Kamis, 06 September 2018

Wekasan kenther tan ethor

Kajian Wedharaga (17;18) Bait ke-17;18, Pupuh Gambuh (metrum: 7u 10u 12i 8u 8o), Serat Wedharaga, karya Raden Ngabehi Ranggawarsita: Ingkang mangkono iku, badaningong pribadi ing dangu. Paksa unggul wekasan malah katinggil. Panggilesing jabung alus, winangsulan tyas kaleson. Mangkono kang tinemu, marmane wong ngaurip punika, aja pisan paksa ambeg kumalikih. Angaku sarwa linuhung, wekasan kether tan ethor. Terjemahan dalam bahasa Indonesia: Yang demikian itu, diri saya sendiri (mengalami) dahulu. Memaksakan unggul akhirnya malah terpukul. Tergilas oleh orang dekat, (ingin) mengulang lagi hati sudah lesu. Demikian yang terjadi, oleh karena itu orang berkehidupan itu, jangan sekali-kali memaksakan berwatak sombong. Mengaku serba lebih hebat, akhirnya terbengkelai karena tidak becus. Kajian per kata: Ingkang (yang) mangkono (demikian) iku (itu), badaningong (diri saya) pribadi (sendiri) ing (ketika) dangu (dahulu). Yang demikian itu, diri saya sendiri (mengalami) dahulu. Ki Gambuh (penggubah serat ini) pernah mengalami yang demikian itu, yakni memaksakan diri tampil hebat seolah paling unggul. Memang sikap seperti itu acapkali menjangkiti anak muda yang belum berpengalaman dalam kehidupan, terutama mereka yang baru mempelajari pengetahuan baru. Karena kaget dan takjub akan ilmu barunya yang selama ini tidak dikenalnya, lantas mengira bahwa orang lain juga tidak mengerti akan hal itu. Jadilah dia berlagak seolah hanya dirinya yang tahu. Maka tak aneh kalau Ki Gambuh pun pernah mengalaminya. Paksa (memaksakan) unggul (unggul) wekasan (akhirnya) malah (malah) katinggil (katenggel, terpukul), panggilesing (tergilas) jabung alus (orang yang dekat), winangsulan (diulang lagi) tyas (hati) kaleson (sudah lesu). Memaksakan unggul akhirnya malah terpukul, tergilas oleh orang dekat, (ingin) mengulang lagi hati sudah lesu. Inilah pengalaman Ki Gambuh di masa dahulu, memaksakan penampilan akhirnya malah terpukul. Tenggel adalah memotong atau memukul sesuati tepat sasaran, telak, pas di tengah secara melintang. Katenggel atau katinggil artinya terpukul secara telak, tentu terasa amat menyakitkan. Jabung adalah sejenis perekat, njabung alus adalah kata majemuk yang merupakan idiom, artinya merapatkan diri, menempel dengan halus. Panggilesing jabung alus artinya yang menggilas atau memukul telak tadi adalah orang dekat. Hal ini membuat Ki Gambuh benar-benar syok dan lemah lunglai sehingga tak berdaya lagi untuk bangkit. Kaleson adalah ungkapan untuk perasaan hati yang lesu, tidak semangat lagi. Mangkono (demikian) kang (yang) tinemu (ditemukan, terjadi), marmane (oleh karena) wong (orang) ngaurip (berkehidupan) punika (itu), aja (jangan) pisan (sekali-kali) paksa (memaksakan) ambeg (berwatak) kumalikih (sombong). Demikian yang terjadi, oleh karena itu orang berkehidupan itu, jangan sekali-kali memaksakan berwatak sombong. Demikian itulah yang terjadi jika suka umuk di atas kemampuan sendiri. Oleh karena dalam kehidupan ini jangan sekali-kali mendahului proses, tak sabar untuk segera memetik hasil, memaksakan diri tampil seolah sudah berhasil, bahkan terkesan meremehkan kemampuan orang lain. Angaku (mengaku) sarwa (serba) linuhung (lebih unggul, lebih hebat), wekasan (akhirnya) kether (terbengkelai) tan (tidak) ethor (becus). Mengaku serba lebih hebat, akhirnya terbengkelai karena tidak becus. Mengaku-aku serba hebat dan unggul dibanding orang lain hanya demi decak kagum. Akhirnya ketika tiba saatnya harus membuktikan kemampuannya justru yang terjadi adalah urusannya terbengkelai karena sebenarnya dia tak mampu. Kether artinya tak tertangani karena tak mampu. Ethor varian kasar dari kata ethes, artinya cakap, terampil. Tan ethor artinya tak becus, dalam bahasa Jawa istilah lainnya adalah ora jegos (tidak bisa, konotasinya kasar).

Tidak ada komentar: