Kamis, 06 September 2018

Adreng ngumbar arubiru

Kajian Wedharaga (21;22) Bait ke-21;22, Pupuh Gambuh (metrum: 7u 10u 12i 8u 8o), Serat Wedharaga, karya Raden Ngabehi Ranggawarsita: Saengga tunggal laku, lan kang asring gumaib ing kawruh. Turtan wikan wiwekaning reh nayadi. Adreng ngumbar arubiru, amberat berawaning wong. Saking lobaning kalbu, mung kalebu lebdeng bek kung lur kung. Kumalungkung ngaku ngungkuli sakalir. Saliring utameng kawruh, pangrasane padha kasor. Terjemahan dalam bahasa Indonesia: Sehingga satu perbuatan, dengan yang sering berlagak tahu dalam pengetahuan. Padahal tidak mengetahui cara berhati-hati dengan muka manis. Bernafsu mengumbar kerusuhan, menyepelekan kehebatan orang lain. Karena tamaknya hati, hanya termasuk pintar membiarkan (orang) sedih bertambah kesedihannya. Sombong sekali mengaku melebihi (orang lain) dalam segala hal. Sembarang yang utama dalam pengetahuan, dianggapnya semua kalah (darinya). Kajian per kata: Saengga (sehingga) tunggal (satu) laku (perbuatan), lan (dan) kang (yang) asring (sering) gumaib (umuk, sombong, berlagak tahu tentang ilmu gaib) ing (dalam) kawruh (pengetahuan). Sehingga satu perbuatan, dengan yang sering berlagak tahu dalam pengetahuan. Dalam bait sebelumnya telah diuraikan tentang orang yang berlagak ahli dalam pengetahuan, padahal belajarnya belum tuntas, ilmua belum sempurna baru setengah-setengah. Dalam bait ini disebutkan orang yang sejenis dengan itu, satu perbuatan dengan perilaku yang demikian itu. Turtan (padahal tidak) wikan (mengetahui, pandai) wiwekaning (berhati-hati) reh nayadi (dalam hal bermuka manis). Padahal tidak mengetahui cara berhati-hati dengan muka manis. Yakni orang yang tidak menguasai dalam hal bermuka manis kepada orang lain. Dalam kajian serat Wedatama telah kami uraikan tentang perlunya bersikap manis, sesadon ingadu manis, kepada setiap orang walaupun dalam hati kita jengkel. Kemampuan bersikap manis ini menjadi tanda dari orang-orang berilmu. Nah, anak-anak muda yang tidak sabar dalam proses dan bersikap sok ahli tadi tidak akan sampai tahap bermuka manis ini. Jangankan membuat senang orang lain, yang ada justru membuat jengkel karena perbuatan sok pintarnya. Adreng (bernafsu) ngumbar (mengumbar) arubiru (rusuh), amberat (menghilangkan, menyingkirkan) berawaning (kehebatan, keunggunlan) wong (orang). Bernafsu mengumbar kerusuhan, menyepelekan kehebatan orang lain. Mereka itu sudah sangat bernafsu mengumbar rusuh, suka menyepelekan kehebatan orang lain. Kalau karena pendapatnya berbeda kemudian terjadi ribut-ribut mereka ini senang sekali. Bahkan sangat suka memcari-cari perbedaan agar muncul keributan, supaya perjuangan mereka menegakkan kebenaran (versi mereka) menjadi lebih dramatik, sehingga mereka tampak hebat dan heroik. Saking (karena) lobaning (tamaknya) kalbu (hati), mung (hanya) kalebu (termasuk) lebdeng (pintar) bek (membiarkan) kung (sedih) lur (mengulur, memperpanjang) kung (sedih). Karena tamaknya hati, hanya termasuk pintar membiarkan (orang) sedih bertambah kesedihannya. Hal itu muncul karena hati mereka tamak akan kehebatan, terlalu bernafsu (adreng) meraih kebaikan. Bila karena sikapnya itu seseorang menjadi susah, mereka tak mereda. Malah akan memperpanjang kesedihan orang itu. Seolah orang lain pantas menerima perlakuan tak bijak darinya. Kumalungkung (sombong sekali) ngaku (mengaku) ngungkuli (melebihi) sakalir (segala hal). Sombong sekali mengaku melebihi (orang lain) dalam segala hal. Orang seperti ini sikapnya sombong sekali, merasa benar sendiri melebihi orang lain dalam segala hal. Mereka mengklaim kebenaran sudah menjadi milik mereka. Saliring (sembarang) utameng (yang utama) kawruh (pengetahuan), pangrasane (perasaannya, dianggapnya) padha (semua) kasor (kalah). Sembarang yang utama dalam pengetahuan, dianggapnya semua kalah (darinya). Hal-hal yang menjadi keutamaan dalam pengetahuan mereka merasa ahli, menurut anggapannya yang lain semua kalah. Itulah watak tak baik dan kurang elok yang sering menjangkiti anak muda yang ilmunya baru setengah jalan. Sungguh, watak yang demikian itu akan menjangkiti sebagian besar dari kita. Jika itu terjadi janganlah terlalu khawatir, tetaplah terus belajar dengat giat. Insya Allah akan sembuh dengan bertambahnya ilmu pengetahuan. Namun jika berhenti di tahap itu, celakalah!

Tidak ada komentar: