Gunungtugel peristiwa sebuah awal peradaban lama,yang telah mengawali peradaban baru sebagai pondasi awal terwujadnya ri Bhumi Mataram.Hal yang demikian diperoleh dari winarah para Sepuh dari jaman ke jaman.Diantaranya winarah yang diperoleh mbah Datrim dari mbah Datuk Kahfi.winarah yang di maksut adalah latar belakang Gunungtugel.Demikian juga winarah dari mbah Bakri dari eyang Muhsin.Eyang Muhsin dari Syeh Abdurahman,dari Ki Buyut Manguneng.
Kamis, 10 Januari 2019
Kajian Wredatama 65-69
Kajian Wedatama (65): Jagad Agung Ginulung Jagad Alit
Bait ke-65, Pupuh Gambuh, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV:
Ruktine ngangkah ngukut,
ngiket ngruket triloka kakukut. Jagad agung ginulung lan jagad alit. Den kandel kumandel kulup,
mring kelaping alam kono.
Terjemahan dalam bahasa Indonesia:
Merawatnya dengan berusaha menguasai, mengikat, merangkul, tiga jagad dikuasai. Jagad besar digulung oleh jagad kecil. Perkuatlah keyakinanmu anakku, terhadap gemerlapnya alam itu.
Kajian per kata:
Ruktine (merawatnya) ngangkah (menjangkau) ngukut (mengemasi, menguasai), ngiket (mengikat) ngruket (memeluk) triloka (tiga jagad) kakukut (dikemas, dikuasai). Merawatnya dengan berusaha menguasai, mengikat, merangkul, tiga jagad dikuasai.
Sembah Jiwa adalah perjalanan terakhir (pepuntoning laku), maka hendaklah benar-benar dirawat pencapaian ini dengan tuntas. Cara merawatnya dengan menjangkau sampai betul- betul dikuasai tiga jagad (triloka), yakni alam material, alam mental dan alam ruh.
Tiga alam tersebut dikemas dan diikat dalam sanubari dengan cara yang sudah kami sampaikan dalam bait terdahulu. Alam material dikuasai dengan mengerjakan syari’at secara lahir, alam mental dikuasai dengan menahan hawa nafsu dan alam ruh dikuasai dengan selalu awas dan ingat (dzikir).
Apabila semua itu telah dilakukan menurut laku masing-masing, yakni sembah raga, sembah kalbu dan sembah jiwa, maka tiga alam tadi (triloka) sudah diikat dan dikemas dalam genggaman. Jika sudah demikian maka diri menguasai segala sesuatu.
Jagad (jagad) agung (besar) ginulung (digulung, dikemas, dikuasai) lan (oleh) jagad (jagad) alit (kecil). Jagad besar digulung oleh jagad kecil.
Jagad besar adalah makrokosmos, alam raya seluruhnya. Jagad kecil adalah mikrokosmos, diri manusia. Dua istilah ini sering dipakai dalam kazanah sufisme. Mereka sering memperbandingkan jagad besar sebagai ciptaan Allah dan Allahlah penguasanya, dengan jagad kecil dalam diri manusia, tempat diri manusia berkuasa. Perbandingan ini memberikan tamsil, bahwa sebagaimana Allah berkuasa terhadap makrokosmos, maka hendaklah manusia juga berkuasa atas mikrokosmos.
Berkuasa atas mikrokosmos mengandung pengertian manusia mampu menundukkan apapun gejolak yang ada dalam diri manusia. Hasrat, keinginan, nafsu dan angan-angan hendaklah ditundukkan dan diatur agar harmonis sebagaimana harmonisnya makrokosmos. Ini tentu sangat berat jika kita tak berlatih untuk mengendalikan diri. Hanya orang-orang yang sudah paripurna dalam laku yang dapat menguasai mikrokosmos. Itulah yang disebut insan kamil.
Seorang yang sudah mencapai derajat insan kamil akan mengetahui rahasia penciptaan melalui renungan terhadap mikrokosmos tersebut. Inilah yang dimaksud dalam sabda Nabi, “Barang siapa mengenal dirinya, maka dia mengenal Tuhannya.”
Insan kamil adalah penguasa terhadap dirinya sendiri. Dia bertindak atas dirinya sebagaimana Allah bertindak atas alam raya (makrokosmos). Di sini orang yang mampu mengendalikan mikrokosmos akan memahami pula rahasia dari sistem yang berlaku pada makrokosmos. Inilah yang dimaksud dalam gatra ini, jagad agung ginulung lan jagad alit.
Den (di) kandel (tebal, maksudnya: perkuatlah) kumandel (keyakinan diri) kulup (nak), mring (terhadap) kelaping (gemerlapnya) alam (alam) kono (di situ). Perkuatlah keyakinanmu anakku, terhadap gemerlapnya alam itu.
Namun hendaklah diwaspadai, perkuatlah, perkokohlah mental spriritual kita agar kuat dan kokoh dalam menghadapi gemerlapnya alam itu. Ini merujuk pada seringnya orang terpeleset karena ketakjuban. Banyak pelaku sufisme yang mengalami hal seperti ini sehingga menjadi mabuk dan ekstatik, trance. Al Hallaj adalah contoh besar dalam hal ini. Di Jawa ada juga, Syeikh Siti Jenar. Mereka berdua silau oleh keindahan Yang Maha Kuasa sehingga tanpa sadar, karena telah menguasai mikrokosmos mengira menguasai makrokosmos dalam pengertian yang sebenarnya sehingga berteriak, “Akulah Tuhan!”
Maka berhati-hatilah!
Kajian Wedatama (66): Kanyut Ing Kanyatan
Bait ke-66, Pupuh Gambuh, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV:
Keleme mawi limut.
Kalamatan jroning alam kanyut. Sanyatane iku kanyatan kaki. Sejatine yen tan emut,
sayekti tan bisa amor.
Terjemahan dalam bahasa Indonesia:
Tenggelam oleh suasana gelap.
Mendapat firasat di dalam alam yang menghanyutkan itu. Sebenarnya itu kenyataan, anakku.
Sebenarnya kalau tidak ingat,
benar-benar tak bisa berecampur.
Kajian per kata:
Keleme (tenggelamnya) mawi (oleh, dengan) limut (gelap). Tenggelam oleh suasana gelap.
Orang yang sudah masuk dalam jagad alit akan tenggelam dalam suasana gelap, hening dan sangat pribadi. Meski dia berada di keramaian, hal itu takkan mengganggu kesendiriannya bersama Tuhan. Saluran komunikasi telah terbuka, khusus antara hamba dan Gusti Allah. Tak perlu melibatkan siapa-siapa dalam hal ini.
Segala aturan di alam fisik tak lagi menjadi kriteria di sini. Karena seorangpun jika sudah menghadap Tuhan maka dia harus meninggalkan segala urusan. Menjadikan hubungan personalnya dengan Gusti Allah sebagai prioritas, mengalahkan yang lain. Ini bukan berarti kemudian melahirkan sikap abai terhadap dunia, justru kini dia lebih peduli dengan keselamatan dunia seisinya. Karena dirinya telah menjadi pelayan Tuhan di dalam memayu hayuning bawana.
Kalamatan (mendapat alamat, firasat) jroning (dalam) alam (alam) kanyut (yang menghanyutkan). Mendapat firasat di dalam alam yang menghanyutkan itu.
Itulah alam kanyut, alam yang menghanyutkan. Batas antara alam fisik dan ruh. Sayup-sayup terdengar bisikan dari alam sana, namun di satu sisi masih terkait dengan alam sini. Kesadaran seolah-olah hanyut ke dalam alam itu, seolah seperti mimpi. Kenyataan menjadi terang benderang dalam sekejap, sebelum kemudian menghilang. Itulah yang disebut ngalamat, atau pesan kebenaran yang sesaat datang sebelum terjadinya sebuah kenyataan. Ngalamat ini dapat muncul karena di batas dua alam tersebut jiwa menjadi hening, mengendap sari-patinya, maka munculah sinar terangnya. Pada saat ini pandangan mata batin menjadi sangat tajam.
Analogi dari kejadian ini dapat kita temui pada waktu kita masuk dalam ruang gelap, (betul- betul gelap secara fisik, bukan kiasan). Saat pertama masuk ke dalam kegelapan mendadak mata kita tak mampu melihat sesuatu pun. Lambat laun mata mulai menyesuaikan. Sedikit demi sedikit mata dapat menangkap cahaya remang-remang, sampai puncaknya mata kita menjadi peka dalam membedakan gradasi kehitaman. Secara samar-samar kita mulai dapat mengenali benda-benda sekitar walau hanya ada sedikit cahaya. Mata kita menjadi sangat peka.
Kira-kira seperti itulah kerja mata batin kita dalam kegelapan realitas. Namun awas dalam gelap mata batin bisa menjadi awas dan peka, tetapi rasa kantuk sering lebih dahulu menyerang. Maka janganlah kita sampai hanyut (kanyut).
Sanyatane (sebenarnya) iku (itu) kanyatan (kenyataan) kaki (nak). Sebenarnya itu kenyataan, anakku.
Sebenarnya ngalamat yang datang secara sporadis dan sekejap tadi adalah kenyataan yang sebenarnya. Namun karena mata batin kita rabun oleh pekatnya nafsu, kenyataan menjadi tampak samar-samar, bahkan gelap. Maka hendaklah kita mengasah ketajaman hati melalui sembah jiwa agar mata batin kita awas.
Sejatine (sebenarnya) yen (kalau) tan (tidak) emut (ingat), sayekti (benar-benar) tan (tak) bisa (bisa) amor (bercampur). Sebenarnya kalau tidak ingat, benar-benar tak bisa bercampur (ke alam itu).
Kita kembali ke konsep dzikir sebagai cara untuk masuk (amor) ke alam ruh. Dzikir adalah mengingat kembali persaksian primordial kita di alam pra-kreasi. Dzikir adalah mengingat fitrah kita sebagai makhluk yang tunduk dan patuh terhadap Sang Pencipta. Maka jika kita tak mampu untuk melakukan dzikir tersebut kita takkan mampu berbaur dengan ritme kehidupan di alam itu.
Hasil dari dzikir adalah emut (ingat) tentang siapa diri kita sebenarnya. Emut adalah kesadaran paripurna dari sembah jiwa.
Kajian Wedatama (67): Katone Sang Dhiri
Bait ke-67, Pupuh Gambuh, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV:
Pamete saka luyut.
Sarwa sareh saliring panganyut. Lamun yitna kayitnan kang miyatani. Tarlen mung pribadinipun,
kang katon tinonton kono.
Terjemahan dalam bahasa Indonesia:
Sarananya dari luyut (batas lahir dan batin).
Serba sabar dalam mengikuti alam yang menghanyutkan. Asal waspada dengan kewaspadaan yang andal.
Itu tak lain hanya pribadinya,
Yang tampak terlihat di situ.
Kajian per kata:
Pamete (sarananya) saka (dari) luyut (batas lahir dan batin). Sarananya dari luyut (batas lahir dan batin).
Sembah jiwa membuat kita mampu menjangkau sampai batas kesadaran di alam ruh. Kita hampir menapak ke alam sana, sementara kita masih tetap berada di alam sini. Di tapal batas dua alam ini kita mengalami resonansi kenyataan yang disebut ngalamat. Ngalamat memberi kita potongan-potongan kebenaran dari alam sana yang sebenarnya walau tersembunyi adalah kenyataan yang sejati.
Sarwa (serba) sareh (sabar) saliring (semua hal) panganyut (yang menghanyutkan). Serba sabar dalam mengikuti alam yang menghanyutkan.
Hendaknya kita sabar dalam mengikuti alam kanyut tersebut. Karena di sanalah kebenaran sejati, kenyataan yang sebenarnya, berada. Semakin sering kita berdzikir kita akan mencapai keadaan emut, yakni terbukanya kenyataan primordial atau fitrah kita sebagai hamba Allah.
Lamun (asal, jika) yitna (waspada) kayitnan (kewaspadaan) kang (yang) miyatani (mitayani, diandalkan). Asal waspada dengan kewaspadaan yang andal.
Apabila kita selalu waspada menjaga keadaan ini secara terus menerus dengan kewaspadaan yang andal, bersungguh-sungguh dalam dzikir, Insya Allah kita akan menemukan kebenaran sejati.
Tarlen (tak lain) mung (hanya) pribadinipun (pribadinya), kang (yang) katon (tampak) tinonton (terlihat) kono (di situ). Itu tak lain hanya pribadinya,yang tampak terlihat di situ.
Puncak dari pencapaian sembah jiwa melalui apa yang disebut dzikir, mengingat fitrah kita, menelusuri kesejatian, adalah menemukan diri sendiri. Ini selaras dengan sabda Nabi, “Barangsiapa mengenal dirinya maka ia mengenal Tuhannya.”
Dalam kazanah budaya Jawa ada kisah pewayangan tentang pencarian diri ini, yakni dalam cerita Bima Suci. Dalam cerita ini Bima dikisahkan mencari tirta amreta atau air keabadian. Oleh sang guru Begawan Drona Bima disuruh mencari di dasar samudera. Karena patuh dan percaya pada sang guru Bima tidak berpikir panjang, dia menceburkan diri ke dalam lautan. Dia hanyut dalam pusaran air di kegelapan samudera.
Di dalam keadaan antara hidup dan mati, di batas dua alam inilah Bima justru menemukan kebenaran sejati. Dalam cerita itu dia ditemui sosok yang disebut Dewa Ruci, personifikasi Dewa Ruci adalah sosok yang mirip dengan Bima tetapi kecil, oleh karena sering disebut Bima Kunthing. Yang sesungguhnya Dewa Ruci adalah diri Bima sendiri dalam pencapaian puncak kesadaran manusiawi. Dewa Ruci adalah saripati dari Bima sendiri yang muncul dalam keadaan kepasrahan total kepada Sang Penguasa Jagad Raya.
Kajian Wedatama (68): Urub Pangareping Budi
Bait ke-68, Pupuh Gambuh, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV:
Ning aywa salah surup,
kono ana sajatining urub.
Yeku urub pangarep uriping budi. Sumirat sirat narawung,
kadya kartika katonton.
Terjemahan dalam bahasa Indonesia:
Tetapi jangan salah terima,
di situ ada cahaya sejati.
Ialah cahaya yang memimpin hidupnya sanubari. Bercahaya memancar benderang,
bagaikan bintang nampaknya.
Kajian per kata:
Ning (tetapi) aywa (jangan) salah surup (salah terima), kono (di situ) ana (ada) sajatinig (sejatinya) urub (cahaya). Tetapi jangan salah terima, di situ ada cahaya sejati.
Pembahasan bait ini masih tentang alam kanyut, yang sebenarnya adalah alam tempat bertemunya dua alam, alam materi dan alam ruh. Filosof muslim Ibnu ‘Arabi secara metafora menyebut alam ini sebagai alam imajinal atau barzakh atau alam antara. Sebagaimana alam barzakh yang sering kita dengar adalah alam antara dunia dan akhirat, barzakh yang dimaksud Ibnu Arabi adalah alam antara materi dan ruh. Sifat alam imajinal ini merupakan campuran keduanya, kadang masih bercampur sifat materinya, kadang bersifat ruhaniah.
Walau demikian kedudukan alam ini adalah lebih tinggi dari alam material, hanya saja perlu sebuah upaya yang sungguh-sungguh agar tidak terpeleset ketika masuk ke wilayah ini. Yakni harus selalu menjaga agar tetap dalam keadaan emut, ingat akan posisi kita di dalam konstelasi wujud sebagai hamba Allah. Sebuah pengakuan yang dahulu pernah kita ucapkan dalam alam pra-kreasi.
Jika keadaan emut tersebut tak tercapai atau kadang hilang kita bisa tergelincir karena alam ini sangat mudah menghanyutkan, oleh karena disebut alam kanyut. Contoh ketergelinciran adalah apa yang dilakukan Al Hallaj dan Syeikh Siti Jenar, dalam riwayat-riwayat yang sudah sering kita dengar.
Maka keadaan emut tadi harus senantiasa kita upayakan dengan sungguh-sungguh, agar kita tidak hanyut dan kemudian meracau tak karuan seperti para mistikus yang trance yang mengira cahaya diri sebagai sifat ketuhanan, sehingga terlontar ucapan: “Ana Al Haqq!”
Yeku (yaitu) urub (cahaya) pangarep (pemimpin, penuntun) uriping (hidupnya) budi (sanubari, akal budi). Ialah cahaya yang memimpin hidupnya sanubari.
Pangarep berarti yang didepan, ini berarti cahaya yang kita lihat seharusnya kita sikapi sebagai pertolongan Allah yang membuat jalan menjadi terang. Hendaknya kita selalu emut dengan posisi kita tadi sebagai hamba Allah, maka cahaya apapun yang kita lihat dapat menjadi pangarep, penuntun dalam melangkah ke depan.
Sumirat (bercahaya) sirat (memancar) narawung (benderang), kadya (bagaikan) kartika (bintang) katonton (nampaknya, terlihat). Bercahaya memancar benderang, bagaikan bintang nampaknya.
Urub (cahaya) tadi apabila kita mampu menempatkan dengan benar akan menjadi penerang hidup kita, membawa kita dari kegelapan menuju terang, sehingga laku kita menjadi semakin mudah, tujuan kita menjadi jelas karena jalan yang ditempuh menjadi terang benderang.
Sumirat-sirat berarti cahaya yang memancar-mancar, sebagai pertanda keadaan terang benderang. Secara metafora ini adalah keadaan ketika manusia tidak lagi bingung dalam membedakan antara yang haq dan batil. Sehingga menjadi jelas, tanpa perlu bujukan, perintah dan ancaman lagi, ke mana kaki harus melangkah.
Ini adalah rahasia terdalam dari pengamalan syariat. Ketika di tingkat syariat kita memerlukan motivasi dalam berbuat,yang berupa pahala surga dan daya dorong yang berupa ancaman siksa neraka. Namun ketika kita sudah mengenali yang haq secara hakiki segala pahala dan siksa kehilangan makna. Yang tersisa adalah ketertundukan yang sukarela, ikhlas dan tanpa pamrih.
Kajian Wedatama (69): Kang Wengku-Winengku
Bait ke-69, Pupuh Gambuh, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV:
Yeku wenganing kalbu.
Kabukane kang wengku winengku. Wewengkone wis kawengku neng sireki, Ning sira uga kawengku,
Mring kang pindha kartika byor.
Terjemahan dalam bahasa Indonesia:
Itulah terbukanya hati,
Terbukalah yang kuasa dan dikuasai, Daerahnya sudah kau kuasai,
Tetapi kau juga dikuasai,
Oleh cahaya yang seperti bintang gemerlap.
Kajian per kata:
Yeku (yaitu) wenganing (terbukanya) kalbu (hati). Itulah terbukanya hati.
Apabila di dalam luyut, yakni batas antara lahir dan batin yang juga disebut sebagai alam kanyut tadi, kita sudah mampu melihat cahaya memancar (sumirat) sebagai petunjuk jalan, maka artinya sudah terbuka hati kita untuk menerima kebenaran sejati.
Terbukanya hati memunculkan kesadaran baru bahwa antara hanya ada SATU WUJUD di alam semesta ini, ialah Wujud Tuhan Sang Pencipta. Ini bukan sebuah kemenyatuan atau manunggaling kawula-Gusti, tetapi sebuah kenyataan bahwa wujud kita berasal dari-Nya, bukan dari sesuatu yang lain. Kita adalah manifestasinya di alam materi ini.
Hendaklah berhati-hati dalam memahami persoalan ini. Banyak orang terjebak pada doktrin pantheisme akibat salah paham tentang kesatuan wujud Tuhan-manusia. Pada saatnya nanti kami akan menjelaskan ini secara lebih detail.
Kabukane (terbukanya) kang (yang) wengku (kuasa) winengku (yang dikuasai). Terbukanya yang kuasa dan dikuasai.
Sesudah kita sampai di batas alam (luyut) dan menguasai makna di dalamnya, maka diri kita pun dibuat takjub oleh sinar kebenaran yang memancar. Keagungan Tuhan di alam itu benar- benar menguasai diri kita, sehingga kita tak mampu memalingkan muka karena ketakjuban.
Wewengkone (wilayahnya) wis (sudah) kawengku (dikuasai) neng (oleh) sireki (engkau), ning (tetapi) sira (engkau) uga (juga) kawengku (dikuasai), mring (oleh) kang (yang) pindha (seperti) kartika (bintang) byor (gemerlap). Daerahnya sudah kau kuasai, tetapi kau juga dikuasai, oleh cahaya yang seperti bintang gemerlap.
Meski kita mampu menjangkau alam kanyut dan menguasainya, namun kita juga dikuasai oleh pesona keindahan cahayanya yang menakjubkan. Kita tak mampu beranjak lama-lama dari situ. Hati kita senantiasa kemanthil-kanthil, terbayang-bayang untuk kembali lagi ke sana.
Di awal serat Wedatama ini, dalam Pupuh sinom, disebutkan tentang laku Panembahan Senopati yang kayungyun eningingtyas. Kata kayungyun sering dipakai untuk menyebut orang yang sedang dimabuk asmara, siang malam merindukan kekasih hati, selalu ingin jumpa. Frasa kayungyun eningingtyas menggambarkan keadaan seorang yang selalu rindu untuk menyepi, melakukan komunikasi dengan Tuhan. Keadaan seperti inilah yang dimaksud dalam bait ini.
Orang yang telah menyaksikan cahaya Ilahi ini akan senantiasa kecanduan untuk berlama- lama menikmatinya. Jika pun dia kembali ke alam materi hatinya selalu terpaut di sini. Membuat dia tak sabar untuk meluangkan waktu agar dapat kembali. Mungkin hal inilah yang dialami Panembahan Senopati sehingga beliau selalu, di sela-sela kesibukannya sebagai Raja Mataram, meluangkan waktu untuk menyepi. Beliau seolah-olah kecanduan dan dikuasai oleh sesuatu yang begitu indah sehingga sulit untuk ditinggalkan. Kata kayungyun sangat tepat untuk menggambarkan keadaan itu.
Bait ini adalah akhir dari pembahasan tentang sembah jiwa. Laku-nya adalah awas dan eling, mengingat fitrah kesejatian kita sebagai hamba Allah. Outputnya adalah kesadaran wujudiyah, bahwa hanya Wujud Allah-lah yang ada.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar