Kamis, 10 Januari 2019

Kajian wredhatama bait 26

Kajian Wedatama (26): Tan Tutug Maguru Kaselak Ngabdi Bait ke-26, Pupuh Sinom, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV: Saking duk maksih taruna, Sedhela wus anglakoni, Aberag marang agama, maguru anggering kaji. Sawadine tyas mami, banget wedine ing mbesuk, pranatan akhir jaman. Tan tutug kaselak ngabdi, nora kober sembahyang gya tinimbalan. Terjemahan dalam bahasa Indonesia: Dari waktu masih muda, sebentar pernah menjalani. Bersemangat kepada ilmu agama, berguru berbagai rukun agama termasuk haji. Dalam relung hati saya, sangat takut kepada hari esok, ketika berlaku aturan akhir jaman. Belum selesai berguru terhenti karena harus mengabdi, tidak sempat sembahyang sewgera dipanggil menghadap. Kajian per kata: Saking (dari) duk (sejak) maksih (masih) taruna (muda), sedhela (sebentar) wus (sudah) anglakoni (menjalani), aberag (bersemangat) marang (kepada) agama (ilmu agama). Dari riwayat di waktu masih muda, sebentar saja pernah menjalani, bersemangat dalam mempelajari ilmu agama. Bait ini menceritakan kisah masa muda KGPAA Mangkunegara IV yang pada waktu itu, walau hanya sebentar, pernah bersemangat mempelajari ilmu agama. Guru beliau dalam ilmu agama adalah kakek beliau sendiri Sri Mangkunegara II. Namun menjelang remaja beliau harus ikut magang kepada Pangeran Rio (kelak menjadi Mangkunegara III) untuk belajar ilmu tatanegara. Kemudian ketika menginjak usia muda juga harus masuk legiun Mangkunegaran sebagai taruna. Semua itu adalah kewajiban belajar yang mesti dijalani oleh para pangeran sebagai calon penerus tahta kerajaan Mangkunegara. Agaknya hal inilah yang membuat Sri Mangkunegara IV merasa belum cukup belajar ilmu agama. Maguru (berguru) anggering (peraturan, tatacara) kaji (haji, naik haji). Berguru berbagai rukun agama termasuk berhaji. Dalam waktu yang sebentar itu beliau telah berguru tentang rukun-rukun agama sampai bab haji, artinya pelajarannya sebenarnya sudah tuntas, walau belum terpuaskan dahaga akan ilmu agama. Sawadine (sebenarnya dalam) tyas (hati) mami (saya), banget (sangat) wedine (takutnya) ing (kepada) mbesuk (hari esok), pranatan (aturan) akhir (akhir) jaman (zaman, masa hidup). Dalam relung hati yang terdalam sebenarnya saya sangat takut akan hari esok, ketika berlaku aturan akhir zaman. Dalam relung hati yang terdalam ada ketakutan tentang kehidupan sesudah mati. Ada banyak pertanyaan seputar akhir jaman. Oleh karena itulah beliau bermaksud memperdalam ilmu agama agar tahu jalan keselamatan. Tan (tidak) tutug (selesai) kaselak (sudah harus) ngabdi (mengabdi). Tetapi belum selesai berguru sudah harus mengabdi kepada negara. Walau sebenarnya dirinya sangat ingin memperdalam ilmu agama lebih lanjut sampai sempurna, tetapi karena panggilan tugas terpaksa ditinggalkan. Tugas seorang anak-cucu raja sangatlah besar dan pendidikan baginya juga disiplin dan keras. Tidak boleh sekehendak sendiri, tetapi sudah ditentukan oleh para orang tua mereka. Hal itu berkaitan dengan beban tuntutan yang mesthi ditanggung oleh keluarga kerajaan jika mereka ingin mempertahankan esksistensi dinasti mereka. Maka wajar bila anak-cucu raja justru jauh dari sikap manja dan hidup mewah, mereka justru berlatih dengan keras melebihi anak-anak lainnya. Nora (tidak) kober (sempat) sembahyang (sembahyang) gya (cepat-cepat) tinimbalan (dipanggil). Tidak sempat sembahyang, cepat-cepat dipanggil menghadap. Tugas sebagai pegawai kerajaan sungguh sangat menyita waktu, hingga tak sempat sembahyang secara kusyu karena tiba-tiba dipanggil menghadap. Seperti yang sudah diuraikan di atas bahwa tugas anak-cucu raja sangat banyak, maka sangat sulit bagi mereka untuk membagi waktu. Termasuk urusan sembahyangpun tidak dapat dilakukan dengan leluasa, waktu yang tersedia sangat sedikit. Mereka telah sibuk luar biasa sejak kecil. Menurut riwayat sejak kecil Mangkunegara IV yang nama kecilnya adalah Sudira, telah mempelajari ilmu agama Islam dari kakeknya, Mangkunegara II. Ayah beliau Hadiwijaya adalah seorang mujahid yang syahid dalam pertempuran melawan Belanda di Kaliabu, oleh kerena itu biasa disebut Hadiwijaya Seda Kaliabu. Menjadi bocah yatim Sudira diasuh oleh kakeknya dan dididik dalam ilmu-ilmu agama. Setelah berumur 10 tahun oleh kakeknya kemudian diserahkan kepada Pangeran Rio, yang kelak menjadi Mangkunegara III. Oleh Pangeran Rio Sudira dididik dalam ilmu kenegaraan, kasusatraan dan ketrampilan lainnya selayaknya seorang pangeran. Kelak setelah dewasa Sudira diambil menantu oleh Mangkunegara III dan dijadikan pembantu untuk tugas-tugas beliau. Hal ini menjadikan Sudira seorang yang cakap dan trampil karena telah mengenal pekerjaan seorang raja sejak muda. Maka ketika ia diserahi tahta ia tak kerepotan lagi. Modal kecakapan yang dimiliki tak sia-sia. Ia menjadi seorang raja yang bijak dan cerdik. Di bawah tekanan pemerintah kolonial ia mampu membawa Mangkunegaran meraih zaman keemasan, atau yang disebut sebagai kala sumbaga. Sri Mangkunegara IV yang sebenarnya sangat bersemangat mengkaji ilmu-ilmu agama harus rela meninggalkan minatnya tersebut demi pengabdian kepada negara. Namun di sela-sela tugasnya beliau mampu menyisihkan waktu untuk menggubah serat Wedatama sebagai pesan moral atau piwulang untuk generasi yang akan datang. Kajian Wedatama (27): Bawur Tyas Lir Kiamat Bait ke-27, Pupuh Sinom, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV: Marang ingkang asung pangan, yen kesuwen den dukani. Abubrah bawur tyas ing wang, lir kiyamat saben ari. Bot Allah apa Gusti, Tambuh-tambuh solahingsun, Lawas lawas nggraita, Rehne ta suta priyayi, Yen mamriha dadi kaum temah nista Terjemahan dalam Bahasa Indonesia: Oleh orang yang memberi makan, bila terlambat dimarahi. Rusak dan bingung hatiku, bagai kiamat tiap hari. Berat Allah atau majikan, Ragu-ragu tindakan saya, Lama-lama terpikir, Karena anak bangsawan, Apabila ingin menjadi juru doa kurang elok, Kajian per kata: Marang (oleh) ingkang (yang) asung (memberi) pangan (makan, gaji), yen (kalau) kesuwen (kelamaan) den (di) dukani (marahi). Oleh orang yang memberi makan, kalau kelamaan dimarahi. Pada jaman dahulu calon-calon pejabat, yang umumnya juga anak-anak pejabat, setelah menyelesaikan pendidikan dasar (suwita) kemudian harus magang pada pejabat tertentu. Di situ dia harus latihan mengerjakan beberapa tugas pemerintahan di bawah arahan sang pejabat yang disuwitani. Biasanya memang pelatihan yang diterimanya sangat keras dan disiplin dan harus menurut. Inilah yang membuat mangkunera IV muda tak kusyu’ dalam ibadah, maupun tak sempat lagi memperdalam ilmu agama. Dicontohkan dalam bait ini, kalau dipanggil harus segera menghadap, kalau tidak akan kena marah. Abubrah (rusaklah) bawur (bingung, galau) tyas (hati) ing wang (saya), lir (seperti) kiyamat (kiamat) saben (setiap) ari (hari). Rusak dan bingung (galau) hati saya, seperti kiamat setiap hari. Rusaklah hati, bingung dan galau disebabkan kehendak hati kepada agama tak kesampaian. Setiap hari laksana kiamat karena bimbang dan ragu. Sungguh tak enak! Bot (Lebih berat) Allah (kepaa Allah) apa (atau) Gusti (majikan), tambuh-tambuh (selalu ragu-ragu) solahingsun (tindakan saya). Lebih berat kepada Allah atau majikan (yang disuwitani), selalu ragu-ragu tindakan saya. Hati selalu ragu-ragu dalam menimbang, lebih memilih kepada beribadah kepada Allah atau menuruti perintah majikan. Kegalauan hati terpancar dalam tindakan, menjadi serba ragu dalam bertindak. Lawas lawas (Lama-lama) nggraita (berpikir, merenung), rehne (oleh karena) ta (nyatanya) suta (anak) priyayi (bangsawan, pejabat). Lama-lama kemudian berpikir, oleh karena terlahir sebagai anak bangsawan. Merenungkan bagaimana yang seharusnya mengambil keputusan agar hati tak galau dan tak ragu lagi dalam bertindak. Biar mantap jalan yang dipilih. Maka beliau kemudian lebih memilih menuruti takdir beliau sebagai anak bangsawan. Menjadi bangsawan harus memikul tugas negara yang tak boleh dihindari. Demikian juga anak-anak bangsawan pun akan memikul tanggung jawab kelak. Dan itu bukan tugas yang sepele dan ringan. Di jaman itu menjadi kesatria berarti harus cakap secara fisik dan menguasai strategi kemiliteran. Apalagi jaman itu masih sering terjadi perang. Nah ini pun panggilan tugas yang tak kalah mulia. Yen (kalau) mamriha (mengharap) dadi (menjadi) kaum (juru doa) temah (akan) nista (nista, tak elok). Kalau mengharap menjadi juru doa kurang elok. Ini bukan karena enggan beribadah kepada Allah, tetapi karena panggilan tugas negara tak kalah terpuji. Misalnya ayahanda Mangkunegara sendiri gugur dalam perang melawan Belanda. Bukankah ini juga suatu kebaikan menurut syariat agama? Hal-hal inilah yang kemudian memantapkan pilihan Sri Mangkunegara IV untuk meneruskan karir di pemerintahan. Karena jika mengharap menjadi ulama akan terasa kurang elok, seperti lari dari tanggung jawab yang dibebankan negara. Bait ini menceritakan pergulatan spiritual sang penggubah Wedatama. Antara dorongan untuk memperdalam ilmu agama dan panggilan tugas kenegaraan. Bahwa di jaman kerajaan dahulu orang yang terlahir sebagai anak bangsawan memang sejak lahir telah dibebani tugas kemasyarakatan. Harus belajar ilmu-ilmu pemerintahan kepada para pembesar dengan cara ( mengabdi( suwita), kemudian harus latihan bekerja (magang), juga belajar ilmu sastra kepada para pujangga, belajar kemiliteran dengan masuk pelatihan militer (legiun Mangkunegaran) dan belajar ilmu agama kepada para ulama. Diantara ilmu-ilmu itu tentu ada salah satu yang menarik minat, tetapi karena tugas-tugas kenegaraan yang harus diemban terpaksa mengabaikan kecenderungan hati. Beruntung Sri Mangkunegara IV sempat menyelesaikan beberapa karya piwulang dan sastra yang kelak berguna untuk generasi kemudian. Kajian Wedatama (28): Ngantepi Wajibing Urip Bait ke-28, Pupuh Sinom, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV: Tuwin ketip suragama, pan ingsun nora winaris. Angur baya ngantepana, pranatan wajibing urip. Lampahan angluhuri, kuna kumunanira, kongsi tumekeng samangkin. Kikisne tan lyan amung ngupa boga. Terjemahan Bahasa Indonesia: Ataukah ingin menjadi khotib ahli agama, memang itu saya tidak mewarisi keahlian. Lebih baik berpegang teguh, tata peraturan kehidupan. Menjalani ajaran para leluhur, di jaman dahulu kala, hingga jaman sekarang. Akhirnya tak lain hanyalah mencari nafkah. Kajian per kata: Tuwin (dan, juga) ketip (khatib) suragama (ahli agama), pan (dari kata mapan: memang) ingsun (saya) nora (tidak) winaris (mewarisi keahlian). Ataukah menjadi khatib ahli agama, memang itu saya tidak mewarisi keahlian. Bait ini masih melanjutkan bait sebelumnya tentang keinginan yang pernah terbersit dalam hati sang penggubah Wedatama yang waktu muda condong ke arah ilmu-ilmu agama. Mengingat bahwa beliau adalah putra seorang pangeran mangkunegaran, maka hal yang sudah menjadi warisan turun-temurun dari leluhurnya adalah mengenai pemerintahan dan kemiliteran. Apabila ingin pindah haluan menjadi ahli agama, hal itu terlalu jauh karena tidak mewarisi tradisi belajar agama secara mendalam. Sementara dia masih harus ikut magang sebagai abdi negara yang sangat menyita waktu. Angur baya (lebih baik) ngantepana (berpegang teguh), pranatan (tatacara) wajibing (seharusnya) urip (orang hidup). Lebih baik memegang teguh yang sudah ada, tatacara peraturan kehidupan yang baik. Lebih baik menekuni yang sudah ada, ditingkatkan lagi kemampuannya di bidang yang sudah dikuasai para leluhurnya tersebut, mengelola negara, agar dapat disempurnakan menjadi lebih baik lagi. Tatacara kehidupan menurut orang terdahulu, sebenarnya juga merupakan aplikasi dari nilai-nilai agama yang dipraktikkan dalam laku tirakat. Yakni, menghindari perbuatan dosa, senantiasa menyendiri untuk bermuhasabah dan mengendalikan nafsu badaniah. Lampahan (melakukan, menjalani) angluhuri (hal baik dari para leluhur), kuna (di jaman dulu) kumunanira (yang lebih dulu lagi), kongsi (juga) tumekeng (sampai) samangkin (jaman sekarang). Amalan-amalan luhur dari para pendahulu, di jaman dahulu kala, dan juga sampai jaman sekarang. Amalan-amalan leluhur yang sudah mendarah daging dan dibiasakan sejak kecil sehingga sudah mapan dan berhasil membentuk pribadi-pribadi tangguh. Laku atau tatacara yang sudah diterapkan dalam kehidupan leluhurnya sejak jaman dahulu sampai sekarang, sudah teruji oleh waktu, sudah melahirkan banyak raja-raja besar dan ksatria-ksatria termasyhur lainnya. Kikisne (akhirnya) tan (tak) lyan (lain) amung (hanya) ngupa (mencari) boga (nafkah). Pada akhirnya tak lain hanya mencari nafkah. Muara dari seluruh ajaran itu pada akhirnya hanyalah mencari nafkah. Gatra terakhir ini sebenarnya ungkapan merendah. Banyak orang terutama yang bekerja di pemerintahan, jawatan atau perusahaan dan berkedudukan tinggi ketika ditanya apa pekerjaannya, mereka hanya menjawab, “Aku mung golek sega! (aku hanya mencari nasi!)” Yang demikian itu memang watak seorang yang sudah paripurna dalam berlatih ilmu laku. Tidak serta merta menyombongkan diri di depan khalayak. Ini tentu bertentangan dengan kebiasaan politikus yang saling mengiklankan kebaikannya sendiri-sendiri, terutama jika mendekati pilkada. Bait ini menjadi akhir dari serangkaian bait yang menceritakan tentang pergulatan batin Sri Mangkunegara di kala muda. Bait selanjutnya akan menampilkan ajaran piwulang tentang bagaimana seharusnya bertindak dalam kehidupan. Nasehat-nasehat beliau sederhana dan membumi, seringkali kita temui dalam praktik kehidupan sehari-hari. Inilah salah satu kelebihan serat Wedatama. Kajian Wedatama (29): Ugering Ngaurip Triprakara Bait ke-29, Pupuh Sinom, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV: Bonggan kan tan merlokena, mungguh ugering ngaurip. Uripe lan tripakara, wirya, arta tri winasis. Kalamun kongsi sepi, saka wilangan tetelu, telas tilasing jamna. Aji godhong jati aking. Temah papa papariman ngulandara. Terjemahan dalam Bahasa Indnesia: Salahnya sendiri yang tidak peduli, terhadap landasan penghidupan. Hidup berlandaskan tiga hal, keluhuran, kesejahteraan dan pengetahuan. Jikalau tidak memiliki, satu hal dari ketiganya, habislah arti sebagai manusia. Masih lebih berharga daun jati kering. Akhirnya menderita jadi peminta-minta dan gelandangan. Kajian per kata: Bonggan (salah sendiri, kelalaian) kan (yang demikian) tan (tidak) merlokena (memperhatikan, peduli), mungguh (terhadap) ugering (sandaran) ngaurip (penghidupan). Salahnya sendiri tidak yang tidak memperdulikan, terhadap tiga sandaran penghidupan. Orang hidup harus peduli dengan sandaran atau landasan penghidupan. Dipersiapkan diwaktu muda, dilatih sejak kecil dan dipelajari secara sungguh-sungguh. Agar kelak masa depan tidak suram. Agar ada pengharapan kehidupan yang baik. Itulah bekal dalam menempuh kehidupan di masa tua. Uripe (hidup itu) lan (bersandar) tripakara (tiga perkara), wirya (keluhuran, keperwiraan) arta (kesejahteraan, kekayaan) tri (yang ketiga) winasis (pengetahuan). Hidup itu bersandar tiga perkara: keluhuran watak, kesejahteraan dan yang ketiga pengetahuan. Tiga hal yang dapat menjadi sandaran kelak ketika mulai hidup mandiri sebagai warga masyarakat. Pertama, keluhuran watak. Ini adalah sikap mental yang berkaitan dengan karakter seseorang. Seorang yang ngawirya adalah seseorang dengan sikap mental baja, tak gampang menyerah, berani mengambil resiko dan tak takut salah. Sikap ini sering diidentikkan dengan sikap seorang prajurit atau ksatria. Kedua, kesejahteraan atau kekayaan. Ini jelas lebih menjamin masa depan. Dengan kekayaan seseorang dapat bergerak bebas mau apa saja, bisa berdagang, menunut ilmu ke para guru atau apapun yang sesuai minat dan kegemaran. Memelihara burung jalak juga bisa, memelihara kerbau pun tak kurang modal, bisa apa sajalah. Ketiga pengetahuan. Dengan pengetahuan seseorang lebih berpeluang menjadi pegawai kerajaan, menjadi pengusaha, pedagang ataupun usaha lainnya. Hal itu karena nalarnya bisa berpikir mencari solusi terbaik dari setiap masalah yang dihadapi. Kalamun (jikalau) kongsi (benar-benar) sepi (tak ada), saka (satu hal dari) wilangan (bilangan) tetelu (ketiganya), telas (habislah) tilasing (jejaknya, arti dari) jamna (sebagai manusia). Jikalau benar-benar tak ada, satu hal dari ketiganya, habislah harga diri sebagai manusia. Jika tak ada satu pun dari tiga itu, rasa-rasanya akan sulit bagi seseorang untuk bertahan hidup. Tanpa salah satu darinya runtuhlah harga diri seseorang, hidupnya terjepit, peluangnya sempit dan kepercayaannya defisit. Mau magang melamar pekerjaan tak ada rekomendasi, mau wirausaha tak ada modal, mau ikut seleksi calon pegawai tak ada pengetahuan. Tamatlah hidupnya. Aji (lebih berharga) godhong (daun) jati (jati) aking (kering). Lebih berharga daun jati kering. Orang yang dalam keadaan demikian sama sekali tidak berguna. Ibaratnya masih lebih berharga daun jati kering. Daun jati kering saja masih bisa untuk membungkus nasi. Lha ini? Sama sekali tidak dapat diandalkan. Kalimat aji godhong jati aking ini kemudian populer sebagai peribahasa dalam bahasa Jawa, artinya orang yang sudah tidak berguna sama sekali akibat tidak mempunyai kemampuan apa-apa. Temah (akhirnya) papa (menderita) papariman (meminta-minta) ngulandara (bergelandangan). Akhirnya menderita menjadi peminta-minta hidup bergelandangan. Orang yang tak memiliki bekal hidup dari tiga hal tersebut akan selalu menderita karena tak mampu menjawab permasalahan yang ada. Hidupnya takkan mandiri, selalu bergantung kepada orang lain, bergelandangan, merepotkan saja. Walau nasehat ini sudah ratusan tahun, tampaknya masih relevan dengan jaman kini, maka hendaklah kaum muda yang akan memasuki kehidupan bermasyarakat memperhatikan hal tersebut.  

Tidak ada komentar: