Minggu, 25 November 2018

Selasa, 20 November 2018

Mengenal Ken Arok

Naskahkuno KITAB PARA DATU ATAU KISAH KEN ANGROK. Tuhan, Pencipta, Pelindung dan Pengakhir Alam, Semoga tak ada halangan, Sudjudku sesempurna sempurnanya. I. Demikian inilah kisah Ken Angrok. Asal mulanja, ia didjadikan manusia: Adalah seorang anak janda di Jiput, bertingkah laku tak baik, memutus - mutus tali kekang kesusilaan, menjadi gangguan Hyang yang bersifat gaib; pergilah ia dari Jiput, mengungsi ke daerah Bulalak. Nama yang dipertuan di Bulalak itu: Mpu Tapawangkeng, ia sedang membuat pintu gerbang asramanya, dimintai seekor kambing merah jantan oleh roh pintu. Kata Tapawangkèng: "Tak akan berhasil berpusing kepala, akhirnya ini akan menjebabkan diriku jatuh kedalam dosa, kalau sampai terjadi aku membunuh manusia, tak akan ada yang dapat menyelesaikan permintaan korban kambing merah itu." Kemudian orang yang memutus mutus tali kekang kesusilaan tadi berkata, sanggup mejadi korban pintu Mpu Tapawangkeng, sungguh ia bersedia dijadikan korban, agar ini dapat menjadi lantaran untuk dapat kembali ke surga dewa Wisnu dan menjelma lagi didalam kelahiran mulia, ke alam tengah lagi, demikianlah permintaannya. Demikianlah ketika ia direstui oleh Mpu Tapawangkeng, agar dapat menjelma, disetujui inti sari kematiannya, akan menikmati tujuh daerah. Sesudah mati, maka ia dijadikan korban oleh Mpu Tapawangkeng. Selesai itu, ia terbang ke surga Wisnu, dan tidak bolak inti perjanjian yang dijadikan korban, ia meminta untuk dijelmakan di sebelah timur Kawi. Dewa Brahma melihat lihat siapa akan dijadikan temanya bersepasang. Sesudah demikian itu, adalah mempelai baru, sedang cinta mencintai, yang laki laki bernama Gajahpara, yang perempuan bernama Ken Endok, mereka ini bercocok tanam. Ken Endok pergi ke sawah, mengirim suaminya, yalah: si Gadjahpara; nama sawah tempat ia: mengirim : Ayuga; desa Ken Endok bernama Pangkur. Dewa Brahma turun kesitu, bertemu dengan Ken Endok, pertemuan mereka kedua ini terdjadi di ladang Lalaten; dewa Brahma mengenakan perjanjian kepada isteri itu: "Jangan kamu bertemu dengan lakimu lagi, kalau kamu bertemu dengan suamimu, ia akan mati, lagi pula akan tercampur anakku itu, nama anakku itu: Ken Angrok, dialah yang kelak akan memerintah tanah Jawa". Dewa Brahma lalu menghilang. Ken Endok lalu ke sawah, berjumpa dengan Gajahpara. Kata Ken Endok: "Kakak Gajahpara, hendaknyalah maklumi, saya ditemani didalam pertemuan oleh Hyang yang tidak tampak di ladang Lalateng, pesan beliau kepadaku: jangan tidur dengan lakimu lagi, akan matilah lakimu, kalau ia memaksa tidur dengan kamu, dan akan tercampurlah anakku itu. Lalu pulanglah Gajahpara, sesampainya di rumah Ken Endok diajak tidur, akan ditemani didalam pertemuan lagi. Ken Endok segan terhadap Gajahpara. "Wahai, kakak Gajahpara putuslah perkawinanku dengan kakak, saya takut kepada perkataan Sang Hyang. Ia tidak mengijinkan aku berkumpul dengan kakak lagi." Kata Gadjahpara: "Adik, bagaimana ini, apa yang harus kuperbuat, nah tak berkeberatan saya, kalau saya harus bercerai dengan kamu; adapun harta benda pembawaanmu kembali kepadamu lagi, adik, harta benda milikku kembali pula kepadaku lagi". Sesudah itu Ken Endok pulang ke Pangkur di seberang utara, dan Gajahpara tetap bertempat tinggal di Campara di seberang selatan. Belum genap sepekan kemudian matilah Gajahpara. Kata orang yang mempercakapkan: "Luar biasa panas anak didalam kandungan itu, belum seberapa lama perceraian orang tua laki laki perempuan sudah diikuti, orang tua laki laki segera meninggal dunia". Akhirnja sesudah genap bulannya, lahirlah seorang anak laki-laki, dibuang di kuburan kanak kanak oleh Ken Endok. Selanjutnya ada seorang pencuri, bernama Lembong, tersesat di kuburan anak anak itu, melihat benda bernyala, didatangi oleh Lembong, mendengar anak menangis, setelah didekati oleh Lembong itu, nyatalah yang menyala itu anak yang menangis tadi, diambil diambin dan dibawa pulang diaku anak oleh Lembong. Ken Endok mendengar, bahwa Lembong memungut seorang anak, teman Lembonglah yang memberitakan itu dengan menyebut nyebut anak, yang didapatinya di kuburan kanak kanak, tampak bernyala pada waktu malam hari. Lalu Ken Endok datang kepadanya, sungguhlah itu anaknya sendiri. Kata Ken Endok: "Kakak Lembong, kiranya tuan tidak tahu tentang anak yang tuan dapat itu, itu adalah anak saya, kakak, jika kakak ingin tahu riwayatnya, demikianlah: Dewa Brahma bertemu dengan saya, jangan tuan tidak memuliakan anak itu, karena dapat diumpamakan, anak itu beribu dua berayah satu, demikian persamaannya." Lembong beserta keluarganya semakin cinta dan senang, lambat laun anak itu akhirnya menjadi besar, dibawa pergi mencuri oleh Lembong. Setelah mencapai usia sebaya dengan anak gembala, Ken Angrok bertempat tinggal di Pangkur. Habislah harta benda Ken Endok dan harta benda Lembong, habis dibuat taruhan oleh Ken Angrok. Kemudian ia menjadi anak gembala pada yang dipertuan di Lebak, menggembalakan sepasang kerbau, lama kelamaan kerbau yang digembalakan itu hilang, kerbau sepasang diberi harga delapan ribu oleh yang dipertuan di Lebak, Ken Angrok sekarang dimarahi oleh orang tua laki laki dan perempuan, kedua duanya: "Nah buyung, kami berdua mau menjadi hamba tanggungan, asal kamu tidak pergi saja, kami sajalah yang akan menjalani, menjadi budak tanggungan pada yang dipertuan di Lebak". Akhirnya tidak dihiraukan, Ken Angrok pergi, kedua orang tuanya ditinggalkan di Campara dan di Pangkur. Lalu Ken Angrok pergi mencari perlindungan di Kapundungan; Orang yang diungsi dan dimintai tempat berlindung tak menaruh belas kasihan. Ada seorang penjudi permainan Saji berasal dari Karuman, bernama Bango Samparan, kalah bertaruhan dengan seorang bandar judi di Karuman, ditagih tak dapat membayar uang, Bango Samparan itu pergi dari Karuman, berjiarah ke tempat keramat Rabut Jalu, mendengar kata dari angkasa, disuruh pulang ke Karuman lagi. "Kami mempunyai anak yang akan dapat menyelesaikan hutangmu ia bernama Ken Angrok." Pergilah Bango Samparan dari Rabut Jalu, berjalan pada waktu malam, akhirnya menjumpai seorang anak, dicocokkan oleh Bango Samparan dengan petunjuk Hyang, sungguhlah itu Ken Angrok, dibawa puIang ke Karuman, diaku anak oleh Bango Samparan. Dia itu lalu ketempat berjudi, bandar judi ditemui oleh Bango Samparan dilawan berjudi, kalahlah bandar itu, kembali kekalahan Bango Samparan, memang betul petunjuk Hyang itu, Bango Samparan pulang, Ken Angrok dibawa pulang oleh Bango Samparan. Bango Samparan berbayuh dua orang bersaudara, Genuk Buntu nama istri tuanja. dan Tirtaya nama isteri mudanja. Adapun nama anak anaknya dari isteri muda, yalah Panji Bawuk, anak tengah Panji Kuncang, adiknya ini Panji Kunal dan Panji Kenengkung, bungsu seorang anak perempuan bernama Cucu Puranti. Ken Angrok diambil anak oleh Genuk Buntu. Lama ia berada di Karuman, tidak dapat sehati dengan semua para Panji itu, Ken Angrok berkehendak pergi dari Karuman. Lalu ia ke Kapundungan bertermu dengan seorang anak gembala anak tuwan Sahaja, kepala desa tertua di Sagenggeng, bernama Tuwan Tita; ia bersahabat karib dengan Ken Angrok. Tuwan Tita dan Ken Angrok sangat cinta mencinta, selanjutnya Ken Angrok bertermpat tinggal pada Tuwan Sahaja, tak pernah berpisahlah Ken Angrok dan Tuwan Sahaja itu, mereka ingin tahu tentang bentuk huruf huruf, pergilah ke seorang guru di Sagenggeng, sangat ingin menjadi murid, minta diajar sastera. Mereka diberi pelajaran tentang bentuk bentuk bentuk dan penggunaan pengetahuan tentang huruf huruf hidup dan huruf huruf mati, semua perobahan huruf, juga diajar tentang sengkalan, perincian hari tengah bulan, bulan, tahun Saka, hari enam, hari lima, hari tujuh, hari tiga, hari dua, hari sembilan, nama nama minggu. Ken Angrok dan Tuwan Tita kedua duanya pandai diajar pengetahuan oleh Guru. Ada tanaman guru, menjadi hiasan halaman, berupa pohon jambu, yang ditanamnya sendiri. Buahnya sangat lebat, sungguh padat karena sedang musimnya, dijaga baik tak ada yang diijinkan memetik, tak ada yang berani mengambil buah jambu itu. Kata guru: "Jika sudah masak jambu itu, petiklah". Ken Angrok sangat ingin, melihat buah jambu itu, sangat dikenang kenangkan buah jambu tadi. Setelah malam tiba waktu orang tidur sedang nyenyak nyenyaknya, Ken Angrok tidur, kini keluarlah kelelawar dari ubun ubun Ken Angrok, berbondong bondong tak ada putusnya, semalam malaman makan buah jambu sang guru. Pada waktu paginya buah jambu tampak berserak serak di halaman, diambil oleh pengiring guru. Ketika guru melihat buah jambu rusak berserakan di halaman itu, maka rnendjadi susah. Kata guru kepada murid murid: "Apakah sebabnya maka jambu itu rusak." Menjawablah pengiring guru: "Tuanku rusaklah itu, karena bekas kelelawar makan jambu itu". Kemudian guru mengambil duri rotan untuk mengurung jambunya dan dijaga semalam malaman. Ken Angrok tidur lagi diatas balai balai sebelah selatan, dekat tempat daun ilalang kering, di tempat ini guru biasanya menganyam atap. Menurut penglihatan, guru melihat kelelawar penuh sesak berbondong bondong, keluar dari ubun ubun Ken Angrok, semuanya makan buah jambu guru, bingunglah hati guru itu, merasa tak berdaya mengusir kelelawar yang banyak dan memakan jambunya, marahlah guru itu, Ken Angrok diusir oleh guru, kira kira pada waktu tengah malam guru rnengusirnya. Ken Angrok terperanjat, bangun terhuyung huyung, lalu keluar, pergi tidur di tempat ilalang di luar. Ketika guru menengoknya keluar, ia melihat ada benda menyala di tengah ilalang, guru terperanjat mengira kebakaran, setelah diperiksa yang tampak menyala itu adalah Ken Angrok, ia disuruh bangun, dan pulang, diajak tidur di dalam rumah lagi, menurutlah Ken Angrok pergi tidur di ruang tengah lagi. Pagi paginya ia disuruh mengambil buah jambu oleh guru, Ken Angrok senang. katanya : "Aku mengharap semoga aku menjadi orang, aku akan membalas budi kepada guru." Lama kelamaan Ken Angrok telah menjadi dewasa, menggembala dengan Tuwan Tita, membuat pondok, bertempat di sebelah timur Sagenggeng, di ladang Sanja, dijadikan tempatnya untuk menghadang orang yang lalu lintas di jalan, dengan Tuwan Titalah temannya. Adalah seorang penyadap enau di hutan orang Kapundungan, mempunyai seorang anak perempuan cantik, ikut serta pergi ke hutan, dipegang oleh Ken Angrok, ditemani didalam pertemuan didalam hutan, hutan itu bernama Adiyuga. Makin lama makin berbuat rusuhlah Ken Angrok, kemudian ia memperkosa orang yang melalui jalan, hal ini diberitakan sampai di negara Daha, bahwasanya Ken Angrok berbuat rusuh itu, maka ia ditindak untuk dilenyapkan oleh penguasa daerah yang berpangkat akuwu, bernama Tunggul Ametung. Pergilah Ken Angrok dari Sagenggêng, mengungsi ke tempat keramat. Rabut Gorontol. "Semoga tergenang didalam air, orang yang akan melenyapkan saya" kutuk Ken Angrok, semoga keluar air dan tidak ada, sehingga terdjadilah tahun tak ada kesukaran di Jawa." Ia pergi dari Rabut Gorontol, mengungsi ke Wayang, ladang di Sukamanggala. Ada seorang pemikat burung pitpit, ia memperkosa orang yang sedang rnemanggil manggil burung itu, lalu menuju ke tempat keramat Rabut Katu. Ia heran, melihat tumbuh tumbuhan katu sebesar beringin, dari situ lari mengungsi ke Jun Watu, daerah orang sempurna, mengungsi ke Lulumbang, bertempat tinggal pada penduduk desa, keturunan golongan tentara, bernana Gagak Uget. Lamalah ia bertempat tinggal disitu, memerkosa orang yang sedang rnelalui jalan. Ia lalu pergi ke Kapundungan, mencuri di Pamalantenan, ketahuanlah ia, dikejar dikepung, tak tahu kemana ia akan mengungsi, ia memanjat pohon tal, di tepi sungai, setelah siang, diketahui, bahwasanya ia memanjat pohon tal itu, ditunggu orang Kepundungan dibawah, sambil dipukulkan canang, Pohon tal itu ditebang oleh orang-orang yang mengejarnya. Sekarang hi menangis, menyebut nyebut Sang Pentjipta Kebaikan atas dirinya, akhirnya ia mendengar sabda dari angkasa, ia disuruh memotong daun tal, untuk didjadikan sayapnya kiri kanan, agar supaya dapat melayang ke seberang timur, mustahil ia akan mati, lalu ia memotong daun tal mendapat dua helai, dijadikan sayapnya kiri kanan, ia melayang keseberang timur, dan mengungsi ke Nagamasa, diikuti dikejar, mengungsilah ia kedaerah Oran masih juga dikejar diburu, lari mengungsi ke daerah Kapundungan, yang dipertuan di daerah Kapundungan didapatinya sedang bertanam, Ken Angrok ditutupi dengan cara diaku anak oleh yang dipertuan itu. Anak yang dipertuan di daerah itu sedang bertanam, banyaknya enam orang, kebetulan yang seoarang sedang pergi mengeringkan empangan, tinggal 1ima orang; yang sedang pergi itu diganti menanam oleh ken Angrok, datanglah yang mengejarnya, seraya berkata kepada penguasa daerah: "Wahai, tuan kepala daerah, ada seorang perusuh yang kami kejar, tadi mengungsi kemari." meanjawablah penguasa daerah itu: "Tuan tuan, kami tidak sungguh bohong kami tuan, ia tidak disini; anak kami enam orang, yang sedang bertanam ini genap enam orang, hitunglah sendiri saja, jika lebih dari enam orang tentu ada orang lain disini" Kata orang-orang yang mengejar: "Memang sungguh, anak penguasa daerah enam orang, betul juga yang bertanam itu ada enam orang." Segera pergilah yang mengejar. Kata penguasa daerah kepada ken Angrok: "Pergilah kamu, buyung, jangan jangan kembali yang mengejar kamu, kalau kalau ada yang membicarakan kata kataku tadi, akan sia sia kamu berlindung kepadaku, pergilah mengungsi ke hutan". Maka kata ken Angrok: "Semoga berhenti lagilah yang mengejar, itulah sebabnya maka Ken Angrok bersembunyi di dalam hutan, Patangtangan nama hutan itu. Selanjutnya ia mengungsi ke Ano, pergi ke hutan Terwag. ia semakin merusuh. Adalah seorang kepala lingkungan daerah Luki akan melakukan pekerjaan membajak tanah, berangkatlah ia membajak ladang, mempesiapkan. tanahnya untuk ditanami kacang, membawa nasi untuk anak yang menggembalakan lembu kepala Lingkungan itu, dimasukkin kedalam tabung bambu, diletakkan diatas onggokan; sangat asyiklah kepala Lingkungan itu, selalu membajak ladang kacang saja, maka dirunduk diambil dan dicari nasinya oleh Ken Angrok, tiap tiap hari terdjadi demikian itu, kepala Lingkungan bingunglah, karena tiap tiap hari kehilangan nasi untuk anak gembalanya, kata kepala Lingkungan: "Apakah sebabnya maka nasi itu hilang".

Senin, 12 November 2018

Dumadya Angratoni

Kajian Wedatama (18): Dumadya Angratoni Bait ini menceritakan hubungan antara Panembahan Senopati dan Ratu Kidul. Jauh dari kesan bahwa Ratu Kidul adalah penguasa alam ghaib yang juga berkuasa atas nasib manusia, di dalam bait ini justru dikisahkan bahwa Ratu Kidul tunduk di bawah wibawa Raja Mataram. Selengkapnya bait ke-18, Pupuh Sinom dari Serat Wedatama adalah sebagai berikut. Wikan wengkoning samudra, kederan wus den ideri. Kinemat kamot ing driya. Rinegan sagegem dadi, dumadya angratoni. Nenggih kanjeng ratu kidul, ndedel nggayuh nggegana. Umara marak maripih. Sor prabawa lan wong agung Ngeksiganda. Terjemahan dalam Bahasa Indonesia: Mengetahui luasnya wilayah samudera, Seluruhnya sudah dilalui, Dirasakan dan diresapi dalam sanubari. Dimuat dalam genggaman, jadilah (laut itu) dikuasai. Tersebutlah kanjeng Ratu Kidul, melesat menggapai angkasa. Datang menghadap dengan hormat. Kalah wibawa dengan orang besar dari Mataram. Kajian per kata: Wikan (tahu, mengetahui) wengkoning (keliling wilayah) samudra (samudera), kederan (kelilingnya) wus (sudah) den (di) ideri (dilewati dengan tuntas). Mengetahui luasnya wilayah samudera, sudah tuntas dikelilingi seluruh wilayahnya. Ini berkaitan dengan tempat bertapa Panembahan Senopati yang berada di pinggir laut. Bahwa beliau sudah mengetahui wilayah luasnya samudera karena sudah berkeliling sampai tuntas, tak ada sejengkal pun yang terlewati. Sekeliling samudera sudah dijelajahi. Kinemat (dirasakan sungguh-sungguh) kamot (dimuat ) ing (di dalam) driya (hati). Sudah dikuasai isinya, dimasukkan dalam hati. Ini berkaitan dengan potensi lautan tersebut. Hal apa saja yang dapat dilakukan di lautan tersebut. Apakah dibudidayakan potensi penghasil ikannya, atau dikembangkan potensi lainnya. Rinegan (dinilai, dikerta aji) sagegem (satu genggaman) dadi (muat), dumadya (jadilah) angratoni (menjadi ratu/raja). Ditaksir muat dalam genggaman, jadilah laut itu dengan segala isinya dapat dikuasai. Setelah dinilai, disurvey dengan berkeliling tadi, maka digenggamlah, artinya siap dieksplorasi. Sudah disiapkan rencana eksekusi untuk menggali potensi kelautan tersebut. Angratoni berarti menjadi raja di laut itu. Dalam bahasa jawa ratu bisa bersinonim dengan kata raja, tidak terkait dengan gender. Contohnya pada paribasan, adoh ratu cedhak watu, yang bermakna jauh dari raja dekat dengan batu, kiasan untuk orang di pedalaman yang tidak mengenal etika kenegaraan. Nenggih (tersebutlah) kanjeng (yang berdiri) ratu kidul (sebagai ratu di selatan), ndedel (melesat) nggayuh (mencapai) nggegana (mengangkasa, mengudara). Tersebutlah yang berdiri sebagai ratu di selatan (Ratu Kidul), melesat menggapai angkasa. Ini merujuk ke tokoh ghaib yang dipercaya menguasai laut selatan dan sering dipanggil sebagai Ratu Kidul. Tersebutlah ratu Kidul, yang berada di dalam laut selatan, Samudera Indonesia. Dari tempatnya di dalam lautan, melesat menggapai angkasa di atas permukaan laut, setelah melihat sepak terjang Panembahan Senopati tersebut. Umara (datang) marak (menghadap) maripih (dengan hormat). Datang menghadap dengan sikap hormat. Maripih adalah sikap hormat, gestur menghormati, sebagai pertanda bahwa yang dihadapi adalah orang besar yang berwibawa. Jadi gatra ini menunjukkan bahwa Ratu Kidul datang menghormati Panembahan Senopati. Sor (lebih rendah) prabawa (wibawa) lan (dengan) wong (orang) agung (besar) Ngeksiganda (Mataram). Kalah wibawa dengan orang besar dari Mataram. Mengapa Ratu Kidul mendatangi? Karena memang kalah wibawa, merasa dirinya lebih rendah derajatnya dibanding orang besar dari Mataram itu. Bait ke-18 ini meluruskan mitos yang selama ini beredar bahwa Panembahan Senopati bertapa di pinggir Samudera adalah untuk minta restu pada Ratu Kidul agar didukung menjadi raja. Yang benar menurut bait di atas adalah memang Ratu Kidul yang datang karena kewibawaan Senopati yang derajat spiritualnya sudah melampaui Ratu Kidul sendiri. Catatan tambahan: Bahwa cerita tentang Ratu Kidul ini sudah beredar di kalangan masyarakat sampai ke lapisan bawah. Sebagian orang memang menganggap Ratu Kidul sedemikian berkuasa sehingga mampu mengubah nasib seseorang. Sebagian lagi menganggap Ratu Kidul adalah mitos yang sengaja dihembuskan agar Panembahan Senopati mendapat legitimasi spiritual untuk menjadi raja Mataram. Pendapat yang masuk akal adalah pendapat terakhir, dari seorang pakar filsafat asal Jogja. Bahwa cerita tentang Ratu Kidul adalah simbolisme menyatunya Raja Mataram dengan alam. Kelak ada cerita bahwa raja-raja Mataram harus menikahi Ratu Kidul. Ini juga simbolisme bahwa penguasaan Mataram terhadap alam khususnya bumi tidak boleh eksploitatif, tetapi relasinya harus mirip orang menikah, mengasihi (alam) dan memberdayakan(nya). Saya cukupkan tambahan keterangan ini, kelak semoga dapat mengkaji lebih jauh. Karena pokok bahasan kita kali ini hanya soal makna gramatikal Werat Wedatama, tak bijak jika melebar ke mana-mana. Kajian Wedatama (19): Teken Janggut Suku Jaja Bait ke-19, Serat Wedatama, Pupuh Sinom. Dhahat denira aminta Sinupeket pangkat kanthi, Jroning alam palimunan, Ing pasaban saben sepi, Sumanggen anyanggemi, Ing karsa kang wus tinamtu, Pamrihe amung aminta, Supangate teki teki, Nora ketang teken janggut suku jaja. Terjemahan dalam Bahasa Indonesia: Dengan sangat dirinya meminta, Agar akrab didudukkan sebagai pengikut, Di dalam alam ghaib, Di kala mengembara di alam sepi, Siap menyanggupi, Kehendak yang sudah ditentukan, Harapannya hanya meminta Restu dalam bertapa, Walau harus bersusah payah jalannya. Kajian per kata: Dhahat (Betul-betul, dengan sangat) denira (dirinya) aminta (meminta), sinupeket (didekatkan menjadi lengket, akrab) pangkat (kedudukan, diberi pangkat, diikutkan) kanthi (dengan).Ratu Kidul meminta dengan sangat, didekatkan agar akrab dengan diberi kedudukan Karena sudah kalah wibawa dengan Panembahan Senopati, Ratu Kidul datang menghadap dengan hormat dan meminta dengan sangat agar diberi kedudukan sebagai pengikut, tak lain agar dapat membantu sesuai dengan kemampuannya. Jroning (di dalam) alam (alam) palimunan (tak kasat mata,ghaib), ing (di) pasaban (pengembaraan) saben (setiap waktu, setiap tempat) sepi (sepi). Di alam tak kasat mata, alam ghaib, dalam pengembaraan di alam sepi. Yakni, sebagai penghuni yang berkuasa di alam ghaib, dikala mengembara di alam sepi. Maksud dari gatra ini adalah apabila Panembahan Senopati berkelana di alam sepi, maka sudah ada pengikutnya yang akan setia menemani, yakni Ratu Kidul. Sumanggen (bersedia) anyanggemi (menyanggupkan diri). Ing (pada) karsa (kehendak) kang (yang) wus (sudah) tinamtu (ditentukan). Bersedia, menyanggupkan diri menerima perintah, pada kehendak (sang raja) yang telah ditentukan. Ratu Kidul bersedia, menyanggupkan diri pada semua kehendak dan perintah sang raja yang telah ditentukan baginya. Dia takkan membantah atau mengabaikan perintah itu. Pamrihe (Yang diharapkan) amung (hanya) aminta (meminta), supangate (restu, perkenan) teki teki (bertapa). Yang diharapkan hanya diijinkan meminta, restu dalam bertapa. Adapun alasan dari Ratu Kidul dalam menyanggupi tersebut adalah agar dia dijadikan sebagai pengikut dan direstui dalam bertapa. Sudah umum menjadi kepercayaan masyarakat Jawa bahwa Ratu Kidul adalah seorang bidadari yang tidak diterima naik ke kahyangan akibat telah berbuat salah. Oleh karena itu dia kemudian bertapa di laut selatan. Ketika melihat cara bertapa Panembahan Senopati, tampaknya dia terpesona dengan cara beliau bertapa. Demi agar pertapaannya berhasil Ratu Kidul hendak berguru atau mencontoh pertapaan sang raja. Inilah alasan dari ketundukan Ratu Kidul pada raja Mataram itu. Nora ketang (walau) teken (bertongkat) janggut (dagu) suku (kaki) jaja (dada). Walau bertongkat dagu berkaki dada. Ini adalah peribahasa Jawa, ateken janggut asuku jaja. Arti tekstualnya, memakai dagu sebagai tongkat dan memakai dada sebagai kaki dalam berjalan, merangkak atau ngesot. Maksudnya adalah usaha yang keras dan bersusah payah sampai batas kemampuan. Di sini Ratu Kidul menyatakan kesanggupan untuk menerima perintah dari raja Mataram agar mendapat restu dalam bertapa. Ratu Kidul hendak meneladani pertapaan raja Mataram itu, walau pertapaannya itu nanti akan sangat sulit baginya. Dia (Ratu Kidul) bertekad melaksanakannya walau dengan susah payah, ibarat bertongkat dadu berkaki dada. Kajian Wedatama (20): Teladan Abadi Bait ke-19, Pupuh Sinom, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV: Prajanjine abipraya, Saturun turuning wuri. Mangkono trahing ngawirya. Yen amasah mesu bedi, dumadya glis dumugi. Iya ing sakarsanipun, wong agung Ngeksiganda. Nugrahane prapteng mangkin, Trah tumerah dharahe padha wibawa. Terjemahan dalam Bahasa Indonesia: Perjanjian yang bertujuan baik. Sampai anak cucu di kemudian hari. Begitulah sikap keturunan orang luhur. Bila mempertajam hati, akhirnya segera kesampaian. Apa yag dimaksud, orang besar dari Mataram. Anugrahnya (lestari) sampai sekarang, seluruh keturunan berwibawa. Kajian per kata: Prajanjine (perjanjiannya) abipraya (rencana, tujuan). Perjanjiannya bertujuan baik. Tampaknya bait ini masih mengacu pada bait sebelumnya, tentang permintaan dari Ratu Kidul agar direkrut menjadi pengikut Senopati. Sungguh ini adalah sebuah ketegasan dan keteguhan mental yang luar biasa dari Panembahan Senopati. Bila ini terjadi pada orang lain mungkin akan menyerah pada pesona ratu lelembut itu. Tapi dengan tegas Panembahan Senopati mendudukkan Ratu Kidul hanya sebagai pengikut yang membantu cita-citanya memakmurkan kerajaan Mataram. Saturun (sampai turun) turuning (temurun) wuri (nanti). Sampai turun-temurun, ke anak- cucu di kemudian hari. Langkah yang diambil Senopati sangat menguntungkan bagi keturunannya di kemudian hari. Sikapnya akan menjadi preseden tentang bagaimana hubungan antara manusia dan alam tak kasat mata. Kelak ada cerita bahwa raja-raja sepeninggal Senopati akan mewarisi pernikahan dengan Ratu Kidul. Tentu ini adalah simbolisme dari kekalnya relasi yang telah dirintis oleh Panembahan Senopati. Mangkono (begitulah) trahing (keturunan) ngawirya (orang perwira, ksatria, luhur). Begitulah sikap keturunan orang luhur. Orang-orang yang berjiwa luhur meninggalkan keteladanan yang diwariskan kepada anak cucu, sehingga akan mudahlah bagi penerusnya nanti untuk melakukan hal yang sama. Sikap keperwiraan yang ditunjukkan akan menjadi teladan bagi anak cucu, sebagaimana Senopati juga hanya mewarisi sikap serupa dari para leluhurnya yang sudah terkenal keperwiraannya. Yen (kalau) amasah (mengasah) mesu (menajamkan) budi (akal budi), dumadya (yang diharap) glis (segera) dumugi (kesampaian). Bila berusaha mengasah ketajaman akal budi, kepekaan hat, yang diharap bisa segera kesampaian. Karena sudah ada teladan dari Panembahan Senopati itulah, anak cucunya nanti tidak akan bersusah payah dalam upaya mempertajam akal budi, melatih kepekaan hati melalui laku tirakat, menahan hawa nafsu, merenung di tempat sepi, dll. Yang demikian karena sudah ada teladan dari leluhur mereka. Iya (iya ini) ing sakarsanipun (yang dikehendaki), wong (orang) agung (besar) Ngeksiganda (Mataram). Yang demikian inilah yang dikehendai, orang besar dari Mataram. Apa yang dilakukan oleh Panembahan Senopati di atas, yang telah bersusah payah bertapa dan menahan hawa nafsu, serta tak tergoda pesona alam lelembut, itu semua demi agar anak cucu kelak mudah dalam menjalankan pemerintahan di Mataram. Itulah yang dikehendaki oleh orang besar dari Mataram itu. Nugrahane (anugrahnya) prapteng (datang) mangkin (hingga nanti). Anugrahnya masih lestari sampai sekarang. Usaha keras Panembahan Senopati buahnya masih berbekas sampai sekarang.Tak hilang sepeninggalnya, karena anak cucu meneruskan langkah-langkah bajiknya. Trah (keturunan) tumerah (semuanya) dharahe (darahnya) padha (semua) wibawa (berwibawa). Seluruh keturunannya berwibawa. Seluruh keturunan Panembahan Senopati membawa dharah orang besar, tak mengherankan jika sampai kini mereka semua menjadi orang yang berwibawa. Sebuah bibit unggul akan menumbuhkan pohon yang kuat dan elok. Kajian Wedatama (21): Tinelad Sakuwasane Bait ke-21, Pupuh Sinom, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV: Ambawani tanah Jawa, kang padha jumeneng aji. Satriya dibya sumbaga. Tan lyan trahing Senopati, Pan iku pantes ugi, tinelad labetanipun, ing sakuwasanira, Enake lan jaman mangkin, Sayektine tan bisa ngepleki kuna. Terjemahan Bahasa Indonesia: Menguasai tanah Jawa, yang menjadi raja. Satria sakti terkenal. Tidak lain keturunan Senopati. Hal ini pantas juga, untuk diteladani, sesuai kemampuan. Disesuaikan dengan jaman sekarang, Sebenarnya tak bisa persis sama dengan jaman dulu. Kajian per kata: Bait ini bercerita tentang anak keturunan Senopati yang menjadi penguasa di tanah Jawa sepeninggalnya. Seperti kita ketahui bahwa setelah Senopati wafat kerajaan Mataram di tangan para anak-cucunya mengalami dinamika yang cukup pelik. Kemudian di masa ditulisnya kitab ini telah terpecah menjadi 4 bagian kerajaan, yakni Yogyakarta, Surakarta, Mangkunegaran dan Pakualaman. Ambawani (menguasai) tanah Jawa, kang (yang) padha (pada, pada berkuasa) jumeneng (berdiri sebagai) aji (raja). Menguasai tanah Jawa, yang pada berdiri sebagai raja. Para penguasa tanah Jawa, yang memegang jabatan raja-raja di 4 kerajaan itu, seperti Pangeran Mangkubumi, Pangeran Sambernyawa, Raja Pakubuwana IV, dan banyak yang lain. Satriya (ksatria) dibya (sakti, perwira) sumbaga (termasyhur, terkenal). Ksatria yang sakti, panglima perang yang tangguh dan cerdik, yang terkenal di negeri ini. Para ksatria-ksatria, panglima perang yang tangguh, Dipanegara, Panembahan Rama, Pangeran Singosari dan ksatria terkenal lainnya yang mewarnai dinamika ketatanegaraan di empat kerajaan tersebut. Tan (tidak) lyan (lain) trahing (keturunan dari) Senopati (Panembahan Senopati). Tak lain adalah keturunan Panembahan Senopati. Tidak lain adalah keturunan Panembahan Senopati. Setelah sekian abad berkuasa di Tanah Jawa keturunan Panembahan Senopati amatlah banyak. Dari sekian banyaknya itu lahirlah orang-orang besar yang berprestasi, yang berkemampuan lebih dari orang kebanyakan. Pan (hal) iku (itu) pantes (pantas) ugi (juga), tinelad (diteladani) labetanipun (jasa-jasanya), ing sakuwasanira. Hal itu juga pantas, untuk diteladani jasa-jasanya, sesuai kemampuan masing-masing Para raja-raja dan ksatria-ksatria itu juga telah melakukan banyak hal untuk kehidupan masyarakat. Banyak jasa-jasa mereka untuk kemanusiaan, walau tentu ada juga kelemahannya, mereka pantas dijadikan teladan. Maka hendaklah meneladani perbuatan dan sikap hidup mereka berbangsa dan bermasyarakat sesuai kemampuan masing-masing. Enake (enaknya, dibuat enak) lan (sesuai) jaman (jaman) mangkin (sekarang). Disesuaikan dengan keadaan jaman sekarang. Dalam meneladani para leluhur tersebut, hendaknya disesuaikan dengan keadaan zaman sekarang. Di ambil pesan moralnya dan diterapkan sesuai dengan kondisi dan situasi zaman kini. Sayektine (sebenarnya) tan (tidak) bisa (bisa) ngepleki (persis menyerupai) kuna (jaman dulu). Sebenarnya tidak bisa persis menyerupai jaman dulu. Di dalam mencontoh teladan orang-orang dulu sebenarnya tidak dapat persis serupa. Tetapi disesuaikan tantangan jaman dan permasalahan yang dihadapi. Jika dahulu semangat Panembahan Senopati dalam mencegah hawa nafsu sampai bersusah payah, maka hendaklah generasi sekarang mempunyai tekad yang sama terhadap godaan korupsi misalnya. Jika dahulu Pangeran Mangkubumi dan Pangeran Sambernyawa gigih menentang pengaruh Belanda yang berusaha memperboneka kerajaan Surakarta, maka hendaklah sekarang para perwira-perwira kusumaning negeri juga punya semangat yang sama dalam menentang hegemoni asing dalam kehidupan masyarakat, baik lewat politik, keagamaan atau ekonomi. Yang jelas bentuk-bentuk sumbangsih terhadap kemanusiaan takkan pernah serupa, tetapi sikap kita, semangat kita, kegigihan usaha kita hendaklah sama dengan para pendahulu kita yang telah meninggalkan keteladanan yang menakjubkan.  

Karyenak Tyasing sasama

PUPUH SINOM Kajian Wedatama (15): Karyenak Tyasing Sasama Alhamdulillah, kajian kita sudah sampai pada bait ke-15, sudah masuk Pupuh Sinom. Seperti yang sudah disinggung di akhir Pupuh Pangkur, Pupuh Sinom ini ditujukan untuk kalangan muda yang masih bergairah tinggi dalam kehidupan bermasyarakat. Namun demikian gelora muda tidak sepantasnya disalurkan untuk foya-foya. Bahkan juga harus mulai berlatih mengendalikan hawa nafsu, kalau tidak akan menjadi kebiasaan buruk di masa tua. Sebagaimana orang bijak mengatakan, orang tua akan menjalani kehidupan sebagaimana ia menjalani masa muda. Selengkapnya bait ke-15 adalah sebagai berikut: Nuladha laku utama, tumrape wong Tanah Jawi. Wong agung ing Ngeksiganda, Panembahan Senopati, Kepati amarsudi, Sudane hawa lan nepsu, Pinesu tapa brata, Tanapi ing siyang ratri, Amamangun karyenak tyasing sasama. Terjemahan dalam Bahasa Indonesia. Contohlah perilaku utama. Untuk kalangan Orang Jawa, orang besar dari Mataram, Panembahan Senopati. Yang sangat keras berusaha, mengurangi hawa nafsu. Dengan jalan prihatin (tirakat). Sambil di siang malam, berbuat menyenangkan hati sesama. Kajian per kata: Nuladha (contohlah) laku (perilaku) utama (utama), tumrape (bagi) wong (orang) Tanah (wilayah) Jawi (Jawa). Contohlah perilaku utama, bagi orang yang tinggal di wilayah Jawa. Mencontoh (nuladha) adalah berbuat sebagaimana contoh sesuai dengan konteks yang dihadapi. Ini tidak sama dengan meniru (neniru). Meniru adalah menjiplak persis. Jadi dalam mencontoh ada konteks dari perbuatan sesuai tantangan yang dihadapi oleh pelaku yang mencontoh. Laku bisa diartikan perilaku atau kelakukan, juga bisa diartikan cara menjalani sesuatu. Nanti kita akan bertemu istilah laku sebagai ilmu praktis atau kalau meminjam istilah sufisme disebut suluk. Utama adalah yang terbaik, yang lebih baik dari yang baik. Jadi gatra ini lebih tepat kalau dimaknai: contohlah cara menjalani hidup yang utama. Dalam gatra kedua ini kalimat tumrah wong tanah Jawi, adalah pembatasan. Pembatasan ini tentu bukan bermaksud sektarian atau rasis, tetapi lebih karena pendekatan budaya saja. Mungkin bagi orang Jawa nasehat dalam serat ini baik jika diterapkan, tetapi bagi orang luar Jawa belum tentu baik. Semua itu karena perbedaan budaya semata. Wong (orang) agung (besar) ing (di) Ngeksiganda (Mataram), Panembahan Senopati. Orang besar dari negeri Mataram, Panembahan Senopati. Kata Mataram di atas diturunkan dari kata, ngeksi yang artinya melihat, melihat jelas pakai mata, maka diambil kata Mata. Kemudian kata ganda berarti bau, yang dimaksud adalah bau harum, maka diambil suku kata terakhir rum, disamarkan menjadi ram. Gabungan dua kata itu menjadi Mataram, nama kerajaan tempat orang besar tadi. Permainan kata seperti di atas lazim dilakukan dalam bahasa Jawa dan biasa disebut wangsalan. Panembahan Senopati adalah gelar dan nama raja pertama Mataram, orang yang akan kita tiru perilakunya. Kepati (sangat keras, bersungguh-sungguh) amarsudi (berusaha, melatih diri), sudane (berkurangnya) hawa lan nepsu (hawa nafsu). Sangat keras berusaha, berkurangnya hawa nafsu. Kepati artinya sangat-sangat, contoh pada kata gething kepati-pati, sangat-sangat benci. Amarsudi berarti berusaha, berlatih dengan tekun. Contoh pada kata marsudi raga, tekun berolah raga. Meski seringkali dijadikan kata majemuk, hawa nafsu sebenarnya dua kata yang punya arti sendiri. Hawa adalah rangsangan dari luar, nafsu adalah keinginan dari dalam. Di dalam falsafah kehidupan orang Jawa ada filosofi: nutup babahan hawa sanga, menutup sembilan lubang hawa. Yakni menutup rangsangan dari luar agar tidak masuk dan keinginan dari dalam agar tidak keluar. Caranya dengan menutup rangsangan hawa agar tidak masuk melalu sembilan lubang, dua mata, dua lubang hidung, dua lubang telinga, satu lubang mulut, satu lubang kelamin dan satu lubang dubur. Yang dimaksud menutup di sini adalah membatasi rangsangan yang masuk lewat lubang-lubang tersebut, misalnya dengan tidak memandang hal-hal yang membangkitkan nafsu, tidak sengaja mencium aroma yang mengundang selera, tidak mendengar percakapan yang tidak pantas, dll. Jadi gatra ini lebih tepat kalau dimaknai sebagai: berlatih dengan sungguh agar mencapai kondisi berkurangnya hawa dan nafsu. Jika nafsu tidak dituruti maka akan melemah, sehingga tidak bergejolak. Inilah kondisi yang ideal bagi manusia. Lalu bagaimana cara agar mencapai keadaan itu? Bait berikut menjelaskannya. Pinesu (dipaksa, diusahakan dengan keras) tapa brata (bertapa, tirakat). Dengan jalan laku tirakat. Berkurangnya hawa dan nafsu tadi dapat dicapai dengan bertapa. Di sini bertapa berarti tirakat, laku prihatin, mencegah atau berpantang dari sesuatu agar mendapat pencerahan. Yang umum dilakukan oleh orang jawa tempo dulu adalah mengurangi makan dan tidur (cegah dhahar lan guling), sambil berdzikir. Juga biasa dilakukan dengan berkhalwat, menyendiri (mahas ing asepi). Arti gatra ini yang sesuai: memaksa diri menjalani laku prihatin atau tirakat. Tanapi (sambil) ing (di) siyang (siang) ratri (malam), amamangun (mematut diri) karyenak (membuat enak) tyasing (hati) sasama (sesama, orang lain). Sambil di siang malam, berbuat menyenangkan hati sesama. Karena Panembahan Senopati adalah seorang raja yang terkenal suka laku tirakat, maka sangat mungkin yang dimaksud dengan gatra ini adalah: sambil berlatih terus untuk mengekang hawa dan nafsu beliau juga berusaha di siang dan malam, membuat kebijakan, memerintah, mengarahkan (itu semua disebut amamangun) agar rakyat merasa nyaman hidupnya dan (enak hati) tanpa rasa takut dan khawatir. Bagi orang Jawa contohlah tauladan dari orang besar di Mataram, Panembahan Senopati. Yang sangat keras berusaha mengurangi hawa dan nafsu dengan memaksa diri menjalai laku prihatin. Sambil di siang dan malam, berbuat kebijakan agar rakyatnya hidup nyaman tanpa rasa takut. Apa yang dilakukan Panembahan Senopati adalah pengabdian dua dimensi, dimensi vertikal dengan beribadah mendekatkan diri kepada Allah dengan jalan laku prihatin, mengurangi hawa nafsu. Dimensi horizontal, tetap hidup bermasyarakat, mengupayakan kesejahteraan rakyat sebagai pelaksanaan kewajiban seorang raja. Inilah tauladan baik yang semestinya dicontoh oleh orang Jawa. Kajian Wedatama (16): Nggayuh Geyonganing Kayun Bait ini masih melanjutkan bait terdahulu tentang perilaku Panembahan Senopati yang layak dijadikan tauladan bagi setiap generasi sesudahnya. Beliau adalah raja yang selalu menyebarkan kesejukan bagi setiap orang yang ditemui. Namun beliau juga tidak lalai dalam kehidupan spiritual, tetap hidup prihatin agar tercapai ketenangan jiwa. Sungguh tabiat seorang raja pinandita. Selengkapnya bait ke-16 adalah sebagai berikut: Samangsane pasamuwan, mamangun marta martani. Sinambi ing saben mangsa, kala kalaning asepi, lelana teki-teki. Nggayuh geyonganing kayun, Kayungyun heninging tyas, Sanityasa pinrihatin, Puguh panggah cegah dhahar lawan guling. Terjemahan dalam Bahasa Indonesia: Dalam setiap pertemuan, menciptakan suasana tenang dan menyejukkan. Sambil di setiap waktu, di kala ada waktu luang, mengembara bertapa, Menggapai kecenderungan hati, Terpesona ketenangan hati, Senantiasa melakukan hidup prihatin, Berpegang teguh tetap mengurangi makan dan tidur. Kajian per kata: Samangsane (dalam setiap) pasamuwan (pertemuan), mamangun (mencipta, membentuk) marta (santun, tenang) martani (menyejukkan). Dalam setiap pertemuan selalu menciptakan suasana tenang dan menyejukkan. Ini berkaitan dengan perilaku dari raja pertama Mataram Panembahan Senopati yang selalu bersikap tenang, sareh, dan menyebarkan kesejukan dalam setiap pertemuan. Bergaul dengan siapa saja sikap beliau selalu menyenangkan, tidak menyakiti hati orang lain sehingga membuat orang lain betah. Sinambi (sambil) ing (di) saben (setiap) mangsa (waktu), kala (di kala) kalaning ( ada waktu) asepi (luang, sepi pekerjaan), lelana (mengembara) teki-teki (teteki, bertapa). Sambil di setiap waktu, di kala ada waktu luang, mengembara untuk menyendiri, mengembara untuk bertapa. Walaupun sang Raja sangat sibuk, manakala ada waktu luang di sela-sela kesibukan, maka beliau menyempatkan melakukan hal-hal selain urusan pemerintahan. Yakni melakukan tapa, berkhalwat dengan sang Khalik, mendekatkan diri dengan Sang Pencipta. Walau seorang raja Senopati tidak melalaikan tugas kenegaraan, tetapi hatinya selalu tidak sabar menanti waktu luang untuk bertapa. Dia melakukan itu karena memang menyukai laku prihatin, tidak suka foya-foya. Karena memang ada yang dituju dalam hidupnya selain kekuasaan. Nggayuh (menggapai) geyonganing (kecenderungan) kayun (hati). Menggapai kecenderungan hati. Jadi bertapanya bukan untuk meraih kekuasaan, toh hal itu sudah didapatkan, melainkan karena memang kecenderungan hati. Cita-cita beliau adalah hidup prihatin untuk mencapai kesejatian, kesempurnaan hidup. Kayungyun (terpesona) heninging (ketenangan) tyas (hati). Terpesona ketenangan, keheningan hati. Karena beliau sangat terpesona dengan ketenangan hati. Tenang dalam arti dekat dengan Yang Maha Kuasa, bukan tenang dalam artian mengasingkan diri dari dunia. Toh beliau tetap bekerja sebagai raja pada setiap harinya. Sanityasa (senantiasa) pinrihatin (melakukan hidup prihatin). Senatiasa melakukan hidup prihatin. Beliau senantiasa hidup dengan cara yang sederhana dengan laku prihatin. Bukan karena keterpaksaan, tetapi karena tingkat pengendalian diri yang sudah paripurna. Tidak gampang kapiluyu (tergoda) oleh kemewahan dunia, meski seorang raja besar yang berkuasa. Puguh (berpegang teguh) panggah (tetap) cegah (mengurangi) dhahar (makan) lawan (maupun) guling (tidur). Berpegang teguh dengan tetap mengurangi makan dan tidur. Walau bisa hidup mewah sang raja justru mengurangi makan dan tidur. Itulah kunci dari hidup prihatin. Agar mata hati tetap terbuka, tidak tertutupi hawa nafsu. Catatan tambahan. Panembahan Senopati adalah penguasa Mataram pertama yang bergelar, Kanjeng Panembahan Senopati Ing Ngalaga Sayidin Panatagama Khalifatullah Tanah Jawa. Gelar di atas menunjukkan bahwa landasan dari kerajaan yang dibangun Senopati adalah religius. Kita tidak membahas itu sekarang, cukup informasi singkat ini sebagai gambaran ringkas tentang tokoh yang dalam serat Wedatama ini disebut sebagai orang besar yang patut dijadikan tauladan. Raja pertama Mataram ini meraih kekuasaan dengan jalan yang tidak mulus. Ketika masih bocah dia harus mengalahkan Adipati Jipang Arya Penangsang yang terkenal sakti mandraguna. Waktu itu Arya Penangsang dicurigai hendak memberontak kepada sultan Hadiwijaya di Pajang. Dalam satu pertempuran yang tidak imbang Senopati berhasil menewaskan Arya Penangsang secara dramatik. Atas kemenangannya itu Senopati yang waktu itu masih bernama Sutawijaya diganjar Alas Mentaok, yang masih berupa hutan rimba. Kemudian dia membabat hutan itu dan mendirikan tanah perdikan. Semakin lama semakin banyak pengikut yang bergabung di tanah baru itu. Tatkala kerajaan Pajang di bawah Sultan Hadiwijaya surut, pamor Sutawijaya meningkat, hingga dia berhasil mendirikan kerajaan baru yang dinamakan Mataram. Dia kemudian menjadi Raja dengan sebutan di atas, atau lebih dikenal sebagai Panembahan Senopati. Sutawijaya terkenal akan kegigihannya dalam bertapa, melakukan laku prihatin. Buahnya dia menjadi raja yang waskitha, cerdik dan tangguh. Kemampuan strateginya berhasil merangkul wilayah-wilayah timur untuk bergabung ke Mataram. Menjelang akhir kekuasaannya di tahun 1601M, Senopati telah mewariskan kerajaan yang besar. Bahkan kerajaannya tetap eksis hingga kini, yakni menjadi Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Kajian Wedatama (17): Mesu Reh Kasudarman Bait ini masih melanjutkan bait terdahulu tentang perilaku Panembahan Senopati yang gemar tirakat, menjalani tapa brata, mencegah makan-tidur dan suka berkelana di tempat sepi. Ini jelas bukan perilaku yang umum dilakukan para raja yang biasa bersikap hedonis, bermewah- mewahan dan memperturutkan hawa nafsu. Mungkin karena kecenderungan hati yang demikian beliau kemudian memilih untuk bergelar Panembahan Senopati. Raja yang suka manembah kepada Allah yang Maha suci. Selengkapnya bait ke-17, Pupuh Sinom dari Serat Wedatama adalah sebagai berikut. Saben mendra saking wisma, Lelana laladan sepi, Ngingsep sepuhing supana, Mrih pana pranaweng kapti, Tis tising tyas marsudi, Mardawaning budya tulus, Mesu reh kasudarman, Neng tepining jalanidhi, Sruning brata kataman wahyu dyatmika. Terjemahan dalam Bahasa Indonesia: Setiap pergi meninggalkan istana, Berkelana ke tempat yang sunyi, Menghisap berbagai ilmu yang baik, Agar jelas yang dikehendaki, Maksud hati tercapai, Kelembutan hati yang utama, Berusaha mempelajari tentang kebajikan, Di tepi samudra, Karena kerasnya bertapa mendapat anugerah Ilahi. Kajian per kata: Saben (setiap) mendra (keluar) saking (dari) wisma (rumah, dalam hal ini adalah istana), lelana (berkelana) laladan (tempat, wilayah) sepi (sunyi). Setiap keluar dari istana, berkelana di tempat sepi. Setiap keluar dari istana, sang raja selalu berkelana ke tempat yang sunyi. Gatra ini mengesankan sang raja “tak betah” untuk berada di istana. Setiap ada kesempatan selalu bersegera menyepi, seolah-olah hatinya sudah terpesona dengan kesepian, dengan laku tirakat. Ngingsep (menghisap) sepuhing (apuh, tuntas, sesuatu yang dihisap sampai tak tersisa saripatinya) supana (ilmu yang baik). Mempelajari ilmu yang baik sampai tuntas. Sang raja ke tempat sepi selain hendak tirakat juga sering berguru kepada para ahli ma’rifat. Ada banyak cerita bahwa Panembahan Senopati kerap ditemui oleh sunan Kalijaga ketika sedang menyepi, untuk diberi wejangan ilmu. Seperti kita ketahui bahwa Sunan Kajiga adalah Waliyullah yang berumur sangat panjang, dan masih sugeng ketika Mataram berdiri. Sunan Kalijaga adalah wali yang sangat peduli atas nasib para penguasa di tanah Jawa. Sejak berdirinya kerajaan Demak dilanjutkan Pajang sampai akhirnya Mataram muncul, sunan Kalijaga selalu njangkungi, memantau para raja-raja tersebut. Oleh karena itu Sunan Kalijaga juga sering dipanggil sebagai Syaikh Jangkung. Mrih (agar) pana (mengetahui) pranaweng ( pranawa ing, terang, jelas) kapti (kehendak). Agar mengetahui dengan jelas yang dikehendaki (hati). Bahwa seseorang itu terdinding dengan hatinya. Apa keinginan hatinya sendiri seringkali tidak disadari. Oleh karena itu perlu terus mengasah akal budi agar nalar kita peka terhadap kehendak hati. Tis tising (yang dituju, maksud) tyas (hati) marsudi (berusaha sungguh). Mardawaning (kelembutan) budya (budi, pikiran) tulus (tulus). Maksud hati mencapai kelembutan budi yang tulus. Jika kita bersungguh-sungguh melatih diri dengan berguru dan menjalani berbagai laku maka akan tercapai kelembutan hati, setulus-tulusnya. Sehingga apa yang tersembunyi dari kehendak hati menjadi terang. Mesu (berusaha keras, memaksa diri agar mampu) reh (segala hal) kasudarman (tentang kebajikan). Darma adalah perbuatan yang dilakukan untuk orang lain atau disebut kebajikan, kasudarman bermakna segala sesuatu tentang kebajikan. Berusaha keras untuk mempelajari ilmu tentang kebajikan. Karena kebajikan bukan teori semata-mata, maka memperlajari ilmu kebajikan adalah sebuah tindakan praktik, atau disebut laku. Di awal-awal telah saya singgung tentang suluk. Nanti akan bertemu tentang bait bahwa ilmu adalah laku. Neng (di) tepining (tepinya) jalanidhi (samudra). Di tepi samudra. Ini adalah tempat yang sering dipakai oleh Panembahan Senopati untuk menyepi. Di tempat inilah Sunan Kalijaga pernah hadir memberi wejangan kepada Senopati bagaimana harus menjadi raja yang baik. Sruning (karena kerasnya) brata (bertapa) kataman (mendapat) wahyu (anugrah) dyatmika (halus, kerohanian, Ilahiah). Karena kerasnya bertapa sehingga mendapat anugrah Ilahi. Wahyu dalam konsep budaya jawa adalah anugrah Ilahi yang berupa pencerahan atau penyingkapan sehingga yang menerima wahyu menjadi naik derajat spiritualnya. Dalam kisah klasik semisal pewayangan wahyu dipersonakan sebagai senjata yang ampuh sehingga dapat dipakai untuk mencapai tujuan tertentu, misal menjadi raja. Tentu saja ini hanya kiasan saja agar penonton lebih mudah dalam memahami.  

Bangkit Mangukut Jiwangga

Kajian Wedatama (12): Bangkit Mangukut Jiwangga Kajian Serat Wedatama karya KGPAA Mangkunegara IV, bait ke-12, Pupuh Pangkur. Bait ini berisi wejangan bagaimana seharusnya bertindak jika menerima wahyu Ilahi. Menerima wahyu di sini bisa diartikan mendapat pencerahan, ilham atau belajar memperdalam Al Quran sehingga benar-benar paham akan kandungannya. Ini bait yang agak berat dan saya berharap mendapat hidayah dalam menguraikannya. Semoga tidak salah tafsir. Selengkapnya bait ke-12 adalah sebagai berikut: Sapantuk wahyuning Allah, gya dumilah mangulah ilmu bangkit. Bangkit mikat reh mangukut, kukuting jiwangga. Yen mangkono kena sinebut wong sepuh, lire sepuh sepi hawa. Awas roroning atunggil. Terjemahan dalam bahasa Indonesia secara tekstual: Siapa yang mendapat wahyu Ilahi, lalu segera mampu menguasai ilmu. Mampu menguasai ilmu kasampurnan, kasampurnan diri pribadi. Orang yang demikian yang pantas disebut orang tua, Arti tua adalah jauh dari hawa nafsu. Tajam dalam melihat dwi tunggal. Kajian makna secara rinci kata per kata: Sapantuk (dari kata sapa antuk, siapa mendapat) wahyuning (ilham atau pencerahan) Allah (Allah), gya (bersegera) dumilah (bercahaya, bersinar) mangulah (menguasai, melakukan) ilmu (ilmu) bangkit (mampu). Siapa yang mendapat wahyu Ilahi, lalu segera mampu menguasai ilmu. Siapa yang mendapat pencerahan, maka serta-merta bersinarlah ia sehingga mampu menguasai ilmu. Ini berkenaan dengan petunjuk Allah kepada manusia. Barang siapa Dia kehendaki untuk suatu perkara maka akan dimudahkanNya caranya. Serta-merta, bersegera seseorang menjadi semangat dalam menunut ilmu sehingga menjadi mudahlah ilmu itu meresap dalam jiwanya. Bangkit (dapat, mampu, bersemangat) mikat (memikat) reh (segala hal) mangukut (mengemasi), kukuting (mengemasi) jiwangga (jiwa, kedirian). Mampu menguasai ilmu kesempurnaan, kesempurnaan diri pribadi. Dalam hal ini saya melihat bahwa yang dimaksud oleh dua gatra ini adalah seseorang yang menjadi bersemangat untuk meniadakan diri, dalam arti memutus ego, kedirian. Sudah kita ketahui bersama bahwa penghalang manusia dan hakekat adalah nafsu yang egosentris. Ego ini menjadi pangkal dari segala sifat buruk, sombong, takabur, ujub, dan pongah. Jika seseorang bisa mretheli, melepas, mencopot (mangukut) sifat-sifat buruknya tadi, maka terbukalah kesempurnaan ilmunya. Copotnya sifat-sifat buruk berarti juga copotnya ego (kedirian). Dia kemudian dapat melihat segala sesuatu sebagai ayat-ayat Allah, tanda-tanda kebesaranNya. Yen (jika) mangkono (demikian) kena (bisa) sinebut (disebut) wong (orang) sepuh (tua), lire (arti) sepuh (tua) sepi (jauh dari) hawa (hawa nafsu). Orang yang demikian yang pantas disebut orang tua, arti tua adalah jauh dari hawa nafsu. Jika demikian bisa disebut sebagai orang tua. Arti tua di sini adalah sudah mampu menyingkirkan hawa nafsu. Sepi hawa adalah ungkapan untuk orang yang sudah tidak banyak keinginan lagi. Dalam budaya Jawa tua memang tidak selalu berkaitan dengan umur. Sering kali ungkapan wong tuwa dipakai untuk menyebut orang pintar dalam olah kebatinan, tempat para warga bertanya dan minta nasehat. Bahkan dukun juga sering dipanggil wong tuwa, semata-mata karena dianggap tahu tentang hal-hal ghaib. Awas (tajam penglihatan, kiasan untuk pengertian yang sempurna) roroning (duanya) atunggil (menjadi satu). Tajam dalam melihat dwi tunggal. Makna gatra ini sesuai konteks adalah merujuk kepada orang yang sudah menguasai tentang konsep dualisme dalam penciptaan. Kata awas sering dipakai untuk menyebut orang yang pandangannya tajam, ini adalah kiasan bagi orang yang telah menguasai ilmu sejati, yakni yang telah memahami kesatuan wujud. Antara yang lahir dan yang batin sebenarnya adalah satu wujud, hanya beda penampakan laksana dua sisi mata uang. Siang dan malam adalah satu putaran waktu, keduanya tak beda. Pria dan wanita adalah sama-sama manifestasi nama-nama ilahi dalam kadar yang parsial, pernikahan menyatukan keduanya. Demikianlah dualisme dalam ciptaan, yang sebenarnya adalah satu. Namun karena diri kita parsial maka terlihat sebagai dualisme. Jika kita telah menjadi manusia paripurna (insan kamil) atau univers maka dualisme lenyap dan tampak jelas kesatuan wujud. Inilah yang disebut tauhid sejati. Yang diciptakan adalah manifestasi dari Yang Menciptakan, jadi hanya ada satu wujud sejati. Ini adalah konsep Satunggaling Kawula-Gusti. Saya cukupkan dulu, karena pokok bahasan kita bukan tentang ini. Kajian Wedatama (13): Sumusuping Rasa Jati Tembang Pangkur pada bait ke-13 Serat Wedatama karya KGPAA Mangkunegara IV di bawah ini sering dipakai untuk suluk oleh para dalang pada pertunjukan wayang kulit. Biasanya dipakai saat adegan raja sedang masuk di kamar pemujaan dengan maksud untuk mendapat petunjuk atas masalah yang dihadapi. Kandungan makna bait ini memang sangat pas dengan adegan tersebut. Bait ini menggambarkan keadaan orang yang mendapat pencerahan melalui muhasabah dalam uzlah, ketika menyepi, mengasingkan diri. Bahwa datangnya pencerahan masuk ke dalam hati di waktu antara tidur dan jaga, sekelebat seolah melesatnya mimpi. Selengkapnya bait ke-13 adalah sebagai berikut: Tan samar pamoring suksma, sinuksmaya winahya ing ngasepi. Sinimpen telenging kalbu, pambukaning warana. Tarlen saking liyep layaping aluyup, pindha pesating sumpena. Sumusuping rasa jati. Terjemahan tekstual dalam Bahasa Indonesia: Tak ragu menyatunya citra Suksma (Ilahi), meresapnya didapatkan di waktu sepi, Tersimpan di dalam hati, sebagai pembuka tirai. Antara keadaan jaga dan tidur, seperti kilatan mimpi. Merasuknya rasa sejati. Kajian per kata: Tan (tak) samar (keraguan) pamoring (menyatunya) suksma (ruh, yang dimaksud adalah wahyu Ilahi), sinuksmaya (meresap kedalam) winahya (didapatkan) ing ngasepi (ketika sepi). Tak ragu menyatunya citra Suksma (Ilahi), meresapnya didapatkan di waktu sepi, Kata pamor berasal dari amor yang artinya mengumpul atau menyatu. Pamor artinya sebuah keadaan penyatuan. Kata pamor juga mengingatkan kita pada pamor keris, yakni motif yang timbul pada bilah keris akibat metode tempa logam. Motif pamor ini akan semakin terlihat jelas jika keris sudah berusia lama, dan disebut pecah pamore, artinya keindahan keris makin tampak jelas. Pamor pada keris membuat keris kelihatan indah laksana mengeluarkan sinar. Oleh karena itu pamor juga sering diartikan sebagai pancaran keindahan. Kata pamor juga dipakai pada kalimat: bocan wadon kuwi sudah pecah pamore (anak gadis itu sudah bersinar pamornya). Kalimat ini dipakai untuk menggambarkan gadis yang sudah melewati usia akil baligh, sudah nampak pesona kecantikannya. Suksma di sini sesuai konteks bisa diartikan Suksma (pakai S besar), artinya ruh atau Citra Ilahi. Disebut citra karena sesungguhnya yang menyatu bukanlah Dzat Allah, melainkan kesadaran ilahiyah yang bangkit dari dalam hati. Sebenarnya di dalam diri manusia telah ditiupkan Citra Ilahiyah tersebut dalam bentuk ruh, yang menyertai manusia sejak lahir. Namun dalam kehidupan ruh ini tersembunyi jauh di dasar wujud manusia. Melalui penggalian yang keras (di dalam diri), akhirnya ditemukan. Laksana seorang penambang permata yang menemukan sebongkah permata di dasar palung diri manusia. Sedangkan winahya berarti kawedhar, atau tampak atau sudah muncul, sudah didapatkan. Sehingga gatra tersebut dapat diartikan, tak ada keraguan menyatunya citra Ilahi, meresapnya dalam hati didapatkan ketika sepi. Secara sederhana bisa dikatakan bahwa seringkali kita menyepi, sengaja mengasingkan diri agar mendapat petunjuk atas masalah yang kita hadapi atau untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Misalnya pada saat-saat malam ketika sepi dengan shalat malam, bermuhasabah, mengadu kepada Allah, berkhalwat dengan Allah. Di waktu-waktu tersebut kadang kita mendapat pencerahan sehingga mendapatkan kesadaran baru. Kita sebut pencerahan karena tiba-tiba kita menjadi cerah, seperti kena sinar yang memancar (pamor). Sinimpen (tersimpan) telenging (pusat, di dalam) kalbu (hati), pambukaning (sebagai pembuka) warana (tirai). Tersimpan di dalam hati, sebagai pembuka tirai. Pencerahan, ilham atau inspirasi yang kita dapatkan tadi tiba-tiba tersimpan dalam hati, menjadi pembuka bagi segala keruwetan yang menimpa, solusi bagi permasalahan yang ada. Jadi sifatnya bisa tiba-tiba, mak bedunduk ada dalam pikiran kita, oh begini! Tarlen (tak lain) saking liyep(tidur ayam) layaping (keadaan orang setengah ingat setengah tidak) aluyup (ngantuk), pindha (seperti) pesating (melesatnya) sumpena (mimpi). Antara keadaan jaga dan tidur, seperti kilatan mimpi. Pencerahan tadi datang ke dalam hati ketika kita justru sedang tidak konsentrasi masalah yang ada, ibaratnya seperti orang yang setengah jaga setengah tidur, tiba-tiba terilhami akan sesuatu. Terbersit dalam hati seperti kilatan mimpi, sekejab saja. Plass! Dan tiba-tiba kita telah mendapat solusi atas masalah kita. Anda semua pasti pernah mengalami seperti ini. Sumusuping (merasuk) rasa (rasa) jati (sejati). Merasuknya rasa sejati. Bagi yang sudah terbiasa melakukan uzlah untuk bermuhasabah, bermujahadah, datangnya pencerahan bisa berulang sehingga merasuklah ke dalam hati ilmu rasa sejati. Dalam bait- bait yang lalu telah disinggung bahwa watak ilmu sejati adalah menyenangkan hati, oleh karena itu datangnya pencerahan ini juga membuat hati menjadi tenteram. Tak heran kalau orang bisa sangat menikmati saat-saat sedang menyendiri, bertapa, meditasi, shalat malam atau berbagai macam ritual meditasi lainnya. Kajian Wedatama (14): Mulih Mula Mulanira Bait ini adalah akhir dari Pupuh Pangkur yang berjumlah 14 bait. Menarik untuk disimak bahwa Wedatama memulai piwulang tentang kehidupan justru dengan memakai tembang Pangkur. Di dalam budaya Jawa Pangkur sering diartikan sebagai mungkur saka kadonyan, memalingkan diri dari keduniawian. Tampaknya serat Wedatama memang ditujukan bagi kalangan orang tua yang sudah separuh perjalanan menempuh kehidupan. Ini ditandai dengan kalimat, mingkar-mingkuring angkara, akarana karenan mardisiwi pada bait pertama. Kandungan pesan pada bait terakhir Pupuh Pangkur ini semakin mengukuhkan kesan tersebut. Selengkapnya bait ke-14: Sejatine kang mangkana, wus kakenan nugrahaning Hyang Widhi. Bali alaming ngasuwung, tan karem karameyan. Ingkang sipat wisesa winisesa wus, mulih mula mulanira. Mulane wong anom sami. Terjemahan bait ini ke dalam Bahasa Indonesia: Sebenarnya yang demikian itu, sudah mendapat anugrah Tuhan yang Maha Benar. Kembali ke alam kosong (keakhiratan), tidak mabuk keramaian (keduniawian). Yang bersifat kuasa menguasai, kembali ke asal mula. Oleh karena itu wahai anak muda semua. Kajian per kata: Sejatine (sebenarnya) kang (yang) mangkana (demikian itu), wus (sudah) kakenan (terkena, mendapat) nugrahaning (anugrah) Hyang (Yang Maha) Widhi (Benar). Sebenarnya yang demikian itu,sudah mendapat anugrah Tuhan yang Maha Benar. Gatra ini bisa dianggap merujuk ke bait sebelumnya, yakni seseorang yang mendapat pencerahan. Yang demikian itu sebenarnya adalah karena anugerah Yang Maha Benar. Jika tidak kita pun akan sulit mencapai hakekat hidup di dunia ini. Tugas kita sebagai manusia hanya menyiapkan diri, adapun turunnya anugrah adalah sepenuhnya kehendak Allah. Bali (kembali) alaming (ke alam) ngasuwung (kosong, maksudnya kosong dari hawa nafsu), tan (tidak) karem (sangat suka, mabuk) karameyan (keramaian, kiasan untuk alam dunia). Kembali ke alam kosong (keakhiratan), tidak mabuk keramaian (keduniawian). Karena anugrah Yang Maha Benar kita dapat kembali ke alam kosong. Kosong di sini adalah kosong dari hawa nafsu. Ini adalah merujuk pada hati yang kosong dari keinginan terhadap dunia, jiwa kemudian condong kepada alam keakhiratan. Tan karem karameyan, adalah tidak suka lagi dengan ramainya dunia, alam materi yang banyak warna-warni dengan segala permasalahannya ini. Ingkang (yang) sipat (bersifat) wisesa (kuasa) winisesa (menguasa) wus (sudah), mulih (pulang) mula (asal) mulanira (mula, muasal). Yang bersifat kuasa menguasai, kembali ke asal mula. Kalau kita perhatika bahwa kehidupan duniawi didominasi nafsu meraih kepentingan diri atau egoisme. Ada yang sangat ingin meraih kekayaan materi sehingga tamak akan harta. Mencari harta-benda dengan cara yang tidak halal. Ada yang syahwat politiknya overdosis sehingga senantiasa menjadi motif dari setiap tindakan. Ada yang kemudian membungkusnya dengan pura-pura memihak kaum lemah. Ada yang membungkus dengan tampilan religius demi menarik simpati ummat. Yang demikian itulah kehidupan duniawi, dengan segala riuh-riak di dalamnya. Maka bait ini mengingatkan agar kembali ke asal mula, yakni makhluk Allah yang muasalnya bukan dari dunia ini tapi dari alam lain yang kelak kita semua akan kembali (mulih). Mulane (oleh karena itu) wong (wahai orang) anom (muda) sami (sekalian, semua). Oleh karena itu wahai anak muda. Gatra ke-7 ini bisa disebut sasmita kepada lanjutan Pupuh berikutnya yakni Pupuh Sinom, maka memakai isyarat kata anom. Selain itu menjadi isyarat bahwa bait-bait berikutnya ajaran piwulang ini, nasehat ini, lebih ditujukan untuk anak muda. Selesai sudah kajian Pupuh Pangkur dari Serat Wedatama. Penggubah serat ini mungkin mendahulukan Pupuh Pangkur sebagai penegasan bahwa mungkur dari kadonyan adalah awal dari kehidupan manusia yang sebenarnya. Kita mungkin disebut mati di alam dunia ini jika kelak umur kita habis, tetapi kita akan hidup di alam lain yang lebih elok, indah dan menyenangkan. Itulah kehidupan yang sejati. Berulang kali kata jati ditekankan pada Pupuh Pangkur agar kita selalu ingat bahwa sejatinya alam kita bukan di sini. Kita masih harus berlatih untuk membuka tabir yang menutupi pandangan kita tentang alam sejati itu. Tip dan triks agar tabirnya terbuka adalah dengan meninggalkan perbuatan tercela (angkara), menahane (nahen) hawa nafsu, bermuhasab, bermujahadah di kesepian (ngasepi) agar memancar cahaya Ilahi (pamoring Suksma) kepada diri kita. Jika sudah demikian rasa jati akan sumusup ing jiwangga, ilmu rasa jati akan merasuk dalam jiwa.