Gunungtugel peristiwa sebuah awal peradaban lama,yang telah mengawali peradaban baru sebagai pondasi awal terwujadnya ri Bhumi Mataram.Hal yang demikian diperoleh dari winarah para Sepuh dari jaman ke jaman.Diantaranya winarah yang diperoleh mbah Datrim dari mbah Datuk Kahfi.winarah yang di maksut adalah latar belakang Gunungtugel.Demikian juga winarah dari mbah Bakri dari eyang Muhsin.Eyang Muhsin dari Syeh Abdurahman,dari Ki Buyut Manguneng.
Kamis, 06 September 2018
Prksa unggul wekasan asor
Kajian Wedharaga (16) Bait ke-16, Pupuh Gambuh (metrum: 7u 10u 12i 8u 8o), Serat Wedharaga, karya Raden Ngabehi Ranggawarsita: Wong ngaurip wus tamtu, akeh padha arebut piyangkuh. Lumuh lamun kasor kaseser sathithik. Nanging singa peksa unggul, ing wekasan dadi asor. Terjemahan dalam bahasa Indonesia: Orang hidup sudah pasti, banyak yang berebut kebanggaan. Tak mau kalah walau hanya tergeser sedikit saja. Tetapi siapa yang memaksakan unggul, pada akhirnya menjadi hina.
Kajian per kata: Wong (orang) ngaurip (hidup) wus (sudah) tamtu (pasti), akeh (banyak) padha (yang) arebut (berebut) piyangkuh (kebanggaan). Orang hidup sudah pasti, banyak yang berebut kebanggaan. Merupakan hal yang biasa, dan juga bukan suatu hal buruk jika orang hidup di dunia mencari kebanggaan. Bagaimanapun segala pencapaian manusiawi, entah ilmu, harta, kedudukan dan pangkat adalah hal yang menunjukkan suatu prestasi. Tidak sembarang orang dapat melakukan hal itu, jadi wajar apabila yang demikian itu menjadi kebanggaan. Bahkan semangat dalam mencari hal-hal di atas adalah sebuah kebaikan. Lumuh (tak mau) lamun (jika) kasor (kalah) kaseser (tergeser) sathithik (sedikit). Tak mau kalah walau hanya tergeser sedikit saja. Juga bukan suatu hal aneh jika manusia tak mau kalah dalam hal-hal di atas, bahkan tergeser sedikit pun bisa membuat hati resah. Perasaan seperti ini menimbulkan semangat untuk berkompetisi sehat antara sesama manusia. Berusaha lebih unggul dan enggan kalah adalah energi positif untuk kemajuan seseorang. Nanging (tetapi) singa (siapa yang) peksa (memaksakan) unggul (unggul), ing (pada) wekasan (akhirnya) dadi (menjadi) asor (hina). Tetapi siapa yang memaksakan unggul, pada akhirnya menjadi hina. Namun persoalannya akan menjadi lain manakala dalam meraih kebanggan tersebut dilakukan dengan memaksa. Tidak sabar dalam mengikuti proses yang harus ditempuh. Belum-belum sudah memaklumatkan diri dengan klaim-klaim kemampuan yang palsu, belum-belum sudah berlagak sebagai orang pandai, bergaya bak orang kaya, angkuh layaknya pejabat. Jika demikian yang dituai bukanlah kemuliaan, melainkan cibiran dan kehinaan.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar