinembah ing wido dari / Putri Adimanggada // 5. Garwanira rajeng Mahespati / Sri Mahaprabu Harjuna Sasra / tinarimeng Batharane / dennya ngugung mring kakung / mila prabu ing Mahespati / katekan garwa dhomas / saking garwanipun / putri Manggada kang ngajap / sugih maru akeh putri ayu luwih / yen ana kinasihan // 6. Mring kang raka Prabu Mahespati / Putri Manggada sigra anyandhak / kinadang-kadang yektine / jinalukaken wuwuh / ing sihira kang raka aji / pan kinarya sor-soran / kang raka anurut / dadya sor-soran sakawan / Citrawati saking panjunjungireki / tinurut dening raka // 7. Lega ing tyas anrus ing wiyati / murtining priya putri Manggada / limpat grahitane sareh / iku yogya tiniru / Citrawati guruning estri / nini iku utama / suwita ing kakung / tan ngarantes pasrah jiwa / raga nadyan anetep den irih-irih / ing raka tan lenggana // 8. Nora beda nini jaman mangkin / ingkang dadituladan utama / putri Manggada anggepe / suraweyan Sang Prabu / manthuk- manthuk atudhang- tudhing/ putra kalih gung nembah /ing rama Sang Prabu /poma nini dipun awas / pan wano dyaden cadhang karsaning laki / den bisa nuju karsa // 9. Aja rengu ing netra den aris / angandika Prabu Geniyara / tan kapirsan andikane / mung solah kang kadulu /heh ta nini madyaning krami / sumangga ing sakarsa / tan darbe pakewuh / manut sakarsaning raka / Citrawati waskitha solahing laki / mila legawa tama // 10. Nisthaning krama sawaleng batin / ing lahire nadyan lastari ya / ing wuri sumpeg manahe / ing pangarepan nyatur / nora wani mangke ing wuri / tyase agarundhelan / mongkok-mongkok mungkuk/ ing batin ajape ala / iya aja ana wadon kang den sihi / ngamungna ingsun dhawak // 11. Tan kawetu mung ciptaneng batin / nisthanira tan wus saking driya / durjana iku ambege / pasthi den bubuk mumuk / bumi langit padha nekseni / nalutuh ing sajagad / dosane gendhukur / wido dari akeh ewa / ing delahan ing nraka den engis-engis / ing widodari kathah // 12. Lamun nini nira den pasrahi / raja brana ing priya den angkah / branane wus den wehake /sayekti duwekingsu/ iku anggep wong trahiyoli / luwih nisthaning nistha / pakematan agung /dudu anggepe wong krama / baberan duba ruwun setan kaeksi / dudu si pating jalma // 13. Setan kere pan anggawa lading / thethel–thethel balung wus binuwang / jejenising jagad kabeh / bebete wong anglindur/ tanpa niyat duwe pakarti / buru karep kewala / mring darbeking kakung / sanadyan pepegatana / duwek iku jer wus dadi duwek mami / jer ingsun wus digarap // 14. Yeku budi satus trahiyoli / papalanyahan murka anungsang / nyilakani ing tanggane / lakon pitung panguwuh / ing tanggane kang denulari / aja na sasandhingan / wong mangkono iku / yekti kasrengat cilaka / bonggas gawe asandhing wong kena pidhir / reregede sajagad // 15. Gawe kurang ambiyanireki /lah usungen dunya ing Mekasar / mung aja amurang bae / aja toleh maring / anggegawa regeding ati / lamun sira anyipta / yen atmajeng ratu / dadi gungan ing tyasira / wong akrama katon wong tuwanireki / anggandelaken ala // 16. Ing akrama estri dadi adi / wus tinitah ing Suksma Kawekas /wus mangkana titikane/karsaning bathara gung / pangulahing hyang Hudipati / yen ana kang anerak / wong mopo ing tuduh / Bathara Suksma Kawekas / babendhu manungsa kang den upatani / dadi warit sakala // 17. Saya lamun di suka ing Widhi / dadi manggih apureng delahan / kalamun den ingu bae / di sukana ing besuk / yeku ingkang ambab ayani / tanpa dadi delahan / yen mangkono kontang / poma nini den suwita / marang laki yen sira ginawa benjing / mulih mring lakinira // 18. Sampun telas pitutur sang Aji / ing Tarnite Prabu Geniyara / sri atmaja kakalihe / pan prakara satuhu / yen tiruwa pasthi abecik / aja dumeh wong Buda / kang duwe pitutur / kaya sang raja ing Cina / aja dumeh-dumeh / kalamun wong kapir / tur majusi kapirnya // 19. Nanging pitutur apan prayogi / mapan pirit pinet ing sarapat / lan kadis Rosulullohe / eklasna putraningsun / didimena raharjeng krami / nyuwargakken wong tuwa sira yen mituhu / marang wuruke si bapa / apan ana tatandhane ingkang becik / anganthia kang raharja // Pupuh KINANTHI 1. Dene ta pitutur ingsun / marang putraningsun estri / den eling ing aranira / sira pan ingaran putri / puniku putri kang nyata / tri tetelu tegesneki //. 2. Bekti nastiti ing kakung / kaping telune awedi / lahir batin aja esah / anglakoni satuhuning / laki ciptanen bendara / mapan wong wadon puniki // 3. Wajib manut marang kakung / aja uga amapaki / marang karepe wong lanang / sanadyan atmajeng aji / alakiya panakawan / sayekti wajib ngabekti // 4. Kalamun wong wadon iku / angrasa mengku mring laki / ing batine amarentah / rumangsa menang mring laki / nora rumangsa wanodya / puniku wataking laki // 5. Iku wong wadon kepahung / bingung bintang kena wening / tan wurung dadi ranjapan / ing dunya tuwin ing akhir / dadi intiping naraka / kalabang lan kalajengking // 6. Ingkang dadi kasuripan / sajroning naraka benjing / iku wong wadon candhala / iku tan bisa merangi / ing nepsu kala hawa / amarah kang den tutwuri // 7. Iku poma putraningsun / anggonen pitutur iki / den wedi ing kakung nira / aja dumeh suteng aji / yen sira nora bektiya / ing laki tan wande ugi // 8. Anggagawa rama ibu / kurang pamuruking siwi / iku terkaning ngakathah / apan esaningsun iki / marang Allohu Tangala / miwah ing Rosullullahi // 9. Sakabehe anak ingsun / pawestri kang kanggo laki / kinasihan ing kang priya / pan padha bektiya laki / padha lakinya sapisan / dipun kongsi nini-nini // 10. Maksih angladeni kakung / sartaa dipun welasi / angoyoda arondhowa / warege amomong siwi / lan nini pitutur ingwang / estokna ing lahir batin // 11. Lawan ana kojah ingsun / saking eyangira swargi / pawestri iku elinga / lamun ginawan dariji / lilima punika ana / arane sawiji-wiji // 12. Jajempol ingkang rumuhun / panuduh ingkang ping kalih / panunggul kang kaping tiga / kaping pat dariji manis / kaping gangsale punika / ing wekasan pan jajenthik // 13. Kawruha sakarsanipun / mungguh pasmoning Hyang Widhi / den kaya pol manahira / yen ana karsane laki / tegese pol kang den gampang / sabarang karsaning laki // 14. Mila ginawan panuduh / aja sira kumawani / anikel tuduhing priya / ing satuduh anglakoni / dene panunggul suweda / iku sasmitaning ugi // 15. Priyanta karyanen tangsul / miwah lamun apaparing / sira uga unggulena / sanadyan amung sathithik / wajib sira ngungkulena / mring guna kayaning laki // 16. Marmane sira punika / ginawan dariji manis / dipun manis ulatira / yen ana karsaning laki / apa dene yen angucap / ing wacana kudu manis // 17. Aja dosa ambasengut /nora maregaken ati / ing netra sumringah / sanadyan rengu ing batin / yen ana karsaningpriya / buwangen aja na kari // 18. Marmane ginawan iku / iya dariji jajenthik / dipun angthag akethikan / yen ana karsaning laki / karepe kathah thik-thikan / den tarampil barang kardi // 19. Lamun angladasi kakung / den keba nanging den ririh / aja kebat gerobyagan / dreg-dregan sarya cicincing / apan iku kebat nistha / pan rada ngose ing batin // 20. Poma-poma wekasingsun / marang putraningsun estri / muga padha den anggowa / wuruke si bapa iki / yen den lakoni sadaya / iba saiba ta nini // 21. Si bapa ingkang ananggung / yen den anggowa kang weling / wus pasthi amanggih mulya / ing donya tuwin ing akhir / lan aja manah anyimpang / dipun tumemen ing laki // 22. Den maruwa patang puluh / tyasira aja gumingsir / lahir batin aja owah / angladeni marang laki / malah sira upayakna / wong wadon kang becik-becik // 23. Parawan kang ayu-ayu / sira caosna ing laki / mangkono patrape uga / ngawruhi karsaning laki / pasthi dadi ing katresnan / yen wong lanang den tututi // 24. Yen wong wadon nora angsung / bojone duweya selir / mimah lumuh den wayuh / iku wong wadon penyakit / nora weruh tata karma / daliling Qur’an mastani // 25. Papadhane asu bunting / celeng kobong pamaneki / nora pantes pinecakan / nora wurung mamarahi / den doh sapitung pandahat / aja anedya pinikir // 26. Kaya kang mangkono iku / balik kang dipun nastiti / marang wuruke si bapa / darapon manggih basuki / kayata yen maca layang / tingkahing wanodya adi // 27. Pagene ta nedya tiru / kalawan ewa pawestri / kang kinasihan ing priya / apa pawestri parunji / miwah ta estri candhala / apa nora kedhah-kedhih // 28. Ingkang kinasihan kakung / kabeh pawestri kang bekti / kang nastiti marang priya / dene estri kang parunji / candhala pan nora nana / den kasihi marang laki // 29. Malah ta kerep ginebug / dadine wong wadon iki / tanpa gawe maca layang / tan gelem niru kang becik / mulane ta putraningwang / poma-poma dipun eling // 30. Marang ing pitutur ingsun / muga ta Hyang Maha Suci / netepana elingira / marang panggawe kang becik / didohna panggawe ala / siyasiya kang tan becik // 31. Titi tamat layang wuruk / marang putraningsun estri / Kemis Pon ping pitu sura / Kuningan Be kang gumanti / esa guna swareng nata / Sancaya hastha pan maksih / Terjemahan Teks PUPUH M I J I L 1. Saya menulis karya ini, dalam bentuk tembang, memberikan petuah dalam bentuk (tembang) mijil, kepada seluruh anak perempuan saya, (tentang) tata krama dalam perkawinan, mengabdi kepada suami. 2. Tidak mudah orang bersuami, sangat berat, harus tahu aturan, juga harus tahu cara-cara orang bersuami, dan juga watak (lelaki), waspadalah dan ingatlah. 3. Wanita jangan mendahului kehendak suami, berbuat semaunya (asal perintah) meskipun kamu itu putri, kamu jangan menonjolkan kalau putra raja, akhirnya tidak baik. 4. Nasihat ratu Cina ini, sangatlah berharga, nasehat yang diajarkan kepada anaknya, Dewi Adaninggar ketika melamar, Sang Jayengmurti, ketika berangkat (dinasihati). 5. Pesannya dengan bersungguh-sungguh, kepada putra perempuannya, namun Adaninggar tidak mengindahkannya, maka kematiannya tidak baik, ajaran kebaikan, Prabu Cina yang luhur. 6. Engkau anak perempuanku, saya menasihati, perkara yang berat, dua perkara yang besar, yaitu: yang pertama perintah raja, yang kedua suami, sama beratnya. 7. Kalau salah dapat berbahaya, dua perbuatan, artinya sama dengan berguru, yang menunjukkan keselamatan, kematian, raja sama dengan lelaki, (sama perbuatannya). 8. Jika prajurit hak raja, perempuan hak suami, sangat kuat pengaruhnya, siasat maupun tindakannya, dan segala tindakannya, salah bisa dihukum. 9. Segala tingkah lakunya, jika orang itu menuju kebaikan, supaya dirasakan tujuannya, kalau suami tidak memberi maaf, kelak istri dan anak akan melakukan perbuatan yang tidak baik. 10. Hanya prajurit yang, bertingkah laku salah, berbeda dengan istri yang tidak bisa dimaafkan, memberi maaf itu keliru,anak istri akan melakukan perbuatan tidak baik, jadi harus eling, dan cinta kasih. PUPUH ASMARANDANA 1. Bekal orang menikah, bukan harta bukan pula kecantikan, hanya berbekal hati (cinta), sekali gagal, gagallah, jika mudah terasakan amat mudah, jika sulit terasakan amat sulit, uang tidak menjadi andalannya. 2. Tidak bisa dibayar dengan rupa, syarat-syarat orang berumah tangga, harus diingat modalnya, ingat kekuasaan laki-laki, tidak boleh seenaknya, kurang berhati-hati dan kurang waspada, kesalahan yang berlebihan. 3. Orang yang lupa aturan berumahtangga, orang yang kurang berhati-hati dalam hidupnya, dapat dikatakan sudah rusak, teliti itu artinya bersungguh-sungguh, meresap dalam hati, jika sudah hilang ketelitiannya, hilang nama baik berumah tangga. 4. Itu kewajiban yang harus dipelihara, karena hanya wanita, harus bermodalkan eling, ingat akan wewenang laki-laki, jadi ingat perintah, berhati-hati sudah menjadi miliknya, apabila tidak berhati-hati maka rusaklah. 5. Perempuan yang rusak, tidak hanya pada orang berzina, termasuk orang yang tidak berhati-hati (tidak teliti), dinamakan “bejat” moralnya, tidak mengenal arah, pertanda tidak ingat, bahwa berumah tangga bermodalkan hati. 6. Dosa lahir dan batin, hati menjadi pedoman, jika tidak khusuk ciptanya, pertanda hatinya kacau, bisa menyebabkan kerusakan, berubahnya hati karena tidak ingat, kalau hati itu rajanya badan. 7. Badan adalah hanya sekadar pelaksana geraknya hati, melaksanakan kemauan hati, jika hati hilang kesadarannya, hilang sifat kemanusiaannya, apabila sifat kemanusiaannya hilang, hanya kerusakan yang didapatkan, tidak mungkin mendapatkan kebahagiaan. 8. Itu orang yang jahat, tidak menyadari hidupnya, bahwa hidupnya ada yang mencipta, mengapa tidak dirawat, syaratnya orang hidup, jangan sampai salah langkah, orang yang lupa menjadi prbuatan setan. 9. Tidak ingat tentang kehidupan, berpedoman pada hati, orang yang mengelak terhadap kehidupan, tidak mengendalikan hati, sengaja ingin merusak, terburuburu tingi hati (sombong), terkena godaan setan. 10. Memang sudah menjadi perbuatan iblis, jika ada orang lupa menjadi senang, setan menari-nari dengan gembira, jika ada orang pemarah, itu dianggap saudara, tidak melihat jalan kebenaran, mengarah kepada pekerjaan setan. 11. Orang yang tidak melihat akan kesalahan, itu sejenis dengan setan, tergesa-gesa menjadi tinggi hati, tidak tahu sama-sama dititahkan (diciptakan), itu orang yang tidak berpendirian, sudah menjadi watak orang pemarah, membuang pedoman yang menjadi dasar pedoman tersebut. 12. Itulah anakku ingatlah, apabila engkau diterima, oleh Sang Jayengpalugon, yang istrinya dua itu, putrinya Karsinah, yang satunya putri Kanjun, janganlah engkau punya pikiran. 13. Madumu dua orang itu, walaupun sama-sama anak raja, asal besar namaku, dan raja Cina lebih kaya, Parangakik Karsinah, walaupun rangkap kerajaannya, masih lebih kaya ratu Cina. 14. Budi yang demikian itu anakku, buanglah jangan sampai kau miliki, gunakanlah rasa rendah hati, untuk keselamatan diri, berbuatlah agar dikasihi, budi yang pertama tadi, orang pemarah (sombong) akan berakibat celaka. 15. Jika bisa engkau mengerti, tidak dapat dibuat jelek, jika berbuat rendah hati, jika madumu mempunyai niat jelek, pasti tidak akan terlaksana, sebab sikapmu yang rendah hati, yang telah bersemayam dalam badanmu. 16. Namun, jika engkau sombong anakku, lebih-lebih jika “galak”, menjadikan dirimu, merusak badanmu sendiri, kedua madumu itu, ibaratnya “jayeng satru”, keduanya jadi perhatian. 17. Nasihatnya telah selesai, kepada putra Sang Prabu Cina, sebaiknya kelak menjadi teladan, untuk semua wanita, ini nasihatnya, Sang Prabu di Ternate, Geniyara beralih pada pupuh dhandhanggula. PUPUH DHANDHANGGULA 1. Sang raja duduk di tengah pendopo, dan sang istri berada di singgasana, kedua mempelai putri, berada di depan sang raja, kedua putrinya diberi pesan, diajarkan suatu hal, tentang melayani suami, Raja Ternate berkata, “anakku, berhatihatilah!, baik-baiklah pada suami”. 2. Putra raja prajurit sakti, dan dikenal oleh Sang Prabu Jenggala, memiliki banyak kepandaian, akan kesenangan dan kemashuran, bijaksana dan berbudi halus, perwira yang agung (perkasa), kuat badannya, raja bertentara sanak saudara, mendekati keindahan orang sedunia, raja muda di Jawa. 3. Bahwa keberuntungan itu, diperhatikan oleh Raja Jenggala, berapa banyak saudara ipar, di Jawa tempat tersamar, dan isyarat juga sampai di luar, berusaha memimpin, berhati-hati pada orang suci, bahwa di dalam ajaran tata krama, orang berumah tangga hendaknya menurut laki-laki, samakanlah dengan dewa. 4. (orang) rendah, sedang, dan utama, ingatlah, terutama orang berumah tangga, semua dewa menyaksikan, bukankah ada yang ditiru, putri cantik dari Adimanggada, melebihi bidadari, dari segala warna, dan diberi sinar keutamaan yang indah, Citrawati disembah oleh bidadari, putri cantik Adimanggada. 5. Istri raja Mahespati, Sri Mahaprabu Harjunasasra, diterima oleh dewa, karena menyanjung suaminya, karena itu raja Maespati, mendapat putri delapan ratus, dari istrinya, putri Magada menginginkan, memiliki madu yang banyak dan cantik-cantik, apabila ada yang dikasihi. 6. Oleh suaminya raja Mahespati, putri Manggada segera mengambilnya, sebagai saudara kandungnya, dimintakan tambah, kasih sayang suaminya, dikerjakannya terus menerus, maka suami akan menurut, menjadi teman selamanya, usaha Dewi Citrawati, diturut oleh suaminya. 7. Lega dan terangnya hati tak terhingga, pikiran yang dimiliki oleh putri Manggada, pandai dan berperasaan kepada orang lain, itu baik untuk ditiru, Citrawati sebagai guru wanita, anakku itu utama, mengabdi kepada suami, tidak merana menyerahkan jiwa, apabila raja dilindungi, dikasihi, yang tak terduga oleh suami. 8. Tidak berbeda dengan zaman yang akan datang, yang menjadi teladan, hanya putri Manggada yang dipercaya, sang raja asyik, mengangguk-angguk dan menunjuk, kedua putrinya menghaturkan sembah, kepada ayahnya. “Anakku, waspadalah, bukankah wanita itu menerima segala kehendak suami”, dapatlah mengerti kemauannya. 9. Jangan ragu-ragu dalam memandang, sang raja Geniyara berkata, tidak terdengar kata-katanya, hanya gerak-gerik yang terlihat, bahwa di dalam berumah tangga, pasrah pada kehendak (suami), tidak memiliki rasa sungkan, menurut kehendak suami, Citrawati memahami gerak hatinya, maka berada dalam keutamaan. 10. Hal yang nistha di dalam batin, walaupun akan lestari, pada akhirnya hatinya bingung, di depan berkata, di belakang tidak berani, di dalam hati mengeluh, di dalam hati berniat tidak baik, jangan sampai wanita yang dikasihi, hanya memikirkan diri sendiri saja. 11. Hanya dipikirkan di dalam hati, kejelekan orang itu tidak selamanya melekat di hati, orang jahat itu menganggap pasti itu penyakit bodoh, bumi dan langit menyaksikan, kotoran di dunia, dosanya bertumpuk, semua bidadari tidak senang, kelak masuk neraka dan diperolok-olok, oleh bidadari-bidadari. 12. Namun, anakku jika engkau diberi, harta benda oleh suamimu berhati-hatilah, hartanya sudah diserahkan, hakikatnya kepunyaanmu, itu dianggap orang jahanam, lebih daripada hina, tukang sihir besar, bukan dianggap orang berumah tangga, menabur dupa dan setan menari-nari, bukan sifat makhluk (manusia). 13. Setan berkeliaran membawa pisau, mengambil tulang yang sudah dibuang, mengotori seluruh dunia, perbuatan orang mengigau, tidak berniat memiliki perbuatan, mengejar kenyang saja, akan harta milik suami, walaupun terjadi perceraian, milikmu sudah menjadi milikku, sebab (saya) sudah diperistri. 14. Yaitu budinya seratus jahanam, orang yang acak-acakan, membuat celaka tetangga, kotoran berlipat tujuh, tetangga ditulari, jangan didekati, orang seperti itu, pasti akan terkena kejelekannya, tidak ada gunanya berdekatan dengan orang sesat, kotoran sedunia. 15. Ambillah harta dari Makasar, hanya jangan melanggar kehormatan, jangan mengingat ayahmu, akan membawa kotor hati, apabila berpendapat, bahwa engkau putra raja, menjadi kebanggaan hatimu, orang berumah tangga terlihat oleh orang tua itu, mempertebal/memperbesar kejelekan. 16. Dalam rumah tangga wanita menjadi terhormat, yang diciptakan oleh Suksma Kawekas, itu sudah pertanda, kehendak Bathara Yang Maha Tinggi, kehendak Hyang Hutipati, jika ada yang menerjang, orang yang tidak mengindahkan petunjuk, Bathara Suksma Kawekas, semoga dihukum disumpah, menjadi “cacing” seketika. 17. Semakin lama disukai Yang Maha Kuasa, kelak jadilah pemaaf, jika disimpan saja, kena marah nantinya, itu yang berbahaya, tidak akan berhasil nantinya, apabila demikian peruntungannya, maka dari itu anakku dapatlah mengabdi, kepada suami jika kamu dibawa nanti, kembali kepada suamimu. 18. Sudah selesai nasihat sang raja, Raja Geniyara dari Ternate, kepada kedua putrinya, perkara yang sangat baik, jika ditiru baik manfaatnya, jangan merasa orang “buda”, yang memiliki ajaran, seperti Raja Cina, jangan merasa bahwa kafir itu segalanya, apabila kafirnya orang Mejusi. 19. Tetapi ini ajaran (nasihat) yang baik, makna yang dikandungnya baik untuk diambil, dan hadis Rasulullah, ikhlaskan anakku, agar bahagia dalam berumah tangga, menjunjung nama orang tua, jika kamu turuti, ajaran (nasihat) ayahmu, berada dalam tanda/alamat yang baik, ajakan menuju kebahagiaan. PUPUH KINANTHI 1. Bahwa ajaranku (nasihatku), kepada anak perempuanku, agar ingat akan namamu, engkau disebut putri, itu putri yang sejati, tiga, ketiganya ini maksudnya. 2. Bebakti dan cermat kepada suami, yang ketiga takut, lahir batin jangan mengeluh, melaksanakan yang satu, jadikanlah suamimu orang terhormat, bukankah perempuan itu. 3. Wajib menurut kepada suami, jangan menghalang-halangi, akan kehendaksuami, walaupun putra raja, mengabdilah kepada suami, harus benar-benar berbakti. 4. Apabila wanita itu, merasa menguasai laki-laki, dalam batinnya memerintah, merasa menang dengan suami, tidak merasa sebagai wanita, itu wataknya laki-laki. 5. Wanita jahat, bingung hatinya, tidak urung menjadi orang tercela, di dunia hingga akhirat, menjadi dasar neraka, kelabang dan kalajengking. 6. Yang menjadi alasnya, di neraka kelak, itu wanita tercela, yang tidak dapat mengendalikan, hawa nafsu, amarah yang diikuti. 7. Inilah anakku, pakailah ajaran ini, takutlah kepada suami, jangan merasa takabur (sombong) sebagai putri raja, jika engkau tidak berbakti, kepada suami tidak urung juga 8. Membawa bapak ibu, kurang memberikan petuah pada anak, itu prasangka orang banyak, permintaanku ini, kepada Allah Taala, dan kepada Rasulullah. 9. Semua putraku, yang putri terpakailah oleh suami, semoga dikasihi oleh suami, dan berbaktilah kepada suami, bersuamilah sekali saja, mudah-mudahan sampai neneknenek. 10. Tataplah melayani suami, serta dikasihi, dapatlah memberikan keteduhan, semoga puas mengasuh anak, dan nasihatku kepadamu, hendaknya ditaati lahir dan batin. 11. Dan ada pesan, dari mendiang kakekmu, ingatlah bahwa perempuan itu, dibekali jari, kelimanya itu ada, apabila dirinci mempunyai arti. 12. Ibu jari yang pertama, telunjuk yang kedua, jari tengah yang ketiga, keempat jari manis, yang kelima itu, yang terakhir adalah kelingking. 13. Ketahuilah maksudnya, isyarat Hyang Widhi, ibaratnya sepenuh hati, jika ada kehendak suami, arti yang mudah sepenuh hati, segala kehendak suami. 14. Maka engkau dibekali telunjuk, janganlah engkau berani, apabila suamimenunjukkan, cepatlah melaksanakan, dengan jari tengahmu, itu juga isyarat. 15. Suamimu jadikanlah pengikat, dan apabila memberikan sesuatu, kepadamu junjunglah, walaupun hanya sedikit, engkau wajib menjunjung, akan penghasilan suami. 16. Maksudnya engkau, dibekali jari manis, buatlah “manis” roman mukamu, jika berada di depan suami, apabila jika bicara, pergunakanlah kata-kata yang manis. 17. Janganlah pemarah dan bermuka masam, itu tidak menarik hati, roman muka dibuat gembira, walaupun sedang kesal hatinya, jika berada di depan suami, buanglah jangan sampai ketinggalan. 18. Oleh karena itu dibekali, juga jari kelingking, ditimbang-timbang, jika ada kemauan suami, maksud ditimbang-timbang adalah, agar terampil dalam bekerja. 19. Jika melayani suami, yang cepat namun halus, jangan cepat namun kasar, tergesagesa dan tidak tenang, bukankah itu cepat namun tercela, sebab dalam hati agar marah. 20. Demikianlah pesanku, kepada putra perempuanku, semoga dilaksanakan, ajaran bapak ini, jika engkau laksanakan semua, begitulah anakku. 21. Bapak yang menanggung, jika engkau laksanakan pesanku, sudah tentu menemukan kebahagiaan, di dunia dan di akhirat, dan hati jangan menyimpang, bersungguhsungguh terhadap suami. 22. Walaupun dimadu berjumlah empat puluh, hatimu jangan berubah, lahir dan batin jangan berubah, melayani suami, usahakanlah, wanita yang baik-baik. 23. Gadis yang cantik-cantik, serahkanlah kepada suami, demikian itu sifat, mengerti kehendak laki-laki, pasti memupuk cinta kasih, jika suami dibuat puas hatinya. 24. Jika wanita tidak merelakan, suaminya mempunyai selir, dan tidak suka dimadu, itu wanita tercela, tidak tahu tata krama, menurut dalil Qur’an. 25. Sama dengan anjing buntung, diumpamakan celeng terbakar, tidak pantas didatangi, tidak urung membuat, supaya dijauhkan tujuh ukuran, janganlah terus dipikir. 26. Hal seperti itu, agar diteliti kembali, ajaran san bapak, dimaksudkan untuk mendapatkan selamat, ibaratnya membaca surat, tingkah laku wanita luhur. 27. Mengapa tidak ditiru, oleh para istri, yang dikasihi oleh suami, apakah wanita jahat, dan wanita tercela, apa tidak segan-segan. 28. Yang dikasihi oleh suami, suami wanita yang berbakti, yang teliti terhadap suami, namun wanita yang jahat, tercela, tidak ada yang dikasihi suami. 29. Bahkan sering dipukul, wanita yang begini, tidak ada gunanya membaca surat, tidak mau meniru yang baik, oleh sebab itu anakku, ingat-ingatlah. 30. Ajaranku (nasihatku) ini, semoga Hyang Maha Suci, tetap memberikan kesadaran, terhadap perbuatan yang baik, dijauhkan dari perbuatan jahat, aniaya yang tidak baik. 31. Tamatlah surat ajaran (nasihat), kepada putra putrinya, Kamis Pon tanggal 7 Sura, Kuningan tahun Be, dengan Candrasangkala “esa guna swareng nata”, Windu sancaya yang ke delapan Iklan  Report this ad Share this: TwitterFacebook87blogspotLinkedInGoogle  Tinggalkan Balasan Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Komentar  Nama Surel Situs Web   Beri tahu saya komentar baru melalui email.  Beritahu saya pos-pos baru lewat surat elektronik. Iklan  Report this ad Search  Iklan  Report this ad MENGENAL DIRI DI HADAPAN TUHAN NYA Lir-ilir, Lir-ilir, Tandure wus sumilir, Tak ijo royo-royo tak senggo temanten anyar, Cah angon-cah angon penekno blimbing kuwi, Lunyu-lunyu yo penekno kanggo mbasuh dodotiro, Dodotiro-dodotiro, kumitir bedhah ing pinggir, Dondomono jlumatono kanggo sebo mengko sore, Mumpung padhang rembulane, mumpung jembar kalangane, Yo surako… surak hiyo. . . TUHAN & MANUSIA alifbraja Facebook Alifbraja | Buat Lencana Anda  Iklan  Report this ad Pages ALLAH S.W.T Bukti Tuhan Adalah Allah Bagian 1 Bukti Tuhan Adalah Allah Bagian 2 Bukti Tuhan Adalah Allah Bagian 3 Ma’na Ilah (Makna kata Tuhan) Penghalang Mengenal Allah Tauhidullah ( Mengesakan Allah ) Aplikasi Kitab kamus-bahasa-arab-v2.0 Kitab Akhbar Sibawaihi KITAB FIQIH KITAB KLASIK KITAB TAUHID LIR-ILIR SERAT DARMAGANDUL serat gatholoco serat kalatida serat sanasunu serat tripama serat wirawiyata serat wulangreh putri Makkah & Madinah Live TV stream SILSILAH RIWAYAT KITAB-KITAB MADZHAB SYAFI’IYYAH Tulisan Terkini (tanpa judul) SUMBER ILMU NASAB NABI MUHAMMAD SAW makna dari ayat berikut, “Tuhan akan memberikan hidayah kepada siapapun yang Dia kehendaki dan akan menyesatkan siapapun yang Dia kehendaki”? Mengapa Tuhan tidak menggunakan mukjizat untuk mencegah terbunuhnya Imam Husain As? Arsip Isi Blog April 2017 (1) Agustus 2013 (1) April 2013 (15) Januari 2013 (4) November 2012 (4) Oktober 2012 (102) September 2012 (107) Agustus 2012 (152) Juli 2012 (271) Juni 2012 (361) Kategori Kategori Follow Welcome to Our Blog Bergabunglah dengan 298 pengikut lainnya   Iklan  Report this ad Halaman ALLAH S.W.T Bukti Tuhan Adalah Allah Bagian 1 Bukti Tuhan Adalah Allah Bagian 2 Bukti Tuhan Adalah Allah Bagian 3 Ma’na Ilah (Makna kata Tuhan) Penghalang Mengenal Allah Tauhidullah ( Mengesakan Allah ) Aplikasi Kitab kamus-bahasa-arab-v2.0 Kitab Akhbar Sibawaihi KITAB FIQIH KITAB KLASIK KITAB TAUHID LIR-ILIR SERAT DARMAGANDUL serat gatholoco serat kalatida serat sanasunu serat tripama serat wirawiyata serat wulangreh putri Makkah & Madinah Live TV stream SILSILAH RIWAYAT KITAB-KITAB MADZHAB SYAFI’IYYAH Author  Blogroll BLOGSPOT Ketuhanan 0 Discuss 0 Get Inspired 0 Get Polling 0 Get Support 0 Learn WordPress.com 0 sites.google.com SEJATI TUHAN & CIPTAAN NYA 0 Theme Showcase 0 WordPress Planet 0 WordPress.com News 0 Twitter Saya suka video @YouTube youtu.be/4JeWvTQGnfI?a Ini Lah Collaboration ROY KIYOSHI And SAM LEE Photograpy Yg Sungguh Fenomenal...!!Welcome to our blog 2 months ago Saya suka video @YouTube youtu.be/8Op7lQtRQHs?a Nissa Sabyan Dan Roy Kiyoshi Deen Assalam CoverWelcome to our blog 2 months ago Saya menambahkan video ke playlist @YouTube youtu.be/nK2rUjQh3mw?a Ini Lah Peluncuran Buku Indigo Milik Roy Kiyoshi Yang Sangat diWelcome to our blog 2 months ago Saya suka video @YouTube youtu.be/m-fR0Yi0PC8?a ANAK GENIUSWelcome to our blog 10 months ago Saya suka video @YouTube youtu.be/_eBgDE_g1FU?a 1 Jam Sebelum Gempa 8,9 SR dan Tsunami AcehWelcome to our blog 10 months ago  Tag Cloud Ada agama islam alaihi wasallam alaihi wa sallam alam semesta alif ali imran Allah allah allah allah swt al qur al quran Ayah bahasa arab bernama Bukan Chang'an Chania Choi Minho Dan Dan (rank) Dari Dari (Persian) Duduk hadits hari kiamat hawa nafsu ilmu pengetahuan Imam Indonesia Internal ISLAM jika tidak Jonghyun Kali Kami Kata KISAH TAULADAN KITAB Kung Fu Languages Lee Taemin Maka makrifat Martial Arts mengenal allah Muhammad muhammad bin Nabi nabi muhammad Nabi Muhammad S.A.W Pengetahuan Islam Programming Pun Quran rahasia rasulullah RELIGI Religion and Spirituality Salah Sejarah shalat Sports Sufi Sufism SULUK Syariat,Thoriqot,Hakekat,Makrifat Taeyeon tarekat tidak akan Tuhan umat islam Uncategorized Wali Songo (9) Waliyullah Meta Daftar Masuk RSS Entri RSS Komentar WordPress.com Kalender SEPTEMBER 2018 S S R K J S M « Apr 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 Top Rated Posts | Pages | Comments All | Today | This Week | This Month 7 Kelebihan Setan Dibandingkan Manusia 5/5 (4 votes) HATI, DIRI, DAN JIWA 5/5 (3 votes) I’RAB “LAA ILAHA ILLALLAH” 5/5 (3 votes) HIKAM IBNU ARABI 5/5 (3 votes) SULUK SUKARSA (hikmah makrifatullah) 5/5 (2 votes) MAKRIFAT SUNAN KALIJAGA 5/5 (2 votes) Hubungan Leluhur & Kembalinya Kejayaan Nusantara 5/5 (2 votes) Inilah 101 Ilmuwan dan Tokoh Sains Muslim Yang Dilupakan Dunia 5/5 (2 votes) Siapakah AKU & siapakah DIA 5/5 (2 votes) 360 Sendi Dalam Tubuh 5/5 (2 votes) DZUNNUN AL-MISRI : TEORI MA’RIFAT 5/5 (2 votes) Thoriqoh Shiddiqiyyah 5/5 (2 votes) ORANG YANG DISESATKAN SYETAN 5/5 (2 votes) PERJALANAN RUH 5/5 (2 votes) Moksanya Prabu Siliwangi 5/5 (2 votes) SELINGKUH, DALAM HUKUM DAN PANDANGAN ISLAM 5/5 (2 votes) Al Muntahi (bag 13) 5/5 (2 votes) CARA ALLAH MEMBERI REZEKI 5/5 (2 votes) Mengenal Sifat Lahirah Batiniah 5/5 (2 votes) Al Qur’an dibalik huruf Hijaiyah 5/5 (2 votes) alexa  statcounter  View My Stats Lihat Situs Lengkap Blog di WordPress.com.  Privasi & Cookie: Situs ini menggunakan cookie. Dengan melanjutkan menggunakan situs web ini, Anda setuju dengan penggunaan mereka. Untuk mengetahui lebih lanjut, termasuk cara mengontrol cookie, lihat di sini: Kebijakan Cookie Ikuti 

Rabu, 12 September 2018

Kamis, 06 September 2018

Wekasan kenther tan ethor

Kajian Wedharaga (17;18) Bait ke-17;18, Pupuh Gambuh (metrum: 7u 10u 12i 8u 8o), Serat Wedharaga, karya Raden Ngabehi Ranggawarsita: Ingkang mangkono iku, badaningong pribadi ing dangu. Paksa unggul wekasan malah katinggil. Panggilesing jabung alus, winangsulan tyas kaleson. Mangkono kang tinemu, marmane wong ngaurip punika, aja pisan paksa ambeg kumalikih. Angaku sarwa linuhung, wekasan kether tan ethor. Terjemahan dalam bahasa Indonesia: Yang demikian itu, diri saya sendiri (mengalami) dahulu. Memaksakan unggul akhirnya malah terpukul. Tergilas oleh orang dekat, (ingin) mengulang lagi hati sudah lesu. Demikian yang terjadi, oleh karena itu orang berkehidupan itu, jangan sekali-kali memaksakan berwatak sombong. Mengaku serba lebih hebat, akhirnya terbengkelai karena tidak becus. Kajian per kata: Ingkang (yang) mangkono (demikian) iku (itu), badaningong (diri saya) pribadi (sendiri) ing (ketika) dangu (dahulu). Yang demikian itu, diri saya sendiri (mengalami) dahulu. Ki Gambuh (penggubah serat ini) pernah mengalami yang demikian itu, yakni memaksakan diri tampil hebat seolah paling unggul. Memang sikap seperti itu acapkali menjangkiti anak muda yang belum berpengalaman dalam kehidupan, terutama mereka yang baru mempelajari pengetahuan baru. Karena kaget dan takjub akan ilmu barunya yang selama ini tidak dikenalnya, lantas mengira bahwa orang lain juga tidak mengerti akan hal itu. Jadilah dia berlagak seolah hanya dirinya yang tahu. Maka tak aneh kalau Ki Gambuh pun pernah mengalaminya. Paksa (memaksakan) unggul (unggul) wekasan (akhirnya) malah (malah) katinggil (katenggel, terpukul), panggilesing (tergilas) jabung alus (orang yang dekat), winangsulan (diulang lagi) tyas (hati) kaleson (sudah lesu). Memaksakan unggul akhirnya malah terpukul, tergilas oleh orang dekat, (ingin) mengulang lagi hati sudah lesu. Inilah pengalaman Ki Gambuh di masa dahulu, memaksakan penampilan akhirnya malah terpukul. Tenggel adalah memotong atau memukul sesuati tepat sasaran, telak, pas di tengah secara melintang. Katenggel atau katinggil artinya terpukul secara telak, tentu terasa amat menyakitkan. Jabung adalah sejenis perekat, njabung alus adalah kata majemuk yang merupakan idiom, artinya merapatkan diri, menempel dengan halus. Panggilesing jabung alus artinya yang menggilas atau memukul telak tadi adalah orang dekat. Hal ini membuat Ki Gambuh benar-benar syok dan lemah lunglai sehingga tak berdaya lagi untuk bangkit. Kaleson adalah ungkapan untuk perasaan hati yang lesu, tidak semangat lagi. Mangkono (demikian) kang (yang) tinemu (ditemukan, terjadi), marmane (oleh karena) wong (orang) ngaurip (berkehidupan) punika (itu), aja (jangan) pisan (sekali-kali) paksa (memaksakan) ambeg (berwatak) kumalikih (sombong). Demikian yang terjadi, oleh karena itu orang berkehidupan itu, jangan sekali-kali memaksakan berwatak sombong. Demikian itulah yang terjadi jika suka umuk di atas kemampuan sendiri. Oleh karena dalam kehidupan ini jangan sekali-kali mendahului proses, tak sabar untuk segera memetik hasil, memaksakan diri tampil seolah sudah berhasil, bahkan terkesan meremehkan kemampuan orang lain. Angaku (mengaku) sarwa (serba) linuhung (lebih unggul, lebih hebat), wekasan (akhirnya) kether (terbengkelai) tan (tidak) ethor (becus). Mengaku serba lebih hebat, akhirnya terbengkelai karena tidak becus. Mengaku-aku serba hebat dan unggul dibanding orang lain hanya demi decak kagum. Akhirnya ketika tiba saatnya harus membuktikan kemampuannya justru yang terjadi adalah urusannya terbengkelai karena sebenarnya dia tak mampu. Kether artinya tak tertangani karena tak mampu. Ethor varian kasar dari kata ethes, artinya cakap, terampil. Tan ethor artinya tak becus, dalam bahasa Jawa istilah lainnya adalah ora jegos (tidak bisa, konotasinya kasar).