Selasa, 04 September 2018

Kajian Wedharaga (4;5) Bait ke-4;5, Pupuh Gambuh (metrum: 7u 10u 12i 8u 8o), Serat Wedharaga, karya Raden Ngabehi Ranggawarsita: Nadyan dadiya dhukun, lamun ana masakalanipun, pinilala dening wong agung kang wajib. Samonoa durung patut, wong anom ahlul mangkono. Ing tembe yen wus pikun, pantes bae ulah idu wilut. Bangsa bincil ambabatang ngusadani. Mbok munia theyot theblung, tan ana wong amaido. Terjemahan dalam bahasa Indonesia: Walau menjadi dukun, namun tetap ada masakalanya (saatnya), dipilih oleh orang besar yang berwajib. Sungguhpun demikian belum patut, orang muda ahli yang demikian (dukun). Kelak jika sudah tua sekali, pantas saja menekuni idu wilut. Bermacam-macam perhitungan primbon, ramal-meramal dan penyembuhan. Berkata apapun, tak ada yang menyangkal. Kajian per kata: Nadyan (walau) dadiya (menjadi) dhukun (dukun), lamun (namun) ana (ada) masakalanipun (masakalanya, saatnya), pinilala (dipilih) dening (oleh) wong (orang) agung (besar) kang (yang) wajib (berwajib). Walau menjadi dukun, namun tetap ada masakalanya (saatnya), dipilih oleh orang besar yang berwajib. Agar tidak rancu dan bias untuk pengertian istilah dukun mohon mengacu pada bait ke-2, seperti yang telah kami jelaskan secara singkat. Menjadi dukun pun tidak boleh mengklaim sendiri, harus sudah ditunjuk oleh orang penting atau yang berwajib. Kita tidak bisa menilai keadaan masa lalu ketika serat ini ditulis, yakni kira-kira 150 tahun yang lalu dengan ukuran zaman sekarang. Di zaman itu dukun adalah satu-satunya alternatif, selain kyai-kyai di pesantren (yang masih jarang), sebagai tempat bertanya dan mencari solusi dari masalah kehidupan. Banyak hal ditanyakan kepada dhukun, masalah penyembuhan, saran yang berkaitan dengan problem-problem sosial, dan sebagainya. Banyak masalah yang ternyata dapat diselesaikan dengan baik oleh dukun-dukun itu. Walau demikian tidak menutup kemungkinan munculnya dukun-dukun palsu seperti kasus yang dibahas dalam bait ini. Samonowa (sungguhpun demikian) durung (belum) patut (patut), wong (orang) anom (muda) ahlul (ahli) mangkono (yang demikian). Sungguhpun demikian belum patut, orang muda ahli yang demikian (dukun). Sungguhpun demikian, walau bener-bener mempunyai ilmu, orang muda belum patut menjadi ahli dalam hal perdukunan. Selain sering disebut wong pinter, dukun juga sering disebut wong tuwa, artinya sudah kaya pengalaman dan pantas menjadi paran pitakon, tempat bertanya. Kalau yang menjadi dukun anak muda akan kelihatan janggal. Sekali lagi dukun yang dimaksud di sini adalah dukun putih, seperti yang telah kami jelaskan dalam bait ke-2. Ing tembe (kelak) yen (jika) wus (sudah) pikun (tua sekali), pantes (pantas) bae (saja) ulah (menekuni) idu wilut (idu wilut). Kelak jika sudah tua sekali, pantas saja menekuni idu wilut. Arti dari idu wilut adalah ludah ampuh. Hal ini berkaitan dengan praktik penyembuhan yang sekarang dikenal dengan nama suwuk, yakni mendoakan air putih dengan doa-doa kemudian ditiup di atasnya, kadang dengan menyemburkan air ludah. Bangsa (Bermacam-macam) bincil (perhitungan primbon) ambabatang (ramal-meramal) ngusadani (penyembuhan). Bermacam-macam perhitungan primbon, ramal-meramal dan penyembuhan. Bincil adalah segala hal berkaitan dengan perhitungan hari, yang bisa berupa peringatan hari-hari orang meninggal, mencari hari-hari baik, menghindari hari buruk. Dasar dari perhitungan ini adalah kitab primbon. Ambabatang adalah berkaitan dengan ramal-meramal nasib seseorang. Biasanya berdasar ilmu astrologi Jawa karena pathokannya biasanya waktu lahir. Ngusadani adalah praktik penyembuhan, membuat jampi-jampi, jamu dan mantera-mantera. Ini pun juga sering dilakukan dukun, justru kebanyakan dukun membuka praktik penyembuhan ini karena zaman dahulu memang belum ada dokter. Mbok munia (berkata) theyot theblung (apapun), tan (tak) ana (ada) wong (orang) amaido (menyangkal). Berkata apapun, tak ada yang menyangkal. Theyot theblung adalah bunyi kodok bersahutan di kolam atau ketika banjir. Maksud Ki Pujangga adalah kalau sudah tua pantas kalau membuka praktik dukun, walau ibarat berbunyi seperti kodok pun takkan ada orang yang menyangkal. Ini adalah sindiran keras bagi praktik perdukunan di masa itu yang begitu dipercaya orang, bahkan ketika si dukun ngomong yang tak jelas seperti bunyi kodok di kolam orang juga tidak menyangkal. Dalam dua bait ini Ki Ranggawarsita mengkritik praktik perdukunan yang asal-asalan. Selain si dukun yang masih muda dan belum pantas jika membuka praktik perdukunan juga disinggung sedikit tentang pandangan masyarakat kepada dukun yang asal percaya saja. Untuk selanjutnya Ki Ranggawarsita memberi saran bagi anak muda atau bagi siapapun yang berkaitan dengan sikap yang benar yang harus ditempuh dalam menjalani kehidupan. Nantikan dalam bait-bait berikutnya.

Tidak ada komentar: