Gunungtugel peristiwa sebuah awal peradaban lama,yang telah mengawali peradaban baru sebagai pondasi awal terwujadnya ri Bhumi Mataram.Hal yang demikian diperoleh dari winarah para Sepuh dari jaman ke jaman.Diantaranya winarah yang diperoleh mbah Datrim dari mbah Datuk Kahfi.winarah yang di maksut adalah latar belakang Gunungtugel.Demikian juga winarah dari mbah Bakri dari eyang Muhsin.Eyang Muhsin dari Syeh Abdurahman,dari Ki Buyut Manguneng.
Kamis, 06 September 2018
Adreng ngumbar arubiru
Kajian Wedharaga (21;22) Bait ke-21;22, Pupuh Gambuh (metrum: 7u 10u 12i 8u 8o), Serat Wedharaga, karya Raden Ngabehi Ranggawarsita: Saengga tunggal laku, lan kang asring gumaib ing kawruh. Turtan wikan wiwekaning reh nayadi. Adreng ngumbar arubiru, amberat berawaning wong.
Saking lobaning kalbu, mung kalebu lebdeng bek kung lur kung. Kumalungkung ngaku ngungkuli sakalir. Saliring utameng kawruh, pangrasane padha kasor. Terjemahan dalam bahasa Indonesia: Sehingga satu perbuatan, dengan yang sering berlagak tahu dalam pengetahuan. Padahal tidak mengetahui cara berhati-hati dengan muka manis. Bernafsu mengumbar kerusuhan, menyepelekan kehebatan orang lain.
Karena tamaknya hati, hanya termasuk pintar membiarkan (orang) sedih bertambah kesedihannya. Sombong sekali mengaku melebihi (orang lain) dalam segala hal. Sembarang yang utama dalam pengetahuan, dianggapnya semua kalah (darinya).
Kajian per kata: Saengga (sehingga) tunggal (satu) laku (perbuatan), lan (dan) kang (yang) asring (sering) gumaib (umuk, sombong, berlagak tahu tentang ilmu gaib) ing (dalam) kawruh (pengetahuan). Sehingga satu perbuatan, dengan yang sering berlagak tahu dalam pengetahuan. Dalam bait sebelumnya telah diuraikan tentang orang yang berlagak ahli dalam pengetahuan, padahal belajarnya belum tuntas, ilmua belum sempurna baru setengah-setengah. Dalam bait ini disebutkan orang yang sejenis dengan itu, satu perbuatan dengan perilaku yang demikian itu. Turtan (padahal tidak) wikan (mengetahui, pandai) wiwekaning (berhati-hati) reh nayadi (dalam hal bermuka manis). Padahal tidak mengetahui cara berhati-hati dengan muka manis. Yakni orang yang tidak menguasai dalam hal bermuka manis kepada orang lain. Dalam kajian serat Wedatama telah kami uraikan tentang perlunya bersikap manis, sesadon ingadu manis, kepada setiap orang walaupun dalam hati kita jengkel. Kemampuan bersikap manis ini menjadi tanda dari orang-orang berilmu. Nah, anak-anak muda yang tidak sabar dalam proses dan bersikap sok ahli tadi tidak akan sampai tahap bermuka manis ini. Jangankan membuat senang orang lain, yang ada justru membuat jengkel karena perbuatan sok pintarnya. Adreng (bernafsu) ngumbar (mengumbar) arubiru (rusuh), amberat (menghilangkan, menyingkirkan) berawaning (kehebatan, keunggunlan) wong (orang). Bernafsu mengumbar kerusuhan, menyepelekan kehebatan orang lain. Mereka itu sudah sangat bernafsu mengumbar rusuh, suka menyepelekan kehebatan orang lain. Kalau karena pendapatnya berbeda kemudian terjadi ribut-ribut mereka ini senang sekali. Bahkan sangat suka memcari-cari perbedaan agar muncul keributan, supaya perjuangan mereka menegakkan kebenaran (versi mereka) menjadi lebih dramatik, sehingga mereka tampak hebat dan heroik. Saking (karena) lobaning (tamaknya) kalbu (hati), mung (hanya) kalebu (termasuk) lebdeng (pintar) bek (membiarkan) kung (sedih) lur (mengulur, memperpanjang) kung (sedih). Karena tamaknya hati, hanya termasuk pintar membiarkan (orang) sedih bertambah kesedihannya. Hal itu muncul karena hati mereka tamak akan kehebatan, terlalu bernafsu (adreng) meraih kebaikan. Bila karena sikapnya itu seseorang menjadi susah, mereka tak mereda. Malah akan memperpanjang kesedihan orang itu. Seolah orang lain pantas menerima perlakuan tak bijak darinya. Kumalungkung (sombong sekali) ngaku (mengaku) ngungkuli (melebihi) sakalir (segala hal). Sombong sekali mengaku melebihi (orang lain) dalam segala hal. Orang seperti ini sikapnya sombong sekali, merasa benar sendiri melebihi orang lain dalam segala hal. Mereka mengklaim kebenaran sudah menjadi milik mereka. Saliring (sembarang) utameng (yang utama) kawruh (pengetahuan), pangrasane (perasaannya, dianggapnya) padha (semua) kasor (kalah). Sembarang yang utama dalam pengetahuan, dianggapnya semua kalah (darinya). Hal-hal yang menjadi keutamaan dalam pengetahuan mereka merasa ahli, menurut anggapannya yang lain semua kalah. Itulah watak tak baik dan kurang elok yang sering menjangkiti anak muda yang ilmunya baru setengah jalan. Sungguh, watak yang demikian itu akan menjangkiti sebagian besar dari kita. Jika itu terjadi janganlah terlalu khawatir, tetaplah terus belajar dengat giat. Insya Allah akan sembuh dengan bertambahnya ilmu pengetahuan. Namun jika berhenti di tahap itu, celakalah!
Bandhar tyas kabalabar
Kajian Wedharaga (19;20) Bait ke-19;20, Pupuh Gambuh (metrum: 7u 10u 12i 8u 8o), Serat Wedharaga, karya Raden Ngabehi Ranggawarsita: Ana kang wus kadulu, suteng carik kadhinginan tuwuh. Ngaku putus patrape kurang patitis, manut ngelmuning guyeng dul, amangeran luncung bodhol.
Badhar tyas kabalawur, baladheraning wong ambabangus. Angas ungus ing wuwus tan anguwisi. Temah kasebut wong gemblung, kinira yen lara panon.
Terjemahan dalam bahasa Indonesia: Ada yang sudah terlihat, anak jurutulis yang terlalu cepat tumbuh. Mengaku ahli tingkahnya kurang tepat, menuruti ajarannya santri Dul, mendewakan badut keparat.
Terbongkar hatinya bingung, (itulah) sekotor-kotornya manusia yang menghasut-hasut. Berlagak-lagak berani dalam perkataan (tetapi) tidak menyelesaikan. Hingga disebut orang sinting, dikira kalau sakit otaknya.
Kajian per kata: Ana (ada) kang (yang) wus (sudah) kadulu (terlihat), suteng(anak) carik (jurutulis) kadhinginan (terlalu cepat, mendahului) tuwuh (tumbuh). Ada yang sudah terlihat, anak jurutulis yang terlalu cepat tumbuh. Ada contoh lain selain Ki Gambuh sendiri. Dia adalah anak jurutulis yang terlalu cepat tumbuh. Maksudnya dia melakukan apa yang sudah disebutkan dalam bait sebelumnya, yakni terlalu cepat ingin menikmati hasil berupa kesuksesan dalam pengetahuan. Ngaku (mengaku) putus (ahli) patrape (tingkahnya) kurang (kurang) patitis (tepat), manut (menurut) ngelmuning (ilmunya) guyeng Dul (santri Dul), amangeran (mendewakan) luncung bodhol (badut keparat). Mengaku ahli tingkahnya kurang tepat, menuruti ajarannya santri Dul, mendewakan badut keparat. Mengaku-aku sudah ahli namum kelakuannya kurang pas (tepat). Dia memakai ajaran santri Dul. Siapakah dia? Santri Dul disebut dalam kitab Wedatama sebagai seorang yang belajarnya belum tuntas namun sudah kembali ke desanya untuk mengajarkan ilmu-ilmu agama. Akibatnya karena yang mengajarkan ilmunya belum sempurna ajarannya pun tidak jelas. Namun anehnya banyak juga pengikutnya yang fanatik. Selengkapnya tentang santri Dul ini silakan membaca kajian kami dalam serat Wedatama yang kajiannya sudah khatam. Tokoh santri Dul ini tampaknya bukan tokoh nyata, namun namanya sering dipakai untuk menyebut orang yang sok pintar seperti yang sedang kita bahas ini. Karkono Kamajaya dalam Lima Karya Ranggawarsita menerjemahkan luncung bodhol sebagai badut keparat. Amangeran luncung bodhol artinya mendewakan badut keparat. Sangat mungkin yang dimaksud oleh gatra ini sebagai luncung bodhol adalah santri Dul, karena pengikutnya memang sangat menurut dan mengidolakannya. Badhar (terbongkar) tyas (hati) kabalawur (blawur, bingung), baladheraning (kotor-kotornya) wong (orang) ambabangus (menghasut-hasut). Terbongkar hatinya bingung, (itulah) sekotor-kotornya manusia yang menghasut-hasut. Bila terbongkar kedoknya yang hanya umuk, omong kosong itu, hatinya menjadi bingung. Itulah orang yang kata-katanya lebih panjang dari akalnya. Kemana-mana menghasut-hasut, sungguh kotor perbuatannya. Ambaladher artinya kotor seperti lumpur kubangan, jika dipijak kaki akan terperosok ke dalam. Itulah perumpamaan orang yang kata-katanya tak sepadan dengan kemampuan. Angas ungus (berlagak-lagak berani) ing (dalam) wuwus (perkataan) tan (tidak) anguwisi (menyelesaikan). Berlagak-lagak berani dalam perkataan (tetapi) tidak menyelesaikan Berlagak berani ketika tidak ada musuh, namun jika kepergok marabahaya tak dapat menyelesaikan masalah. Angas adalah sifat sok berani, mengaku-aku berani dalam perkataan, alias omong besar. Temah (hingga) kasebut (disebut) wong (orang) gemblung (sinting), kinira (dikira) yen (kalau) lara (sakit) panon (penglihatan, pikiran, otak). Hingga disebut orang sinting, dikira kalau sakit otaknya. Orang seperti itu perilakunya mirip orang sinting. Tidak dapat dipegang kata-katanya. Banyak orang mengira kalau dia sakit otaknya. Memang tidak ada baiknya sifat umuk itu, sehingga sering disamakan dengan orang sinting. Mungkin ini berlebihan tetapi yang jelas sama meresahkan dengan kelakuan orang tak waras. Yang lebih parah dari sikap seperti ini adalah, satu watak buruk akan menyeret watak buruk lain untuk berkumpul dalam satu tubuh. Apa saja watak buruk yang akan diundang oleh sifat umuk kumalungkung ini? Nantikan kajian berikutnya.
Wekasan krnther tan asdor
Kajian Wedharaga (17;18) Bait ke-17;18, Pupuh Gambuh (metrum: 7u 10u 12i 8u 8o), Serat Wedharaga, karya Raden Ngabehi Ranggawarsita: Ingkang mangkono iku, badaningong pribadi ing dangu. Paksa unggul wekasan malah katinggil. Panggilesing jabung alus, winangsulan tyas kaleson.
Mangkono kang tinemu, marmane wong ngaurip punika, aja pisan paksa ambeg kumalikih. Angaku sarwa linuhung, wekasan kether tan ethor. Terjemahan dalam bahasa Indonesia: Yang demikian itu, diri saya sendiri (mengalami) dahulu. Memaksakan unggul akhirnya malah terpukul. Tergilas oleh orang dekat, (ingin) mengulang lagi hati sudah lesu.
Demikian yang terjadi, oleh karena itu orang berkehidupan itu, jangan sekali-kali memaksakan berwatak sombong. Mengaku serba lebih hebat, akhirnya terbengkelai karena tidak becus.
Kajian per kata: Ingkang (yang) mangkono (demikian) iku (itu), badaningong (diri saya) pribadi (sendiri) ing (ketika) dangu (dahulu). Yang demikian itu, diri saya sendiri (mengalami) dahulu. Ki Gambuh (penggubah serat ini) pernah mengalami yang demikian itu, yakni memaksakan diri tampil hebat seolah paling unggul. Memang sikap seperti itu acapkali menjangkiti anak muda yang belum berpengalaman dalam kehidupan, terutama mereka yang baru mempelajari pengetahuan baru. Karena kaget dan takjub akan ilmu barunya yang selama ini tidak dikenalnya, lantas mengira bahwa orang lain juga tidak mengerti akan hal itu. Jadilah dia berlagak seolah hanya dirinya yang tahu. Maka tak aneh kalau Ki Gambuh pun pernah mengalaminya. Paksa (memaksakan) unggul (unggul) wekasan (akhirnya) malah (malah) katinggil (katenggel, terpukul), panggilesing (tergilas) jabung alus (orang yang dekat), winangsulan (diulang lagi) tyas (hati) kaleson (sudah lesu). Memaksakan unggul akhirnya malah terpukul, tergilas oleh orang dekat, (ingin) mengulang lagi hati sudah lesu. Inilah pengalaman Ki Gambuh di masa dahulu, memaksakan penampilan akhirnya malah terpukul. Tenggel adalah memotong atau memukul sesuati tepat sasaran, telak, pas di tengah secara melintang. Katenggel atau katinggil artinya terpukul secara telak, tentu terasa amat menyakitkan. Jabung adalah sejenis perekat, njabung alus adalah kata majemuk yang merupakan idiom, artinya merapatkan diri, menempel dengan halus. Panggilesing jabung alus artinya yang menggilas atau memukul telak tadi adalah orang dekat. Hal ini membuat Ki Gambuh benar-benar syok dan lemah lunglai sehingga tak berdaya lagi untuk bangkit. Kaleson adalah ungkapan untuk perasaan hati yang lesu, tidak semangat lagi. Mangkono (demikian) kang (yang) tinemu (ditemukan, terjadi), marmane (oleh karena) wong (orang) ngaurip (berkehidupan) punika (itu), aja (jangan) pisan (sekali-kali) paksa (memaksakan) ambeg (berwatak) kumalikih (sombong). Demikian yang terjadi, oleh karena itu orang berkehidupan itu, jangan sekali-kali memaksakan berwatak sombong. Demikian itulah yang terjadi jika suka umuk di atas kemampuan sendiri. Oleh karena dalam kehidupan ini jangan sekali-kali mendahului proses, tak sabar untuk segera memetik hasil, memaksakan diri tampil seolah sudah berhasil, bahkan terkesan meremehkan kemampuan orang lain. Angaku (mengaku) sarwa (serba) linuhung (lebih unggul, lebih hebat), wekasan (akhirnya) kether (terbengkelai) tan (tidak) ethor (becus). Mengaku serba lebih hebat, akhirnya terbengkelai karena tidak becus. Mengaku-aku serba hebat dan unggul dibanding orang lain hanya demi decak kagum. Akhirnya ketika tiba saatnya harus membuktikan kemampuannya justru yang terjadi adalah urusannya terbengkelai karena sebenarnya dia tak mampu. Kether artinya tak tertangani karena tak mampu. Ethor varian kasar dari kata ethes, artinya cakap, terampil. Tan ethor artinya tak becus, dalam bahasa Jawa istilah lainnya adalah ora jegos (tidak bisa, konotasinya kasar).
Prksa unggul wekasan asor
Kajian Wedharaga (16) Bait ke-16, Pupuh Gambuh (metrum: 7u 10u 12i 8u 8o), Serat Wedharaga, karya Raden Ngabehi Ranggawarsita: Wong ngaurip wus tamtu, akeh padha arebut piyangkuh. Lumuh lamun kasor kaseser sathithik. Nanging singa peksa unggul, ing wekasan dadi asor. Terjemahan dalam bahasa Indonesia: Orang hidup sudah pasti, banyak yang berebut kebanggaan. Tak mau kalah walau hanya tergeser sedikit saja. Tetapi siapa yang memaksakan unggul, pada akhirnya menjadi hina.
Kajian per kata: Wong (orang) ngaurip (hidup) wus (sudah) tamtu (pasti), akeh (banyak) padha (yang) arebut (berebut) piyangkuh (kebanggaan). Orang hidup sudah pasti, banyak yang berebut kebanggaan. Merupakan hal yang biasa, dan juga bukan suatu hal buruk jika orang hidup di dunia mencari kebanggaan. Bagaimanapun segala pencapaian manusiawi, entah ilmu, harta, kedudukan dan pangkat adalah hal yang menunjukkan suatu prestasi. Tidak sembarang orang dapat melakukan hal itu, jadi wajar apabila yang demikian itu menjadi kebanggaan. Bahkan semangat dalam mencari hal-hal di atas adalah sebuah kebaikan. Lumuh (tak mau) lamun (jika) kasor (kalah) kaseser (tergeser) sathithik (sedikit). Tak mau kalah walau hanya tergeser sedikit saja. Juga bukan suatu hal aneh jika manusia tak mau kalah dalam hal-hal di atas, bahkan tergeser sedikit pun bisa membuat hati resah. Perasaan seperti ini menimbulkan semangat untuk berkompetisi sehat antara sesama manusia. Berusaha lebih unggul dan enggan kalah adalah energi positif untuk kemajuan seseorang. Nanging (tetapi) singa (siapa yang) peksa (memaksakan) unggul (unggul), ing (pada) wekasan (akhirnya) dadi (menjadi) asor (hina). Tetapi siapa yang memaksakan unggul, pada akhirnya menjadi hina. Namun persoalannya akan menjadi lain manakala dalam meraih kebanggan tersebut dilakukan dengan memaksa. Tidak sabar dalam mengikuti proses yang harus ditempuh. Belum-belum sudah memaklumatkan diri dengan klaim-klaim kemampuan yang palsu, belum-belum sudah berlagak sebagai orang pandai, bergaya bak orang kaya, angkuh layaknya pejabat. Jika demikian yang dituai bukanlah kemuliaan, melainkan cibiran dan kehinaan.
Ngaku putus tondha bodho
Kajian Wedharaga (14;15) Bait ke-14;15, Pupuh Gambuh (metrum: 7u 10u 12i 8u 8o), Serat Wedharaga, karya Raden Ngabehi Ranggawarsita: Panengeraning wong iku, adat ana panggrayanganipun. Peten saking sambang liring nayeng wadi. Yen wong ngaku sarwa putus, iku mratandhani bodho.
Lamun wong ngaku cukup, mratandhani kukurangan iku. Wong ngungasken kakendelan tandha jirih. Wong angakukiyat pengkuh, tandha apes amalendo.
Terjemahan dalam bahasa Indonesia: Cara mengetahui ciri-ciri orang itu, biasanya ada yang dijadikan perkiraan. Ambilah dari cara melihat dan mimik muka yang rahasia. Kalau orang mengaku serba ahli, itu menandakan ia bodoh.
Jika orang mengaku cukup, menandakan bahwa dia kekurangan. Orang yang menyombongkan keberanian menandakan dia takut. Orang yang mengaku kuat dan sentosa, pertanda dia lemah dan tak dapat diandalkan.
Kajian per kata: Panengeraning (cara mengetahui ciri-ciri) wong (orang) iku (itu), adat (biasanya) ana (ada) panggrayanganipun (yang dijadikan perkiraan). Cara mengetahui ciri-ciri orang itu, biasanya ada yang dijadikan perkiraan. Panengeran dari kata tenger artinya tanda. Setiap orang mempunyai tanda-tanda yang menunjukkan watak, sifat, perilakunya secara umum. Panengeran yang dimaksud dalam bait ini adalah tentang apakah seseorang berbohong perihal kemampuan yang dimilikinya. Klaim yang dia ucapkan bahwa dia ahli dalam bidang ini-itu apakah benar? Ada tanda-tanda untuk mengetahui hal tersebut. Peten (ambilah) saking (dari) sambang liring (sekilas pandangan) nayeng wadi (mimik muka yang mengandung rahasia). Ambilah dari cara melihat dan mimik muka yang rahasia. Pet artinya ambil, sambang liring artinya cara melihat, gerak mata, naya ing wadi = nayeng wadi artinya mimik muka rahasia. Jadi tanda-tanda itu ambilah dari cara dia melihat, gerak mata dan mimik atau air muka pada saat dia berbicara. Jika kita awas dan teliti niscaya akan terlihat jelas apakah seseorang benar-benar mempunyai kemampuan seperti yang dia klaim atau hanya berbohong. Cara ini terlampau sulit bagi orang awam, dan hanya dapat dilakukan oleh orang yang menguasai ilmu gerak wajah. Namun pada umumnya orang Jawa yang dewasa menguasai hal seperti ini. Inilah yang dinamakan sasmita (isyarat), yakni apa yang tersirat dari yang tersurat. Oleh karena itu di Jawa sering kita mendengar perkataan tanggap ing sasmita artinya paham apa yang tersirat. Sasmita ini bisa berupa isyarat yang sengaja diberikan oleh seseorang yang sedang bicara, atau juga bisa tidak sengaja tetapi tetap mengungkap gejolak yang ada di hati seseorang. Yen (kalau) wong (orang) ngaku (mengaku) sarwa (serba) putus (ahli), iku (itu) mratandhani (menandakan) bodho (bodoh). Kalau orang mengaku serba ahli, itu menandakan ia bodoh. Bagi orang awam ada penanda yang umum dan lebih mudah namun kurang akurat: siapapun yang mengaku-ngaku ahli, itu pertanda bahwa dia bodoh. Setiap orang pasti ingin menyembunyikan kelemahan dirinya, dalam soal ilmu kelemahan yang tampak adalah kebodohan, maka wajar jika kemudian seseorang mengaku pintar agar tidak dianggap bodoh. Lamun (jika) wong (orang) ngaku (mengaku) cukup (cukup), mratandhani (menandakan) kukurangan (kekurangan) iku (itu). Jika orang mengaku cukup, menandakan bahwa dia kekurangan. Demikian juga dalam hal kekurangan yang lain. Soal harta misalnya, seseorang akan menyembunyikan kemiskinannya dengan bergaya hidup mewah, entah bagaimana caranya. Memamerkan barang-barang berharga demi menutupi keadaan yang sesungguhnya. Wong (orang) ngungasken (menyombongkan) kakendelan (keberanian) tandha (pertanda) jirih (takut). Orang yang menyombongkan keberanian menandakan dia takut. Dalam hal keberanian juga berlaku demikian, orang yang penakut akan berteriak lantang agar dikira pemberani. Namun jika dihadapkan marabahaya dia akan lari duluan dengan berbagai alasan. Wong (orang) angaku (mengaku) kiyat (kuat) pengkuh (sentosa), tandha (pertanda) apes amalendo. Orang yang mengaku kuat dan sentosa, pertanda dia lemah dan tak dapat diandalkan. Orang yang lemah akan mengaku kuat agar meraih kepercayaan, namun jika tiba waktunya dia tidak dapat diandalkan. Kata malendo sering dilafalkan maletho, mletho, artinya tak dapat diandalkan. Tanda-tanda di atas adalah kesimpulan yang digeneralisir, namun cukup shahih sebagai informasi awal sebagai upaya berjaga-jaga (waspada) apabila bertemu dengan orang yang berperilaku demikian. Untuk menyimpulkan watak seseorang dengan tepat tentu dibutuhkan pengenalan yang panjang, namun sebagai upaya untuk menjaga diri beberapa pathokan di atas layak dipegang bagi orang awam.
Angarah warak wuruk
Kajian Wedharaga (13) Bait ke-13, Pupuh Gambuh (metrum: 7u 10u 12i 8u 8o), Serat Wedharaga, karya Raden Ngabehi Ranggawarsita: Angarah warah wuruk, lamun seje murad maksudipun, rasakena ing ati dipun nastiti. Aja pijer umbag umuk, mundhak kawiyak yen bodho. Terjemahan dalam bahasa Indonesia: Mengharap nasihat dan pengajaran, bila berbeda maksud tujuannya, direnungkan dalam hati secara teliti. Jangan sering pamer dan besar mulut, agar jangan terbongkar kalau bodoh.
Kajian per kata: Angarah (mengharap) warah (nasihat) wuruk (dan ajaran), lamun (bila) seje (beda) murad maksudipun (maksud tujuannya), rasakena (direnungkan) ing (dalam) ati (hati) dipun nastiti (secara teliti). Mengharap nasihat dan pengajaran, bila berbeda maksud tujuannya, direnungkan dalam hati secara teliti. Seorang yang cinta ilmu pengetahuan akan sangat mendambakan seorang guru yang berkenan mengajar padanya. Maka jika melihat seorang yang cerdik-cendekia yang dia harapkan hanyalah nasihat dan ajarannya. Tak peduli apakah sang guru ia sepakati ilmunya dia tetap akan mendengarkan apa yang diajarkan. Jika ternyata dia mendapati maksud dan tujuan yang berbeda dalam ajaran sang guru dia tidak serta-merta membantah, tetapi merenungkan dalam hati terlebih dahulu, dipikirkan dengan akal-budi secara teliti dan cermat. Bagaimanapun ajaran sang guru yang kepada kita telah berkenan membagi ilmu harus kita hargai. Kalau dalam budaya Jawa ada istilah, kapundhi ing mustaka dadosa jejimat, artinya diletakkan di atas kepala menjadi pegangan hidup. Inilah etika seseorang ketika menerima ilmu dari orang lain. Aja (jangan) pijer (sering) umbag (pamer) umuk (besar mulut), mundhak (agar jangan) kawiyak (terbongkar) yen (kalau) bodho (bodoh). Jangan sering pamer dan besar mulut, agar jangan terbongkar kalau bodoh. Orang pandai yang sejati akan bersikap seperti yang telah diuraikan pada bait sebelumnya, yakni berhati-hati, awas eling dan dapat mengira-ngira mana yang lebih baik. Sikap ini dinamakan duga lan prayoga. Tentang sikap pamer dan besar mulut, telah kami tegaskan berkali-kali bahwa yang demikian bukanlah ciri-ciri dari orang pandai. Janganlah sekal-kali bersikap demikian. Tidak ada keuntungannya dalam pamer ilmu, malah orang-orang menjadi tahu bahwa sebenarnya kita bodoh. Seperti halnya orang takkan tahu isi dari sebuah tong manakala belum mengetuknya. Sesudah diketuk-ketuk dan keluarlah bunyi nyaringnya baru orang paham: oh kosong .....
Anganggowa dhuga prayoga
Kajian Wedharaga (12) Bait ke-12, Pupuh Gambuh (metrum: 7u 10u 12i 8u 8o), Serat Wedharaga, karya Raden Ngabehi Ranggawarsita: Lamun pinter satuhu, tan mangkono ing reh patrapipun. Kudu nganggo watara duga prayogi. Pinter angaku balilu, dennya met kagunaning wong. Terjemahan dalam bahasa Indonesia: Jika benar-benar pandai, tidak demikian dalam perilakunya. Harus memakai pengamatan dan perkiraan, mana yang lebih baik. Pandailah mengaku bodoh, agar mendapat kepandaian orang.
Kajian per kata: Lamun (jika) pinter (pandai) satuhu (benar-benar), tan (tidak) mangkono (demikian) ing reh (dalam hal) patrapipun (perilakunya). Jika benar-benar pandai, tidak demikian dalam perilakunya. Bait ini melanjutkan isi bait sebelumnya yang menguraikan sifat-sifat orang yang mempertontonkan ilmunya. Mencari pujian dari orang lain dengan cara pamer kepandaian. Sebenarnya jika seseorang benar-benar pandai justru tidak demikian perilakunya. Kudu (harus) nganggo (memakai) watara (pengamatan) duga (perkiraan) prayogi (mana yang selayaknya), Harus memakai pengamatan dan perkiraan mana yang lebih baik. Orang yang sudah ahli akan penuh perhitungan dalam bertindak, mengamati dan memperkirakan segala akibat dari perilakunya. Dapat menduga-duga sikap apa yang lebih baik diambil ketika bersama banyak orang. Dalam banyak kesempatan tidak merasa perlu untuk pamer. Toh baru sedikit yang ia ketahui, masih banyak pengetahuan lain yang belum sempat dipelajarinya. Justru pada setiap kesempatan jika mungkin ia lebih suka mengambil pelajaran dari orang lain dalam bidang yang baru. Pinter (pandai) angaku (mengaku) balilu (bodoh), dennya (agar dia) met (mendapat) kagunaning (kepandaian) wong (orang). Pintar mengaku bodoh, agar dia mendapat kepandaian orang. Maka ia tak segan-segan untuk menunjukkan bahwa ia tidak mengerti dalam bidang baru itu. Dia tak malu untuk disebut bodoh. Dengan cara demikian dia mendapat kesempatan untuk bertanya tanpa sungkan kepada orang lain. Yang ditanya pun dengan sukarela akan berbagi ilmu karena merasa pengetahuannya dihargai. Lain halnya kalau seseorang bersikap sombong, tertutup baginya kesempatan untuk belajar ilmu baru karena calon gurunya pun ogah melayani. Ini sebuah kerugian besar jikalau dia menyadari. Sampai di sini kita sudah tahu manfaat dari sikap rendah hati dan mengakui kebodohan. Bodoh sesungguhnya bukan suatu aib. Yang memalukan adalah sikap pemalas dan sombong, malas untuk belajar dan menyombongkan sedikit ilmu.
Langganan:
Postingan (Atom)