Kamis, 10 Januari 2019

Kajian Wredatama 46-49

Kajian Wedatama (46): Lumuh Ingaran Luput Bait ke-46, Pupuh Pucung, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV: Sakeh luput, ing angga tansah linimput, Linimpet ing sabda, Narka tan ana udani, Lumuh ala ardane ginawa gada. Terjemahan dalam Bahasa Indonesia: Segala kesalahan, dirinya selalu ditutupi, Disembunyikan dalam alasan, Mengira tak ada yang tahu, Tak mau disebut jelek, angkaranya dipakai memukul. Kajian per kata: Sakeh (segala) luput (kesalahan) ing (di) angga (badan, diri) tansah (selalu) linimput (ditutupi). Segala kesalahan dirinya selalu ditutupi. Ini adalah watak orang nylekunthis (pengecut), tidak ksatria. Selalu menutupi kesalahan diri sendiri. Tidak mau berterus terang mengakui kesalahannya. Selalu menutup-nutupi agar tak terlihat orang lain. Linimpet (disembunyikan) ing (dalam) sabda (perkataan, alasan). Disembunyikan dalam alasan Setiap tindakan salah yang dilakukannya selalu dicari-carikan pembenaran. Kesalahannya disembunyikan dalam berbagai alasan. Dengan perkataan yang mempesona, berusaha menghindar dari tuduhan. Seolah-olah suatu kesalahan adalah hal sangat tabu sehingga disimpan rapat-rapat. Narka (mengira) tan (tak) ana (ada) udani (telanjang, maksudnya tahu yang sebenarnya). Mengira takkan ada yang tahu. Dia mengira bahwa dengan menyembunyikan kesalahan takkan ada yang tahu. Dia tak sadar bahwa sebenarnya orang lain pun pasti curiga dengan cara-caranya mencari alasan yang dibuat-buat itu. Lumuh (tak mau) ala (jelek) ardane (angkara) ginawa (dipakai) gada (senjata gada, memukul). Tak mau disebut jelek, angkaranya dipakai memukul. Tak mau kelihatan kurang, tak mau disebut jelek, jika ada yang menyebutnya seperti itu tindak angkaranya keluar untuk membungkan dengan kekerasan. Bait ini menggambarkan watak orang berjiwa kerdil, berpikiran sempit. Tandanya adalah selalu menyembunyikan kesalahan diri, tak mau dikoreksi, harus selalu tampil benar. Orang ini mengira dengan memberi alasan untuk menutupi kesalahan, orang lain tak mampu melihat kelemahannya. Padahal alasan yang dibuat-buat akan tampak terang benderang kebohongannya. Dan jikalau ada yang menunjuk kelemahan alasannya dia tidak mau mengalah. Ogah terlihat jelek, tak mau terlihat salah. Senjata terakhirnya jikalau semua alasannya dipatahkan adalah memukul. Penthuuuung.....!!! Kajian Wedatama (47): Cupet Kepepet Pamrih Bait ke-47, Pupuh Pucung, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV: Durung punjul ing kawruh kaselak jujul. Keseselan hawa. Cupet kepepetan pamrih. Tangeh nedya anggambuh mring Hyang wisesa. Terjemahan dalam Bahasa Indonesia: Belum pandai dalam ilmu tetapi tergesa-gesa ingin dipuji pandai, Disisipi hawa nafsu, Tak cukup karena terdesak keinginan, Mustahil dapat mendekati kepada Yang Maha Kuasa. Kajian per kata: Durung ( belum) punjul (lebih dari yang lain) ing (dalam) kawruh (pengetahuan) kaselak (tergesa) jujul (kelebihan, artinya mendapat pujian). Belum pandai dalam ilmu tetapi tergesa- gesa ingin dipuji pandai. Kata punjul merujuk pada keadaan lebih dari sekitarnya atau lebih dari seharusnya. Ada ungkapan bahasa jawa yang terkenal, punjul ing apapak, bermakna lebih dari sesamanya. Dalam hal pengetahuan (kawruh) jelas merujuk pada makna lebih pandai dari yang lain. Sedangkan kata jujul dipakai untuk menggambarkan suatu kelebihan dari semestinya. Misalnya sebatang pensil yang tidak bisa masuk pada wadah yang tersedia karena terlalu panjang disebut jujul. Kata ini juga sering dipakai untuk menyebut uang kembalian dari suatu pembayaran. Misal jika membeli roti seharga Rp. 4000 dengan uang Rp. 5000, maka ada jujul Rp. 1.000. Jadi gatra ini menyoroti si anak muda yang baru belajar ilmu. Biasanya mereka walau belum menguasai pengetahuan secara tuntas tetapi merasa lebih pandai (punjul) dari orang sekitarnya. Sikap mereka berlebihan agar terkesan pandai dan mendapat pujian, oleh jujul. Keseselan (disisipi) hawa (hawa nafsu). Disisipi hawa nafsu. Sikap yang berlebihan dalam pamer pengetahuan (yang sebenarnya hanya sejengkal) tadi sangat rawan disusupi oleh hawa nafsu. Keinginan tersembunyi muncul mendompleng perilaku terburu-buru. Ingin dipuji, ingin terkenal, ingin mendapat keuntungan duniawi, ingin tampil sholeh, ingin kelihatan kusyu’, ingin diidolakan banyak orang, ingin masuk TV, ingin dapat kontrak eksklusif, dll. Cupet (tak sampai, tak cukup, kurang) kepepetan (terdesak) pamrih (pamrih, keinginan untuk kepentingan diri). Tak cukup karena terdesak keinginan. Apabila keinginan-keinginan tadi diberi tempat dalam diri kita, mereka akan semakin membesar. Akibatnya sifat rakus akan tampil menguasai diri. Nafsu memiliki (pamrih) mendesak nalar, membuat orang khilaf, alpa terhadap pertimbangan, lalai terhadap kebenaran. Hidup seseorang menjadi cupet, serba tak cukup, serba kurang akibat terdesak keinginan. Tangeh (mustahil) nedya (bermaksud) anggambuh (mendekat) mring (kepada) Hyang (Yang) Wisesa (Kuasa). Mustahil dapat mendekati kepada Yang Maha Kuasa. Dalam keadaan demikian upaya seseorang untuk mendekati Yang Maha Kuasa menjadi mustahil. Alih-alih justru semakin jauh dari tujuan semula, semakin dalam terperosok dalam kuasa hawa nafsu. Inilah munafik sejati, penampilan suci tapi berhati culas. Bait ini adalah bait terakhir dari Pupuh Pucung dalam Serat Wedatama. Kata ang-gambuh dalam gatra terakhir yang berarti mendekati, juga menjadi isyarat bahwa akan masuk ke Pupuh selanjutnya, yakni Pupuh Gambuh. PUPUH GAMBUH Kajian Wedatama (48): Sembah Catur Bait ke-48, Pupuh Gambuh, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV: Samengko ingsun tutur. Sembah catur supaya lumuntur. Dhihin raga, cipta, jiwa, rasa, kaki. Ing kono lamun tinemu, tandha nugrahaning Manon. Terjemahan dalam Bahasa Indonesia: Sekarang saya menasihati. Empat sembah supaya terpahamkan. Pertama, raga, cipta, jiwa, rasa, nak, Di situ bila tercapai, itulah anugrah dari Yang Maha Melihat. Kajian per kata: Samengko (sekarang) ingsun (saya) tutur (berkata, memberi nasihat). Sekarang saya menasihati. Kata tutur dalam bahasa Jawa sering dipakai untuk menyebut perkataan orang-orang tua, mereka yang sudah pengalaman dalam mengarungi samudera kehidupan. Istilah lebda ing pitutur sering dipakai untuk menyebut orang-orang yang sudah pantas untuk memberi nasehat tersebut. Dalam budaya Jawa orang yang sudah tua (sepuh) memang sangat dihargai, walau secara materi tidak produktif tetapi mereka dialap (diharap) berkah dan nasihatnya. Diharap do’a dan restunya pada setiap ada hajat dan keperluan penting. Nah, dari merekalah kearifan diturunkan (lumuntur) melalui piwulang (ajaran kebaikan), wewarah (pengertian) dan pitutur (nasihat). Sembah (sembah, ibadah) catur (empat) supaya (supaya) lumuntur (terwarisakan, terpahamkan). Empat sembah supaya terpahamkan. Bahwa dalam peribadatan ada empat macam sembah. Ini berkaitan dengan lapisan maujud yang ada pada manusia, dari badan kasar (wadhag) sampai ruh yang halus (alus). Ada empat lapis ketundukkan dalam penyembahan, keempatnya mesti sinkron agar tercipta harmoni dalam diri. Agar tidak terpecah kepribadian manusia atau split personality. Dhihin (yang awal) raga (raga, badan), cipta (cipta, pikiran), jiwa (jiwa), rasa (hati), kaki (nak). Pertama, raga, cipta, jiwa, rasa, nak! Yang pertama adalah sembah raga, tubuh, anggota badan. Sembahnya tubuh adalah gerakan fisik, seperti orang yang sedang melakukan shalat ada ketentuan tatacara gerakan-gerakan tersebut yang sudah baku. Yang kedua adalah sembah cipta, yakni pikiran. Dalam melakukan sembah raga harus disertai sembah cipta, yakni pemusatan pikiran kepada Yang Disembah (Allah). Pikiran tunduk kepada keagungan dan ketuhanan Allah semata-mata. Yang ketiga adalah sembah jiwa, jiwa adalah produsen angan-angan, maka dalam sembah jiwa harus menyertakan konsentrasi segala angan-angan hanya kepada Allah semata. Tidak elok jika sedang shalat mengingat-ingat bakul nasi di dapur, misalnya. Keempat adalah sembah rasa, inilah puncak tertinggi dari penyembahan. Segala rasa bersumber dari hati, maka sembah rasa adalah upaya untuk mensucikan hati. Membiasakan agar hati menjadi tenang, tuma’ninah, madhep mantep menghadap Yang Maha Melihat. Dalam bahasa agama disebut ihsan. Itulah empat macam sembah yang harus selalu dilakukan simultan, serentak bersamaan dalam satu rangkaian gerakan. Hal-hal itulah yang harus engkau ketahui, wahai anak muda! Ing (di) kono (situ) lamun (kalau) tinemu (ditemukan, tercapai), tandha (pertanda) nugrahaning (mendapat anugrah) Manon (Yang Maha Melihat). Di situ bila tercapai, itulah anugrah dari Yang Maha Melihat. Dalam rangkaian sembah itu, jika dapat dilakukan akan bertemu dengan rosing panembah, yakni tunduknya badan, pikiran, jiwa dan rasa ke haribaan Ilahi. Yang demikian itu, manusia hanya dapat berusaha untuk mencapainya melalui serangkaian laku yang sudah ditentukan. Adapun sampainya pada tujuan semata-mata adalah anugrah dari Yang Maha Melihat. Keempat sembah tersebut di atas akan diuraikan panjang lebar dalam bait-bait selanjutnya pada Pupuh Gambuh dari serat Wedatama. Kita akan membahasnya secara rinci pada bait- bait mendatang. Kajian Wedatama (49): Sembah Raga Bait ke-49, Pupuh Gambuh, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV: Sembah raga punika, pakartine wong amagang laku. Sesucine asarana saking warih, Kang wus lumrah limang wektu, Wantu wataking weweton. Terjemahan dalam bahasa Indonesia: Sembah raga adalah, perbuatan orang yang baru memulai perjalanan. Bersucinya memakai sarana dari air, Yang wajib adalah lima waktu, Bersifat menuruti aturan dan rukun. Kajian per kata: Sembah (ibadah) raga (raga, tubuh) punika (itu adalah), pakartine (perbuatan) wong (orang) amagang (baru memulai) laku (perjalanan). Sembah raga adalah, perbuatan orang yang baru memulai perjalanan. Sembah raga adalah ibadahnya tubuh. Bahwa kita manusia diciptakan dengan tubuh biologis, yang tunduk pada hukum-hukum materi. Tubuh adalah sarana kita untuk hidup di dunia materi ini, tanpanya niscaya kita tak dapat beraktivitas. Walau kelak akan fana dan kita tinggalkan, tubuh juga berhak untuk mengungkapkan keagungan Allah, Sang Pencipta. Maka ada tatacara yang khusus bagi tubuh dalam menyembah Tuhan. Dalam agama Islam bentuk penyembahan itu adalah shalat. Dalam shalat dilakukan penyembahan melalui tubuh dengan melakukan gerakan-gerakan sesuai rukun- rukun tertentu, itulah yang disebut sembah raga. Sembah raga ini adalah awal dari perjalanan, awal dari laku yang harus dijalani manusia. Setiap orang muslim yang hendak menjalankan agama pastilah sesudah akil baligh diwajibkan menjalankan shalat. Entah yang bersangkutan sudah paham atau belum mengapa harus shalat, entah yang bersangkutan tahu atau tidak apa gunanya shalat, semua wajib melakukan itu. Karena sembah raga ini adalah bentuk dari pengakuan kita akan kebesaran Allah. Pengakuan itu diwujudkan dalam ritual sujud dan ruku’, merendahkan diri kita serendah-rendahnya di hadapanNya. Sembah raga adalah ibadahnya tubuh. Mengapa sembah raga disebut sebagai awal dari perjalanan? Karena sesungguhnya hakekat manusia bukanlah tubuhnya, tubuh hanya sarana untuk hidup di dunia. Kelak ruh kita yang akan abadi menghadap Allah di alam baqa. Tetapi pengenalan ruh tak dapat dilakukan serta- merta. Kemampuan kita dalam mengenali hakekat diri takkan berhasil jika tidak melalui tubuh. Tubuhlah sarana kita mengenali alam sekitar, baru kemudian mengenali tanda- tandaNya yang tak tampak di dunia. Tubuhlah yang paling awal menemani ruh di dunia materi ini. Maka ibadah atau sembah apapun yang dilakukan tubuh adalah awal dari sembah- sembah yang lain. Sesucine (bersucinya) asarana (memakai sarana) saking (dari) warih (air). Bersucinya memakai sarana dari air. Syarat-syarat untuk melakukan ibadah shalat adalah bersuci dengan air. Ini sesuai watak dari tubuh yang bersifat materi, yang hanya dapat dibersihkan dengan materi juga. Kang (yang) wus lumrah (sudah umum, wajib) limang (lima) wektu (waktu). Yang wajib adalah lima waktu. Sembah raga yang wajib adalah lima waktu, yakni shalat wajib yang harus dilakukan oleh setiap orang. Di luar kewajiban lima waktu ada banyak shalat sunat yang dianjurkan kepada seorang muslim sesuai dengan kesanggupan dan keadaan masing-masing. Bersifat tidak wajib dan opsional, sesuai dengan situasai, kondisi dan kelonggaran masing-masing orang. Wantu (berkala) wataking (bersifat) weweton (aturan, rukun). Bersifat menuruti aturan waktu dan rukun. Shalat wajib yang lima waktu tadi tidak bisa dikerjakan secara sembarangan karena ada batasan waktu dan rukun-rukun, serta syarat-syarat untuk melakukannya. Waktunya harus sudah masuk sesuai waktu masing-masing, yakni shalat Subuh selepas fajar, shalat Dhuhur selepas tergelincir matahari, Shalat Ashar menjelang matahari turun, shalat Magrib sesudah terbenam matahari dan shalat Isya’ menjelang malam. Juga ada rukun-rukun tertentu yang harus dipatuhi, dari takbiratul ikram sampai salam. Serta harus memenehi syarat-syarat tertentu. Untuk lebih detailnya dapat dilihat di buku-buku fikih, karena akan panjang jika diuraikan di sini. Selain sebagai salah satu penyembahan, shalat juga dimaksudkan untuk mendisiplinkan manusia berkenaan dengan hubungan antara tubuh dan ruh. Juga ada konsekuensi logis dari pelaksanaan shalat pada tataran tubuh fisik. Contohnya seseorang yang shalat dengan tertib dan ajeg, pasti akan tampak berseri raut mukanya, karena paling tidak dalam sehari lima kali dia harus membasuh muka. Masih ada banyak manfaat sampingan dari shalat ini, bait-bait selanjutkan serat Wedatama akan menguraikannya untuk kita pelajari bersama. Kajian Wedatama (50): Sarengate Elok-elok Bait ke-50, Pupuh Gambuh, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV: Inguni uni durung, sinarawung wulang kang sinerung. Lagi iki bangsa kas ngetokken anggit. Mintokken kawignyanipun, sarengate elok-elok. Terjemahan dalam Bahasa Indonesia: Dahulu kala belum pernah, dikenalkan dengan pelajaran tersembunyi. Baru sekarang kelompok yang bersemangat memperlihatkan angan-angannya. Memeperlihatkan kemampuannya, dengan tata cara yang aneh-aneh. Kajian per kata: Inguni (ing uni, pada dahulu) uni (dulu) durung (belum), sinarawung (dikenalkan) wulang (pelajaran) kang (yang) sinerung (tersembunyi, rahasia). Pada jaman dahulu kala belum pernah, dikenalkan pelajaran yang tersembunyi. Ini masih berkaitan dengan macam-macam sembah yang disebutkan pada bait ke-48, bahwa pada zaman sebelum ini belum pernah dikenalkan dengan pelajaran yang tersembunyi, kita sebut saja ilmu batin (wulang kang sinerung). Yang dimaksud adalah tentang pelajaran tentang tiga sembah yang terakhir. Yang sudah diketahui umumnya baru apa yang terlihat jelas, yakni hanya sembah raga saja. Amalan-amalan yang dilakukan baru sebatas amalan tubuh, yang karenanya cukup mudah dipahami. Amalan-amalan batin belum diperkenalkan karena memang kemauan untuk mempelajari hal itu belum kuat, belum ada semangat untuk mempelajarinya. Lagi iki (baru sekarang) bangsa (kelompok) kas (kemauan, semangat) ngetokken (memperlihatkan) anggit (rekaan, angan). Baru sekarang kelompok yang bersemangat memperlihatkan angan-angannya. Hal ini sangat mungkin merujuk pada kondisi waktu serat ini digubah. Ada semangat untuk mempelajari hal-hal spiritual pada sebagian kalangan anak muda. Namun karena belum ada piwulang yang dapat dipakai sebagai pedoman maka banyak yang masih menduga-duga, hanya berangan-angan saja (anggit). Mintokken (memperlihatkan) kawignyanipun (kemampuannya), sarengate (tatacara, aturan) elok-elok (aneh-aneh). Memeperlihatkan kemampuannya dengan tata cara (syariat) yang aneh-aneh. Orang-orang yang bersemangat tadi tidak ragu-ragu memperlihatkan kemampuannya dalam mengamalkan laku spritual, namun karena sesungguhnya mereka adalah para pemula yang belum berpengalaman. Banyak dari mereka yang justru memperlihatkan keanehan-keanehan. Ini tampak pada tatacara ibadah mereka yang mungkin tak biasa bagi orang awam. Frasa sarengate elok-elok di atas menujukkan praktik tatacara ibadah yang tak lazim. Kata elok dalam bahasa Jawa berarti ajaib, atau di luar nalar yang sudah dipahami secara umum, membuat orang keheranan. Apa saja praktik ibadah yang aneh itu? Bait berikutnya akan sedikit mengungkap satu contoh yang ada di jaman itu. Akan lebih baik dari segi keruntutan pengertian apabila kajian bait ini disatukan dengan bait berikutnya. Namun karena kita konsisten untuk mengkaji per bait, maka kita cukupkan dulu sampai di sini. Jangan ketinggalan pada kajian bait selanjutnya.

Tidak ada komentar: