Gunungtugel peristiwa sebuah awal peradaban lama,yang telah mengawali peradaban baru sebagai pondasi awal terwujadnya ri Bhumi Mataram.Hal yang demikian diperoleh dari winarah para Sepuh dari jaman ke jaman.Diantaranya winarah yang diperoleh mbah Datrim dari mbah Datuk Kahfi.winarah yang di maksut adalah latar belakang Gunungtugel.Demikian juga winarah dari mbah Bakri dari eyang Muhsin.Eyang Muhsin dari Syeh Abdurahman,dari Ki Buyut Manguneng.
Kamis, 06 September 2018
Amar dhukum ngumbar sanggup
Kajian Wedharaga (2) Bait ke-2, Pupuh Gambuh (metrum: 7u 10u 12i 8u 8o), Serat Wedharaga, karya Raden Ngabehi Ranggawarsita: Trakadhang amardhukun, dhokohan tyas asring ngumbar sanggup. Iku aja kongsi mangkono yen keni. Kinira-kira kang patut, apa kalumrahaning wong.
Terjemahan dalam bahasa Indonesia: Kadang-kadang membuka praktik dukun, hatinya bernafsu mengumbar kemampuan. Itu jangan sampai demikian itu kalau bisa. Dikira-kira yang patut (dalam berbuat), apa yang biasa dikerjakan orang.
Kajian per kata: Trakadhang (terkadang, kadang-kadang) amardhukun (membuka praktik dukun), dhokohan (lahap, bernafsu) tyas (hati) asring (sering) ngumbar (mengumbar, menawarkan) sanggup (kemampuan). Kadang-kadang membuka praktik dukun, hatinya bernafsu mengumbar kemampuan. Arti dukun menurut KBBI adalah orang yang mengobati, menolong orang sakit, memberi jampi-jampi (mantra, guna-guna, dan sebagainya), namun dalam budaya Jawa arti dhukun yang paling tepat adalah orang pintar. Bisa pintar ilmu pengobatan seperti dhukun jampi, bisa pintar menolong persalinan dan perawatan bayi baru lahir seperti dhukun bayi, bisa pintar dalam ilmu fengsui Jawa, yakni ahli primbon dan perhitungan hari. Semua hal-hal di atas positif dan berguna bagi banyak orang. Oleh karena itu profesi dukun sangat dihormati dalam masyarakat Jawa zaman dahulu kala. Hal itu dapat kita ketahui dari panggilam mereka yang umumnya di panggil mbah, artinya yang dituakan. Meski demikian ada juga profesi yang juga sering dinamai dukun tetapi berkaitan dengan dunia hitam, seperti dukun santet, dukun pengasihan, dukun tenung, dukun ramal, dan lain-lain. Jadi memang ada dua macam dukun, kita sebut saja dhukun putih dan dhukun hitam. Meski demikian karena profesi dukun itu tidak ada sertifikatnya, maka banyak orang mengaku-aku pintar dan sanggup menjadi dukun, seperti ditunjukkan oleh tingkah polah tokoh kita ini, si anak muda yang kadang amardhukun (membuka praktik dukun) tadi. Dia sangat bernafsu mencari korban dan mengumbar kesanggupan, mempertontonkan kemampuan kepada orang-orang. Padahal sudah kita ketahui bahwa kemampuannya tak seberapa, bahkan kerap berbuat salah dan melanggar aturan. Iku (itu) aja (jangan) kongsi (sampai) mangkono (demikian itu) yen (kalau) keni (bisa). Itu jangan sampai demikian itu kalau bisa. Maka Ki Gambuh (penggubah serat ini) mengingatkan, jangan sampai terjadi yang demikian itu. Upayakan sebisa-bisanya jangan sampai terjerumus ke perbuatan yang sangat tidak pantas ini. Kinira-kira (dikira-kira) kang (yang) patut (patut, pantas), apa (apa) kalumrahaning (yang biasanya, kelaziman) wong (orang). Dikira-kira yang patut (dalam berbuat), apa yang biasa dikerjakan orang. Menjadi orang yang hidup dalam masyrakat hendaklah dapat mengira-ngira, menduga-duga, apa saja yang patut dilakukan. Apa saja yang biasa dilakukan atau menjadi kelaziman bagi orang-orang di lingkungan itu. Jangan berbuat aneh-aneh yang memberi kesan congkak dan menyombongkan diri, apalagi jika sampai mengaku-aku pintar, jangan sampai yang demikian itu terjadi. Itu sifat tidak elok dan justru kontraproduktif.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar