Gunungtugel peristiwa sebuah awal peradaban lama,yang telah mengawali peradaban baru sebagai pondasi awal terwujadnya ri Bhumi Mataram.Hal yang demikian diperoleh dari winarah para Sepuh dari jaman ke jaman.Diantaranya winarah yang diperoleh mbah Datrim dari mbah Datuk Kahfi.winarah yang di maksut adalah latar belakang Gunungtugel.Demikian juga winarah dari mbah Bakri dari eyang Muhsin.Eyang Muhsin dari Syeh Abdurahman,dari Ki Buyut Manguneng.
Kamis, 06 September 2018
Ngaku putus tondha bodho
Kajian Wedharaga (14;15) Bait ke-14;15, Pupuh Gambuh (metrum: 7u 10u 12i 8u 8o), Serat Wedharaga, karya Raden Ngabehi Ranggawarsita: Panengeraning wong iku, adat ana panggrayanganipun. Peten saking sambang liring nayeng wadi. Yen wong ngaku sarwa putus, iku mratandhani bodho.
Lamun wong ngaku cukup, mratandhani kukurangan iku. Wong ngungasken kakendelan tandha jirih. Wong angakukiyat pengkuh, tandha apes amalendo.
Terjemahan dalam bahasa Indonesia: Cara mengetahui ciri-ciri orang itu, biasanya ada yang dijadikan perkiraan. Ambilah dari cara melihat dan mimik muka yang rahasia. Kalau orang mengaku serba ahli, itu menandakan ia bodoh.
Jika orang mengaku cukup, menandakan bahwa dia kekurangan. Orang yang menyombongkan keberanian menandakan dia takut. Orang yang mengaku kuat dan sentosa, pertanda dia lemah dan tak dapat diandalkan.
Kajian per kata: Panengeraning (cara mengetahui ciri-ciri) wong (orang) iku (itu), adat (biasanya) ana (ada) panggrayanganipun (yang dijadikan perkiraan). Cara mengetahui ciri-ciri orang itu, biasanya ada yang dijadikan perkiraan. Panengeran dari kata tenger artinya tanda. Setiap orang mempunyai tanda-tanda yang menunjukkan watak, sifat, perilakunya secara umum. Panengeran yang dimaksud dalam bait ini adalah tentang apakah seseorang berbohong perihal kemampuan yang dimilikinya. Klaim yang dia ucapkan bahwa dia ahli dalam bidang ini-itu apakah benar? Ada tanda-tanda untuk mengetahui hal tersebut. Peten (ambilah) saking (dari) sambang liring (sekilas pandangan) nayeng wadi (mimik muka yang mengandung rahasia). Ambilah dari cara melihat dan mimik muka yang rahasia. Pet artinya ambil, sambang liring artinya cara melihat, gerak mata, naya ing wadi = nayeng wadi artinya mimik muka rahasia. Jadi tanda-tanda itu ambilah dari cara dia melihat, gerak mata dan mimik atau air muka pada saat dia berbicara. Jika kita awas dan teliti niscaya akan terlihat jelas apakah seseorang benar-benar mempunyai kemampuan seperti yang dia klaim atau hanya berbohong. Cara ini terlampau sulit bagi orang awam, dan hanya dapat dilakukan oleh orang yang menguasai ilmu gerak wajah. Namun pada umumnya orang Jawa yang dewasa menguasai hal seperti ini. Inilah yang dinamakan sasmita (isyarat), yakni apa yang tersirat dari yang tersurat. Oleh karena itu di Jawa sering kita mendengar perkataan tanggap ing sasmita artinya paham apa yang tersirat. Sasmita ini bisa berupa isyarat yang sengaja diberikan oleh seseorang yang sedang bicara, atau juga bisa tidak sengaja tetapi tetap mengungkap gejolak yang ada di hati seseorang. Yen (kalau) wong (orang) ngaku (mengaku) sarwa (serba) putus (ahli), iku (itu) mratandhani (menandakan) bodho (bodoh). Kalau orang mengaku serba ahli, itu menandakan ia bodoh. Bagi orang awam ada penanda yang umum dan lebih mudah namun kurang akurat: siapapun yang mengaku-ngaku ahli, itu pertanda bahwa dia bodoh. Setiap orang pasti ingin menyembunyikan kelemahan dirinya, dalam soal ilmu kelemahan yang tampak adalah kebodohan, maka wajar jika kemudian seseorang mengaku pintar agar tidak dianggap bodoh. Lamun (jika) wong (orang) ngaku (mengaku) cukup (cukup), mratandhani (menandakan) kukurangan (kekurangan) iku (itu). Jika orang mengaku cukup, menandakan bahwa dia kekurangan. Demikian juga dalam hal kekurangan yang lain. Soal harta misalnya, seseorang akan menyembunyikan kemiskinannya dengan bergaya hidup mewah, entah bagaimana caranya. Memamerkan barang-barang berharga demi menutupi keadaan yang sesungguhnya. Wong (orang) ngungasken (menyombongkan) kakendelan (keberanian) tandha (pertanda) jirih (takut). Orang yang menyombongkan keberanian menandakan dia takut. Dalam hal keberanian juga berlaku demikian, orang yang penakut akan berteriak lantang agar dikira pemberani. Namun jika dihadapkan marabahaya dia akan lari duluan dengan berbagai alasan. Wong (orang) angaku (mengaku) kiyat (kuat) pengkuh (sentosa), tandha (pertanda) apes amalendo. Orang yang mengaku kuat dan sentosa, pertanda dia lemah dan tak dapat diandalkan. Orang yang lemah akan mengaku kuat agar meraih kepercayaan, namun jika tiba waktunya dia tidak dapat diandalkan. Kata malendo sering dilafalkan maletho, mletho, artinya tak dapat diandalkan. Tanda-tanda di atas adalah kesimpulan yang digeneralisir, namun cukup shahih sebagai informasi awal sebagai upaya berjaga-jaga (waspada) apabila bertemu dengan orang yang berperilaku demikian. Untuk menyimpulkan watak seseorang dengan tepat tentu dibutuhkan pengenalan yang panjang, namun sebagai upaya untuk menjaga diri beberapa pathokan di atas layak dipegang bagi orang awam.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar