Gunungtugel peristiwa sebuah awal peradaban lama,yang telah mengawali peradaban baru sebagai pondasi awal terwujadnya ri Bhumi Mataram.Hal yang demikian diperoleh dari winarah para Sepuh dari jaman ke jaman.Diantaranya winarah yang diperoleh mbah Datrim dari mbah Datuk Kahfi.winarah yang di maksut adalah latar belakang Gunungtugel.Demikian juga winarah dari mbah Bakri dari eyang Muhsin.Eyang Muhsin dari Syeh Abdurahman,dari Ki Buyut Manguneng.
Kamis, 10 Januari 2019
Kajian Wredhatama 80-84
Kajian Wedatama (80): Aywa Samar Aliru Wujud
Bait ke-80, Pupuh Gambuh Lanjutan, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV:
Putih lan kuningipun,
lamun arsa titah tekan mangsul.
Dene nora mantra mantra yen ing lair, bisa aliru wujud.
Kadadeyane ing kono.
Terjemahan dalam bahasa Indonesia:
Bagian putih dan kuningnya (telur),
kalau akan menetas menjadi terbalik.
Sungguh tidak ada tanda-tanda, (sungguh tak disangka-sangka) kalau waktu lahir, bisa berganti wujud.
(Perhatikanlah) kejadiannya seperti itu.
Kajian per kata:
Putih (bagian putih) lan (dan) kuningipun (kuningnya), lamun (kalau) arsa (akan) titah (menetas) tekan (sampai) mangsul (berbalik). Bagian putih dan kuningnya (telur) kalau akan menetas menjadi terbalik.
Bait ini menyoroti fenomena menetasnya telur ayam. Sebelum dierami induknya telur adalah bahan makanan yang lezat dan kaya gizi. Ada bagian kuning di tengah yang di selimuti bagian putih. Setelah dierami induk ayam telur menjadi semakin buram, memerah karena ada sirkulasi darah dalam serabut pembuluh yang muncul. Lama kelamaan pembuluh itu membesar dan muncul tampungan agak besar, itulah jantung ayam.
Setelah jantung terbentuklah bakal kepala, sebuah bulatan samar tampak duluan, itulah yang akan menjadi mata. Otak terbentuk dalam tiga belahan dalam bentuk yang belum terlindung tulang tengkorak. Organ lain mulai terbentuk, paruh, sayap, kaki dan mulai keluar bulu-bulu halus. Pada tahap ini bagian putih telur yang berada di luar hampir habis, sedangkan bagian kuning teluar masih tampak besar. Inilah mungkin yang dimaksud penggubah serat Wedatama ini sebagai keadaan tekan mangsul, terbalik. Dari yang tadinya berada di dalam sekarang kelihatan di luar.
Dene (Sungguh) nora (tidak) mantra mantra (tanda-tanda, menyangka) yen (kalau) ing (pada waktu) lair (menetas), bisa (bisa) aliru (berganti) wujud (wujud). Sungguh tidak ada tanda-tanda, (sungguh tak disangka-sangka) kalau waktu lahir bisa berganti wujud.
Inilah yang pada bait ke-78, Widadaning Budi Sadu, disebut sebagai liru nggon. Pada bait ini ditegaskan maksudnya sebagai aliru wujud. Yakni bergantinya wujud yang satu menjadi wujud yang lain dalam waktu singkat, seolah bertukar tempat saja antara fenomena yang satu dengan yang lain (aliru nggon). Hal-hal sperti ini bisa membuat kita terkecoh jika belum memahami kenyataan yang sejati. Kami beberapa kali menyebut hal ini sebagai lompatan realitas. Mengapa kami sebut lompatan? Karena sesungguhnya ada ketidak runtutan peristiwa, seolah ada bagian proses panjang yang dihilangkan, dan tiba-tiba sesuatu memperoleh wujudnya yang baru.
Mari kita perhatikan kejadian menetasnya telur tadi. Sebelum dierami jika kita membelah telur itu hanya akan kita dapati segumpal kuning yang diselaputi cairan kental berwarna putih. Tidak ada tanda-tanda kehidupan di sana. Tetapi setelah dierami hanya dalam waktu 21 hari telur sudah menjadi seekor anak ayam yang bisa berlarian ke sana ke mari mencari makan sendiri. Sebuah makhluk hidup tingkat tinggi lahir dalam waktu singkat sekali. Bandingkan dengan proses tumbuhnya rumput di halaman. Sangat jauh kan? Ini tidak akan terjadi tanpa campur tangan Sang Pencipta yang memendekkan prosesnya. Oleh karena itu kami sebut sebagai lompatan realitas.
Kadadeyane (kejadiannya) ing (di) kono (situ). (Perhatikanlah) kejadiannya seperti itu.
Perhatikanlah kejadian seperti itu adalah tanda-tanda kekuasaan Allah. Orang jaman dahulu akan menganggap fenomena ajaib ini sebagai wilayah kekuasaan Tuhan semata. Ketika ilmu pengetahuan menyingkap rahasianya serta merta mereka menyingkirkan Tuhan dan berkata, “Oh Cuma gitu aja!”
Tetapi bagi seorang yang sudah terbuka baginya tabir Hijabullah, terbukanya rahasia alam adalah penegas keagungan Allah, Sang Pengatur alam sakalir.
Kajian Wedatama (81): Aja Kongsi Kabasturon
Bait ke-81, Pupuh Gambuh Lanjutan, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV:
Istingarah tan metu,
lawan istingarah tan lumebu,
dene ing njero wekasane dadi njawi. Rasakna kang tuwajuh,
Aja kongsi kabasturon
Terjemahan dalam bahasa Indonesia:
Dipastikan tak keluar,
dan dipastikan tak masuk,
adapun (kenyataanya) yang di dalam akhirnya menjadi di luar. Rasakan dengan seksama,
jangan sampai lalai.
Kajian per kata:
Istingarah (dipastikan) tan (tak) metu (keluar), lawan (dan) istingarah (dipastikan) tan (tak) lumebu (masuk), dene (adapun) ing (yang) njero (di dalam) wekasane (akhirnya) dadi (menjadi) njawi (di luar). Dipastikan tak keluar dan dipastikan tak masuk, adapun (kenyataanya) yang di dalam akhirnya menjadi di luar.
Masih tentang pengamatan terhadap proses menetasnya telur tadi. Semua sudah dipastikan bahwa kedua elemen, putih dan kuning tadi terpisah letaknya, dengan posisi masing-masing. Sekilas tampak mustahil keduanya akan tertukar, tetapi kemudian ternyata bertukar tempat dengan sendirinya. Ini pertanda dalam terjadinya anak ayam yang berproses amat singkat, terdapat campur tangan Tuhan di dalamnya.
Fenomena alam seperti ini banyak terjadi, dan memerlukan pengamatan yang mendalam. Demikian juga yang terjadi pada hukum-hukum sosial dan sejarah. Ada banyak golongan, maupun individu yang posisinya saling dipertukarkan. Yang tadinya berkuasa dan menguasai atas sebagian lain, kelak bisa saja berganti posisi sebagai yang tertindas. Yang semula menjadi warga pingggiran suatu saat dapat berkuasa.
Walau dilihat sepintas seperti tak masuk akal, hukum-hukum sejarah juga berlaku atas umat manusia. Pergantian peran dan posisi senantiasa mewarnai pergerakan politik, ekonomi dan sosial. Telah banyak bangsa-bangsa kuat menjadi runtuh dan digantikan oleh kekuatan yang muncul tiba-tiba. Majapahit jatuh digantikan Demak yang tadinya belum ada. Demak surut diganti Pajang yang semula wilayah bawahan. Ketika Pajang telah menemui masa-nya, Mataram yang tadinya hanyalah tanah hadiah menyeruak ke panggung kekuasaan.
Rasakna (rasakan) kang (yang) tuwajuh (seksama, sungguh-sungguh), aja (jangan) kongsi (sampai) kobasturon (alpa, lalai). Rasakan dengan seksama, jangan sampai lalai.
Itulah sunatullah, hukum alam yang berlaku tetap sepanjang masa. Bagi orang-orang yang telah mengetahui wekasing dumados, hal tersebut tidak menjadi sebab dari kelalaian atas hukum-hukum Tuhan yang berlaku di alam. Malah dengan pengamatan yang seksama mereka dapat menyesuaikan diri dan mengambil sikap yang tepat, tidak kentir ing obyaking swasana.
Kita cukupkan kajian bait ini. Kelak apa yang telah kita pelajari selama ini akan kita pakai untuk bekal berbuat yang lebih bagi kemanusiaan, atau memayu hayuning bawana.
Kajian Wedatama (82): Kajantaka Tumekeng Saumur
Bait ke-82, Pupuh Gambuh Lanjutan, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV:
Karana yen kebanjur,
kajantaka tumekeng saumur.
Tanpa tuwas yen tiwasa ing dumadi. Dadi wong ina tan weruh.
Dheweke den anggep dhayoh.
Terjemahan dalam bahasa Indonesia:
Karena kalau sudah terlanjur,
akan sengsara sampai di akhir usia.
Tanpa pahala kalau kelak sudah mati sebagai sifat dari semua makhluk. Menjadi orang hina yang tak tahu.
Dirinya dianggap tamu.
Kajian per kata:
Karana (karena) yen (kalau) kebanjur (telanjur), kajantaka (akan sengsara) tumekeng (sampai) saumur (akhir hayat). Karena kalau sudah terlanjur, akan sengsara sampai di akhir usia.
Kabanjur yang dimaksud adalah lalai dalam mengamati tanda-tanda alam, seperti yang telah diuraikan dalam bait ke-81, Aja Kongsi Kabasturon. Jika lalai dalam mengamati tanda-tanda alam akan menjadi orang yang sengsara sampai akhir hayat. Akan menjadi orang yang tidak tanggap terhadap tanda-tanda jaman, tidak akan mendapat hikmat dari setiap kejadian. Akibatnya dia gagal memahami Sang Pencipta. Kesengsaraan apa lagi yang lebih dahsyat dari itu?
Tanpa (tanpa) tuwas (pahala, buah) yen (kalau) tiwasa (mati) ing (ketika) dumadi (makhluk). Tanpa pahala kalau kelak sudah mati sebagai sifat dari semua makhluk.
Tuwas menurut kamus Jawa Poerwadarminta berarti bêbungah minangka wohing kangelan, pahala sebagai buah dari jerih payah melakukan suatu perbuatan. Jadi orang yang tidak memahami atau lalai dari ayat-ayat Allah di alam laksana orang yang gabug (kosong) amalnya. Kelak di akhirat dia akan mendapati semua jerih payahnya sia-sia.
Sama halnya dengan orang-orang yang mengingkari ayat Allah yang berupa wahyu (al Quran) akan menjadi kafir dan tertolak amalnya, orang yang lalai dari ayat Allah di alam akan mendapati dirinya dalam kerugian karena amalnya kosong.
Dadi (menjadi) wong (orang) ina (hina) tan (tak) weruh (tahu). Menjadi orang hina yang tak tahu.
Dia menjadi orang yang tak tahu apa-apa, bingung dengan apa yang dilihat. Bertanya-tanya mengapa menjadi begini? Mengapa menjadi begitu? Dia menjadi asing karena apa yang diyakininya dahulu tenyata berbeda dengan kenyataan yang dihadapi kini.
Dheweke (dirinya) den (di) anggep (anggap) dhayoh (tamu). Dirinya dianggap tamu.
Karena terasing dengan alam akhirat itulah, dia merasa menjadi seperti tamu. Kematian yang seharusnya berarti pulang ke rumah sejati yang dirindukannya, tempat dia akan merasa damai selamanya, tempat yang selalu diimpikan selama pengembaraannya di dunia ini, tetapi yang didapati adalah tempat yang asing. Sungguh dia telah berada dalam kerugian yang nyata. Wallahu a’lam.
Bait ini adalah akhir dari Pupuh Gambuh Lanjutan, selanjutnya akan masuk ke Pupuh Kinanthi yang merupakan pupuh terakhir dari serat Wedatama.
PUPUH KINANTHI
Kajian Wedatama (83): Awas Eling, Pangreksaning Urip
Bait ke-83, Pupuh Kinanthi, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV:
Mangka kanthining tumuwuh, salami mung awas eling. Eling lukitaning alam,
dadi wiryaning dumadi. Supadi nir ing sangsaya,
Yeku pangreksaning urip,
Terjemahan dalam bahasa Indonesia:
Padahal yang harus selalu menyertai orang hidup, selamanya hanya waspada dan ingat.
Ingat ketetapan hukum alam,
agar menjadi makhluk yang luhur.
Supaya terbebas dari kesengsaraan, itulah penjagaan hidup (diri).
Kajian per kata:
Mangka (padahal) kanthining (yang harus selalu menyertai) tumuwuh (orang hidup), salami (selamanya) mung (hanya) awas (waspada) eling (ingat). Padahal yang harus selalu menyertai orang hidup, selamanya hanya waspada dan ingat.
Bait ini merupakan kelanjutan dari bait sebelumnya yang menyoroti orang yang lalai terhadap hukum alam. Mereka akan menderita kesengsaraan di dunia dan akhirat karena tak mampu membaca pergantian wujud dari satu keadaan kepada keadaan yang lain.
Bait ini menguraikan agar jangan sampai lalai dalam memahami hukum alam. Karena sesuatu yang harus selalu menyertai orang yang hidup di dunia ini, sejak dahulu sampai nanti hanya waspada dan ingat. Jika seseorang tidak meninggalkan dua hal itu berkaitan dengan mobah mosiking kahanan, maka akan mampu bersikap yang tepat, sikap yang akan menyelamatkannya dari fitnah dunia.
Eling (ingat) lukitaning (tegaknya, teguhnya) alam (hukum alam), dadi (menjadi) wiryaning (luhur) dumadi (makhluk). Ingat ketetapan hukum alam, agar menjadi makhluk yang luhur.
Hendaknya selalu mengingat tegaknya hukum alam yang berlakunya pasti kepada setiap makhluk. Sudah menjadi ketentuan Allah jika seseorang yang memegang kekuasaan akan cenderung korup, ini kecenderungan watak manusia yang sudah menjadi sunatullah.
Orang yang tak mempercayai hukum moral ini akan lalai dari menjaga diri, terlena oleh kemewahan dan hak istimewa yang diperoleh selama memegang kekuasaan. Akhirnya tergoda untuk mengumpulkan harta benda dengan cara tercela.
Lain lagi bagi orang yang sudah mengetahui sifat-sifat manusia manakala menggenggam kekuasaan. Dia sadar bahwa kuasa dan angkara cenderung menyatu dalam satu jiwa, maka dia waspada. Siang malam mengingat itu dan mempertebal keimanan agar tak tergoda. Di akhir kuasa dia selamat, dia berhasil menahan diri dari sikap melampaui batas dan memperturutkan nafsu. Itulah keluhuran (wirya) yang dimaksud dalam gatra ini
Supadi (supaya) nir (bebas) ing (dari) sangsaya (sengsara), yeku (itulah) pangreksaning (penjagaan) urip (hidup). Supaya terbebas dari kesengsaraan, itulah penjagaan hidup (diri).
Orang yang waspada dan ingat tadi akan selalu berupaya untuk bebas dari kesengsaraan akibat lalainya dia akan berlakunya hukum alam. Maka dia berupaya keras agar terhindar dari itu semua. Itulah yang namanya penjagaan diri, agar hidupnya terjaga sampai kelak di akhir hayat. Sesudah selesai masanya di dunia dia akan memperoleh pituwas yang pantas, buah dari jerih payahnya melawan nafsu angkara.
Kajian Wedatama (84): Bengkas Kahardaning Driya
Bait ke-84, Pupuh Kinanthi, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV:
Marma den taberi kulup, angulah lantiping ati.
Rina wengi den anedya, pandak panduking pambudi. Bengkas kahardaning driya, supaya dadya utami.
Terjemahan dalam bahasa Indonesia:
Oleh karena itu, anakku,
berlatihlah menajamkan perasaan.
Siang dan malam berusahalah,
tetap tertuju pada olah pemuliaan diri. Menghancurkan hasrat angkara di dalam hati, agar menjadi (manusia) utama.
Kajian per kata:
Marma (oleh karena itu) den taberi (rajinlah) kulub (anankku), angulah (berlatih) lantiping (menajamkan) ati (hati, perasaan). Oleh karena itu, anakku, berlatihlah menajamkan perasaan.
Sesudah kita tahu bahwa hanya awas dan eling yang membuat kita selamat di dunia sampai akhir hayat, maka hendaknya kita rajin (taberi) mengolah ketajaman rasa. Agar segala tanda- tanda atau sasmitaning alam dapat kita tangkap dengan mata batin yang jernih, melok sehingga dapat kita puluk dengan haqul yakin. Melok artinya kelihatan cetha wela-wela, tampak jelas sekali. Puluk artinya dapat kita genggam dengan seyakin-yakinnya, laksana gumpalan nasi di piring waktu kita makan dengan tangan.
Rina (siang) wengi (malam) den anedya (berusahalah), pandak (tetap) panduking (tertuju) pambudi (meningkatkan budi, pemuliaan diri). Siang dan malam berusahalah tetap tertuju pada olah pemuliaan diri.
Agar kita mencapai penglihatan yang awas tadi, kita mesti berusaha keras dengan memantapkan kehendak (anedya), segala asa mesti tetap tertuju pada pemuliaan akal budi. Atau dalam istilah yang keren, memasah mingising budi. Mingis-mingis adalah kondisi senjata yang amat tajam, berkilauan ujungnya tanda baru saja diasah. Inilah keadaan yang mesti menjadi tujuan kita setiap saat, hati yang setajam....silet!
Bengkas (menghancurkan) kahardaning (hasrat angkara) driya (dalam hati), supaya (agar) dadya (menjadi) utami (utama). Menghancurkan hasrat angkara di dalam hati, agar menjadi (manusia) utama.
Mengapa hati kita harus tajam? Karena diperlukan untuk membedah hasrat angkara (kahardaning driya) yang bersemayam dalam hati. Seperti yang telah kami sampaikan dalam bait yang lalu, bahwa orang yang mampu mencapai derajat keluhuran hanyalah orang yang selalu awas dan eling.
Kata awas di sini lebih banyak justru ditujukan pada diri sendiri, kepada hasrat yang melebihi takaran yang tertanam dalam di hati. Harda adalah hasrat yang meluap-luap untuk segera disalurkan, dan ini berlebihan. Jika kita sedikit saja lalai dan memberi angin segar, harda bangkit menjadi angkara gung dan menguasai nurani, sebelum akhirnya membelenggu tangan dan kaki, serta mengarahkannya ke tindak tercela.
Oleh karena itu ketajaman hati diperlukan agar dapat menghancurkan hasrat rendah di dalam diri, supaya hidup kita menjadi utama. Selama hayat masih dikandung badan, tak ada orang yang terbebas dari nafsu angkara, karena memang itu piranti hidup yang sangat vital. Tanpa itu kita pun tak dapat hidup, namun kita hanya memerlukan dalam kadar secukupnya, seperti kadar api di dapur sebagai alat memasak. Kita tak memerlukan api sebesar tobong, kalau hanya untuk memasak, seperti halnya kita tak memerlukan nafsu sebesar gunung hanya untuk tetap hidup sehat di dunia ini. Kuncinya adalah jangan melampaui batas.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar