Gunungtugel peristiwa sebuah awal peradaban lama,yang telah mengawali peradaban baru sebagai pondasi awal terwujadnya ri Bhumi Mataram.Hal yang demikian diperoleh dari winarah para Sepuh dari jaman ke jaman.Diantaranya winarah yang diperoleh mbah Datrim dari mbah Datuk Kahfi.winarah yang di maksut adalah latar belakang Gunungtugel.Demikian juga winarah dari mbah Bakri dari eyang Muhsin.Eyang Muhsin dari Syeh Abdurahman,dari Ki Buyut Manguneng.
Rabu, 05 September 2018
Den sumrndhe aja kibir
Kajian Wedharaga (3) Bait ke-3, Pupuh Gambuh (metrum: 7u 10u 12i 8u 8o), Serat Wedharaga, karya Raden Ngabehi Ranggawarsita: Kang wus kaprah kalaku, inganggoa sapakolehipun. Mung patrape den sumendhe aja kibir. Manawa kena sesiku, wekasan rinasan ing wong.
Terjemahan dalam bahasa Indonesia: Yang sudah lumrah terjadi, pakailah sedapat-dapatnya. Hanya perilakunya hendaklah bersandar (pada Allah), jangan sombong. Bila terkena murka Tuhan, akhirnya menjadi gunjingan orang.
Kajian per kata: Isi bait ini masih berkaitan dengan bait sebelumnya, tentang anak muda yang mengumbar kesanggupan kepada banyak orang. Yang demikian itu bukanlah perilaku yang baik. Jadi orang hendaklah berlaku seperti orang kebanyakan saja. Tidak usah aneh-aneh. Kang (yang) wus (sudah) kaprah (lumrah) kalaku (terjadi), inganggoa (pakailah) sapakolehipun (sedapatnya). Yang sudah lumrah terjadi, pakailah sedapat-dapatnya. Yang sudah lumrah dalam hal pengetahuan seseorang biasanya mengamalkan sedapatnya saja, apa adanya saja sesuai kemampuan. Tidak perlu umuk dan pamer kemampuan. Bila ada yang meminta dan bisa mengerjakan ya dikerjakan. Tidak usah menjanjikan bisa melakukan ini-itu padahal belum tentu bisa. Yang dimaksud mengikuti kelumrahan bukan berarti permisif terhadap tindak-tindak tercela yang umum di masyarakat, tetapi
kemungkaran tetap berlaku kewajiban amar ma’ruf nahi munkar, sesuai kemampuan masing-masing. Mung (hanya) patrape (perilakunya) den (hendaklah) sumendhe (bersandar) aja (jangan) kibir (sombong). Hanya perilakunya hendaklah bersandar (pada Allah), jangan sombong. Harus senantiasa ingat bahwa semua terjadi karena kehendak Allah semata. Sandarkanlah upaya kita kepadaNya. Jangan berlaku sombong dengan mengklaim kepandaian sebagai usahanya semata. Manawa (bila) kena (kena) sesiku (murka Tuhan, kutukan), wekasan (akhirnya) rinasan (menjadi pembicaraan tak baik, menjadi gunjingan) ing (di) wong (orang). Bila terkena murka Tuhan, akhirnya menjadi gunjingan orang. Karena berlaku sombong dan pamer dapat membuat dirinya keweleh, alias terbongkar kedoknya. Selain itu juga mengundang murka Tuhan, kelak bila terkena kutukan akibat perbuatannya yang gegabah itu hanya akan menjadi gunjingan orang.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar