Kamis, 06 September 2018

Drn bisa tepa sarira

Kajian Wedharaga (25) Bait ke-25, Pupuh Gambuh (metrum: 7u 10u 12i 8u 8o), Serat Wedharaga, karya Raden Ngabehi Ranggawarsita: Sapa wruh kembang tepus, iku bisa angarah panuju. Yekti datan adoh lan badan pribadi. Lamun kanthi awas emut, salamet tumekaning ndon. Terjemahan dalam bahasa Indonesia: Siapa yang mengetahui kembang tepus, itu bisa mengarahkan pada cocoknya hati. Sungguh (rasanya) takkan jauh dengan diri sendiri. Jika disertai waspada dan ingat, akan selamat sampai tujuan. Kajian per kata: Sapa (siapa) wruh (mengetahui) kembang (kembang) tepus (tepus, nama bunga), iku (itu) bisa (bisa) angarah (mengarahkan) panuju (cocoknya hati). Siapa yang mengetahui kembang tepus, itu bisa mengarahkan pada cocoknya hati. Frasa kembang tepus ini juga terdapat dalam Kidung Suksma Wedha namun dalam redaksi yang berbeda, yakni sapa weruh kembang tepus kaki, sasat weruh reke artadaya. Ahmad Chojim dalam Mistik dan Makrifat Sunan Kalijaga memaknai kembang tepus sebagai kalimat metafor, kalimat perumpamaan, yakni perumpamaan bagi asal-usul manusia. Kamajaya dalam Lima Karya Pujangga Ranggawarsita mengartikan sebagai berikut. Kembang tepus adalah nama jenis kembang. Tepus = tepa, ukur = ukuran panjang, luas, dan tebal dari sesuatu. Di sini kembang tepus dipakai untuk memperingatkan orang agar perbuatan dan tindakannya mengukur pada diri sendiri. Peribahasa: ukur baju badan sendiri (Jawa: tepa salira). Panuju artinya hal-hal yang membuat hati bersetuju, sesuai yang dimaksud. Kata ini sering dipakai dalam bentuk lain, nuju prana, pas dengan maksud hati. Jadi gatra di atas bermakna barang siapa mengetahui dirinya, dapat menerapkan tepa slira, maka akan mengarahkan pada kecocokan hati dengan orang lain. Yekti (sungguh) datan (tidak) adoh (jauh) lan (dengan) badan (badan, diri) pribadi (sendiri). Sungguh (rasanya) takkan jauh dengan diri sendiri. Apapun yang dirasakan orang lain sungguh tak jauh dengan rasa kita sendiri. Hal ini masih berkaitan dengan tepa slira tadi. Misalnya kita tak suka dicaci maki, maka orang lain pun juga tidak suka. Jika kita tidak suka melihat orang sombong, maka orang di sekitar kita juga tidak suka melihat kita sombong. Prinsip tepa slira berusaha menerapkan perasaan pada diri sendiri seandainya orang lain berlaku seperti yang kita lakukan. Pada umumnya orang bersikap sama, tak jauh dari diri kita sendiri. Maka apapun yang jika dilakukan orang lain kita merasa tidak suka, janganlah kita juga melakukan hal yang sama. Lamun (jika) kanthi (disertai) awas (waspada) emut (eling), salamet (selamat) tumekaning (sampai) ndon (tujuan). Jika disertai waspada dan ingat, akan selamat sampai tujuan. Dalam berbagai kesempatan Ranggawarsita selalu mengingatkan agar kita selalu waspada dan ingat. Arti kedua kata itu sudah sering kita bahas dalam kajian ini. Namun tidak ada salahnya kami ulang kembali agar tertanam dalam hati. Ingat berarti mengingat diri sendiri, menjaga diri dari keinginan hati yang melampaui batas, jadi ingat lebih ditujukan ke dalam. Waspada lebih ditujukan ke luar, dalam menghadapi berbagai godaan dan halangan yang datang dari luar. Jika kita bisa memadukan tiga hal di atas, tepa slira, waspada dan ingat, maka hidup kita akan selamat sampai tujuan.

Tidak ada komentar: