Gunungtugel peristiwa sebuah awal peradaban lama,yang telah mengawali peradaban baru sebagai pondasi awal terwujadnya ri Bhumi Mataram.Hal yang demikian diperoleh dari winarah para Sepuh dari jaman ke jaman.Diantaranya winarah yang diperoleh mbah Datrim dari mbah Datuk Kahfi.winarah yang di maksut adalah latar belakang Gunungtugel.Demikian juga winarah dari mbah Bakri dari eyang Muhsin.Eyang Muhsin dari Syeh Abdurahman,dari Ki Buyut Manguneng.
Kamis, 06 September 2018
Rmpan papan suraos
Kajian Wedharaga (32;33) Bait ke-32;33, Pupuh Gambuh (metrum: 7u 10u 12i 8u 8o), Serat Wedharaga, karya Raden Ngabehi Ranggawarsita: Wong anom meneng ngungun, kaluhuran sabda alon mundur. Ing wekasan mari dennya mbek gumaib, mung lukita kang ginilut, empan papaning wiraos.
Malah wiwit anggayuh, tuturutan pangkating ngelmu. Kasampurnan pamoring kawula Gusti, mahasucekken Datipun, pangrakiting reh tan keron.
Terjemahan dalam bahasa Indonesia: Orang muda terdiam keheranan, teratasi perkataannya (oleh kakek tua), lalu mundur perlahan. Pada akhirnya sembuh dari watak sok pintar, hanya kitab-kitab yang tekun dipelajari, serta cara menempatkan diri yang diasah.
Bahkan mulai menggapai, urutan derajat yang lebih tinggi dalam ilmu. Kesempurnaan kesatuan kawula-Gusti, (dengan tetap) mensucikan DzatNya, agar pelaksanaanya tidak keliru.
Kajian per kata: Wong (orang) anom (muda) meneng (diam) ngungun (keheranan), kaluhuran (teratasi, diungguli) sabda (dalam perkataan) alon (perlahan) mundur (mundur). Orang muda terdiam keheranan, teratasi perkataannya (oleh Kakek tua), lalu mundur perlahan. Si pemuda terdiam mendengar ucapan kakek tua, setengah keheranan dengan perilakunya sendiri. Karena merasa kalah dalam kebijaksanaan, menyadari kesalahan sikapnya dan berniat memperbaikinya. Dia perlahan mundur dan memperdalam lagi pengetahuannya. Ing (pada) wekasan (akhirnya) mari (sembuh) dennya (darinya) mbek (watak) gumaib (sombong, sok pintar), mung (hanya) lukita (kitab-kitab) kang (yang) ginilut (diperlajari), empan (cara menerapkan) papaning (papan, tempat) wiraos (dirasakan, diasah agar peka). Pada akhirnya sembuh dari watak sok pintar, hanya kitab-kitab yang tekun dipelajari, serta cara menempatkan diri yang diasah. Setelah peristiwa itu, dia sembuh dari watak sok pintar. Kemudian memperdalam ilmu, menyempurnakan pengetahuan dengan mengkaji kitab-kitab. Mengkaji di sini maksudnya dengan berguru kepada ahlinya, bukan sekedar membaca di kamar. Zaman dahulu belum seperti sekarang ketika kitab-kitab banyak berserak di toko buku. Dahulu mengkaji kitab harus kepada yang empunya kitab, ialah para cerdik pandai yang berkaitan. Apa yang diperdalam berkaitan dengan ilmu empan papan, yakni kemampuan untuk bersikap dan menempatkan diri pada tempat yang benar. Untuk dapat menguasai hal ini harus mempunyai empati kepada orang lain, tepa slira, serta mulat sarira hangrasa wani. Arti tepa slira sudah kita jelaskan dalam bait yang lalu, yakni mampu menerapkan akibat segala tindak-tanduk kepada diri sendiri atau dalam bahasa Indonesia disebut tenggang rasa. Mulat sarira hangrasa wani adalah filosofi Jawa yang bermakna mampu melihat nilai diri sendiri dan berani mengoreksi kesalahan sendiri. Misalnya dalam kasus orang yang suka umuk tadi, setelah mulat sarira, melihat diri sendiri ternyata ditemukan bahwa dirinya telah berbuat yang tidak patut, maka tahap selanjutnya adalah hangrasa wani, berani mengoreksi kesalahan tersebut. Dengan menyingkirkan rasa malu dan gengsi bersedia untuk memperbaiki diri, belajar lagi agar ilmu lebih sempurna. Orang muda yang diceritakan dalam bait ini tampaknya telah berhasil melewati tahap ini. Malah (bahkan) wiwit (mulai) anggayuh (menggapai), tuturutan (urutan) pangkating (derajat yang lebih tinggi) ngelmu (dalam ilmu). Bahkan mulai menggapai urutan derajat yang lebih tinggi dalam ilmu. Bahkan setelah selesai mengatasi egonya, si orang muda mulai menggapai derajat keilmuan yang lebih tinggi. Inilah sikap seorang pelajar sejati, kecanduan ilmu pengetahuan. Semakin banyak mereguk ilmu semakin haus, laksana minum air laut. Namun dalam hal ini kecanduan tersebut bersifat positif. Meski demikian harus tetap awas. Apapun yang overdosis sangat membahayakan. Orang yang bijaksana tahu kapan waktunya harus berhenti. Namun ilmu apakah yang derajatnya lebih tinggi itu? Kasampurnan (kesempurnaan) pamoring (kesatuan) kawula (kawula) Gusti (Gusti), mahasucekken (mensucikan) Datipun (DzatNya), pangrakiting (pelaksanaanya) reh tan (agar tidak) keron (keliru). Kesempurnaan kesatuan kawula-Gusti, (dengan tetap) mensucikan DzatNya, agar pelaksanaanya tidak keliru. Adalah kesempurnaan kesatuan kawula-Gusti. Amor adalah bersama atau bercampur atau kesatuan. Pamoring artinya kesatuannya antara kawula-Gusti, makhluk dan Allah Sang Pencipta. Namun hendaknya diingat bahwa kesatuan di sini bukan seperti yang sering disebut dengan manunggaling kawula-Gusti. Dalam syariat Islam, agama yang dianut Ki Gambuh penggubah serat ini, konsep manunggaling kawula-Gusti adalah konsep batil. Yang benar adalah konsep satunggaling kawula-Gusti. Inti dari konsep satunggaling kawula-Gusti adalah penyadaran akan realitas bahwa kita dan Tuhan itu satu dan tidak pernah terpisah. Dikatakan dalam Al Quran bahwa Allah lebih dekat daripada urat leher kita sendiri. Namun adakalanya manusia jauh dari Tuhan karena dirinya sendiri yang merasa jauh. Apabila kita sudah menyadari bahwa antara kita dan Tuhan itu dekat dan satu wujud. Bahwa wujud kita adalah WujudNya yang dipinjamkan, kalau dalam falsafah Jawa disebut nyawa mung gadhuhan, maka pada titik itulah realitas satunggaling kawula-Gusti tertanam dalam kesadaran kita. Konsep inilah yang sesuai dengan akidah Islam dan tidak mengotori kesucian Dzat Allah. Dalam penerapannya pun takkan sesat karena tidak akan pernah ada anggapan bahwa dirinya adalah Tuhan. Syari’at tetap dilaksanakan karena merupakan bentuk perekat atas realitas satunggal tersebut.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar