Kamis, 10 Januari 2019

Kajian Wredhatama 70-74

Kajian Wedatama (70): Karasa Wosing Dumadi Bait ke-70, Pupuh Gambuh, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV: Samengko ingsun tutur, gantya sembah ingkang kaping catur. Sembah rasa karasa wosing dumadi, Dadine wis tanpa tuduh, Mung kalawan kasing batos.. Terjemahan dalam bahasa Indonesia: Sekarang saya berbicara, Beralih kepada sembah nomer empat, Sembah rasa terasalah hakekat kehidupan ini, Terwujudnya tanpa petunjuk, Hanya dengan kesentausaan batin.   Kajian per kata: Samengko (sekarang) ingsun (saya) tutur (berbicara), gantya (beralih) sembah (sembah) ingkang (yang) kaping (ke-) catur (empat). Sekarang saya berbicara, beralih kepada sembah nomer empat. Sampailah sekarang pada sembah yang terakhir, sembah rasa. Apakah rasa itu? Ada banyak padanan kata dari rasa ini: rahsa, rahasa, rahasya, sir, raswa, driya, dll. Kesemua kata itu merujuk pada inti terdalam dari manusia yang tersembunyi. Disebut sir yang berarti kecenderungan yang halus atau lembut (dari bahasa Arab sirr), seperti pada kata: atiku sir karo bocah wadon kae, hatiku mempunyai kecenderungan suka pada anak perempuan (gadis) itu. Rasa disebut juga rahsa, rahasa, rahasya, raswa yang artinya rahasia terdalam. Yang menarik kata rahsa ini juga dipakai untuk menyebut wiji manusia manikem, alias air mani. Manikem sering kali juga disebut sebagai intisari dari seorang lelaki. Disebut driya yang artinya perasa, ini bisa berarti fisik atau non fisik. Secara fisik rasa adalah apa yang terjadi pada lidah jika bersentuhan dengan sesuatu: amla (kecut), kayasa (sepet), kathuka (pedhes), sarkara (legi) lan tikta (pahit). Instrumen dari rasa dalam arti fisik adalah lidah. Secara non-fisik rasa sering dipakai untuk menyebut hal-hal yang terjadi pada hati: senang, gembira, sedih, haru, dll. Jadi kata rasa bisa mempunyai banyak arti, tetapi kesemua arti itu selalu merujuk kepada intisari dari manusia. Rasa mempunyai makna yang berbeda dengan kalbu meski kadang dua kata ini dapat dipertukarkan untuk menggambarkan keadaan pada diri manusia. Rasa bersifat lebih halus, lebih dalam, lebih lembut daripada kalbu yang sering berbolak-balik. Rasa juga berbeda dengan jiwa, dan letaknya lebih dalam pada struktur wujud manusia. Ia berkaitan dengan sejatinya manusia, pusat terdalam yang menjadi inti dari manusia itu, maka seringkali disebut dengan kata majemuk: rasa sejati. Dalam bahasa lain rasa ini dekat dengan kata intelek (Inggris), atau juga dekat dengan kata ulul albaab (Arab). Disebut intelek karena mampu menangkap bukan saja fenomena tetapi juga noumena. Orang yang mempunyai intelek disebut ulul albaab, karena mampu menangkap ayat-ayat. Sembah rasa (sembah rasa) karasa (terasalah) wosing (inti, hakekat) dumadi (kehidupan). Sembah rasa terasalah hakekat kehidupan ini. Sembah rasa dengan demikian berati menyembah dengan intisari (wosing) atau hakekat terdalam dari kehidupan manusia. Wosing adalah inti atau bisa diartikan makna diciptakannya (dumadine) manusia. Rasa adalah puncak atau pencapaian akhir dari: raga yang tunduk, kalbu yang mantep (artinya sudah tetap, tidak berbolak-balik lagi, sudah tsabit) dan jiwa yang telah awas, eling dan emut. Dadine (terwujudnya) wis (sudah) tanpa (tanpa) tuduh (pituduh, petunjuk), mung (hanya) kalawan (dengan) kasing (kesentausaan) batos (batin). Terwujudnya tanpa petunjuk, hanya dengan kesentausaan batin. Sembah rasa ini merupakan buah dari laku yang dijalani raga, kalbu dan jiwa. Jika ketiga sembah terdahulu terpenuhi maka sembah rasa akan mewujud dengan sendirinya, tanpa petunjuk lagi. Ini bisa disebut buah dari kesentausaan batin (kasing batos). Namun demikian sembah rasa juga mengandung jebakan betmen yang perlu diwaspadai. Agar kita tak salah mengenali seperti yang bisa terjadi pada sembah jiwa, atau yang disebut salah surup. Dua bait berikutnya akan menerangkan hal tersebut, jangan lewatkan kajian berikutnya. Kajian Wedatama (71): Muluka kalamun Melok Bait ke-71, Pupuh Gambuh, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV: Kalamun durung lugu, aja pisan wani ngaku aku. Antuk siku kang mangkono iku kaki. Kena uga wenang muluk, kalamun wus padha melok. Terjemahan dalam bahasa Indonesia: Apabila belum (mengalami) benar, jangan sekali-kali mengaku aku. Mendapat laknat yang demikian itu anakku. Boleh dikata berhak mengatakan, apabila sudah sama-sama terlihat. . Kajian per kata: Kalamun (apabila) durung (belum) lugu (benar), aja (jangan) pisan (sekali-kali) wani (berani) ngaku aku (mengaku-aku). Apabila belum (mengalami) benar, Jangan sekali-kali mengaku aku. Setiap laku sembah mempunyai ciri-ciri khusus sebagai pertanda apakah sembah yang dilakukan benar-benar berhasil dijalani atau belum. Sembah raga yang berhasil bercirikan segarnya badan, ini membuat antenging ati (tenangnya hati) sehingga angruwat ruweting batos (menghilangkan kisruhnya pikiran). Sembah kalbu yang berhasil bercirikan munculnya rasa tumlawung, haru campur bahagia. Sembah jiwa yang berhasil bercirikan munculnya pencerahan berupa urub sumirat-sirat kadya kartika abyor, munculnya cahaya memancar-mancar sepertika bintang gemerlap. Ini adalah kiasan pencerahan batin sehingga jalan hidup di depan dapat dijalani dengan mudah karena sudah terang-benderang, antara yang haq dan batil. Sembah rasa yang berhasil juga mempunyai ciri-ciri khusus. Jika belum berhasil janganlah mengaku-aku. Antuk (mendapat) siku (laknat, hukuman) kang (yang) mangkono (demikian) iku (itu) kaki (nak). Mendapat laknat yang demikian itu anakku. Yang demikian itu tidaklah elok dilakukan (yakni mengaku-aku tadi). Akan mendapat laknat apabila demikian itu, anakku! Maksud dari siku (laknat) adalah hukuman atas kelancangan tersebut, yakni gagalnya mencapai hasil yang dituju oleh sembah rasa tersebut, maka menjadi sia-sialah seluruh upaya keras yang dilakukan. Kena (boleh) uga (juga) wenang (berhak) muluk (mengaku, mengatakan), kalamun (apabila) wus (sudah) padha (sama-sama) melok (terlihat nyata). Boleh juga berhak mengatakan, apabila sudah sama-sama terlihat. Muluk adalah menyajikan makanan dalam tangan siap dimasukkan ke mulut. Ini adalah ungkapan untuk mengklaim. Wenang muluk berarti boleh mengklaim, berhak mengaku apabila memang wus padha melok, semuanya sudah terlihat, sudah jelas berdasar pada ciri- cirinya. Apakah ciri-ciri dari sembah rasa yang berhasil? Nantikan kajian pada bait selanjutnya. Kajian Wedatama (72): Kumandel Marang Takdir Bait ke-72, Pupuh Gambuh, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV: Meloke ujar iku, yen wus ilang sumelanging kalbu. Amung kandel kumandel marang ing takdir, Iku den awas den emut, Den memet yen arsa momot. Terjemahan dalam bahasa Indonesia: Terlihatnya yang dibicarakan itu, bila sudah hilang keragu-raguan hati, Hanya percaya dengan sebenarnya kepada takdir, Itu harap awas dan ingat, Yeng cermat apabila ingin menguasai seluruhnya.   Kajian per kata: Meloke (terlihatnya) ujar (yang dibicarakan) iku (itu), yen (bila) wus (sudah) ilang (hilang) sumelanging (kekhawatiran) kalbu (hati). Terlihatnya yang dibicarakan itu (maksudnya sembah rasa), bila sudah hilang keragu-raguan hati. Orang yang sudah mengetahui rahasia penciptaan, rahasia posisi dan kedudukan sebagai hamba Allah, takkan menyisakan keragu-raguan dalam hati. Tidak ada kekhawatiran, tidak pula ada rasa sedih di hati karena memikirkan hari esok, la tahinu wala tahzan. Amung (hanya) kandel (percaya) kumandel (dengan sebenarnya) marang (kepada) ing takdir (takdir). Hanya percaya dengan sebenarnya kepada takdir. Kandel di sini dari kata andel, andal. Orang jawa sering mengatakan senjata dengan kata sipat kandel, artinya kalau sudah memegang senjata kepercayaan diri meningkat karena keselamatannya lebih terjamin. Jadi kandel kumandel di sini bermakna percaya dengan sangat terhadap ketentuan (takdir) Allah. Inilah sifat seorang yan sudah berhasil dalam sembah rasa. Iku (itu) den (yang) awas (awas) den (yang) emut (ingat), den (yang) memet (cermat, teliti) yen (jika) arsa (ingin) momot (memuat, menguasai). Itu harap awas dan ingat, yang cermat apabila ingin menguasai seluruhnya. Kedua hal itu, hilangnya rasa khawatir (sumelang) dan percaya sepenuhnya (kandel kumandel) terhadap takdir, hendaknya selalu diawasi dengan cermat apakah sudah ada dalam diri kita. Apabila belum berarti sembah rasa yang kita lakukan belum sempurna, belum berhasil, maka harus diupayakan lagi. Apabila sudah ada rasa itu maka silakan membuat pengakuan atas penguasaannya, silakan melakukan klaim. Meski langkah terakhir juga sebenarnya tidaklah seyogyanya dilakukan, karena muara akhir dari rangkaian sembah yang dilakukan manusia tidak berhenti di sini. Ada tugas lain yang menanti apabila sudah paripurna dalam melakukan semua sembah itu. Sampai di sini perjalanan menuju Tuhan sudah selesai. Catur sembah merupakan fungsi manusia dalam kedudukan sebagai hamba Allah. Sekarang ada dharma lain yang masih harus disandang, ialah memasuh malaning bumi (membersihkan penyakit di bumi) dan memayu hayuning bawana, memperidah keindahan semesta, dua tugas terakhir adalah tugas manusia sebagai fungsi khalifah (pengganti) Allah di bumi. Bait ke-72 ini merupakan bait terakhir dalam naskah baku serat Wedatama. Hal ini karena pada naskah asli tertulis kata TITI yang berarti tamat. Para pakar berpendapat bahwa sisa bait dalam Wedatama dari bait ke-73 sampai bait ke-100 adalah naskah tambahan. Terdapat silang pendapat berkaitan dengan siapa penulis bait tambahan ini. Namun kami tidak akan masuk ke pembahasan tersebut. Sesuai niat awal kajian ini hanya mengkaji dari sisi gramatikalnya saja, dengan tujuan agar mudah dipahami. Kajian Wedatama (73): Weruh Wekasing Dumados. Bait ke-73, Pupuh Gambuh Lanjutan, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV: Pamotaning ujar iku, kudu santosa ing budi teguh. Sarta sabar tawekal legaweng ati. Trima lila ambeg sadu. Weruh wekasing dumados. Terjemahan dalam bahasa Indonesia: Penguasaan atas petuah itu, haruslah disertai dengan sentausa dan teguhnya akal budi. Serta harus sabar, tawakal dan ikhlas di hati. Menerima, rela dan berwatak adiutama. Memahami akhir dari setiap penciptaan.   Kajian per kata: Kita lanjutkan kembali kajian serat Wedatama bait ke-73. Kajian kali ini sampai pada bab lanjutan, Pupuh Gambuh. Disebut lanjutan karena sebelumnya serat Wedatama telah dinyatakan tamat (titi). Namun kembali disambung dengan 38 bait lagi. Terdapat kontroversi mengenai apakah bait-bait lanjutan ini masih merupakan karya Sri Mangkunegara IV. Tetapi seperti yang kami nyatakan pada bahasan yang lalu kita tidak akan mempermasalahkan hal itu. Selain karena isi dari bait lanjutan ini masih relevan dengan bait- bait sebelumnya, secara bahasa bait ini pun bergaya mirip dengan bagian inti. Kami mengambil kesimpulan bahwa bait lanjutan ini juga karya Sri Mangkunegara IV. Pamotaning (penguasaan) ujar (petuah) iku (itu), kudu (harus) santosa (sentausa) ing (dalam) budi (budi) teguh (teguh). Penguasaan atas petuah itu, haruslah disertai dengan sentausa dan teguhnya akal budi. Pada bait sebelumnya telah dinyatakan, jika hendak menguasai sembah rasa harus dilakukan dengan cermat, den memet (cermat) yen arsa momot. Kali ini ada syarat tambahan yakni harus mempersiapkan diri agar sentausa dan teguh dalam akal budi. Dengan ungkapan yang sederhana persiapan mentalnya harus kuat. Jika tidak akan terjadi ketakjuban sesaat yang berujung ketidaksadaran, alias sulap dengan kenyataan yang ditemui. Sulap adalah kondisi tidak bisa melihat kebenaran justru ketika sangat dekat dengan kebenaran itu sendiri. Seperti halnya kita tak dapat melihat matahari karena saking (terlalu) terangnya matahari itu. Sarta (serta) sabar (sabar) tawekal (tawakal) legaweng (ikhlas di) ati (hati). Serta harus sabar, tawakal dan ikhlas di hati. Sabar karena laku yang ditempuh sangat berat, sejak awal sampai akhir depenuhi dengan keadaan serba mengekang hawa nafsu, meper (menahan) keingingan dan meminimalkan kebutuhan. Tawakal karena hasilnya bukan kita yang menentukan, tergantung pada kehendakNya untuk memberi pencerahan atau tidak. Ikhlas karena terlebih dahulu harus menyingkirkan motif rendah dan artifisial, dan menggantinya dengan hati yang kosong dari keinginan. Trima (menerima) lila (rela) ambeg (watak, sifat) sadu (utama, hati yg suci). Menerima, rela dan berwatak adiutama. Trima adalah sikap tidak protes terhadap apapun yang diberikan padanya. Lila bersikap senang hati atas apa yang diterima, atau terhadap yang tidak diterimanya. Ambeg sadu adalah watak orang yang telah mencapai derajat di atas keutamaan (adiutama). Hatinya mendekati hati orang-orang yang suci, terbebas dari pamrih apapun. Weruh (memahami) wekasing (akhir) dumados (penciptaan). Memahami akhir dari setiap penciptaan. Orang yang telah memahami akhir dari segala penciptaan, paraning dumadi, maka tidak akan banyak keresahan, kegalauan, ketakutan, kekhawatiran di hatinya. Sikapnya penuh dengan kerelaan, lila-legawa, rela dan legawa. Legawa adalah sikap bersenang hati atas apa yang terjadi, ini pencapaian yang lebih tinggi dari lila. Begitulah watak dari para priyagung luhur yang telah mencapai kesempurnaan sembah rasa. Sepintas lalu uraian sifat-sifat di atas terlalu teoritis tetapi marilah kita mohon kekuatan agar diri kita mampu mencapai tahap itu. Berharaplah dengan pantas terhadap kehidupan. Dan bermohonlah kepada Yang Memberi Hidup. Kajian Wedatama (74): Sumimpang Ing Laku Dur Bait ke-74, Pupuh Gambuh Lanjutan, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV: Sabarang tindak tanduk, tumindake lan sakadaripun. Den ngaksama kasisipaning sesami. Sumimpanga ing laku dur, hardaning budi kang ngrondon. Terjemahan dalam bahasa Indonesia: Semua tindak-tanduk, dilakukan dengan sekadarnya. Suka memberi maaf kepada kelalaian sesama manusia. Mengindarlah dari perbuatan tercela, yang timbul dari hasrat angkara yang membesar. Kajian per kata: Sabarang (semua) tindak tanduk (tindak-tanduk, perilaku), tumindake (dilakukan) lan (dengan) sakadaripun (sekadarnya). Semua tindak-tanduk, dilakukan dengan sekadarnya. Ini adalah sifat dari orang yang sudah mencapai tahap makrifat, weruh wekasing dumados, yakni sudah paham akan akhir dari segala penciptaan. Output dari pencapaian itu adalah perbuatannya sehari-hari yang terukur, sekadarnya saja, tidak berlebihan, tidak terlalu rendah dan terlalu tinggi, tidak terlalu ke kiri dan terlalu ke kanan, tidak terlalu banyak ataupun terlalu sedikit. Sifat sekadarnya ini dapat diterapkan pada banyak hal. Dalam hal makan ialah makan seperlunya, tandanya apabila dia lapar dia makan dan sebelum kenyang dia berhenti. Dalam hal pakaian adalah tidak memakai sesuatu yang menarik perhatian, tidak terlalu bagus hingga mengundang pergunjingan, tidak terlalu jelek sehingga mengundang belas kasihan. Dalam sikap sehari-hari pun juga bisa diterapkan, tidak membuat jengkel orang lain tetapi juga tidak berkesan asal membuat senang. Tidak otoriter tapi juga tidak lemah. Tidak menentang tapi juga tidak membebek. Tidak nyinyir tapi juga tidak apatis. Dan banyak contoh lain dari sikap sekadarnya ini. Yang jelas sikap sekdarnya lahir dari sebuah perenungan tentang sikap yang harus diambil secara tepat. Dalam hal ini kematangan rasa memegang peranan penting, dan rasa yang matang hanya diperoleh melalui sembah rasa yang berhasil. Den (memberi) ngaksama (maaf) kasisipaning (kelalaian) sesami (sesama manusia). Suka memberi maaf kepada kelalaian sesama manusia. Memberi maaf adalah kualitas agung dari jiwa manusia. Hanya orang-orang pilihan yang mampu melakukan. Namun ada yang lebih tinggi dari itu, adalah memaafkan kekhilafan orang lain, sebelum mereka menyadari kesalahan sendiri. Tidak perlu memaksa-maksa orang lain untuk meminta maaf, tetapi telah memaafkan dengan sendirinya. Sifat pemaaf adalah pakaian orang-orang suci yang telah mengosongkan hatinya dari egoisme. Telah mampu membuang hasrat mengalahkan, dan telah menyingkirkan keinginan menampilkan kebesaran diri. Hanya orang-orang yang telah mencapai derajat sadu ing budi yang mampu melakukannya. Sumimpanga (menghindarlah) ing (dari) laku (perbuatan) dur (tercela), hardaning (hasrat angkara) budi (budi) kang (yang) ngrondhon (membesar). Menghindarlah dari perbuatan tercela, yang timbul dari hasrat angkara yang membesar. Menghindari adalah perbuatan preventif, artinya sengaja menjauhkan diri dari kondisi yang akan membuat diri menjadi terjebak dalam perbuatan tercela, atau menjauh dari tempat di mana ada potensi-potensi untuk munculnya hasrat-hasrat tercela. Rondhon adalah rembuyung, yakni tumbuhnya tunas baru pada batang pohon secara cepat. Demikian juga hasrat-hasrat buruk bisa tumbuh cepat, ngrondhon di hati manakala mendapati lingkungan yang subur. Hal inilah yang harus dihindari.

Tidak ada komentar: