Kamis, 06 September 2018

Den bisa matrap unggah ungguh

Kajian Wedharaga (23;24) Bait ke-23;24, Pupuh Gambuh (metrum: 7u 10u 12i 8u 8o), Serat Wedharaga, karya Raden Ngabehi Ranggawarsita: Tur maksih sasar-susur, saraseng ros tan pati tinemu. Wekasane mung kudu den alem bangkit, inganthukan bae munthuk. Tandha lamun durung kamot. Marma utama tuhu, yen abisa matrap unggah-unggah. Tanggap ing reh ngarah-arah ngirih-ngirih. Satiba telebing tanduk, tumindak lawan angawon. Terjemahan dalam bahasa Indonesia: Lagi pula masih tersesat-sesat, rasa intinya tak begitu didapat. Akhirnya hanya harus dipuji agar semangatnya muncul, diangguki saja sudah berbesar hati. Pertanda kalau (dalam dirinya) belum memuat (banyak pengetahuan). Oleh karena itu yang utama sebenarnya, kalau bisa menerapkan sopan-santun. Tanggap pada hal berhati-hati (bertindak) secara halus. Dalam berbuat apapun, dilakukan dengan mengalah. Kajian per kata: Tur (lagi pula) maksih (masih) sasar-susur (tersesat-sesat), saraseng (rasa dalam) ros (inti) tan (tak) pati (begitu) tinemu (diperoleh, didapat). Lagi pula masih tersesat-sesat, rasa intinya tak begitu didapat. Dalam bait sebelumnya diuraikan tentang kegagalan seseorang dalam bersikap manis kepada orang lain, wiweka reh nayadi. Hal ini tidak aneh karena orang yang mampu bersikap manis, menyenangkan hati orang lain, adalah mereka yang sudah putus (khatam, ahli) dalam pengetahuan. Orang yang sudah tuntas belajar dan sempurna ilmunya takkan mencari pujian dari orang lain. Dia bertindak atas dasar keperluan, kewajiban dan tugas yang diembannya. Namun sebaliknya orang yang belum sempurna ilmunya hanya berbuat karena mencari pengakuan saja. Gatra berikut menggambarkan watak mereka yang sebenarnya rapuh dan reaktif. Wekasane (akhirnya) mung (hanya) kudu (harus) den alem (dipuji) bangkit (semangatnya muncul), inganthukan (diangguki) bae (saja) munthuk (besar hati). Akhirnya hanya harus dipuji agar semangatnya muncul, diangguki saja sudah berbesar hati. Mereka hanya akan muncul semangatnya jika dipuji orang lain. Jika orang-orang mengamini perkataannya, mengangguk-angguk setiap mendengar petuahnya, maka kelakuannya menjadi-jadi. Mencari sensasi ke sana kemari, mencari pengakuan hebat, mencari pengikut banyak, bangga jika ditakuti orang, besar hatinya jika bisa mempermalukan orang lain. Segala upaya pada pokoknya untuk memperbesar ego semata-mata. Tandha (tanda) lamun (kalau) durung (belum) kamot (memuat). Pertanda kalau (dalam dirinya) belum memuat (banyak pengetahuan). Orang yang berwatak demikian menandakan dalam dirinya belum termuat pengetahuan yang sejati. Hatinya tidak tenang karena disetir oleh pujian orang, oleh hasratnya untuk dikagumi, oleh nafsu untuk mengalahkan orang lain. Orang seperi itu segala tindakannya hanya merupakan reaksi dari keadaan sekitarnya, ibaratnya menari dengan gendang orang lain. Marma (oleh karena itu) utama (utama) tuhu (sebenarnya), yen (kalau) abisa (bisa) matrap (menerapkan) unggah-unggah (unggah-ungguh, sopan santun). Oleh karena itu yang utama sebenarnya, kalau bisa menerapkan sopan-santun. Oleh karena itu sebenarnya yang utama dalam hidup ini adalah sebisa-bisanya menerapkan sopan santun dalam bergaul dengan sesama orang. Unggah-ungguh dalam konteks ini adalah mampu menerapkan derajat diri sendiri sedikit lebih rendah dari pada orang lain yang sebenarnya sederajat. Sikap inilah yang disebut dengan menghargai orang lain. Jika kita mampu menghargai orang lain dengan sikap hormat yang melebihi harkat dan martabatnya, maka yang demikian itu merupakan pertanda bahwa kita murah hati. Hanya orang-orang yang hatinya besar yang mampu melakukan. Tanggap (tranggap) ing (pada) reh (hal) ngarah-arah (berhati-hati) ngirih-ngirih (secara halus). Tanggap pada hal berhati-hati (bertindak) secara halus. Selanjutnya kita harus bisa bersikap hati-hati dalam membawa diri, tidak tergesa-gesa, selalu waspada dan ingat, bertindak dengan halus tidak gegabah atau sembrono. Itu semua dilakukan agar kita tidak menyakiti orang lain. Ibarat membawa semak berduri di tengah keramaian, kita harus hati-hati melangkah agar duri-duri yang kita bawa tidak melukai orang sekitar. Tidak perlu mendesak-desak orang, bila perlu menunggu jalannya sepi agar kita tak menyakiti orang lain. Seperti itulah seharusnya kita membawa diri, karena banyak organ kita yang lebih tajam dari duri tadi. Lidah misalnya, adalah benda tertajam di dunia karena mampu mengoyak hati yang tersembunyi jauh di rongga dada. Maka sudah selayaknya kita berhati-hati. Satiba telebing tanduk (dalam berbuat apapun), Dalam berbuat apapun, dilakukan dengan mengalah. Satiba telebing tanduk artinya perbuatan yang spontan, yang dilakukan tanpa berpikir dulu. Artinya perbuatan itu sudah menjadi akhlak yang merasuk dalam jiwa, mengisyaratkan seseorang yang sudah terbiasa mengarah-arah ngirih-irih tersebut dalam setiap perbuatannya, spontan sudah melakukan dengan mengalah. Dengan kata lain mengalah sudah menjadi wataknya hingga dapat dilakukan dengan spontan, tanpa mikir-mikir dulu.

Tidak ada komentar: