Gunungtugel peristiwa sebuah awal peradaban lama,yang telah mengawali peradaban baru sebagai pondasi awal terwujadnya ri Bhumi Mataram.Hal yang demikian diperoleh dari winarah para Sepuh dari jaman ke jaman.Diantaranya winarah yang diperoleh mbah Datrim dari mbah Datuk Kahfi.winarah yang di maksut adalah latar belakang Gunungtugel.Demikian juga winarah dari mbah Bakri dari eyang Muhsin.Eyang Muhsin dari Syeh Abdurahman,dari Ki Buyut Manguneng.
Kamis, 10 Januari 2019
Kajian Wédhatama 96-100
Kajian Wedatama (95): Bangkit Ajur-ajer
Bait ke-95, Pupuh Kinanthi, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV:
Kaunanging budi luhung, bangkit ajur ajer kaki.
Yen mangkono bakal cikal, thukul wijiling utami. Najan bener kawruhira, yen ana kang nyulayani...
Terjemahan dalam bahasa Indonesia:
Yang sudah kita kenal budi luhur itu, membangkitkan sikap mudah berbaur, anakku. Jika demikian akan bersemi,
tumbuh biji keutamaan.
Walau sudah benar pengetahuanmu,
kalau ada yang menyelisihi,...
Kajian per kata:
Sikap yang diperlihatkan pada bait ke-93, Kawruhe Mung Ana Wuwus, yakni, banyak bicara yang tak dimengerti orang, tak mau mendengar perkataan orang lain, marah kalau disela atau dibantah, sangat tidak lazim disandang oleh orang berilmu. Biasanya orang berilmu sikapnya sangat menyenangkan orang lain, seperti yang diuraikan di bait ini.
Kaunanging (yang sudah kita kenal) budi (budi) luhung (luhur), bangkit (menumbuhkan) ajur ajer (sikap berbaur) kaki (anakku). Yang sudah kita kenal budi luhur itu membangkitkan sikap mudah berbaur, anakku.
Budi luhur itu membangkitkan dalam diri seseorang sikap yang gampang bergaul, menyatu dalam masyarakat, bersifat inklusif, tidak membuat komunitas sendiri tetapi berusaha untuk berbaur dengan masyarakat. Dalam budaya Jawa hal itu disebut ajur-ajer, menghancurkan ego sendiri (ajur), dan bercampur dengan yang lain (ajer) sehingga tak dapat dibedakan dengan yang lain.
Sikap ajur-ajer ini sangat penting bagi orang yang berilmu agama, karena mereka terbebani tanggung jawab untuk mendidik masyarakat. Bagaimana mungkin akan berhasil membuat masyarakat melek agama kalau dia sendiri megasingkan diri, enggan berbaur dengan yang lain.
Yen (jika) mangkono (demikian) bakal (akan) cikal (bersemi), thukul (tumbuh) wijiling (biji) utami (keutamaan). Jika demikian akan bersemi, tumbuh biji keutamaan.
Adanya orang pintar ilmu agama yang berbudi luhur dan mau bergaul dengan masyarakat akan membuat masyarakat terdidik. Mendapat contoh dan teladan yang nyata, bukan sekedar teori muluk-muluk yang tidak membumi. Dapat sewaktu-waktu bertanya tentang aneka persoalan hukum, dapat mendapat saran dan pertimbangan yang baik tanpa merasa sungkan karena yang dihadapi adalah seorang tetangga yang karib.
Keadaan yang kondusif demikian itu akan menumbuhkan bibit sikap utama dalam masyarakat, orang menjadi terpicu dan terpacu untuk berbuat baik, berlomba-lomba dalam kebaikan. Niscaya akan terbentuklah masyarakat yang penuh barokah dan ampunan Tuhan.
Najan (walau) bener (benar) kawruhira (pengetahuanmu), yen (kalau) ana (ada) kang (yang) nyulayani (menyelisihi). Walau sudah benar pengetahuanmu, kalau ada yang menyelisihi,...
Tetapi bagi orang yang berilmu untuk dapat membaur dalam masyarakat juga merupakan tantangan tersendiri. Walau sudah berada di jalur yang benar dan juga mengajarkan kebenaran selalu saja ada orang yang menyelisihi. Karena watak dan tabiat manusia berbeda- beda, tidak semuanya baik-baik. Ada yang menyimpan dengki, ada yang iri dan ada yang karena kepentingan tertentu ingin tampil demi mendapat pujian. Entah karena ingin populer agar menang pilkades atau sekadar demi sebuah perolehan materi.
Itu semua perlu disikapi dengan bijak oleh orang yang berbudi luhur. Sikap apakah yang tepat untuk mereka? Jawabannya ada di bait selanjutnya, karena tampaknya kalimat di atas terputus maknanya. Maka nantikan kajian berikutnya. Jangan sampai ketinggalan.
Kajian Wedatama (96): Aywa Esak Aywa Serik
Bait ke-96, Pupuh Kinanthi, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV:
Tur kang nyulayani iku,
wus wruh yen kawruhe nempil. Nanging laire angalah, katingala angemori,
mung ngenaki tyasing liyan. Aywa esak aywa serik.
Terjemahan dalam bahasa Indonesia:
Dan yang menyelisihi itu,
sudah ketahuan bahwa pengetahuannya hanya sedikit.
Tetapi perlihatkan sikap mengalah,
agar terlihat menyetujui,
hanya agar membuat nyaman hati orang lain.
Jangan mendendam dan jangan sakit hati (terhadap perlakuan mereka).
Kajian per kata:
Pada bait sebelumnya telah disinggung bahwa bagi seorang berilmu dan berbudi luhur berbaur dalam masyarakat juga mempunyai tantangan tersendiri. Diantara tantangan yang dihadapi adalah orang yang suka menyelisihi. Bait ini menyarankan sebuah sikap untuk menghadapi mereka, para penyelisih itu.
Tur (dan) kang (yang) nyulayani (menyelisihi) iku (itu), wus (sudah) wruh (tahu) yen (kalau) kawruhe (pengetahuannya) nempil (sedikit). Dan yang menyelisihi itu, sudah ketahuan bahwa pengetahuannya hanya sedikit.
Sering terjadi bahwa orang yang ilmunya sedikit justru sering pamer ilmu kepada orang banyak. Suka menyelisihi pendapat orang lain agar terkesan menguasai suatu masalah. Suka meributkan hal-hal kecil yang menjadi sumber perbedaan (khilafiah) dan melupakan hal pokok (ushul). Mereka seringkali reseh dan nyinyir manakala ada hal baik yang dilakukan orang lain, sementara dia sendiri enggan mempelopori. Terhadap orang berwatak demikian itu orang yang berilmu dan berbudi luhur tak perlu kaget atau reaktif, tapi malah harus bersikap ramah dan disambut baik. Atau istilah keren yang sering dipakai sekarang: welcome.
Nanging (tetapi) laire (perlihatkan sikap) angalah (mengalah), katingala (agar terlihat) angemori (menyetujui), mung (hanya) ngenaki (membuat nyaman) tyasing (hati) liyan (orang lain). Tetapi perlihatkan sikap mengalah, agar terlihat menyetujui, hanya agar membuat nyaman hati orang lain.
Yang dimaksud dalam gatra ini adalah bersikap bijak, pertama tidak perlu berbantah adu ilmu, toh juga perdebatan yang demikian tidak akan membuat salah satunya sadar. Yang ada justru merasa terpojokkan dan menyimpan dendam. Yang kedua bersikap ramah dan angemori, menyetujui atau berbaur mencari kesamaan-kesamaan terlebih dahulu alih-alih meruncingkan perbedaan. Yang ketiga, membuat nyaman hati orang tersebut. Jika sudah demikian keduanya dapat bertukar pikiran dengan hati yang lega karena sudah merasa satu kubu, satu front. Inilah sikap yang perlu dikedepankan oleh orang-orang berilmu yang berbudi luhur.
Aywa (jangan) esak (dendam) aywa (jangan) serik (sakit hati). Jangan mendendam dan jangan sakit hati (terhadap perlakuan mereka).
Jika dapat bersikap seperti di atas akan tercipta kesejukan dalam masyarakat. Kondisi ini akan kondusif untuk melakukan dakwah lebih lanjut. Tetapi memang sikap demikian sungguh sulit dilakukan, kecuali oleh orang-orang yang sudah mencapai derajat tinggi dalam ilmu dan amal, ngelmu lan laku.
Yang sering terjadi adalah sikap dendam dan sakit hati apabila dibantah, dihujat atau ditantang. Yang demikian itu hendaklah dihindari karena medan jihad menyebarkan kebaikan memang sulit, jadi halangannya pun banyak, rintangannya pun bejibun, ujiannya pun sulit.
Oleh karena itu perlu bagi seseorang yang berilmu yang ingin mencapai budi luhur untuk selalu menjaga hati agar selalu penuh prasangka baik, toleran terhadap kekurangan orang lain serta kuatkan hati dan mental. Jangan mudah mendendam, jangan mudah sakit hati.
Kajian Wedatama (97): Cinancang Pucuking Cipta
Bait ke-97, Pupuh Kinanthi, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV:
Yeku ilapating wahyu,
yen yuwana ing salami. Marga wimbuh ing nugraha, saking heb Kang Maha suci. Cinancang pucuking cipta, nora ucul ucul kaki.
Terjemahan dalam bahasa Indonesia:
Itulah isyarat dari wahyu (Tuhan), kalau ingin selamat selamanya.
Jalan untuk memperbanyak pahala, sesuai dengan sabda Yang Maha Suci. Diikat diujung cipta (pikiran),
takkan pernah lepas lagi.
Kajian per kata:
Yeku (itulah) ilapating (isyarat, tanda-tanda) wahyu (wahyu, pentunjuk Tuhan), yen (kalau) yuwana (selamat) ing salami (selamanya). Itulah isyarat dari wahyu (Tuhan), kalau ingin selamat selamanya.
Sikap itulah yang sesuai dengan isyarat pentunjuk wahyu dari Tuhan, yakni Al Quran, hendaklah diamalkan terus menerus bila ingin selamat selama-lamanya. Sudah selayaknya jika orang yang berilmu agama memegang teguh budi luhur, akhlakul karimah, karena itulah buah dari ilmu yang sejati. Jika agamawan hanya pandai berkhutbah saja hanya akan menjadi tukang dongeng, tetapi jika dapat mencontohkan dengan keteladanan, itulah ulama yang lurus.
Marga (jalan) wimbuh (bertambahnya) ing nugraha (pahala, nikmat), saking (dari) heb (sabda) Kang Maha suci (Yang Maha Suci). Jalan untuk memperbanyak pahala, sesuai dengan sabda Yang Maha Suci.
Ilmu yang diamalkan dalam tindakan, serta mengajak orang lain untuk melakukan kebaikan adalah perbuatan yang baik yang akan menambah pahala. Bagi orang yang berilmu dan berbudi luhur berbuat baik adalah keniscayaan, sebagai buah dari ilmu dan amal. Mereka takkan berbuat kotor seperti kita juga takkan pernah minum air comberan karena merasa jijik, perumpamaannya seperti itu. Dan bagi siapapun yang melakukan kebaikan akan mendapat pahala. Itulah yang sudah dituliskan Yang Maha Suci dalam sabdaNya, Al Quran.
Cinancang (diikat) pucuking (diujung) cipta (cipta), nora(takkan) ucul ucul (pernah lepas) kaki (anakku). Diikat diujung cipta (pikiran), takkan pernah lepas lagi.
Yang dimaksud cinancang pucuking cipta dalam kalimat di atas adalah akidah. Akidah adalah pokok-pokok kepercayaan yang diikat dalam pikiran, dalam suatu pandangan dunia tertentu. Akidah yang sudah kuat, hasil dari pemikiran dan pengkajian yang mendalam takkan mudah goyah dan telepas, walau oleh bujukan, rayuan, paksaan, intimidasi, agitasi, dan aneka perlakuan tak ilmiah lainnya. Akidah yang kuat melahirkan ketetapan hati (keimanan), dan keimanan yang kuat akan berbuah perbuatan terpuji.
Kajian Wedatama (98): Pakoleh Budi Premati
Bait ke-98, Pupuh Kinanthi, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV:
Mangkono ingkang tinamtu, tampa nugrahaning Widhi. Marma ta kulup den bisa, mbusuki ujaring jamni. Pakoleh lair batinnya,
iyeku budi premati.
Terjemahan dalam bahasa Indonesia:
Demikian yang sudah menjadi ketetapan (Tuhan), akan menerima pahala dari Yang Maha Kuasa. Oleh karena itu, anakku, bisa-bisalah
berlagak bodoh terhadap perkataan manusia. Keuntungannya lahir dan batin,
yaitu tersimpan rapinya kebaikan kita.
Kajian per kata:
Mangkono (demikianlah) ingkang (yang) tinamtu (sudah menjadi ketetapan), tampa (menerima) nugrahaning (pahala) Widhi (Yang Maha Kuasa). Demikian yang sudah menjadi ketetapan (Tuhan), akan menerima pahala dari Yang Maha Kuasa.
Yang dimaksud dalam bait ini adalah sikap pada bait ke-96, Aywa Esak Aywa Serik, tentang orang yang enggan berselisih tentang ilmu, adu ilmu atau berdebat. Tetapi justru menyambut yang menyelisihi layaknya teman. Sikap demikian sungguh besar pahalanya karena membuat suasana menjadi baik, kondusif untuk dakwah lebih lanjut dan menghindarkan pertengkaran.
Marma (oleh karena itu) ta kulup (anakku) den bisa (bisalah), mbusuki (berlagak bodoh) ujaring (perkataan) janmi (manusia). Oleh karena itu, anakku, bisa-bisalah berlagak bodoh terhadap perkataan manusia.
Sikap ini sudah dicontohkan peneranpannya pada bait ke-96, yakni lebih baik mengalah kalau ada yang mengklaim pintar, biar dia merasa senang. Dengan begitu kepercayaan orang tersebut (yang sejatinya sudah diyakini ilmunya hanya sedikit) akan naik dan terpacu untuk berbuat baik. Ini adalah sikap bijak, bisa mengemong orang yang banyak omong. Luar biasa jika mampu melakukan itu. Maka belajarlah agar engkau dapat melakukan yang demikian, anakku!
Pakoleh (keuntunganya) lair (lahir) batinnya (batibn), iyeku (yaitu) budi (budi) premati (tersimpan rapi). Keuntungannya lahir dan batin, yaitu tersimpan rapinya kebaikan kita.
Keuntungan lahir dari sikap mengalah ini adalah menghindarkan pertengkaran yang tidak perlu, sedangkan keuntungan batin adalah kebaikan hati kita tetap tersimpan rapi sebagai rahasia. Ini menghindarkan kita dari sikap riya’, ujub atau takabur, juga sifat sombong. Dalam masyarakat tak perlulah kita merasa atau harus paling baik, atau paling pintar, atau paling hebat. Kedudukan yang setara lebih membuat nyaman sesama manusia.
Kajian Wedatama (99):Nulad Mrih Utami
Bait ke-99, Pupuh Kinanthi, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV:
Pantes tinulad tinurut, laladane mrih utami. Utama kembanging mulya, kamulyaning jiwa dhiri. Ora ta yen ngeplekana,
lir leluhur nguni-uni.
Terjemahan dalam bahasa Indonesia:
(Mereka) pantas diteladani dan diikuti, usahanya meraih keutamaan.
Perbuatan utama adalah bunga dari kemuliaan, kemuliaannya jiwa sendiri.
Tak usah kalau sama persis,
seperti yang dilakukan para leluhur di jaman dahulu.
Kajian per kata:
Pantes (pantas) tinulad (diteladani) tinurut (diikuti), laladane (usahanya) mrih (agar) utami (utama). (Mereka) pantas diteladani dan diikuti, usahanya meraih keutamaan.
Sesungguhnya meraih keutamaan dalam hidup itu sulit dan amat berat rintangannya. Orang- orang yang telah disebutkan watak dan perilakunya dalam bait-bait sebelumnya adalah mereka yang sudah berhasil mencapai tahap itu. Oleh karena itu mereka pantas diteladani dan diikuti langkah-langkahnya dalam usaha meraih keutamaan.
Utama adalah sesuatu yang lebih tinggi derajatnya dari baik. Perbuatan utama adalah perbuatan yang lebih baik dari perbuatan baik. Dalam usaha untuk meraih yang utama pertimbangannya sangat banyak, mulai dari niat, cara dan tujuan serta akibat-akibat yang ditimbulkannya harus dicermati agar tidak menimbulkan sesuatu yang kurang baik.
Walau secara teoritis hal-hal yang baik sudah lengkap di dalam kitab suci (Quran) dan pentunjuk Nabi (Hadits), tetapi jika tanpa melihat contoh langsung di lapangan seseorang tetaplah sulit untuk mencapai kebaikan, apalagi jika dia tak puas dan mengejar keutamaan, akan jauh lebih sulit lagi. Hal demikian karena urusan moral tidak bisa mengambil bentuk baku yang sama antar jaman dan antar tempat, semua bersifat kontekstual. Dalam hal ini kebijaksanaan amat berperan dalam menentukan sebuah tindakan. Hal-hal yang demikian ini akan lebih mudah dilakukan jika kita belajar langsung dari para guru, atau para orang-orang zaman dahulu.
Utama (utama) kembanging (adalah bunganya) mulya (kemuliaan), kamulyaning (kemuliaannya) jiwa (jiwa) dhiri (sendiri). Perbuatan utama adalah bunga dari kemuliaan, kemuliaannya jiwa sendiri.
Dalam sejarah telah lahir banyak orang-orang yang menapak jalan kemuliaan, menjaga diri dari tindak angkara, teliti dan wara’ dalam memenuhi kebutuhan hidup, berhati-hati dalam keinginan dan tidak menonjolkan kedirian. Inilah jalan kemuliaan yang melahirkan keutamaan.
Utama disebut sebagai bunganya kemuliaan karena memang hanya dapat lahir dari jiwa yang mulia, seperti halnya padi hanya dapat berbuah dari pohon padi, tidak dari ilalang.
Ora ta (tidak usah) yen (kalau) ngeplekana (sama persis), lir (seperti) leluhur (para leluhur) nguni-uni (di jaman dulu). Tak usah kalau sama persis seperti yang dilakukan para leluhur di jaman dahulu.
Kepada orang-orang yang telah berhasil meraih keutamaan tadi, hendaklah kita mencontoh dan mengikuti perbuatan mereka, laku dan amalan mereka. Tidak harus sama persis dengan para leluhur di zaman dahulu, yang penting sudah berusaha keras untuk itu. Karena para leluhur telah melakukan hal-hal yang luar biasa, sehingga meneladani mereka pun sulit, walau demikian kita seharusnya bersyukur mendapat teladan yang bagus. Oleh karena itu dengan sekuat tenaga hendaknya mengikuti jalan mereka.
Kajian Wedatama (100): Aywa Tuna Ing Tumitah
Bait ke-100, Pupuh Kinanthi, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV:
Ananging ta kudu kudu, sakadarira pribadi.
Aywa tinggal tutuladan, Lamun tan mangkono kaki, yekti tuna ing tumitah. Poma kaestokna kaki
Terjemahan dalam bahasa Indonesia:
Tetapi harus semangat sekali,
sesuai kekutan masing-masing pribadi.
Jangan sekalipun meninggalkan teladan,
jika tak demikian anakku,
sungguh rugi dalam kehidupanmu sebagai makhluk Tuhan. Harap patuhilah anakku!
Kajian per kata:
Ananging ta (tetapi) kudu (harus) kudu (rajin sekali), sakadarira (sesuai kekuatan masing- masing) pribadi (pribadi). Tetapi harus semangat sekali, sesuai kekuatan masing-masing pribadi.
Walau di bait ke-99, Nulad Mrih Utami, telah disebutkan bahwa mencontoh para leluhur tak harus persis sama (karena sulit menyamai mereka), namun harus diusahakan dengan sungguh-sungguh. Di gatra ini ada dua kata kudu yang bermakna berbeda. Kudu yang pertama berarti harus, kudu yang kedua adalah kumudu-kudu, melakukan sesuatu dengan semangat sekali, seolah-olah akan diselesaikan semua saat itu juga.
Jadi mencontoh para leluhur dalam hal keutamaan harus dilakukan dengan semangat sekali, namun tetap harus mengukur kadar kemampuan masing-masing. Sakadarira bukan berarti ala kadarnya, tetapi berusaha maksimal sesuai kemampuan yang telah diberikan Tuhan.
Aywa (jangan) tinggal (meninggalkan) tutuladan (teladan), lamun (jika) tan (tidak) mangkono (demikian) kaki (anakku), yekti (benar-benar) tuna (rugi) ing (dalam) tumitah (kehidupanmu sebagai makhluk). Jangan sekalipun meninggalkan teladan, jika tak demikian anakku, sungguh rugi dalam kehidupanmu sebagai makhluk Tuhan.
Jangan sekali-kali meninggalkan tauladan. Bagaimanapun melakukan suatu kebaikan akan lebih mudah jika sudah ada contohnya. Maka sepanjang ada tauladan kebaikan tak ada salahnya mengikuti. Namun terhadap hal-hal yang belum ada preseden soal itu, dalam perkara-perkara yang baru haruslah sungguh-sungguh berusaha (ijtihad) menentukan sikap yang tepat. Dan ini pekerjaan yang sulit dan memerlukan pemikiran dan ketelitian.
Poma (harap) kaestokna (patuhilah) kaki (anakku). Harap patuhilah anakku!
Poma adalah perintah yang sangat. Agar sungguh-sungguh dilakukan apa yang sudah dianjurkan dalam bait-bait serat Wedatama ini, sebagai ajaran tentang kehidupan yang berisi anjuran menuju kebaikan. Walau demikian penerapannya untuk zaman kini haruslah mempertimbangkan situasi dan kondisi yang ada. Mengingat zaman telah berubah secara drastis, sistem pemerintahan juga sudah jauh berbeda, tata kehidupan masyarakat sudah bergeser dan teknologi manusia juga ibarat bumi-langit jika dibanding pada masa serat ini digubah.
Dengan selesainya kajian bait ke-100 selesai sudah secara keseluruhan kajian serat Wedatama ini. Kami selaku penyaji sangat-sangat mengucapkan terima kasih kepada siapa pun yang berkenan mengikuti kajian ini hingga tuntas. Semoga apa yang kami lakukan dapat memberi manfaat kepada para pembaca yang budiman. Kami sadar bahwa beberapa hal dari kajian ini masih mengandung banyak kelemahan. Kelak jikalau ada kesempatan kami akan perbaiki agar lebih sempurna.
Akhirul kalam, jika ada salah-kurangnya kami memohon untuk dibetulkan. Perlu juga kami sampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya jika yang kami sajikan masih jauh dari harapan pembaca.
Sekian. TITI.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar