Kamis, 06 September 2018

Apik ipil- ipil kaweruh

Kajian Wedharaga (9) Bait ke-9, Pupuh Gambuh (metrum: 7u 10u 12i 8u 8o), Serat Wedharaga, karya Raden Ngabehi Ranggawarsita: Tinimbang lan anganggur, kaya becik ipil-ipil kawruh. Angger datan ewan panasten sayekti, kawignyane wuwuh-wuwuh. Wekasan kasub kinaot. Terjemahan dalam bahasa Indonesia: Daripada menganggur, lebih baik mengumpulkan sedikit-sedikit pengetahuan. Asalkan tidak gampang iri hati dan panas hati benar-benar, kepandaiannya bertambah-tambah. Akhirnya terkenal (dari) yang lain. Kajian per kata: Tinimbang (daripada) lan anganggur (menganggur), (mengumpulkan sedikit-sedikit) kawruh (pengetahuan). Daripada menganggur lebih baik mengumpulkan sedikit-sedikit pengetahuan. Ipil-ipil adalah mengumpulkan sesuatu sedikit demi sedikit. Tentu perbuatan ini terkesan tidak serius, namun jika dilihat dari konteks kehidupan menjadi sangat bermanfaat. Misalnya ketika sedang duduk-duduk menunggu kereta lewat daripada hanya diam, iseng-iseng bertanya kepada sesama penunggu. Barangkali ada salah satu penunggu yang mempunyai kisah atau pengetahuan yang belum kita tahu. Maka sambil menunggu datangnya kereta kita bisa mendengar kisah-kisah yang penuh hikmat. Walau ilmu yang kita dapat dari pertemuan singkat itu hanya sedikit tetapi lebih baik daripada hanya duduk diam saja. Dalam banyak peristiwa kesempatan seperti itu akan ada, manfaatkanlah sebisanya. Angger (asalkan) datan (tidak) ewan (gampang iri hati) panasten (panas hati) sayekti (benar-benar), kawignyane (kepandaiannya) wuwuh-wuwuh (bertambah-tambah). Asalkan tidak gampang iri hati dan panas hati benar-benar, kepandaiannya bertambah-tambah. Dalam mencari ilmu terhadap sesama, baik dengan cara bertanya seperti di atas, atau dengan memperhatikan, atau dengan sengaja ingin mempelajari yang harus dipunyai adalah sikap tawadlu’. Kita takkan mendapat ilmu kalau kita gampang iri hati atau gampang panas hati jika melihat kesuksesan orang. Misalnya ketika piknik kok melewati peternakan bebek yang sukses, maka jangan ragu untuk bertanya kepada si empunya ternak dengan rendah hati. Siapa tahu kelak ilmu yang kita dapat bermanfaat. Namun kalau kita iri tentu yang terjadi bukan bertanya tetapi malah mencemooh, “Aduh ternak kok ya bebek! Bikin bau aja!” Sikap yang rendah hati atau tawadlu’ tadi akan membuat pengetahuan kita bertambah karena orang menjadi tidak segan untuk berbagi ilmu. Sebaliknya sikap iri dan panas hati akan menjauhkan diri dari ilmu, meski dekat pun takkan terambil wong gayanya pura-pura tak butuh. Piye jal? Wekasan (akhirnya) kasub (terkenal) kinaot (yang lain). Akhirnya terkenal (dari) yang lain. Apabila kita rajin mengumpulkan pengetahuan dengan cara tersebut kelak juga akan banyak pengetahuan yang kita miliki. Nama kita akan dikenal lebih daripada orang lain, karena kita menjadi banyak teman akibat sering bertanya tadi. Sebuah sikap yang dobel manfaat.

Tidak ada komentar: