Gunungtugel peristiwa sebuah awal peradaban lama,yang telah mengawali peradaban baru sebagai pondasi awal terwujadnya ri Bhumi Mataram.Hal yang demikian diperoleh dari winarah para Sepuh dari jaman ke jaman.Diantaranya winarah yang diperoleh mbah Datrim dari mbah Datuk Kahfi.winarah yang di maksut adalah latar belakang Gunungtugel.Demikian juga winarah dari mbah Bakri dari eyang Muhsin.Eyang Muhsin dari Syeh Abdurahman,dari Ki Buyut Manguneng.
Kamis, 10 Januari 2019
Kajian Wredatama 55-59
Kajian Wedatama (55): Angruwat Ruweding Batos
Bait ke-55, Pupuh Gambuh, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV:
Wong seger badanipun,
otot daging kulit balung sumsum. Tumrah ing rah memarah antenging ati, Antenging ati nunungku,
Angruwat ruweding batos.
Terjemahan dalam bahasa Indonesia:
Orang yang sehat badannya,
otot, daging kulit, tulang dan sungsum, Mempengaruhi darah menjadikan tenangnya hati, Tenangnya hati menjadikan,
hilangnya ruwet di pikiran,
.
Kajian per kata:
Wong (orang) seger (segar, sehat) badanipun (badannya), otot daging kulit balung sumsum. Orang yang sehat badannya, otot, daging kulit, tulang dan sungsum.
Bait ini masih kelanjutan dari bait sebelumnya tentang amalan lahir atau ibadahnya tubuh atau sembah raga. Bahwa manfaat sembah raga adalah badannya sehat, bugar dan segar. Orang yang sehat badannya tentu juga sehat organ-organnya. Otot, daging, kulit, tulang dan sungsum semuanya dalam keadaan sehat. Hal ini bisa terjadi karena orang yang mengamalkan syari’at akan hidup secara teratur, seimbang dalam makan, proporsional dalam bekerja, cukup istirahat dan tidak berlebihan dalam menikmati kesenangan duniwi. Karena semua ada batasan-batasan kewajiban dan kepatutan.
Tumrah (menurun, mempengaruhi) ing (di) rah (darah) memarah (menjadikan) antenging (tenangnya) ati (hati). Mempengaruhi darah menjadikan tenangnya hati.
Tubuh yang sehat, istirahat cukup, tidak berlebihan dalam setiap urusan. Tidak telalu tertekan kepanikan karena stress tapi tetap aktif. Tidak malas-malasan, tapi terukur dalam bekerja. Itulah ritme hidup terbaik yang akan membuat darah lancar mengalir. Pasokan nutrisi ke seluruh organ tubuh terjamin. Kondisi ini akan menjadikan hati selalu tenang, tidak bergejolak oleh aktivitas yang mendadak, tidak berdebar-debar karena tak ada kekhawatiran.
Antenging (tenangnya) ati (hati) nunungku (membuat tungku, arti kiasan menjadikan), angruwat (menghilangkan) ruweding (kisruhnya) batos (batin, pikiran). Tenangnya hati menjadikan, hilangnya ruwet di pikiran.
Tenangnya hati akan membuat seseorang mampu berpikir jernih, mampu mencari solusi dari setiap problem, mampu membuat karya yang baru, mampu menyusun rencana dengan matang. Segala masalah yang ruwet (kisruh) sekalipun akan mampu dicarikan jalan keluar. Segala tantangan hidup yang berat mampu diatasi dengan pikiran yang jernih.
Inilah efek langsung dari teraturnya gerakan tubuh. Seseorang yang terbiasa mendisiplinkan tubuhnya dengan sembah raga pasti akan mendapat manfaat yang banyak sekali. Itu baru ditinjau dari sisi fisik semata-mata, sesuai kajian kita tentang sembah raga dalam beberapa bait yang lalu.
Bait ini mengakhiri bahasan tentang sembah raga. Bait berikutnya akan bercerita tentang mengapa penggubah Wedatama ini perlu menyampaikan pesan-pesan tersebut di atas. Nantikan kajian berikutnya pada bait ke-56.
Kajian Wedatama (56): Beda Panduk Panduming Dumadi
Bait ke-56, Pupuh Gambuh, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV:
Mangkono mungguh ingsun, Ananging ta sarehne asnapun,
Beda beda panduk panduming dumadi, Sayektine nora jumbuh,
Tekad kang padha linakon.
Terjemahan dalam bahasa Indonesia:
Demikianlah yang baik bagi saya.
Tetapi karena orang itu berbeda-beda,
lain-lain qadla dan qadarnya dalam penciptaan. Sebenarnya tidak cocok,
tekad yang dijalani itu.
.
Kajian per kata:
Mangkono (demikianlah) mungguh (pantas, baik bagi) ingsun (saya). Demikianlah yang baik bagi saya.
Ini merujuk pada apa yang disampaikan pada bait-bait sebelumnya tentang sembah raga bahwasanya itulah wawasan atau piwulang atau nasihat yang terbaik menurut penggubah Wedatama ini. Di sini sang penggubah Wedatama, Sri Mangkunegara IV hanyalah menyampaikan piwulang yang menurutnya baik untuk dilakukan oleh generasi muda dan masyarakat pada umumnya.
Ananging (tetapi) ta sarehne (karena) asnapun (berbeda-beda), beda beda (lain-lain) panduk (terkena) panduming (kebagian, kadar) dumadi (penciptaan). Tetapi karena orang itu berbeda, lain-lain qadla dan qadarnya dalam penciptaan.
Sesungguhnya keadaan orang berbeda-beda satu dengan yang lain (asnapun). Perbedaan itu disebabkan karena ketetapan Allah Sang Pencipta. Panduk di sini berarti terkena, panduming berarti mendapat pembagian. Jadi panduk adalah qadla dan pamduming berarti qadar. Dalam hal ini setiap manusia tentu tidak sama antara satu dengan yang lainnya.
Qadla dan Qadar adalah rahasia Allah SWT. Kita manusia tak mampu menjangkau hal tersebut, yang dapat kita lakukan adalah ikhtiyari, mencari dan memilih tindakan apa yang terbaik untuk kita. Soal mana yang terbaik tersebut tentu bagi setiap orang juga berbeda-beda. Boleh jadi satu amalan kebaikan cocok untuk orang tertentu, namun justru memberatkan bagi orang lain.
Sayektine (sebenarnya) nora (tidak) jumbuh (cocok), tekad (tekad) kang (yang) padha (sama-sama) linakon (dijalani). Sebenarnya tidak cocok, tekad yang dijalani.
Oleh karena hal di atas, sebenarnya (apa yang saya ajarkan-penulis wedatama) tidak cocok untuk setiap keadaan. Mengingat keadaan setiap orang berbeda-beda, tak sama persis antara satu dengan yang lain. Maka ambillah sekedar sebagai penggugah semangat saja, agar kalian bertekad untuk sama-sama melakukan kebaikan.
Di gatra ini penggubah Wedatama menyadari bahwa ajaran yang beliau sampaikan tak dapat ditiru secara persis. Pada Pupuh Pangkur yang lalu, berulang kali beliau tegaskan bahwa meneladani seseorang juga tak mungkin menirunya persis. Tirulah tekad atau semangat yang mendasari perbuatan para leluhur, adapun bentuk pengamalannya disesuaikan dengan kondisi masing-masing.
Kajian Wedatama (57): Nugraha Ageming Keprabon
Pada atau bait ke-57, Pupuh Gambuh, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV:
Nanging ta paksa tutur.
Rehne tuwa tuwase mung catur.
Bok lumuntur lantaraning reh utami. Sing sapa temen tinemu.
Nugraha geming keprabon.
Terjemahan dalam bahasa Indonesia:
Tetapi memaksa diri memberi petuah.
Karena sebagai orang tua bisanya hanya berpetuah. Siapa tahu dapat menurun melalui segala kebaikan. Siapa bersungguh-sungguh akan mendapatkan. Anugrah untuk orang pilihan .
.
Kajian per kata:
Nanging (tetapi) ta paksa (memaksakan) tutur (memberi petuah). Tetapi memaksa diri memberi petuah.
Bait ini ada hubungannya dengan bait sebelumnya yang menyatakan bahwa apa yang beliau ajarkan tidak mungkin diterapkan oleh semua orang karena perbedaan keadaan masing- masing. Meski demikian beliau memaksakan diri untuk memberi petuah sebagai bagian dari tugas kemanusiaan, menyampaikan apa yang diyakini sebagai kebenaran. Asalkan dalam penyampaian itu -dan ini dicontohkan oleh beliau- tidak serta merta dengan kesombongan seolah-olah yang disampaikan itulah yang benar sendiri.
Rehne (karena) tuwa (orang tua) tuwase (bisanya, mampunya) mung (hanya ) catur (berpetuah). Karena sebagai orang tua bisanya hanya berpetuah.
Orang tua bisanya hanya memberi petuah, atas dasar pengalaman hidup yang telah dilalui. Walau pengalaman orang juga tidak sama, dan karena itu tak bisa ditiru oleh orang lain secara persis, tetapi tidaklah mengapa. Mungkin ada saripati, semangat dan tekad kuat yang bisa menjadi inspirasi bagi anak muda di kemudian hari.
Bok (siapa tahu) lumuntur (menurun) lantaraning (melalui) reh (segala) utami (kebaikan). Siapa tahu dapat menurun melalui segala kebaikan.
Saripati dan semangat itulah yang diharapkan lumuntur, menurun bersama tauladan utama yang telah mereka berikan. Lumuntur di sini diambil dari kata luntur. Kalau kita punya kain berwarna dan dicuci bersama kain lainnya, semisal kain putih, kadang-kadang warna itu luntur dan mengenai kain putih tersebut. Maka kain putih tadi menjadi berwarna serupa dengan kain yang luntur meski gradasi warnanya tak bisa menyamai. Nah seperti itulah kira- kira yang dimaksud oleh sang penggubah Wedatama ini, ora ketang sethithik (walau hanya sedikit) kebaikan itu bisa lumuntur (menurun) melalui tauladan yang diberikan kepada anak cucu.
Sing (yang) sapa (siapaun) temen (bersungguh-sungguh) tinemu (akan menemukan). Siapa bersungguh-sungguh akan mendapatkan.
Barang siapa yang bersungguh-sungguh berusaha menggali tauladan tersebut, niscaya akan menemukan kebaikan bagi dirinya sendiri. Sebenarnya kita kaum mutaakhirin sangat beruntung mendapat banyak contoh dari para generasi yang terdahulu, oleh karena itu tugas kita hanya bersungguh-sungguh menggali saripati kebaikan moral dari perbuatan yang telah dilakukan oleh orang-orang terdahulu tersebut.
Nugraha (anugrah) geming (pakaian) keprabon (raja, orang pilihan). Anugrah untuk orang pilihan.
Bagi yang berusaha sungguh-sungguh akan menemukan nugraha (anugrah). Nugraha adalah pemberian Allah yang diberikan kepada manusia karena telah berhasil meningkatkan kemampuan dirinya. Jadi bukanlah pemberian yang asal-asalan, tetapi dengan memperhatikan usaha dan capaian si penerima.
Geming dari kata ageming yang artinya pakaian. Dalam bahasa Jawa memang ada kebiasaan menghilangkan satu dua suku kata dari kata yang sudah umum dipakai sehari-hari. Hal ini karena bentuk serat Wedatama ini adalah tembang Macapat yang terikat dengan guru wilangan, banyak suku kata dalam satu gatra (baris). Sehingga demi memenuhi metrum tembang, kadang satu suku kata harus dihilangkan tanpa mengurangi maknanya.
Kata ageming di sini pernah keluar di bait pertama dalam bentuk kalimat agama ageming aji. Kali ini muncul lagi dalam format geming keprabon, yang kurang lebih artinya sama yakni kaum pilihan. Kata prabu berarti raja, tetapi kadang dipakai untuk merujuk sesuatu yang lain yang berkaitan dengan pangkat atau maqom tertentu. Keprabon juga sering dipakai untuk menyebut peninggalan leluhur yang berharga, misal pada kata: anak lanang sing bakal nglungsur keprabon (anak lelaki yang mewarisi posisi orang tuanya).
Dari uraian di atas dapat dimaknai arti gatra terakhir sebagai anugrah yang biasa diberikan kepada orang-orang pilihan.
Kajian Wedatama (58): Patitis Tetesing Kawruh
Bait ke-58, Pupuh Gambuh, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV:
Samengko sembah kalbu.
Yen lumintu uga dadi laku.
Laku agung kang kagungan Narapati. Patitis tetesing kawruh.
Meruhi marang kang momong.
Terjemahan dalam bahasa Indonesia:
Sekarang tentang sembah kalbu.
Jika terus-menerus dilakukan juga menjadi laku. Laku besar yang dimiliki oleh raja.
Tepat tumbuhnya ilmu ini.
Dapat mengetahui yang merawat.
Kajian per kata:
Samengko (sekarang) sembah (sembah, ibadah) kalbu (kalbu, hati). Sekarang tentang sembah kalbu.
Sembah kalbu atau menurut bait ke-48 disebut sebagai sembah cipta adalah ibadah yang tidak memakai tubuh sebagai pelaksana. Ini berarti sembah kalbu ini tidak berdiri sendiri sebagai bentuk ibadah, tetapi selalu terkait dengan amalan lahiriah. Bisa saja sembah kalbu ini dilakukan bersamaan dengan sembah raga, atau pun dengan praktik ibadah yang lain.
Titik tekan pada sembah kalbu ini adalah hati (kalbu) atau pikiran (cipta). Oleh karena penggubah Wedatama ini menggunakan dua istilah untuk menyebut sembah ini, maka sebaiknya kita definisikan dahulu maknanya agar tidak rancu dengan sembah-sembah yang lain.
Yang pertama apakah ada kaitan antara cipta dan kalbu? Cipta adalah gagasan yang ada dalam angan-angan, sedangkan kalbu adalah sumber dari angan-angan itu. Kalbu berasal dari bahasa Arab qalb, yang artinya berbolak-balik. Maka ada doa yang berbunyi: tsabit qalbi ‘ala diinika, tetapkan hatiku dalam agamamu. Doa ini meminta agar hati kita, qalb kita tidak ragu-ragu lagi menjalankan perintah agama.
Penjelasan singkat di atas kiranya dapat menghilangkan kerancuan dari dua istilah yang dipakai, bahwa sembah cipta atau sembah kalbu (selanjutnya istilah ini yang akan dipakai), merupakan sembah yang menggunakan peranan hati sebagai subyek penyembahan. Hati yang menyembah Tuhan adalah hati yang senantiasa mengagungkan wujud Allah Ta’ala. Maknanya hati harus selalu tunduk terhadap perintah dan larangannya. Apakah hati bisa ingkar terhadap perintah Allah, tentu saja bisa apabila masih berpikir tentang selainNya, walau hanya berupa angan-angan saja.
Yen (kalau) lumintu (terus-menerus) uga (juga) dadi (menjadi) laku (laku, amalan). Jika terus-menerus dilakukan juga menjadi laku.
Sembah kalbu ini apabila dilakukan secara terus-menerus, kontinyu, ajeg, akan menjadi laku. Yang disebut laku adalah amalan yang membuat pelakunya meningkatkan kemampuan diri, meninggikan derajat atau mendekatkan pada tujuan.
Namun laku dalam sembah kalbu tidaklah melibatkan anggota tubuh, melainkan lebih mengedepankan peranan kalbu, hati manusia. Sembah kalbu dengan demikian adalah sembah yang wilayah cakupannya ada di dalam dada manusia, tak terlihat oleh orang lain. Walau hanya dirinya sendiri yang tahu sembah kalbu tetaplah memerlukan kehadiran seorang guru yang harus mengawasi polah batin kita agar tidak sesat dalam membaca rambu-rambu ciptaan Allah SWT.
Laku (laku, amalan) agung (besar, agung) kang (yang) kagungan (dimiliki) Narapati (raja). Laku besar yang dimiliki oleh raja.
Sembah kalbu ini bukan saja merupakan laku bagi orang kebanyakan, tetapi juga merupakan laku yang sering dijalani oleh para raja. Sebuah laku yang juga dilakukan oleh orang-orang pilihan. Laku yang akan mengantarkan orang lebih cepat kepada tujuannya, layaknya seorang pejalan yang berjalan di jalan raya.
Patitis (tepat) tetesing (menetesnya, menurunnya) kawruh (ilmu, pengetahuan). Tepat menetesnya pengetahuan.
Sembah kalbu adalah laku yang akan membuat pelakunya bertambah pengetahuan tentang ketuhanan. Lebih tepat (patitis) dalam menerima tetesan (tetesing) ngelmu rasa sejati. Mengenai ngelmu rasa ini akan dibahas lebih lanjut ketika sampai pada bab sembah rasa.
Meruhi (mengetahui) marang (kepada) kang (yang) momong (merawat).
Ilmu yang diperoleh karena laku sembah kalbu akan membuat sesorang awas dalam mengenali kebenaran sehingga dia tak salah dalam mengenali siapa yang merawat alam semesta ini.
Demikian kajian bait ke-58, bait-bait berikutnya akan semakin menjelaskan tentang amalan sembah kalbu ini. Jangan sampai ketinggalan!
Kajian Wedatama (59): Tata Titi Ngati-ati
Pada atau bait ke-59, Pupuh Gambuh, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV:
Sucining tanpa banyu.
Mung nyunyuda mring hardaning kalbu. Pambukaning tata titi ngati-ati.
Atetep telaten atul.
Tuladan marang waspaos.
Terjemahan dalam bahasa Indonesia:
Bersihnya tanpa memakai air.
Hanya dengan mengurangi hasrat di hati.
Mulainya dengan sikap teratur, cermat dan berhati-hati. Serta tetap tidak bosan dan menjadi watak.
Tauladan untuk yang waspada.
Kajian per kata:
Sucining (bersihnya) tanpa (tanpa memakai) banyu (air). Bersihnya tanpa memakai air.
Lazimnya manusia bersuci untuk menghilangkan najis dan hadats. Alat bersucinya adalah dengan air. Tata caranya adalah berwudlu atau mandi. Yang demikian itu untuk mensucikan badan. Namun untuk mensucikan kalbu pirantinya tidak memakai air, karena kalbu adalah organ halus non materi yang tidak terikat hukum-hukum material. Maka caranya adalah berikut ini.
Mung (hanya) nyunyuda (mengurangi) mring (terhadap) hardaning (keinginan) kalbu (hati). Hanya dengan mengurangi hasrat di hati.
Harda adalah hasrat, yakni keinginan yang sudah memuncak, sangat-sangat ingin, tak bisa ditunda lagi. Kata harda sering dipakai dalam ungkapan hardaning kanepson, nafsu yang sudah memuncak untuk segera terlampiaskan. Maka kata hardaning kalbu lebih tepat jika diterjemahkan dengan hasrat di hati, yang berarti keinginan hati yang sangat, kalau dalam bahasa Jawa padanan kata yang tepat adalah kemecer, sangat ingin. Nah yang demikian ini harus dikurangi karena kadang keinginan yang sangat hanya timbul dari nafsu semata-mata, bukan karena kebutuhan.
Misalnya seseorang sudah mempunyai sepeda motor yang cukup untuk alat transportasi, tetapi karena di jalan sering melihat sepeda motor yang bagus, dengan warna-warni atraktif, bisa melaju kenceng, tak nyerendhet mesinnya, kok jadi kepengin juga. Hal-hal seperti inilah yang harus dihindarkan bagi yang ingin berhasil dalam sembah kalbu.
Pambukaning (mulainya) tata (teratur) titi (cermat) ngati-ati (berhati-hati). Mulainya dengan sikap teratur, cermat dan berhati-hati.
Memulai laku sembah kalbu ini diawali dengan sikap yang teratur, cermat dan berhati-hati. Teratur (tata) melaksanakan sembah kalbu, yakni dengan mengurangi hasrat di hati secara terus-menerus. Hidup prasaja dengan mengambil apa yang diperlukan saja, membuang sikap berlebihan dalam kehidupan sehari-hari.
Cermat (titi) dalam mengenali hasrat di hati. Mampu memisahkan antara kebutuhan dan keinginan. Jikalaupun butuh tetap harus dijaga agar tidak berlebihan dalam berhajat, sekedar memenuhi kebutuhan saja.
Berhati-hati dalam melaksanakan itu semua. Jangan sampai hawa nafsu menyeruak dan tampil dalam baju keshalihan. Berpura-pura menjadi teman dengan sejuta argumen pembenaran. Dalam hal ini yang patut selalu dicurigai adalah diri sendiri karena datangnya godaan hanya dari dalam dada.
Atetep (tetap, kontinyu) telaten (tidak bosan) atul (menjadi kebiasaan, terbiasa). Serta tetap tidak bosan dan menjadi kebiasaan.
Berketetapan untuk melakukan hal-hal di atas dengan tidak bosan (telaten). Selalu diulang- ulang setiap waktu sehingga menjadi kebiasaan. Atul berarti sudah terbiasa, sudah mengenal sifat-caranya, sehingga tak sulit lagi untuk melaksanakannya.
Menurut ilmu akhlak suatu pekerjaan yang dilakukan berulang-ulang dalam jangka waktu tertentu akan membuat pelakunya semakin ringan dalam melakukannya. Semakin lama suatu pekerjaan dilakukan dan semakin sering maka akan mendarah daging menjadi kebiasaan yang justru sulit ditinggalkan. Jikalau sudah demikian maka akan menjadi watak seseorang tersebut.
Dengan demikian kita dapat merubah watak seseorang dengan membiasakan melakukan pekerjaan baik secara terus-menerus sampai menjadi kebiasaan sehari-hari. Inilah yang harus kita lakukan, membiasakan hal-hal baik di atas (tata, titi, ngati-ati) sehingga menjadi watak.
Tuladan (tauladan) marang (kepada yang) waspaos (waspada). Tauladan untuk yang waspada.
Yang demikian itu adalah tauladan kepada siapa saja yang waspada. Yang benar-benar mantap hendak melakukan sembah kalbu.
Cukup sekian kajian bait ke-59, bait berikutnya masih akan membahas kelanjutan sembah kalbu. Jangan sampai ketinggalan!
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar