Gunungtugel peristiwa sebuah awal peradaban lama,yang telah mengawali peradaban baru sebagai pondasi awal terwujadnya ri Bhumi Mataram.Hal yang demikian diperoleh dari winarah para Sepuh dari jaman ke jaman.Diantaranya winarah yang diperoleh mbah Datrim dari mbah Datuk Kahfi.winarah yang di maksut adalah latar belakang Gunungtugel.Demikian juga winarah dari mbah Bakri dari eyang Muhsin.Eyang Muhsin dari Syeh Abdurahman,dari Ki Buyut Manguneng.
Kamis, 10 Januari 2019
Kajian Wredhatama Bait 30
Kajian Wedatama (30): Wenganing Rasa Tumlawung
Bait ke-30, Pupuh Sinom, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV:
Kang wus waspada ing patrap, manganyut ayat winasis. Wasana wosing jiwangga, melok tanpa aling-aling.
Kang ngalingi kalingling. Wenganing rasa tumlawung, keksi saliring jaman, Angelangut tanpa tepi,
Yeku aran tapa tapaking Hyang Sukma.
Terjemahan dalam Bahasa Indonesia:
Yang sudah mengetahui caranya, Menghayati aturan yang bijaksana, Akhirnya inti pribadinya,
terlihat nyata tanpa penghalang,
Yang menghalangi tersingkir.
Terbukalah rasa haru bercampur bahagia, terlihatlah segala keadaan.
Tampak luas sekali tak berbatas,
Itulah yang mendapat bimbingan Yang Maha Suci.
Kajian per kata:
Kang (yang) wus (sudah) waspada (mengetahui) ing (dalam) patrap (perilaku, cara-cara), manganyut (menghayati) ayat (aturan) winasis (pengetahuan, bijaksana). Yang sudah mengetahui cara-caranya, menghayati aturan yang bijaksana.
Yang dimaksud di sini adalah orang yang telah memahami cara melakukan perbuatan baik, dalam hal ini melaksanakan syariat, menahan hawa nafsu melalui tirakat, serta mengasingkan diri untuk berkomtemplasi atau muhasabah. Tiga hal itu sering kita temui secara berulang- ulang pada bait-bait yang lalu.
Sedikit kami tambahkan bahwa dikalangan orang Jawa ada 4 lapis pengamalan kebaikan yang bersumber dari ajaran agama Islam, yakni: Syariat, Tarekat, Hakekat dan Ma’rifat. Dua pertama berurusan dengan badan, syariat adalah aturan-aturan yang mengikat tubuh manusia, sedangkan tarekat atau tirakat dalam pelafalan lidah Jawa, adalah syariat yang diberlakukan khusus bagi seseorang di bawah bimbingan guru spiritual dengan tujuan mencapai kematangan spiritual bagi yang menjalaninya.
Jika syariat mengatur manusia secara umum, maka tarekat mengatur secara khusus. Tentu saja masih di dalam koridor syari’at sebagai bingkai besar pelaksanaan agama. Tarekat memberdayakan spiritual seseorang secara khusus. Misalnya seseorang yang selalu tak tahan godaan untuk makan banyak, maka amalan apakah yang harus dilakukan secara intensif akan dipilihkan oleh sang guru. Seorang yang selalu menyombongkan diri setiap saat, sapa sira sapa ingsun, maka untuknya juga akan diterapi dengan amalan khusus yang dipilihkan oleh sang guru. Tentu saja semua amalan-amalan itu dalam batas-batas yang dibolehkan syariat dan tidak membahayakan hidup sang salik.
Dua yang terakhir, yakni Hakekat dan Ma’rifat adalah amalan yang berhubungan dengan hati (atau badan halus manusia). Hakekat manusia adalah hamba Allah, itu mudah dihapalkan, mudah diucapkan, tetapi kesadaran tentang itu takkan mudah dicapai tanpa pengamalan syariat secara umum dan tarekat secara khusus tadi, ditambah hati yang pasrah dan sepi dari pamrih. Oleh karena itu laku dari tahap hakekat adalah mengasingkan diri. Dengan harapan ketika diri terasing dalam sepi muncul kesadaran bahwa kita ini tiada, Yang Ada hanya Allah. Itulah ma’rifat!
Sebagai contoh saya akan ambil satu amalah yang menjadi rukun Islam, yakni puasa. Secara syariat berpuasa adalah menahan makan dan minum sejak terbit fajar sampai matahari terbenam. Jadi kalau sudah lewat maghrib mau makan sampai 6 kali juga boleh. Tetapi tarekat memberi tatacara lebih kepada pelakunya: tahanlah nafsu makanmu. Meski dibolehkan jangan berlebih-lebihan, tetapi makanlah sekadarnya saja agar tubuhmu tetap kuat.
Ketika malam menjelang, ditambah amalan shalat malam yang kusyu’ dalam kesunyian, orang yang berpuasa tadi menyadari betapa kecilnya dirinya, betapa dia butuh Sang Pencipta. Wong baru tidak makan sehari saja sudah lemah seluruh badan kok, tanda bahwa dirinya tidak mempunyai kekuatan apapun jika Allah tidak memberi, kesadaran inilah yang disebut hakekat.
Kesadaran akan lemahnya diri ini kemudian memicu terbukanya, tersingkapnya, wajah Allah yang Maha Kuasa, bahwa hanya Dia Yang Ada, inilah ma’rifat. Pada bait-bait yang akan datang masalah ini akan dikupas lebih lanjut dalam bagian tentang catur sembah.
Wasana (akhirnya) wosing (inti) jiwangga (pribadinya), melok (terlihat) tanpa (tanpa) aling-aling (penghalang). Akhirnya inti pribadinya, terlihat tanpa penghalang.
Bagi yang sudah menjalani tatacara yang bijaksana tadi, yang sudah diatur para guru dan ahli agama, maka terbukalah hakekat diri pribadinya, tanpa penghalang sedikitpun. Menjadi jelaslah siapa dirinya yang sejati.
Kang (yang) ngalingi (menghalangi) kalingling (tersingkir). Yang menghalangi bakal tersingkir, bersama tersingkirnya hawa nafsu.
Ini adalah buah dari laku tirakat tadi, yakni terbukanya pintu hakekat. Terbuka lebar dan tampak jelas dengan sendirinya, setelah tatacaranya dilaksanakan dengan sebaik-baiknya, dengan penuh ketekunan dan keikhlasan. Pada akhirnya akan terbuka tabir yang menghalangi seseorang dari diri sejatinya, dari hati nuraninya yang tersimpan di pusat kesadaran.
Wenganing (terbukalah) rasa (perasaan) tumlawung (haru campur gembira, bahagia), keksi (terlihat) saliring (semua) jaman (keadaan). Terbukalah rasa haru bercampur bahagia, terlihatlah semua keadaan.
Setelah tercapainya hakekat dari segala sesuatu, tentu saja setelah menjalani amalan-amalan yang lengkap dan banyak, maka terbukalah perasaan haru bercampur bahagia, tersingkapnya rahasia alam semesta dan posisi masing-masing, tampak jelas.
Angelangut (tampak luas sekali) tanpa (tanpa) tepi (tepi). Tampak luas sekali tanpa batas.
Inilah kekuasaan Allah Yang Maha Besar yang luas tanpa batas. Hanya ada Dia, kita tiada. kekuasaanNya meliputi segalanya, di langit dan di bumi. Segala kehidupan di dunia seolah menjadi tak tampak, tak berarti karena sangking kecilnya.
Yeku (itulah) aran (yang disebut) tapa (bertapa) tapaking (mendapatkan petunjuk) Hyang Sukma (Yang Maha Suci). Itulah yang mendapat bimbingan Yang Maha Suci.
Yang demikian itulah yang disebut pertapaan (laku) yang mendapat petunjuk dari Allah yang Maha Suci. Kata tapaking artinya ada bekas dari rahmat Allah yang mewujud dalam diri manusia yang melakukan tapa tadi. Artinya apa yang dilakukan, yakni beribadah dengan amalan syariat dan tarekat, tadi membuahkan hasil berupa kesadaran diri (hakekat) dan pengenalan kepada Allah (ma’rifat). Hal ini jauh berbeda jika pengamalan syariat tidak berujung ma’rifat, yang terjadi amalan tersebut hanya akan melahirkan kesombongan (umbag).
Kajian Wedatama (31): Wignya met Tyasing Sesami
Bait ke-31, Pupuh Sinom, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV:
Mangkono jamna utama, tuman tumanem ing sepi.Ing saben rikala mangsa, masah amemasuh budi. Laire anetepi,
ing reh kasatriyanipun.
Susila anoraga,
wignya met tyasing sesami.
Yeku aran wong barek berag agama.
Terjemahan dalam Bahasa Indonesia:
Begitulah manusia utama,
gemar membiasakan diri dalam sepi.
Pada tiap saat-saat tertentu,
mempertajam dan membersihkan jiwa.
Caranya dengan bertahan,
pada keluhuran sikap.
Bersikap sopan rendah hati,
pandai bergaul menarik hati orang lain.
Itulah orang yang disebut baik dan bersemangat beragama.
Kajian per kata:
Mangkono (begitulah) jamna (manusia) utama (utama), tuman (gemar, ketagihan) tumanem (tertanam, terbiasa) ing (dalam) sepi (sepi). Begitulah manusia yang utama, gemar menanamkan diri dalam sepi.
Ini merujuk bait yang lalu tentang bagaimana mengamalkan agama. Tuman artinya ketagihan atau gemar, tumanem artinya menanamkan diri, yang berarti secara sengaja menanampan diri dalam sepi. Yang dimaksud sepi di sini adalah sepi hawa nafsu, atau sepi dari kepentingan diri. Ini sudah diuraikan dalam bait terdahulu.
Ing (pada) saben (tiap) rikala (saat-saat) mangsa (tertentu), masah (menajamkan) amemasuh (membersihkan) budi (budi). Pada tiap saat-saat tertentu, menajamkan dan membersihkan budi.
Kata mangsa artinya tiba masanya, menandakan keterencanaan, jadi memang disengaja di tiap-tiap waktu. Masah adalah menajamkan alat atau senjata dengan menggosokkan secara berulang pada batu keras. Ini sebuah tindakan berulang yang memerlukan waktu dan kesabaran agar hasilnya baik. Masuh adalah membersihkan dengan air agar hilang kotoran yang menempel.
Jadi tindakan menajamkan akal budi adalah tindakan berulang dan memerlukan waktu. Dalam konteks perbuatan sehari-hari ini berati membiasakan diri dengan sikap tertentu, inilah tarekat (tirakat).
Laire (secara lahir) anetepi (bertahan, menjalani), ing (pada) reh (hal-hal) kasatriyanipun (keluhuran sikap). Secara lahir dengan mempertahankan, dalam hal-hal keluhuran sikap.
Secara lahir hal di atas dilakukan dengan mempertahankan sikap luhur (ksatria), yakni sikap yang baik dan adil, tidak culas, tidak curang, fair play, sportif, sesuai aturan main.
Susila (sopan) anoraga (santun, rendah hati), wignya (pandai) met (bertemu, tidak berselisih, menarik) tyasing (hati) sesami (sesama, orang lain). Bersikap sopan dan rendah hati, pandai bergaul menarik hati orang lain.
Sikapnya secara lahiriah sopan, santun, rendah hati. Melengkapi sikap lahir, batin juga harus diasah agar membuahkan menyenangkan hati. Kata met artinya bertemu, tidak selisih dengan perasaan orang lain, bisa menghormati orang lain, tidak menyombongkan diri, tidak berperilaku tak patut.
Secara umum dapat dikatakan buah dari latihan memasah dan memasuh budi tadi adalah pandai bergaul dan menarik hati orang lain. Ini menjadi penting karena menjadi ukuran keberhasilan seseorang dalam meningkatkan kualitas dirinya. Bagaimana mungkin kita bisa disebut berhasil memperbaiki diri jika malah orang-orang di sekitar kita menjadi tak nyaman, terganggu hati dan pikirannya akibat perbuatan kita?
Yeku (itulah) aran (yang disebut) wong (orang) barek (baik) berag (bergembira, semangat) agama (beragama). Itulah orang yang disebut baik dan bersemangat dalam beragama.
Inilah yang disebut orang yang sudah mampu menghayati dan mengamalkan agamanya. Karena buah terbaik dari pengamalan agama adalah akhlak yang mulia, maka sikap kita terhadap sesama dan respon mereka terhadap diri kita adalah tolok ukurnya.
Kita jangan berkilah bahwa orang-orang jahat pasti tak suka dengan orang beragama karena kepentingannya terganggu. Yang demikian tidak benar. Karena seperti yang terjadi pada Nabi Muhammad, orang-orang walau membenci dakwah Nabi tetapi tidak membenci akhlak Nabi. Mereka para kaum kafir rela Nabi menjadi raja, jika mau menghentikan dakwahnya. Jadi yang mereka benci bukan akhlak Nabi, melainkan gerakan dakwahnya yang mengganggu kepentingan mereka. Ini harus dibedakan.
Kajian Wedatama (32): Aywa Kongsi Njunjurken Kapti
Bait ke-32, Pupuh Sinom, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV:
Ing jaman mengko pan ora. Arahe para taruni,
yen antuk tuduh kang nyata, nora pisan den lakoni.
Banjur njujurkenkapti, Kakekne arsa winuruk, Ngandelaken gurunira, Panditane praja sidik,
Tur wis manggon pamucunge mring makripat. Terjemahan dalam Bahasa Indonesia:
Di jaman sekarang tidak demikian. Sikapnya anak muda,
apabila mendapat petunjuk yang nyata, tidak pernah sekalipun dijalani,
Lalu menuruti kehendakhatinya, kakeknya akan diberi pelajaran, mengandalkan gurunya.
Seorang pendeta negara yang pandai, dan juga sudah menguasai ilmu ma’rifat.
Kajian per kata:
Ing (di) jaman (jaman) mengko (nanti) pan ora (tidak demikian). Di jaman sekarang tidak demikian.
Ini merujuk pada bait sebelumnya. Bahwa yang dapat bersikap seperti yang digambarkan pada bait ke-31, di jaman sekarang ini sudah langka ditemukan. Ini hanya sentilan saja, kiasan bahwa isi bait ini mesti diperhatikan, terutama bagi anak muda.
Arahe (sikap, kelakuan) para taruni (para anak muda), yen (kalau) antuk (mendapat) tuduh (petunjuk) kang (yang) nyata (nyata, benar), nora (tidak) pisan (sekali) den (dia) lakoni (jalani). Sikapnya anak muda jaman sekarang, apabila mendapat petunjuk yang nyata, tak pernah sekalipun dia jalani.
Sikap anak muda jaman sekarang suka mengabaikan petuah orang-orang tua. Apabila diberi pengertian oleh mereka berdasarkan pengalaman nyata mereka, anak-anak muda sering mengabaikan. Tak mau sekalipun menjalani. Maido, menyangkal, dan menganggapnya kuno, tak sesuai keadaan jaman kini. Padahal anak-anak muda itu sebenarnya masih belum mengerti tantangan jaman yang akan datang.
Banjur (lalu) njujurken (menuruti sendiri) kapti (kehendak), kakekne (kakeknya) arsa (akan) winuruk (diajari), ngandelaken (mengandalkan) gurunira (gurunya). Lalu menuruti kehendak sendiri. Bahkan, kakeknya akan diberi pelajaran, mengandalkan gurunya.
Lalu menuruti kehendak sendiri, berdasar pengetahuan yang dia terima. Merasa sudah pintar, malah-malah kakek mereka akan mereka ajari karena sudah merasa pandai sekali. Ini bener- bener sikap yang sudah melampaui batas dan tidak seyogyianya dilakukan. Mengapa mereka melakukan itu? Ya, karena memang jiwa muda sering kali berlebihan dalam merespon pengetahuan yang baru diterima dari luar.
Mereka mengandalkan guru mereka. Anak-anak muda ketika baru belajar sering mengalami kekagetan, oh kok ternyata begini, oh berarti aku salah selama ini. Oh, kok aku tidak dibiasakan seperti ajaran para guru, berarti ayah-kakek tak mengerti cara yang benar. Begitulah kira-kira jalan pikirannya. Padahal apa yang diajarkan guru-guru mereka baru sebagian dari keseluruhan ilmu-ilmu yang ada.
Panditane (pendetanya) praja (negara) sidik (pandai), tur (dan) wis (sudah) manggon (menempati, sampai pada) pamucunge (penguasaan) mring (pada) makripat (tingkat ma’rifat). Seorang pendeta yang pandai, dan sudah menguasai ilmu ma’rifat.
Mereka, anak-anak muda tadi terlalu mengidolakan guru-guru mereka yang punya jabatan prestise di kerajaan, terlihat mentereng dan sangat pandai. Selalu tampak bijaksana dan menguasai semua ilmu ma’rifat. Tentu kesan itu jauh berbeda dengan ayah atau kakek mereka yang orang-orang sederhana dan tidak tampil sholeh. Mungkin itulah yang menyebabkan mereka abai terhadap nasehat dari orang tua mereka sendiri.
Dengan selesainya bait ke-32 ini selesailah Pupuh sinom dari serat Wedatama. Secara garis besar pupuh Sinom berisi petuah bagaimana seharusnya orang hidup yang bermartabat dan terpuji. Di dalamnya ditekankan untuk mengambil laku lebih dari sekedar kulit luar dari sebuah ajaran, termasuk ajaran agama atau petuah leluhur. Sehingga dicapailah kemampuan diri yang punjul ing apapak, lebih dari sekedar orang-orang kebanyakan.
Ini adalah hal yang berat dan melelahkan. Bersikap ksatria dengan memelihara keluhuran budi seringkali tidak populer dan mengundang cibiran di dunia yang kebanyakan orang hanya melihat kulit luarnya saja. Kebanyakan orang lebih terpesona dengan gebyaring kadonyan, misalnya lebih takjub jika melihat seorang kaya raya meski kekayaannya didapat dengan curang, dibanding dengan orang yang jujur dalam mencari nafkah.
Pesona duniawi yang begitu menyeret manusia hanyut di dalamnya itulah yang seringkali menjerumuskan seseorang pada perilaku yang leluwihan, berlebihan dalam mengejar dunia. Penggubah Wedatama menawarkan solusi untuk mengatasi hal tersebut, yakni tiga hal: berpegang teguh pada syariat agama, lelaku tirakat dengan menahan hawa nafsu dan mengasingkan diri untuk mencapai ma’rifat.
Dan di jaman ini, tiga hal tersebut juga kurang populer, terutama dua yang terakhir. Itu dia sadari sejak semula seperti terangkum dalam bait ini. Dan juga disadari oleh yang mengkajinya di sini. Tetapi hal baik mesti disampaikan, sebagai kewajiban orang yang tahu. Adapun hasilnya, terserah kepada Allah sebagai pemilik segala kehidupan.
PUPUH PUCUNG
Kajian wedatama (33): Kelakone Kanthi Laku
Bait ke-33, Pupuh Pucung, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV:
Ilmu iku, kelakone kanthi laku.
Lekase lawan kas.
Tegese kas nyantosani.
Setya budya pangekesing dur angkara.
Terjemahan dalam Bahasa Inonesia:
Ilmu itu terwujudnya dengan dijalani.
Dimulai dengan kemauan.
Kemauan inilah yang membuat sentosa.
Budi yang setia itu penghancur nafsu angkara.
Kajian per kata:
Ilmu (ilmu) iku (itu), kelakone (terlaksananya, terwujudnya) kanthi (dengan) laku (dijalani). Ilmu itu terwujudnya dengan dijalani.
Inilah ilmu tentang diri, yang berbeda dengan ilmu pengetahuan tentang dunia luar (sains). Dalam ilmu tentang diri perangkat utama sebagai alat untuk mengetahu adalah hati. Dalam istilah budaya Jawa disebut rasa. Ini sudah disinggung pada bait ke-2 dalam postingan berjudul sepa asepah samun. Melalui olah rasa itulah diri dikenali.
Apa makna dari mengenali diri? Dahulu kala ketika manusia hendak dilahirkan ke dunia Allah SWT telah menciptakan diri manusia di alam ruh. Di alam ruh itu bakal calon manusia telah diperkenalkan dengan Tuhan Yang Mengatur alam raya. Namun ketika turun ke dunia, pekat dan gelapnya alam materi membuat kita lupa akan asal-usul kita. Dan kita juga lupa tujuan akhir perjalanan yang semestinya kita tempuh. Dalam budaya Jawa asal-usul dan tujuan hidup ini disebut sangkan paraning dumadi.
Mengenali diri dengan demikian pada hakekatnya adalah mengingat (zikir) tentang sangkan paraning dumadi. Disebut mengingat karena dahulu kita telah mengetaui. Jadi itu bukan pengetahuan yang baru, melainkan telah tertanam dalam sanubari kita.
Laku yang arti harfiahnya adalah berjalan, adalah proses mengingat itu. Dalam laku ada tatacara yeng harus ditempuh agar rasa kita terasah. Tatacara yang utama adalah syariat agama, yang kedua menahan hawa nafsu dan yang terakhir adalah menyepi. Tujuan menyepi adalah kontemplasi agar sang diri dikenali.
Pengenalan diri menghasilkan apa yang disebut sebagai budya (budi). Ia adalah pikiran yang sadar diri. Pikiran yang berhasil melakukan sinkronisasi dengan hati yang berzikir. Oleh karena itu budi kadang diartikan sebagai pikiran, seperti pada kata akal budi, budidaya, . Dan di lain tempat diartikan sebagai hati, seperti pada kata budi luhur, berbudi, budi mulia, budiman. Seorang yang berbudi adalah seorang yang sudah paham akan sangkan paraning dumadi. Dalam bahasa filsafat modern budi disebut sebagai intelek, dalam bahasa Arab disebut fuad.
Lekase (dimulainya) lawan (dengan) kas (kemauan). Dimulai dengan kemauan.
Laku tadi adalah sesuatu yang berat dilaksanakan, maka diperlukan kemauan yang keras dalam memulainya. Tanpa kemauan jalan yang akan dilalui untuk laku tidak akan tampak. Ibarat orang yang memegang obor di kegelapan. Seratus langkah ke depan adalah gelap semata, jika dia berkemauan untuk melangkah satu langkah, maka satu langkah ke depan akan terang. Begitu seterusnya sampai seratus langkah lagi, maka yang tadinya gelap akan kelihatan.
Tegese (maknanya) kas (kemauan) nyantosani (membuat sentosa). Kemauan inilah yang membuat sentosa.
Kemauan akan membuat seseorang kuat dalam menjalani laku. Karena selangkah demi selangkah jalan di depan akan terang dan terbuka untuk dilewati. Jika kemauan terpelihara sepanjang jalan maka proses laku akan mencapai titik akhir pada saatnya. Seperti kata pepatah, perjalanan seribu langkah selalu diawali dengan langkah pertama.
Setya (setia) budya (budi) pangekesing (penghancur) dur (keburukan) angkara (angkara). Budi yang setia itu penghancur nafsu angkara.
Sesudah akal budi terbentuk, aktual, mewujud dalam diri, maka akan mudah untuk menumpas nafsu angkara. Inilah puncak kekuatan manusia yang sebenarnya, mengalahkan dur angkara dalam dirinya. Seperti sabda Nabi, orang yang paling kuat adalah orang yang dapat mengalahkan hawa nafsunya.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar