Senin, 12 November 2018

Tan Tutug Maguru Kaselak Ngabdi

Kajian Wedatama (26): Tan Tutug Maguru Kaselak Ngabdi Bait ke-26, Pupuh Sinom, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV: Saking duk maksih taruna, Sedhela wus anglakoni, Aberag marang agama, maguru anggering kaji. Sawadine tyas mami, banget wedine ing mbesuk, pranatan akhir jaman. Tan tutug kaselak ngabdi, nora kober sembahyang gya tinimbalan. Terjemahan dalam bahasa Indonesia: Dari waktu masih muda, sebentar pernah menjalani. Bersemangat kepada ilmu agama, berguru berbagai rukun agama termasuk haji. Dalam relung hati saya, sangat takut kepada hari esok, ketika berlaku aturan akhir jaman. Belum selesai berguru terhenti karena harus mengabdi, tidak sempat sembahyang sewgera dipanggil menghadap. Kajian per kata: Saking (dari) duk (sejak) maksih (masih) taruna (muda), sedhela (sebentar) wus (sudah) anglakoni (menjalani), aberag (bersemangat) marang (kepada) agama (ilmu agama). Dari riwayat di waktu masih muda, sebentar saja pernah menjalani, bersemangat dalam mempelajari ilmu agama. Bait ini menceritakan kisah masa muda KGPAA Mangkunegara IV yang pada waktu itu, walau hanya sebentar, pernah bersemangat mempelajari ilmu agama. Guru beliau dalam ilmu agama adalah kakek beliau sendiri Sri Mangkunegara II. Namun menjelang remaja beliau harus ikut magang kepada Pangeran Rio (kelak menjadi Mangkunegara III) untuk belajar ilmu tatanegara. Kemudian ketika menginjak usia muda juga harus masuk legiun Mangkunegaran sebagai taruna. Semua itu adalah kewajiban belajar yang mesti dijalani oleh para pangeran sebagai calon penerus tahta kerajaan Mangkunegara. Agaknya hal inilah yang membuat Sri Mangkunegara IV merasa belum cukup belajar ilmu agama. Maguru (berguru) anggering (peraturan, tatacara) kaji (haji, naik haji). Berguru berbagai rukun agama termasuk berhaji. Dalam waktu yang sebentar itu beliau telah berguru tentang rukun-rukun agama sampai bab haji, artinya pelajarannya sebenarnya sudah tuntas, walau belum terpuaskan dahaga akan ilmu agama. Sawadine (sebenarnya dalam) tyas (hati) mami (saya), banget (sangat) wedine (takutnya) ing (kepada) mbesuk (hari esok), pranatan (aturan) akhir (akhir) jaman (zaman, masa hidup). Dalam relung hati yang terdalam sebenarnya saya sangat takut akan hari esok, ketika berlaku aturan akhir zaman. Dalam relung hati yang terdalam ada ketakutan tentang kehidupan sesudah mati. Ada banyak pertanyaan seputar akhir jaman. Oleh karena itulah beliau bermaksud memperdalam ilmu agama agar tahu jalan keselamatan. Tan (tidak) tutug (selesai) kaselak (sudah harus) ngabdi (mengabdi). Tetapi belum selesai berguru sudah harus mengabdi kepada negara. Walau sebenarnya dirinya sangat ingin memperdalam ilmu agama lebih lanjut sampai sempurna, tetapi karena panggilan tugas terpaksa ditinggalkan. Tugas seorang anak-cucu raja sangatlah besar dan pendidikan baginya juga disiplin dan keras. Tidak boleh sekehendak sendiri, tetapi sudah ditentukan oleh para orang tua mereka. Hal itu berkaitan dengan beban tuntutan yang mesthi ditanggung oleh keluarga kerajaan jika mereka ingin mempertahankan esksistensi dinasti mereka. Maka wajar bila anak-cucu raja justru jauh dari sikap manja dan hidup mewah, mereka justru berlatih dengan keras melebihi anak-anak lainnya. Nora (tidak) kober (sempat) sembahyang (sembahyang) gya (cepat-cepat) tinimbalan (dipanggil). Tidak sempat sembahyang, cepat-cepat dipanggil menghadap. Tugas sebagai pegawai kerajaan sungguh sangat menyita waktu, hingga tak sempat sembahyang secara kusyu karena tiba-tiba dipanggil menghadap. Seperti yang sudah diuraikan di atas bahwa tugas anak-cucu raja sangat banyak, maka sangat sulit bagi mereka untuk membagi waktu. Termasuk urusan sembahyangpun tidak dapat dilakukan dengan leluasa, waktu yang tersedia sangat sedikit. Mereka telah sibuk luar biasa sejak kecil. Menurut riwayat sejak kecil Mangkunegara IV yang nama kecilnya adalah Sudira, telah mempelajari ilmu agama Islam dari kakeknya, Mangkunegara II. Ayah beliau Hadiwijaya adalah seorang mujahid yang syahid dalam pertempuran melawan Belanda di Kaliabu, oleh kerena itu biasa disebut Hadiwijaya Seda Kaliabu. Menjadi bocah yatim Sudira diasuh oleh kakeknya dan dididik dalam ilmu-ilmu agama. Setelah berumur 10 tahun oleh kakeknya kemudian diserahkan kepada Pangeran Rio, yang kelak menjadi Mangkunegara III. Oleh Pangeran Rio Sudira dididik dalam ilmu kenegaraan, kasusatraan dan ketrampilan lainnya selayaknya seorang pangeran. Kelak setelah dewasa Sudira diambil menantu oleh Mangkunegara III dan dijadikan pembantu untuk tugas-tugas beliau. Hal ini menjadikan Sudira seorang yang cakap dan trampil karena telah mengenal pekerjaan seorang raja sejak muda. Maka ketika ia diserahi tahta ia tak kerepotan lagi. Modal kecakapan yang dimiliki tak sia-sia. Ia menjadi seorang raja yang bijak dan cerdik. Di bawah tekanan pemerintah kolonial ia mampu membawa Mangkunegaran meraih zaman keemasan, atau yang disebut sebagai kala sumbaga. Sri Mangkunegara IV yang sebenarnya sangat bersemangat mengkaji ilmu-ilmu agama harus rela meninggalkan minatnya tersebut demi pengabdian kepada negara. Namun di sela-sela tugasnya beliau mampu menyisihkan waktu untuk menggubah serat Wedatama sebagai pesan moral atau piwulang untuk generasi yang akan datang. Kajian Wedatama (27): Bawur Tyas Lir Kiamat Bait ke-27, Pupuh Sinom, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV: Marang ingkang asung pangan, yen kesuwen den dukani. Abubrah bawur tyas ing wang, lir kiyamat saben ari. Bot Allah apa Gusti, Tambuh-tambuh solahingsun, Lawas lawas nggraita, Rehne ta suta priyayi, Yen mamriha dadi kaum temah nista Terjemahan dalam Bahasa Indonesia: Oleh orang yang memberi makan, bila terlambat dimarahi. Rusak dan bingung hatiku, bagai kiamat tiap hari. Berat Allah atau majikan, Ragu-ragu tindakan saya, Lama-lama terpikir, Karena anak bangsawan, Apabila ingin menjadi juru doa kurang elok, Kajian per kata: Marang (oleh) ingkang (yang) asung (memberi) pangan (makan, gaji), yen (kalau) kesuwen (kelamaan) den (di) dukani (marahi). Oleh orang yang memberi makan, kalau kelamaan dimarahi. Pada jaman dahulu calon-calon pejabat, yang umumnya juga anak-anak pejabat, setelah menyelesaikan pendidikan dasar (suwita) kemudian harus magang pada pejabat tertentu. Di situ dia harus latihan mengerjakan beberapa tugas pemerintahan di bawah arahan sang pejabat yang disuwitani. Biasanya memang pelatihan yang diterimanya sangat keras dan disiplin dan harus menurut. Inilah yang membuat mangkunera IV muda tak kusyu’ dalam ibadah, maupun tak sempat lagi memperdalam ilmu agama. Dicontohkan dalam bait ini, kalau dipanggil harus segera menghadap, kalau tidak akan kena marah. Abubrah (rusaklah) bawur (bingung, galau) tyas (hati) ing wang (saya), lir (seperti) kiyamat (kiamat) saben (setiap) ari (hari). Rusak dan bingung (galau) hati saya, seperti kiamat setiap hari. Rusaklah hati, bingung dan galau disebabkan kehendak hati kepada agama tak kesampaian. Setiap hari laksana kiamat karena bimbang dan ragu. Sungguh tak enak! Bot (Lebih berat) Allah (kepaa Allah) apa (atau) Gusti (majikan), tambuh-tambuh (selalu ragu-ragu) solahingsun (tindakan saya). Lebih berat kepada Allah atau majikan (yang disuwitani), selalu ragu-ragu tindakan saya. Hati selalu ragu-ragu dalam menimbang, lebih memilih kepada beribadah kepada Allah atau menuruti perintah majikan. Kegalauan hati terpancar dalam tindakan, menjadi serba ragu dalam bertindak. Lawas lawas (Lama-lama) nggraita (berpikir, merenung), rehne (oleh karena) ta (nyatanya) suta (anak) priyayi (bangsawan, pejabat). Lama-lama kemudian berpikir, oleh karena terlahir sebagai anak bangsawan. Merenungkan bagaimana yang seharusnya mengambil keputusan agar hati tak galau dan tak ragu lagi dalam bertindak. Biar mantap jalan yang dipilih. Maka beliau kemudian lebih memilih menuruti takdir beliau sebagai anak bangsawan. Menjadi bangsawan harus memikul tugas negara yang tak boleh dihindari. Demikian juga anak-anak bangsawan pun akan memikul tanggung jawab kelak. Dan itu bukan tugas yang sepele dan ringan. Di jaman itu menjadi kesatria berarti harus cakap secara fisik dan menguasai strategi kemiliteran. Apalagi jaman itu masih sering terjadi perang. Nah ini pun panggilan tugas yang tak kalah mulia. Yen (kalau) mamriha (mengharap) dadi (menjadi) kaum (juru doa) temah (akan) nista (nista, tak elok). Kalau mengharap menjadi juru doa kurang elok. Ini bukan karena enggan beribadah kepada Allah, tetapi karena panggilan tugas negara tak kalah terpuji. Misalnya ayahanda Mangkunegara sendiri gugur dalam perang melawan Belanda. Bukankah ini juga suatu kebaikan menurut syariat agama? Hal-hal inilah yang kemudian memantapkan pilihan Sri Mangkunegara IV untuk meneruskan karir di pemerintahan. Karena jika mengharap menjadi ulama akan terasa kurang elok, seperti lari dari tanggung jawab yang dibebankan negara. Bait ini menceritakan pergulatan spiritual sang penggubah Wedatama. Antara dorongan untuk memperdalam ilmu agama dan panggilan tugas kenegaraan. Bahwa di jaman kerajaan dahulu orang yang terlahir sebagai anak bangsawan memang sejak lahir telah dibebani tugas kemasyarakatan. Harus belajar ilmu-ilmu pemerintahan kepada para pembesar dengan cara ( mengabdi( suwita), kemudian harus latihan bekerja (magang), juga belajar ilmu sastra kepada para pujangga, belajar kemiliteran dengan masuk pelatihan militer (legiun Mangkunegaran) dan belajar ilmu agama kepada para ulama. Diantara ilmu-ilmu itu tentu ada salah satu yang menarik minat, tetapi karena tugas-tugas kenegaraan yang harus diemban terpaksa mengabaikan kecenderungan hati. Beruntung Sri Mangkunegara IV sempat menyelesaikan beberapa karya piwulang dan sastra yang kelak berguna untuk generasi kemudian. Kajian Wedatama (28): Ngantepi Wajibing Urip Bait ke-28, Pupuh Sinom, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV: Tuwin ketip suragama, pan ingsun nora winaris. Angur baya ngantepana, pranatan wajibing urip. Lampahan angluhuri, kuna kumunanira, kongsi tumekeng samangkin. Kikisne tan lyan amung ngupa boga. Terjemahan Bahasa Indonesia: Ataukah ingin menjadi khotib ahli agama, memang itu saya tidak mewarisi keahlian. Lebih baik berpegang teguh, tata peraturan kehidupan. Menjalani ajaran para leluhur, di jaman dahulu kala, hingga jaman sekarang. Akhirnya tak lain hanyalah mencari nafkah. Kajian per kata: Tuwin (dan, juga) ketip (khatib) suragama (ahli agama), pan (dari kata mapan: memang) ingsun (saya) nora (tidak) winaris (mewarisi keahlian). Ataukah menjadi khatib ahli agama, memang itu saya tidak mewarisi keahlian. Bait ini masih melanjutkan bait sebelumnya tentang keinginan yang pernah terbersit dalam hati sang penggubah Wedatama yang waktu muda condong ke arah ilmu-ilmu agama. Mengingat bahwa beliau adalah putra seorang pangeran mangkunegaran, maka hal yang sudah menjadi warisan turun-temurun dari leluhurnya adalah mengenai pemerintahan dan kemiliteran. Apabila ingin pindah haluan menjadi ahli agama, hal itu terlalu jauh karena tidak mewarisi tradisi belajar agama secara mendalam. Sementara dia masih harus ikut magang sebagai abdi negara yang sangat menyita waktu. Angur baya (lebih baik) ngantepana (berpegang teguh), pranatan (tatacara) wajibing (seharusnya) urip (orang hidup). Lebih baik memegang teguh yang sudah ada, tatacara peraturan kehidupan yang baik. Lebih baik menekuni yang sudah ada, ditingkatkan lagi kemampuannya di bidang yang sudah dikuasai para leluhurnya tersebut, mengelola negara, agar dapat disempurnakan menjadi lebih baik lagi. Tatacara kehidupan menurut orang terdahulu, sebenarnya juga merupakan aplikasi dari nilai-nilai agama yang dipraktikkan dalam laku tirakat. Yakni, menghindari perbuatan dosa, senantiasa menyendiri untuk bermuhasabah dan mengendalikan nafsu badaniah. Lampahan (melakukan, menjalani) angluhuri (hal baik dari para leluhur), kuna (di jaman dulu) kumunanira (yang lebih dulu lagi), kongsi (juga) tumekeng (sampai) samangkin (jaman sekarang). Amalan-amalan luhur dari para pendahulu, di jaman dahulu kala, dan juga sampai jaman sekarang. Amalan-amalan leluhur yang sudah mendarah daging dan dibiasakan sejak kecil sehingga sudah mapan dan berhasil membentuk pribadi-pribadi tangguh. Laku atau tatacara yang sudah diterapkan dalam kehidupan leluhurnya sejak jaman dahulu sampai sekarang, sudah teruji oleh waktu, sudah melahirkan banyak raja-raja besar dan ksatria-ksatria termasyhur lainnya. Kikisne (akhirnya) tan (tak) lyan (lain) amung (hanya) ngupa (mencari) boga (nafkah). Pada akhirnya tak lain hanya mencari nafkah. Muara dari seluruh ajaran itu pada akhirnya hanyalah mencari nafkah. Gatra terakhir ini sebenarnya ungkapan merendah. Banyak orang terutama yang bekerja di pemerintahan, jawatan atau perusahaan dan berkedudukan tinggi ketika ditanya apa pekerjaannya, mereka hanya menjawab, “Aku mung golek sega! (aku hanya mencari nasi!)” Yang demikian itu memang watak seorang yang sudah paripurna dalam berlatih ilmu laku. Tidak serta merta menyombongkan diri di depan khalayak. Ini tentu bertentangan dengan kebiasaan politikus yang saling mengiklankan kebaikannya sendiri-sendiri, terutama jika mendekati pilkada. Bait ini menjadi akhir dari serangkaian bait yang menceritakan tentang pergulatan batin Sri Mangkunegara di kala muda. Bait selanjutnya akan menampilkan ajaran piwulang tentang bagaimana seharusnya bertindak dalam kehidupan. Nasehat-nasehat beliau sederhana dan membumi, seringkali kita temui dalam praktik kehidupan sehari-hari. Inilah salah satu kelebihan serat Wedatama. Kajian Wedatama (29): Ugering Ngaurip Triprakara Bait ke-29, Pupuh Sinom, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV: Bonggan kan tan merlokena, mungguh ugering ngaurip. Uripe lan tripakara, wirya, arta tri winasis. Kalamun kongsi sepi, saka wilangan tetelu, telas tilasing jamna. Aji godhong jati aking. Temah papa papariman ngulandara. Terjemahan dalam Bahasa Indnesia: Salahnya sendiri yang tidak peduli, terhadap landasan penghidupan. Hidup berlandaskan tiga hal, keluhuran, kesejahteraan dan pengetahuan. Jikalau tidak memiliki, satu hal dari ketiganya, habislah arti sebagai manusia. Masih lebih berharga daun jati kering. Akhirnya menderita jadi peminta-minta dan gelandangan. Kajian per kata: Bonggan (salah sendiri, kelalaian) kan (yang demikian) tan (tidak) merlokena (memperhatikan, peduli), mungguh (terhadap) ugering (sandaran) ngaurip (penghidupan). Salahnya sendiri tidak yang tidak memperdulikan, terhadap tiga sandaran penghidupan. Orang hidup harus peduli dengan sandaran atau landasan penghidupan. Dipersiapkan diwaktu muda, dilatih sejak kecil dan dipelajari secara sungguh-sungguh. Agar kelak masa depan tidak suram. Agar ada pengharapan kehidupan yang baik. Itulah bekal dalam menempuh kehidupan di masa tua. Uripe (hidup itu) lan (bersandar) tripakara (tiga perkara), wirya (keluhuran, keperwiraan) arta (kesejahteraan, kekayaan) tri (yang ketiga) winasis (pengetahuan). Hidup itu bersandar tiga perkara: keluhuran watak, kesejahteraan dan yang ketiga pengetahuan. Tiga hal yang dapat menjadi sandaran kelak ketika mulai hidup mandiri sebagai warga masyarakat. Pertama, keluhuran watak. Ini adalah sikap mental yang berkaitan dengan karakter seseorang. Seorang yang ngawirya adalah seseorang dengan sikap mental baja, tak gampang menyerah, berani mengambil resiko dan tak takut salah. Sikap ini sering diidentikkan dengan sikap seorang prajurit atau ksatria. Kedua, kesejahteraan atau kekayaan. Ini jelas lebih menjamin masa depan. Dengan kekayaan seseorang dapat bergerak bebas mau apa saja, bisa berdagang, menunut ilmu ke para guru atau apapun yang sesuai minat dan kegemaran. Memelihara burung jalak juga bisa, memelihara kerbau pun tak kurang modal, bisa apa sajalah. Ketiga pengetahuan. Dengan pengetahuan seseorang lebih berpeluang menjadi pegawai kerajaan, menjadi pengusaha, pedagang ataupun usaha lainnya. Hal itu karena nalarnya bisa berpikir mencari solusi terbaik dari setiap masalah yang dihadapi. Kalamun (jikalau) kongsi (benar-benar) sepi (tak ada), saka (satu hal dari) wilangan (bilangan) tetelu (ketiganya), telas (habislah) tilasing (jejaknya, arti dari) jamna (sebagai manusia). Jikalau benar-benar tak ada, satu hal dari ketiganya, habislah harga diri sebagai manusia. Jika tak ada satu pun dari tiga itu, rasa-rasanya akan sulit bagi seseorang untuk bertahan hidup. Tanpa salah satu darinya runtuhlah harga diri seseorang, hidupnya terjepit, peluangnya sempit dan kepercayaannya defisit. Mau magang melamar pekerjaan tak ada rekomendasi, mau wirausaha tak ada modal, mau ikut seleksi calon pegawai tak ada pengetahuan. Tamatlah hidupnya. Aji (lebih berharga) godhong (daun) jati (jati) aking (kering). Lebih berharga daun jati kering. Orang yang dalam keadaan demikian sama sekali tidak berguna. Ibaratnya masih lebih berharga daun jati kering. Daun jati kering saja masih bisa untuk membungkus nasi. Lha ini? Sama sekali tidak dapat diandalkan. Kalimat aji godhong jati aking ini kemudian populer sebagai peribahasa dalam bahasa Jawa, artinya orang yang sudah tidak berguna sama sekali akibat tidak mempunyai kemampuan apa-apa. Temah (akhirnya) papa (menderita) papariman (meminta-minta) ngulandara (bergelandangan). Akhirnya menderita menjadi peminta-minta hidup bergelandangan. Orang yang tak memiliki bekal hidup dari tiga hal tersebut akan selalu menderita karena tak mampu menjawab permasalahan yang ada. Hidupnya takkan mandiri, selalu bergantung kepada orang lain, bergelandangan, merepotkan saja. Walau nasehat ini sudah ratusan tahun, tampaknya masih relevan dengan jaman kini, maka hendaklah kaum muda yang akan memasuki kehidupan bermasyarakat memperhatikan hal tersebut.  

Manulat Nabi Ginawe Umbag

Kajian Wedatama (22): Manulad Nabi Ginawe Umbag Bait ke-22, Pupuh Sinom, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV: Lowung kalamun tinimbang, ngaurip tanpa prihatin. Nanging ta ing jaman mangkya, Pra mudha kang den karemi, Manulad nelad Nabi, Nayakengrat Gusti Rasul, Anggung ginawe umbag. Saben seba mampir masjid, ngajab-ajab mukjijad tibaning drajad. Terjemahan dalam Bahasa Indonesia: Masih lumayan dibanding, orang hidup tanpa prihatin. Namun di masa kini, para muda yang digemari, meniru-niru Nabi, utusan Allah Gusti Rasul. Yang hanya dipakai sombong-sombongan. Setiap akan kerja singgah dulu ke masjid, mengharap mukjijat agar naik pangkat. Kajian per kata: Lowung (masih lumayan) kalamun (jika) tinimbang (dibandingkan), ngaurip (hidup) tanpa, (tanpa) prihatin (prihatin). Masih lumayan dibanding orang yang hidup tanpa prihatin. Bahwa sebisa-bisa, sekuat-kuatnya, kita berusaha meniru para pendahulu kita dalam bersusah payah meningkatkan nilai diri melalui tapabrata, menahan nafsu dan bermuhasabah dalam kesunyian. Mungkin kita takkan mampu menyamai kegigihan mereka dalam usaha itu, tetapi jangan lantas putus asa dan tidak berbuat apa-apa. Apapun hasilnya apa yang kita usahakan masih lebih baik daripada orang yang hidupnya tidak pernah prihatin sama sekali. Nanging ta (namun demikian) ing ( di ) jaman (jaman) mangkya (sekarang), pra (para) mudha (muda) kang (yang) den (di) karemi (sukai), manulad (meniru) nelad (perbuatan) Nabi (Nabi), nayakengrat (nayaka ing rat, utusan jagad, Allah) Gusti (tuan, kanjeng) Rasul (utusan). Namun demikian pada jaman sekarang, yang digemari anak muda adalah meniru- niru Nabi, utusan Allah, Gusti Rasul. Anak-anak muda zaman itu (ditulisnya serat Wedatama ini) mulai meninggalkan laku prihatin. Yang sekarang digemari adalah meniru-niru Nabi Muhammad utusan Allah. Tampaknya gejala meniru-niru Nabi ini sudah ada sejak zaman dahulu. Meniru pakaian, gaya dan perilaku nabi tapi hanya kulit luarnya saja, tidak disertai meniru semangat moral yang menjadi landasan perilaku seseorang. 48 Anggung (yang hanya) ginawe (dipakai buat) umbag (sombong-sombongan). Meniru-niru Nabi namun hanya dipakai sombong-sombongan. Apalagi kalau peniruan itu hanya dipakai untuk menyombongkan diri, agar berkesan paling suci, paling islami, paling “sunnah” daripada yang lain. Ini tentu menjadi tidak baik, dan justru bertentangan dengan pesan moral Nabi agar kita senantiasa tawadlu, tidak menyombongkan diri, tidak merasa lebih baik dari yang lain. Saben (setiap) seba (sowan ke kraton, kerja di kraton) mampir (mampir ke) masjid (masjid). Setiap hari masuk kerja di kraton mampir ke masjid. Ngajab-ajab (mengharap) mukjijad (mukjizt, keajaiban) tibaning (agar diberi) drajad (pangkat). Berdoa mengharap mukjizat agar naik pangkat. Terlebih-lebih tidak elok apabila muara dari segala sikap religius tadi hanyalah demi kepentingan pribadi, ingin dilihat sebagai orang alim, ingin dinilai orang sholeh, ingin diberi kelebihan oleh Allah sehingga mudah naik pangkat, maupun keinginan sangat pribadi seperti ingin menggaet anak gadis sang tumenggung, dll. Yang demikian tentu tidak baik. Apa yang diceritakan dalam bait ke-22 ini adalah fenomena kehidupan pada jaman itu, pada masa kolonialisme dulu. Namun demikian, watak manusia sejak Nabi Adam sampai hari kiamat tidak akan pernah berubah. Walau teknologi, kedokteran, pertanian, sudah berkembang pesat hingga mengubah gaya hidup manusia, watak ruhaniyah manusia tetap sama. Karena itulah kita patut waspada agar hal-hal kurang baik yang terjadi pada masa lalu tidak terulang di masa depan. Kajian Wedatama (23): Anggung Anggubel Sarengat Bait ke-23, Pupuh Sinom, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV: Anggung anggubel sarengat, saringane tan den weruhi. Dalil dalaning ijemak, kiyase nora mikani. Ketungkul mungkul sami, bengkrakan mring masjid Agung. Kalamun maca khutbah, lelagone Dandhang Gendhis, swara arum ngumandhang cengkok palaran. Terjemahan dalam Bahasa Indonesia: Hanya menggeluti soal syari’at saja, dasar pedoman hukumnya tak diketahui. Dalil sampai kepada ijma’, qiyasnya tak diketahui. Terlena dalam suatu tindakan, bertingkah cari perhatian di Masjid Agung. Bila membaca kutbah, berirama indah seperti Dandhanggula, suaranya merdu bergaya palaran. Kajian per kata: Anggung (hanya) anggubel (menggeluti) sarengat (syariat saja). Hanya menggeluti syariat saja. Mengutamakan fikih, tanpa peduli bagaimana sebuah hukum diambil. Hanya berpatokan dari yang tertulis pada kitab, sehingga hukum menjadi kaku dan tidak luwe dipraktikan dalam masyarakat. Malah terkesan hanya seperti gagah-gagahan saja. Saringane (dasar dan pedoman hukum) tan (tidak) den (di) weruhi (ketahui). Dasar pedoman hukumnya tak diketahui. Itu semua karena hanya mendasarkan pada hukum fikih atau fatwa-fatwa saja. Dasar pertimbangan dibalik sebuah fatwa tidak diketahui dengan baik, akibatnya salah menerapkan. Kurang tepat dalam mengambil qiyas dan penerapan dalil-dalilnya. Dalil (dalil-dalil) dalaning (sampai kepada) ijemak (ijma’), kiyase (qiyasnya) nora (tidak) mikani (diketahui). Dalil sampai kepada ijma’, qiyasnya juga tak diketahui. Dalil dan pertimbangan apa yang membuat suatu hukum diambil dan disepakati oleh para ulama. Ijma’ adalah kesepakatan para ulama tentang suatu hukum keagamaan. Apabila ada pertentangan satu ulama dengan yang lain, tak boleh suatu hukum dipaksakan berlaku untuk semua Sedangkan qiyas adalah menerapkan hukum pada masalah yang belum ada hukumnya tetapi sifatnya mirip dengan suatu perkara yang sudah ada hukumnya. Contohnya apakah ciu itu haram atau tidak? Karena ciu tidak ada di zaman Nabi maka tidak diketahui hukumnya. Maka kemudian diqiyaskan dengan khamr, karena sifat ciu mirip dengan khamr, yakni memabukkan. Dengan demikian diperoleh hukum bahwa ciu adalah haram. Namun demikian tidak boleh sembarang orang melakukan penyimpulan seperti itu, harus seorang ulama mumpuni yang boleh melakukannya. Ketungkul (terlena) mungkul (terfokus suatu tindakan) sami (semua), bengkrakan (bertingkah cari perhatian) mring (di dalam) masjid Agung (masjid agung, masjid kraton). Terlenalah mereka dalam suatu tindakan, mencari perhatian di Masjid Agung. Mereka hanya terlena dalam urusan syariat, fikih, tanpa belajar dasar-dasar hukum agama. Ini adalah gejala pendangkalan agama pada masa itu. Ketika seseorang terlalu berpegang pada hukum-hukum fikih tanpa memahami benar dasar-dasar hukum dan perimbangan apa saja yang dipakai untuk mengambil suatu hukum. Bahwa sebuah produk hukum-hukum fikih harus melalui serangkaian ijma’ para ulama, dan apabila tidak memungkinkan paling tidak harus dilakukan ijtihad dengan qiyas oleh ulama yang mumpuni dalam ilmu-ilmu keislaman. Tidak bisa seseorang menyimpulkan hukum sendiri tanpa ilmu yang cukup. Pemahaman yang hanya pada kulit luar tanpa memahami hakekat dari sebuah produk hukum akan menjadi sangat kaku dan susah diterapkan dalam masyarakat. Kerap menimbulkan sikap eksklusif, merasa benar sendiri dan kurang toleran terhadap pendapat yang berbeda. Akibatnya walau terlihat religius orang-orang ini bisa menimbulkan kesan tak nyaman, apatis, sinis atau malah merendahkan terhadap sesama. Perbuatan mereka malah terkesan over-acting, hanya mencari-cari perhatian atau terkesan hanya untuk pamer saja. Kalamun (jikalau) maca (membaca) khutbah (khutbah), lelagone (berirama seperti tembang) Dandhang Gendhis (dandhanggula), swara (suara) arum (merdu) ngumandhang (berkumandang) cengkok (bergaya) palaran (palaran, gaya lagu yang runtut dan bersemangat). Jikalau membaca khutbah, berirama seperti lagu Dandhanggula, suaranya merdu berkumandang bergaya palaran. Ini kiasan ketika membaca khutbah sangat piawai, mempesona layaknya lagu Dandhanggula. Runtut, sangat lancar berkumandang layaknya gaya palaran (nama garapan gendhing yang iramanya lancar, runtut dan bersemangat). Artinya mereka sangat fasih ketika berbicara tentang syariat, seolah sudah hapal di luar kepala, sangat runtut, bersemangat menggebu- nggebu. Ini adalah fenomena keagamaan di zaman itu, ketika orang-orang muda bersemangat dalam menjalankan syariat tetapi kurang memperhatikan hakekat dari hukum-hukum agama, apalagi mereka juga sudah mulai meninggalkan laku prihatin, sebuah jalan hidup yang akan menghantarkan kepada ma’rifat, pengenalan akan Allah SWT. Kajian Wedatama (24): Nuladha mBaka Sethithik Bait ke-24, Pupuh Sinom, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV: Lamun sira paksa nulad, tuladhaning Kanjeng Nabi, O, ngger kadohan panjangka. Wateke tan betah kaki. Rehne sira ta Jawi, sethithik wae wus cukup. Aywa guru aleman, nelad kang ngepleki pekih. Lamun pengkuh pangangkah yekti karahmat. Terjemahan Bahasa Indonesia: Bila kamu bertekad mencontoh, Tindak tanduk Kanjeng Nabi, O, nak terlalu muluk anganmu, Kau tak akan mampu, Karena kamu orang Jawa, sedikit saja sudah cukup. Jangan mencari pujian, Dalam meniru sama persis seperti dalam fikih. Apabila kuat harapan sebenarnya akan mendapat rahmat. Kajian per kata: Lamun (kalau) sira (kamu) paksa (bertekad) nulad (mencontoh). Tuladhaning (tindak- tanduk) Kanjeng (Kanjeng) Nabi (Nabi). O, ngger (O, nak) kadohan (muluk-muluk, terlalu jauh) panjangka (angan-angan). Jika kamu bertekad mencontoh, tindak tanduk Kanjeng Nabi. O, nak terlalu jauh angan-anganmu. Jika kamu bertekad mencontoh tindak tanduk Nabi secara persis seperti apa yang dahulu dilakukan Kanjeng Nabi dalam segala hal, itu terlalu jauh angan-anganmu nak! Kanjeng Nabi adalah manusia agung yang ahlaknya mulia. Kita takkan mampu menirunya dengan mudah, jadi jangan panjang angan-angan dahulu. Wateke (wataknya) tan (tidak) betah (betah meniru, takkan kosisten sepanjang waktu) kaki (nak). Kau takkan mampu meniru secara konsisten nak, disebabkan watak Kanjeng Nabi terlalu agung. Watakmu takkan betah, tak mampu untuk konsisten disebabkan Kanjeng Nabi adalah manusia agung yang berakhlak sangat mulia. Kau takkan bisa bertahan lama jika bermaksud menirunya dalam segala hal. Rehne (karena, berhubung) sira (kau) ta (kan) Jawi (orang Jawa), sethithik (sedikit) wae (saja) wus (sudah) cukup (cukup). Karena kau kan orang Jawa, sedikit-sedikit saja sudah cukup. Apalagi kau adalah orang Jawa, pasti berbeda dalam perikehidupan, adat budaya, dan lingkungan dengan Kanjeng Nabi. Sedangkan meniru sesama orang Jawa dari jaman dulu saja tidak bisa sama persis, apalagi meniru Kanjeng Nabi yang beda zaman dan beda lingkungan. Ini bukan berarti tidak boleh meniru Kanjeng Nabi, namun pasti takkan bisa, apalagi oleh anak muda yang belum terbiasa mengalami perikehidupan yang berat. Sedangkan cobaan seorang nabi sungguh sangat berat. Oleh karena itu tirulah sedikit demi sedikit, disesuaikan dengan kemampuan dan keadaanmu. Misalnya Kanjeng Nabi kuat shalat sepanjang malam, lha kamu kuat gak? Kira-kira begitulah. Ini tidak berarti tidak boleh meniru perilaku Kanjeng Nabi, tetapi memang amatlah sulit, jadi jangan sombong dulu. Mengingat perilaku Nabi adalah perilaku orang mulia yang didalamnya terkandung banyak kebaikan. Jadi akan sangat sulit ditiru. Aywa (jangan) guru (memburu, mengejar) aleman (pujian), nelad (meniru) kang (yang) ngepleki (persis) pekih (kitab fikih). Jangan sekedar mengejar pujian, dalam meniru persis seperti dalam kitab-kitab fikih. Apalagi jika peniruan itu hanya dilandasi karena mengejar pujian, biar dikira orang suci, biar dikira orang yang sudah paham agama, maka yang demikian itu tidak benar. Lebih baik sebagai orang Jawa bersikap tenang dan tidak memperlihatkan kebaikan diri. Lamun (apabila) pengkuh (mampu, kuat) pangangkah (harapan) yekti (sebenarnya) karahmat (mendapat rahmat). Apabila kuat harapan sebenarnya akan mendapat rahmat. Sesungguhnya meniru tindak tanduk Nabi seperti yang diriwayatkan dalam kitab-kitab fikih apabila mampu, akan mendatangkan banyak rahmat dari Allah SWT. Namun harus dilakukan secara gradual karena meniru sesuatu yang agung tidaklah mudah. Walau demikian bila dalam melakukan amal perbuatan sehari-hari dilakukan dengan tekad yang kuat, sebenarnya akan mendapat rahmat dari Allah. Sehingga tidak harus sama persis dengan apa yang dilakukan oleh Nabi. Demikianlah pendapat penggubah serat Wedatama ini. Kajian Wedatama (25): Maksih Butuh Ngupa Boga Bait ke-25, Pupuh Sinom, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV: Nanging enak ngupa boga, rehne ta tinitah langip. Apata suwiteng nata, tani tanapi agrami, Mangkono mungguh mami, padune wong dhahat cubluk, durung weruh cara Arab, Jawaku wae tan ngenting, Parandene paripaksa mulang putra. Terjemahan dalam Bahasa Indonesia. Namun masih harus mencari nafkah, Karena tercipta sebagai orang yang lemah, Bisa mengabdi pada raja, Bertani ataupun berdagang, Begitulah menurut pendapat saya, Itu karena saya orang bodoh, Tidak tahu tatacara di tanah Arab, Sedangkan pengetahuan tatacara Jawa saja tak memadai, tetapi memaksakan diri mendidik anak. Kajian per kata: Nanging (namun) enak (yang nyaman, kiasan untuk kata harus) ngupa (mencari) boga (makan, nafkah), rehne (karena) ta tinitah (tercipta sebagai ) langip ( laif, dari kata dhaif, orang lemah, miskin). Namun masih harus mencari nafkah, karena tercipta sebagai orang yang lemah. Bait ini merupakan sambungan dari bait sebelumnya, bahwa meniru perilaku hidup Kanjeng Nabi sebenarnya dapat mendatangkan rahmat. Namun kita masih harus mencari nafkah untuk mencukupi kebutuhan, karena tercipta sebagai makhluk lemah. Berbeda dengan Kanjeng Nabi yang dalam hidupnya sudah tidak peduli dengan harta-benda dunia dan mencukupkan diri dengan rahmat Allah yang beliau terima. Nabi hanya disibukkan mengurus umat dan beribadah di siang dan malam. Ini juga menjadi salah satu alasan mengapa meniru Nabi menjadi sangat sulit, karena kita masih disibukkan perkara mencari nafkah. Sedangkan nabi sudah sampai pada maqom tidak memikirkan nafkah lagi, melainkan hanya menerima rejeki hari itu untuk hari itu juga. Pemahaman kita tentang hidup belumlah setinggi itu. Kita masih orang yang lemah dalam berkeyakinan dan secara ekonomi juga masih sulit. Apata (bisa berupa) suwiteng (mengabdi) nata (raja, menjadi pegawai negeri), tani (bertani) tanapi (ataupun) agrami (berdagang). Bisa mengabdi pada raja, bertani atau berdagang. Bekerja dengan menjadi pegawe negeri, yang berarti akan sangat sempit waktu untuk beribadah. Atau bekerja menjadi petani maupun berdagang, akan lebih-lebih sempit lagi waktu untuk beribadah sesuai teladan Nabi. Mangkono (begitulah, yang demikian) mungguh (menurut) mami (pendapat saya), padune (itu karena) wong (orang) dhahat (sangat) cubluk (bodoh), purung (belum) weruh (melihat, mengerti) cara (tatacara kehidupan) Arab (orang Arab). Begitulah menurut pendapat saya. Itu karena saya orang sangat bodoh, yang belum mengerti tatacara kehidupan orang di Arab sana. Demikian itulah pendapat saya (sang penggubah serat ini). Mencontoh kehidupan Nabi hendaklah dilakukan semampunya, agar keduanya (ibadah dan bekerja) sama-sama mendapat perhatian. Pendapatku tadi tidaklah mutlak benar, karena saya adalah orang yang bodoh, tidak mengerti tentang tatacara perikehidupan orang Arab. Ini adalah pernyataan penulis kitab Wedatama yang rendah hati. Walau beliau mempunyai pendapat tentang bagaimana seharusnya mencontoh kehidupan nabi, namun pendapatnya tidak diklaim sebagai kebenaran mutlak. Malah beliau menyatakan kurangnya pengetahuan tentang hal itu. Jawaku wae (sedangkan jawaku saja) tan (tidak) ngenting (memadai), parandene (namun) paripaksa (memaksakan diri) mulang (mendidik) putra (anak-cucu). Sedangkan pengetahuanku tentang tatacara Jawa saja tak memadai, tetapi memaksakan diri mendidik anak. Sedangkan terhadap pengetahuan tatacara yang baik menurut budaya Jawa saja pengetahuanku tak memadai. Namun memaksakan diri mendidik anak cucu, lewat penulisan kitab ini. Sekali lagi sebuah pernyataan yang rendah hati diungkapkan sang penggubah serat ini, yang merasa bahwa beliau belum pantas untuk memberi nasihat. Beliau tidak bersikap mentang- mentang sebagai penguasa kemudian menulis serat yang isinya perintah dan fatwa, tetapi tetap memakai gaya penulisan yang lazim dipakai para penulis lain. Semoga sikap rendah hati ini bisa kita contoh di kemudian hari.  

Karasa Wosing Dumadi

Kajian Wedatama (70): Karasa Wosing Dumadi Bait ke-70, Pupuh Gambuh, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV: Samengko ingsun tutur, gantya sembah ingkang kaping catur. Sembah rasa karasa wosing dumadi, Dadine wis tanpa tuduh, Mung kalawan kasing batos.. Terjemahan dalam bahasa Indonesia: Sekarang saya berbicara, Beralih kepada sembah nomer empat, Sembah rasa terasalah hakekat kehidupan ini, Terwujudnya tanpa petunjuk, Hanya dengan kesentausaan batin.   Kajian per kata: Samengko (sekarang) ingsun (saya) tutur (berbicara), gantya (beralih) sembah (sembah) ingkang (yang) kaping (ke-) catur (empat). Sekarang saya berbicara, beralih kepada sembah nomer empat. Sampailah sekarang pada sembah yang terakhir, sembah rasa. Apakah rasa itu? Ada banyak padanan kata dari rasa ini: rahsa, rahasa, rahasya, sir, raswa, driya, dll. Kesemua kata itu merujuk pada inti terdalam dari manusia yang tersembunyi. Disebut sir yang berarti kecenderungan yang halus atau lembut (dari bahasa Arab sirr), seperti pada kata: atiku sir karo bocah wadon kae, hatiku mempunyai kecenderungan suka pada anak perempuan (gadis) itu. Rasa disebut juga rahsa, rahasa, rahasya, raswa yang artinya rahasia terdalam. Yang menarik kata rahsa ini juga dipakai untuk menyebut wiji manusia manikem, alias air mani. Manikem sering kali juga disebut sebagai intisari dari seorang lelaki. Disebut driya yang artinya perasa, ini bisa berarti fisik atau non fisik. Secara fisik rasa adalah apa yang terjadi pada lidah jika bersentuhan dengan sesuatu: amla (kecut), kayasa (sepet), kathuka (pedhes), sarkara (legi) lan tikta (pahit). Instrumen dari rasa dalam arti fisik adalah lidah. Secara non-fisik rasa sering dipakai untuk menyebut hal-hal yang terjadi pada hati: senang, gembira, sedih, haru, dll. Jadi kata rasa bisa mempunyai banyak arti, tetapi kesemua arti itu selalu merujuk kepada intisari dari manusia. Rasa mempunyai makna yang berbeda dengan kalbu meski kadang dua kata ini dapat dipertukarkan untuk menggambarkan keadaan pada diri manusia. Rasa bersifat lebih halus, lebih dalam, lebih lembut daripada kalbu yang sering berbolak-balik. Rasa juga berbeda dengan jiwa, dan letaknya lebih dalam pada struktur wujud manusia. Ia berkaitan dengan sejatinya manusia, pusat terdalam yang menjadi inti dari manusia itu, maka seringkali disebut dengan kata majemuk: rasa sejati. Dalam bahasa lain rasa ini dekat dengan kata intelek (Inggris), atau juga dekat dengan kata ulul albaab (Arab). Disebut intelek karena mampu menangkap bukan saja fenomena tetapi juga noumena. Orang yang mempunyai intelek disebut ulul albaab, karena mampu menangkap ayat-ayat. Sembah rasa (sembah rasa) karasa (terasalah) wosing (inti, hakekat) dumadi (kehidupan). Sembah rasa terasalah hakekat kehidupan ini. Sembah rasa dengan demikian berati menyembah dengan intisari (wosing) atau hakekat terdalam dari kehidupan manusia. Wosing adalah inti atau bisa diartikan makna diciptakannya (dumadine) manusia. Rasa adalah puncak atau pencapaian akhir dari: raga yang tunduk, kalbu yang mantep (artinya sudah tetap, tidak berbolak-balik lagi, sudah tsabit) dan jiwa yang telah awas, eling dan emut. Dadine (terwujudnya) wis (sudah) tanpa (tanpa) tuduh (pituduh, petunjuk), mung (hanya) kalawan (dengan) kasing (kesentausaan) batos (batin). Terwujudnya tanpa petunjuk, hanya dengan kesentausaan batin. Sembah rasa ini merupakan buah dari laku yang dijalani raga, kalbu dan jiwa. Jika ketiga sembah terdahulu terpenuhi maka sembah rasa akan mewujud dengan sendirinya, tanpa petunjuk lagi. Ini bisa disebut buah dari kesentausaan batin (kasing batos). Namun demikian sembah rasa juga mengandung jebakan betmen yang perlu diwaspadai. Agar kita tak salah mengenali seperti yang bisa terjadi pada sembah jiwa, atau yang disebut salah surup. Dua bait berikutnya akan menerangkan hal tersebut, jangan lewatkan kajian berikutnya. Kajian Wedatama (71): Muluka kalamun Melok Bait ke-71, Pupuh Gambuh, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV: Kalamun durung lugu, aja pisan wani ngaku aku. Antuk siku kang mangkono iku kaki. Kena uga wenang muluk, kalamun wus padha melok. Terjemahan dalam bahasa Indonesia: Apabila belum (mengalami) benar, jangan sekali-kali mengaku aku. Mendapat laknat yang demikian itu anakku. Boleh dikata berhak mengatakan, apabila sudah sama-sama terlihat. . Kajian per kata: Kalamun (apabila) durung (belum) lugu (benar), aja (jangan) pisan (sekali-kali) wani (berani) ngaku aku (mengaku-aku). Apabila belum (mengalami) benar, Jangan sekali-kali mengaku aku. Setiap laku sembah mempunyai ciri-ciri khusus sebagai pertanda apakah sembah yang dilakukan benar-benar berhasil dijalani atau belum. Sembah raga yang berhasil bercirikan segarnya badan, ini membuat antenging ati (tenangnya hati) sehingga angruwat ruweting batos (menghilangkan kisruhnya pikiran). Sembah kalbu yang berhasil bercirikan munculnya rasa tumlawung, haru campur bahagia. Sembah jiwa yang berhasil bercirikan munculnya pencerahan berupa urub sumirat-sirat kadya kartika abyor, munculnya cahaya memancar-mancar sepertika bintang gemerlap. Ini adalah kiasan pencerahan batin sehingga jalan hidup di depan dapat dijalani dengan mudah karena sudah terang-benderang, antara yang haq dan batil. Sembah rasa yang berhasil juga mempunyai ciri-ciri khusus. Jika belum berhasil janganlah mengaku-aku. Antuk (mendapat) siku (laknat, hukuman) kang (yang) mangkono (demikian) iku (itu) kaki (nak). Mendapat laknat yang demikian itu anakku. Yang demikian itu tidaklah elok dilakukan (yakni mengaku-aku tadi). Akan mendapat laknat apabila demikian itu, anakku! Maksud dari siku (laknat) adalah hukuman atas kelancangan tersebut, yakni gagalnya mencapai hasil yang dituju oleh sembah rasa tersebut, maka menjadi sia-sialah seluruh upaya keras yang dilakukan. Kena (boleh) uga (juga) wenang (berhak) muluk (mengaku, mengatakan), kalamun (apabila) wus (sudah) padha (sama-sama) melok (terlihat nyata). Boleh juga berhak mengatakan, apabila sudah sama-sama terlihat. Muluk adalah menyajikan makanan dalam tangan siap dimasukkan ke mulut. Ini adalah ungkapan untuk mengklaim. Wenang muluk berarti boleh mengklaim, berhak mengaku apabila memang wus padha melok, semuanya sudah terlihat, sudah jelas berdasar pada ciri- cirinya. Apakah ciri-ciri dari sembah rasa yang berhasil? Nantikan kajian pada bait selanjutnya. Kajian Wedatama (72): Kumandel Marang Takdir Bait ke-72, Pupuh Gambuh, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV: Meloke ujar iku, yen wus ilang sumelanging kalbu. Amung kandel kumandel marang ing takdir, Iku den awas den emut, Den memet yen arsa momot. Terjemahan dalam bahasa Indonesia: Terlihatnya yang dibicarakan itu, bila sudah hilang keragu-raguan hati, Hanya percaya dengan sebenarnya kepada takdir, Itu harap awas dan ingat, Yeng cermat apabila ingin menguasai seluruhnya.   Kajian per kata: Meloke (terlihatnya) ujar (yang dibicarakan) iku (itu), yen (bila) wus (sudah) ilang (hilang) sumelanging (kekhawatiran) kalbu (hati). Terlihatnya yang dibicarakan itu (maksudnya sembah rasa), bila sudah hilang keragu-raguan hati. Orang yang sudah mengetahui rahasia penciptaan, rahasia posisi dan kedudukan sebagai hamba Allah, takkan menyisakan keragu-raguan dalam hati. Tidak ada kekhawatiran, tidak pula ada rasa sedih di hati karena memikirkan hari esok, la tahinu wala tahzan. Amung (hanya) kandel (percaya) kumandel (dengan sebenarnya) marang (kepada) ing takdir (takdir). Hanya percaya dengan sebenarnya kepada takdir. Kandel di sini dari kata andel, andal. Orang jawa sering mengatakan senjata dengan kata sipat kandel, artinya kalau sudah memegang senjata kepercayaan diri meningkat karena keselamatannya lebih terjamin. Jadi kandel kumandel di sini bermakna percaya dengan sangat terhadap ketentuan (takdir) Allah. Inilah sifat seorang yan sudah berhasil dalam sembah rasa. Iku (itu) den (yang) awas (awas) den (yang) emut (ingat), den (yang) memet (cermat, teliti) yen (jika) arsa (ingin) momot (memuat, menguasai). Itu harap awas dan ingat, yang cermat apabila ingin menguasai seluruhnya. Kedua hal itu, hilangnya rasa khawatir (sumelang) dan percaya sepenuhnya (kandel kumandel) terhadap takdir, hendaknya selalu diawasi dengan cermat apakah sudah ada dalam diri kita. Apabila belum berarti sembah rasa yang kita lakukan belum sempurna, belum berhasil, maka harus diupayakan lagi. Apabila sudah ada rasa itu maka silakan membuat pengakuan atas penguasaannya, silakan melakukan klaim. Meski langkah terakhir juga sebenarnya tidaklah seyogyanya dilakukan, karena muara akhir dari rangkaian sembah yang dilakukan manusia tidak berhenti di sini. Ada tugas lain yang menanti apabila sudah paripurna dalam melakukan semua sembah itu. Sampai di sini perjalanan menuju Tuhan sudah selesai. Catur sembah merupakan fungsi manusia dalam kedudukan sebagai hamba Allah. Sekarang ada dharma lain yang masih harus disandang, ialah memasuh malaning bumi (membersihkan penyakit di bumi) dan memayu hayuning bawana, memperidah keindahan semesta, dua tugas terakhir adalah tugas manusia sebagai fungsi khalifah (pengganti) Allah di bumi. Bait ke-72 ini merupakan bait terakhir dalam naskah baku serat Wedatama. Hal ini karena pada naskah asli tertulis kata TITI yang berarti tamat. Para pakar berpendapat bahwa sisa bait dalam Wedatama dari bait ke-73 sampai bait ke-100 adalah naskah tambahan. Terdapat silang pendapat berkaitan dengan siapa penulis bait tambahan ini. Namun kami tidak akan masuk ke pembahasan tersebut. Sesuai niat awal kajian ini hanya mengkaji dari sisi gramatikalnya saja, dengan tujuan agar mudah dipahami. Kajian Wedatama (73): Weruh Wekasing Dumados. Bait ke-73, Pupuh Gambuh Lanjutan, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV: Pamotaning ujar iku, kudu santosa ing budi teguh. Sarta sabar tawekal legaweng ati. Trima lila ambeg sadu. Weruh wekasing dumados. Terjemahan dalam bahasa Indonesia: Penguasaan atas petuah itu, haruslah disertai dengan sentausa dan teguhnya akal budi. Serta harus sabar, tawakal dan ikhlas di hati. Menerima, rela dan berwatak adiutama. Memahami akhir dari setiap penciptaan.   Kajian per kata: Kita lanjutkan kembali kajian serat Wedatama bait ke-73. Kajian kali ini sampai pada bab lanjutan, Pupuh Gambuh. Disebut lanjutan karena sebelumnya serat Wedatama telah dinyatakan tamat (titi). Namun kembali disambung dengan 38 bait lagi. Terdapat kontroversi mengenai apakah bait-bait lanjutan ini masih merupakan karya Sri Mangkunegara IV. Tetapi seperti yang kami nyatakan pada bahasan yang lalu kita tidak akan mempermasalahkan hal itu. Selain karena isi dari bait lanjutan ini masih relevan dengan bait- bait sebelumnya, secara bahasa bait ini pun bergaya mirip dengan bagian inti. Kami mengambil kesimpulan bahwa bait lanjutan ini juga karya Sri Mangkunegara IV. Pamotaning (penguasaan) ujar (petuah) iku (itu), kudu (harus) santosa (sentausa) ing (dalam) budi (budi) teguh (teguh). Penguasaan atas petuah itu, haruslah disertai dengan sentausa dan teguhnya akal budi. Pada bait sebelumnya telah dinyatakan, jika hendak menguasai sembah rasa harus dilakukan dengan cermat, den memet (cermat) yen arsa momot. Kali ini ada syarat tambahan yakni harus mempersiapkan diri agar sentausa dan teguh dalam akal budi. Dengan ungkapan yang sederhana persiapan mentalnya harus kuat. Jika tidak akan terjadi ketakjuban sesaat yang berujung ketidaksadaran, alias sulap dengan kenyataan yang ditemui. Sulap adalah kondisi tidak bisa melihat kebenaran justru ketika sangat dekat dengan kebenaran itu sendiri. Seperti halnya kita tak dapat melihat matahari karena saking (terlalu) terangnya matahari itu. Sarta (serta) sabar (sabar) tawekal (tawakal) legaweng (ikhlas di) ati (hati). Serta harus sabar, tawakal dan ikhlas di hati. Sabar karena laku yang ditempuh sangat berat, sejak awal sampai akhir depenuhi dengan keadaan serba mengekang hawa nafsu, meper (menahan) keingingan dan meminimalkan kebutuhan. Tawakal karena hasilnya bukan kita yang menentukan, tergantung pada kehendakNya untuk memberi pencerahan atau tidak. Ikhlas karena terlebih dahulu harus menyingkirkan motif rendah dan artifisial, dan menggantinya dengan hati yang kosong dari keinginan. Trima (menerima) lila (rela) ambeg (watak, sifat) sadu (utama, hati yg suci). Menerima, rela dan berwatak adiutama. Trima adalah sikap tidak protes terhadap apapun yang diberikan padanya. Lila bersikap senang hati atas apa yang diterima, atau terhadap yang tidak diterimanya. Ambeg sadu adalah watak orang yang telah mencapai derajat di atas keutamaan (adiutama). Hatinya mendekati hati orang-orang yang suci, terbebas dari pamrih apapun. Weruh (memahami) wekasing (akhir) dumados (penciptaan). Memahami akhir dari setiap penciptaan. Orang yang telah memahami akhir dari segala penciptaan, paraning dumadi, maka tidak akan banyak keresahan, kegalauan, ketakutan, kekhawatiran di hatinya. Sikapnya penuh dengan kerelaan, lila-legawa, rela dan legawa. Legawa adalah sikap bersenang hati atas apa yang terjadi, ini pencapaian yang lebih tinggi dari lila. Begitulah watak dari para priyagung luhur yang telah mencapai kesempurnaan sembah rasa. Sepintas lalu uraian sifat-sifat di atas terlalu teoritis tetapi marilah kita mohon kekuatan agar diri kita mampu mencapai tahap itu. Berharaplah dengan pantas terhadap kehidupan. Dan bermohonlah kepada Yang Memberi Hidup. Kajian Wedatama (74): Sumimpang Ing Laku Dur Bait ke-74, Pupuh Gambuh Lanjutan, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV: Sabarang tindak tanduk, tumindake lan sakadaripun. Den ngaksama kasisipaning sesami. Sumimpanga ing laku dur, hardaning budi kang ngrondon. Terjemahan dalam bahasa Indonesia: Semua tindak-tanduk, dilakukan dengan sekadarnya. Suka memberi maaf kepada kelalaian sesama manusia. Mengindarlah dari perbuatan tercela, yang timbul dari hasrat angkara yang membesar. Kajian per kata: Sabarang (semua) tindak tanduk (tindak-tanduk, perilaku), tumindake (dilakukan) lan (dengan) sakadaripun (sekadarnya). Semua tindak-tanduk, dilakukan dengan sekadarnya. Ini adalah sifat dari orang yang sudah mencapai tahap makrifat, weruh wekasing dumados, yakni sudah paham akan akhir dari segala penciptaan. Output dari pencapaian itu adalah perbuatannya sehari-hari yang terukur, sekadarnya saja, tidak berlebihan, tidak terlalu rendah dan terlalu tinggi, tidak terlalu ke kiri dan terlalu ke kanan, tidak terlalu banyak ataupun terlalu sedikit. Sifat sekadarnya ini dapat diterapkan pada banyak hal. Dalam hal makan ialah makan seperlunya, tandanya apabila dia lapar dia makan dan sebelum kenyang dia berhenti. Dalam hal pakaian adalah tidak memakai sesuatu yang menarik perhatian, tidak terlalu bagus hingga mengundang pergunjingan, tidak terlalu jelek sehingga mengundang belas kasihan. Dalam sikap sehari-hari pun juga bisa diterapkan, tidak membuat jengkel orang lain tetapi juga tidak berkesan asal membuat senang. Tidak otoriter tapi juga tidak lemah. Tidak menentang tapi juga tidak membebek. Tidak nyinyir tapi juga tidak apatis. Dan banyak contoh lain dari sikap sekadarnya ini. Yang jelas sikap sekdarnya lahir dari sebuah perenungan tentang sikap yang harus diambil secara tepat. Dalam hal ini kematangan rasa memegang peranan penting, dan rasa yang matang hanya diperoleh melalui sembah rasa yang berhasil. Den (memberi) ngaksama (maaf) kasisipaning (kelalaian) sesami (sesama manusia). Suka memberi maaf kepada kelalaian sesama manusia. Memberi maaf adalah kualitas agung dari jiwa manusia. Hanya orang-orang pilihan yang mampu melakukan. Namun ada yang lebih tinggi dari itu, adalah memaafkan kekhilafan orang lain, sebelum mereka menyadari kesalahan sendiri. Tidak perlu memaksa-maksa orang lain untuk meminta maaf, tetapi telah memaafkan dengan sendirinya. Sifat pemaaf adalah pakaian orang-orang suci yang telah mengosongkan hatinya dari egoisme. Telah mampu membuang hasrat mengalahkan, dan telah menyingkirkan keinginan menampilkan kebesaran diri. Hanya orang-orang yang telah mencapai derajat sadu ing budi yang mampu melakukannya. Sumimpanga (menghindarlah) ing (dari) laku (perbuatan) dur (tercela), hardaning (hasrat angkara) budi (budi) kang (yang) ngrondhon (membesar). Menghindarlah dari perbuatan tercela, yang timbul dari hasrat angkara yang membesar. Menghindari adalah perbuatan preventif, artinya sengaja menjauhkan diri dari kondisi yang akan membuat diri menjadi terjebak dalam perbuatan tercela, atau menjauh dari tempat di mana ada potensi-potensi untuk munculnya hasrat-hasrat tercela. Rondhon adalah rembuyung, yakni tumbuhnya tunas baru pada batang pohon secara cepat. Demikian juga hasrat-hasrat buruk bisa tumbuh cepat, ngrondhon di hati manakala mendapati lingkungan yang subur. Hal inilah yang harus dihindari.

Wenganing Alam Kinaot

Kajian Wedatama (60): Wenganing Alam Kinaot Pada atau bait ke-60, Pupuh Gambuh, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV: Mring jatining pandulu, Panduk ing ndom dedalan satuhu, Lamun lugu legutaning reh maligi, Lageyane tumalawung, Wenganing alam kinaot. Terjemahan dalam bahasa Indonesia: Pada pandangan yang sebenarnya, Mencapai pedoman jalan yang benar, Jika sungguh-sungguh biasannya (ada pertanda) khusus, Ciri khasnya keadaan haru bercampur bahagia. Terbukanya alam yang lain.   Kajian per kata: Mring (kepada) jatining (sejatinya) pandulu (pandangan). Pada pandangan yang sebenarnya. Orang yang berhasil dalam sembah kalbu akan terbuka kepada pandangan yang sebenarnya, tentang hakekat kehidupan. Itu terjadi karena sembah kalbu membuat seseorang mampu berpikir jernih akibat tidak terkontaminasi hawa nafsu. Karena sudah dibiasakan untuk sekedar memenuhi kebutuhan saja, tanpa mengumbar keinginan yang tak perlu. Sering terjadi dan acapkali kita lihat bahwa meskipun seseorang terdidik dan pandai tetapi sering blawur (rabun) dalam melihat kenyataan. Boleh jadi hal tersebut karena yang bersangkutan menyimpan pamrih dalam hati. Cobalah perhatikan hari-hari ketika menjelang pilkada, pasti ada satu-dua orang pintar yang berpendapat minor, tak masuk akal, dan kadang terlalu vulgar sikap ngawurnya, hanya karena dia mendukung salah satu cakada. Dalam kazanah budaya Jawa ada ungkapan melik nggendhong lali, artinya ketika seseorang menyimpan hasrat memiliki (entah apapun) dalam hatinya, pikirannya menjadi khilaf. Oleh karena itu amat sangat penting membersihkan diri dari hasrat-hasrat dalam hati. Panduk (terkena, menerima, mencapai) ing (pada) ndom (pandom, pedoman) dedalan (jalan) satuhu (yang benar). Mencapai pedoman jalan yang benar. Karena pandangannya lebih awas dalam melihat hakekat kehidupan, maka akan tercapai pedoman perikehidupan yang sebenarnya. Ibarat orang yang berjalan dan mampu melihat rambu-rambu di sepanjang jalan, maka dia pasti mengetahui arah yang benar dan takkan tersesat. Lamun (jika) lugu (sungguh-sungguh) legutaning (biasanya) reh (hal) maligi (khusus). Jika bersungguh-sungguh biasanya (ada pertanda) khusus. Jika bersungguh-sungguh dalam melakukan sembah kalbu maka akan ada pertanda khusus sebagai isyarat bahwa jalan yang ditempuh sudah benar. Manusia ketika hidup di dunia ini memang hanya mampu melihat tanda-tanda kekuasaan Allah SWT. Tanda-tanda itu bisa kuat bisa lemah, tergantung pada kemampuan spiritual yang bersangkutan. Oleh karena itu sudah seharusnya manusia selalu berusaha mempertajam kepekaan dalam mengenali tanda-tanda tersebut melalui latihan-latihan. Dalam budaya Jawa ada istilah memasah mingising budi, mengasah ketajaman akal-budi. Sembah kalbu adalah salah satunya. Lageyane (ciri khasnya, sifatnya) tumalawung (haru bercampur bahagia, seperti melihat kebesaran Tuhan). Ciri khasnya keadaan haru bercampur bahagia. Ciri khasnya adalah munculnya perasaan haru campur bahagia. Ini biasa terjadi jika kita sedang kusyu’ berdoa, mendekatkan diri kepada Tuhan (biasanya pada saat shalat), ada rasa haru di hati, ada rasa lega, plong seperti beban yang hilang diangkat. Ada rasa tunduk dan khidmat seolah sudah menghadap Allah Yang Maha Besar, mengadukan segala masalah, memohon pertolongan, memohon kekuatan, dan rasanya plong, lega sekali. Wenganing (terbukanya) alam (alam) kinaot (terpaut, yang lain). Terbukanya alam yang lain. Ketika sampai pada keadaan yang demikian itu maka terbukalah alam lain, alam yang lebih tinggi dari alam materi yang didalamnya kita juga hidup sekarang ini. Karena sesungguhnya kita sekarang tidak hidup di satu alam saja, melainkan berlapis-lapis. Hal itu sudah kami jelaskan pada saat membahas triloka pada bait ke-34, Aywa Kongsi Mbabar Angkara. Kajian Wedatama (61): Ilanging Rasa Tumlawung Bait ke-61, Pupuh Gambuh, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV: Yen wis kambah kadyeku. Sarat sareh saniskareng laku. Kalakone saka eneng ening eling. Ilanging rasa tumlawung. Kono adiling Hyang Manon. Terjemahan dalam bahasa Indonesia: Bila sudah mencapai keadaan itu. Saratnya sabar segala tindak tanduk. Terlaksananya dengan cara tenang syahdu ingat. Hilangnya rasa haru campur bahagia. Itulah Maha adilnya Tuhan Yang Maha Melihat.   Kajian per kata: Yen (Bila) wis (sudah) kambah (mencapai) kadyeku (keadaan itu), sarat (syarat) sareh (sabar) saniskareng (saniskara ing, segala) laku (tindak-tanduk). Bila sudah mencapai keadaan itu, saratnya sabar segala tindak tanduk. Bila sudah mencapai keadaan itu, yakni terbukanya alam lain yang lebih tinggi (bait ke-60), maka harus dijaga agar keadaan itu secara terus menerus hadir dalam kalbu. Apapun pencapaian spiritual manusia apabila tak dijaga bisa hilang sewaktu-waktu, maka harus selalu dipertahankan agar tidak kembali melorot derajatnya. Dalam sembah kalbu yang selalu harus dijaga adalah sabar dalam segala tindak-tanduk, sehari-hari, selama-lamanya. Kalakone (terlaksananya) saka (dengan cara) eneng (tenang) ening (syahdu) eling (ingat). Terlaksananya dengan cara tenang syahdu ingat. Terlaksananya kontinuitas sembah kalbu adalah dengan cara eneng, ening dan eling. Eneng adalah keadaan diam, yang dimaksud adalah diamnya pikiran dari segala gerak-gerik keinginan. Dalam eneng pikiran-pikiran kotor akan mengendap, sehingga pikiran menjadi jernih, khidmat dan dipenuhi keagungan (syahdu). Ening adalah jernihnya pikiran karena kotorannya telah mengendap. Karena telah mengendap, maka pikiran yang telah jernih tadi akan mampu mengingat (eling) akan diri pra- kreasi. Ini adalah proses mengingat fitrah manusia pada masa sebelum penciptaan, ketika kita pernah berkata: “Aku bersaksi!” terhadap keagungan Allah. Jadi eling adalah mengingat (zikir) akan posisi azali kita di hadapan Allah SWT. Eneng, ening, eling adalah proses kesadaran yang selalu harus dijaga agar selalu menjadi watak sehari-hari, karena apabila hilang sungguh akan merugikan sendiri. Mengapa? Ilanging (hilangnya) rasa (perasaan) tumlawung (haru campur bahagia). Hilangnya rasa haru campur bahagia. Hilangnya eneng, ening, eling karena lalai tidak mengupayakannya terus-menerus akan berakibat hilangnya perasaan haru bercampur bahagia (tumlawung) yang selalau dirasakan manakala sedang shalat. Ini adalah kemunduran karena shalatnya kemudian menjadi semata- mata sembah raga saja. Kono (di situ) adiling (adilnya) Hyang (Yang) Manon (Maha Melihat). Itulah Maha Adilnya Tuhan Yang Maha Melihat. Di situlah keadilan Allah Yang Maha Melihat. Dia senantiasa memantau keadaan hamba- hambanya, tak mengabaikan walau hanya sebentar. Kepada yang telah bersungguh-sungguh berusaha dia akan memberikan rahmatNya, kepada yang lalai Dia akan mencabutnya kembali. Dia menangani segala urusan, dan tak pernah tidur. Gusti Allah ora sare, kata orang Jawa. Kajian Wedatama (62): Gagare Ngunggar Kayun Pada atau bait ke-62, Pupuh Gambuh, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV: Gagare ngunggar kayun, Tan kayungyun mring ayuning kayun, Bangsa anggit yen ginigit nora dadi, Marma den awas den emut, Mring pamurunging lelakon. Terjemahan dalam bahasa Indonesia: Gagalnya membiarkan kehendak hati. Tidak tertarik kepada keindahan tujuan, Hal yang direka-reka bila dirasakan tidak terwujud, Maka dari itu harap waspada dan ingat, Terhadap penghalang di perjalanan.   Kajian per kata: Gagare (gagalnya) ngunggar (membiarkan) kayun (hati, kehendak). Gagalnya membiarkan kehendak hati. Melihat konteks kalimat di atas lebih tepat jika diartikan sebagai: gagalnya mewujudkan potensi hati, gagalnya meraih potensi maksimalnya. Hati kita sebenarnya dapat berpotensi untuk meraih hal-hal yang telah disebutkan dalam bait sebelumnya, tetapi hal tersebut dapat gagal karena berbagai sebab. Jadi membiarkan hati dalam gatra ini lebih tepat diartikan sebagai membiarkan hati meraih potensi terbaiknya. Tan (tidak) kayungyun (tertarik, terpesona) mring (pada) ayuning (kindahan) kayun (hati). Antara lain sebab gagalnya adalah; hati tidak tertarik pada keindahan bentuk sempurnanya. Hal ini merujuk pada kisah Panembahan senopati pada bait ke-16 yang kayungyun eningingtyas, terpesona kaheningan hati sehingga beliau terpacu semangatnya untuk menyepi. Apa hubungan ening dan ayu? Keduanya sama-sama bentuk puncak dari potensi hati yang diasah melalui pertapaan, atau mengurangi hawa nafsu. Jadi kurang lebih keduanya serupa. Jika seseorang sudah tidak tertarik pada keindahan hati, maka dipastikan usaha untuk meraihnya pun mengendur. Bangsa (semacam hal) anggit (direka-reka) yen (kalau) ginigit (digigit, dirasakan) nora (tidak) dadi (terwujud). Hal yang direka-reka bila dirasakan tidak terwujud. Hal tersebut (tidak tertariknya hati) membuat hati enggan, seolah terpaksa untuk meraih ayuningtyas, sehingga cenderung untuk mereka-reka (nganggit). Bisa jadi hal ini karena enggan menempuh laku sembah kalbu karena kemalasan sehingga merasa sudah mencapai tujuannya. Padahal itu hanya tujuan semu, yang kalau dirasakan (ginigit) tidak ada wujudnya (nora dadi). Marma (oleh karena itu) den (harap) awas (awas) den (dan harap) emut (ingat), mring (terhadap) pamurunging (penghalang) lelakon (diperjalanan). Maka dari itu harap waspada dan ingat, terhadap penghalang di perjalanan. Ghirah dalam beribadah secara fisik (sembah raga) kepada Allah dapat naik-turun, kadang sangat bersemangat tetapi kadang tak bergairah, loyo. Hal itu bisa karena berbagai kondisi, mungkin terlalu lelah fisik sehingga hati menjadi kendur, mungkin karena hati terlalu terpaut pada dunia sehingga tak lagi cenderung pada ibadah, maka tubuh yang kuat pun tak mampu tergerak. Dalam hal sembah kalbu, godaan lebih berat lagi karena sembah kalbu adalah ibadah yang tak tampak oleh orang lain. Tidak ada istilah riya’ dalam sembah kalbu karena sembah kalbu tak dapat dilihat oleh orang lain. Yang memotivasi adalah diri sendiri. Beberapa hal yang membuat gagalnya sembah kalbu adalah ketidaksabaran, kurang hati-hati dan merasa cukup. Maka perlu kiranya selalu menjaga hati agar senantiasa bersikap tata, titi, ngati-ati, sareh dan telaten. Pengertian masing-masing sikap telah diuraikan dalam bait-bait sebelumnya. Bait ini adalah bait terakhir yang membahas sembah kalbu, bait selanjutnya akan berbicara tentang sembah jiwa. Apakah itu? Silakan terus mengikuti kajian ini. Kajian Wedatama (63): Sembah Jiwa Pada atau bait ke-63, Pupuh Gambuh, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV: Samengko kang tinutur, sembah katri kang sayekti katur, mring Hyang sukma sukmanen saari-ari. Arahen dipun kacakup, sembahing jiwa sutengong. Terjemahan dalam bahasa Indonesia: Sekarang yang dibicarakan, sembah ke tiga yang sebenarnya diperuntukkan, untuk Yang Ghaib, dijalankan setiap hari. Arahkan agar tercakup, sembah jiwa ini, anakku!   Kajian per kata: Samengko (sekarang) kang (yang) tinutur (dibicarakan), sembah (sembah, ibadah) katri (yang ketiga) kang (yang) sayekti (sebenarnya) katur (diperuntukkan), mring (kepada) Hyang (Yang) Sukma (Ruh, Ghaib), sukmanen (hayatilah, jiwailah) saari-ari (sehari-hari) Sekarang yang dibicarakan, sembah ke tiga yang sebenarnya diperuntukkan, bagi Yang Ghaib, maka jalankan sehari-hari. Setelah membicarakan tentang sembah kalbu dalam bait-bait terdahulu, sekarang tibalah saatnya membicarakan sembah selanjutnya. Sembah yang ketiga ini diperuntukkan bagi Yang Ghaib, maka jiwailah, hayatilah setiap saat, sehari-hari. Sukma adalah padanan (sinonim) dari kata ruh, maka sembah yang ketiga ini diperuntukkan bagi Yang Maha Ghaib, Pemilik alam Ruh. Ruh adalah dzat yang membuat kita hidup. Tanpa ruh kita adalah bukan manusia lagi, maka frasa sukmanen saari-ari yang secara tekstual berarti ruhilah sehari-hari, bermakna hayatilah dalam kehidupan sehari-hari. Arahen (arahkan) dipun (agar) kacakup (tercakup), sembahing (sembahnya) jiwa (jiwa) sutengong (suta ingong, anakku). Arahkan segala sembah terdahulu agar mencakup sembah yang ini, yakni sembah jiwa, anakku. Sembah yang ketiga inilah sembah jiwa. Dalam budaya Jawa jiwa bisa berarti hidup, menghayati, maka sembah Jiwa berarti menghayati sembah sebagai sifat yang merasuk (sukmanen, merasuklah) ke dalam dzat manusia itu sendiri. Sehingga tidak perlu mengusahakan hadirnya dalam kalbu sebagaimana sembah kalbu, tetapi senantiasa menetap dalam diri manusia. Dalam redaksi yang lebih mudah dipahami sembah jiwa adalah menyembah Allah secara menjiwai, mendarah-daging, terpatri dalam sifat dan dzat manusia yang melakukan sembah itu. Orang yang telah berhasil dalam sembah jiwa akan tetap menyembah dalam diam dan gerakan. Dalam shalat dan diluar shalat. Dalam berbagai kegiatan yang bahkan terlihat sebagai kegiatan duniawi. Dirinya sudah ikhlas dalam segala hal. Dirinya sudah fana dalam diri-nya sendiri, hingga hanya menyisakan Dia Yang Ada. Inilah ibadahnya jiwa. Kami cukupkan sekian dulu tentang sembah jiwa ini, dalam bait-bait berikutnya akan diuraikan agar semakin jelas maknanya. Jangan sampai ketinggalan! Kajian Wedatama (64): Pepuntoning Laku Bait atau pada ke-64, Pupuh Gambuh, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV: Sayekti luwih perlu, Ingaranan pepuntoning laku, Kalakuwan tumrap kang bangsaning batin, Sucine lan awas emut, Mring alaming lama maot. Terjemahan dalam bahasa Indonesia: Sebenarnya lebih penting, Disebut penghabisannya tindakan, Tindakan yang bersangkutan dengan batin, Pembersihnya dengan awas dan ingat, Kepada alam lama yang memuat, (alam prakreasi).   Kajian per kata: Sayekti (sebenarnya) luwih (lebih) perlu (penting), ingaranan (disebut) pepuntoning (penghabisannya) laku (tindakan). Sebenarnya lebih penting, disebut penghabisannya tindakan. Sebenarnya sembah jiwa ini adalah akhir dari perjalanan (laku). Mengapa disebut demikian? Karena dari fakultas manusia yang dipakai untuk melakukan sembah sejak mulai dari raga, cipta (kalbu) sampai jiwa, kesemuanya itu mempunyai sifat yang tidak sempurna. Raga jelas tidak sempurna karena bisa luka, menderita sakit dan mati. Cipta (kalbu) juga tidak sempurna karena seringkali berpikir liar, tidak fokus, berbolak-balik (qalb), sering tidak fokus dalam tujuannya. Jiwa juga tidak sempurna karena kemantapannya sangat tergantung pengendalian diri dari nafsu-nafsu. Jiwa mudah diseret hawa nafsu menuju ke tempat hina. Karena harus selalu diawasi dengan waspada dan berhati-hati. Terhadap segala ketaksempurnaan itulah segala latihan dan tirakat ditujukan. Agar semua fakultas tersebut menjadi disiplin dan terkendali sehingga cemerlang dan menjadi penerang dalam mencapai tujuan. Ini berbeda dengan sembah rasa yang akan kita bahas nanti. Kalakuwan (tindakan) tumrap (kepada) kang (yang) bangsaning (berkaitan) batin (alam batin). Tindakan yang bersangkutan dengan batin. Akhir dari perjalanan yang berkaitan dengan alam batin. Setelahnya tidak ada lagi laku lagi, baik raga maupun jiwa, setelah ini adalah sampai pada tujuan. Oleh karena itu sembah jiwa ini adalah laku yang penting. Sucine (pembersihnya) lan (dengan) awas (awas) emut (mengingat). Pembersihnya dengan awas dan ingat. Jika sembah raga bersucinya dengan air, sembah kalbu bersucinya dengan mengurangi hasrat di hati, maka sembah jiwa bersucinya dengan waspada dan mengingat. Awas terhadap tujuan bermakna, jangan sampai salah mengenali apakah yang dituju sudah benar-benar tujuan hidup yang sebenarnya. Atau dalam bahasa yang lebih mudah apakah yang disembah adalah Tuhan yang sebenarnya? Ataukah hanya sosok lain yang dipertuhankan? Hal ini penting karena banyak orang silau dengan gemerlapnya alam batin sehingga salah mengenali kenyataan, Al Haq. Mengingat bermakna mengingat-ingat asal kejadian atau sangkaning dumadi. Kita sudah menjelaskan dalam bait yang lalu, dan kita ingat kembali dalam gatra di bawah ini. Mring (kepada) alaming (alam) lama (lama, pra keabadian) maot (yang memuat). Kepada alam lama yang memuat, (alam prakreasi). Ingat pada perjanjian pra-azali ketika kita sudah menyatkan, “Aku bersaksi, Bala syahidna!” Yang terakhir ini hanya mungkin jika kita mengenal fitrah kita sebagai manusia. Dengan fitrah itulah kita mengenal sedikit demi sedikit alam lama kita yang kita pernal tinggal di sana (lebih tepatnya disemai di sana). Bagaimana caranya kita melakukan itu? Kita sudah mulai melakukan itu sejak ketika kita lakukan sembah raga di awal perjalanan. Dengan itu kita telah sedikit-demi sedikit membersihkan kerak yang menutupi hati, semakin dalam kita lakukan sembah dengan sembah kalbu dan sembah jiwa ini semakin tampak cahaya hati yang bersinar terang. Hanya tinggal menunggu waktu untuk sampai. Bersabarlah sampai pada bait-bait akhir serat Wedatama ini.

Guru Angger Nyalemong

Kajian Wedatama (51): Guru Angger Nyalemong Bait ke-51, Pupuh Gambuh, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV: Thithik kaya santri Dul, Gajeg kaya santri brai kidul, saurute Pacitan pinggir pasisir. Ewon wong kang padha nggugu. Anggere padha nyalemong. Terjemahan dalam Bahasa Indonesia: Sedikit ada yang seperti santri Dul, Kalau tak salah seperti santri dari daerah selatan, Di sepanjang pinggir pantai Pacitan, Ribuan orang yang menuruti. Aturannya yang asal diucapkan. Kajian per kata: Makna bait ini merupakan sambungan dari bait sebelumnya Sarengate Elok-Elok, bahwa karena masih pemula dan lagi semangat-semangatnya, banyak orang yang memperlihatkan tatacara aneh dalam ibadah. Mungkin maksud mereka untuk mencari ilmu sejati yang memang harus dilakukan dengan laku tarekat, namun karena belum mengerti dan tergesa- gesa justru yang muncul adalah tatacara yang mengherankan, ajaib, tak masuk akal. Bait berikut memberi satu contoh di jaman itu. Thithik (thik-thik, sedikit-sedikit) kaya (seperti) santri (santri) Dul (Dul, nama orang). Sedikit ada yang seperti santri Dul. Thik-thik, sedikit-sedikit, ada yang seperti santri Dul. Sangat mungkin Dul ini hanya sebutan saja, seperti kata dalam bahasa Arab fulan, merujuk ke sembarang orang yang bisa siapa saja. Kata santri yang disematkan pada sosok Dul menunjukkan bahwa dia baru belajar agama, jadi soal ilmu batin (wulang kang sinerung) belumlah menguasai secara sempurna. Namun dia sudah berani memperlihatkan pelajaran yang tersembunyi seperti disinggung pada bait sebelumnya. Gajeg (kalau tak salah) kaya (seperti) santri (santri) brai (daerah) kidul (selatan), saurute (di sepanjang) Pacitan (Pacitan) pinggir (pinggir) pasisir (pantai). Kalau tak salah seperti santri dari daerah selatan, di sepanjang pinggir pantai Pacitan. Gatra ini menunjukkan bahwa si Dul sudah pulang kampung dan membuka pelajaran ilmu batin di wilayah asalnya, yakni di sepanjang pinggir pantai wilayah Pacitan. Ewon (ribuan) wong (orang) kang (yang) padha (yang) nggugu (menuruti). Ribuan orang yang menuruti. Tampaknya santri Dul ini cukup populer di wilayah tersebut, banyak orang menuruti ajarannya. Pengikutnya banyak dari kalangan orang awam, ini bisa dilihat dari kondisi jaman ketika itu (saat serat Wedatama ini digubah) daerah Pacitan pinggir pantai adalah wilayah pelosok yang jauh dari kotaraja. Daerah itu kurang produktif dan terpinggirkan. Sangat masuk akal kalau santri Dul mendapat banyak pengikut di situ karena tingkat pemahaman masyarakat setempat masih rendah. Anggere (aturan) padha (yang) nyalemong (asal ucap). Aturannya yang asal diucapkan Nyalemong berarti nyeletuk, asal ucap, tidak berdasar. Itulah tatacara yang diajarkan si Dul tadi. Karena memang belajarnya belum tuntas, tetapi sudah mengajarkan kepada orang lain maka yang terjadi adalah praktek tatacara ibadah yang asal-asalan, tidak sesuai dengan ajaran para ulama yang telah mengerti benar. Kajian Wedatama (52): Akale Kaliru Enggon Pada atau bait ke-52, Pupuh Gambuh, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV: Kasusu arsa weruh. Cahyaning Hyang kinira yen karuh. Ngarep arep urub arsa den kurebi. Tan wruh kang mangkono iku. Akale kaliru enggon. Terjemahan dalam bahasa Indonesia: Tergesa-gesa ingin segera tahu. Mengira kenal dengan cahaya Tuhan. Mengharap cahaya kan ditelungkupi. Tidak tahu yang begitu itu. Pandangannya salah tempat. Kajian per kata: Kasusu (tergesa-gesa, tak sabar) arsa (hendak, ingin) weruh (melihat, mengetahui). Tergesa- gesa ingin segera tahu. Bait ini masih melanjutkan penjelasan tentang keadaan santri Dul yang pada bait ke-51 mengajarkan ilmu yang belum dikuasai benar, sehingga ajarannya asal-asalan, angger nyalemong. Yang demikian itu karena dia tergesa-gesa dalam mempraktikkan ilmu. Dia mengira bahwa belajar tentang ilmu batin itu mudah, sehingga baru belajar sedikit saja (belum tuntas) sudah merasa mengerti tentang ketuhanan. Sudah merasa bahwa apa yang dilakukan telah mencapai tujuan akhir dari perjalanan spiritual, padahal baru memulai. Masih ada banyak tahapan yang perlu dilatih dengan usaha yang sungguh-sungguh. Kalau dalam bahasa yang sederhana, santri Dul ini mengira bahwa apa yang dilakukan sudah akan mengantar ke surga, padahal dia baru merasakan sedikit manisnya dari mengamalkan agama. Orang yang demikian ini juga banyak ditemui di setiap zaman, termasuk di zaman ini (sekarang). Cahyaning (cahaya) Hyang (Tuhan) kinira (dikira) yen (kalau) karuh (kaeruh, dikenali). Mengira kenal dengan cahaya Tuhan. Baru mengetahui ilmu yang sedikit, dan juga baru mengamalkan yang sedikit sudah tak sabar hendak mengetahui Cahaya Tuhan. Mengira sudah sampai di tujuan, padahal jalannya pun baru saja ditapaki. Masih banyak stasiun pemberhentian yang mesti disinggahi dalam perjalanan menuju Tuhan itu. Dia baru saja melihat secercah cahaya penerang jalan, tetapi sudah mengira itu sebagai Cahaya Suci Yang Maha Agung. Fenomena inilah yang disebut terhijab cahaya atau silau. Mendekat ke sumber cahaya tetapi justru pandangannya kabur karena terlalu banyak cahaya masuk ke mata. Ini bisa berbahaya karena mengira diri sudah sampai, padahal baru mulai jalan. Sesungguhnya bagi seorang pejalan (salik), tujuan akhir tempat segala kenikmatan spiritual berada, akan sukar dicapai. Akan panjang jalannya, banyak rintangannya dan takkan selalu mudah dijalani. Maka hendaklah setiap salik menguji diri, apakah sudah melalui rintangan yang berat, jalan terjal dan berliku? Karena kalau belum mengalami itu semua, dipastikan bahwa kenikmatan apapun yang diraih adalah capaian semu. Karena kesempurnaan sejati takkan mudah didapat begitu saja. Ngarep (mengharap) arep (harap) urub (cahaya) arsa (hendak) den (di) kurebi (telungkupi, dipeluk). Mengharap-harap cahaya hendak dipeluk. Dapat dimaklumi apabila seseorang yang telah bertekad untuk menempuh perjalanan pastilah sangat merindukan sampainya pada tujuan, untuk bertemu Dzat Agung yang kepadanya kita semua menuju. Kerinduan ini memuncak laksana seorang kekasih yang merindukan pujaan hatinya, selalu terpikirkan siang dan malam. Ketika di jalan melihat sosok yang mirip kekasihnya dikiranya ialah orangnya, dan hendak dipeluklah segera. Orang-orang yang mencari Tuhan (salik) dengan menempuh perjalanan (suluk) jika terlalu dikuasai hasrat bisa jadi akan mengalami hal yang seperti itu. Ketika melihat tanda-tanda kekuasaanNya maka dia mengira sudah sampai padaNya, dan bersegera memeluknya (den kurepi, ditelungkupi). Yang demikian itu karena belum berpengalaman dan tak sabaran, sehingga hilanglah kewaspadaan. Tan (tak) wruh (tahu, melihat) kang (yang) mangkono (demikian) iku (itu). Tidak tahu yang begitu itu (karena belum mengenali Tuhan Yang Sejati). Karena hasrat kerinduan yang membara untuk segera bertemu Tuhan itulah kadang menjadi salah mengenaliNya. Salah dalam membaca tanda-tanda (ayat-ayat) Nya. Salah dalam menafsirkan kehendakNya. Salah dalam bertindak mencari keridhaanNya. Akale (pandangannya, pemikirannya)kaliru (salah) enggon (tempat). Pandangannya salah tempat. Karena salah mengenali maka salahlah tindakannya. Sehingga memunculkan perilaku yang tak sewajarnya, aneh-aneh dan kadang mengherankan yang melihat. Ini sering terjadi pada para pencari jalan yang karena takjub dan terpesona dengan kebesaran Allah SWT menjadi meracau, ekstatik, mabuk kepayang kepada keagungan Tuhan, dan yang terparah kadang mengeluarkan pernyataan-pernyataan yang diluar nalar. Salah satu contoh yang terkenal adalah sufi besar Al Hallaj yang sering mengeluarkan pernyataan kontroversial itu. Yang seperti itu juga banyak ditemukan di Jawa dalam kadar yang lebih kecil. Dalam serat Wedatama ini dicontohkan seperti santri Dul tadi. Kajian Wedatama (53): Tinata tan Gawe Bingung Pada atau bait ke-53, Pupuh Gambuh, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV: Yen ta jamna rumuhun, Tata titi tumrah tumaruntun. Bangsa srengat tan winor lan laku batin. Dadi nora gawe bingung, kang padha nembah Hyang Manon . Terjemahan dalam bahasa Indonesia: Kalau orang di jaman dahulu, Diatur sebaik-baiknya dari awal hingga akhir. Bagian syariat tidak dicampur dengan ulah batin. Sehingga tidak membingungkan, Bagi yang menyembah Tuhan Yang Maha Melihat. Kajian per kata: Yen (kalau) ta jamna (orang) rumuhun (jaman dahulu), tata (diatur) titi (secara baik, cermat) tumrah (segalanya) tumaruntun (berkesibambungan). Kalau orang di jaman dahulu, diatur sebaik-baiknya dari awal hingga akhir. Di jaman dahulu tidak dikenal tatacara peribadatan seperti sekarang ini, yakni mencampurkan antara amalan lahir dan amalan batin. Gatra ini masih menyoroti ulah santri Dul yang karena kedangkalan ilmunya mencampurkan amalan lahir dan amalan batin bagi orang awam. Karena pada jaman dahulu ketika para wali masih menjadi guru di tanah Jawa amalan batin hanya dikhususkan bagi mereka yang telah siap menjalani tirakat. Tanpa persiapan mental dan kesediaan untuk mengikuti petunjuk guru amalan batin justru merusak amalan lahir. Bahkan bisa menjadikan orang awam antipati terhadap ajaran agama, disebabkan karena diajarkan secara aneh dan tidak umum. Contohnya adalah ketika Brandal Lokajaya bertobat dan menjadi murid Sunan Bonang. Oleh Sunan Bonang Lokajaya digembleng dengan laku tirakat yang sangat berat. Hanya karena tekad yang kuat untuk menebus jalan salah yang telah ia tempuhlah yang membuat Lokajaya mampu menjalani bimbingan Sunan Bonang. Maka hasilnya Lokajaya menjadi seorang yang sangat mumpuni dalam bidang ilmu batin sekaligus sangat paham budaya Jawa, yakni Sunan Kalijaga. Tatacara yang demikian jelas tak dapat dipakai untuk sembarang orang. Maka diperlukan kearifan bagi seorang guru bagaimana ia harus membagi ilmu kepada para muridnya. Inilah yang tidak diperhatikan guru-guru amatir macam santri Dul tadi. Aamalan lahir diberlakukan untuk umum, karena amalan lahir sifatnya wajib bagi siapapun. Di situ ada tingkat kewajiban dari yang wajib sampai yang dilarang. Semua itu dipelajari dalam ilmu fikih. Untuk ilmu batin hendaknya disesuaikan dengan si pencari ilmu. Kesanggupan apa yang telah ia penuhi sehingga mampu menerima pelajaran lebih lanjut. Tentu saja bimbingan guru sangat diperlukan agar tidak salah arah. Mereka harus mengikuti petunjuk sang guru dari awal sampai akhir dengan pengawasan yang ketat. Bangsa (bagian, jenis) srengat (syari’at) tan (tidak) winor (dicampur) lan (dengan) laku (metode, laku) batin (batin). Bagian syariat tidak dicampur dengan ulah batin. Dengan pengaturan yang demikian tidak akan terjadi kesalahan. Mereka yang baru bisa mengamalkan syariat secara lahir atau sembah raga tetap pada jalurnya sendiri, tidak teganggu dengan berbagai laku aneh. Sebaliknya bagi yang telah mampu mengamalkan ilmu batin dengan bimbingan guru juga bisa berkonsentrasi pada laku yang harus dijalani. Dalam amalan-amalan lahir sehari-hari keduanya tetap melakukan dalam bentuk yang sama, secara bersama-sama. Karena dengan adanya amalan batin tidak menghapus kewajiban amalan lahir, justru semakin memantapkannya. Dadi (sehingga) nora (tidak) gawe (membuat) bingung (bingung). Sehingga tidak membingungkan. Pemisahan dalam memberikan bimbingan tersebut membuat para murid dan masyarakat tidak kebingungan. Hal itu karena amalan-amalan agama dikerjakan sesuai dengan kemampuan dan kesiapan masing-masing. Kang (bagi) padha (yang) nembah (menyembah, ibadah) Hyang (Tuhan) Manon (Yang Maha Melihat). Bagi yang menyembah Tuhan Yang Maha Melihat. Dengan demikian bagi para penyembah Tuhan tidak akan timbul kerancuan. Bagi yang mencukupkan diri denan amalan lahir, yakni sembah raga dipersilakan. Namun bagi yang ingin memantapkan dengan amalan batin dapat minta petunjuk kepada guru agar dibimbing sesuai sifat, kemampuan dan arah yang ingin dicapai. Dengan demikian harmoni dalam masyarakat akan terjamin. Kajian Wedatama (54): Kudu Ajeg lan Taberi Pada atau bait ke-54, Pupuh Gambuh, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV: Lire sarengat iku, kena uga ingaranan laku, Dhingin ajeg kapindhone ataberi, Pakolehe putraningsung, Nyenyeger badan mrih kaot. Terjemahan dalam bahasa Indonesia: Artinya syair’at itu, dapat juga disebut laku. Pertama dilakukan dengan tetap (kontinyu), kedua harus tekun, Hasilnya anakku, menyegarkan badan agar lebih baik. Kajian per kata: Lire (artinya) sarengat (syari’at) iku (itu), kena (dapat) uga (juga) ingaranan (disebut) laku (laku). Artinya syair’at itu, dapat juga disebut laku. Sebenarnya syariat itu, yakni hukum-hulum dan perkara yang mengatur amal-amal badaniyah, juga merupakan laku. Karena setiap laku pasti membutuhkan tubuh sebagai pelaksana, maka syariat juga merupakan laku. Artinya seorang yang melaksanakan syari’at pun juga sudah mendapat peningkatan kemampuan diri. Banyak manfaat syariat yang langsung meningkatkan aspek kehidupan seseorang. Sebagai contoh orang yang rajin shalat shalat akan terbiasa bangun pagi untuk shalat subuh. Ini tentu baik bagi badan dibanding orang yang selalu bangun siang. Ketika waktu shalat dhuhur tiba dia berhenti bekerja untuk shalat sambil istirahat, dengan demikian tubuh tidak terforsir. Ketika sore hari mau tak mau harus segera berhenti kembali sebelum kehilangan waktu ashar. Seterusnya sampai malam hari adanya waktu shalat membuat ritme hidup seseorang teratur. Sehingga badan pun tidak melakukan kerja yang berlebihan. Efek jangka panjangnya badan selalu bugar. Apakah hanya itu manfaat shalat? Tentu tidak, tetapi di sini kita hanya membatasi dalam ranah sembah raga, yakni ibadah ditinjau dari gerak tubuh semata. Adapun manfaat lain akan diuraikan dalam sembah batin (ada 3 tingkatan) yang akan diuraikan nanti. Jangan mengira bahwa empat sembah itu adalah kegiatan yang terpisah. Sama sekali tidak, melainkan tingkatan penghayatan pada setiap tingkatan wujud kita. Untuk lebih jelasnya kita akan kaji lebih jauh dalam sembah cipta, dst. Satu contoh lagi adalah soal makanan. Orang yang melaksanakan syari’at pasti tidak akan makan sembarang makanan. Dipastikan kehalalannya terlebih dulu. Jadi pastilah minuman khamar, narkoba dan sejenisnya juga takkan disentuh. Seorang yang melaksanakan syari’at dalam hal makanan setidaknya sudah terhindar dari mengkonsumsi zat yang berbahaya. Manfaatnya jelas badan lebih sehat. Selain itu, juga ada kriteria thoyyiban, makan yang baik- baik saja. Ttidak semua yang halal lantas dimakan begitu saja, jika ada yang lebih baik pilihlah yang lebih baik itu. Ketentuan syari’at secara keseluruhan memang membuat tubuh manusia lebih sehat, dalam aspek muamalah juga menjamin tegaknya keadilan. Individu yang melaksanakan syari’at akan bermartabat, masyarakat yang melaksanakan syari’at akan makmur berkeadilan. Dhingin (pertama) ajeg (tetap, kontinyu) kapindhone (kedua kali) ataberi (tekun). Pertama dilakukan dengan tetap (kontinyu), kedua harus tekun. Dalam melaksanakan syari’at yang pertama harus kontinye, ajeg. Tidak boleh lalai dan alpa karena memang sudah menjadi kewajiban kita sejak akil baligh sampai akhir hayat. Yang kedua harus tekun (taberi), yakni dilakukan dengan sungguh-sungguh. Tidak boleh asal- asalan hanya agar kewajibannya gugur. Juga tidak boleh dilakukan sekehendak hati karena sudah ada syarat dan rukun yang mesti dipenuhi. Pakolehe (hasilnya) putraningsung (anakku), nyeyeger (menyegarkan) badan (badan) mrih (agar) kaot (sehat, bugar). Hasilnya anakku, menyegarkan badan agar bugar. Hasil dari melaksanakan syari’at pada tataran fisik adalah tubuh yang bugar. Ini karena syariat dalam agama Islam tidak saja mengatur soal moralitas, tetapi juga mengatur semua hal, semua tataran hidup manusia, dari fisik sampai batin. Namun seperti kita sampaikan di atas bahwa bahasan kita kali ini hanyalah soal sembah raga, yakni ibadahnya tubuh saja sehingga soal lain tidak dikaji di sini. Seperti yang disebutkan pada bait pertama, serat Wedatama ini memang ditujukan untuk anak muda. Maka sebagian besar nasehatnya juga diperuntukkan bagi mereka, agar kelak tidak salah langkah dalam mengambil tindakan. Senantiasa berpedoman pada unggah-ungguh dan pekerti luhur warisan nenek moyang di tanah Jawa. Kajian Wedatama (55): Angruwat Ruweding Batos Bait ke-55, Pupuh Gambuh, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV: Wong seger badanipun, otot daging kulit balung sumsum. Tumrah ing rah memarah antenging ati, Antenging ati nunungku, Angruwat ruweding batos. Terjemahan dalam bahasa Indonesia: Orang yang sehat badannya, otot, daging kulit, tulang dan sungsum. Mempengaruhi darah menjadikan tenangnya hati, Tenangnya hati menjadikan, hilangnya ruwet di pikiran, . Kajian per kata: Wong (orang) seger (segar, sehat) badanipun (badannya), otot daging kulit balung sumsum. Orang yang sehat badannya, otot, daging kulit, tulang dan sungsum. Bait ini masih kelanjutan dari bait sebelumnya tentang amalan lahir atau ibadahnya tubuh atau sembah raga. Bahwa manfaat sembah raga adalah badannya sehat, bugar dan segar. Orang yang sehat badannya tentu juga sehat organ-organnya. Otot, daging, kulit, tulang dan sungsum semuanya dalam keadaan sehat. Hal ini bisa terjadi karena orang yang mengamalkan syari’at akan hidup secara teratur, seimbang dalam makan, proporsional dalam bekerja, cukup istirahat dan tidak berlebihan dalam menikmati kesenangan duniwi. Karena semua ada batasan-batasan kewajiban dan kepatutan. Tumrah (menurun, mempengaruhi) ing (di) rah (darah) memarah (menjadikan) antenging (tenangnya) ati (hati). Mempengaruhi darah menjadikan tenangnya hati. Tubuh yang sehat, istirahat cukup, tidak berlebihan dalam setiap urusan. Tidak telalu tertekan kepanikan karena stress tapi tetap aktif. Tidak malas-malasan, tapi terukur dalam bekerja. Itulah ritme hidup terbaik yang akan membuat darah lancar mengalir. Pasokan nutrisi ke seluruh organ tubuh terjamin. Kondisi ini akan menjadikan hati selalu tenang, tidak bergejolak oleh aktivitas yang mendadak, tidak berdebar-debar karena tak ada kekhawatiran. Antenging (tenangnya) ati (hati) nunungku (membuat tungku, arti kiasan menjadikan), angruwat (menghilangkan) ruweding (kisruhnya) batos (batin, pikiran). Tenangnya hati menjadikan, hilangnya ruwet di pikiran. Tenangnya hati akan membuat seseorang mampu berpikir jernih, mampu mencari solusi dari setiap problem, mampu membuat karya yang baru, mampu menyusun rencana dengan matang. Segala masalah yang ruwet (kisruh) sekalipun akan mampu dicarikan jalan keluar. Segala tantangan hidup yang berat mampu diatasi dengan pikiran yang jernih. Inilah efek langsung dari teraturnya gerakan tubuh. Seseorang yang terbiasa mendisiplinkan tubuhnya dengan sembah raga pasti akan mendapat manfaat yang banyak sekali. Itu baru ditinjau dari sisi fisik semata-mata, sesuai kajian kita tentang sembah raga dalam beberapa bait yang lalu. Bait ini mengakhiri bahasan tentang sembah raga. Bait berikutnya akan bercerita tentang mengapa penggubah Wedatama ini perlu menyampaikan pesan-pesan tersebut di atas. Nantikan kajian berikutnya pada bait ke-56.

Lumuh Ingaran Luput

Kajian Wedatama (46): Lumuh Ingaran Luput Bait ke-46, Pupuh Pucung, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV: Sakeh luput, ing angga tansah linimput, Linimpet ing sabda, Narka tan ana udani, Lumuh ala ardane ginawa gada. Terjemahan dalam Bahasa Indonesia: Segala kesalahan, dirinya selalu ditutupi, Disembunyikan dalam alasan, Mengira tak ada yang tahu, Tak mau disebut jelek, angkaranya dipakai memukul. Kajian per kata: Sakeh (segala) luput (kesalahan) ing (di) angga (badan, diri) tansah (selalu) linimput (ditutupi). Segala kesalahan dirinya selalu ditutupi. Ini adalah watak orang nylekunthis (pengecut), tidak ksatria. Selalu menutupi kesalahan diri sendiri. Tidak mau berterus terang mengakui kesalahannya. Selalu menutup-nutupi agar tak terlihat orang lain. Linimpet (disembunyikan) ing (dalam) sabda (perkataan, alasan). Disembunyikan dalam alasan Setiap tindakan salah yang dilakukannya selalu dicari-carikan pembenaran. Kesalahannya disembunyikan dalam berbagai alasan. Dengan perkataan yang mempesona, berusaha menghindar dari tuduhan. Seolah-olah suatu kesalahan adalah hal sangat tabu sehingga disimpan rapat-rapat. Narka (mengira) tan (tak) ana (ada) udani (telanjang, maksudnya tahu yang sebenarnya). Mengira takkan ada yang tahu. Dia mengira bahwa dengan menyembunyikan kesalahan takkan ada yang tahu. Dia tak sadar bahwa sebenarnya orang lain pun pasti curiga dengan cara-caranya mencari alasan yang dibuat-buat itu. Lumuh (tak mau) ala (jelek) ardane (angkara) ginawa (dipakai) gada (senjata gada, memukul). Tak mau disebut jelek, angkaranya dipakai memukul. Tak mau kelihatan kurang, tak mau disebut jelek, jika ada yang menyebutnya seperti itu tindak angkaranya keluar untuk membungkan dengan kekerasan. Bait ini menggambarkan watak orang berjiwa kerdil, berpikiran sempit. Tandanya adalah selalu menyembunyikan kesalahan diri, tak mau dikoreksi, harus selalu tampil benar. Orang ini mengira dengan memberi alasan untuk menutupi kesalahan, orang lain tak mampu melihat kelemahannya. Padahal alasan yang dibuat-buat akan tampak terang benderang kebohongannya. Dan jikalau ada yang menunjuk kelemahan alasannya dia tidak mau mengalah. Ogah terlihat jelek, tak mau terlihat salah. Senjata terakhirnya jikalau semua alasannya dipatahkan adalah memukul. Penthuuuung.....!!! Kajian Wedatama (47): Cupet Kepepet Pamrih Bait ke-47, Pupuh Pucung, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV: Durung punjul ing kawruh kaselak jujul. Keseselan hawa. Cupet kepepetan pamrih. Tangeh nedya anggambuh mring Hyang wisesa. Terjemahan dalam Bahasa Indonesia: Belum pandai dalam ilmu tetapi tergesa-gesa ingin dipuji pandai, Disisipi hawa nafsu, Tak cukup karena terdesak keinginan, Mustahil dapat mendekati kepada Yang Maha Kuasa. Kajian per kata: Durung ( belum) punjul (lebih dari yang lain) ing (dalam) kawruh (pengetahuan) kaselak (tergesa) jujul (kelebihan, artinya mendapat pujian). Belum pandai dalam ilmu tetapi tergesa- gesa ingin dipuji pandai. Kata punjul merujuk pada keadaan lebih dari sekitarnya atau lebih dari seharusnya. Ada ungkapan bahasa jawa yang terkenal, punjul ing apapak, bermakna lebih dari sesamanya. Dalam hal pengetahuan (kawruh) jelas merujuk pada makna lebih pandai dari yang lain. Sedangkan kata jujul dipakai untuk menggambarkan suatu kelebihan dari semestinya. Misalnya sebatang pensil yang tidak bisa masuk pada wadah yang tersedia karena terlalu panjang disebut jujul. Kata ini juga sering dipakai untuk menyebut uang kembalian dari suatu pembayaran. Misal jika membeli roti seharga Rp. 4000 dengan uang Rp. 5000, maka ada jujul Rp. 1.000. Jadi gatra ini menyoroti si anak muda yang baru belajar ilmu. Biasanya mereka walau belum menguasai pengetahuan secara tuntas tetapi merasa lebih pandai (punjul) dari orang sekitarnya. Sikap mereka berlebihan agar terkesan pandai dan mendapat pujian, oleh jujul. Keseselan (disisipi) hawa (hawa nafsu). Disisipi hawa nafsu. Sikap yang berlebihan dalam pamer pengetahuan (yang sebenarnya hanya sejengkal) tadi sangat rawan disusupi oleh hawa nafsu. Keinginan tersembunyi muncul mendompleng perilaku terburu-buru. Ingin dipuji, ingin terkenal, ingin mendapat keuntungan duniawi, ingin tampil sholeh, ingin kelihatan kusyu’, ingin diidolakan banyak orang, ingin masuk TV, ingin dapat kontrak eksklusif, dll. Cupet (tak sampai, tak cukup, kurang) kepepetan (terdesak) pamrih (pamrih, keinginan untuk kepentingan diri). Tak cukup karena terdesak keinginan. Apabila keinginan-keinginan tadi diberi tempat dalam diri kita, mereka akan semakin membesar. Akibatnya sifat rakus akan tampil menguasai diri. Nafsu memiliki (pamrih) mendesak nalar, membuat orang khilaf, alpa terhadap pertimbangan, lalai terhadap kebenaran. Hidup seseorang menjadi cupet, serba tak cukup, serba kurang akibat terdesak keinginan. Tangeh (mustahil) nedya (bermaksud) anggambuh (mendekat) mring (kepada) Hyang (Yang) Wisesa (Kuasa). Mustahil dapat mendekati kepada Yang Maha Kuasa. Dalam keadaan demikian upaya seseorang untuk mendekati Yang Maha Kuasa menjadi mustahil. Alih-alih justru semakin jauh dari tujuan semula, semakin dalam terperosok dalam kuasa hawa nafsu. Inilah munafik sejati, penampilan suci tapi berhati culas. Bait ini adalah bait terakhir dari Pupuh Pucung dalam Serat Wedatama. Kata ang-gambuh dalam gatra terakhir yang berarti mendekati, juga menjadi isyarat bahwa akan masuk ke Pupuh selanjutnya, yakni Pupuh Gambuh. PUPUH GAMBUH Kajian Wedatama (48): Sembah Catur Bait ke-48, Pupuh Gambuh, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV: Samengko ingsun tutur. Sembah catur supaya lumuntur. Dhihin raga, cipta, jiwa, rasa, kaki. Ing kono lamun tinemu, tandha nugrahaning Manon. Terjemahan dalam Bahasa Indonesia: Sekarang saya menasihati. Empat sembah supaya terpahamkan. Pertama, raga, cipta, jiwa, rasa, nak, Di situ bila tercapai, itulah anugrah dari Yang Maha Melihat. Kajian per kata: Samengko (sekarang) ingsun (saya) tutur (berkata, memberi nasihat). Sekarang saya menasihati. Kata tutur dalam bahasa Jawa sering dipakai untuk menyebut perkataan orang-orang tua, mereka yang sudah pengalaman dalam mengarungi samudera kehidupan. Istilah lebda ing pitutur sering dipakai untuk menyebut orang-orang yang sudah pantas untuk memberi nasehat tersebut. Dalam budaya Jawa orang yang sudah tua (sepuh) memang sangat dihargai, walau secara materi tidak produktif tetapi mereka dialap (diharap) berkah dan nasihatnya. Diharap do’a dan restunya pada setiap ada hajat dan keperluan penting. Nah, dari merekalah kearifan diturunkan (lumuntur) melalui piwulang (ajaran kebaikan), wewarah (pengertian) dan pitutur (nasihat). Sembah (sembah, ibadah) catur (empat) supaya (supaya) lumuntur (terwarisakan, terpahamkan). Empat sembah supaya terpahamkan. Bahwa dalam peribadatan ada empat macam sembah. Ini berkaitan dengan lapisan maujud yang ada pada manusia, dari badan kasar (wadhag) sampai ruh yang halus (alus). Ada empat lapis ketundukkan dalam penyembahan, keempatnya mesti sinkron agar tercipta harmoni dalam diri. Agar tidak terpecah kepribadian manusia atau split personality. Dhihin (yang awal) raga (raga, badan), cipta (cipta, pikiran), jiwa (jiwa), rasa (hati), kaki (nak). Pertama, raga, cipta, jiwa, rasa, nak! Yang pertama adalah sembah raga, tubuh, anggota badan. Sembahnya tubuh adalah gerakan fisik, seperti orang yang sedang melakukan shalat ada ketentuan tatacara gerakan-gerakan tersebut yang sudah baku. Yang kedua adalah sembah cipta, yakni pikiran. Dalam melakukan sembah raga harus disertai sembah cipta, yakni pemusatan pikiran kepada Yang Disembah (Allah). Pikiran tunduk kepada keagungan dan ketuhanan Allah semata-mata. Yang ketiga adalah sembah jiwa, jiwa adalah produsen angan-angan, maka dalam sembah jiwa harus menyertakan konsentrasi segala angan-angan hanya kepada Allah semata. Tidak elok jika sedang shalat mengingat-ingat bakul nasi di dapur, misalnya. Keempat adalah sembah rasa, inilah puncak tertinggi dari penyembahan. Segala rasa bersumber dari hati, maka sembah rasa adalah upaya untuk mensucikan hati. Membiasakan agar hati menjadi tenang, tuma’ninah, madhep mantep menghadap Yang Maha Melihat. Dalam bahasa agama disebut ihsan. Itulah empat macam sembah yang harus selalu dilakukan simultan, serentak bersamaan dalam satu rangkaian gerakan. Hal-hal itulah yang harus engkau ketahui, wahai anak muda! Ing (di) kono (situ) lamun (kalau) tinemu (ditemukan, tercapai), tandha (pertanda) nugrahaning (mendapat anugrah) Manon (Yang Maha Melihat). Di situ bila tercapai, itulah anugrah dari Yang Maha Melihat. Dalam rangkaian sembah itu, jika dapat dilakukan akan bertemu dengan rosing panembah, yakni tunduknya badan, pikiran, jiwa dan rasa ke haribaan Ilahi. Yang demikian itu, manusia hanya dapat berusaha untuk mencapainya melalui serangkaian laku yang sudah ditentukan. Adapun sampainya pada tujuan semata-mata adalah anugrah dari Yang Maha Melihat. Keempat sembah tersebut di atas akan diuraikan panjang lebar dalam bait-bait selanjutnya pada Pupuh Gambuh dari serat Wedatama. Kita akan membahasnya secara rinci pada bait- bait mendatang. Kajian Wedatama (49): Sembah Raga Bait ke-49, Pupuh Gambuh, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV: Sembah raga punika, pakartine wong amagang laku. Sesucine asarana saking warih, Kang wus lumrah limang wektu, Wantu wataking weweton. Terjemahan dalam bahasa Indonesia: Sembah raga adalah, perbuatan orang yang baru memulai perjalanan. Bersucinya memakai sarana dari air, Yang wajib adalah lima waktu, Bersifat menuruti aturan dan rukun. Kajian per kata: Sembah (ibadah) raga (raga, tubuh) punika (itu adalah), pakartine (perbuatan) wong (orang) amagang (baru memulai) laku (perjalanan). Sembah raga adalah, perbuatan orang yang baru memulai perjalanan. Sembah raga adalah ibadahnya tubuh. Bahwa kita manusia diciptakan dengan tubuh biologis, yang tunduk pada hukum-hukum materi. Tubuh adalah sarana kita untuk hidup di dunia materi ini, tanpanya niscaya kita tak dapat beraktivitas. Walau kelak akan fana dan kita tinggalkan, tubuh juga berhak untuk mengungkapkan keagungan Allah, Sang Pencipta. Maka ada tatacara yang khusus bagi tubuh dalam menyembah Tuhan. Dalam agama Islam bentuk penyembahan itu adalah shalat. Dalam shalat dilakukan penyembahan melalui tubuh dengan melakukan gerakan-gerakan sesuai rukun- rukun tertentu, itulah yang disebut sembah raga. Sembah raga ini adalah awal dari perjalanan, awal dari laku yang harus dijalani manusia. Setiap orang muslim yang hendak menjalankan agama pastilah sesudah akil baligh diwajibkan menjalankan shalat. Entah yang bersangkutan sudah paham atau belum mengapa harus shalat, entah yang bersangkutan tahu atau tidak apa gunanya shalat, semua wajib melakukan itu. Karena sembah raga ini adalah bentuk dari pengakuan kita akan kebesaran Allah. Pengakuan itu diwujudkan dalam ritual sujud dan ruku’, merendahkan diri kita serendah-rendahnya di hadapanNya. Sembah raga adalah ibadahnya tubuh. Mengapa sembah raga disebut sebagai awal dari perjalanan? Karena sesungguhnya hakekat manusia bukanlah tubuhnya, tubuh hanya sarana untuk hidup di dunia. Kelak ruh kita yang akan abadi menghadap Allah di alam baqa. Tetapi pengenalan ruh tak dapat dilakukan serta- merta. Kemampuan kita dalam mengenali hakekat diri takkan berhasil jika tidak melalui tubuh. Tubuhlah sarana kita mengenali alam sekitar, baru kemudian mengenali tanda- tandaNya yang tak tampak di dunia. Tubuhlah yang paling awal menemani ruh di dunia materi ini. Maka ibadah atau sembah apapun yang dilakukan tubuh adalah awal dari sembah- sembah yang lain. Sesucine (bersucinya) asarana (memakai sarana) saking (dari) warih (air). Bersucinya memakai sarana dari air. Syarat-syarat untuk melakukan ibadah shalat adalah bersuci dengan air. Ini sesuai watak dari tubuh yang bersifat materi, yang hanya dapat dibersihkan dengan materi juga. Kang (yang) wus lumrah (sudah umum, wajib) limang (lima) wektu (waktu). Yang wajib adalah lima waktu. Sembah raga yang wajib adalah lima waktu, yakni shalat wajib yang harus dilakukan oleh setiap orang. Di luar kewajiban lima waktu ada banyak shalat sunat yang dianjurkan kepada seorang muslim sesuai dengan kesanggupan dan keadaan masing-masing. Bersifat tidak wajib dan opsional, sesuai dengan situasai, kondisi dan kelonggaran masing-masing orang. Wantu (berkala) wataking (bersifat) weweton (aturan, rukun). Bersifat menuruti aturan waktu dan rukun. Shalat wajib yang lima waktu tadi tidak bisa dikerjakan secara sembarangan karena ada batasan waktu dan rukun-rukun, serta syarat-syarat untuk melakukannya. Waktunya harus sudah masuk sesuai waktu masing-masing, yakni shalat Subuh selepas fajar, shalat Dhuhur selepas tergelincir matahari, Shalat Ashar menjelang matahari turun, shalat Magrib sesudah terbenam matahari dan shalat Isya’ menjelang malam. Juga ada rukun-rukun tertentu yang harus dipatuhi, dari takbiratul ikram sampai salam. Serta harus memenehi syarat-syarat tertentu. Untuk lebih detailnya dapat dilihat di buku-buku fikih, karena akan panjang jika diuraikan di sini. Selain sebagai salah satu penyembahan, shalat juga dimaksudkan untuk mendisiplinkan manusia berkenaan dengan hubungan antara tubuh dan ruh. Juga ada konsekuensi logis dari pelaksanaan shalat pada tataran tubuh fisik. Contohnya seseorang yang shalat dengan tertib dan ajeg, pasti akan tampak berseri raut mukanya, karena paling tidak dalam sehari lima kali dia harus membasuh muka. Masih ada banyak manfaat sampingan dari shalat ini, bait-bait selanjutkan serat Wedatama akan menguraikannya untuk kita pelajari bersama. Kajian Wedatama (50): Sarengate Elok-elok Bait ke-50, Pupuh Gambuh, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV: Inguni uni durung, sinarawung wulang kang sinerung. Lagi iki bangsa kas ngetokken anggit. Mintokken kawignyanipun, sarengate elok-elok. Terjemahan dalam Bahasa Indonesia: Dahulu kala belum pernah, dikenalkan dengan pelajaran tersembunyi. Baru sekarang kelompok yang bersemangat memperlihatkan angan-angannya. Memeperlihatkan kemampuannya, dengan tata cara yang aneh-aneh. Kajian per kata: Inguni (ing uni, pada dahulu) uni (dulu) durung (belum), sinarawung (dikenalkan) wulang (pelajaran) kang (yang) sinerung (tersembunyi, rahasia). Pada jaman dahulu kala belum pernah, dikenalkan pelajaran yang tersembunyi. Ini masih berkaitan dengan macam-macam sembah yang disebutkan pada bait ke-48, bahwa pada zaman sebelum ini belum pernah dikenalkan dengan pelajaran yang tersembunyi, kita sebut saja ilmu batin (wulang kang sinerung). Yang dimaksud adalah tentang pelajaran tentang tiga sembah yang terakhir. Yang sudah diketahui umumnya baru apa yang terlihat jelas, yakni hanya sembah raga saja. Amalan-amalan yang dilakukan baru sebatas amalan tubuh, yang karenanya cukup mudah dipahami. Amalan-amalan batin belum diperkenalkan karena memang kemauan untuk mempelajari hal itu belum kuat, belum ada semangat untuk mempelajarinya. Lagi iki (baru sekarang) bangsa (kelompok) kas (kemauan, semangat) ngetokken (memperlihatkan) anggit (rekaan, angan). Baru sekarang kelompok yang bersemangat memperlihatkan angan-angannya. Hal ini sangat mungkin merujuk pada kondisi waktu serat ini digubah. Ada semangat untuk mempelajari hal-hal spiritual pada sebagian kalangan anak muda. Namun karena belum ada piwulang yang dapat dipakai sebagai pedoman maka banyak yang masih menduga-duga, hanya berangan-angan saja (anggit). Mintokken (memperlihatkan) kawignyanipun (kemampuannya), sarengate (tatacara, aturan) elok-elok (aneh-aneh). Memeperlihatkan kemampuannya dengan tata cara (syariat) yang aneh-aneh. Orang-orang yang bersemangat tadi tidak ragu-ragu memperlihatkan kemampuannya dalam mengamalkan laku spritual, namun karena sesungguhnya mereka adalah para pemula yang belum berpengalaman. Banyak dari mereka yang justru memperlihatkan keanehan-keanehan. Ini tampak pada tatacara ibadah mereka yang mungkin tak biasa bagi orang awam. Frasa sarengate elok-elok di atas menujukkan praktik tatacara ibadah yang tak lazim. Kata elok dalam bahasa Jawa berarti ajaib, atau di luar nalar yang sudah dipahami secara umum, membuat orang keheranan. Apa saja praktik ibadah yang aneh itu? Bait berikutnya akan sedikit mengungkap satu contoh yang ada di jaman itu. Akan lebih baik dari segi keruntutan pengertian apabila kajian bait ini disatukan dengan bait berikutnya. Namun karena kita konsisten untuk mengkaji per bait, maka kita cukupkan dulu sampai di sini. Jangan ketinggalan pada kajian bait selanjutnya.