Gunungtugel peristiwa sebuah awal peradaban lama,yang telah mengawali peradaban baru sebagai pondasi awal terwujadnya ri Bhumi Mataram.Hal yang demikian diperoleh dari winarah para Sepuh dari jaman ke jaman.Diantaranya winarah yang diperoleh mbah Datrim dari mbah Datuk Kahfi.winarah yang di maksut adalah latar belakang Gunungtugel.Demikian juga winarah dari mbah Bakri dari eyang Muhsin.Eyang Muhsin dari Syeh Abdurahman,dari Ki Buyut Manguneng.
Kamis, 06 September 2018
Lare kang kalimput
Kajian Wedharaga (1): Lare Kang Kalimput Bait ke-1, Serat Wedharaga, karya Raden Ngabehi Ranggawarsita, Pupun Gambuh (metrum: 7u 10u 12i 8u 8o): Ki Gambuh karya pemut, limuting tyas rare kang kalimput. Lacut maring reh sumirang murang niti. Tan-tan tuman amamatuh, temah lumaku ginuron.
Terjemahan dalam bahasa Indonesia: Ki Gambuh memberi peringatan, tentang anak muda yang gelap hatinya karena tertutup. Terlanjur mengarah pada hal yang sekehendak sendiri melanggar aturan. Tetap tahan (dalam tindak salah) karena terbiasa, hingga berlaku sebagai guru.
Kajian per kata: Ki Gambuh (Ki Gambuh, nama orang) karya (membuat, memberi) pemut (peringatan), limuting (gelapnya) tyas (hati) rare (anak muda) kang (yang) kalimput (tertutup, khilaf). Ki Gambuh memberi peringatan, tentang anak muda yang gelap hatinya karena tertutup. Ki Gambuh di sini adalah nama yang dipakai sebagi kata ganti aku, yang berarti Ki Ranggawarsita sendiri. Beliau hendak memberi peringatan tentang adanya anak muda yang gelap hatinya karena tertutup. Lacut (terlanjur) maring (mengarah) reh (dalam hal) sumirang (sekehendak) murang (melanggar) niti (aturan). Terlanjur mengarah pada hal yang sekehendak sendiri melanggar aturan. Anak muda itu tertutup hatinya karena seringkali berbuat sekehendak sendiri, melanggar aturan semau-maunya. Seperti yang sudah kita kaji bersama dalam karya Ki Ranggawarsita yang lain, apabila seseorang memelihara perbuatan salah maka hatinya akan tertutup dan dipenuhi kegelapan, tyas limut kalimput. Hati menjadi tidak peka terhadap benar dan salah, malah cenderung melakukan pembenaran terhadap sebuah kesalahan dengan berbagai dalih. Hati yang telah lumpuh kekuatannya ini juga kehilangan kemampuan mawas diri, sehingga bukannya sadar atas kesalahannya alih-alih menularkan kesalahan kepada orang lain dan mencari pengikut. Tan-tan tuman (tetap tahan) amamatuh (terbiasa), temah (hingga) lumaku (berlaku) ginuron (sebagai guru). Tetap tahan (dalam tindak salah) karena terbiasa, hingga berlaku sebagai guru. Karena sudah terbiasa dalam kesalahan dan tidak bisa mawas diri, akhirnya malah berlaku sebagai guru. Mengajarkan kesalahan kepada orang lain, mencari-cari pengikut, membuat ajaran baru. Banyak tingkah layaknya orang pandai, pamer pengetahuan sesat dan tak tahu malu. Itulah sifat anak muda yang gegabah terhadap pengetahuan. Jika tak segera diperingatkan berbagai penyimpangan akan dia lakukan lagi.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar