Kamis, 06 September 2018

Mung met kaeahayon

Kajian Wedharaga (36;38) Bait ke-36;38, Pupuh Gambuh (metrum: 7u 10u 12i 8u 8o), Serat Wedharaga, karya Raden Ngabehi Ranggawarsita: Ki Gambuh bisa muwus, anglakoni dhewe durung kaur. Dangdang sumyang watak wantune wong langip. Tan kawawa wuwur sembur, pitutur bae yen kanggo. Amung amrih rahayu, ewadene ing babasanipun, alah kandha ana ing tandha lan yekti. Titenana ala nganggur, begja kang gelem anganggo. Tursan rong sapteng lebu, Ki Pujangga panggupitanipun. Tawi tawar ing surasa tanpa manis. Marma kongsi karya pemut, mung met marta karahayon. Terjemahan dalam bahasa Indonesia: Ki Gambuh hanya bisa berkata, menjalani sendiri belum sempat. Hanya banyak bicara seperti watak tabiatnya orang lemah. Tak kuasa memberi saran dan doa, petuah ini saja jika berguna. Hanya agar selamat, walau demikian ada peribahasa, daripada hanya kata lebih baik ada tanda bukti kesungguhan. Ingatlah sambil lalu, beruntung yang mau mematuhi. Terusan liang ada tujuh jalan masuk, Ki Pujangga menggubahnya. Hambar tanpa rasa dalam makna tanpa manis. Karena sebab sampai membuat peringatan ini, hanya mencari hidup penuh keselamatan. Kajian per kata: Ki Gambuh (Ki Gambuh, penggubah serat ini) bisa (hanya bisa) muwus (berkata), anglakoni (menjalani) dhewe (sendiri) durung (belum) kaur (sempat). Ki Gambuh hanya bisa berkata, menjalani sendiri belum sempat. Ki Gambuh sendiri belum bisa melaksanakan apa yang beliau tulis ini, baru sebatas berkata-kat dengan menuangkan ke dalam karya sastra ini. Gatra ini adalah ungkapan kerendahan hati dari penggubah karya-karya klasik yang selalu menyejukkan, rendah hati tanpa sikap arogan. Dalam banyak karya sastra akan ditemukan pernyataan seperti ini, amat jauh berbeda dengan yang kita baca di medsos. Dangdang sumyang (istilah untuk beramai-ramai) watak (watak) wantune (tabiat) wong (orang) langip (lemah). Hanya banyak bicara seperti watak tabiatnya orang lemah. Dangdang adalah tempat menanak nasi. Sumyang, umyung artinya ramai-ramai. Umumnya dangdang atau dandang dipakai untuk menanak nasi dalam jumlah besar pada acara hajatan. Banyak orang terlibat di dapur sehingga suaranya sangat ramai. Ungkapan dangdang sumyang dipakai untuk menggambarkan suara yang ramai, gayeng. Maksud gatra ini adalah Ki Pujangga baru bisa berama-ramai seperti watak orang lemah. Orang lemah yang dimaksud adalah lemah dalam kehendak, sudah berniat melakukan tapi tekadnya kurang kuat. Dan tentu saja kalimat ini hanya ungkapan kerendahan hati dari Ki Ranggawarsita saja. Tan (tak) kawawa (kuasa) wuwur sembur (istilah untuk saran dan doa), pitutur (petuah) bae (saja) yen (jika) kanggo (berguna). Tak kuasa memberi saran dan doa, petuah ini saja jika berguna. Wuwur sembur adalah saran dan do’a, sesuatu yang diharapkan dari para orang tua ketika seseorang mempunyai keperluan atau persoalan. Dalam kedua hal ini Ki Pujangga juga tak sanggup, hanya mampu memberi petuah jika berkenan mengambil manfaat darinya. Amung (hanya) amrih (agar) rahayu (selamat), ewadene (walau demikian) ing (ada di) babasanipun (peribahasa), alah (daripada) kandha (kata) ana (ada) ing tandha (tanda) lan (dan) yekti (bukti). Hanya agar selamat, walau demikian ada peribahasa, daripada hanya kata lebih baik ada tanda bukti kesungguhan. Walau tak mampu memberi apa-apa, yang beliau inginkan hanyalah agar semua selamat. Seperti peribahasa daripada hanya kata lebih baik ada tanda dan bukti kesungguhan, serat Wedharaga yang ditujukan untuk para muda inilah tanda dan bukti itu. Titenana (ingat-ingatlah) ala nganggur (timbang nganggur, sambil lalu), begja (beruntung) kang (yang) gelem (mau) anganggo (memakai, mematuhi). Ingatlah sambil lalu, beruntung yang mau mematuhi. Tidak usah serius amat, sambil lalu saja amat-amatilah, beruntung yang mau memakai petuah ini. Tursan (terusan) rong (liang) sapteng (tujuh dalam) lebu (masuk), Ki Pujangga (Ki Pujangga) panggupitanipun (menggubahnya). Terusan liang ada tujuh jalan masuk, Ki Pujangga menggubahnya. Tursan rong sapteng lebu adalah candra sengkala, penanda tahun dituliskannya serat ini, jika dinyatakan dalam angka adalah tahun 1799 Jawa, atau 1870 Masehi. Tawi (tawa, hambar) tawar (tanpa rasa) ing (dalam) surasa (makna) tanpa (tanpa) manis (manis). Hambar tanpa rasa dalam makna tanpa manis. Memang hanya hambar perkataan sang Pujangga, tak ada bunga-bunga manisnya. Bukan sebuah petuah yang menggetarkan jiwa, bukan sebuah rangkaian kata yang menggores rasa. Ki Pujangga tak mampu membuat yang seperti itu. Marma (karena sebab) kongsi (sampai) karya (membuat) pemut (peringatan), mung (hanya) met (mencari) marta (indah, hidup) karahayon (keselamatan). Karena sebab sampai membuat peringatan ini, hanya mencari hidup penuh keselamatan. Karena sebab sampai dibuatnya karya ini hanya untuk peringatan, hanyalah upaya untuk mencari keselamatan bagi semua. Dan inilah hasilnya, Serat Wedharaga karya Ki Ranggawarsita yang digubah pada tahun 1870 Masehi. Ketika itu usia Ki Ranggawarsita sudah 68 tahun. Beliau meninggal pada tahun 1873 M dan dimakamkan di Palar. Bait ini adalah penutup dari Serat Wedharaga. Dengan berakhirnya kajian ini maka tuntas sudah kita kaji serat Wedharaga karya Raden Ngabehi Ranggawarsita, pujangga dari Kasunanan Surakarta Adiningrat.

Tidak ada komentar: