Kamis, 24 Maret 2022

Ngaji sastra jawa

Nawala Pradhata halama 2

Ngaji Satra Jawa

Nawala Pradhata.koco 2
Pénget kawula ningsun kanjeng Susuhunan Pakubhuwana Sénapati ing Ngalaga Ngabdurahman Sayidina panatagama,ingsun gawuhaken marang kawulaningsun si Ngabéhi among praja.
 Marmané si ngabéhi among praja ingsun gawuhi nawalaningsun,déné ingsun gawé kawulaningsun jeksa ana ing pradataningsun.Iku ingsun andikakaken ambeneri marang sakahé kawulaningsun ingkang padha apara padu.Iku ngabéhi among praja,sira anganggowa ingkang temen–temen ,lan ingkang resik,sarta déné aklas atinira,lan sakancanira jejeneng lawang sarayu dakabéh.Iku ingsun andikakaken ambeneri marang sakabéhé kawulaningsun ingkang padha apara padu,marang sakéhé kawula ningsun ingkang apara padu,kajaba kang munggah ing kukum,lan ingkang metu saka ing wasésa,lan ingkang kajaba awit salaki rabi,iku rupané bégal,maling,bradhad,colong,céngnar,jupuk,utang apipotang,akungaku,gadhéginadhé,titi....
 Ini naska bacaan diatas

Minggu, 17 Februari 2019

SAKA

Saka Untuk kegunaan lain dari Saka, lihat Saka. Skithia dan Parthia kira-kira tahun 170 SM sebelum Yuezhi menyerang Baktria. Saka atau Saca (bahasa Persia: lama Sakā, modern ساکا; bahasa Sanskerta: Śaka; Yunani: Σάκαι, Sákai; bahasa Latin: Sacae; (Tionghoa), lama *Sək, modern Sāi)[a] adalah istilah yang digunakan di sumber-sumber Persia dan Sanskerta untuk menyebut bangsa Skithia yaitu masyarakat Iran Timur nomaden di Stepa Erasia. Ilmuwan modern umumnya menggunakan istilah Saka untuk menyebut masyarakat Iran di Stepa Timur dan Cekungan Tarim. René Grousset menyebutkan bahwa mereka merupakan cabang dari "rumpun Skithia-Sarmatia" yang berasal dari masyarakat Iran di stepa bagian barat laut Erasia. Di Cekungan Tarim dan Gurun Taklamakan, orang Saka mendirikan daerah Khotan dan Kashgar termasuk Kerajaan Khotan yang menjadi vasal China pada masa Dinasti Han dan Dinasti Tang. Perhiasasn emas Saka dari Baktria, Tillia tepe, Afghanistan bagian utara. Perdebatan modern mengenai identitas "Saka" muncul sebagian karena penggunaan kata tersebut secara ambigu oleh sumber-sumber non-Saka. Menurut Herodotus, orang Persia menyebut "Saka" untuk semua bangsa Skithia. Plinius (Gaius Plinius Secundus, 23–79) menyebutkan bahwa orang Persia hanya memberikan nama "Sakai" untuk suku-suku Skithia "yang paling dekat". Masyarakat Asyur pada masa Esarhaddon, mencatat penyerbuan melawan kelompok orang yang disebut Ashkuza atau Ishhuza dalam bahasa Akkad. Pengertian umum di antara para ilmuwan kini adalah bahwa bahasa dari orang Saka, sumber dari bahasa-bahasa Pamir di India Utara dan bahasa Khotan di Xinjiang, termasuk ke dalam bahasa-bahasa Skithia. Kelompok masyarakat lainnya yaitu Gimirrai, disebut di sumber Yunani Kuno sebagai orang Cimmeria, memiliki kaitan erat dengan orang Saka. Pada naskah kuno Ibrani, Ashkuz (Ashkenaz) disebut sebagai keturunan langsung dari Gimirri (Gomer). Orang Saka bagi orang Babilonia sama dengan Gimirrai. Kedua nama digunakan di Inskripsi Behistun yang dipahat tahun 515 SM atas perintah Raja Darius yang Agung. Orang-orang tersebut disebutkan bermukim di Kerajaan Urartu di Armenia. Shacusen di Provinsi Uti diberi nama dari mereka.) Inskripsi Behistun awalnya hanya menyebutkan Saka sekali untuk kemudian memisahkannya menjadi beberapa kelompok yaitu: Sakā tigraxaudā – "Saka bertopi runcing", Sakā haumavargā – dipahami sebagai "Saka peminum haoma" namun ada pula pendapat lain, Sakā paradraya – "Saka setelah laut", ditambahkan setelah penyerbuan Skithia Barat oleh Darius, utara Sungai Danube. Sakā para Sugdam – "Saka di luar Sugda (Sogdiana)", istilah lain yang ditemukan di dua inskripsi lain. Istilah yang digunakan oleh untuk menyebut orang-orang di perbatasan negaranya di arah berlawanan dari Kush (Ethiopia) akan berada di sebelah timur. Sakā paradraya adalah bangsa Skithia di barat (Skithia Eropa) atau Sarmatia. Sakā tigraxaudā dan Sakā haumavargā diyakini berada di sebelah timur Laut Kaspia. Sakā haumavargā dinilai sama dengan orang Amyrgia, orang Saka di dekat Baktria dan Sogdiana. Sakā haumavargā juga telah diajukan sebagai Sakā para Sugdam, sehingga Sakā haumavargā berada lebih jauh ke timur daripada Sakā tigraxaudā, kemungkinan di Pamir atau Xinjiang, walaupun kemungkinan mereka berada di Jaxartes karena yagn disebut adalah "di luar Sogdiana" bukan Baktria. Di dunia modern, arkeolog Hugo Winckler (1863–1913) adalah orang pertama yang mengaitkan Saka dengan bangsa Skithia. J. M. Cook, dalam The Cambridge History of Iran, menyebutkan bahwa nama Persia "Sakā" dan nama Yunani dan Asyur "Skuthai" ("Iškuzai") merupakan nama umum untuk penduduk nomaden di wilayah utara. Sumber-sumber Persia umumnya menyebut mereka sebagai satu suku tunggal bernama "Saka" (Sakai atau Sakas), namun sumber Yunani dan Latin menyebutkan bahwa bangsa Skithia terdiri atas banyak kelompok. Ilmuwan modern kemudian umumnya menggunakan istilah Saka untuk menyebut masyarkat berbahasa Iran yang menghuni Stepa Erasia bagian timur dan Cekungan Tarim. Lihat pula Bahasa Saka Saka di Mahabharata Kalender Saka Artikel ini menggunakan bahan dari artikel Wikipedia Saka, yang dilepaskan di bawah Creative Commons Attribution-Share-Alike License 3.0.

Sastra Sriwedari

Ngaji Sastra Jawa.Sastra Jawa Sastra Sriwedari  Yasri menyajikan salinan lengkap (alih-aksara dan alih-bahasa) dari "Pedoman Penulisan Aksara Jawa" yang terbit di majalah Pusaka Jawi, Mei 1926. Dikenal sebagai "Sastra Sriwedari", pedoman atau standardisasi ini disepakati jauh sebelum Indonesia merdeka; adalah capaian luar biasa karena mampu menyeragamkan banyak langgam penulisan aksara Jawa yang telah eksis sekian abad sebelumnya. "Sastra Sriwedari" merupakan hasil keputusan Rapat Komisi Kesusasteraan 29 Oktober dan 31 Desember 1922. Komisi dipimpin oleh seorang aktivis-nasionalis R. M. A. Wuryaningrat. Aksara Jawa, penulisannya telah disepakati jauh sebelum Indonesia merdeka, yakni sejak 1924; dengan catatan, sebagian kecil isu masih menjadi pertimbangan. Kesepakatan itu merupakan hasil kerja dari sebuah komisi bentukan suatu kongres yang digelar dua tahun sebelumnya, Oktober dan Desember 1922, di Sriwedari, Surakarta.[1] Kongres 1922 dihadiri beberapa perserikatan. Ada perserikatan guru, seperti: Normaalschool dan Kweekschool, pejabat pemerintah, Balai Pustaka, serta perwakilan empat keraton Mataram (Kasunanan, Kasultanan, Mangkunegaran, Pakualaman). Ada pula perserikatan bahasa Jawa, seperti: Nitisastra, Kridhabasa, Kridhasastra, Garapbon, Mardibasa, dan Paheman Radya Pustaka. Kesepakatan tentang wawaton (pedoman) bagi penulisan aksara Jawa inilah yang belakangan dikenal sebagai "Sastra Sriwedari". Sastra Sriwedari adalah prakarsa sekaligus capaian yang luar biasa. Bayangkan, sejak dulu, yang namanya keseragaman dalam penulisan aksara Jawa, itu belum pernah ada. Apalagi, ketidakseragaman penulisan aksara Jawa di keempat keraton Mataram justru dianggap (baca: diagung-agungkan) sebagai ikon adiluhung serta unikum atau ciri khas masing-masing sehingga perlu dilindungi dan dilestarikan. Sedemikian khasnya, unikum penulisan aksara Jawa itu sampai bisa menjadi pengidentifikasi tarikh dan/atau tempat asal naskah atau manuskrip anonim kuno. Pendek kata, standardisasi yang harus dipatuhi oleh para penulis Jawa memang belum ada hingga awal abad XX. Pada awal abad XX-lah kesadaran bersama penerapan standardisasi penulisan aksara Jawa tumbuh seiring dengan tumbuhnya gagasan memajukan bangsa dan nasionalisme rakyat Hindia-Belanda: sebuah peran krusial yang dimainkan oleh budaya.[2] Komisi Kongres 1922 diketuai Wuryaningrat, seorang aktivis-nasionalis yang gigih putra (tertua dari istri pertama) Patih Sasradiningrat IV yang diambil menantu oleh Pakubuwana X. Komisi kongres dikenal pula sebagai "Komisi 10 Golongan" atau "Komisi Besar" (Komisi Agêng). Wuryaningrat adalah sosok penting dari awal-awal pergerakan nasionalisme Indonesia. Cucu Pakubuwana IX itu pernah menjabat sebagai Ketua Boedi Oetomo beberapa periode (1916-21, 1922-25 dan 1933-35) serta Ketua Partai Indonesia Raya setelah dijabat Dokter Soetomo (1935-38). Luar biasa aktifnya, bangsawan bergelar Raden Mas Arya yang pejabat tinggi Kasunanan berpangkat Bupati Nayaka itu pada saat kongres pun masih merangkap sebagai pimpinan dari sejumlah organisasi lainnya, seperti Radya Pustaka dan Narpa Wandawa.[3] Pada era Wuryaningrat-lah kajian bahasa dan budaya Jawa berkembang pesat, terutama melalui organisasi atau institusi yang dipimpinnya itu. Satu capaian yang paling menonjol adalah Sastra Sriwedari. Pada pertemuan (vergadering) kongres Desember 1929, lebih dari 200 orang hadir berpartisipasi.[4] Pada Komisi Besar itu, anggota yang memiliki hak suara tidak sedikit yang kelak namanya kita kenal sebagai pakar-pakar penting dalam kajian bahasa dan budaya kontemporer di seluruh Jawa.[5] Penyusunan Sastra Sriwedari berlangsung setahun lebih. Setelah vergadering Komisi Besar yang berlangsung pada 29 Oktober dan 31 Desember 1922, dibentuklah "Komisi Kecil" (Komisi Alit) - foto para anggotanya ditampilkan di bawah (Komisi 5 Golongan). Komisi Kecil ditugasi menyusun risalah atau notulensi, termasuk keputusan-keputusan yang telah diketokpalukan. Risalah itu lantas dibagikan ke perwakilan-perwakilan di Komisi Besar untuk dimintakan koreksi, tinjauan, dan/atau persetujuan atas kontennya. Pada April 1923, Komisi Kecil meluncurkan pedoman versi perdana. Setelah komentar dan masukan atas versi perdana diterima, diluncurkanlah versi kedua pada September 1923. Versi kedua terdiri dari 16 keputusan atau pasal yang mengetengahkan tata-cara penulisan aksara Jawa.  Para anggota "Komisi 5 Golongan" (Komisi Kecil) berfoto bersama. Tugas khusus yang diberikan oleh Komisi Besar kepada Komisi Kecil itu adalah menyusun pedoman penulisan aksara Jawa.[6] Draf dari Komisi Kecil lalu mendapat tinjauan atau koreksi dari beberapa institusi. Departemen Pendidikan dan Balai Pustaka, misalnya, mengajukan tinjauannya pada sekitar lima bulan kemudian, yakni pada Maret 1924. Kasunanan dan Radya Pustaka pun menyusul tak lama kemudian. Pada masing-masing tinjauan masih tersua beberapa hal yang belum disetujui. Kendati demikian, setelah Maret 1924, dalam risalah tentang kegiatan-kegiatan Komisi itu tidak ada entri lanjutan. Bukti bahwa versi baru telah didistribusikan kembali pada saat itu pun belum ditemukan. Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui hasil selanjutnya, selain juga analisis terkait ajuan pendapat dari masing-masing institusi dan perkumpulan kala itu. Juni 1925, seorang anggota Komisi Besar, Mas Sastrawirya (PGB), mengangkat isu mengenai pedoman penulisan aksara Jawa. Sastrawirya mengeluhkan belum kunjung diumumkannya kerja kolaboratif yang melibatkan pemerintah, keraton-keraton, dan sekian perkumpulan itu. "Biarpun toh masih seadanya, hasil kongres harus segera diumumkan karena itu akan menjadi sempurna dengan adanya perubahan," demikian tulis Sastrawirya di majalah Pusaka Jawi pada Juni 1925 dalam artikelnya, "Basa tuwin Kasusastran Jawi". Asalkan rajin saban tahun menggelar kongres bahasa dan sastra Jawa, Sastrawirya meyakini, lama-kelamaan hasilnya akan sempurna dan keputusan kongres pun pasti akan kian bagus.[7] Setahun kemudian (Mei 1926), majalah yang sama, Pusaka Jawi, memublikasikan pedoman penulisan aksara Jawa, lengkap dengan 17 keputusan (pasal)-nya: Karampungan Pangrêmbagipun Wêwaton Panyêratipun Têmbung Jawi Mawi Sastra Jawi, miturut Putusan Parêpatan Kumisi Kasusastran Marêngi kaping 29 Oktobêr 1922 sarta 31 Dhesèmbêr 1922 (Hasil Keputusan Pembahasan Pedoman Penulisan Kata Jawa Menggunakan Aksara Jawa, menurut Keputusan Rapat Komisi Kesusasteraan pada 29 Oktober dan 31 Desember 1922).[8] Boleh jadi terpicu oleh artikel Sastrawirya, yang jelas, akhirnya pemerintah menerbitkan pedoman itu pada tahun yang sama.[9] Yasri menyajikan salinan lengkap (alih-aksara dan alih-bahasa) dari edisi pedoman penulisan aksara Jawa yang terbit di Pusaka Jawi. Pertimbangan Yasri adalah, pada era masa kini, pedoman tersebut ternyata tak berkurang arti pentingnya, terutama sebagai sinambungan gerak dari budaya masa lalu yang mengilhami penyusunan awalnya. Meminjam harapan Mas Sastrawirya, semoga salinan berikut bisa menuai banyak respons berupa analisis dan kajian lebih lanjut. Tujuannya, agar kawruh tata-cara penulisan aksara Jawa mendapatkan tempat sepantasnya sebagai bagian dari warisan budaya Jawa, Indonesia, bahkan dunia. Hasil Keputusan Pembahasan Pedoman Penulisan Kata Jawa Menggunakan Aksara Jawa, menurut Keputusan Rapat Komisi Kesusasteraan pada tanggal 29 Oktober 1922 dan 31 Desembêr 1922. I. Kata Dasar 1. Kata dasar ditulis tidak mengulang aksara. Misalnya: tun [tuna], wni [wani], sert\ [sêrat], Xz [lênga], bvu [banyu], fan [dahana]. Tidak ditulis: tunN [tunna], wnNi [wanni], se/rt\ [sêrrat], X=z [lêngnga], bnVu [bannyu], fhan [dahhana]. Ada juga yang menyimpang: tnV [tannya]. Adapun: rayu [rahayu]. Meskipun bukan kata dasar juga tidak ditulis: rhayu [rahhayu]. Karena berasal dari kata: ayu [hayu], mendapat awalan: r [ra]. 2. Kata dasar yang memiliki tiga suku kata berawal suku kata terbuka. Meskipun di awal kata dasar tersebut menggunakan sandangan pepet, tetap ditulis apa adanya. Misalnya: ngr [nagara], slk [salaka], wtr [watara], mnw [manawa], bdy [badhaya]. 3. Kata dasar yang memiliki tiga suku kata berawal suku kata tertutup berakhir aksara hidung, ditulis seperti pengucapannya. Misalnya: Ha. cemPurit\ [cêmpurit], temBg [têmbaga], semBf [sêmbada], X=gn [lênggana], jemPn [jêmpana]. Na. lmPit [lampita], s=sr [sangsara]. 4. Suku kata yang bukan suku kata terakhir tidak bisa menggunakan pepet layar, apabila tidak diberi keret, hanya boleh diberi layar. Misalnya: f}kuku [drêkuku], g}ji [grêji], w/n [warna], w/t [warta]. Kecuali kata-kata asing yang akan ditonjolkan. Misalnya: &upe/!u/[jnF`l\ [gupêrnur jendral], [p]o[ssPe/bl\ [prosès pêrbal]. 5. Dalam satu kata, pasangan: c [ca], j [ja], tidak boleh ada di bawah aksara: n [na], harus berubah aksara: v [nya], misalnya: wvCi [wanyci], jvJi [janyji]. 6. Kata: kLp [klapa], tidak ditulis klp [kalapa]. bÓ|f( [bludru], tidak ditulis bluf( [baludru]. Dan sebagainya. Tetapi apabila diperlukan, baru boleh ditulis: klp [kalapa], bluf( [baludru]. 7. [fov [donya], serta: [sov [sonya], ditulis menggunakan taling tarung [o], bukan menggunakan suku [u]. 8. Kata asing yang sudah digunakan dalam kata Jawa, penulisannya berdasarkan pengucapan kata asing tersebut, misalnya: bgsi [bagasi], dari BAGAGE. II. Kata Jadian yang menggunakan awalan 1. Bunyi Sengau Ha. Apabila di awal kata dasar luluh, awalan bunyi sengaunya tidak ditulis menggunakan: a [ha]. Misalnya: ztg\ [ngatag], nnT= [nantang], vmBe/ [nyambêr], m]nt [mranata]. Apabila diperlukan boleh ditulis: aztg\ [angatag], annT= [anantang], avmBe/ [anyambêr], am]nt [amranata]. Na. Apabila pada awal kata dasar tidak luluh, misalnya: anFf/ [andadar], avJketet\ [anjakêtêt], anDede/ [andhêdhêr], a=giqi= [anggithing], amB|w= [ambuwang], tidak boleh ditulis: ff/ [dadar], jketet\ [jakêtêt], dede/ [dhêdhêr], giqi= [githing], buw= [buwang]. 2. Kata-kata kerja aktif yang awal kata dasarnya luluh dengan awalan bunyi sengau, apabila mendapat awalan: p [pa], awalan kata kerja aktif tersebut tidak diulang, misalnya: pnemBh [panêmbah], pvekel\ [panyêkêl], bukan pnNemBh [pannêmbah], pnVekel\[ [pannyêkêl]. 3. Bawa: k [ka]. Kata bawa: k [ka], yang awalannya tidak luluh dengan awal kata dasar, awalan: k [ka], harus dipepet, misalnya: keffk\ [kêdadak]. 4. Kata yang berawal aksara: a [ha], apabila diberi awalan: pi [pi], p]i [pri], tidak berubah, misalnya: pia=kuh [piangkuh], pia[won\ [piawon], pial [piala]. Yang menyimpang, awalnya berubah menjadi: y [ya], misalnya: piygem\ [piyagêm], p]i[y=og [priyôngga]. III. Kata Jadian setelah mendapat sisipan 1. Sisipan: r [ra], l [la]. Sisipan: r [ra], l [la]. Ditulis sesuai kata bentukan setelah mendapat sisipan, misalnya: p}nÒ|l\ [prêntul], jLerit\ [jlêrit], gLex= [glêrêng], tidak ditulis: pxnÒ|l\ [parêntul], jXrit\ [jalêrit], gXx= [galêrêng]. Jika diperlukan boleh ditulis: pxnÒ|l\ [parêntul], jXrit\ [jalêrit], gXx= [galêrêng]. 2. Sisipan: n [na], misalnya: pinyu=zn\ [pinayungan], ditulis tanpa menggunakan pasangan: n [na]. IV. Kata Jadian setelah mendapat akhiran 1. Akhiran yang berawal aksara: a [ha], apabila dilekatkan pada suku kata tertutup: a [ha] berubah menjadi aksara tertutup tersebut, seperti: awnN [awanna], wt[kK [watakke], XXsSn\ [lêlêssan], n=gpPi [nanggappi], gegemMen\ [gêgêmmên], rabBn [rahabbana]. 2. Akhiran: a [a]. Ha. Apabila terletak dibelakang suku kata terbuka, tetap ditulis: a [a], misalnya: bisa [bisaa]. Na. Berubah menjadi: y [ya], apabila dilekatkan pada suku kata terbuka: wulu [u], atau: taling [i], sedangkan apabila suku kata tersebut bukan: y [ya], misalnya: wniy [waniya], [d[dy [dhedheya], tetapi: p]iyyia [priyayia], kp]i[ya [kapriyea], tidak ditulis: p]iyyiy [priyayiya], kp]i[yy [kapriyeya]. Ca. Berubah menjadi: w [wa], apabila dilekatkan pada suku kata terbuka: suku [u], atau: taling tarung [o], sedangkan apabila bukan suku kata: w [wa], misalnya: niruw [niruwa], [bo[dow [bodhowa], tetapi: nwua [nawua], cu[woa [cuwoa], tidak ditulis: nwuw [nawuwa], cu[wow [cuwowa]. 3. Akhiran: [a [e], apabila dilekatkan pada suku kata terbuka, berubah menjadi: [n [ne], jadi tidak menggunakan pasangan: n [na], misalnya: jr [jara] - jr[n [jarane], bukan jr[nN [jaranne]. alu [alu] - alu[n [alune], bukan alu[nN [alunne]. 4. Akhiran: ai [i], apabila terletak di belakang suku kata terbuka, dengan pertolongan akhiran: an\ [an] terlebih dahulu, misalnya: pd [padha] - mdnNi [madhani]. genTi [gênti] - a=ge[nTnNi [anggêntènni]. bau [bau] - amB[aonNi [ambaonni]. 5. Akhiran: an\ [an]. Ha. Apabila dilekatkan pada suku kata terbuka, yang menggunakan sandangan: wulu [i], atau: taling [e], tidak luluh, awal akhiran berubah menjadi: y [ya], misalnya: ffi [dadi] - kffiyn\ [kadadiyan]. g[d [gadhe] - pg[dyn\ [pagadheyan]. Apabila dilekatkan pada suku kata terbuka, yang menggunakan sandangan: suku [u], atau: taling tarung [o], tidak luluh, awal akhiran berubah menjadi: w [wa], kados ta: lku [laku] - klkuwn\ [kalakuwan]. j[go [jago] - j[gown\ [jagowan] Na. Ada beberapa kata yang pada akhir suku katanya diberi wignyan [h], menyimpang dari aturan IV. 1. misalnya: weruh [wêruh] - kruwn\ [karuwan]. klih [kalih] - kliyn\ [kaliyan]. plih [palih] - pliyn\ [paliyan] (saudara sepersusuan). Tetapi: plihan\ [palihan] (krama), sedangkan ngoko: p[ron\ [paron]. Ca. Kata-kata pada bagian: Na, di atas, apabila mendapatkan akhiran: [a [e], maka wignyan [h] kadang-kadang bisa muncul lagi, misalnya: kruwn\ [karuwan] - kruha[nN [karuhhane]. pliyn\ [paliyan] - pliha[nN [palihhane] 6. Akhiran: aen\ [ên], apabila dilekatkan pada suku kata terbuka, berubah menjadi: nen\ [nên], misalnya: auj [uja] - aujnen\ [ujanên]. pnu [panu] - pnunen\ [panunên]. 7. Akhiran: an [ana]: apabila dilekatkan pada suku kata terbuka, dengan pertolongan akhiran: an\ [an] terlebih dahulu, misalnya: ab [aba] - zbnNn [ngabannana]. tli [tali] - t[lnNn [talènnana]. [p[p [pepe] - [p[pnNn [pèpènnana]. lku [laku] - l[konNn [lakonnana]. g[do [gadho] - g[donNn [gadhonnana]. 8. Akhiran: a[k [ake]. Ha. Apabila dilekatkan pada suku kata terbuka, suku kata tersebut ditutup dengan: k [ka] terlebih dahulu, sedangkan akhiran tetap: a[k [ake], apabila akhir suku kata tersebut: wulu [i], berubah menjadi: taling [e], apabila akhir suku kata: suku [u], berubah menjadi: taling tarung [o], misalnya: tp [tapa] - npkH[k [napakake]. lli [lali] - zL[lkH[k [nglalèkake]. ge[d [gêdhe] - a=ge[dkH[k [anggêdhèkake]. aju [aju] - z[jokH[k [ngajokake]. [bo[do [bodho] - a[mBo[dokH[k [ambodhokake]. Na. Kata yang bersuku kata akhir konsonan mati: n [na], apabila mendapat akhiran: a[k [ake], ada yang konsonan mati: n [na], berubah menjadi: k [ka], kemudian akhiran: a[k [ake], berubah menjadi: k[k [kake], misalnya: pkn\ [pakan] - mkkK[k [makakkake]. [a[won\ [ewon] - k[a[wokK[k [kaewokkake]. 9. Akhiran: n [na]. Apabila dilekatkan pada suku kata tertutup, tidak berubah, misalnya: [go[lk\ [golèk] - [go[lkN [golèkna]. Apabila tujuannya untuk dipanjangkan, akhiran: n [na], boleh dipanjangkan menjadi aen [êna]. Misalnya: [go[lkHen [golèkêna]. 10. Akhiran: aipun\ [ipun], apabila dilekatkan pada suku kata terbuka, berubah menjadi: nipun\ [nipun], misalnya: cuw [cuwa] - cuwnipun\ [cuwanipun]. [roti [roti] - [rotinipun\ [rotinipun]. putu [putu] - putunipun\ [putunipun], tidak ditulis: cuwnNipun\ [cuwannipun], [ro[tnNipun\ [rotènnipun], pu[tonNipun\ [putonnipun]. 11. Kata yang berupa wisesa na lingga, apabila mendapat akhiran: a [a], ditulis sesuai pengucapannya, jadi tanpa menggunakan pasangan: n [na], misalnya: sbukKn\ [sabukkan] - sbukKn [sabukkana], tidak ditulis: sbukKnN [sabukkanna]. V. Dwipurwa (perulangan pada awal kata dasar) Kata dwipurwa yang berbentuk perulangan sandangan suara, misalnya: rigen\ [rigên] - ririgen\ [ririgên]. t(k [truka] - tut(k [tutruka]. [wk [weka] - [w[wk [weweka]. [bo[nDot\ [bondhot] - [bo[bo[nDot\ [bobondhot], tetapi: [gonF [gônda] - g[gonF [gagônda], bukan: [go[gonF [gogônda]. VI. Dwilingga (kata ulang dasar) Kata yang berawalan: a [a], dan suku kata akhir berupa konsonan mati, jika dijadikan dwilingga (kata ulang), maka kata awal pada bagian belakang tidak berubah menjadi konsonan mati tersebut, misalnya: alun\ [alun] - alunHlun\ [alun-alun], bukan alunNlun\ [alun-nalun]. al= [alang] - al=al= [alang-alang], bukan al=zl= [alang-ngalang]. VII. Kata Majemuk Lanjutan dari Bab VI (Dwilingga), kata majemuk yang kata depannya bersuku kata akhir tertutup, serta kata di belakangnya berawal aksara: a [a], awal aksara: a [a], tidak berubah, misalnya: aufnHrum\ [udan arum], bukan aufnNrum\ [udan narum]. spitH[bon\ [sapit abon], bukan spitT[bon\ [sapit tabon]. VIII. Kata: ai= [ing] Kata yang berawal aksara: a [a], r [ra], l [la], apabila terletak di belakang: ai= [ing], tidak berubah, misalnya: ai=als\ [ing alas], ai=xmB= [ing rêmbang], ai=lt/ [ing latar]. Ada beberapa kata yang menyimpang, misalnya: ai=zi[so/ [ing ngisor], ai=znDp\ [ing ngandhap], ai=zxp\ [ing ngarêp], ai=zj_ [ing ngajêng], ai=zt[sS [ing ngatase], ai=zaurip\ [ing ngaurip], ai=z]iku [ing ngriku]. IX. Gembung (pasangan: w [wa]) Gembung tidak boleh dilekatkan pada pasangan yang letaknya ditulis di bawah aksara yang dipasangi, misalnya: ank\kW[lon\ [anak kwalon], tidak ditulis ankÑÈ[lon\ [anak kwalon], rimBg\fWipu/w [rimbag dwipurwa], tidak ditulis rimBg…pu/w[13] [rimbag dwipurwa]. X. Aksara Murda 1. Aksara murda hanya digunakan untuk tataprunggu artinya hanya untuk penghormatan, sedangkan penulisan lainnya tidak boleh menggunakan aksara murda. 2. Tidak ada aksara murda: %î [Rê] sarta *î [I]. XI. Aksara Suara 1. Ha. Aksara suara: A [a], I [i], E [e], U [u], O [o], untuk menulis kata asing, apabila ingin ditonjolkan. Na. x [rê], serta X [lê], tetap digunakan untuk penulisan. 2. A [a], I [i], E [e], U [u], O [o]. Tidak boleh menjadi pasangan maka harus dimatikan dengan tanda pangku, misalnya: wuln\Ap]il\ [wulan April]. X [lê]: apabila menjadi pasangan harus dikembalikan …Le [lê] misalnya: a[folLez [adol lênga], ae[folLen\ [êdollên]. x [rê], pasangannya tetap: > [rê]. XII. Aksara rekan 1. Aksara rekan untuk menulis kata asing apabila ada yang perlu ditonjolkan. 2. Aksara rekan yang terletak setelah suku kata tertutup, apabila pasangan aksara rekan tersebut tidak terletak di belakang konsonan mati, aksara konsonan mati tersebut harus diberi tanda pangku, misalnya: muk\t+i/ [Muktsir], zbF|l\g+ni [Ngabdul Ghani]. 3. Aksara rekan apabila mendapat sandangan: wulu, pepet, cecak, atau layar, cecak tiga tersebut diletakkan di depan (kiri) sandangan, misalnya: f+ik+i/ [dzikhir], p+/lu [farlu]. XIII. Angka Jawa Angka Jawa hanya boleh digunakan untuk mengurutkan bab serta untuk penulisan waktu. XIV. Angka Romawi Angka Romawi boleh digunakan pada penulisan aksara Jawa, yaitu untuk mengurutkan angka tahun dan sebagainya. Sedangkan aksara Latin bisa digunakan untuk nomor urut. XV. Aksara Latin serta angkanya Aksara Latin berserta angkanya apabila ditulis bersama dengan aksara Jawa: disejajarkan, jadi penulisannya ikut di bawah garis. XVI. Aksara Arab serta angkanya Aksara Arab serta angkanya, jika ditulis bersama dengan aksara Jawa, disejajarkan, jadi penulisannya ikut di bawah garis. XVII. Angka 2 Angka 2 tidak boleh digunakan untuk menyingkat kata: skliyn\ [sakaliyan], atau kata dwilingga (kata ulang), misalnya: pzbekTiskliyn\ [pangabêkti sakaliyan], tidak boleh ditulis: pzbekTi2yn\ [pangabêkti2yan], alunHlun\ [alun-alun] tidak boleh ditulis alun\2 [alun2].       Pusaka Jawi, Java Instituut, Mei 1926. Sumber: Pusaka Jawi, Java Instituut, Mei 1926, hlm. 65-70. Catatan kaki: 1. Keterangan tentang kongres ini beserta keputusan-keputusannya mengenai penulisan aksara Jawa dapat ditemukan di Pèngêtan Rêmbag Radya Pustaka Bab Panyêrat Kasusastran Jawi, Putra Nitipraja, 1923-24. MS. Sasana Pustaka 173 Ca. (kembali) 2. Mas Sastrawirya, salah satu perwakilan komisi kongres dari Persatuan Guru Bantu (PGB), menyatakan, prakarsa untuk menggelar kongres standardisasi penulisan aksara Jawa itu semula digagas oleh Mardibasa. Didirikan di Surakarta pada awal abad XX oleh sekelompok ilmuwan, perkumpulan itu bertujuan untuk memajukan kajian bahasa Jawa melalui analisis dari etimologinya. Lihat: 'Basa tuwin Kasusastran Jawi', Sastrawirya, terbit perdana dalam Pusaka Jawi, Java Instituut, Juni 1925, hlm. 134. Diterbitkan ulang dalam Sêrat Gancaran Warni-warni ing Jaman Punika, R. L. Mellema. J. B. Wolters, Betawi: 1933, hlm. 1-22. (kembali) 3. Setahun setelah Radya Pustaka direlokasi ke Sriwedari (1913), Wuryaningrat terpilih sebagai pangarsanya hingga 1927. Perkumpulan Narpa Wandawa didirikan pada 1914, tempat Wuryaningrat menjadi presidennya hingga 1927. Pada kurun-kurun itu juga, Wuryaningrat pun menjadi anggota Panitia Pengembangan Budaya Jawa (Comité voor Javaansche Cultuurontwikkeling, 1918). (kembali) 4. Jumlah kehadiran peserta di (vergadering) Desember 1922 di Sriwedari - termasuk 9 perwakilan dari komisi (semestinya 10 perwakilan, tetapi Normaalschool tidak ikut rapat ke-dua ini) dan 7 perwakilan dari perkumpulan - kurang-lebih 180 tamu. Lihat: Pèngêtan Rêmbag Radya Pustaka Bab Panyêrat Kasusastran Jawi, op. cit., hlm. 119-120. (kembali) 5. Komisi yang dibentuk untuk pertemuan 29 Oktober dan 31 Desember 1922 itu mencakup 10 perwakilan (Komisi 10 Golongan). Anggota masing-masing adalah: (1) Kasunanan: Radèn Ngabèi Nitipraja dan Mas Ngabèi Èsmutani; (2) Kasultanan: Radèn Tumênggung Jayadipura, Mas Wadana Dwijasewaya, dan Radèn Panèwu Jiwadipraja; (3) Mangkunagaran: Radèn Ngabèi Citrasêntana dan Mas Wôngsadiarja; (4) Pakualaman: Radèn Panji Jayèngpranata dan Radèn Mas Ngabèi Sasrasudarsa; (5) Paheman Radya Pustaka: Radèn Ngabèi Suradipura, Mas Ngabèi Prajapustaka, dan Mas Ngabèi Prawiratmaja; (6) Kweekschool: Mas Suwardi, pada pertemuan 31 Desember 1922, wakilnya diganti oleh Mas Jaya Sugito dan Radèn Brata Harjiya; (7) Normaalschool: Mas Ngabèi Arjasudira dan Radèn Ngabèi Brataharjita, pada pertemuan 31 Desember 1922 tidak ada wakil; (8) Persatuan Guru Hindia Belanda (PGHB): Mas Ngabèi Yasawidagda dan Mas Andaga Wedyakaryasa; (9) Persatuan Guru Bantu (PGB): Radèn Sutarman, Mas Sastrawirya, dan Mas Tôndhadisastra; (10) Balai Pustaka: tidak mengirim wakil di pertemuan 29 Oktober 1922, tapi menyampaikan masukan secara tertulis, adapun pada pertemuan 31 Desember 1922, Radèn Kamil hadir sebagai wakil. Lihat: Pèngêtan Rêmbag Radya Pustaka Bab Panyêrat Kasusastran Jawi, op. cit., hlm. 25-26, 118-120). (kembali) 6. Sumber foto: Pèngêtan Rêmbag Radya Pustaka Bab Panyêrat Kasusastran Jawi, op. cit., hlm. 1. (kembali) 7. "Pancènipun sawontên-wontênipun lajêng kêdah dipun limrahakên, dene sampurnanipun kalihan dipun ewahi. Anggêripun sabên taun dipun wontênakên konggrès bab basa tuwin kasusastran Jawi, dangu-dangu inggih badhe sampurna. Putusaning konggrès saya dangu masthi sangsaya sae." Lihat: Sêrat Gancaran Warni-warni ing Jaman Punika, op. cit., hlm. 3. Mas Sastrawirya adalah pakar kondang bahasa Jawa. Ia penerima hadiah pertama dalam sayembara tata-bahasa Jawa yang digelar Pusaka Jawi. (kembali) 8. 'Karampungan Pangrêmbagipun Wêwaton Panyêratipun Têmbung Jawi Mawi Sastra Jawi, miturut Putusan Parêpatan Kumisi Kasusastran marêngi kaping 29 Oktobêr 1922 sarta 31 Dhesèmbêr 1922', Pusaka Jawi, Java Instituut, Mei 1926, hlm. 65-70. (kembali) 9. Wawaton Panjeratipoen Temboeng Djawi mawi Sastra Djawi Dalasan Angka, mitoeroet Poetoesan Parepatan Koemisi Kasoesastran ing Sriwedari (Soerakarta). Landsdrukkerij - Weltevreden: 1926. Lihat juga foto aslinya: Wawaton Panyêratipun Têmbung Jawi, Kumisi Kasusastran, 1926, #366. (kembali) 10. Bandingkan versi Wawaton Panjeratipoen Temboeng Djawi mawi Sastra Djawi Dalasan Angka, op. cit., hlm. 3: "Makatên ugi: ra/j [raharja], raj_ [rahajêng], lan sapanunggilanipun." (kembali) 11. Bandingkan versi Wawaton Panjeratipoen Temboeng Djawi mawi Sastra Djawi Dalasan Angka, op. cit., hlm. 4: "Namung manawi wontên prêlunipun, upami kadamêl njangkêpakên guru wicalaning sêkar, sawêg kenging kasêrat: ...". (kembali) 12. Font untuk aksara pasangan: dw tidak tersedia (kembali) 13. Font untuk aksara pasangan: dw tidak tersedia (kembali) 14. Di versi Wawaton Panjeratipoen Temboeng Djawi mawi Sastra Djawi Dalasan Angka, op. cit., hlm. 12, terdapat contoh tambahan nomor 3. (kembali) Kategori Agama dan Kepercayaan Arsip dan Sejarah Bahasa dan Budaya Kisah, Cerita dan Kronikal Koran, Majalah dan Jurnal Katalog  Koleksi  Penanggalan Minggu 17 Februari 2019 AD.  Ngahad Pon 11 Jumadilakir Be 1952 AJ.  Kurup: 4. Salasiyah. Windu: 3. Sêngara. Pranatamôngsa: 8. Kawolu. Wuku: 19. Tambir. Padangon: 7. Tulus. Padewan: 5. Bathara Lodra. Paringkêlan: 1. Tungle. Leksikon  Telusuri 

Kamis, 10 Januari 2019

Kajian Wédhatama 96-100

Kajian Wedatama (95): Bangkit Ajur-ajer Bait ke-95, Pupuh Kinanthi, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV: Kaunanging budi luhung, bangkit ajur ajer kaki. Yen mangkono bakal cikal, thukul wijiling utami. Najan bener kawruhira, yen ana kang nyulayani... Terjemahan dalam bahasa Indonesia: Yang sudah kita kenal budi luhur itu, membangkitkan sikap mudah berbaur, anakku. Jika demikian akan bersemi, tumbuh biji keutamaan. Walau sudah benar pengetahuanmu, kalau ada yang menyelisihi,... Kajian per kata: Sikap yang diperlihatkan pada bait ke-93, Kawruhe Mung Ana Wuwus, yakni, banyak bicara yang tak dimengerti orang, tak mau mendengar perkataan orang lain, marah kalau disela atau dibantah, sangat tidak lazim disandang oleh orang berilmu. Biasanya orang berilmu sikapnya sangat menyenangkan orang lain, seperti yang diuraikan di bait ini. Kaunanging (yang sudah kita kenal) budi (budi) luhung (luhur), bangkit (menumbuhkan) ajur ajer (sikap berbaur) kaki (anakku). Yang sudah kita kenal budi luhur itu membangkitkan sikap mudah berbaur, anakku. Budi luhur itu membangkitkan dalam diri seseorang sikap yang gampang bergaul, menyatu dalam masyarakat, bersifat inklusif, tidak membuat komunitas sendiri tetapi berusaha untuk berbaur dengan masyarakat. Dalam budaya Jawa hal itu disebut ajur-ajer, menghancurkan ego sendiri (ajur), dan bercampur dengan yang lain (ajer) sehingga tak dapat dibedakan dengan yang lain. Sikap ajur-ajer ini sangat penting bagi orang yang berilmu agama, karena mereka terbebani tanggung jawab untuk mendidik masyarakat. Bagaimana mungkin akan berhasil membuat masyarakat melek agama kalau dia sendiri megasingkan diri, enggan berbaur dengan yang lain. Yen (jika) mangkono (demikian) bakal (akan) cikal (bersemi), thukul (tumbuh) wijiling (biji) utami (keutamaan). Jika demikian akan bersemi, tumbuh biji keutamaan. Adanya orang pintar ilmu agama yang berbudi luhur dan mau bergaul dengan masyarakat akan membuat masyarakat terdidik. Mendapat contoh dan teladan yang nyata, bukan sekedar teori muluk-muluk yang tidak membumi. Dapat sewaktu-waktu bertanya tentang aneka persoalan hukum, dapat mendapat saran dan pertimbangan yang baik tanpa merasa sungkan karena yang dihadapi adalah seorang tetangga yang karib. Keadaan yang kondusif demikian itu akan menumbuhkan bibit sikap utama dalam masyarakat, orang menjadi terpicu dan terpacu untuk berbuat baik, berlomba-lomba dalam kebaikan. Niscaya akan terbentuklah masyarakat yang penuh barokah dan ampunan Tuhan. Najan (walau) bener (benar) kawruhira (pengetahuanmu), yen (kalau) ana (ada) kang (yang) nyulayani (menyelisihi). Walau sudah benar pengetahuanmu, kalau ada yang menyelisihi,... Tetapi bagi orang yang berilmu untuk dapat membaur dalam masyarakat juga merupakan tantangan tersendiri. Walau sudah berada di jalur yang benar dan juga mengajarkan kebenaran selalu saja ada orang yang menyelisihi. Karena watak dan tabiat manusia berbeda- beda, tidak semuanya baik-baik. Ada yang menyimpan dengki, ada yang iri dan ada yang karena kepentingan tertentu ingin tampil demi mendapat pujian. Entah karena ingin populer agar menang pilkades atau sekadar demi sebuah perolehan materi. Itu semua perlu disikapi dengan bijak oleh orang yang berbudi luhur. Sikap apakah yang tepat untuk mereka? Jawabannya ada di bait selanjutnya, karena tampaknya kalimat di atas terputus maknanya. Maka nantikan kajian berikutnya. Jangan sampai ketinggalan. Kajian Wedatama (96): Aywa Esak Aywa Serik Bait ke-96, Pupuh Kinanthi, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV: Tur kang nyulayani iku, wus wruh yen kawruhe nempil. Nanging laire angalah, katingala angemori, mung ngenaki tyasing liyan. Aywa esak aywa serik. Terjemahan dalam bahasa Indonesia: Dan yang menyelisihi itu, sudah ketahuan bahwa pengetahuannya hanya sedikit. Tetapi perlihatkan sikap mengalah, agar terlihat menyetujui, hanya agar membuat nyaman hati orang lain. Jangan mendendam dan jangan sakit hati (terhadap perlakuan mereka). Kajian per kata: Pada bait sebelumnya telah disinggung bahwa bagi seorang berilmu dan berbudi luhur berbaur dalam masyarakat juga mempunyai tantangan tersendiri. Diantara tantangan yang dihadapi adalah orang yang suka menyelisihi. Bait ini menyarankan sebuah sikap untuk menghadapi mereka, para penyelisih itu. Tur (dan) kang (yang) nyulayani (menyelisihi) iku (itu), wus (sudah) wruh (tahu) yen (kalau) kawruhe (pengetahuannya) nempil (sedikit). Dan yang menyelisihi itu, sudah ketahuan bahwa pengetahuannya hanya sedikit. Sering terjadi bahwa orang yang ilmunya sedikit justru sering pamer ilmu kepada orang banyak. Suka menyelisihi pendapat orang lain agar terkesan menguasai suatu masalah. Suka meributkan hal-hal kecil yang menjadi sumber perbedaan (khilafiah) dan melupakan hal pokok (ushul). Mereka seringkali reseh dan nyinyir manakala ada hal baik yang dilakukan orang lain, sementara dia sendiri enggan mempelopori. Terhadap orang berwatak demikian itu orang yang berilmu dan berbudi luhur tak perlu kaget atau reaktif, tapi malah harus bersikap ramah dan disambut baik. Atau istilah keren yang sering dipakai sekarang: welcome. Nanging (tetapi) laire (perlihatkan sikap) angalah (mengalah), katingala (agar terlihat) angemori (menyetujui), mung (hanya) ngenaki (membuat nyaman) tyasing (hati) liyan (orang lain). Tetapi perlihatkan sikap mengalah, agar terlihat menyetujui, hanya agar membuat nyaman hati orang lain. Yang dimaksud dalam gatra ini adalah bersikap bijak, pertama tidak perlu berbantah adu ilmu, toh juga perdebatan yang demikian tidak akan membuat salah satunya sadar. Yang ada justru merasa terpojokkan dan menyimpan dendam. Yang kedua bersikap ramah dan angemori, menyetujui atau berbaur mencari kesamaan-kesamaan terlebih dahulu alih-alih meruncingkan perbedaan. Yang ketiga, membuat nyaman hati orang tersebut. Jika sudah demikian keduanya dapat bertukar pikiran dengan hati yang lega karena sudah merasa satu kubu, satu front. Inilah sikap yang perlu dikedepankan oleh orang-orang berilmu yang berbudi luhur. Aywa (jangan) esak (dendam) aywa (jangan) serik (sakit hati). Jangan mendendam dan jangan sakit hati (terhadap perlakuan mereka). Jika dapat bersikap seperti di atas akan tercipta kesejukan dalam masyarakat. Kondisi ini akan kondusif untuk melakukan dakwah lebih lanjut. Tetapi memang sikap demikian sungguh sulit dilakukan, kecuali oleh orang-orang yang sudah mencapai derajat tinggi dalam ilmu dan amal, ngelmu lan laku. Yang sering terjadi adalah sikap dendam dan sakit hati apabila dibantah, dihujat atau ditantang. Yang demikian itu hendaklah dihindari karena medan jihad menyebarkan kebaikan memang sulit, jadi halangannya pun banyak, rintangannya pun bejibun, ujiannya pun sulit. Oleh karena itu perlu bagi seseorang yang berilmu yang ingin mencapai budi luhur untuk selalu menjaga hati agar selalu penuh prasangka baik, toleran terhadap kekurangan orang lain serta kuatkan hati dan mental. Jangan mudah mendendam, jangan mudah sakit hati. Kajian Wedatama (97): Cinancang Pucuking Cipta Bait ke-97, Pupuh Kinanthi, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV: Yeku ilapating wahyu, yen yuwana ing salami. Marga wimbuh ing nugraha, saking heb Kang Maha suci. Cinancang pucuking cipta, nora ucul ucul kaki. Terjemahan dalam bahasa Indonesia: Itulah isyarat dari wahyu (Tuhan), kalau ingin selamat selamanya. Jalan untuk memperbanyak pahala, sesuai dengan sabda Yang Maha Suci. Diikat diujung cipta (pikiran), takkan pernah lepas lagi. Kajian per kata: Yeku (itulah) ilapating (isyarat, tanda-tanda) wahyu (wahyu, pentunjuk Tuhan), yen (kalau) yuwana (selamat) ing salami (selamanya). Itulah isyarat dari wahyu (Tuhan), kalau ingin selamat selamanya. Sikap itulah yang sesuai dengan isyarat pentunjuk wahyu dari Tuhan, yakni Al Quran, hendaklah diamalkan terus menerus bila ingin selamat selama-lamanya. Sudah selayaknya jika orang yang berilmu agama memegang teguh budi luhur, akhlakul karimah, karena itulah buah dari ilmu yang sejati. Jika agamawan hanya pandai berkhutbah saja hanya akan menjadi tukang dongeng, tetapi jika dapat mencontohkan dengan keteladanan, itulah ulama yang lurus. Marga (jalan) wimbuh (bertambahnya) ing nugraha (pahala, nikmat), saking (dari) heb (sabda) Kang Maha suci (Yang Maha Suci). Jalan untuk memperbanyak pahala, sesuai dengan sabda Yang Maha Suci. Ilmu yang diamalkan dalam tindakan, serta mengajak orang lain untuk melakukan kebaikan adalah perbuatan yang baik yang akan menambah pahala. Bagi orang yang berilmu dan berbudi luhur berbuat baik adalah keniscayaan, sebagai buah dari ilmu dan amal. Mereka takkan berbuat kotor seperti kita juga takkan pernah minum air comberan karena merasa jijik, perumpamaannya seperti itu. Dan bagi siapapun yang melakukan kebaikan akan mendapat pahala. Itulah yang sudah dituliskan Yang Maha Suci dalam sabdaNya, Al Quran. Cinancang (diikat) pucuking (diujung) cipta (cipta), nora(takkan) ucul ucul (pernah lepas) kaki (anakku). Diikat diujung cipta (pikiran), takkan pernah lepas lagi. Yang dimaksud cinancang pucuking cipta dalam kalimat di atas adalah akidah. Akidah adalah pokok-pokok kepercayaan yang diikat dalam pikiran, dalam suatu pandangan dunia tertentu. Akidah yang sudah kuat, hasil dari pemikiran dan pengkajian yang mendalam takkan mudah goyah dan telepas, walau oleh bujukan, rayuan, paksaan, intimidasi, agitasi, dan aneka perlakuan tak ilmiah lainnya. Akidah yang kuat melahirkan ketetapan hati (keimanan), dan keimanan yang kuat akan berbuah perbuatan terpuji. Kajian Wedatama (98): Pakoleh Budi Premati Bait ke-98, Pupuh Kinanthi, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV: Mangkono ingkang tinamtu, tampa nugrahaning Widhi. Marma ta kulup den bisa, mbusuki ujaring jamni. Pakoleh lair batinnya, iyeku budi premati. Terjemahan dalam bahasa Indonesia: Demikian yang sudah menjadi ketetapan (Tuhan), akan menerima pahala dari Yang Maha Kuasa. Oleh karena itu, anakku, bisa-bisalah berlagak bodoh terhadap perkataan manusia. Keuntungannya lahir dan batin, yaitu tersimpan rapinya kebaikan kita. Kajian per kata: Mangkono (demikianlah) ingkang (yang) tinamtu (sudah menjadi ketetapan), tampa (menerima) nugrahaning (pahala) Widhi (Yang Maha Kuasa). Demikian yang sudah menjadi ketetapan (Tuhan), akan menerima pahala dari Yang Maha Kuasa. Yang dimaksud dalam bait ini adalah sikap pada bait ke-96, Aywa Esak Aywa Serik, tentang orang yang enggan berselisih tentang ilmu, adu ilmu atau berdebat. Tetapi justru menyambut yang menyelisihi layaknya teman. Sikap demikian sungguh besar pahalanya karena membuat suasana menjadi baik, kondusif untuk dakwah lebih lanjut dan menghindarkan pertengkaran. Marma (oleh karena itu) ta kulup (anakku) den bisa (bisalah), mbusuki (berlagak bodoh) ujaring (perkataan) janmi (manusia). Oleh karena itu, anakku, bisa-bisalah berlagak bodoh terhadap perkataan manusia. Sikap ini sudah dicontohkan peneranpannya pada bait ke-96, yakni lebih baik mengalah kalau ada yang mengklaim pintar, biar dia merasa senang. Dengan begitu kepercayaan orang tersebut (yang sejatinya sudah diyakini ilmunya hanya sedikit) akan naik dan terpacu untuk berbuat baik. Ini adalah sikap bijak, bisa mengemong orang yang banyak omong. Luar biasa jika mampu melakukan itu. Maka belajarlah agar engkau dapat melakukan yang demikian, anakku! Pakoleh (keuntunganya) lair (lahir) batinnya (batibn), iyeku (yaitu) budi (budi) premati (tersimpan rapi). Keuntungannya lahir dan batin, yaitu tersimpan rapinya kebaikan kita. Keuntungan lahir dari sikap mengalah ini adalah menghindarkan pertengkaran yang tidak perlu, sedangkan keuntungan batin adalah kebaikan hati kita tetap tersimpan rapi sebagai rahasia. Ini menghindarkan kita dari sikap riya’, ujub atau takabur, juga sifat sombong. Dalam masyarakat tak perlulah kita merasa atau harus paling baik, atau paling pintar, atau paling hebat. Kedudukan yang setara lebih membuat nyaman sesama manusia. Kajian Wedatama (99):Nulad Mrih Utami Bait ke-99, Pupuh Kinanthi, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV: Pantes tinulad tinurut, laladane mrih utami. Utama kembanging mulya, kamulyaning jiwa dhiri. Ora ta yen ngeplekana, lir leluhur nguni-uni. Terjemahan dalam bahasa Indonesia: (Mereka) pantas diteladani dan diikuti, usahanya meraih keutamaan. Perbuatan utama adalah bunga dari kemuliaan, kemuliaannya jiwa sendiri. Tak usah kalau sama persis, seperti yang dilakukan para leluhur di jaman dahulu. Kajian per kata: Pantes (pantas) tinulad (diteladani) tinurut (diikuti), laladane (usahanya) mrih (agar) utami (utama). (Mereka) pantas diteladani dan diikuti, usahanya meraih keutamaan. Sesungguhnya meraih keutamaan dalam hidup itu sulit dan amat berat rintangannya. Orang- orang yang telah disebutkan watak dan perilakunya dalam bait-bait sebelumnya adalah mereka yang sudah berhasil mencapai tahap itu. Oleh karena itu mereka pantas diteladani dan diikuti langkah-langkahnya dalam usaha meraih keutamaan. Utama adalah sesuatu yang lebih tinggi derajatnya dari baik. Perbuatan utama adalah perbuatan yang lebih baik dari perbuatan baik. Dalam usaha untuk meraih yang utama pertimbangannya sangat banyak, mulai dari niat, cara dan tujuan serta akibat-akibat yang ditimbulkannya harus dicermati agar tidak menimbulkan sesuatu yang kurang baik. Walau secara teoritis hal-hal yang baik sudah lengkap di dalam kitab suci (Quran) dan pentunjuk Nabi (Hadits), tetapi jika tanpa melihat contoh langsung di lapangan seseorang tetaplah sulit untuk mencapai kebaikan, apalagi jika dia tak puas dan mengejar keutamaan, akan jauh lebih sulit lagi. Hal demikian karena urusan moral tidak bisa mengambil bentuk baku yang sama antar jaman dan antar tempat, semua bersifat kontekstual. Dalam hal ini kebijaksanaan amat berperan dalam menentukan sebuah tindakan. Hal-hal yang demikian ini akan lebih mudah dilakukan jika kita belajar langsung dari para guru, atau para orang-orang zaman dahulu. Utama (utama) kembanging (adalah bunganya) mulya (kemuliaan), kamulyaning (kemuliaannya) jiwa (jiwa) dhiri (sendiri). Perbuatan utama adalah bunga dari kemuliaan, kemuliaannya jiwa sendiri. Dalam sejarah telah lahir banyak orang-orang yang menapak jalan kemuliaan, menjaga diri dari tindak angkara, teliti dan wara’ dalam memenuhi kebutuhan hidup, berhati-hati dalam keinginan dan tidak menonjolkan kedirian. Inilah jalan kemuliaan yang melahirkan keutamaan. Utama disebut sebagai bunganya kemuliaan karena memang hanya dapat lahir dari jiwa yang mulia, seperti halnya padi hanya dapat berbuah dari pohon padi, tidak dari ilalang. Ora ta (tidak usah) yen (kalau) ngeplekana (sama persis), lir (seperti) leluhur (para leluhur) nguni-uni (di jaman dulu). Tak usah kalau sama persis seperti yang dilakukan para leluhur di jaman dahulu. Kepada orang-orang yang telah berhasil meraih keutamaan tadi, hendaklah kita mencontoh dan mengikuti perbuatan mereka, laku dan amalan mereka. Tidak harus sama persis dengan para leluhur di zaman dahulu, yang penting sudah berusaha keras untuk itu. Karena para leluhur telah melakukan hal-hal yang luar biasa, sehingga meneladani mereka pun sulit, walau demikian kita seharusnya bersyukur mendapat teladan yang bagus. Oleh karena itu dengan sekuat tenaga hendaknya mengikuti jalan mereka. Kajian Wedatama (100): Aywa Tuna Ing Tumitah Bait ke-100, Pupuh Kinanthi, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV: Ananging ta kudu kudu, sakadarira pribadi. Aywa tinggal tutuladan, Lamun tan mangkono kaki, yekti tuna ing tumitah. Poma kaestokna kaki Terjemahan dalam bahasa Indonesia: Tetapi harus semangat sekali, sesuai kekutan masing-masing pribadi. Jangan sekalipun meninggalkan teladan, jika tak demikian anakku, sungguh rugi dalam kehidupanmu sebagai makhluk Tuhan. Harap patuhilah anakku! Kajian per kata: Ananging ta (tetapi) kudu (harus) kudu (rajin sekali), sakadarira (sesuai kekuatan masing- masing) pribadi (pribadi). Tetapi harus semangat sekali, sesuai kekuatan masing-masing pribadi. Walau di bait ke-99, Nulad Mrih Utami, telah disebutkan bahwa mencontoh para leluhur tak harus persis sama (karena sulit menyamai mereka), namun harus diusahakan dengan sungguh-sungguh. Di gatra ini ada dua kata kudu yang bermakna berbeda. Kudu yang pertama berarti harus, kudu yang kedua adalah kumudu-kudu, melakukan sesuatu dengan semangat sekali, seolah-olah akan diselesaikan semua saat itu juga. Jadi mencontoh para leluhur dalam hal keutamaan harus dilakukan dengan semangat sekali, namun tetap harus mengukur kadar kemampuan masing-masing. Sakadarira bukan berarti ala kadarnya, tetapi berusaha maksimal sesuai kemampuan yang telah diberikan Tuhan. Aywa (jangan) tinggal (meninggalkan) tutuladan (teladan), lamun (jika) tan (tidak) mangkono (demikian) kaki (anakku), yekti (benar-benar) tuna (rugi) ing (dalam) tumitah (kehidupanmu sebagai makhluk). Jangan sekalipun meninggalkan teladan, jika tak demikian anakku, sungguh rugi dalam kehidupanmu sebagai makhluk Tuhan. Jangan sekali-kali meninggalkan tauladan. Bagaimanapun melakukan suatu kebaikan akan lebih mudah jika sudah ada contohnya. Maka sepanjang ada tauladan kebaikan tak ada salahnya mengikuti. Namun terhadap hal-hal yang belum ada preseden soal itu, dalam perkara-perkara yang baru haruslah sungguh-sungguh berusaha (ijtihad) menentukan sikap yang tepat. Dan ini pekerjaan yang sulit dan memerlukan pemikiran dan ketelitian. Poma (harap) kaestokna (patuhilah) kaki (anakku). Harap patuhilah anakku! Poma adalah perintah yang sangat. Agar sungguh-sungguh dilakukan apa yang sudah dianjurkan dalam bait-bait serat Wedatama ini, sebagai ajaran tentang kehidupan yang berisi anjuran menuju kebaikan. Walau demikian penerapannya untuk zaman kini haruslah mempertimbangkan situasi dan kondisi yang ada. Mengingat zaman telah berubah secara drastis, sistem pemerintahan juga sudah jauh berbeda, tata kehidupan masyarakat sudah bergeser dan teknologi manusia juga ibarat bumi-langit jika dibanding pada masa serat ini digubah. Dengan selesainya kajian bait ke-100 selesai sudah secara keseluruhan kajian serat Wedatama ini. Kami selaku penyaji sangat-sangat mengucapkan terima kasih kepada siapa pun yang berkenan mengikuti kajian ini hingga tuntas. Semoga apa yang kami lakukan dapat memberi manfaat kepada para pembaca yang budiman. Kami sadar bahwa beberapa hal dari kajian ini masih mengandung banyak kelemahan. Kelak jikalau ada kesempatan kami akan perbaiki agar lebih sempurna. Akhirul kalam, jika ada salah-kurangnya kami memohon untuk dibetulkan. Perlu juga kami sampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya jika yang kami sajikan masih jauh dari harapan pembaca. Sekian. TITI.