Gunungtugel peristiwa sebuah awal peradaban lama,yang telah mengawali peradaban baru sebagai pondasi awal terwujadnya ri Bhumi Mataram.Hal yang demikian diperoleh dari winarah para Sepuh dari jaman ke jaman.Diantaranya winarah yang diperoleh mbah Datrim dari mbah Datuk Kahfi.winarah yang di maksut adalah latar belakang Gunungtugel.Demikian juga winarah dari mbah Bakri dari eyang Muhsin.Eyang Muhsin dari Syeh Abdurahman,dari Ki Buyut Manguneng.
Kamis, 06 September 2018
Jun kurang idsi
Kajian Wedharaga (29;31) Bait ke-29;31, Pupuh Gambuh (metrum: 7u 10u 12i 8u 8o), Serat Wedharaga, karya Raden Ngabehi Ranggawarsita: Maksih cilik ususmu, baya lagi sadami gengipun. Yen nyabranga luwih saking seket warsi, wus gedhe dawa ususmu. Barang kapinteran kamot.
Mokal lamun alimut, jroning layang Nitisastra iku. Gajeg ana pralampitane kang muni, upama jun kurang banyu, kocak-kocik kendhit ing wong.
Manawa kebak kang jun, yekti anteng den indhit ing lambung. Iku bae kena kinarya palupi, pedah apa umbak umuk, mundhak kaeseman ing wong. Terjemahan dalam bahasa Indonesia: Masih kecil ususmu, paling-paling baru sebatang padi besarnya. Kalau sudah melewati lebih dari lima puluh, sudah besar dan panjang ususmu. Sembarang pengetahuan termuat.
Tak masuk akal jika (engkau) tak tahu, dalam serat Panitisastra itu. Kiranya ada perumpamaan yang berbunyi, seumpama guci kurang air, kocak-kocak jika dipinggang orang.
Jika klenthing itu penuh, sungguh akan tenang kalau dibawa di pinggang. Hal itu saja bisa dibuat sebagai contoh, manfaat apa yang diperleh dengan pamer dan banyak mulut, hanya ditertawakan orang.
Kajian per kata: Maksih (masih) cilik (kecil) ususmu (ususmu), baya (paling) lagi (baru) sadami (sebatang padi) gedhene (besarnya). Masih kecil ususmu, paling-paling baru sebatang padi besarnya. Kalimat cilik usus di atas adalah ungkapan tentang seseorang yang belum berpengalaman dalam kehidupan. Sebaliknya, di Jawa ada ungkapan dawa ususe, artinya orang yang sabar dan telaten dalam melakukan sesuatu, tidak grusa-grusu (tergesa-gesa) serta pemikirannya jauh ke depan. Yen (kalau) nyabranga (melintas) luwih (lebih) saking (dari) seket (lima puluh) warsi (tahun), wus (sudah) gedhe (besar) dawa (panjang) ususmu (ususmu). Kalau sudah melewati lebih dari lima puluh, sudah besar dan panjang ususmu. Di sini ada kata dawa usus, artinya sudah diterangkan di atas. Menurut Ki Gambuh yang menggubah serat ini batas kedewasaan seseorang dimulai dari usia 50 tahun. Lebih dari usia itu seharusnya sudah matang dalam pemikiran dan dewasa dalam tindakan, bajik dalam perilaku, bijak dalam pertimbangan. Kalau sudah lebih dari 50 tahun kok belum mempunyai ciri-ciri tersebut, yang bersangkutan sedang mengalami idiot spiritual. Barang (sembarang) kapinteran (pengerahuan) kamot (termuat). Sembarang pengetahuan termuat. Pada usia itu seharusnya pengetahuan seseorang sudah sempurna karena sudah tiba waktu baginya untuk mengajarkan pada seseorang segala kepandaian yang ia miliki. Meski mencari ilmu bisa dilakukan sampai ajal namun pada usia tersebut seseorang seharusnya sudah mulai membagikan ilmunya kepada orang lain. Mokal (tak masuk akal) lamun (jika) alimut (gelap, tak tahu), jroning (dalam) layang (serat, kitab) Nitisastra (panitisastra) iku (itu). Tak masuk akal jika (engkau) tak tahu, dalam serat Panitisastra itu. Limut artinya gelap, dalam gatra ini bermakna gelap pengetahuan atau tidak tahu. Nitisastra adalah nama serat yang berisi ajaran untuk hidup bermasyarakat di zaman dahulu. Serat Nitisastra yang asli ditulis dalam bahasa Kawi dalam bentuk kakawin. Oleh Sri Pakubuwana IV kemudian diperintahkan untuk disadur dalam bahasa Jawa anyar dalam bentuk Macapat, dan jadilah serat yang baru dengan nama Serat Panitisastra. Gajeg (kiranya, kalau tak salah) ana (ada) pralampitane (perumpamaan) kang (yang) muni (berbunyi), upama (seumpama) jun (klenthing, guci tanah liat) kurang (kurang) banyu (air), kocak-kocik (kocak-kocak) kendhit (di pinggang) ing wong (orang). Kiranya ada perumpamaan yang berbunyi, seumpama guci kurang air, kocak-kocak jika dipinggang orang. Jun atau disebut juga klenthing adalah guci dari tanah liat/tembikar tempat air. Sering dipakai untuk membawa air dari sumber air kala belum ada sumur. Biasanya para ibu rumah tangga membawanya dengan dijepit di pinggang dengan tangan. Cara membawa dengan posisi ini disebut ngendhit. Dalam serat Panitisastra ada sebuah perumpamaan tentang penguasaan ilmu seseorang. Diibaratkan ilmu seseorang laksana klenthing yang diisi air. Jika air tidak penuh ketika dibawa akan kocak dan berbunyi, krucuk-krucuk. Berisik suaranya. Manawa (jika) kebak (penuh) kang jun (klenthing itu), yekti (sungguh) anteng (tenang) den indhit (dibawa) ing (di) lambung (pinggang). Jika klenthing itu penuh, sungguh akan tenang kalau dibawa di pinggang. Sebaliknya jika klenthing itu penuh, sungguh akan tenang tak bersuara kalau dibawa di pinggang. Tidak terdengar bunyi krucuk-krucuk lagi. Dalam bahasa Indonesia ada pepatah yang artinya sama, tong kosong nyaring bunyinya. Artinya jika seseorang tak berilmu alias kosong otaknya, justru akan nyaring suaranya. Iku (itu) bae (saja) kena (bisa) kinarya (dibuat) palupi (contoh), pedah (manfaat) apa (apa) umbag (sombong, pamer) umuk (banyak mulut), mundhak (malah, hanya tambah) kaeseman (disenyumi, ditertawakan) ing wong (orang). Hal itu saja bisa dibuat sebagai contoh, manfaat apa yang diperleh dengan pamer dan banyak mulut, hanya ditertawakan orang. Dari kejadian sederhana tersebut sebenarnya kita sudah dapat mengambil pelajaran. Tidak ada manfaat dari suka pamer dan omong besar, hanya mengungkap bahwa kita kosong dari pengetahuan. Akibatnya orang-orang pun tertawa, tersenyum sinis melihatnya. Kaeseman artinya diberi senyuman, artinya mereka menertawakan secara halus. Dalam hati mereka berkata, “Oh maklum , orang kurang pengertian!”
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar