Kamis, 06 September 2018

Tanda durung kamot

Kajian Wedharaga (26;28) Bait ke-26;28, Pupuh Gambuh (metrum: 7u 10u 12i 8u 8o), Serat Wedharaga, karya Raden Ngabehi Ranggawarsita: Dongeng jaman karuhun, mbokmanawa pantes dadi pemut. Ana janma bagus anom sarwa wasis, nanging kuciwa kasebut, tukang sual juru waon. Sawiji dina nuju, temu lawan wong tuwa wus pikun. Mintoaken kabangkitan lair-batin. Kaki tuwa alon muwus, mengko ta wong bagus anom. Manira takon tuhu, lagi pira umurira bagus. Winangsulan uwis telung puluh warsi, kaki tuwa mesem muwus, layak durung bisa amot. Terjemahan dalam bahasa Indonesia: Ada cerita dari zaman dahulu, barangkali pantas menjadi peringatan. Ada seorang yang tampan masih muda serta cakap, tetapi yang mengecewakan dia disebut, tukang mencari masalah dan suka mencela. Suatu hari kebetulan, bertemu dengan orang tua yang sudah pikun. (Pemuda itu)menunjukkan kepandaian lahir batin. Kakek tua itu berkata dengan pelan halus, “Sebentar anak muda tampan. Saya bertanya yang sebenarnya, baru berapa umurmu, cah bagus?” Dijawab (oleh orang muda itu), “Sudah tiga puluh tahun.” Kakek tua tersenyum sambil berkata, “Pantas belum bisa memuat (pengetahuan)!” Kajian per kata: Dongeng (cerita) jaman (zaman) karuhun (dahulu), mbokmanawa (barangkali) pantes (pantas) dadi (menjadi) pemut (peringatan). Ada cerita dari zaman dahulu, barangkali pantas menjadi peringatan. Dongeng adalah cerita didaktik yang sering dipakai oleh para orang tua zaman dulu untuk menyampaikan pesan atau petuah. Pesan-pesan itu dibingkai dalam cerita agar berkesan mendalam. Umumnya dongeng ditujukan untuk anak-anak yang belum begitu berkembang pikirannya. Karena itu dongeng sering berbentuk fabel semisal Kancil Nyolong Timun, Timun Emas, Kancil dan Buaya, dll. Dengan dongeng pesan-pesan disampaikan dengan berkesan tanpa harus menggurui. Kadang seorang anak yang pikirannya sudah berkembang membantah dongeng tersebut karena sering tidak masuk akal, seperti binatang kok bisa bicara, dll. Orang tua zaman dahulu hanya menjawab singkat, “Ini kan hanya dongeng, dipaido kenging!” Dalam bait ini Ki Gambung juga hanya menyampaikan dongeng, jadi Anda pun boleh membantahnya, tetapi lebih baik dengarkalah, barangkali bisa menjadi peringatan bagi kita semua. Ana (ada) janma (seorang) bagus (tampan) anom (masih muda) sarwa (serta) wasis (cakap), nanging (tetapi) kuciwa (yang mengecewakan) kasebut (disebut), tukang (tukang) sual (mencari masalah) juru (suka) waon (mencela). Ada seorang yang tampan masih muda serta cakap, tetapi yang mengecewakan dia disebut, tukang mencari masalah dan suka mencela. Ada seorang pemuda yang tampan dan cakap serta pintar. Namun ada hal yang mengecewakan darinya. Dia disebut-sebut orang suka mencari persoalan dengan orang lain. Dan juga suka mencela sesama. Ini adalah khas perilaku anak muda yang suka mengikuti gejolak hati, seperti yang sudah kita sebutkan wataknya dalam bait-bait yang lalu. Sawiji (suatu) dina (hari) nuju (di saat, kebetulan), temu (bertemu) lawan (dengan) wong (orang) tuwa (tuwa) wus (sudah) pikun (pikun). Mintoaken (dari kata mitontonaken, menunjukkan) kabangkitan (kepandaian) lair –batin (lahir batin). Suatu hari kebetulan, bertemu dengan orang tua yang sudah pikun.(Pemuda itu)menunjukkan kepandaian lahir batin. Suatu hari dia bertemu dengan seorang tua yang sudah pikun. Tanpa unggah-ungguh dan sopan santun pemuda itu menunjukkan kepandaiannya lahir dan batin. Anak muda memang tidak sabaran. Ketika melihat sesuatu yang berbeda dari apa yang diketahuinya biasanya langsung bereaksi dengan cara yang kurang patut. Misalnya, menyalahkan, mencela atau menggurui. Ini reaksi yang wajar dari seorang yang kurang sempurna ilmunya, tanda tak luas wawasannya, menunjukkan kerdilnya pikiran dan dangkalnya pengetahuan. Mereka tidak mempertimbangkan ada kebenaran lain yang diluar pengetahuannya. Kaki (kakek) tuwa (tua) alon (pelan, halus) muwus (berkata), mengko ta (sebentar) wong (orang) bagus (tampan) anom (muda). Manira (saya) takon (bertanya) tuhu (yang sebenarnya), lagi (baru) pira (berapa) umurira (umurmu) bagus (bagus, tampan). Kakek tua itu berkata dengan pelan halus, “Sebentar anak muda. Saya bertanya yang sebenarnya, baru berapa umurmu cah bagus?” Menanggapi ketidak sopanan orang muda tadi kakek tua berkata dengan halus, “Sebentar anak muda. Ke sinilah dahulu. Duduklah di sini! Saya ingin bertanya, baru berapa umurmu bocah bagus?” Bocah bagus, atau cah bagus adalah panggilan sayang para orang tua kepada anak-anak muda. Namun panggilan ini sering kali dipakai sebagai cara untuk membujuk anak-anak nakal agar mau dinasehati. Tampaknya kakek tua sedang melakukan itu. Winangsulan (dijawab) uwis (sudah) telung puluh (tiga puluh) warsi (tahun), kaki (kakek) tuwa (tua) mesem (tersenyum) muwus (berkata), layak (pantas) durung (belum) bisa (bisa) amot (memuat). Dijawab (oleh orang muda itu), “Sudah tiga puluh tahun.” Kakek tua tersenyum sambil berkata, “Pantas belum bisa memuat (pengetahuan)!” Ketika orang muda itu menjawab sudah tiga puluh umurnya, kakek tua hanya berkata setengah bergumam, “Oh pantas belum bisa memuat (pengetahuan)!” Tiga puluh tahun ternyata belum mencapai usia yang matang dalam berilmu, itulah pendapat si kakek tua. Lalu berapakah usia seseorang mencapai kematangan pikir dan kedewasaan sikap? Nantikan dalam kajian berikutnya.

Tidak ada komentar: