Gunungtugel peristiwa sebuah awal peradaban lama,yang telah mengawali peradaban baru sebagai pondasi awal terwujadnya ri Bhumi Mataram.Hal yang demikian diperoleh dari winarah para Sepuh dari jaman ke jaman.Diantaranya winarah yang diperoleh mbah Datrim dari mbah Datuk Kahfi.winarah yang di maksut adalah latar belakang Gunungtugel.Demikian juga winarah dari mbah Bakri dari eyang Muhsin.Eyang Muhsin dari Syeh Abdurahman,dari Ki Buyut Manguneng.
Kamis, 06 September 2018
Akanthi awas lan emut
Kajian Wedharaga (7) Bait ke-7, Pupuh Gambuh (metrum: 7u 10u 12i 8u 8o), Serat Wedharaga, karya Raden Ngabehi Ranggawarsita: Akanthi awas emut, aja tinggal wiweka ing kalbu. Mituhua wawarah kang makolehi. Den taberi anguguru, aja isin atatakon. Terjemahan dalam bahasa Indonesia: Disertai awas dan eling, jangan meninggalkan kewaspadaan dalam hati. Patuhilah nasihat yang bermanfaat. Harap rajin dalam menuntut ilmu, jangan malu-malu dalam bertanya.
Kajian per kata: Akanthi (diserti) awas (waspada) emut (ingat),
kehati-hatian) ing (dalam) kalbu (hati). Disertai awas dan eling, jangan meninggalkan kewaspadaan dalam hati. Waspada lebih ditujukan ke luar dalam menghadapi berbagai godaan dan halangan yang muncul. Emut (ingat) berarti mengingat diri sendiri, menjaga diri dari keinginan hati yang melampaui batas, jadi ingat lebih ditujukan ke dalam. Sedangkan wiweka lebih bermakna menjaga kewaspadaan hati, jangan sampai hati terlena dengan bujukan dari luar (kadang bersifat sangat halus), sehingga terjerumus dalam perbuatan tercela. Mituhuwa (patuhilah) wawarah (nasihat) kang (yang) makolehi (bermanfaat). Patuhilah nasihat yang bermanfaat. Jika mendengar nasihat yang bermanfaat dan benar jangan ragu untuk mematuhinya dari manapun datangnya nasihat itu. Kata sayidina Ali r.a., seorang muslim paling berhak atas hikmat, sehingga apabila menemukan di mana saja maka dia berhak mengambilnya. Den (harap) taberi (rajin) anguguru (berguru, menuntut
Harap rajin dalam menuntut ilmu, jangan malu-malu dalam bertanya. Taberi artinya telaten dan ajeg (kontinyu), tidak sering mbolos atau seenaknya saja dalam mengikuti pelajaran, rajin dan perhatian terhadap ajaran guru. Jangan malu-malu untuk bertanya apabila belum mengerti benar tentang segala sesuatu. Karena saat serat ini digubah belum banyak didirikan sekolah formal dan kalaupun ada peserta didiknya juga hanya dari kalangan bangsawan, maka nasihat tentang pelajaran dalam serat ini lebih ditujukan pada anak muda yang menuntut ilmu secara non formal. Oleh karena itu istilah yang dipakai adalah anguguru, artinya mencari guru untuk diambil ilmunya. Ada banyak orang yang bersedia menerima murid pada waktu itu. Konsep yang diterapkan adalah suwita atau ngenger, yakni ikut menumpang hidup di rumah sang guru dan membantu segala kerepotan sambil belajar.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar