Minggu, 17 Februari 2019

SAKA

Saka Untuk kegunaan lain dari Saka, lihat Saka. Skithia dan Parthia kira-kira tahun 170 SM sebelum Yuezhi menyerang Baktria. Saka atau Saca (bahasa Persia: lama Sakā, modern ساکا; bahasa Sanskerta: Śaka; Yunani: Σάκαι, Sákai; bahasa Latin: Sacae; (Tionghoa), lama *Sək, modern Sāi)[a] adalah istilah yang digunakan di sumber-sumber Persia dan Sanskerta untuk menyebut bangsa Skithia yaitu masyarakat Iran Timur nomaden di Stepa Erasia. Ilmuwan modern umumnya menggunakan istilah Saka untuk menyebut masyarakat Iran di Stepa Timur dan Cekungan Tarim. René Grousset menyebutkan bahwa mereka merupakan cabang dari "rumpun Skithia-Sarmatia" yang berasal dari masyarakat Iran di stepa bagian barat laut Erasia. Di Cekungan Tarim dan Gurun Taklamakan, orang Saka mendirikan daerah Khotan dan Kashgar termasuk Kerajaan Khotan yang menjadi vasal China pada masa Dinasti Han dan Dinasti Tang. Perhiasasn emas Saka dari Baktria, Tillia tepe, Afghanistan bagian utara. Perdebatan modern mengenai identitas "Saka" muncul sebagian karena penggunaan kata tersebut secara ambigu oleh sumber-sumber non-Saka. Menurut Herodotus, orang Persia menyebut "Saka" untuk semua bangsa Skithia. Plinius (Gaius Plinius Secundus, 23–79) menyebutkan bahwa orang Persia hanya memberikan nama "Sakai" untuk suku-suku Skithia "yang paling dekat". Masyarakat Asyur pada masa Esarhaddon, mencatat penyerbuan melawan kelompok orang yang disebut Ashkuza atau Ishhuza dalam bahasa Akkad. Pengertian umum di antara para ilmuwan kini adalah bahwa bahasa dari orang Saka, sumber dari bahasa-bahasa Pamir di India Utara dan bahasa Khotan di Xinjiang, termasuk ke dalam bahasa-bahasa Skithia. Kelompok masyarakat lainnya yaitu Gimirrai, disebut di sumber Yunani Kuno sebagai orang Cimmeria, memiliki kaitan erat dengan orang Saka. Pada naskah kuno Ibrani, Ashkuz (Ashkenaz) disebut sebagai keturunan langsung dari Gimirri (Gomer). Orang Saka bagi orang Babilonia sama dengan Gimirrai. Kedua nama digunakan di Inskripsi Behistun yang dipahat tahun 515 SM atas perintah Raja Darius yang Agung. Orang-orang tersebut disebutkan bermukim di Kerajaan Urartu di Armenia. Shacusen di Provinsi Uti diberi nama dari mereka.) Inskripsi Behistun awalnya hanya menyebutkan Saka sekali untuk kemudian memisahkannya menjadi beberapa kelompok yaitu: Sakā tigraxaudā – "Saka bertopi runcing", Sakā haumavargā – dipahami sebagai "Saka peminum haoma" namun ada pula pendapat lain, Sakā paradraya – "Saka setelah laut", ditambahkan setelah penyerbuan Skithia Barat oleh Darius, utara Sungai Danube. Sakā para Sugdam – "Saka di luar Sugda (Sogdiana)", istilah lain yang ditemukan di dua inskripsi lain. Istilah yang digunakan oleh untuk menyebut orang-orang di perbatasan negaranya di arah berlawanan dari Kush (Ethiopia) akan berada di sebelah timur. Sakā paradraya adalah bangsa Skithia di barat (Skithia Eropa) atau Sarmatia. Sakā tigraxaudā dan Sakā haumavargā diyakini berada di sebelah timur Laut Kaspia. Sakā haumavargā dinilai sama dengan orang Amyrgia, orang Saka di dekat Baktria dan Sogdiana. Sakā haumavargā juga telah diajukan sebagai Sakā para Sugdam, sehingga Sakā haumavargā berada lebih jauh ke timur daripada Sakā tigraxaudā, kemungkinan di Pamir atau Xinjiang, walaupun kemungkinan mereka berada di Jaxartes karena yagn disebut adalah "di luar Sogdiana" bukan Baktria. Di dunia modern, arkeolog Hugo Winckler (1863–1913) adalah orang pertama yang mengaitkan Saka dengan bangsa Skithia. J. M. Cook, dalam The Cambridge History of Iran, menyebutkan bahwa nama Persia "Sakā" dan nama Yunani dan Asyur "Skuthai" ("Iškuzai") merupakan nama umum untuk penduduk nomaden di wilayah utara. Sumber-sumber Persia umumnya menyebut mereka sebagai satu suku tunggal bernama "Saka" (Sakai atau Sakas), namun sumber Yunani dan Latin menyebutkan bahwa bangsa Skithia terdiri atas banyak kelompok. Ilmuwan modern kemudian umumnya menggunakan istilah Saka untuk menyebut masyarkat berbahasa Iran yang menghuni Stepa Erasia bagian timur dan Cekungan Tarim. Lihat pula Bahasa Saka Saka di Mahabharata Kalender Saka Artikel ini menggunakan bahan dari artikel Wikipedia Saka, yang dilepaskan di bawah Creative Commons Attribution-Share-Alike License 3.0.

Sastra Sriwedari

Ngaji Sastra Jawa.Sastra Jawa Sastra Sriwedari  Yasri menyajikan salinan lengkap (alih-aksara dan alih-bahasa) dari "Pedoman Penulisan Aksara Jawa" yang terbit di majalah Pusaka Jawi, Mei 1926. Dikenal sebagai "Sastra Sriwedari", pedoman atau standardisasi ini disepakati jauh sebelum Indonesia merdeka; adalah capaian luar biasa karena mampu menyeragamkan banyak langgam penulisan aksara Jawa yang telah eksis sekian abad sebelumnya. "Sastra Sriwedari" merupakan hasil keputusan Rapat Komisi Kesusasteraan 29 Oktober dan 31 Desember 1922. Komisi dipimpin oleh seorang aktivis-nasionalis R. M. A. Wuryaningrat. Aksara Jawa, penulisannya telah disepakati jauh sebelum Indonesia merdeka, yakni sejak 1924; dengan catatan, sebagian kecil isu masih menjadi pertimbangan. Kesepakatan itu merupakan hasil kerja dari sebuah komisi bentukan suatu kongres yang digelar dua tahun sebelumnya, Oktober dan Desember 1922, di Sriwedari, Surakarta.[1] Kongres 1922 dihadiri beberapa perserikatan. Ada perserikatan guru, seperti: Normaalschool dan Kweekschool, pejabat pemerintah, Balai Pustaka, serta perwakilan empat keraton Mataram (Kasunanan, Kasultanan, Mangkunegaran, Pakualaman). Ada pula perserikatan bahasa Jawa, seperti: Nitisastra, Kridhabasa, Kridhasastra, Garapbon, Mardibasa, dan Paheman Radya Pustaka. Kesepakatan tentang wawaton (pedoman) bagi penulisan aksara Jawa inilah yang belakangan dikenal sebagai "Sastra Sriwedari". Sastra Sriwedari adalah prakarsa sekaligus capaian yang luar biasa. Bayangkan, sejak dulu, yang namanya keseragaman dalam penulisan aksara Jawa, itu belum pernah ada. Apalagi, ketidakseragaman penulisan aksara Jawa di keempat keraton Mataram justru dianggap (baca: diagung-agungkan) sebagai ikon adiluhung serta unikum atau ciri khas masing-masing sehingga perlu dilindungi dan dilestarikan. Sedemikian khasnya, unikum penulisan aksara Jawa itu sampai bisa menjadi pengidentifikasi tarikh dan/atau tempat asal naskah atau manuskrip anonim kuno. Pendek kata, standardisasi yang harus dipatuhi oleh para penulis Jawa memang belum ada hingga awal abad XX. Pada awal abad XX-lah kesadaran bersama penerapan standardisasi penulisan aksara Jawa tumbuh seiring dengan tumbuhnya gagasan memajukan bangsa dan nasionalisme rakyat Hindia-Belanda: sebuah peran krusial yang dimainkan oleh budaya.[2] Komisi Kongres 1922 diketuai Wuryaningrat, seorang aktivis-nasionalis yang gigih putra (tertua dari istri pertama) Patih Sasradiningrat IV yang diambil menantu oleh Pakubuwana X. Komisi kongres dikenal pula sebagai "Komisi 10 Golongan" atau "Komisi Besar" (Komisi Agêng). Wuryaningrat adalah sosok penting dari awal-awal pergerakan nasionalisme Indonesia. Cucu Pakubuwana IX itu pernah menjabat sebagai Ketua Boedi Oetomo beberapa periode (1916-21, 1922-25 dan 1933-35) serta Ketua Partai Indonesia Raya setelah dijabat Dokter Soetomo (1935-38). Luar biasa aktifnya, bangsawan bergelar Raden Mas Arya yang pejabat tinggi Kasunanan berpangkat Bupati Nayaka itu pada saat kongres pun masih merangkap sebagai pimpinan dari sejumlah organisasi lainnya, seperti Radya Pustaka dan Narpa Wandawa.[3] Pada era Wuryaningrat-lah kajian bahasa dan budaya Jawa berkembang pesat, terutama melalui organisasi atau institusi yang dipimpinnya itu. Satu capaian yang paling menonjol adalah Sastra Sriwedari. Pada pertemuan (vergadering) kongres Desember 1929, lebih dari 200 orang hadir berpartisipasi.[4] Pada Komisi Besar itu, anggota yang memiliki hak suara tidak sedikit yang kelak namanya kita kenal sebagai pakar-pakar penting dalam kajian bahasa dan budaya kontemporer di seluruh Jawa.[5] Penyusunan Sastra Sriwedari berlangsung setahun lebih. Setelah vergadering Komisi Besar yang berlangsung pada 29 Oktober dan 31 Desember 1922, dibentuklah "Komisi Kecil" (Komisi Alit) - foto para anggotanya ditampilkan di bawah (Komisi 5 Golongan). Komisi Kecil ditugasi menyusun risalah atau notulensi, termasuk keputusan-keputusan yang telah diketokpalukan. Risalah itu lantas dibagikan ke perwakilan-perwakilan di Komisi Besar untuk dimintakan koreksi, tinjauan, dan/atau persetujuan atas kontennya. Pada April 1923, Komisi Kecil meluncurkan pedoman versi perdana. Setelah komentar dan masukan atas versi perdana diterima, diluncurkanlah versi kedua pada September 1923. Versi kedua terdiri dari 16 keputusan atau pasal yang mengetengahkan tata-cara penulisan aksara Jawa.  Para anggota "Komisi 5 Golongan" (Komisi Kecil) berfoto bersama. Tugas khusus yang diberikan oleh Komisi Besar kepada Komisi Kecil itu adalah menyusun pedoman penulisan aksara Jawa.[6] Draf dari Komisi Kecil lalu mendapat tinjauan atau koreksi dari beberapa institusi. Departemen Pendidikan dan Balai Pustaka, misalnya, mengajukan tinjauannya pada sekitar lima bulan kemudian, yakni pada Maret 1924. Kasunanan dan Radya Pustaka pun menyusul tak lama kemudian. Pada masing-masing tinjauan masih tersua beberapa hal yang belum disetujui. Kendati demikian, setelah Maret 1924, dalam risalah tentang kegiatan-kegiatan Komisi itu tidak ada entri lanjutan. Bukti bahwa versi baru telah didistribusikan kembali pada saat itu pun belum ditemukan. Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui hasil selanjutnya, selain juga analisis terkait ajuan pendapat dari masing-masing institusi dan perkumpulan kala itu. Juni 1925, seorang anggota Komisi Besar, Mas Sastrawirya (PGB), mengangkat isu mengenai pedoman penulisan aksara Jawa. Sastrawirya mengeluhkan belum kunjung diumumkannya kerja kolaboratif yang melibatkan pemerintah, keraton-keraton, dan sekian perkumpulan itu. "Biarpun toh masih seadanya, hasil kongres harus segera diumumkan karena itu akan menjadi sempurna dengan adanya perubahan," demikian tulis Sastrawirya di majalah Pusaka Jawi pada Juni 1925 dalam artikelnya, "Basa tuwin Kasusastran Jawi". Asalkan rajin saban tahun menggelar kongres bahasa dan sastra Jawa, Sastrawirya meyakini, lama-kelamaan hasilnya akan sempurna dan keputusan kongres pun pasti akan kian bagus.[7] Setahun kemudian (Mei 1926), majalah yang sama, Pusaka Jawi, memublikasikan pedoman penulisan aksara Jawa, lengkap dengan 17 keputusan (pasal)-nya: Karampungan Pangrêmbagipun Wêwaton Panyêratipun Têmbung Jawi Mawi Sastra Jawi, miturut Putusan Parêpatan Kumisi Kasusastran Marêngi kaping 29 Oktobêr 1922 sarta 31 Dhesèmbêr 1922 (Hasil Keputusan Pembahasan Pedoman Penulisan Kata Jawa Menggunakan Aksara Jawa, menurut Keputusan Rapat Komisi Kesusasteraan pada 29 Oktober dan 31 Desember 1922).[8] Boleh jadi terpicu oleh artikel Sastrawirya, yang jelas, akhirnya pemerintah menerbitkan pedoman itu pada tahun yang sama.[9] Yasri menyajikan salinan lengkap (alih-aksara dan alih-bahasa) dari edisi pedoman penulisan aksara Jawa yang terbit di Pusaka Jawi. Pertimbangan Yasri adalah, pada era masa kini, pedoman tersebut ternyata tak berkurang arti pentingnya, terutama sebagai sinambungan gerak dari budaya masa lalu yang mengilhami penyusunan awalnya. Meminjam harapan Mas Sastrawirya, semoga salinan berikut bisa menuai banyak respons berupa analisis dan kajian lebih lanjut. Tujuannya, agar kawruh tata-cara penulisan aksara Jawa mendapatkan tempat sepantasnya sebagai bagian dari warisan budaya Jawa, Indonesia, bahkan dunia. Hasil Keputusan Pembahasan Pedoman Penulisan Kata Jawa Menggunakan Aksara Jawa, menurut Keputusan Rapat Komisi Kesusasteraan pada tanggal 29 Oktober 1922 dan 31 Desembêr 1922. I. Kata Dasar 1. Kata dasar ditulis tidak mengulang aksara. Misalnya: tun [tuna], wni [wani], sert\ [sêrat], Xz [lênga], bvu [banyu], fan [dahana]. Tidak ditulis: tunN [tunna], wnNi [wanni], se/rt\ [sêrrat], X=z [lêngnga], bnVu [bannyu], fhan [dahhana]. Ada juga yang menyimpang: tnV [tannya]. Adapun: rayu [rahayu]. Meskipun bukan kata dasar juga tidak ditulis: rhayu [rahhayu]. Karena berasal dari kata: ayu [hayu], mendapat awalan: r [ra]. 2. Kata dasar yang memiliki tiga suku kata berawal suku kata terbuka. Meskipun di awal kata dasar tersebut menggunakan sandangan pepet, tetap ditulis apa adanya. Misalnya: ngr [nagara], slk [salaka], wtr [watara], mnw [manawa], bdy [badhaya]. 3. Kata dasar yang memiliki tiga suku kata berawal suku kata tertutup berakhir aksara hidung, ditulis seperti pengucapannya. Misalnya: Ha. cemPurit\ [cêmpurit], temBg [têmbaga], semBf [sêmbada], X=gn [lênggana], jemPn [jêmpana]. Na. lmPit [lampita], s=sr [sangsara]. 4. Suku kata yang bukan suku kata terakhir tidak bisa menggunakan pepet layar, apabila tidak diberi keret, hanya boleh diberi layar. Misalnya: f}kuku [drêkuku], g}ji [grêji], w/n [warna], w/t [warta]. Kecuali kata-kata asing yang akan ditonjolkan. Misalnya: &upe/!u/[jnF`l\ [gupêrnur jendral], [p]o[ssPe/bl\ [prosès pêrbal]. 5. Dalam satu kata, pasangan: c [ca], j [ja], tidak boleh ada di bawah aksara: n [na], harus berubah aksara: v [nya], misalnya: wvCi [wanyci], jvJi [janyji]. 6. Kata: kLp [klapa], tidak ditulis klp [kalapa]. bÓ|f( [bludru], tidak ditulis bluf( [baludru]. Dan sebagainya. Tetapi apabila diperlukan, baru boleh ditulis: klp [kalapa], bluf( [baludru]. 7. [fov [donya], serta: [sov [sonya], ditulis menggunakan taling tarung [o], bukan menggunakan suku [u]. 8. Kata asing yang sudah digunakan dalam kata Jawa, penulisannya berdasarkan pengucapan kata asing tersebut, misalnya: bgsi [bagasi], dari BAGAGE. II. Kata Jadian yang menggunakan awalan 1. Bunyi Sengau Ha. Apabila di awal kata dasar luluh, awalan bunyi sengaunya tidak ditulis menggunakan: a [ha]. Misalnya: ztg\ [ngatag], nnT= [nantang], vmBe/ [nyambêr], m]nt [mranata]. Apabila diperlukan boleh ditulis: aztg\ [angatag], annT= [anantang], avmBe/ [anyambêr], am]nt [amranata]. Na. Apabila pada awal kata dasar tidak luluh, misalnya: anFf/ [andadar], avJketet\ [anjakêtêt], anDede/ [andhêdhêr], a=giqi= [anggithing], amB|w= [ambuwang], tidak boleh ditulis: ff/ [dadar], jketet\ [jakêtêt], dede/ [dhêdhêr], giqi= [githing], buw= [buwang]. 2. Kata-kata kerja aktif yang awal kata dasarnya luluh dengan awalan bunyi sengau, apabila mendapat awalan: p [pa], awalan kata kerja aktif tersebut tidak diulang, misalnya: pnemBh [panêmbah], pvekel\ [panyêkêl], bukan pnNemBh [pannêmbah], pnVekel\[ [pannyêkêl]. 3. Bawa: k [ka]. Kata bawa: k [ka], yang awalannya tidak luluh dengan awal kata dasar, awalan: k [ka], harus dipepet, misalnya: keffk\ [kêdadak]. 4. Kata yang berawal aksara: a [ha], apabila diberi awalan: pi [pi], p]i [pri], tidak berubah, misalnya: pia=kuh [piangkuh], pia[won\ [piawon], pial [piala]. Yang menyimpang, awalnya berubah menjadi: y [ya], misalnya: piygem\ [piyagêm], p]i[y=og [priyôngga]. III. Kata Jadian setelah mendapat sisipan 1. Sisipan: r [ra], l [la]. Sisipan: r [ra], l [la]. Ditulis sesuai kata bentukan setelah mendapat sisipan, misalnya: p}nÒ|l\ [prêntul], jLerit\ [jlêrit], gLex= [glêrêng], tidak ditulis: pxnÒ|l\ [parêntul], jXrit\ [jalêrit], gXx= [galêrêng]. Jika diperlukan boleh ditulis: pxnÒ|l\ [parêntul], jXrit\ [jalêrit], gXx= [galêrêng]. 2. Sisipan: n [na], misalnya: pinyu=zn\ [pinayungan], ditulis tanpa menggunakan pasangan: n [na]. IV. Kata Jadian setelah mendapat akhiran 1. Akhiran yang berawal aksara: a [ha], apabila dilekatkan pada suku kata tertutup: a [ha] berubah menjadi aksara tertutup tersebut, seperti: awnN [awanna], wt[kK [watakke], XXsSn\ [lêlêssan], n=gpPi [nanggappi], gegemMen\ [gêgêmmên], rabBn [rahabbana]. 2. Akhiran: a [a]. Ha. Apabila terletak dibelakang suku kata terbuka, tetap ditulis: a [a], misalnya: bisa [bisaa]. Na. Berubah menjadi: y [ya], apabila dilekatkan pada suku kata terbuka: wulu [u], atau: taling [i], sedangkan apabila suku kata tersebut bukan: y [ya], misalnya: wniy [waniya], [d[dy [dhedheya], tetapi: p]iyyia [priyayia], kp]i[ya [kapriyea], tidak ditulis: p]iyyiy [priyayiya], kp]i[yy [kapriyeya]. Ca. Berubah menjadi: w [wa], apabila dilekatkan pada suku kata terbuka: suku [u], atau: taling tarung [o], sedangkan apabila bukan suku kata: w [wa], misalnya: niruw [niruwa], [bo[dow [bodhowa], tetapi: nwua [nawua], cu[woa [cuwoa], tidak ditulis: nwuw [nawuwa], cu[wow [cuwowa]. 3. Akhiran: [a [e], apabila dilekatkan pada suku kata terbuka, berubah menjadi: [n [ne], jadi tidak menggunakan pasangan: n [na], misalnya: jr [jara] - jr[n [jarane], bukan jr[nN [jaranne]. alu [alu] - alu[n [alune], bukan alu[nN [alunne]. 4. Akhiran: ai [i], apabila terletak di belakang suku kata terbuka, dengan pertolongan akhiran: an\ [an] terlebih dahulu, misalnya: pd [padha] - mdnNi [madhani]. genTi [gênti] - a=ge[nTnNi [anggêntènni]. bau [bau] - amB[aonNi [ambaonni]. 5. Akhiran: an\ [an]. Ha. Apabila dilekatkan pada suku kata terbuka, yang menggunakan sandangan: wulu [i], atau: taling [e], tidak luluh, awal akhiran berubah menjadi: y [ya], misalnya: ffi [dadi] - kffiyn\ [kadadiyan]. g[d [gadhe] - pg[dyn\ [pagadheyan]. Apabila dilekatkan pada suku kata terbuka, yang menggunakan sandangan: suku [u], atau: taling tarung [o], tidak luluh, awal akhiran berubah menjadi: w [wa], kados ta: lku [laku] - klkuwn\ [kalakuwan]. j[go [jago] - j[gown\ [jagowan] Na. Ada beberapa kata yang pada akhir suku katanya diberi wignyan [h], menyimpang dari aturan IV. 1. misalnya: weruh [wêruh] - kruwn\ [karuwan]. klih [kalih] - kliyn\ [kaliyan]. plih [palih] - pliyn\ [paliyan] (saudara sepersusuan). Tetapi: plihan\ [palihan] (krama), sedangkan ngoko: p[ron\ [paron]. Ca. Kata-kata pada bagian: Na, di atas, apabila mendapatkan akhiran: [a [e], maka wignyan [h] kadang-kadang bisa muncul lagi, misalnya: kruwn\ [karuwan] - kruha[nN [karuhhane]. pliyn\ [paliyan] - pliha[nN [palihhane] 6. Akhiran: aen\ [ên], apabila dilekatkan pada suku kata terbuka, berubah menjadi: nen\ [nên], misalnya: auj [uja] - aujnen\ [ujanên]. pnu [panu] - pnunen\ [panunên]. 7. Akhiran: an [ana]: apabila dilekatkan pada suku kata terbuka, dengan pertolongan akhiran: an\ [an] terlebih dahulu, misalnya: ab [aba] - zbnNn [ngabannana]. tli [tali] - t[lnNn [talènnana]. [p[p [pepe] - [p[pnNn [pèpènnana]. lku [laku] - l[konNn [lakonnana]. g[do [gadho] - g[donNn [gadhonnana]. 8. Akhiran: a[k [ake]. Ha. Apabila dilekatkan pada suku kata terbuka, suku kata tersebut ditutup dengan: k [ka] terlebih dahulu, sedangkan akhiran tetap: a[k [ake], apabila akhir suku kata tersebut: wulu [i], berubah menjadi: taling [e], apabila akhir suku kata: suku [u], berubah menjadi: taling tarung [o], misalnya: tp [tapa] - npkH[k [napakake]. lli [lali] - zL[lkH[k [nglalèkake]. ge[d [gêdhe] - a=ge[dkH[k [anggêdhèkake]. aju [aju] - z[jokH[k [ngajokake]. [bo[do [bodho] - a[mBo[dokH[k [ambodhokake]. Na. Kata yang bersuku kata akhir konsonan mati: n [na], apabila mendapat akhiran: a[k [ake], ada yang konsonan mati: n [na], berubah menjadi: k [ka], kemudian akhiran: a[k [ake], berubah menjadi: k[k [kake], misalnya: pkn\ [pakan] - mkkK[k [makakkake]. [a[won\ [ewon] - k[a[wokK[k [kaewokkake]. 9. Akhiran: n [na]. Apabila dilekatkan pada suku kata tertutup, tidak berubah, misalnya: [go[lk\ [golèk] - [go[lkN [golèkna]. Apabila tujuannya untuk dipanjangkan, akhiran: n [na], boleh dipanjangkan menjadi aen [êna]. Misalnya: [go[lkHen [golèkêna]. 10. Akhiran: aipun\ [ipun], apabila dilekatkan pada suku kata terbuka, berubah menjadi: nipun\ [nipun], misalnya: cuw [cuwa] - cuwnipun\ [cuwanipun]. [roti [roti] - [rotinipun\ [rotinipun]. putu [putu] - putunipun\ [putunipun], tidak ditulis: cuwnNipun\ [cuwannipun], [ro[tnNipun\ [rotènnipun], pu[tonNipun\ [putonnipun]. 11. Kata yang berupa wisesa na lingga, apabila mendapat akhiran: a [a], ditulis sesuai pengucapannya, jadi tanpa menggunakan pasangan: n [na], misalnya: sbukKn\ [sabukkan] - sbukKn [sabukkana], tidak ditulis: sbukKnN [sabukkanna]. V. Dwipurwa (perulangan pada awal kata dasar) Kata dwipurwa yang berbentuk perulangan sandangan suara, misalnya: rigen\ [rigên] - ririgen\ [ririgên]. t(k [truka] - tut(k [tutruka]. [wk [weka] - [w[wk [weweka]. [bo[nDot\ [bondhot] - [bo[bo[nDot\ [bobondhot], tetapi: [gonF [gônda] - g[gonF [gagônda], bukan: [go[gonF [gogônda]. VI. Dwilingga (kata ulang dasar) Kata yang berawalan: a [a], dan suku kata akhir berupa konsonan mati, jika dijadikan dwilingga (kata ulang), maka kata awal pada bagian belakang tidak berubah menjadi konsonan mati tersebut, misalnya: alun\ [alun] - alunHlun\ [alun-alun], bukan alunNlun\ [alun-nalun]. al= [alang] - al=al= [alang-alang], bukan al=zl= [alang-ngalang]. VII. Kata Majemuk Lanjutan dari Bab VI (Dwilingga), kata majemuk yang kata depannya bersuku kata akhir tertutup, serta kata di belakangnya berawal aksara: a [a], awal aksara: a [a], tidak berubah, misalnya: aufnHrum\ [udan arum], bukan aufnNrum\ [udan narum]. spitH[bon\ [sapit abon], bukan spitT[bon\ [sapit tabon]. VIII. Kata: ai= [ing] Kata yang berawal aksara: a [a], r [ra], l [la], apabila terletak di belakang: ai= [ing], tidak berubah, misalnya: ai=als\ [ing alas], ai=xmB= [ing rêmbang], ai=lt/ [ing latar]. Ada beberapa kata yang menyimpang, misalnya: ai=zi[so/ [ing ngisor], ai=znDp\ [ing ngandhap], ai=zxp\ [ing ngarêp], ai=zj_ [ing ngajêng], ai=zt[sS [ing ngatase], ai=zaurip\ [ing ngaurip], ai=z]iku [ing ngriku]. IX. Gembung (pasangan: w [wa]) Gembung tidak boleh dilekatkan pada pasangan yang letaknya ditulis di bawah aksara yang dipasangi, misalnya: ank\kW[lon\ [anak kwalon], tidak ditulis ankÑÈ[lon\ [anak kwalon], rimBg\fWipu/w [rimbag dwipurwa], tidak ditulis rimBg…pu/w[13] [rimbag dwipurwa]. X. Aksara Murda 1. Aksara murda hanya digunakan untuk tataprunggu artinya hanya untuk penghormatan, sedangkan penulisan lainnya tidak boleh menggunakan aksara murda. 2. Tidak ada aksara murda: %î [Rê] sarta *î [I]. XI. Aksara Suara 1. Ha. Aksara suara: A [a], I [i], E [e], U [u], O [o], untuk menulis kata asing, apabila ingin ditonjolkan. Na. x [rê], serta X [lê], tetap digunakan untuk penulisan. 2. A [a], I [i], E [e], U [u], O [o]. Tidak boleh menjadi pasangan maka harus dimatikan dengan tanda pangku, misalnya: wuln\Ap]il\ [wulan April]. X [lê]: apabila menjadi pasangan harus dikembalikan …Le [lê] misalnya: a[folLez [adol lênga], ae[folLen\ [êdollên]. x [rê], pasangannya tetap: > [rê]. XII. Aksara rekan 1. Aksara rekan untuk menulis kata asing apabila ada yang perlu ditonjolkan. 2. Aksara rekan yang terletak setelah suku kata tertutup, apabila pasangan aksara rekan tersebut tidak terletak di belakang konsonan mati, aksara konsonan mati tersebut harus diberi tanda pangku, misalnya: muk\t+i/ [Muktsir], zbF|l\g+ni [Ngabdul Ghani]. 3. Aksara rekan apabila mendapat sandangan: wulu, pepet, cecak, atau layar, cecak tiga tersebut diletakkan di depan (kiri) sandangan, misalnya: f+ik+i/ [dzikhir], p+/lu [farlu]. XIII. Angka Jawa Angka Jawa hanya boleh digunakan untuk mengurutkan bab serta untuk penulisan waktu. XIV. Angka Romawi Angka Romawi boleh digunakan pada penulisan aksara Jawa, yaitu untuk mengurutkan angka tahun dan sebagainya. Sedangkan aksara Latin bisa digunakan untuk nomor urut. XV. Aksara Latin serta angkanya Aksara Latin berserta angkanya apabila ditulis bersama dengan aksara Jawa: disejajarkan, jadi penulisannya ikut di bawah garis. XVI. Aksara Arab serta angkanya Aksara Arab serta angkanya, jika ditulis bersama dengan aksara Jawa, disejajarkan, jadi penulisannya ikut di bawah garis. XVII. Angka 2 Angka 2 tidak boleh digunakan untuk menyingkat kata: skliyn\ [sakaliyan], atau kata dwilingga (kata ulang), misalnya: pzbekTiskliyn\ [pangabêkti sakaliyan], tidak boleh ditulis: pzbekTi2yn\ [pangabêkti2yan], alunHlun\ [alun-alun] tidak boleh ditulis alun\2 [alun2].       Pusaka Jawi, Java Instituut, Mei 1926. Sumber: Pusaka Jawi, Java Instituut, Mei 1926, hlm. 65-70. Catatan kaki: 1. Keterangan tentang kongres ini beserta keputusan-keputusannya mengenai penulisan aksara Jawa dapat ditemukan di Pèngêtan Rêmbag Radya Pustaka Bab Panyêrat Kasusastran Jawi, Putra Nitipraja, 1923-24. MS. Sasana Pustaka 173 Ca. (kembali) 2. Mas Sastrawirya, salah satu perwakilan komisi kongres dari Persatuan Guru Bantu (PGB), menyatakan, prakarsa untuk menggelar kongres standardisasi penulisan aksara Jawa itu semula digagas oleh Mardibasa. Didirikan di Surakarta pada awal abad XX oleh sekelompok ilmuwan, perkumpulan itu bertujuan untuk memajukan kajian bahasa Jawa melalui analisis dari etimologinya. Lihat: 'Basa tuwin Kasusastran Jawi', Sastrawirya, terbit perdana dalam Pusaka Jawi, Java Instituut, Juni 1925, hlm. 134. Diterbitkan ulang dalam Sêrat Gancaran Warni-warni ing Jaman Punika, R. L. Mellema. J. B. Wolters, Betawi: 1933, hlm. 1-22. (kembali) 3. Setahun setelah Radya Pustaka direlokasi ke Sriwedari (1913), Wuryaningrat terpilih sebagai pangarsanya hingga 1927. Perkumpulan Narpa Wandawa didirikan pada 1914, tempat Wuryaningrat menjadi presidennya hingga 1927. Pada kurun-kurun itu juga, Wuryaningrat pun menjadi anggota Panitia Pengembangan Budaya Jawa (Comité voor Javaansche Cultuurontwikkeling, 1918). (kembali) 4. Jumlah kehadiran peserta di (vergadering) Desember 1922 di Sriwedari - termasuk 9 perwakilan dari komisi (semestinya 10 perwakilan, tetapi Normaalschool tidak ikut rapat ke-dua ini) dan 7 perwakilan dari perkumpulan - kurang-lebih 180 tamu. Lihat: Pèngêtan Rêmbag Radya Pustaka Bab Panyêrat Kasusastran Jawi, op. cit., hlm. 119-120. (kembali) 5. Komisi yang dibentuk untuk pertemuan 29 Oktober dan 31 Desember 1922 itu mencakup 10 perwakilan (Komisi 10 Golongan). Anggota masing-masing adalah: (1) Kasunanan: Radèn Ngabèi Nitipraja dan Mas Ngabèi Èsmutani; (2) Kasultanan: Radèn Tumênggung Jayadipura, Mas Wadana Dwijasewaya, dan Radèn Panèwu Jiwadipraja; (3) Mangkunagaran: Radèn Ngabèi Citrasêntana dan Mas Wôngsadiarja; (4) Pakualaman: Radèn Panji Jayèngpranata dan Radèn Mas Ngabèi Sasrasudarsa; (5) Paheman Radya Pustaka: Radèn Ngabèi Suradipura, Mas Ngabèi Prajapustaka, dan Mas Ngabèi Prawiratmaja; (6) Kweekschool: Mas Suwardi, pada pertemuan 31 Desember 1922, wakilnya diganti oleh Mas Jaya Sugito dan Radèn Brata Harjiya; (7) Normaalschool: Mas Ngabèi Arjasudira dan Radèn Ngabèi Brataharjita, pada pertemuan 31 Desember 1922 tidak ada wakil; (8) Persatuan Guru Hindia Belanda (PGHB): Mas Ngabèi Yasawidagda dan Mas Andaga Wedyakaryasa; (9) Persatuan Guru Bantu (PGB): Radèn Sutarman, Mas Sastrawirya, dan Mas Tôndhadisastra; (10) Balai Pustaka: tidak mengirim wakil di pertemuan 29 Oktober 1922, tapi menyampaikan masukan secara tertulis, adapun pada pertemuan 31 Desember 1922, Radèn Kamil hadir sebagai wakil. Lihat: Pèngêtan Rêmbag Radya Pustaka Bab Panyêrat Kasusastran Jawi, op. cit., hlm. 25-26, 118-120). (kembali) 6. Sumber foto: Pèngêtan Rêmbag Radya Pustaka Bab Panyêrat Kasusastran Jawi, op. cit., hlm. 1. (kembali) 7. "Pancènipun sawontên-wontênipun lajêng kêdah dipun limrahakên, dene sampurnanipun kalihan dipun ewahi. Anggêripun sabên taun dipun wontênakên konggrès bab basa tuwin kasusastran Jawi, dangu-dangu inggih badhe sampurna. Putusaning konggrès saya dangu masthi sangsaya sae." Lihat: Sêrat Gancaran Warni-warni ing Jaman Punika, op. cit., hlm. 3. Mas Sastrawirya adalah pakar kondang bahasa Jawa. Ia penerima hadiah pertama dalam sayembara tata-bahasa Jawa yang digelar Pusaka Jawi. (kembali) 8. 'Karampungan Pangrêmbagipun Wêwaton Panyêratipun Têmbung Jawi Mawi Sastra Jawi, miturut Putusan Parêpatan Kumisi Kasusastran marêngi kaping 29 Oktobêr 1922 sarta 31 Dhesèmbêr 1922', Pusaka Jawi, Java Instituut, Mei 1926, hlm. 65-70. (kembali) 9. Wawaton Panjeratipoen Temboeng Djawi mawi Sastra Djawi Dalasan Angka, mitoeroet Poetoesan Parepatan Koemisi Kasoesastran ing Sriwedari (Soerakarta). Landsdrukkerij - Weltevreden: 1926. Lihat juga foto aslinya: Wawaton Panyêratipun Têmbung Jawi, Kumisi Kasusastran, 1926, #366. (kembali) 10. Bandingkan versi Wawaton Panjeratipoen Temboeng Djawi mawi Sastra Djawi Dalasan Angka, op. cit., hlm. 3: "Makatên ugi: ra/j [raharja], raj_ [rahajêng], lan sapanunggilanipun." (kembali) 11. Bandingkan versi Wawaton Panjeratipoen Temboeng Djawi mawi Sastra Djawi Dalasan Angka, op. cit., hlm. 4: "Namung manawi wontên prêlunipun, upami kadamêl njangkêpakên guru wicalaning sêkar, sawêg kenging kasêrat: ...". (kembali) 12. Font untuk aksara pasangan: dw tidak tersedia (kembali) 13. Font untuk aksara pasangan: dw tidak tersedia (kembali) 14. Di versi Wawaton Panjeratipoen Temboeng Djawi mawi Sastra Djawi Dalasan Angka, op. cit., hlm. 12, terdapat contoh tambahan nomor 3. (kembali) Kategori Agama dan Kepercayaan Arsip dan Sejarah Bahasa dan Budaya Kisah, Cerita dan Kronikal Koran, Majalah dan Jurnal Katalog  Koleksi  Penanggalan Minggu 17 Februari 2019 AD.  Ngahad Pon 11 Jumadilakir Be 1952 AJ.  Kurup: 4. Salasiyah. Windu: 3. Sêngara. Pranatamôngsa: 8. Kawolu. Wuku: 19. Tambir. Padangon: 7. Tulus. Padewan: 5. Bathara Lodra. Paringkêlan: 1. Tungle. Leksikon  Telusuri 

Kamis, 10 Januari 2019

Kajian Wédhatama 96-100

Kajian Wedatama (95): Bangkit Ajur-ajer Bait ke-95, Pupuh Kinanthi, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV: Kaunanging budi luhung, bangkit ajur ajer kaki. Yen mangkono bakal cikal, thukul wijiling utami. Najan bener kawruhira, yen ana kang nyulayani... Terjemahan dalam bahasa Indonesia: Yang sudah kita kenal budi luhur itu, membangkitkan sikap mudah berbaur, anakku. Jika demikian akan bersemi, tumbuh biji keutamaan. Walau sudah benar pengetahuanmu, kalau ada yang menyelisihi,... Kajian per kata: Sikap yang diperlihatkan pada bait ke-93, Kawruhe Mung Ana Wuwus, yakni, banyak bicara yang tak dimengerti orang, tak mau mendengar perkataan orang lain, marah kalau disela atau dibantah, sangat tidak lazim disandang oleh orang berilmu. Biasanya orang berilmu sikapnya sangat menyenangkan orang lain, seperti yang diuraikan di bait ini. Kaunanging (yang sudah kita kenal) budi (budi) luhung (luhur), bangkit (menumbuhkan) ajur ajer (sikap berbaur) kaki (anakku). Yang sudah kita kenal budi luhur itu membangkitkan sikap mudah berbaur, anakku. Budi luhur itu membangkitkan dalam diri seseorang sikap yang gampang bergaul, menyatu dalam masyarakat, bersifat inklusif, tidak membuat komunitas sendiri tetapi berusaha untuk berbaur dengan masyarakat. Dalam budaya Jawa hal itu disebut ajur-ajer, menghancurkan ego sendiri (ajur), dan bercampur dengan yang lain (ajer) sehingga tak dapat dibedakan dengan yang lain. Sikap ajur-ajer ini sangat penting bagi orang yang berilmu agama, karena mereka terbebani tanggung jawab untuk mendidik masyarakat. Bagaimana mungkin akan berhasil membuat masyarakat melek agama kalau dia sendiri megasingkan diri, enggan berbaur dengan yang lain. Yen (jika) mangkono (demikian) bakal (akan) cikal (bersemi), thukul (tumbuh) wijiling (biji) utami (keutamaan). Jika demikian akan bersemi, tumbuh biji keutamaan. Adanya orang pintar ilmu agama yang berbudi luhur dan mau bergaul dengan masyarakat akan membuat masyarakat terdidik. Mendapat contoh dan teladan yang nyata, bukan sekedar teori muluk-muluk yang tidak membumi. Dapat sewaktu-waktu bertanya tentang aneka persoalan hukum, dapat mendapat saran dan pertimbangan yang baik tanpa merasa sungkan karena yang dihadapi adalah seorang tetangga yang karib. Keadaan yang kondusif demikian itu akan menumbuhkan bibit sikap utama dalam masyarakat, orang menjadi terpicu dan terpacu untuk berbuat baik, berlomba-lomba dalam kebaikan. Niscaya akan terbentuklah masyarakat yang penuh barokah dan ampunan Tuhan. Najan (walau) bener (benar) kawruhira (pengetahuanmu), yen (kalau) ana (ada) kang (yang) nyulayani (menyelisihi). Walau sudah benar pengetahuanmu, kalau ada yang menyelisihi,... Tetapi bagi orang yang berilmu untuk dapat membaur dalam masyarakat juga merupakan tantangan tersendiri. Walau sudah berada di jalur yang benar dan juga mengajarkan kebenaran selalu saja ada orang yang menyelisihi. Karena watak dan tabiat manusia berbeda- beda, tidak semuanya baik-baik. Ada yang menyimpan dengki, ada yang iri dan ada yang karena kepentingan tertentu ingin tampil demi mendapat pujian. Entah karena ingin populer agar menang pilkades atau sekadar demi sebuah perolehan materi. Itu semua perlu disikapi dengan bijak oleh orang yang berbudi luhur. Sikap apakah yang tepat untuk mereka? Jawabannya ada di bait selanjutnya, karena tampaknya kalimat di atas terputus maknanya. Maka nantikan kajian berikutnya. Jangan sampai ketinggalan. Kajian Wedatama (96): Aywa Esak Aywa Serik Bait ke-96, Pupuh Kinanthi, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV: Tur kang nyulayani iku, wus wruh yen kawruhe nempil. Nanging laire angalah, katingala angemori, mung ngenaki tyasing liyan. Aywa esak aywa serik. Terjemahan dalam bahasa Indonesia: Dan yang menyelisihi itu, sudah ketahuan bahwa pengetahuannya hanya sedikit. Tetapi perlihatkan sikap mengalah, agar terlihat menyetujui, hanya agar membuat nyaman hati orang lain. Jangan mendendam dan jangan sakit hati (terhadap perlakuan mereka). Kajian per kata: Pada bait sebelumnya telah disinggung bahwa bagi seorang berilmu dan berbudi luhur berbaur dalam masyarakat juga mempunyai tantangan tersendiri. Diantara tantangan yang dihadapi adalah orang yang suka menyelisihi. Bait ini menyarankan sebuah sikap untuk menghadapi mereka, para penyelisih itu. Tur (dan) kang (yang) nyulayani (menyelisihi) iku (itu), wus (sudah) wruh (tahu) yen (kalau) kawruhe (pengetahuannya) nempil (sedikit). Dan yang menyelisihi itu, sudah ketahuan bahwa pengetahuannya hanya sedikit. Sering terjadi bahwa orang yang ilmunya sedikit justru sering pamer ilmu kepada orang banyak. Suka menyelisihi pendapat orang lain agar terkesan menguasai suatu masalah. Suka meributkan hal-hal kecil yang menjadi sumber perbedaan (khilafiah) dan melupakan hal pokok (ushul). Mereka seringkali reseh dan nyinyir manakala ada hal baik yang dilakukan orang lain, sementara dia sendiri enggan mempelopori. Terhadap orang berwatak demikian itu orang yang berilmu dan berbudi luhur tak perlu kaget atau reaktif, tapi malah harus bersikap ramah dan disambut baik. Atau istilah keren yang sering dipakai sekarang: welcome. Nanging (tetapi) laire (perlihatkan sikap) angalah (mengalah), katingala (agar terlihat) angemori (menyetujui), mung (hanya) ngenaki (membuat nyaman) tyasing (hati) liyan (orang lain). Tetapi perlihatkan sikap mengalah, agar terlihat menyetujui, hanya agar membuat nyaman hati orang lain. Yang dimaksud dalam gatra ini adalah bersikap bijak, pertama tidak perlu berbantah adu ilmu, toh juga perdebatan yang demikian tidak akan membuat salah satunya sadar. Yang ada justru merasa terpojokkan dan menyimpan dendam. Yang kedua bersikap ramah dan angemori, menyetujui atau berbaur mencari kesamaan-kesamaan terlebih dahulu alih-alih meruncingkan perbedaan. Yang ketiga, membuat nyaman hati orang tersebut. Jika sudah demikian keduanya dapat bertukar pikiran dengan hati yang lega karena sudah merasa satu kubu, satu front. Inilah sikap yang perlu dikedepankan oleh orang-orang berilmu yang berbudi luhur. Aywa (jangan) esak (dendam) aywa (jangan) serik (sakit hati). Jangan mendendam dan jangan sakit hati (terhadap perlakuan mereka). Jika dapat bersikap seperti di atas akan tercipta kesejukan dalam masyarakat. Kondisi ini akan kondusif untuk melakukan dakwah lebih lanjut. Tetapi memang sikap demikian sungguh sulit dilakukan, kecuali oleh orang-orang yang sudah mencapai derajat tinggi dalam ilmu dan amal, ngelmu lan laku. Yang sering terjadi adalah sikap dendam dan sakit hati apabila dibantah, dihujat atau ditantang. Yang demikian itu hendaklah dihindari karena medan jihad menyebarkan kebaikan memang sulit, jadi halangannya pun banyak, rintangannya pun bejibun, ujiannya pun sulit. Oleh karena itu perlu bagi seseorang yang berilmu yang ingin mencapai budi luhur untuk selalu menjaga hati agar selalu penuh prasangka baik, toleran terhadap kekurangan orang lain serta kuatkan hati dan mental. Jangan mudah mendendam, jangan mudah sakit hati. Kajian Wedatama (97): Cinancang Pucuking Cipta Bait ke-97, Pupuh Kinanthi, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV: Yeku ilapating wahyu, yen yuwana ing salami. Marga wimbuh ing nugraha, saking heb Kang Maha suci. Cinancang pucuking cipta, nora ucul ucul kaki. Terjemahan dalam bahasa Indonesia: Itulah isyarat dari wahyu (Tuhan), kalau ingin selamat selamanya. Jalan untuk memperbanyak pahala, sesuai dengan sabda Yang Maha Suci. Diikat diujung cipta (pikiran), takkan pernah lepas lagi. Kajian per kata: Yeku (itulah) ilapating (isyarat, tanda-tanda) wahyu (wahyu, pentunjuk Tuhan), yen (kalau) yuwana (selamat) ing salami (selamanya). Itulah isyarat dari wahyu (Tuhan), kalau ingin selamat selamanya. Sikap itulah yang sesuai dengan isyarat pentunjuk wahyu dari Tuhan, yakni Al Quran, hendaklah diamalkan terus menerus bila ingin selamat selama-lamanya. Sudah selayaknya jika orang yang berilmu agama memegang teguh budi luhur, akhlakul karimah, karena itulah buah dari ilmu yang sejati. Jika agamawan hanya pandai berkhutbah saja hanya akan menjadi tukang dongeng, tetapi jika dapat mencontohkan dengan keteladanan, itulah ulama yang lurus. Marga (jalan) wimbuh (bertambahnya) ing nugraha (pahala, nikmat), saking (dari) heb (sabda) Kang Maha suci (Yang Maha Suci). Jalan untuk memperbanyak pahala, sesuai dengan sabda Yang Maha Suci. Ilmu yang diamalkan dalam tindakan, serta mengajak orang lain untuk melakukan kebaikan adalah perbuatan yang baik yang akan menambah pahala. Bagi orang yang berilmu dan berbudi luhur berbuat baik adalah keniscayaan, sebagai buah dari ilmu dan amal. Mereka takkan berbuat kotor seperti kita juga takkan pernah minum air comberan karena merasa jijik, perumpamaannya seperti itu. Dan bagi siapapun yang melakukan kebaikan akan mendapat pahala. Itulah yang sudah dituliskan Yang Maha Suci dalam sabdaNya, Al Quran. Cinancang (diikat) pucuking (diujung) cipta (cipta), nora(takkan) ucul ucul (pernah lepas) kaki (anakku). Diikat diujung cipta (pikiran), takkan pernah lepas lagi. Yang dimaksud cinancang pucuking cipta dalam kalimat di atas adalah akidah. Akidah adalah pokok-pokok kepercayaan yang diikat dalam pikiran, dalam suatu pandangan dunia tertentu. Akidah yang sudah kuat, hasil dari pemikiran dan pengkajian yang mendalam takkan mudah goyah dan telepas, walau oleh bujukan, rayuan, paksaan, intimidasi, agitasi, dan aneka perlakuan tak ilmiah lainnya. Akidah yang kuat melahirkan ketetapan hati (keimanan), dan keimanan yang kuat akan berbuah perbuatan terpuji. Kajian Wedatama (98): Pakoleh Budi Premati Bait ke-98, Pupuh Kinanthi, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV: Mangkono ingkang tinamtu, tampa nugrahaning Widhi. Marma ta kulup den bisa, mbusuki ujaring jamni. Pakoleh lair batinnya, iyeku budi premati. Terjemahan dalam bahasa Indonesia: Demikian yang sudah menjadi ketetapan (Tuhan), akan menerima pahala dari Yang Maha Kuasa. Oleh karena itu, anakku, bisa-bisalah berlagak bodoh terhadap perkataan manusia. Keuntungannya lahir dan batin, yaitu tersimpan rapinya kebaikan kita. Kajian per kata: Mangkono (demikianlah) ingkang (yang) tinamtu (sudah menjadi ketetapan), tampa (menerima) nugrahaning (pahala) Widhi (Yang Maha Kuasa). Demikian yang sudah menjadi ketetapan (Tuhan), akan menerima pahala dari Yang Maha Kuasa. Yang dimaksud dalam bait ini adalah sikap pada bait ke-96, Aywa Esak Aywa Serik, tentang orang yang enggan berselisih tentang ilmu, adu ilmu atau berdebat. Tetapi justru menyambut yang menyelisihi layaknya teman. Sikap demikian sungguh besar pahalanya karena membuat suasana menjadi baik, kondusif untuk dakwah lebih lanjut dan menghindarkan pertengkaran. Marma (oleh karena itu) ta kulup (anakku) den bisa (bisalah), mbusuki (berlagak bodoh) ujaring (perkataan) janmi (manusia). Oleh karena itu, anakku, bisa-bisalah berlagak bodoh terhadap perkataan manusia. Sikap ini sudah dicontohkan peneranpannya pada bait ke-96, yakni lebih baik mengalah kalau ada yang mengklaim pintar, biar dia merasa senang. Dengan begitu kepercayaan orang tersebut (yang sejatinya sudah diyakini ilmunya hanya sedikit) akan naik dan terpacu untuk berbuat baik. Ini adalah sikap bijak, bisa mengemong orang yang banyak omong. Luar biasa jika mampu melakukan itu. Maka belajarlah agar engkau dapat melakukan yang demikian, anakku! Pakoleh (keuntunganya) lair (lahir) batinnya (batibn), iyeku (yaitu) budi (budi) premati (tersimpan rapi). Keuntungannya lahir dan batin, yaitu tersimpan rapinya kebaikan kita. Keuntungan lahir dari sikap mengalah ini adalah menghindarkan pertengkaran yang tidak perlu, sedangkan keuntungan batin adalah kebaikan hati kita tetap tersimpan rapi sebagai rahasia. Ini menghindarkan kita dari sikap riya’, ujub atau takabur, juga sifat sombong. Dalam masyarakat tak perlulah kita merasa atau harus paling baik, atau paling pintar, atau paling hebat. Kedudukan yang setara lebih membuat nyaman sesama manusia. Kajian Wedatama (99):Nulad Mrih Utami Bait ke-99, Pupuh Kinanthi, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV: Pantes tinulad tinurut, laladane mrih utami. Utama kembanging mulya, kamulyaning jiwa dhiri. Ora ta yen ngeplekana, lir leluhur nguni-uni. Terjemahan dalam bahasa Indonesia: (Mereka) pantas diteladani dan diikuti, usahanya meraih keutamaan. Perbuatan utama adalah bunga dari kemuliaan, kemuliaannya jiwa sendiri. Tak usah kalau sama persis, seperti yang dilakukan para leluhur di jaman dahulu. Kajian per kata: Pantes (pantas) tinulad (diteladani) tinurut (diikuti), laladane (usahanya) mrih (agar) utami (utama). (Mereka) pantas diteladani dan diikuti, usahanya meraih keutamaan. Sesungguhnya meraih keutamaan dalam hidup itu sulit dan amat berat rintangannya. Orang- orang yang telah disebutkan watak dan perilakunya dalam bait-bait sebelumnya adalah mereka yang sudah berhasil mencapai tahap itu. Oleh karena itu mereka pantas diteladani dan diikuti langkah-langkahnya dalam usaha meraih keutamaan. Utama adalah sesuatu yang lebih tinggi derajatnya dari baik. Perbuatan utama adalah perbuatan yang lebih baik dari perbuatan baik. Dalam usaha untuk meraih yang utama pertimbangannya sangat banyak, mulai dari niat, cara dan tujuan serta akibat-akibat yang ditimbulkannya harus dicermati agar tidak menimbulkan sesuatu yang kurang baik. Walau secara teoritis hal-hal yang baik sudah lengkap di dalam kitab suci (Quran) dan pentunjuk Nabi (Hadits), tetapi jika tanpa melihat contoh langsung di lapangan seseorang tetaplah sulit untuk mencapai kebaikan, apalagi jika dia tak puas dan mengejar keutamaan, akan jauh lebih sulit lagi. Hal demikian karena urusan moral tidak bisa mengambil bentuk baku yang sama antar jaman dan antar tempat, semua bersifat kontekstual. Dalam hal ini kebijaksanaan amat berperan dalam menentukan sebuah tindakan. Hal-hal yang demikian ini akan lebih mudah dilakukan jika kita belajar langsung dari para guru, atau para orang-orang zaman dahulu. Utama (utama) kembanging (adalah bunganya) mulya (kemuliaan), kamulyaning (kemuliaannya) jiwa (jiwa) dhiri (sendiri). Perbuatan utama adalah bunga dari kemuliaan, kemuliaannya jiwa sendiri. Dalam sejarah telah lahir banyak orang-orang yang menapak jalan kemuliaan, menjaga diri dari tindak angkara, teliti dan wara’ dalam memenuhi kebutuhan hidup, berhati-hati dalam keinginan dan tidak menonjolkan kedirian. Inilah jalan kemuliaan yang melahirkan keutamaan. Utama disebut sebagai bunganya kemuliaan karena memang hanya dapat lahir dari jiwa yang mulia, seperti halnya padi hanya dapat berbuah dari pohon padi, tidak dari ilalang. Ora ta (tidak usah) yen (kalau) ngeplekana (sama persis), lir (seperti) leluhur (para leluhur) nguni-uni (di jaman dulu). Tak usah kalau sama persis seperti yang dilakukan para leluhur di jaman dahulu. Kepada orang-orang yang telah berhasil meraih keutamaan tadi, hendaklah kita mencontoh dan mengikuti perbuatan mereka, laku dan amalan mereka. Tidak harus sama persis dengan para leluhur di zaman dahulu, yang penting sudah berusaha keras untuk itu. Karena para leluhur telah melakukan hal-hal yang luar biasa, sehingga meneladani mereka pun sulit, walau demikian kita seharusnya bersyukur mendapat teladan yang bagus. Oleh karena itu dengan sekuat tenaga hendaknya mengikuti jalan mereka. Kajian Wedatama (100): Aywa Tuna Ing Tumitah Bait ke-100, Pupuh Kinanthi, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV: Ananging ta kudu kudu, sakadarira pribadi. Aywa tinggal tutuladan, Lamun tan mangkono kaki, yekti tuna ing tumitah. Poma kaestokna kaki Terjemahan dalam bahasa Indonesia: Tetapi harus semangat sekali, sesuai kekutan masing-masing pribadi. Jangan sekalipun meninggalkan teladan, jika tak demikian anakku, sungguh rugi dalam kehidupanmu sebagai makhluk Tuhan. Harap patuhilah anakku! Kajian per kata: Ananging ta (tetapi) kudu (harus) kudu (rajin sekali), sakadarira (sesuai kekuatan masing- masing) pribadi (pribadi). Tetapi harus semangat sekali, sesuai kekuatan masing-masing pribadi. Walau di bait ke-99, Nulad Mrih Utami, telah disebutkan bahwa mencontoh para leluhur tak harus persis sama (karena sulit menyamai mereka), namun harus diusahakan dengan sungguh-sungguh. Di gatra ini ada dua kata kudu yang bermakna berbeda. Kudu yang pertama berarti harus, kudu yang kedua adalah kumudu-kudu, melakukan sesuatu dengan semangat sekali, seolah-olah akan diselesaikan semua saat itu juga. Jadi mencontoh para leluhur dalam hal keutamaan harus dilakukan dengan semangat sekali, namun tetap harus mengukur kadar kemampuan masing-masing. Sakadarira bukan berarti ala kadarnya, tetapi berusaha maksimal sesuai kemampuan yang telah diberikan Tuhan. Aywa (jangan) tinggal (meninggalkan) tutuladan (teladan), lamun (jika) tan (tidak) mangkono (demikian) kaki (anakku), yekti (benar-benar) tuna (rugi) ing (dalam) tumitah (kehidupanmu sebagai makhluk). Jangan sekalipun meninggalkan teladan, jika tak demikian anakku, sungguh rugi dalam kehidupanmu sebagai makhluk Tuhan. Jangan sekali-kali meninggalkan tauladan. Bagaimanapun melakukan suatu kebaikan akan lebih mudah jika sudah ada contohnya. Maka sepanjang ada tauladan kebaikan tak ada salahnya mengikuti. Namun terhadap hal-hal yang belum ada preseden soal itu, dalam perkara-perkara yang baru haruslah sungguh-sungguh berusaha (ijtihad) menentukan sikap yang tepat. Dan ini pekerjaan yang sulit dan memerlukan pemikiran dan ketelitian. Poma (harap) kaestokna (patuhilah) kaki (anakku). Harap patuhilah anakku! Poma adalah perintah yang sangat. Agar sungguh-sungguh dilakukan apa yang sudah dianjurkan dalam bait-bait serat Wedatama ini, sebagai ajaran tentang kehidupan yang berisi anjuran menuju kebaikan. Walau demikian penerapannya untuk zaman kini haruslah mempertimbangkan situasi dan kondisi yang ada. Mengingat zaman telah berubah secara drastis, sistem pemerintahan juga sudah jauh berbeda, tata kehidupan masyarakat sudah bergeser dan teknologi manusia juga ibarat bumi-langit jika dibanding pada masa serat ini digubah. Dengan selesainya kajian bait ke-100 selesai sudah secara keseluruhan kajian serat Wedatama ini. Kami selaku penyaji sangat-sangat mengucapkan terima kasih kepada siapa pun yang berkenan mengikuti kajian ini hingga tuntas. Semoga apa yang kami lakukan dapat memberi manfaat kepada para pembaca yang budiman. Kami sadar bahwa beberapa hal dari kajian ini masih mengandung banyak kelemahan. Kelak jikalau ada kesempatan kami akan perbaiki agar lebih sempurna. Akhirul kalam, jika ada salah-kurangnya kami memohon untuk dibetulkan. Perlu juga kami sampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya jika yang kami sajikan masih jauh dari harapan pembaca. Sekian. TITI.

Kajian Wedatama 94-99

Kajian Wedatama (90): Kadya Lumampah Ing Margi Gawat Bait ke-90, Pupuh Kinanthi, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV: Umpama wong lumaku, marga gawat den liwati. Lamun kurang ing pangarah, sayekti karendhet ing ri. Apese kasandhung padhas, babak bundhas anemahi Terjemahan dalam bahasa Indonesia: Perumpamaannya adalah orang yang sedang berjalan, di jalan yang berbahaya. Jika kurang perhitungan , bisa terganggu oleh semak berduri. Kalau sial bisa terantuk batu cadas, sehingga babak belur yang dirasa. Kajian per kata: Umpama (perumpamaannya) wong (orang) lumaku (berjalan), marga (jalan) gawat (bahaya) den (di) liwati (lewati). Perumpamaannya adalah orang yang sedang berjalan, di jalan yang berbahaya. Perumpamaan ini mengambil seting di jaman dahulu ketika belum tersedia alat transport seperti jaman sekarang. Jalanan juga masih berupa jalan setapak yang belum diperkeras aspal. Jadi jalan yang berbahaya yang dimaksud adalah jalanan yang jarang dilewati orang sehingga penuh semak belukar dan bebatuan. Lamun (jika) kurang (kurang) ing pangarah (perhitungan), sayekti (bisa-bisa) karendhet (terganggu) ing (oleh) ri (duri). Jika kurang perhitungan, bisa terganggu oleh semak berduri. Pangarah yang dimaksud adalah perkiraan dalam berjalan, kira-kira ada lobang atau tidak, kira-kira banyak duri atau tidak. Ini perlu perhitungan dan kehati-hatian. Jika salah perhitungan, akan terkena duri-duri di sepanjang jalan. Karendhet adalah keadaan berjalannya menjadi sulit dan lama karena harus menyingkirkan penghalang, perjalanannya menjadi kurang lancar. Apese (kalau sial) kasandhung (terantuk) padhas (batu cadas), babak bundhas (babak belur) anemahi (yang dirasa). Kalau sial bisa terantuk batu cadas, sehingga babak belur yang dirasa. Keadaan terkena duri di atas masih mendingan, kalau sial bisa mendapat halangan yang lebih besar lagi. Bisa-bisa terantuk bebatuan, terjatuh dan babak belur. Kasandhung adalah kaki menendang secara tak sengaja batu atau penghalang apapun di jalan. Babak bundhas adalah 184 keadaan lecet-lecet di sekujur badan, jadi lecetnya amat banyak. Padanan kata dalam bahasa Indonesia adalah babak belur, meski kedua kata itu mempunyai perbedaan yang tipis. Dalam bahasa Jawa babak belur sering dipakai untuk menyebut kondisi luka akibat dihajar orang atau berkelahi, sedangkan kata babak bundhas dipakai untuk menyebut banyak luka karena jatuh. Apa yang disampaikan dalam bait ini adalah perumpamaan orang yang dalam hidupnya akan mengalami banyak rintangan disebabkan karena kurang hati-hati ketika masih muda, yakni suka melakukan perbuatan kotor seperti yang disebut dalam bait yang lalu. Orang seperti ini dalam perjalanan hidupnya akan sering mendapat halangan walau hanya kecil. Akibat perbuatan kotornya di masa lalu akan menjadi duri-duri dalam hidupnya, menjadi rerendhet yang membuat laju hidupnya menjadi lambat. Bahkan jika perbuatan kotornya juga besar maka seolah menjadi batu sandungan yang membuatnya terjatuh dan luka. Oleh karena itu hendaklah setiap orang menjaga dirinya dari perbuatan tak baik, agar kelak perjalanan hidupnya menjadi lancar. Syukur-syukur bisa memperbanyak amal kebajikan, kelak pun juga akan banyak yang menolong jika dalam kesulitan. Itulah hukum alam yang berlaku, sunatullah yang mesti kita yakini dan kita pegangi sebagai pedoman hidup. 185 Kajian Wedatama (91): Atetamba Sawuse Bucik Bait ke-91, Pupuh Kinanthi, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV: Lumrah bae yen kadyeku, atetamba yen wus bucik. Duweya kawruh sabodhag, yen tan martani ing kapti. Dadi kawruhe kinarya, ngupaya kasil lan melik Terjemahan dalam bahasa Indonesia: Wajar saja kalau seperti itu, berobat kalau sudah terluka. Walau mempunyai ilmu sebakul besar, kalau sikapnya tidak menyejukkan hati. Sehingga pengetahuannya hanya dipakai, untuk mencari harta dan meraih pamrih (kepentingan). Kajian per kata: Lumrah (wajar) bae (saja) yen(kalau) kadyeku (seperti itu), atetamba (berobat) yen (kalau) wus (sudah) bucik (terluka). Wajar saja kalau seperti itu, berobat kalau sudah terluka. Kebanyakan kita lalai dalam banyak urusan penjagaan. Tidak bersiap-siap dalam menghadapi marabahaya. Baru tersadar kalau sudah terluka. Ternyata berjaga-jaga itu perlu. Tapi tetap dalam batas yang wajar. Kewaspadaan adalah suatu sikap untuk mempersiapkan diri menghadapi segala kemungkinan yang bisa terjadi. Ini suatu tindakan nyata, bukan sekedar waham atau paranoid. Jadi setelah bersiap-siap sebaiknya tawakal dan tidak usah terlalu khawatir. Inilah sikap yang benar. Tetapi yang menjadi kelaziman seseorang baru kelabakan kalau sudah tertimpa marabahaya. Setelah pernah jatuh baru berhati-hati. Seperti sebuah kampung yang baru menggalakkan ronda setelah ada pencurian. Seperti sebuah negara yang kemudian melakukan mitigasi setelah ada bencana. Padahal sebelumnya abai terhadap potensi yang mengancam. Ini diibaratkan dalam peribahasa atetamba yen wis bucik, berobat setelah lecet. Ada juga peribahasa lain, beboreh sawise benjut, berbedak setelah benjol. Tampaknya sikap abai terhadap bahaya ini sudah menjadi watak yang muncul sejak dahulu. Yang demikian harus dihindari. Mulai sekarang bersiap-siaplah untuk menyambut potensi bahaya yang bisa datang sewaktu-waktu, tetapi harus tetap tawakal, tidak boleh berwaham atau was-was. Duweya (walau punya) kawruh (pengetahuan) sabodhag (bakul, tenggok besar), yen (kalau) tan (tidak) martani (menyejukkan) ing kapti (kehendak, hati). Walau mempunyai ilmu sebakul besar kalau sikapnya tidak menyejukkan hati. 186 Gatra ini menyoroti watak lain dari manusia yang jauh dari harapan, tetapi juga masih menjadi kelaziman, yakni tentang seseorang yang mempunyai banyak ilmu. Sabodhag artinya sebakul besar, atau tenggok besar. Tenggok adalah bakul dari anyaman bambu yang sering dipakai untuk membawa sesuatu. Bodhag adalah tenggok besar. Biasanya jarang yang punya karena ukurannya yang besar tidak akan kuat diangkat satu orang apabila diisi beras misalnya. Walaupun punya ilmu yang banyak tetapi kalau sikapnya tidak menyejukkan, bahkan membuat resah dengan ilmunya itu, hal demikian juga tidak baik. Jika mempunyai ilmu di bidang agama, bukan mengajari agar orang bertambah baik, malah menakut-takuti dengan neraka. Sedikit-sedikit bicaranya ini dosa, itu dosa, ini salah, itu salah. Hal yang demikian sangat tidak bijak. Akan lebih bermanfaat apabila ilmunya dipakai untuk pengarahan tentang yang baik dan buruk, dengan tetap mengingat kemampuan belajar orang banyak. Ada yang mampu menyerap banyak ilmu, ada yang cuma sedikit. Nah, disesuaikan saja sebatas kemampuan mereka. Terhadap hal-hal yang kurang sempurna, apabila tidak sangat urgen semoga Allah memaafkan. Ini lebih baik daripada hamtam krama ini salah, itu salah, yang malah berujung antipati. Dadi (sehingga) kawruhe (pengetahuannya) kinarya (hanya dipakai), ngupaya (mencari) kasil (harta) lan (dan) melik (pamrih). Sehingga pengetahuannya hanya dipakai untuk mencari harta dan meraih pamrih (kepentingan). Semestinya hal-hal di atas yang harus dilakukan oleh orang berilmu. Kalau ada orang berilmu justru membuat resah itu pantas dicurigai, jangan-jangan ketinggian ilmunya hanya untuk mencari sesuatu kepentingan pribadi. Misalnya mengancam-ngancam orang berharta yang tidak segera pergi haji atau umrah akan mendapat siksa, eh ujung-ujungnya dia mendirikan biro travel umrah. Mengancam orang-orang yang tidak bersedekah dengan siksa kubur, eh ujung-ujungnya membuat lembaga penampung sedekah, dan lain-lain. Jika ada, sekali lagi, jika ada yang demikian itu, dialah orang yang telah menjual agamanya dengan murah. Tak patut diikuti. 187 Kajian Wedatama (92): Melok Yen Arsa Muluk Bait ke-92, Pupuh Kinanthi, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV: Meloke yen arsa muluk, muluk ujare lir wali. Wola-wali ora nyata, anggepe pandhita luwih. Kaluwihane tan ana, kabeh tandha tandha sepi. Terjemahan dalam bahasa Indonesia: Terlihat jelas kalau hendak menguasai, perkataannya meninggi seperti (ujaran) wali. Namun berkali-kali (yang dikatankannya) tidak terwujud, menganggap diri sebagai pendeta yang mempunyai kelebihan. Kelebihannya tak ada, semua tanda-tanda (yang menunjukkan bahwa ia pendeta) tidak nampak. Kajian per kata: Meloke (terlihat nyata) yen (kalau) arsa (hendak) muluk (menguasai), muluk (terbang, meninggi) ujare (perkataannya) lir (seperti) wali (orang pintar agama). Terlihat jelas kalau hendak menguasai, perkataannya meninggi seperti (ujaran) wali. Bait ini masih melanjutkan bait sebelumnya yang menguraikan tentang perilaku tak baik dari seorang yang berilmu tinggi, sabodhag, tetapi mencari pamrih dan keuntungan untuk diri sendiri. Bait ini menguraikan lebih lanjut ciri-ciri manusia seperti itu. Maka hendaklah diperhatikan agar tidak terkecoh. Di sini ada susunan kata yang sangat apik. Dua kata muluk digunakan berdekatan dengan dua arti yang berbeda. Kata muluk pada gatra pertama berarti mengepal makanan untuk dimasukkan ke mulut, sebuah kiasan dari menguasai sesuatu untuk diri sendiri. Kata muluk pada gatra kedua berarti terbang, kiasan untuk sebuah perkataan yang membumbung tinggi ke langit, meninggalkan kenyataan. Kata yang lebih sederhananya adalah umuk, ngethupruk, ngethuprus, yakni banyak bicara yang besar-besar, yang tinggi-tinggi, yang belum tentu nyata terjadi. Yang dimaksud pada gatra di atas adalah tanda-tanda orang yang ingin menguasai sesuatu untuk diri sendiri, terlihat jelas dari perkataannya yang tinggi-tinggi di awang-awang seperti janji-janji atau harapan yang setinggi langit (muluk). Perkataannya sama sekali tidak berpijak pada kenyataan, seorang bodoh yang berlagak seperti wali (ahli agama, merujuk para wali pada jaman dulu, seperti wali sanga,dll) 188 Wola-wali (namun berkali-kali) ora (tidak) nyata (terwujud), anggepe (menganggap diri) pandhita (pendeta) luwih (lebih, hebat). Namun berkali-kali (yang dikatankannya) tidak terwujud, menganggap diri sebagai pendeta yang mempunyai kelebihan. Lagi-lagi kita menemui permainan kata yang indah, kali ini tentang kata wali. Pada gatra kedua kata wali dipakai untuk merujuk pada ahli agama pada jaman itu, sedangkan pada gatra ketiga kata wali dipakai sebagai kata majemuk wola-wali, yang artinya berkali-kali. Orang-orang yang hatinya sarat pamrih tersebut walau kelihatan pintar (karena bicaranya) atau memang pintar beneran (tapi keblinger oleh nafsu) berkali-kali perkataannya tak terwujud. Menyebar isu ini dan itu, tetapi ternyata hoax. Menduga ini dan itu tetapi ternyata tak didukung data akurat yang terpercaya. Walau demikian mereka sedemikian percaya diri menganggap diri mereka pendeta (atau ulama, orang berilmu agama) yang mempunyai kelebihan. Kata pandhita berarti pemuka agama lain, tetapi dalam serat Wedatama ini dipakai untuk menyebut seseorang yang menjalankan agama Islam dengan tekun dan berilmu tinggi. Hal ini sesuai konteks dan agama penggubah serat yang adalah beragama Islam. Jadi istilah pandhita adalah istilah pinjaman saja. Kaluwihane (kelebihannya) tan (tak) ana (ada), kabeh (semua) tandha tandha (pertanda) sepi (tak nampak). Kelebihannya tak ada, semua tanda-tanda (yang menunjukkan bahwa ia pandhita) tidak nampak. Jika ada orang yang mengaku-aku pintar, mengaku-aku ulama, mengaku-aku imam besar, maka perhatikan tanda-tanda dari pengakuan itu. Apakah orang yang mengaku-aku itu mempunyai tanda-tanda atau sifat-sifat dari yang diklaimnya itu? Apabila tidak terdapat tanda-tanda itu maka nyatalah bahwa dia seorang penipu. Hendaklah diri ini teliti agar tak dimanipulasi. 189 Kajian Wedatama (93): Kawruhe Mung Ana Wuwus Bait ke-93, Pupuh Kinanthi, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV: Kawruhe mung ana wuwus, wuwuse gumaib gaib. Kasliring thithik tan kena, mencereng alise gathik. Apa pandhita antiga, kang mangkono iku kaki. Terjemahan dalam bahasa Indonesia: Pengetahuannya hanya ada di perkataan, apa yang dikatankannya pun serba tak nampak. Disela sedikit tak mau, melotot alisnya tumbuk. Apakah pendeta palsu, yang demikian itu anakku? Kajian per kata: Bait ini masih melanjutkan uraian tentang orang-orang yang mengaku-aku pintar sebagaimana telah dikaji sebagian dalam bait ke-92. Kawruhe (pengetahuannya) mung (hanya) ana (ada di) wuwus (perkataan), wuwuse (apa yang dikatakannya pun) gumaib gaib (serba tak nampak). Pengetahuannya hanya ada di perkataan, apa yang dikatankannya pun serba tak nampak. Pengetahuannya hanya ada dalam perkataan, tidak tampak tanda-tandanya dalam pengamalan sehari-hari. Itu pun yang dikatakannya tentang yang ghaib-ghaib, yang serba tak nampak, serba tak dapat diklarifikasi untuk mengetahui kebenarannya, bersifat top secret sehingga hanya dia sendiri yang mengetahui, bersumber dari orang dalam yang tak mau disebut namanya, dll. Orang yang demikian ini pasti pernah Anda lihat bahkan di zaman kini, karena sifat manusia memang tak lekang oleh zaman. Terhadap orang seperti ini haruslah selalu waspada, berhati- hatilah sebelum mempercayainya, atau abaikan saja. Kasliring (disela) thithik (sedikit) tan (tak) kena (mau), mencereng (melotot) alise (alisnya) gathik (tumbuk). Disela sedikit tak mau, melotot alisnya tumbuk. Disela pembicaraannya sedikit saja tak mau, malah bersikap tak simpatik. Mencereng alise gathik, adalah ekspresi orang yang tak berkenan. Mimik ini ditandai dengan tertariknya otot pada alis, sehingga alisnya mengumpul (gathik), dahi berkerut, dan biasanya dipadu dengan mata melotot. Mimik orang yang setengah marah, atau sesaat sebelum marah. Maka hati- hatilah jangan sering berekspresi demikian, nanti dikira marah betulan lho.. 190 Umumnya yang bersikap demikian adalah orang yang merasa pintar, atau seorang senior kepada bawahan atau petinggi kepada pegawai rendahan. Ekpresi tidak berkenan ini memang tak enak dipandang, dan bikin jengkel yang melihat. Oleh karena itu orang-orang besar yang sudah melatih diri juga jarang terlihat dalam mimik yang demikian. Apa (apakah) pandhita (pandhita) antiga (palsu), kang (yang) mangkono (demikian) iku (itu) kaki (Nak). Apakah pandhita palsu, yang demikian itu anakku? Kalimat di atas seperti pertanyaan, tetapi sesungguhnya adalah penegasan. Memang demikianlah orang pintar yang palsu. Tidak mau jika ada yang menyanggah atau sekedar menyela, karena orang lain dianggap bodoh sehingga harus selalu mendengar saja. 191 Kajian Wedatama (94): Lakune Ngelmu Sejati Bait ke-94, Pupuh Kinanthi, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV: Mangka ta kang aran laku, lakune ngelmu sejati. Tan dahwen pati openan, tan panasten nora jahil. Tan njurungi ing kadurakan, amung eneng amrih ening. Terjemahan dalam bahasa Indonesia: Inilah yang disebut laku, pengamalan ilmu sejati. Yakni, tidak suka mencerca, tak suka memungut (berita buruk), tidak nyinyir (mempovokatori) dan tidak suka mengganggu orang lain. Tidak mendorong pada tindak kejahatan, hanya diam agar (hati) menjadi bening. Kajian per kata: Mangka ta (inilah) kang (yang) aran (disebut) laku (laku), lakune (pengamalan) ngelmu (ilmu) sejati (sejati). Inilah yang disebut laku, pengamalan ilmu sejati. Kita sudah mempelajari tentang ilmu sejati dalam bait-bait awal serat Wedatama ini, apa dan bagaimananya ilmu sejati itu sudah kita bahas secara panjang lebar. Sekarang tinggal pengamalannya dalam kehidupan sehari-hari sebagai buah dari ilmu yang baik. Karena sesungguhnya jenis pohon yang baik diketahui dari buahnya, maka ilmu sejati yang telah dipelajari tadi sudah benar jika melahirkan akhlak yang terpuji. Tan (tidak) dahwen (suka mencerca) pati openan (suka memungut), tan panasten (kedengkian) nora jahil. Yakni, tidak suka mencerca, tak suka memungut (berita buruk), tidak nyinyir (memprovokasi) dan tidak suka mengganggu orang lain. Dahwen adalah suka mencerca orang lain, suka mengungkap kesalahan orang lain. Pati open adalah perilaku yang rajin memungut berita tak baik yang didengar. Panasten adalah suka nyinyir kepada orang lain, memanas-manasi, memprovokasi. Jail (jahil) adalah sifat suka mengganggu orang lain Tan (tidak) njurungi (mendorong) ing (pada) kadurakan (tindak kejahatan), amung (hanya) eneng (diam) amrih (agar) ening (bening). Tidak mendorong pada tindak kejahatan, hanya diam agar (hati) menjadi bening. Sesungguhnya jiwa manusia ibarat bejana yang penuh air lumpur. Kecenderungan, hasrat angkara, seharusnya mengendap di dasar bejana. Namun adakalanya hasrat tersebut mubal, bergejolak sehingga muncul dalam perbuatan buruk. Maka hati menjadi kotor oleh aneka 192 perbuatan jahat yang dituruti. Jika sudah demikian hidup serasa tak berguna, lebih berharga selembar daun jati kering rasanya. Maka orang-orang yang sudah terdidik dan berlatih mengamalkan ilmu sejati tahu apa yang harus dilakukan. Mereka mencegah perbuatan jahat muncul dalam diri, seperti mencegahnya lumpur bergolak dalam bejana. Jika hati tidak terdorong oleh hasrat angkara, atau tidak mendorong orang lain dalam keangkaraan, maka perlahan kotoran hati akan mengendap dan hati menjadi besih. Ini mirip dengan air di bejana tadi, apabila kita tenang dan tidak bergerak-gerak, lumpur akan mengendap dan air menjadi bening. Sungguh ini adalah perumpamaan yang sangat tepat dalam menggambarkan keadaan dan sifat-sifat hati.

Kajian Wedhatama 85-89

Kajian Wedatama (85): Kekes Srabedaning Budi Bait ke-84, Pupuh Kinanthi, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV: Pangasahe sepi samun, aywa esah ing salami. Samangsa wis kawistara, lelandhepe mingis-mingis. Pasahe wukir reksamuka, kekes srabedaning budi. Terjemahan dalam bahasa Indonesia: Penajamannya dengan menyendiri di tempat sepi, jangan sampai putus selamanya. Apabila sudah terlihat (hasilnya), bagian tajamnya berkilat-kilat (tanda telah tajam). Dapat memotong gunung reksamuka, maka lenyaplah semua penghalang. Kajian per kata: Pangasahe (penajamannya) sepi (sepi) samun (samar), aywa (jangan) esah (putus) ing salami (selamanya). Penajamannya dengan menyendiri di tempat sepi, jangan sampai putus selamanya. Pada bait-bait awal serat Wedatama, terutama pada Pupuh Sinom sudah banyak dibahas tentang cara menajamkan rasa, yakni dengan cara menyepi. Di tempat sepi penglihatan menjadi tajam, seperti tajamnya penglihatan di kamar gelap. Hati menjadi peka terhadap mobah mosiking kahanan, awas terhadap marabahaya yang akan datang, eling terhadap potensi diri yang dapat terseret nafsu angkara. Ini adalah sebentuk latihan yang harus dilakukan terus menerus, jangan sampai terputus sepanjang hidup. Seperti pemain bola profesional, walau sudah sangat mahir tetap harus latihan, kalau tidak kemampuan bisa menghilang, refleks tubuh bisa melemah, kecepatan dan akurasi menurun. Samangsa (apabila) wis (sudah) kawistara (terlihat), lelandhepe (ujungnya, mata) mingis- mingis (berkilat-kilat). Apabila sudah terlihat (hasilnya), bagian tajamnya berkilat-kilat (tanda telah tajam). Apabila sudah terlihat hasil dari latihan menajamkan budi tersebut maka akan terlihat bagian tajamnya mingis-mingis. Mingis-mingis adalah kata yang sering dipakai untuk menyebut keadaan mata pisau atau pedang yang selesai diasah, terlihat putih berkilat-kilat. Kesan tajamnya sudah terlihat dari pandangan sekilas. Seperti itulah perumpamaan akal budi yang diasah menjadi tajam sekali, mingis-mingis. Pasah (dapat memotong) wukir (gunung) reksamuka (penghalang), kekes (lenyap) srabedaning (semua penghalang) budi (budi). Dapat memotong gunung reksamuka, maka lenyaplah semua penghalang. Pasah artinya tedhas, mampu memangkas, mampu memotong, tidak tumpul atau patah ketika dipakai untuk memotong, dapat diandalkan. Reksamuka adalah nama gunung dalam pewayangan yang medannya penuh rintangan. Srabeda, kabeh rubeda, semua rintangan. Ini kiasan bahwa tajamnya akal budi yang sudah diasah tadi bahkan mampu memotong rintangan sebesar gunung. Maka lenyapnyah, hancurlah segala penghalang kehidupan. Kajian Wedatama (86): Wisesaaning Hyang Tunggal Bait ke-86, Pupuh Kinanthi, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV: Dene awas tegesipun, weruh warananing urip, miwah wisesaning tunggal. Kang atunggil rina wengi, kang mukitan ing sakarsa, gumelar ngalam sakalir Terjemahan dalam bahasa Indonesia: Adapun awas maknanya, mengetahu penghalang (hijab) kehidupan, serta adanya kekuasaan Yang Satu. Yang selalu bersatu di siang dan malam, dan yang meluluskan segala kehendak, seluruh alam seisinya. Kajian per kata: Dene (adapun) awas (awas) tegesipun (maknanya), weruh (mengetahui) warananing (penghalang) urip (kehidupan), miwah (serta) wisesaning (kekuasaan) tunggal (yang satu). Adapun awas maknanya, mengetahui penghalang (hijab) kehidupan, serta adanya kekuasaan Yang Satu. Warana adalah kain atau partisi atau apapun yang dipakai untuk menutupi sesuatu agar tak terlihat. Warananing urip yang dimaksud adalah hijab Allah, penghalang antara makhluk dan Tuhan. Mengapa Tuhan bersembunyi di balik tabir? Karena Dia adalah Dzat Yang Maha Indah, sehingga tak semua mahklukNya akan mampu memandangNya dengan mata telanjang. Hanya orang-orang yang sudah membersihkan diri dari nafsu angkara yang dapat “melihat”-Nya. Inilah rahasia ketuhanan yang mesti dicari manusia. di balik semua ini ada hikmat yang tersembunyi. Manakala Wujud Tuhan tampak nyata niscaya semua mahkluk akan terbakar oleh keagunganNya. Ini justru tidak baik. Hikmah penciptakan mengharuskan seseorang berlatih sedikit demi sedikit secata bertahap hingga dapat melihat kebenaran abadi, Al Haq, mulai dari ‘ilmul yaqin, ainul yaqin sampai haqqul yakin. Tahap-tahap pendakian wujud itu telah disediakan oleh Yang Maha Tahu, dengan mengutus para utusan (Rasul) dan memberi contoh melalui hidup para Nabi dengan syariat yang bertahap pula. Mulai dari syariat yang sederhama sejak Kanjeng Nabi Adam sampai syariat yang sempurna di jaman Kanjeng Nabi Muhammad. Agar manusia dapat belajar sedikit demi sedikit pula, hingga tidak kemlekeren, gumoh dan akhirnya malah gagal total. Siapapun yang telah menempuh jalan pendakian wujud ini dengan pandangan yang awas, teliti dan selalu ingat watak-wantunya sendiri, akan dapat menangkap rahasia di balik tabir, bahwa sang dalang dari setiap kejadian adalah Allah Yang Maha Suci lagi Maha Tinggi semata-mata. Kang (yang) atunggil (selalu bersatu) rina (siang) wengi (malam), kang (yang) mukitan (meluluskan) ing sakarsa (segala kehendak), gumelar(terhampar) ngalam (alam) sakalir (seisinya). Yang selalu bersatu di siang dan malam, dan yang meluluskan segala kehendak seluruh alam seisinya. Dialah Allah yang selalu mengurus makhluknya di siang dan malam, tak sedetikpun meninggalkannya. Dia senantiasa menangani segala urusan. Meluluskan segala pengharapan, menampung segala kehendak, mengabulkan segala doa, menggenapkan segala kekurangan, mengarahkan yang terbaik untuk makhluknya. Dia berada di dekat kita semua, lebih dekat dari urat leher kita sendiri. Dia senantiasa dalam keadaan peduli, menjaga, memberi petunjuk, dan menerangi jalan kemuliaan. Namun Dia tidak memaksakan segala sesuatu disebabkan karena kehendak bebas yang telah Dia janjikan kepada manusia, sebagai batu ujiaan bagi manusia apakah sebentuk ketaatan manusia padaNya merupakan sebuah tindakan sukarela atau terpaksa. Bagi yang menurut kehendak dan titahNya dengan sukarela akan diberikan ganjaran yang agung berupa surga. Bagi yang menurut dengan terpaksa akan diberikan hukuman dengan dibuka tabir rahasia, sehingga mereka akan menyesal dan berkata, “Lhoh kok ngono!” Penyesalan itu dipersonifikasi dalam bentuk neraka, tempat manusia durjana akan tercebur di dalamnya. Kajian Wedatama (87): Den Sembadeng Sedya Bait ke-87, Pupuh Kinanthi, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV: Aywa sembrana ing kalbu, wawasen wuwuse sireki. Ing kono yekti karasa, dudu ucape pribadi. Marma den sembadeng sedya, wewesen praptaning uwis. Terjemahan dalam bahasa Indonesia: Janganlah ceroboh dalam kalbu (hati), perhatikanlah kata (hati)mu. Di situ akan benar-benar terasa, bahwa yang disuarakan bukanlah ucapan pribadi. Maka dari itu hendaklah dituruti niat (yang terbersit) itu, paksakan sampai datangnya akhir (kehidupan). Kajian per kata: Aywa (jangan) sembrana (ceroboh) ing (dalam) kalbu (hati), wawasen (lihatlah, perhatikanlah) wuwuse (perkataan) sireki (engkau). Janganlah ceroboh dalam kalbu (hati), perhatikanlah kata (hati)mu. Dua bait sebelumnya berbicara tentang latihan untuk menajamkan akal budi, membuka tirai kegaiban, menyingkirkan hijab Allah sehingga tampaknya yang Haq, atau kasunyatan. Jika latihan sudah berhasil maka hati menjadi sangat peka terhadap tanda-tanda keagungan Allah. Di sini yang berperan kemudian adalah hati, rasa, akal budi, yang sanggup menerima “bisikan ghaib” dari langit, semacam ilham atau pencerahan. Maka hati yang sudah terhubung dengan kebenaran langit tadi bagaikan bersinar, kita sering mendengar istilah itu dalam kehidupan sehari-hari, yakni hati nurani. Sesungguhnya konsep hati nurani ini bukan hal yang asing karena kita sudah sering mendengarnya dalam perckapan orang awam sekalipun. Tetapi apa dan bagaimananya banyak dari kita yang belum begitu paham. Hati nurani ini akan menangkap kebenaran sejati manakala seseorang mengasah kemampuan akal budinya dengan cara yang telah diuraikan pada banyak kesempatan di kajian ini. Namun apabila seseorang cenderung pada kejahatan hati nurani ini akan padam dan tidak peka dalam menangkap kebenaran. Oleh karena itu kita mesti berhati-hati, tidak boleh ceroboh dalam mendengarkan bisikannya. Lihatlah dengan seksama (wawasen), apa yang dikatakan hati nuranimu! Ing (di) kono (situ) yekti (benar-benar) karasa (terasa), dudu (bukan) ucape (ucapannya) pribadi (sendiri). Di situ akan benar-benar terasa, bahwa yang disuarakan bukanlah ucapan pribadi. Jika latihan kita benar-benar berhasil, akan terlihat jelas bahwa apa yang disuarakan hati nurani bukanlah ucapan kita pribadi, tetapi bisikan Tuhan yang halus, sebagai pengingat manusia agar tak tersesat. Hati nurani yang terasah baik tidak akan menjadi bisikan palsu, yang sejatinya adalah bisikan nafsu rendah yang dibungkus kesalehan. Untuk membedakannya cukuplah dengan melihat pada diri sendiri apakah dalam kehidupan sehari- hari sudah bisa mengendalikan nafsu angkara yang timbul dari keinginan diri? Jika belum maka perbaikilah cara kita hidup agar hati nurani bersinar kembali. Marma (maka dari itu) den (hendaklah) sembadeng (turutilah) sedya (niat itu), wewesen (paksakan sampai) praptaning (datangnya) uwis (akhir). Maka dari itu hendaklah dituruti niat (yang terbersit) itu, paksakan sampai datangnya akhir (kehidupan). Gatra ini berisi petuah agar kita selalu menuruti kehendak hati nurani tadi dalam kehidupan sehari-hari. Kata sembada di sini bermakna menuruti dengan sentausa, dengan kekuatan, dengan pilihan yang mantap, tidak ragu-ragu. Jika masih agak-agak ragu paksakan untuk menuruti itu sampai datangnya akhir kehidupan, artinya sampai selesainya masa kita di dunia ini. Kami ringkaskan dalam satu paragraf agar menjadi simpulan: Hendaknya engkau tidak ceroboh dalam mendengarkan kata hati. Perhatikan dengan seksama agar kata hatimu menyuarakan sesuatu yang bukan kepentinganmu pribadi, bukan bias nafsumu. Jika sudah demikian, hendaklah engkau turuti dengan kekuatan, singkirkan keraguan, paksakan dirimu untuk mengikutinya sampai akhir hidupmu! Kajian Wedatama (88): Dalaning Kasidan Bait ke-88, Pupuh Kinanthi, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV: Sirnakna semanging kalbu, den waspada ing pangeksi. Yeku dalaning kasidan. Sinuda saka sethithik, pamothahing nafsu hawa. Linalantih mamarih titih. Terjemahan dalam bahasa Indonesia: Hilangkan keragu-raguan hati, waspadalah dengan pandanganmu. Itulah jalan keselamatan abadi. Dikurangi dari sedikit, keinginan hawa nafsu. Dibiasakan agar (diri) menjadi unggul. Kajian per kata: Sirnakna (hilangkan) semanging (keragu-raguan) kalbu (hati), den waspada (waspadalah) ing (terhadap) pangeksi (pandanganmu). Yeku (itulah) dalaning (jalan) kasidan (keselamatan abadi). Hilangkan keragu-raguan hati, waspadalah dengan pandanganmu. Itulah jalan keselamatan abadi. Bait sebelumnya berisi anjuran untuk memaksakan diri agar mengikuti apa kata hati nurani. Bait ke-88 ini berisi anjuran agar kita menghilangkan segala keragu-raguan dalam hati (semanging kalbu). Ada kalanya kita dalam melakukan sesuatu harus diawali dengan perang batin yang hebat di dada. Antara mengikuti pertimbangan hati dan kehendak diri. Nah yang demikian ini haruslah dihilangkan, karena itu merupakan tanda bahwa diri kita belum tunduk pada kebenaran. Suara hati nurani adalah tetap menjadi prioritas di sepanjang waktu. Maka kita harus mempertajan akal budi kita, agar pandangan kita terhadap segala seuatu menjadi awas (den waspada ing pangeksi). Jika sudah demikian, mengikuti hati nurani pastilah menjadi jaminan bahwa diri kita sudah menuju ke arah yang benar. Karena seperti yang sudah kita ketahui bersama akal budi yang terasah tajam akan membuat hati kita bening laksana cermin, sehingga kebenaran pun terpantul di sana dengan jelas, tiada keraguan lagi. Jika kita sudah bisa melaksanakan ini, itulah jalan keselamatan yang sejati. Kata kasidan bersinonim dengan lestantun, lestari, artinya keselamatan yang terus-menerus, atau abadi. Orang Jawa sering menyebut mati sebagai murud ing kasidan jati, mundur ke alam keselamatan sejati. Tentu saja bila yang bersangkutan baik amalnya selama di dunia. Sinuda (dikurangi) saka (dari) sethithik (sedikit), pamothahing (keinginan) nafsu hawa (hawa nafsu). Linalantih (dibiasakan) mamarih (agar) titih (unggul, sempurna). Dikurangi dari sedikit, keinginan hawa nafsu. Dibiasakan agar (diri) menjadi unggul. Cara agar kita dapat menghilangkan keragu-raguan hati tersebut adalah dengan mengurangi sedikit demi sedikit keinginan hawa nafsu. Karena sesungguhnya manusia dalam keadaan yang lemah tentang diri sendiri. Belajar berjalan, hidup mandiri pun sulit bagi manusia. Tidak seperti anak ayam, atau kambing yang sudah bisa berjalan di hari pertama kelahirannya, manusia memerlukan waktu yang lama untuk itu. Apalagi untuk mengasah akal budi agar tajam dan mampu menangkap kebenaran, diperlukan waktu yang panjang dan kehendak yang kuat. Hal ini hendaknya dibiasakan sejak dini, agar kelak diri kita menjadi manusia yang unggul (titih), yang menang dari godaan hawa nafsu. Kajian Wedatama (89) Sambekala Den Kaliling Bait ke-89, Pupuh Kinanthi, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV: Aywa mematuh nalutuh, tanpa tuwas tanpa kasil, kasalibuk ing srabeda. Marma dipun ngati-ati, urip keh rencananira, sambekala den kaliling Terjemahan dalam bahasa Indonesia: Jangan membiasakan diri berbuat kotor, itu tidak ada pahalanya dan tak ada hasilnya, (justru) akan membuat diri terjerat oleh banyak rintangan. Oleh karena itu harap berhati-hati, dalam hidup banyak rencana-rencanamu, segala halangan hendaklah dilihat dengan cermat. Kajian per kata: Aywa (jangan) mematuh (membiasakan diri) nalutuh (berbuat kotor), tanpa (tanpa) tuwas (buah, pahala, bayaran) tanpa (tanpa) kasil (hasil), kasalibuk (terjerat) ing (oleh) srabeda (banyak rintangan). Jangan membiasakan diri berbuat kotor, itu tidak ada pahalanya dan tak ada hasilnya, (justru) akan membuat diri terjerat oleh banyak rintangan. Jangan membiasakan diri berbuat kotor. Nalutuh adalah mengeluarkan tlutuh (getah), maksudnya berbuat yang tidak menyenangkan orang. Hal itu tidak ada pahalanya, dan tak ada hasilnya. Tuwas atau pituwas adalah buah dari perbuatan (yang berkonotasi baik), bisa berarti pahala (ganjaran) atau bayaran. Kasil atau asil adalah perolehan yang diakibatkan oleh suatu perbuatan, biasanya berupa materi. Kedua hal itu tak akan kita peroleh dari pebuatan kotor, perbuatan yang tidak menyenangkan orang. Justru yang akan kita peroleh adalah banyak masalah, satu persatu akibat dari perbuatan tersebut akan membuat kita terjerat (kasalibuk) dalam banyak rintangan hidup (srabeda). Tetapi mengapa seseorang bisa melakukan perbuatan tercela atau kotor itu? Sekali lagi inilah hasil dari hawa nafsu yang tidak didisiplinkan. Tidak dijaga dalam batas yang sewajarnya. Sekali hawa nafsu diperturutkan akan mengajak bala tentaranya, yakni segala sifat buruk bersarang di dalam hati, dan outputnya adalah perbuatan tercela. Marma (oleh karena itu) dipun (harap) ngati-ati (berhati-hati), urip (hidup) keh (banyak) rencananira (rencana-rencanamu), sambekala (segala halangan) den (harap) kaliling (dilihat dengan cermat). Oleh karena itu harap berhati-hati, dalam hidup banyak rencana- rencanamu, segala halangan hendaklah dilihat dengan cermat. Oleh karena akibat perbuatan buruk tadi akan membuat kita banyak halangan, maka kita harus berhati-hati dalam merencanakan hidup. Apa saja halangan yang mungkin timbul, yang bisa terjadi akibat perbuatan kita sendiri di masa lalu. Misalnya seseorang yang mau mencalonkan gubernur, eh kok tiba-tiba gagal karena ternyata dahulu pernah memalsukan umur ketika melamar pekerjaan. Pada waktu melamar pekerjaan tidak terbersit sedikitpun kekhawatiran kalau perbuatan curangnya yang hanya sepele itu akan membuat dirinya tersandung kelak, lha wong dia juga tidak mengira kalau bakal ada kesempatan maju sebagai calon gubernur. Tetapi begitulah yang terjadi kadang kesempatan kita menjadi sempit karena di masa lalu pernah melakukan sesuatu yang tidak baik. Maka alangkah baiknya jika kita mulai menjaga diri dengan sungguh-sungguh agar tak terpaksa berbuat curang, siapa tahu kelak kita mendapat kesempatan bagus dalam hidup ini sehingga modal moral kita cukup untuk mengemban setiap tugas. Selain hal di atas, sebaiknya kita mengenali dulu halangan-halangan apa saja yang mungkin kita temui sebelum membuat rencana-rencana. Sambekala adalah segala sesuatu yang bisa membuat kita terganggu dalam mewujudkan suatu rencana. Itu bisa banyak hal, yang diuraikan di atas adalah salah satunya. Selain itu halangan dan rintangan juga bisa datang dari banyak pihak luar, lingkungan atau orang lain. Kaliling adalah melihat dengan jelas dari dekat. Ada istilah ngliling bayi, yakni melihat dengan adu pandangan agar sang bayi bisa melihat kita dengan jelas sehingga tertawa atau berhenti nangis. Sambekala den kaliling, artinya melihat potensi halangan dengan cermat sedetail-detailnya agar semua potensi yang merintangi rencana itu dapat diketahui.

Kajian Wredhatama 80-84

Kajian Wedatama (80): Aywa Samar Aliru Wujud Bait ke-80, Pupuh Gambuh Lanjutan, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV: Putih lan kuningipun, lamun arsa titah tekan mangsul. Dene nora mantra mantra yen ing lair, bisa aliru wujud. Kadadeyane ing kono. Terjemahan dalam bahasa Indonesia: Bagian putih dan kuningnya (telur), kalau akan menetas menjadi terbalik. Sungguh tidak ada tanda-tanda, (sungguh tak disangka-sangka) kalau waktu lahir, bisa berganti wujud. (Perhatikanlah) kejadiannya seperti itu. Kajian per kata: Putih (bagian putih) lan (dan) kuningipun (kuningnya), lamun (kalau) arsa (akan) titah (menetas) tekan (sampai) mangsul (berbalik). Bagian putih dan kuningnya (telur) kalau akan menetas menjadi terbalik. Bait ini menyoroti fenomena menetasnya telur ayam. Sebelum dierami induknya telur adalah bahan makanan yang lezat dan kaya gizi. Ada bagian kuning di tengah yang di selimuti bagian putih. Setelah dierami induk ayam telur menjadi semakin buram, memerah karena ada sirkulasi darah dalam serabut pembuluh yang muncul. Lama kelamaan pembuluh itu membesar dan muncul tampungan agak besar, itulah jantung ayam. Setelah jantung terbentuklah bakal kepala, sebuah bulatan samar tampak duluan, itulah yang akan menjadi mata. Otak terbentuk dalam tiga belahan dalam bentuk yang belum terlindung tulang tengkorak. Organ lain mulai terbentuk, paruh, sayap, kaki dan mulai keluar bulu-bulu halus. Pada tahap ini bagian putih telur yang berada di luar hampir habis, sedangkan bagian kuning teluar masih tampak besar. Inilah mungkin yang dimaksud penggubah serat Wedatama ini sebagai keadaan tekan mangsul, terbalik. Dari yang tadinya berada di dalam sekarang kelihatan di luar. Dene (Sungguh) nora (tidak) mantra mantra (tanda-tanda, menyangka) yen (kalau) ing (pada waktu) lair (menetas), bisa (bisa) aliru (berganti) wujud (wujud). Sungguh tidak ada tanda-tanda, (sungguh tak disangka-sangka) kalau waktu lahir bisa berganti wujud. Inilah yang pada bait ke-78, Widadaning Budi Sadu, disebut sebagai liru nggon. Pada bait ini ditegaskan maksudnya sebagai aliru wujud. Yakni bergantinya wujud yang satu menjadi wujud yang lain dalam waktu singkat, seolah bertukar tempat saja antara fenomena yang satu dengan yang lain (aliru nggon). Hal-hal sperti ini bisa membuat kita terkecoh jika belum memahami kenyataan yang sejati. Kami beberapa kali menyebut hal ini sebagai lompatan realitas. Mengapa kami sebut lompatan? Karena sesungguhnya ada ketidak runtutan peristiwa, seolah ada bagian proses panjang yang dihilangkan, dan tiba-tiba sesuatu memperoleh wujudnya yang baru. Mari kita perhatikan kejadian menetasnya telur tadi. Sebelum dierami jika kita membelah telur itu hanya akan kita dapati segumpal kuning yang diselaputi cairan kental berwarna putih. Tidak ada tanda-tanda kehidupan di sana. Tetapi setelah dierami hanya dalam waktu 21 hari telur sudah menjadi seekor anak ayam yang bisa berlarian ke sana ke mari mencari makan sendiri. Sebuah makhluk hidup tingkat tinggi lahir dalam waktu singkat sekali. Bandingkan dengan proses tumbuhnya rumput di halaman. Sangat jauh kan? Ini tidak akan terjadi tanpa campur tangan Sang Pencipta yang memendekkan prosesnya. Oleh karena itu kami sebut sebagai lompatan realitas. Kadadeyane (kejadiannya) ing (di) kono (situ). (Perhatikanlah) kejadiannya seperti itu. Perhatikanlah kejadian seperti itu adalah tanda-tanda kekuasaan Allah. Orang jaman dahulu akan menganggap fenomena ajaib ini sebagai wilayah kekuasaan Tuhan semata. Ketika ilmu pengetahuan menyingkap rahasianya serta merta mereka menyingkirkan Tuhan dan berkata, “Oh Cuma gitu aja!” Tetapi bagi seorang yang sudah terbuka baginya tabir Hijabullah, terbukanya rahasia alam adalah penegas keagungan Allah, Sang Pengatur alam sakalir. Kajian Wedatama (81): Aja Kongsi Kabasturon Bait ke-81, Pupuh Gambuh Lanjutan, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV: Istingarah tan metu, lawan istingarah tan lumebu, dene ing njero wekasane dadi njawi. Rasakna kang tuwajuh, Aja kongsi kabasturon Terjemahan dalam bahasa Indonesia: Dipastikan tak keluar, dan dipastikan tak masuk, adapun (kenyataanya) yang di dalam akhirnya menjadi di luar. Rasakan dengan seksama, jangan sampai lalai. Kajian per kata: Istingarah (dipastikan) tan (tak) metu (keluar), lawan (dan) istingarah (dipastikan) tan (tak) lumebu (masuk), dene (adapun) ing (yang) njero (di dalam) wekasane (akhirnya) dadi (menjadi) njawi (di luar). Dipastikan tak keluar dan dipastikan tak masuk, adapun (kenyataanya) yang di dalam akhirnya menjadi di luar. Masih tentang pengamatan terhadap proses menetasnya telur tadi. Semua sudah dipastikan bahwa kedua elemen, putih dan kuning tadi terpisah letaknya, dengan posisi masing-masing. Sekilas tampak mustahil keduanya akan tertukar, tetapi kemudian ternyata bertukar tempat dengan sendirinya. Ini pertanda dalam terjadinya anak ayam yang berproses amat singkat, terdapat campur tangan Tuhan di dalamnya. Fenomena alam seperti ini banyak terjadi, dan memerlukan pengamatan yang mendalam. Demikian juga yang terjadi pada hukum-hukum sosial dan sejarah. Ada banyak golongan, maupun individu yang posisinya saling dipertukarkan. Yang tadinya berkuasa dan menguasai atas sebagian lain, kelak bisa saja berganti posisi sebagai yang tertindas. Yang semula menjadi warga pingggiran suatu saat dapat berkuasa. Walau dilihat sepintas seperti tak masuk akal, hukum-hukum sejarah juga berlaku atas umat manusia. Pergantian peran dan posisi senantiasa mewarnai pergerakan politik, ekonomi dan sosial. Telah banyak bangsa-bangsa kuat menjadi runtuh dan digantikan oleh kekuatan yang muncul tiba-tiba. Majapahit jatuh digantikan Demak yang tadinya belum ada. Demak surut diganti Pajang yang semula wilayah bawahan. Ketika Pajang telah menemui masa-nya, Mataram yang tadinya hanyalah tanah hadiah menyeruak ke panggung kekuasaan. Rasakna (rasakan) kang (yang) tuwajuh (seksama, sungguh-sungguh), aja (jangan) kongsi (sampai) kobasturon (alpa, lalai). Rasakan dengan seksama, jangan sampai lalai. Itulah sunatullah, hukum alam yang berlaku tetap sepanjang masa. Bagi orang-orang yang telah mengetahui wekasing dumados, hal tersebut tidak menjadi sebab dari kelalaian atas hukum-hukum Tuhan yang berlaku di alam. Malah dengan pengamatan yang seksama mereka dapat menyesuaikan diri dan mengambil sikap yang tepat, tidak kentir ing obyaking swasana. Kita cukupkan kajian bait ini. Kelak apa yang telah kita pelajari selama ini akan kita pakai untuk bekal berbuat yang lebih bagi kemanusiaan, atau memayu hayuning bawana. Kajian Wedatama (82): Kajantaka Tumekeng Saumur Bait ke-82, Pupuh Gambuh Lanjutan, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV: Karana yen kebanjur, kajantaka tumekeng saumur. Tanpa tuwas yen tiwasa ing dumadi. Dadi wong ina tan weruh. Dheweke den anggep dhayoh. Terjemahan dalam bahasa Indonesia: Karena kalau sudah terlanjur, akan sengsara sampai di akhir usia. Tanpa pahala kalau kelak sudah mati sebagai sifat dari semua makhluk. Menjadi orang hina yang tak tahu. Dirinya dianggap tamu. Kajian per kata: Karana (karena) yen (kalau) kebanjur (telanjur), kajantaka (akan sengsara) tumekeng (sampai) saumur (akhir hayat). Karena kalau sudah terlanjur, akan sengsara sampai di akhir usia. Kabanjur yang dimaksud adalah lalai dalam mengamati tanda-tanda alam, seperti yang telah diuraikan dalam bait ke-81, Aja Kongsi Kabasturon. Jika lalai dalam mengamati tanda-tanda alam akan menjadi orang yang sengsara sampai akhir hayat. Akan menjadi orang yang tidak tanggap terhadap tanda-tanda jaman, tidak akan mendapat hikmat dari setiap kejadian. Akibatnya dia gagal memahami Sang Pencipta. Kesengsaraan apa lagi yang lebih dahsyat dari itu? Tanpa (tanpa) tuwas (pahala, buah) yen (kalau) tiwasa (mati) ing (ketika) dumadi (makhluk). Tanpa pahala kalau kelak sudah mati sebagai sifat dari semua makhluk. Tuwas menurut kamus Jawa Poerwadarminta berarti bêbungah minangka wohing kangelan, pahala sebagai buah dari jerih payah melakukan suatu perbuatan. Jadi orang yang tidak memahami atau lalai dari ayat-ayat Allah di alam laksana orang yang gabug (kosong) amalnya. Kelak di akhirat dia akan mendapati semua jerih payahnya sia-sia. Sama halnya dengan orang-orang yang mengingkari ayat Allah yang berupa wahyu (al Quran) akan menjadi kafir dan tertolak amalnya, orang yang lalai dari ayat Allah di alam akan mendapati dirinya dalam kerugian karena amalnya kosong. Dadi (menjadi) wong (orang) ina (hina) tan (tak) weruh (tahu). Menjadi orang hina yang tak tahu. Dia menjadi orang yang tak tahu apa-apa, bingung dengan apa yang dilihat. Bertanya-tanya mengapa menjadi begini? Mengapa menjadi begitu? Dia menjadi asing karena apa yang diyakininya dahulu tenyata berbeda dengan kenyataan yang dihadapi kini. Dheweke (dirinya) den (di) anggep (anggap) dhayoh (tamu). Dirinya dianggap tamu. Karena terasing dengan alam akhirat itulah, dia merasa menjadi seperti tamu. Kematian yang seharusnya berarti pulang ke rumah sejati yang dirindukannya, tempat dia akan merasa damai selamanya, tempat yang selalu diimpikan selama pengembaraannya di dunia ini, tetapi yang didapati adalah tempat yang asing. Sungguh dia telah berada dalam kerugian yang nyata. Wallahu a’lam. Bait ini adalah akhir dari Pupuh Gambuh Lanjutan, selanjutnya akan masuk ke Pupuh Kinanthi yang merupakan pupuh terakhir dari serat Wedatama.   PUPUH KINANTHI Kajian Wedatama (83): Awas Eling, Pangreksaning Urip Bait ke-83, Pupuh Kinanthi, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV: Mangka kanthining tumuwuh, salami mung awas eling. Eling lukitaning alam, dadi wiryaning dumadi. Supadi nir ing sangsaya, Yeku pangreksaning urip, Terjemahan dalam bahasa Indonesia: Padahal yang harus selalu menyertai orang hidup, selamanya hanya waspada dan ingat. Ingat ketetapan hukum alam, agar menjadi makhluk yang luhur. Supaya terbebas dari kesengsaraan, itulah penjagaan hidup (diri). Kajian per kata: Mangka (padahal) kanthining (yang harus selalu menyertai) tumuwuh (orang hidup), salami (selamanya) mung (hanya) awas (waspada) eling (ingat). Padahal yang harus selalu menyertai orang hidup, selamanya hanya waspada dan ingat. Bait ini merupakan kelanjutan dari bait sebelumnya yang menyoroti orang yang lalai terhadap hukum alam. Mereka akan menderita kesengsaraan di dunia dan akhirat karena tak mampu membaca pergantian wujud dari satu keadaan kepada keadaan yang lain. Bait ini menguraikan agar jangan sampai lalai dalam memahami hukum alam. Karena sesuatu yang harus selalu menyertai orang yang hidup di dunia ini, sejak dahulu sampai nanti hanya waspada dan ingat. Jika seseorang tidak meninggalkan dua hal itu berkaitan dengan mobah mosiking kahanan, maka akan mampu bersikap yang tepat, sikap yang akan menyelamatkannya dari fitnah dunia. Eling (ingat) lukitaning (tegaknya, teguhnya) alam (hukum alam), dadi (menjadi) wiryaning (luhur) dumadi (makhluk). Ingat ketetapan hukum alam, agar menjadi makhluk yang luhur. Hendaknya selalu mengingat tegaknya hukum alam yang berlakunya pasti kepada setiap makhluk. Sudah menjadi ketentuan Allah jika seseorang yang memegang kekuasaan akan cenderung korup, ini kecenderungan watak manusia yang sudah menjadi sunatullah. Orang yang tak mempercayai hukum moral ini akan lalai dari menjaga diri, terlena oleh kemewahan dan hak istimewa yang diperoleh selama memegang kekuasaan. Akhirnya tergoda untuk mengumpulkan harta benda dengan cara tercela. Lain lagi bagi orang yang sudah mengetahui sifat-sifat manusia manakala menggenggam kekuasaan. Dia sadar bahwa kuasa dan angkara cenderung menyatu dalam satu jiwa, maka dia waspada. Siang malam mengingat itu dan mempertebal keimanan agar tak tergoda. Di akhir kuasa dia selamat, dia berhasil menahan diri dari sikap melampaui batas dan memperturutkan nafsu. Itulah keluhuran (wirya) yang dimaksud dalam gatra ini Supadi (supaya) nir (bebas) ing (dari) sangsaya (sengsara), yeku (itulah) pangreksaning (penjagaan) urip (hidup). Supaya terbebas dari kesengsaraan, itulah penjagaan hidup (diri). Orang yang waspada dan ingat tadi akan selalu berupaya untuk bebas dari kesengsaraan akibat lalainya dia akan berlakunya hukum alam. Maka dia berupaya keras agar terhindar dari itu semua. Itulah yang namanya penjagaan diri, agar hidupnya terjaga sampai kelak di akhir hayat. Sesudah selesai masanya di dunia dia akan memperoleh pituwas yang pantas, buah dari jerih payahnya melawan nafsu angkara. Kajian Wedatama (84): Bengkas Kahardaning Driya Bait ke-84, Pupuh Kinanthi, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV: Marma den taberi kulup, angulah lantiping ati. Rina wengi den anedya, pandak panduking pambudi. Bengkas kahardaning driya, supaya dadya utami. Terjemahan dalam bahasa Indonesia: Oleh karena itu, anakku, berlatihlah menajamkan perasaan. Siang dan malam berusahalah, tetap tertuju pada olah pemuliaan diri. Menghancurkan hasrat angkara di dalam hati, agar menjadi (manusia) utama. Kajian per kata: Marma (oleh karena itu) den taberi (rajinlah) kulub (anankku), angulah (berlatih) lantiping (menajamkan) ati (hati, perasaan). Oleh karena itu, anakku, berlatihlah menajamkan perasaan. Sesudah kita tahu bahwa hanya awas dan eling yang membuat kita selamat di dunia sampai akhir hayat, maka hendaknya kita rajin (taberi) mengolah ketajaman rasa. Agar segala tanda- tanda atau sasmitaning alam dapat kita tangkap dengan mata batin yang jernih, melok sehingga dapat kita puluk dengan haqul yakin. Melok artinya kelihatan cetha wela-wela, tampak jelas sekali. Puluk artinya dapat kita genggam dengan seyakin-yakinnya, laksana gumpalan nasi di piring waktu kita makan dengan tangan. Rina (siang) wengi (malam) den anedya (berusahalah), pandak (tetap) panduking (tertuju) pambudi (meningkatkan budi, pemuliaan diri). Siang dan malam berusahalah tetap tertuju pada olah pemuliaan diri. Agar kita mencapai penglihatan yang awas tadi, kita mesti berusaha keras dengan memantapkan kehendak (anedya), segala asa mesti tetap tertuju pada pemuliaan akal budi. Atau dalam istilah yang keren, memasah mingising budi. Mingis-mingis adalah kondisi senjata yang amat tajam, berkilauan ujungnya tanda baru saja diasah. Inilah keadaan yang mesti menjadi tujuan kita setiap saat, hati yang setajam....silet! Bengkas (menghancurkan) kahardaning (hasrat angkara) driya (dalam hati), supaya (agar) dadya (menjadi) utami (utama). Menghancurkan hasrat angkara di dalam hati, agar menjadi (manusia) utama.  Mengapa hati kita harus tajam? Karena diperlukan untuk membedah hasrat angkara (kahardaning driya) yang bersemayam dalam hati. Seperti yang telah kami sampaikan dalam bait yang lalu, bahwa orang yang mampu mencapai derajat keluhuran hanyalah orang yang selalu awas dan eling. Kata awas di sini lebih banyak justru ditujukan pada diri sendiri, kepada hasrat yang melebihi takaran yang tertanam dalam di hati. Harda adalah hasrat yang meluap-luap untuk segera disalurkan, dan ini berlebihan. Jika kita sedikit saja lalai dan memberi angin segar, harda bangkit menjadi angkara gung dan menguasai nurani, sebelum akhirnya membelenggu tangan dan kaki, serta mengarahkannya ke tindak tercela. Oleh karena itu ketajaman hati diperlukan agar dapat menghancurkan hasrat rendah di dalam diri, supaya hidup kita menjadi utama. Selama hayat masih dikandung badan, tak ada orang yang terbebas dari nafsu angkara, karena memang itu piranti hidup yang sangat vital. Tanpa itu kita pun tak dapat hidup, namun kita hanya memerlukan dalam kadar secukupnya, seperti kadar api di dapur sebagai alat memasak. Kita tak memerlukan api sebesar tobong, kalau hanya untuk memasak, seperti halnya kita tak memerlukan nafsu sebesar gunung hanya untuk tetap hidup sehat di dunia ini. Kuncinya adalah jangan melampaui batas.

Kajian Wredhatama 75-79

Kajian Wedatama (75): Kabukaning Kijabullah Bait ke-75, Pupuh Gambuh Lanjutan, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV: Dadya wruh; iya dudu, Yeku minangka pandaming kalbu. Ingkang buka ing kijabullah agaib. Sesengkeran kang sinerung, dumunung telenging batos. Terjemahan dalam bahasa Indonesia: Menjadi paham: baik dan buruk. Yaitu sebagai penerang hati. Yang membuka hijab Allah yang ghaib. Sesuatu yang tersembunyi di dalam, letaknya ada di pusat kedalaman batin.   Kajian per kata: Dadya (menjadi) wruh (paham); iya (boleh, baik) dudu (bukan, buruk). Menjadi paham: baik dan buruk. Iya, dudu, kata ini merujuk kebiasaan orang jawa dalam menyebut suatu perbuatan. Perbuatan jahat sering disebut tumindak dudu, artinya perbuatan yang tidak diajarkan oleh syariat. Sebaliknya kata iya, berati boleh dilakukan. Nah, orang yang bersikap prasaja, ringan dalam memberi maaf dan menghindari hasrat yang membara seperti yang diuraikan pada bait sebelumnya, Sumimpang Ing Laku Dur, akan menjadi teranglah hatinya, sehingga menjadi paham: tentang apa yang boleh (iya) dan tidak boleh (dudu). Yeku (yaitu) minangka (sebagai) pandaming (penerang) kalbu (hati). Yaitu sebagai penerang hati. Hati yang terang seperti disebut di atas laksana mendapat cahaya dari lampu yang bersinar (pandam), sehingga menjadi jelas apa isi yang ada di dalam hati tersebut. Ingkang (yang) buka (membuka) ing kijabullah (hijab Allah) agaib (yang ghaib). Yang membuka hijab Allah yang ghaib. Cahaya yang bersinar menerangi hati tadi menjadi pengusir hijab kegelapan antara si pelaku dan Allah SWT, sehingga tersingkaplah rahasia ketuhanan dengan mata kepala sendiri. Sesengkeran (Sesuatu di dalam) kang (yang) sinerung (tersembunyi), dumunung (letaknya) telenging (di dalam) batos (batin, hati). Sesuatu yang tersembunyi di dalam, letaknya ada di pusat kedalaman batin. Maka terlihatlah sesuatu yang selama ini terkurung menjadi rahasia yang tersembunyi di pusat kedalaman batin manusia. Di situlah letak rahasia ketuhanan. Bagi orang awam rahasia ini terhijab oleh perilaku buruk. Yang kuat dalam menjalani laku sampai pada tahap sembah rasa akan memperoleh cahaya terang yang akan membuat isi hati menjadi kelihatan sehingga tersingkirlah hijab kegelapan di dalam hati. Maka tampaklah: Tuhan Allah Yang Maha Suci. Pokok bahasan yang panjang dan melelahkan ini sebenarnya sederhana, sesuai dengan sabda Nabi, “Barangsiapa mengenal dirinya, maka ia mengenal Tuhannya!” Kajian Wedatama (76): Momor pamoring Sawujud Bait ke-76, Pupuh Gambuh Lanjutan, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV: Rasaning urip iku, krana momor pamoring sawujud. Wujudullah sumrambah ngalam sakalir. Lir manis kalawan madu, endi arane ing kono. Terjemahan dalam bahasa Indonesia: Rasanya hidup (yang sejati) itu, karena berbaur menyatu dengan Wujud Yang Satu. Wujud Allah yang meliputi alam seisinya. Seperti berbaurnya manis dengan madu, manakah yang namanya (salah satunya disebut) pasti ada disitu. Kajian per kata: Rasaning (rasanya) urip (hidup) iku (itu), krana (karena) momor (berbaur) pamoring (pancaran) sawujud (Wujud Yang Satu). Rasanya hidup (yang sejati) itu karena berbaur menyatu dengan Wujud Yang Satu. Sesungguhnya hanya ada Satu Wujud Sejati, yakni Allah SWT. Segala sesuatu selainnya adalah wujud pinjaman, atau bahkan tak berwujud. Keberadaan kita akan semakin menguat manakala kita mendekat dengan wujud yang sejati. Dalam kajian bait ke-13, Sumusuping Rasa Jati, telah kami sampaikan arti dari kata pamor, yakni dari kata amor artinya menyatu. Pamoring sawujud adalah menyatunya wujud ke seluruh semesta. Kata pamor juga berarti cahaya yang memancar, arti inipun juga relevan dengan bait ini. Dalam teori cahaya (hikmat al Israq) yang diperkenalkan oleh Syaikh Suhrawardi Al Maqtul, dijelaskan bahwa wujud adalah laksana sinar yang memancar dari Sumber Wujud, yakni Allah SWT. Cahaya yang memancar itu diterima dan menjadi cahaya pinjaman, seperti cahaya bulan yang sebenarnya adalah cahaya matahari yang diterima bulan dan dipantulkan kembali. Demikian pula sebenarnya hanya ada satu Wujud yakni wujud Allah semata. Adapun yang lain hanya berupa wujud pantulan yang diterima dari wujud Allah. Selanjutnya istilah wujud pantulan akan kita sebut dengan wujud (pakai w kecil), untuk membedakan dengan Wujud Allah (pakai W besar). Ketika sesorang mendekat kepada Allah dengan cara menjalani perintah dan menjauhi larangannya (taqwa), maka posisinya mendekat dan wujud dalam dirinya menguat. Semakin bertaqwa seseorang derajat wujudnya semakin tinggi, yang berarti posisinya dengan Wujud juga menjadi semakin dekat. Dan sifat-sifat wujud akan menguat dalam dirinya, yang dimaksud di sini adalah sifat-sifat kebaikan yang adalah sifat-sifat ketuhanan, seperti kasih, sayang, pengampun, pendidik, dll. Wujudullah (Wujud Allah) sumrambah (yang meliputi) ngalam (alam) sakalir (semuanya, seisinya). Wujud Allah yang meliputi alam seisinya. Tidak ada tempat di manapun yang tidak ada pancaran Wujud Allah kecuali apa yang disebut ketiadaan. Jadi selama masih ada entitas, maka wujud pasti ada di situ. Yang membedakan adalah intensitas wujudnya. Ada yang letaknya sangat jauh sehingga wujudnya hanya samar- samar. Orang-orang jahat yang suka berbuat maksiat pun mempunyai wujud, namun mereka semakin jauh dari Wujud Allah, sehingga wujudnya tinggal samar-samar. Lir (seperti) manis (manis) kalawan (dengan) madu (madu), endi (manakah) arane (namanya) ing (di) kono (situ). Seperti berbaurnya manis dengan madu, manakah yang namanya (salah satunya disebut) pasti ada disitu. Wujud Allah yang sumrambah di alam sakalir tadi menyatu dan menjadi daya hidup bagi semua makhluk, seperti menyatunya manis dengan madu. Di mana ada kehidupan maka wujud ada di situ. Oleh karena itu apapun yang ada di dunia ini adalah manifestasi dari Wujud Allah semata-mata. Orang-orang pandai yang sudah pana ing pamawas (sangat tajam penglihatnnya), akan paham tentang kenyataan ini. Bagi mereka semua kehidupan adalah tanda-tanda kebesaran Allah Yang Maha Tinggi. Subhanallah! Alhamdulillah! Allahu Akbar!   Kajian Wedatama (77): Nuksmeng Pasang Semu Bait ke-77, Pupuh Gambuh Lanjutan, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV: Endi manis endi madu yen wis bisa nuksmeng pasang semu. Pasamoaning hebing kang Maha Suci . Kasikep ing tyas kacakup Kasat mata lahir batos. Terjemahan dalam bahasa Indonesia: Manakah manis manakah madu, (akan jelas) bila sudah bisa menghayati gambaran wajah (Allah). Dalam perjamuan keagungan Yang Maha Suci, dirangkul dalam hati dan dikuasai. Akan terlihat dengan mata lahir dan batin. Kajian per kata: Endi (manakah) manis (manis) endi (manakah) madu (madu), yen (kalau) wis (sudah) bisa (bisa) nuksmeng (menghayati) pasang semu (gambaran wajah). Manakah manis manakah madu (akan jelas) bila sudah bisa menghayati gambaran wajah (Allah). Dalam bait yang lalu tentang Momor Pamoring Sawujud, telah diuraikan bahwa Wujud Allah sumrambah ing alam sakalir, meliputi seluruh alam seisinya. Tetapi kita tak mampu mengenali wajah Allah tanpa ilmu yang cukup, hanya para ulul-albaab saja yang mampu mengenali tanda-tandaNya. Yang demikian karena mata hati kita masih tertutup hijabullah, sehingga yang terlihat adalah kegelapan, mirip orang yang berada di kamar gelap. Apabila hijab telah terbuka baru menjadi jelaslah Wujud Allah. Orang yang telah mencapai pemahaman itu akan mampu membedakan, manakah manis manakah madu, karena sudah bisa menghayati gambaran Wajah Allah. Pasamuaning (dalam perjamuan) hebeng (keagungan) kang (yang) Maha Suci (Maha Suci), kasikep (dirangkul) ing (dalam) tyas (hati) kacakup (dan dikuasai). Dalam perjamuan keagungan Yang Maha Suci, dirangkul dalam hati dan dikuasai. Sesungguhnya alam raya seisinya ini dihamparkan sebagai karpet hijau tempat manusia berkarya. Semua ditundukkan bagi manusia agar dikelola, ini adalah perjamuan Tuhan bagi makhlukNya yang menyatakan diri sanggup memikul amanah. Orang yang telah mampu membedakan mana manis dan madunya, pasti sanggup mereguk keagungan (hebeng) Yang Maha suci. Hebeng dari kata heba ing, heba artinya raras, ramya, listya, yang artinya menyenangkan. Lebih tepat diterjemahkan sebagai agung karena di sana ada paduan antara senang, takjub dan ngungun, terpesona sampai melongo. 158 Apa yang sudah disaksikan tadi kemudian dirangkul dalam hati (kasikep ing tyas) dan kacakup, dicakup, dikuasai, menjadi sarana peningkat wujud, atau penerang cahaya dalam batinnya. Sehingga pandangannya menjadi amat tajam. Kasat (terlihat) mata (dengan mata) lahir (lahir) batos (dan batin). Akan terlihat dengan mata lahir dan batin. Maka akan terlihatlahlah segala sesuatu melalui mata lahir dan mata batin. Yang lahir melihat fenomena, yang batin melihat tanda-tanda. Yang lahir melihat isyarat, yang batin melihat sasmita. Yang lahir melihat gejala, yang batin melihat kenyataan. 159 Kajian Wedatama (78): Widadaning Budi Sadu Bait ke-78, Pupuh Gambuh Lanjutan, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV: Ing batin tan kaliru, kedhap kilap liniling ing kalbu. Kang minangka colok celaking Hyang Widhi. Widadaning budi sadu, pandak panduking liru nggon. Terjemahan dalam bahasa Indonesia: Dalam batin tak keliru, kebyar kilat cahaya terlihat jelas dalam hati. Yang merupakan obor untuk penerang jalan mendekat kepada Yang Maha Kuasa. Langgengnya budi utama, tetap tertuju pada pergantian tempat (wujud). Kajian per kata: Ing (dalam) batin (batin) tan (tak) kaliru (keliru), kedhap (gebyar) kilap (kilat) liniling (terlihat dengan jelas) ing (dalam) kalbu (hati). Dalam batin tak keliru, kebyar kilat cahaya terlihat jelas dalam hati. Dalam batin tidak akan keliru lagi dalam mengenali kebyar kilatan cahaya yang sekarang jelas terlihat dalam hati. Sesudah berhasil mencapai tahap sembah rasa maka tak lagi silau dengan aneka kilat cahaya yang berkerlip seperti bintang. Kang (yang) minangka (merupakan) colok (obor) celaking (dekat) Hyang Widhi (Yang Mahas Kuasa). Yang merupakan obor untuk penerang jalan mendekat kepada Yang Maha Kuasa. Justru cahaya apapun akan menjadi penerang hati, laksana obor yang menerangi jalan mendekat kepada Yang Maha Kuasa. Dalam kajian bait ke-73, Weruh wekasing dumados, telah kami singgung bahwa orang yang mencapai tahap ini tidak akan sulap terhadap cahaya apapun yang terlihat, karena sudah mampu membedakan cahaya sejati dan cahaya pantulan, antara Wujud dan wujud. Orang ini hatinya tetap dalam pandangan yang stabil, tidak tolah- toleh (tengak-tengok kiri kanan) karena sudah tahu pasti ke mana akan menuju. Widadaning (langgengnya) budi (budi) sadu (utama), pandak (tetap) panduking (tertuju) liru (pergantian) nggon (tempat). Langgengnya budi utama, tetap tertuju pada pergantian tempat (wujud). Sifat yang sudah mapan ini disebut sebagai sadu budi, yakni tahap pencapaian tertinggi yang hanya dicapai oleh para pertapa yang tulus dan telah mengekang hawa nafsunya. Sadu budi sering diartikan sebagai watak pinandita, karena watak sadu adalah watak yang umumnya 160 dipunyai para pandita di jaman dahulu kala. Pandita adalah orang yang sudah meninggalkan hiruk-pikuk duniawi, dan telah membaktikan hidupnya untuk menolong sesama. Dalam hal ini watak sadu harus dijaga kelanggengannya agar perhatiannya tidak terkecoh oleh pergantian tempat (wujud) yang akan sering dijumpai di alam ini. Ini penting agar manusia tidak tekecoh dengan fenomena-fenomena pergantian yang akan banyak ia temui. Sekian dahulu kajian bait ini, jika masih ada tanda tanya dalam pikiran janganlah bosan. Pada bait-bait selanjutnya semuanya akan semakin terang. Penggubah serat ini memang senang memakai bahasa yang berbelit-belit, agak susah dalam memahaminya, dan lebih susah lagi menjelaskannya. Tetapi dengan usaha keras tak kenal tidur, Insya Allah semua akan jelas pada waktunya. 161 Kajian Wedatama (79): Sasmitaning Alam Bait ke-79, Pupuh Gambuh Lanjutan, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV: Nggonira mrih tulus, kalaksitaning reh kang rinuruh. Nggyanira mrih wiwal warananing gaib? Paranta lamun tan weruh, sasmita jatining endhog Terjemahan dalam bahasa Indonesia: Bagaimana supaya tercapai, terlaksananya hal yang dicari. Bagaimana caramu agar lepas dari penutup kegaiban itu? Apabila tidak mengetahui, maka perhatikanlah kejadian pada telur (yang menetas). Kajian per kata: Nggonira (bagaimana) mrih (supaya) tulus (tercapai), kalaksitaning (terlaksananya) reh (hal) kang (yang) rinuruh (dicari). Bagaimana supaya tercapai, terlaksananya hal yang dicari. Bait ini masih berkutat soal terbukanya hijab antara makhluk dan Sang Pencipta. Pada kajian bait 74, Kabukaning Kijabullah, telah dibahas tentang hijab Allah yang akan terbuka manakala kita membersihkan diri dari perbuatan tercela, (tumindak dudu). Di sini hal yang sama masih akan dibahas tetapi melalui asah budi, yakni memperhatikan segala fenomena alam seisinya. Ini adalah pendekatan lain yang lebih bersifat diluar dari diri manusia. Perlu diketahui bahwa alam semesta adalah juga ayat-ayatNya, sehingga merenung tentang segala kejadian juga akan mendapatkan hikmat yang agung. Tetapi bagaimana cara agar tercapai apa yang dicari itu? Dan apakah yang dicari itu? Nggyanira (caramu) mrih (agar) wiwal (lepas) warananing (hijab, penutup) gaib (kegaiban)? Paranta (bersiaplah) lamun (bila) tan (tak) weruh (mengetahui), sasmita (tamsil, isyarat) jatining (kejadian) endhog (telur). Bagaimana caramu agar lepas dari penutup kegaiban itu? Apabila tidak mengetahui, maka perhatikanlah kejadian pada telur (yang menetas). Bait ini menyuruh kita memperhatikan fenomena alam agar kita mendapat hikmat yang besar, yang akan dapat membuka tabir alam ghaib. Sesungguhnya kita sering menganggap sesuatu sebagai ghaib dan menisbahkannya kepada Tuhan hanya karena kita tidak tahu apa yang terjadi. Tetapi manakala kita telah tahu, serta merta keghaibannya hilang, dan kita hanya berkata, “Oh, Cuma begitu to?” Sikap di atas sesungguhnya tidak baik dan tidak mendatangkan kearifan. Ilmu pengetahuan lambat laun akan menyingkap misteri-misteri yang selama ini kita tak tahu dan kita anggap 162 fenomena ghaib. Kelak apabila semua hal telah terungkap apakah wilayah Tuhan akan mengecil dan sirna. Tuhan akan terpinggirkan oleh ilmu pengetahuan? Inilah kesalahan kita, belum-belum sudah meletakkan kekuasaan Tuhan dengan melawankannya dengan hukum alam materi. Padahal sebenarnya hukum alam pun ciptaan Tuhan. Bait ini berisi piwulang mendekati Tuhan dan membuka tabir atau hijab yang menghalangi manusia dan Tuhan dengan cara memperhatikan alam. Ini menarik karena dimunculkan pada abad ke-18, waktu ketika ilmu pengetahuan belum populer seperti sekarang. Sains belum berkembang dan mendikte hidup manusia. Sungguh bait ini membuat kita kagum akan pandangan Sri Mangkunegara yang visioner. Kita harus berhenti di sini untuk kemudian melanjutkan bait berikutnya yang akan memberi contoh bagaimana memperhatikan fenomena alam mampu membuat kita memperoleh kearifan. Arif adalah mengenal, yakni mengenal Tuhan.