Gunungtugel peristiwa sebuah awal peradaban lama,yang telah mengawali peradaban baru sebagai pondasi awal terwujadnya ri Bhumi Mataram.Hal yang demikian diperoleh dari winarah para Sepuh dari jaman ke jaman.Diantaranya winarah yang diperoleh mbah Datrim dari mbah Datuk Kahfi.winarah yang di maksut adalah latar belakang Gunungtugel.Demikian juga winarah dari mbah Bakri dari eyang Muhsin.Eyang Muhsin dari Syeh Abdurahman,dari Ki Buyut Manguneng.
Kamis, 06 September 2018
Bandhar tyas kabalabar
Kajian Wedharaga (19;20) Bait ke-19;20, Pupuh Gambuh (metrum: 7u 10u 12i 8u 8o), Serat Wedharaga, karya Raden Ngabehi Ranggawarsita: Ana kang wus kadulu, suteng carik kadhinginan tuwuh. Ngaku putus patrape kurang patitis, manut ngelmuning guyeng dul, amangeran luncung bodhol.
Badhar tyas kabalawur, baladheraning wong ambabangus. Angas ungus ing wuwus tan anguwisi. Temah kasebut wong gemblung, kinira yen lara panon.
Terjemahan dalam bahasa Indonesia: Ada yang sudah terlihat, anak jurutulis yang terlalu cepat tumbuh. Mengaku ahli tingkahnya kurang tepat, menuruti ajarannya santri Dul, mendewakan badut keparat.
Terbongkar hatinya bingung, (itulah) sekotor-kotornya manusia yang menghasut-hasut. Berlagak-lagak berani dalam perkataan (tetapi) tidak menyelesaikan. Hingga disebut orang sinting, dikira kalau sakit otaknya.
Kajian per kata: Ana (ada) kang (yang) wus (sudah) kadulu (terlihat), suteng(anak) carik (jurutulis) kadhinginan (terlalu cepat, mendahului) tuwuh (tumbuh). Ada yang sudah terlihat, anak jurutulis yang terlalu cepat tumbuh. Ada contoh lain selain Ki Gambuh sendiri. Dia adalah anak jurutulis yang terlalu cepat tumbuh. Maksudnya dia melakukan apa yang sudah disebutkan dalam bait sebelumnya, yakni terlalu cepat ingin menikmati hasil berupa kesuksesan dalam pengetahuan. Ngaku (mengaku) putus (ahli) patrape (tingkahnya) kurang (kurang) patitis (tepat), manut (menurut) ngelmuning (ilmunya) guyeng Dul (santri Dul), amangeran (mendewakan) luncung bodhol (badut keparat). Mengaku ahli tingkahnya kurang tepat, menuruti ajarannya santri Dul, mendewakan badut keparat. Mengaku-aku sudah ahli namum kelakuannya kurang pas (tepat). Dia memakai ajaran santri Dul. Siapakah dia? Santri Dul disebut dalam kitab Wedatama sebagai seorang yang belajarnya belum tuntas namun sudah kembali ke desanya untuk mengajarkan ilmu-ilmu agama. Akibatnya karena yang mengajarkan ilmunya belum sempurna ajarannya pun tidak jelas. Namun anehnya banyak juga pengikutnya yang fanatik. Selengkapnya tentang santri Dul ini silakan membaca kajian kami dalam serat Wedatama yang kajiannya sudah khatam. Tokoh santri Dul ini tampaknya bukan tokoh nyata, namun namanya sering dipakai untuk menyebut orang yang sok pintar seperti yang sedang kita bahas ini. Karkono Kamajaya dalam Lima Karya Ranggawarsita menerjemahkan luncung bodhol sebagai badut keparat. Amangeran luncung bodhol artinya mendewakan badut keparat. Sangat mungkin yang dimaksud oleh gatra ini sebagai luncung bodhol adalah santri Dul, karena pengikutnya memang sangat menurut dan mengidolakannya. Badhar (terbongkar) tyas (hati) kabalawur (blawur, bingung), baladheraning (kotor-kotornya) wong (orang) ambabangus (menghasut-hasut). Terbongkar hatinya bingung, (itulah) sekotor-kotornya manusia yang menghasut-hasut. Bila terbongkar kedoknya yang hanya umuk, omong kosong itu, hatinya menjadi bingung. Itulah orang yang kata-katanya lebih panjang dari akalnya. Kemana-mana menghasut-hasut, sungguh kotor perbuatannya. Ambaladher artinya kotor seperti lumpur kubangan, jika dipijak kaki akan terperosok ke dalam. Itulah perumpamaan orang yang kata-katanya tak sepadan dengan kemampuan. Angas ungus (berlagak-lagak berani) ing (dalam) wuwus (perkataan) tan (tidak) anguwisi (menyelesaikan). Berlagak-lagak berani dalam perkataan (tetapi) tidak menyelesaikan Berlagak berani ketika tidak ada musuh, namun jika kepergok marabahaya tak dapat menyelesaikan masalah. Angas adalah sifat sok berani, mengaku-aku berani dalam perkataan, alias omong besar. Temah (hingga) kasebut (disebut) wong (orang) gemblung (sinting), kinira (dikira) yen (kalau) lara (sakit) panon (penglihatan, pikiran, otak). Hingga disebut orang sinting, dikira kalau sakit otaknya. Orang seperti itu perilakunya mirip orang sinting. Tidak dapat dipegang kata-katanya. Banyak orang mengira kalau dia sakit otaknya. Memang tidak ada baiknya sifat umuk itu, sehingga sering disamakan dengan orang sinting. Mungkin ini berlebihan tetapi yang jelas sama meresahkan dengan kelakuan orang tak waras. Yang lebih parah dari sikap seperti ini adalah, satu watak buruk akan menyeret watak buruk lain untuk berkumpul dalam satu tubuh. Apa saja watak buruk yang akan diundang oleh sifat umuk kumalungkung ini? Nantikan kajian berikutnya.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar