Gunungtugel peristiwa sebuah awal peradaban lama,yang telah mengawali peradaban baru sebagai pondasi awal terwujadnya ri Bhumi Mataram.Hal yang demikian diperoleh dari winarah para Sepuh dari jaman ke jaman.Diantaranya winarah yang diperoleh mbah Datrim dari mbah Datuk Kahfi.winarah yang di maksut adalah latar belakang Gunungtugel.Demikian juga winarah dari mbah Bakri dari eyang Muhsin.Eyang Muhsin dari Syeh Abdurahman,dari Ki Buyut Manguneng.
Kamis, 06 September 2018
Aja ewut lan sungkan
Kajian Wedharaga (8) Bait ke-8, Pupuh Gambuh (metrum: 7u 10u 12i 8u 8o), Serat Wedharaga, karya Raden Ngabehi Ranggawarsita: Wong amarsudi kawruh, titirona ing reh kang rahayu. Aja kesed sungkanan sabarang kardi. Sakadare angingimpun, nimpeni kagunaning wong. Terjemahan dalam bahasa Indonesia: Bagi orang yang berupaya memperdalam pengetahuan, tirulah dalam segala hal yang baik. Jangan malas dan enggan dalam sembarang pekerjaan. Sekadarnya mengumpulkan, memanfaatkan kepandaian orang.
Kajian per kata: Wong (orang) amarsudi (berupaya memperdalam) kawruh (pengetahuan), titirona (tirulah) ing reh (dalam hal semua) kang (yang) rahayu (baik, selamat). Bagi orang yang berupaya memperdalam pengetahuan, tirulah dalam segala hal yang baik. Belajar yang paling gampang adalah meniru, namun yang cara yang demikian memerlukan contoh atau teladan. Jika ada orang yang bisa diteladani maka jangan membuang kesempatan, contohlah apapun yang baik darinya. Bila perlu bergurulah kepada pribadi-pribadi yang telah teruji dalam hal kebaikan sifat dan perilakunya. Selain mendapat teladan juga mendapat berkah dari kebaikan sang guru. Karena seperti halnya sifat buruk yang bisa menular, sifat-sifat baik pun demikian adanya. Aja (jangan) kesed (malas) sungkanan (enggan) sabarang (dalam sembarang) kardi (pekerjaan). Jangan malas dan enggan dalam sembarang pekerjaan. Sebagai murid harus rajin dalam menuntut ilmu dan menjalankan perintah guru. Jika berguru secara non formal maka harus rajin membantu kerepotan guru, agar beliau berkesan hatinya dan berkenan menurunkan ilmunya. Jangan memperlihatkan sifat malas, dan enggan dalam melakukan pekerjaan. Hal itu membuat yang melihat pun tak senang dan dongkol. Jika begitu, mana ada orang yang dengan senang hati akan berbagi ilmu dengan orang yang demikian? Sakadare (sekadarnya) angingimpun (mengumpulkan), nimpeni (memanfaatkan) kagunaning (kepandaian) wong (orang). Sekadarnya mengumpulkan, memanfaatkan kepandaian orang. Dalam hal pengetahuan juga hendaknya rajin mengumpulkan ilmu, bertanya tentang sesuatu kepada yang ahli tentang ini, selanjutnya kumpulkan jawabannya. Jika mungkin pelajari kitab dari ahli ini dan kumpulkan kesimpulan mereka. Inilah yang disebut memanfaatkan ilmu orang lain untuk menambah pengetahuan. Yang demikian itu disebut mengutip, itu boleh dilakukan dan tidak melanggar etika. Yang tidak boleh adalah menjiplak, atau plagiat, yakni mengakui karya orang lain sebagai hasil karyanya.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar