Gunungtugel peristiwa sebuah awal peradaban lama,yang telah mengawali peradaban baru sebagai pondasi awal terwujadnya ri Bhumi Mataram.Hal yang demikian diperoleh dari winarah para Sepuh dari jaman ke jaman.Diantaranya winarah yang diperoleh mbah Datrim dari mbah Datuk Kahfi.winarah yang di maksut adalah latar belakang Gunungtugel.Demikian juga winarah dari mbah Bakri dari eyang Muhsin.Eyang Muhsin dari Syeh Abdurahman,dari Ki Buyut Manguneng.
Kamis, 06 September 2018
Lumuh katon balilu
Kajian Wedharaga (11) Bait ke-11, Pupuh Gambuh (metrum: 7u 10u 12i 8u 8o), Serat Wedharaga, karya Raden Ngabehi Ranggawarsita: Karana ing tumuwuh, akeh lumuh katona mbalilu. Marma tansah mintonken kawruh pribadi, amrih den alema punjul. Tan wruh bakal kajalomprong. Terjemahan dalam bahasa Indonesia: Sebab di dalam kehidupan, banyak orang tidak mau kelihatan bodoh. Maka selalu mempertontonkan pengetahuan sendiri, agar dipuji sebagai punyak kelebihan. (Dia) tak mengetahui akan terjerumus.
. Kajian per kata: Karana (sebab, karena) ing (dalam) tumuwuh (kehidupan), akeh (banyak) lumuh (tidak mau) katona (terlihat) mbalilu (bodoh). Sebab di dalam kehidupan, banyak orang tidak mau kelihatan bodoh. Bodoh itu sifat yang tidak populer dan sering menjadi bahan bullying sejak masih anak-anak. Di sekolah-sekolah pun para guru mengajarkan para murid agar rajin belajar supaya tidak bodoh. Mereka memperolok orang bodoh dengan kalimat: bodho longa-longo kaya kebo pakanane suket ijo sak tompo. Silahkan dipahami sendiri kalimat tersebut karena terjemahannya tak semenghina dalam bahasa asalnya. Fenomena di atas terpatri dalam benak setiap anak sampai dewasa, maka takkan ada seorangpun yang mau kelihatan bodoh. Kesadaran ini sudah mengendap di alam bawah sadar, yang takkan mudah untuk diubah. Marma (maka) tansah (selalu) mintonken (mempertontonkan) kawruh (pengetahuan) pribadi (diri), amrih (agar) den (di) alema (puji) punjul (lebih). Maka selalu mempertontonkan pengetahuan sendiri, agar dipuji sebagai punyak kelebihan. Yang sebaliknya anak yang pintar akan selalu dipuji teman, disayang guru, mudah mendapat teman dan takkan ada yang memperolok. Kesadaran ini juga akan dibawa sampai tua, maka setiap orang berusaha kelihatan pintar agar selalu mendapat pujian sebagai orang yang lebih dari sesamanya. Akibatnya banyak orang yang berlagak pintar demi meraih simpati. Mempunyai pengetahuan sedikit saja sudah banyak bicara. Baru tahu satu hal sudah menyalahkan hal lainnya. Baru memahami satu kebenaran sudah merasa paling benar. Semua muara dari sikap sok pintar pada dasarnya hanya satu: gila pujian. Tan (tak) wruh (mengetahui) bakal (akan) kajalomprong (terjerumus). (Dia) tak mengetahui akan terjerumus. Orang-orang yang bersikap seperti itu tidak mengetahui bahwa sikap tersebut sangat merugikan dirinya sendiri, menjerumuskannya dalam kerugian yang besar. Mengapa demikian? Jawabnya ada pada kajian berikutnya.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar