Gunungtugel peristiwa sebuah awal peradaban lama,yang telah mengawali peradaban baru sebagai pondasi awal terwujadnya ri Bhumi Mataram.Hal yang demikian diperoleh dari winarah para Sepuh dari jaman ke jaman.Diantaranya winarah yang diperoleh mbah Datrim dari mbah Datuk Kahfi.winarah yang di maksut adalah latar belakang Gunungtugel.Demikian juga winarah dari mbah Bakri dari eyang Muhsin.Eyang Muhsin dari Syeh Abdurahman,dari Ki Buyut Manguneng.
Kamis, 10 Januari 2019
Kajian Wredhatama 80-84
Kajian Wedatama (80): Aywa Samar Aliru Wujud
Bait ke-80, Pupuh Gambuh Lanjutan, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV:
Putih lan kuningipun,
lamun arsa titah tekan mangsul.
Dene nora mantra mantra yen ing lair, bisa aliru wujud.
Kadadeyane ing kono.
Terjemahan dalam bahasa Indonesia:
Bagian putih dan kuningnya (telur),
kalau akan menetas menjadi terbalik.
Sungguh tidak ada tanda-tanda, (sungguh tak disangka-sangka) kalau waktu lahir, bisa berganti wujud.
(Perhatikanlah) kejadiannya seperti itu.
Kajian per kata:
Putih (bagian putih) lan (dan) kuningipun (kuningnya), lamun (kalau) arsa (akan) titah (menetas) tekan (sampai) mangsul (berbalik). Bagian putih dan kuningnya (telur) kalau akan menetas menjadi terbalik.
Bait ini menyoroti fenomena menetasnya telur ayam. Sebelum dierami induknya telur adalah bahan makanan yang lezat dan kaya gizi. Ada bagian kuning di tengah yang di selimuti bagian putih. Setelah dierami induk ayam telur menjadi semakin buram, memerah karena ada sirkulasi darah dalam serabut pembuluh yang muncul. Lama kelamaan pembuluh itu membesar dan muncul tampungan agak besar, itulah jantung ayam.
Setelah jantung terbentuklah bakal kepala, sebuah bulatan samar tampak duluan, itulah yang akan menjadi mata. Otak terbentuk dalam tiga belahan dalam bentuk yang belum terlindung tulang tengkorak. Organ lain mulai terbentuk, paruh, sayap, kaki dan mulai keluar bulu-bulu halus. Pada tahap ini bagian putih telur yang berada di luar hampir habis, sedangkan bagian kuning teluar masih tampak besar. Inilah mungkin yang dimaksud penggubah serat Wedatama ini sebagai keadaan tekan mangsul, terbalik. Dari yang tadinya berada di dalam sekarang kelihatan di luar.
Dene (Sungguh) nora (tidak) mantra mantra (tanda-tanda, menyangka) yen (kalau) ing (pada waktu) lair (menetas), bisa (bisa) aliru (berganti) wujud (wujud). Sungguh tidak ada tanda-tanda, (sungguh tak disangka-sangka) kalau waktu lahir bisa berganti wujud.
Inilah yang pada bait ke-78, Widadaning Budi Sadu, disebut sebagai liru nggon. Pada bait ini ditegaskan maksudnya sebagai aliru wujud. Yakni bergantinya wujud yang satu menjadi wujud yang lain dalam waktu singkat, seolah bertukar tempat saja antara fenomena yang satu dengan yang lain (aliru nggon). Hal-hal sperti ini bisa membuat kita terkecoh jika belum memahami kenyataan yang sejati. Kami beberapa kali menyebut hal ini sebagai lompatan realitas. Mengapa kami sebut lompatan? Karena sesungguhnya ada ketidak runtutan peristiwa, seolah ada bagian proses panjang yang dihilangkan, dan tiba-tiba sesuatu memperoleh wujudnya yang baru.
Mari kita perhatikan kejadian menetasnya telur tadi. Sebelum dierami jika kita membelah telur itu hanya akan kita dapati segumpal kuning yang diselaputi cairan kental berwarna putih. Tidak ada tanda-tanda kehidupan di sana. Tetapi setelah dierami hanya dalam waktu 21 hari telur sudah menjadi seekor anak ayam yang bisa berlarian ke sana ke mari mencari makan sendiri. Sebuah makhluk hidup tingkat tinggi lahir dalam waktu singkat sekali. Bandingkan dengan proses tumbuhnya rumput di halaman. Sangat jauh kan? Ini tidak akan terjadi tanpa campur tangan Sang Pencipta yang memendekkan prosesnya. Oleh karena itu kami sebut sebagai lompatan realitas.
Kadadeyane (kejadiannya) ing (di) kono (situ). (Perhatikanlah) kejadiannya seperti itu.
Perhatikanlah kejadian seperti itu adalah tanda-tanda kekuasaan Allah. Orang jaman dahulu akan menganggap fenomena ajaib ini sebagai wilayah kekuasaan Tuhan semata. Ketika ilmu pengetahuan menyingkap rahasianya serta merta mereka menyingkirkan Tuhan dan berkata, “Oh Cuma gitu aja!”
Tetapi bagi seorang yang sudah terbuka baginya tabir Hijabullah, terbukanya rahasia alam adalah penegas keagungan Allah, Sang Pengatur alam sakalir.
Kajian Wedatama (81): Aja Kongsi Kabasturon
Bait ke-81, Pupuh Gambuh Lanjutan, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV:
Istingarah tan metu,
lawan istingarah tan lumebu,
dene ing njero wekasane dadi njawi. Rasakna kang tuwajuh,
Aja kongsi kabasturon
Terjemahan dalam bahasa Indonesia:
Dipastikan tak keluar,
dan dipastikan tak masuk,
adapun (kenyataanya) yang di dalam akhirnya menjadi di luar. Rasakan dengan seksama,
jangan sampai lalai.
Kajian per kata:
Istingarah (dipastikan) tan (tak) metu (keluar), lawan (dan) istingarah (dipastikan) tan (tak) lumebu (masuk), dene (adapun) ing (yang) njero (di dalam) wekasane (akhirnya) dadi (menjadi) njawi (di luar). Dipastikan tak keluar dan dipastikan tak masuk, adapun (kenyataanya) yang di dalam akhirnya menjadi di luar.
Masih tentang pengamatan terhadap proses menetasnya telur tadi. Semua sudah dipastikan bahwa kedua elemen, putih dan kuning tadi terpisah letaknya, dengan posisi masing-masing. Sekilas tampak mustahil keduanya akan tertukar, tetapi kemudian ternyata bertukar tempat dengan sendirinya. Ini pertanda dalam terjadinya anak ayam yang berproses amat singkat, terdapat campur tangan Tuhan di dalamnya.
Fenomena alam seperti ini banyak terjadi, dan memerlukan pengamatan yang mendalam. Demikian juga yang terjadi pada hukum-hukum sosial dan sejarah. Ada banyak golongan, maupun individu yang posisinya saling dipertukarkan. Yang tadinya berkuasa dan menguasai atas sebagian lain, kelak bisa saja berganti posisi sebagai yang tertindas. Yang semula menjadi warga pingggiran suatu saat dapat berkuasa.
Walau dilihat sepintas seperti tak masuk akal, hukum-hukum sejarah juga berlaku atas umat manusia. Pergantian peran dan posisi senantiasa mewarnai pergerakan politik, ekonomi dan sosial. Telah banyak bangsa-bangsa kuat menjadi runtuh dan digantikan oleh kekuatan yang muncul tiba-tiba. Majapahit jatuh digantikan Demak yang tadinya belum ada. Demak surut diganti Pajang yang semula wilayah bawahan. Ketika Pajang telah menemui masa-nya, Mataram yang tadinya hanyalah tanah hadiah menyeruak ke panggung kekuasaan.
Rasakna (rasakan) kang (yang) tuwajuh (seksama, sungguh-sungguh), aja (jangan) kongsi (sampai) kobasturon (alpa, lalai). Rasakan dengan seksama, jangan sampai lalai.
Itulah sunatullah, hukum alam yang berlaku tetap sepanjang masa. Bagi orang-orang yang telah mengetahui wekasing dumados, hal tersebut tidak menjadi sebab dari kelalaian atas hukum-hukum Tuhan yang berlaku di alam. Malah dengan pengamatan yang seksama mereka dapat menyesuaikan diri dan mengambil sikap yang tepat, tidak kentir ing obyaking swasana.
Kita cukupkan kajian bait ini. Kelak apa yang telah kita pelajari selama ini akan kita pakai untuk bekal berbuat yang lebih bagi kemanusiaan, atau memayu hayuning bawana.
Kajian Wedatama (82): Kajantaka Tumekeng Saumur
Bait ke-82, Pupuh Gambuh Lanjutan, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV:
Karana yen kebanjur,
kajantaka tumekeng saumur.
Tanpa tuwas yen tiwasa ing dumadi. Dadi wong ina tan weruh.
Dheweke den anggep dhayoh.
Terjemahan dalam bahasa Indonesia:
Karena kalau sudah terlanjur,
akan sengsara sampai di akhir usia.
Tanpa pahala kalau kelak sudah mati sebagai sifat dari semua makhluk. Menjadi orang hina yang tak tahu.
Dirinya dianggap tamu.
Kajian per kata:
Karana (karena) yen (kalau) kebanjur (telanjur), kajantaka (akan sengsara) tumekeng (sampai) saumur (akhir hayat). Karena kalau sudah terlanjur, akan sengsara sampai di akhir usia.
Kabanjur yang dimaksud adalah lalai dalam mengamati tanda-tanda alam, seperti yang telah diuraikan dalam bait ke-81, Aja Kongsi Kabasturon. Jika lalai dalam mengamati tanda-tanda alam akan menjadi orang yang sengsara sampai akhir hayat. Akan menjadi orang yang tidak tanggap terhadap tanda-tanda jaman, tidak akan mendapat hikmat dari setiap kejadian. Akibatnya dia gagal memahami Sang Pencipta. Kesengsaraan apa lagi yang lebih dahsyat dari itu?
Tanpa (tanpa) tuwas (pahala, buah) yen (kalau) tiwasa (mati) ing (ketika) dumadi (makhluk). Tanpa pahala kalau kelak sudah mati sebagai sifat dari semua makhluk.
Tuwas menurut kamus Jawa Poerwadarminta berarti bêbungah minangka wohing kangelan, pahala sebagai buah dari jerih payah melakukan suatu perbuatan. Jadi orang yang tidak memahami atau lalai dari ayat-ayat Allah di alam laksana orang yang gabug (kosong) amalnya. Kelak di akhirat dia akan mendapati semua jerih payahnya sia-sia.
Sama halnya dengan orang-orang yang mengingkari ayat Allah yang berupa wahyu (al Quran) akan menjadi kafir dan tertolak amalnya, orang yang lalai dari ayat Allah di alam akan mendapati dirinya dalam kerugian karena amalnya kosong.
Dadi (menjadi) wong (orang) ina (hina) tan (tak) weruh (tahu). Menjadi orang hina yang tak tahu.
Dia menjadi orang yang tak tahu apa-apa, bingung dengan apa yang dilihat. Bertanya-tanya mengapa menjadi begini? Mengapa menjadi begitu? Dia menjadi asing karena apa yang diyakininya dahulu tenyata berbeda dengan kenyataan yang dihadapi kini.
Dheweke (dirinya) den (di) anggep (anggap) dhayoh (tamu). Dirinya dianggap tamu.
Karena terasing dengan alam akhirat itulah, dia merasa menjadi seperti tamu. Kematian yang seharusnya berarti pulang ke rumah sejati yang dirindukannya, tempat dia akan merasa damai selamanya, tempat yang selalu diimpikan selama pengembaraannya di dunia ini, tetapi yang didapati adalah tempat yang asing. Sungguh dia telah berada dalam kerugian yang nyata. Wallahu a’lam.
Bait ini adalah akhir dari Pupuh Gambuh Lanjutan, selanjutnya akan masuk ke Pupuh Kinanthi yang merupakan pupuh terakhir dari serat Wedatama.
PUPUH KINANTHI
Kajian Wedatama (83): Awas Eling, Pangreksaning Urip
Bait ke-83, Pupuh Kinanthi, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV:
Mangka kanthining tumuwuh, salami mung awas eling. Eling lukitaning alam,
dadi wiryaning dumadi. Supadi nir ing sangsaya,
Yeku pangreksaning urip,
Terjemahan dalam bahasa Indonesia:
Padahal yang harus selalu menyertai orang hidup, selamanya hanya waspada dan ingat.
Ingat ketetapan hukum alam,
agar menjadi makhluk yang luhur.
Supaya terbebas dari kesengsaraan, itulah penjagaan hidup (diri).
Kajian per kata:
Mangka (padahal) kanthining (yang harus selalu menyertai) tumuwuh (orang hidup), salami (selamanya) mung (hanya) awas (waspada) eling (ingat). Padahal yang harus selalu menyertai orang hidup, selamanya hanya waspada dan ingat.
Bait ini merupakan kelanjutan dari bait sebelumnya yang menyoroti orang yang lalai terhadap hukum alam. Mereka akan menderita kesengsaraan di dunia dan akhirat karena tak mampu membaca pergantian wujud dari satu keadaan kepada keadaan yang lain.
Bait ini menguraikan agar jangan sampai lalai dalam memahami hukum alam. Karena sesuatu yang harus selalu menyertai orang yang hidup di dunia ini, sejak dahulu sampai nanti hanya waspada dan ingat. Jika seseorang tidak meninggalkan dua hal itu berkaitan dengan mobah mosiking kahanan, maka akan mampu bersikap yang tepat, sikap yang akan menyelamatkannya dari fitnah dunia.
Eling (ingat) lukitaning (tegaknya, teguhnya) alam (hukum alam), dadi (menjadi) wiryaning (luhur) dumadi (makhluk). Ingat ketetapan hukum alam, agar menjadi makhluk yang luhur.
Hendaknya selalu mengingat tegaknya hukum alam yang berlakunya pasti kepada setiap makhluk. Sudah menjadi ketentuan Allah jika seseorang yang memegang kekuasaan akan cenderung korup, ini kecenderungan watak manusia yang sudah menjadi sunatullah.
Orang yang tak mempercayai hukum moral ini akan lalai dari menjaga diri, terlena oleh kemewahan dan hak istimewa yang diperoleh selama memegang kekuasaan. Akhirnya tergoda untuk mengumpulkan harta benda dengan cara tercela.
Lain lagi bagi orang yang sudah mengetahui sifat-sifat manusia manakala menggenggam kekuasaan. Dia sadar bahwa kuasa dan angkara cenderung menyatu dalam satu jiwa, maka dia waspada. Siang malam mengingat itu dan mempertebal keimanan agar tak tergoda. Di akhir kuasa dia selamat, dia berhasil menahan diri dari sikap melampaui batas dan memperturutkan nafsu. Itulah keluhuran (wirya) yang dimaksud dalam gatra ini
Supadi (supaya) nir (bebas) ing (dari) sangsaya (sengsara), yeku (itulah) pangreksaning (penjagaan) urip (hidup). Supaya terbebas dari kesengsaraan, itulah penjagaan hidup (diri).
Orang yang waspada dan ingat tadi akan selalu berupaya untuk bebas dari kesengsaraan akibat lalainya dia akan berlakunya hukum alam. Maka dia berupaya keras agar terhindar dari itu semua. Itulah yang namanya penjagaan diri, agar hidupnya terjaga sampai kelak di akhir hayat. Sesudah selesai masanya di dunia dia akan memperoleh pituwas yang pantas, buah dari jerih payahnya melawan nafsu angkara.
Kajian Wedatama (84): Bengkas Kahardaning Driya
Bait ke-84, Pupuh Kinanthi, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV:
Marma den taberi kulup, angulah lantiping ati.
Rina wengi den anedya, pandak panduking pambudi. Bengkas kahardaning driya, supaya dadya utami.
Terjemahan dalam bahasa Indonesia:
Oleh karena itu, anakku,
berlatihlah menajamkan perasaan.
Siang dan malam berusahalah,
tetap tertuju pada olah pemuliaan diri. Menghancurkan hasrat angkara di dalam hati, agar menjadi (manusia) utama.
Kajian per kata:
Marma (oleh karena itu) den taberi (rajinlah) kulub (anankku), angulah (berlatih) lantiping (menajamkan) ati (hati, perasaan). Oleh karena itu, anakku, berlatihlah menajamkan perasaan.
Sesudah kita tahu bahwa hanya awas dan eling yang membuat kita selamat di dunia sampai akhir hayat, maka hendaknya kita rajin (taberi) mengolah ketajaman rasa. Agar segala tanda- tanda atau sasmitaning alam dapat kita tangkap dengan mata batin yang jernih, melok sehingga dapat kita puluk dengan haqul yakin. Melok artinya kelihatan cetha wela-wela, tampak jelas sekali. Puluk artinya dapat kita genggam dengan seyakin-yakinnya, laksana gumpalan nasi di piring waktu kita makan dengan tangan.
Rina (siang) wengi (malam) den anedya (berusahalah), pandak (tetap) panduking (tertuju) pambudi (meningkatkan budi, pemuliaan diri). Siang dan malam berusahalah tetap tertuju pada olah pemuliaan diri.
Agar kita mencapai penglihatan yang awas tadi, kita mesti berusaha keras dengan memantapkan kehendak (anedya), segala asa mesti tetap tertuju pada pemuliaan akal budi. Atau dalam istilah yang keren, memasah mingising budi. Mingis-mingis adalah kondisi senjata yang amat tajam, berkilauan ujungnya tanda baru saja diasah. Inilah keadaan yang mesti menjadi tujuan kita setiap saat, hati yang setajam....silet!
Bengkas (menghancurkan) kahardaning (hasrat angkara) driya (dalam hati), supaya (agar) dadya (menjadi) utami (utama). Menghancurkan hasrat angkara di dalam hati, agar menjadi (manusia) utama.
Mengapa hati kita harus tajam? Karena diperlukan untuk membedah hasrat angkara (kahardaning driya) yang bersemayam dalam hati. Seperti yang telah kami sampaikan dalam bait yang lalu, bahwa orang yang mampu mencapai derajat keluhuran hanyalah orang yang selalu awas dan eling.
Kata awas di sini lebih banyak justru ditujukan pada diri sendiri, kepada hasrat yang melebihi takaran yang tertanam dalam di hati. Harda adalah hasrat yang meluap-luap untuk segera disalurkan, dan ini berlebihan. Jika kita sedikit saja lalai dan memberi angin segar, harda bangkit menjadi angkara gung dan menguasai nurani, sebelum akhirnya membelenggu tangan dan kaki, serta mengarahkannya ke tindak tercela.
Oleh karena itu ketajaman hati diperlukan agar dapat menghancurkan hasrat rendah di dalam diri, supaya hidup kita menjadi utama. Selama hayat masih dikandung badan, tak ada orang yang terbebas dari nafsu angkara, karena memang itu piranti hidup yang sangat vital. Tanpa itu kita pun tak dapat hidup, namun kita hanya memerlukan dalam kadar secukupnya, seperti kadar api di dapur sebagai alat memasak. Kita tak memerlukan api sebesar tobong, kalau hanya untuk memasak, seperti halnya kita tak memerlukan nafsu sebesar gunung hanya untuk tetap hidup sehat di dunia ini. Kuncinya adalah jangan melampaui batas.
Kajian Wredhatama 75-79
Kajian Wedatama (75): Kabukaning Kijabullah
Bait ke-75, Pupuh Gambuh Lanjutan, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV:
Dadya wruh; iya dudu,
Yeku minangka pandaming kalbu. Ingkang buka ing kijabullah agaib. Sesengkeran kang sinerung, dumunung telenging batos.
Terjemahan dalam bahasa Indonesia:
Menjadi paham: baik dan buruk.
Yaitu sebagai penerang hati.
Yang membuka hijab Allah yang ghaib. Sesuatu yang tersembunyi di dalam, letaknya ada di pusat kedalaman batin.
Kajian per kata:
Dadya (menjadi) wruh (paham); iya (boleh, baik) dudu (bukan, buruk). Menjadi paham: baik dan buruk.
Iya, dudu, kata ini merujuk kebiasaan orang jawa dalam menyebut suatu perbuatan. Perbuatan jahat sering disebut tumindak dudu, artinya perbuatan yang tidak diajarkan oleh syariat. Sebaliknya kata iya, berati boleh dilakukan. Nah, orang yang bersikap prasaja, ringan dalam memberi maaf dan menghindari hasrat yang membara seperti yang diuraikan pada bait sebelumnya, Sumimpang Ing Laku Dur, akan menjadi teranglah hatinya, sehingga menjadi paham: tentang apa yang boleh (iya) dan tidak boleh (dudu).
Yeku (yaitu) minangka (sebagai) pandaming (penerang) kalbu (hati). Yaitu sebagai penerang hati.
Hati yang terang seperti disebut di atas laksana mendapat cahaya dari lampu yang bersinar (pandam), sehingga menjadi jelas apa isi yang ada di dalam hati tersebut.
Ingkang (yang) buka (membuka) ing kijabullah (hijab Allah) agaib (yang ghaib). Yang membuka hijab Allah yang ghaib.
Cahaya yang bersinar menerangi hati tadi menjadi pengusir hijab kegelapan antara si pelaku dan Allah SWT, sehingga tersingkaplah rahasia ketuhanan dengan mata kepala sendiri.
Sesengkeran (Sesuatu di dalam) kang (yang) sinerung (tersembunyi), dumunung (letaknya) telenging (di dalam) batos (batin, hati). Sesuatu yang tersembunyi di dalam, letaknya ada di pusat kedalaman batin.
Maka terlihatlah sesuatu yang selama ini terkurung menjadi rahasia yang tersembunyi di pusat kedalaman batin manusia. Di situlah letak rahasia ketuhanan. Bagi orang awam rahasia ini terhijab oleh perilaku buruk. Yang kuat dalam menjalani laku sampai pada tahap sembah rasa akan memperoleh cahaya terang yang akan membuat isi hati menjadi kelihatan sehingga tersingkirlah hijab kegelapan di dalam hati. Maka tampaklah: Tuhan Allah Yang Maha Suci.
Pokok bahasan yang panjang dan melelahkan ini sebenarnya sederhana, sesuai dengan sabda Nabi, “Barangsiapa mengenal dirinya, maka ia mengenal Tuhannya!”
Kajian Wedatama (76): Momor pamoring Sawujud
Bait ke-76, Pupuh Gambuh Lanjutan, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV:
Rasaning urip iku,
krana momor pamoring sawujud. Wujudullah sumrambah ngalam sakalir. Lir manis kalawan madu,
endi arane ing kono.
Terjemahan dalam bahasa Indonesia:
Rasanya hidup (yang sejati) itu,
karena berbaur menyatu dengan Wujud Yang Satu.
Wujud Allah yang meliputi alam seisinya.
Seperti berbaurnya manis dengan madu,
manakah yang namanya (salah satunya disebut) pasti ada disitu.
Kajian per kata:
Rasaning (rasanya) urip (hidup) iku (itu), krana (karena) momor (berbaur) pamoring (pancaran) sawujud (Wujud Yang Satu). Rasanya hidup (yang sejati) itu karena berbaur menyatu dengan Wujud Yang Satu.
Sesungguhnya hanya ada Satu Wujud Sejati, yakni Allah SWT. Segala sesuatu selainnya adalah wujud pinjaman, atau bahkan tak berwujud. Keberadaan kita akan semakin menguat manakala kita mendekat dengan wujud yang sejati.
Dalam kajian bait ke-13, Sumusuping Rasa Jati, telah kami sampaikan arti dari kata pamor, yakni dari kata amor artinya menyatu. Pamoring sawujud adalah menyatunya wujud ke seluruh semesta. Kata pamor juga berarti cahaya yang memancar, arti inipun juga relevan dengan bait ini.
Dalam teori cahaya (hikmat al Israq) yang diperkenalkan oleh Syaikh Suhrawardi Al Maqtul, dijelaskan bahwa wujud adalah laksana sinar yang memancar dari Sumber Wujud, yakni Allah SWT. Cahaya yang memancar itu diterima dan menjadi cahaya pinjaman, seperti cahaya bulan yang sebenarnya adalah cahaya matahari yang diterima bulan dan dipantulkan kembali. Demikian pula sebenarnya hanya ada satu Wujud yakni wujud Allah semata. Adapun yang lain hanya berupa wujud pantulan yang diterima dari wujud Allah. Selanjutnya istilah wujud pantulan akan kita sebut dengan wujud (pakai w kecil), untuk membedakan dengan Wujud Allah (pakai W besar).
Ketika sesorang mendekat kepada Allah dengan cara menjalani perintah dan menjauhi larangannya (taqwa), maka posisinya mendekat dan wujud dalam dirinya menguat. Semakin bertaqwa seseorang derajat wujudnya semakin tinggi, yang berarti posisinya dengan Wujud juga menjadi semakin dekat. Dan sifat-sifat wujud akan menguat dalam dirinya, yang dimaksud di sini adalah sifat-sifat kebaikan yang adalah sifat-sifat ketuhanan, seperti kasih, sayang, pengampun, pendidik, dll.
Wujudullah (Wujud Allah) sumrambah (yang meliputi) ngalam (alam) sakalir (semuanya, seisinya). Wujud Allah yang meliputi alam seisinya.
Tidak ada tempat di manapun yang tidak ada pancaran Wujud Allah kecuali apa yang disebut ketiadaan. Jadi selama masih ada entitas, maka wujud pasti ada di situ. Yang membedakan adalah intensitas wujudnya. Ada yang letaknya sangat jauh sehingga wujudnya hanya samar- samar. Orang-orang jahat yang suka berbuat maksiat pun mempunyai wujud, namun mereka semakin jauh dari Wujud Allah, sehingga wujudnya tinggal samar-samar.
Lir (seperti) manis (manis) kalawan (dengan) madu (madu), endi (manakah) arane (namanya) ing (di) kono (situ). Seperti berbaurnya manis dengan madu, manakah yang namanya (salah satunya disebut) pasti ada disitu.
Wujud Allah yang sumrambah di alam sakalir tadi menyatu dan menjadi daya hidup bagi semua makhluk, seperti menyatunya manis dengan madu. Di mana ada kehidupan maka wujud ada di situ. Oleh karena itu apapun yang ada di dunia ini adalah manifestasi dari Wujud Allah semata-mata.
Orang-orang pandai yang sudah pana ing pamawas (sangat tajam penglihatnnya), akan paham tentang kenyataan ini. Bagi mereka semua kehidupan adalah tanda-tanda kebesaran Allah Yang Maha Tinggi.
Subhanallah! Alhamdulillah! Allahu Akbar!
Kajian Wedatama (77): Nuksmeng Pasang Semu
Bait ke-77, Pupuh Gambuh Lanjutan, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV:
Endi manis endi madu
yen wis bisa nuksmeng pasang semu. Pasamoaning hebing kang Maha Suci . Kasikep ing tyas kacakup
Kasat mata lahir batos.
Terjemahan dalam bahasa Indonesia:
Manakah manis manakah madu,
(akan jelas) bila sudah bisa menghayati gambaran wajah (Allah). Dalam perjamuan keagungan Yang Maha Suci,
dirangkul dalam hati dan dikuasai.
Akan terlihat dengan mata lahir dan batin.
Kajian per kata:
Endi (manakah) manis (manis) endi (manakah) madu (madu), yen (kalau) wis (sudah) bisa (bisa) nuksmeng (menghayati) pasang semu (gambaran wajah). Manakah manis manakah madu (akan jelas) bila sudah bisa menghayati gambaran wajah (Allah).
Dalam bait yang lalu tentang Momor Pamoring Sawujud, telah diuraikan bahwa Wujud Allah sumrambah ing alam sakalir, meliputi seluruh alam seisinya. Tetapi kita tak mampu mengenali wajah Allah tanpa ilmu yang cukup, hanya para ulul-albaab saja yang mampu mengenali tanda-tandaNya. Yang demikian karena mata hati kita masih tertutup hijabullah, sehingga yang terlihat adalah kegelapan, mirip orang yang berada di kamar gelap. Apabila hijab telah terbuka baru menjadi jelaslah Wujud Allah.
Orang yang telah mencapai pemahaman itu akan mampu membedakan, manakah manis manakah madu, karena sudah bisa menghayati gambaran Wajah Allah.
Pasamuaning (dalam perjamuan) hebeng (keagungan) kang (yang) Maha Suci (Maha Suci), kasikep (dirangkul) ing (dalam) tyas (hati) kacakup (dan dikuasai). Dalam perjamuan keagungan Yang Maha Suci, dirangkul dalam hati dan dikuasai.
Sesungguhnya alam raya seisinya ini dihamparkan sebagai karpet hijau tempat manusia berkarya. Semua ditundukkan bagi manusia agar dikelola, ini adalah perjamuan Tuhan bagi makhlukNya yang menyatakan diri sanggup memikul amanah. Orang yang telah mampu membedakan mana manis dan madunya, pasti sanggup mereguk keagungan (hebeng) Yang Maha suci. Hebeng dari kata heba ing, heba artinya raras, ramya, listya, yang artinya menyenangkan. Lebih tepat diterjemahkan sebagai agung karena di sana ada paduan antara senang, takjub dan ngungun, terpesona sampai melongo.
158
Apa yang sudah disaksikan tadi kemudian dirangkul dalam hati (kasikep ing tyas) dan kacakup, dicakup, dikuasai, menjadi sarana peningkat wujud, atau penerang cahaya dalam batinnya. Sehingga pandangannya menjadi amat tajam.
Kasat (terlihat) mata (dengan mata) lahir (lahir) batos (dan batin). Akan terlihat dengan mata lahir dan batin.
Maka akan terlihatlahlah segala sesuatu melalui mata lahir dan mata batin. Yang lahir melihat fenomena, yang batin melihat tanda-tanda. Yang lahir melihat isyarat, yang batin melihat sasmita. Yang lahir melihat gejala, yang batin melihat kenyataan.
159
Kajian Wedatama (78): Widadaning Budi Sadu
Bait ke-78, Pupuh Gambuh Lanjutan, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV:
Ing batin tan kaliru,
kedhap kilap liniling ing kalbu.
Kang minangka colok celaking Hyang Widhi. Widadaning budi sadu,
pandak panduking liru nggon.
Terjemahan dalam bahasa Indonesia:
Dalam batin tak keliru,
kebyar kilat cahaya terlihat jelas dalam hati.
Yang merupakan obor untuk penerang jalan mendekat kepada Yang Maha Kuasa. Langgengnya budi utama,
tetap tertuju pada pergantian tempat (wujud).
Kajian per kata:
Ing (dalam) batin (batin) tan (tak) kaliru (keliru), kedhap (gebyar) kilap (kilat) liniling (terlihat dengan jelas) ing (dalam) kalbu (hati). Dalam batin tak keliru, kebyar kilat cahaya terlihat jelas dalam hati.
Dalam batin tidak akan keliru lagi dalam mengenali kebyar kilatan cahaya yang sekarang jelas terlihat dalam hati. Sesudah berhasil mencapai tahap sembah rasa maka tak lagi silau dengan aneka kilat cahaya yang berkerlip seperti bintang.
Kang (yang) minangka (merupakan) colok (obor) celaking (dekat) Hyang Widhi (Yang Mahas Kuasa). Yang merupakan obor untuk penerang jalan mendekat kepada Yang Maha Kuasa.
Justru cahaya apapun akan menjadi penerang hati, laksana obor yang menerangi jalan mendekat kepada Yang Maha Kuasa. Dalam kajian bait ke-73, Weruh wekasing dumados, telah kami singgung bahwa orang yang mencapai tahap ini tidak akan sulap terhadap cahaya apapun yang terlihat, karena sudah mampu membedakan cahaya sejati dan cahaya pantulan, antara Wujud dan wujud. Orang ini hatinya tetap dalam pandangan yang stabil, tidak tolah- toleh (tengak-tengok kiri kanan) karena sudah tahu pasti ke mana akan menuju.
Widadaning (langgengnya) budi (budi) sadu (utama), pandak (tetap) panduking (tertuju) liru (pergantian) nggon (tempat). Langgengnya budi utama, tetap tertuju pada pergantian tempat (wujud).
Sifat yang sudah mapan ini disebut sebagai sadu budi, yakni tahap pencapaian tertinggi yang hanya dicapai oleh para pertapa yang tulus dan telah mengekang hawa nafsunya. Sadu budi sering diartikan sebagai watak pinandita, karena watak sadu adalah watak yang umumnya
160
dipunyai para pandita di jaman dahulu kala. Pandita adalah orang yang sudah meninggalkan hiruk-pikuk duniawi, dan telah membaktikan hidupnya untuk menolong sesama.
Dalam hal ini watak sadu harus dijaga kelanggengannya agar perhatiannya tidak terkecoh oleh pergantian tempat (wujud) yang akan sering dijumpai di alam ini. Ini penting agar manusia tidak tekecoh dengan fenomena-fenomena pergantian yang akan banyak ia temui.
Sekian dahulu kajian bait ini, jika masih ada tanda tanya dalam pikiran janganlah bosan. Pada bait-bait selanjutnya semuanya akan semakin terang. Penggubah serat ini memang senang memakai bahasa yang berbelit-belit, agak susah dalam memahaminya, dan lebih susah lagi menjelaskannya. Tetapi dengan usaha keras tak kenal tidur, Insya Allah semua akan jelas pada waktunya.
161
Kajian Wedatama (79): Sasmitaning Alam
Bait ke-79, Pupuh Gambuh Lanjutan, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV:
Nggonira mrih tulus,
kalaksitaning reh kang rinuruh. Nggyanira mrih wiwal warananing gaib? Paranta lamun tan weruh,
sasmita jatining endhog
Terjemahan dalam bahasa Indonesia:
Bagaimana supaya tercapai,
terlaksananya hal yang dicari.
Bagaimana caramu agar lepas dari penutup kegaiban itu? Apabila tidak mengetahui,
maka perhatikanlah kejadian pada telur (yang menetas).
Kajian per kata:
Nggonira (bagaimana) mrih (supaya) tulus (tercapai), kalaksitaning (terlaksananya) reh (hal) kang (yang) rinuruh (dicari). Bagaimana supaya tercapai, terlaksananya hal yang dicari.
Bait ini masih berkutat soal terbukanya hijab antara makhluk dan Sang Pencipta. Pada kajian bait 74, Kabukaning Kijabullah, telah dibahas tentang hijab Allah yang akan terbuka manakala kita membersihkan diri dari perbuatan tercela, (tumindak dudu). Di sini hal yang sama masih akan dibahas tetapi melalui asah budi, yakni memperhatikan segala fenomena alam seisinya. Ini adalah pendekatan lain yang lebih bersifat diluar dari diri manusia. Perlu diketahui bahwa alam semesta adalah juga ayat-ayatNya, sehingga merenung tentang segala kejadian juga akan mendapatkan hikmat yang agung. Tetapi bagaimana cara agar tercapai apa yang dicari itu? Dan apakah yang dicari itu?
Nggyanira (caramu) mrih (agar) wiwal (lepas) warananing (hijab, penutup) gaib (kegaiban)? Paranta (bersiaplah) lamun (bila) tan (tak) weruh (mengetahui), sasmita (tamsil, isyarat) jatining (kejadian) endhog (telur). Bagaimana caramu agar lepas dari penutup kegaiban itu? Apabila tidak mengetahui, maka perhatikanlah kejadian pada telur (yang menetas).
Bait ini menyuruh kita memperhatikan fenomena alam agar kita mendapat hikmat yang besar, yang akan dapat membuka tabir alam ghaib. Sesungguhnya kita sering menganggap sesuatu sebagai ghaib dan menisbahkannya kepada Tuhan hanya karena kita tidak tahu apa yang terjadi. Tetapi manakala kita telah tahu, serta merta keghaibannya hilang, dan kita hanya berkata, “Oh, Cuma begitu to?”
Sikap di atas sesungguhnya tidak baik dan tidak mendatangkan kearifan. Ilmu pengetahuan lambat laun akan menyingkap misteri-misteri yang selama ini kita tak tahu dan kita anggap
162
fenomena ghaib. Kelak apabila semua hal telah terungkap apakah wilayah Tuhan akan mengecil dan sirna. Tuhan akan terpinggirkan oleh ilmu pengetahuan? Inilah kesalahan kita, belum-belum sudah meletakkan kekuasaan Tuhan dengan melawankannya dengan hukum alam materi. Padahal sebenarnya hukum alam pun ciptaan Tuhan.
Bait ini berisi piwulang mendekati Tuhan dan membuka tabir atau hijab yang menghalangi manusia dan Tuhan dengan cara memperhatikan alam. Ini menarik karena dimunculkan pada abad ke-18, waktu ketika ilmu pengetahuan belum populer seperti sekarang. Sains belum berkembang dan mendikte hidup manusia. Sungguh bait ini membuat kita kagum akan pandangan Sri Mangkunegara yang visioner.
Kita harus berhenti di sini untuk kemudian melanjutkan bait berikutnya yang akan memberi contoh bagaimana memperhatikan fenomena alam mampu membuat kita memperoleh kearifan. Arif adalah mengenal, yakni mengenal Tuhan.
Kajian Wredhatama 70-74
Kajian Wedatama (70): Karasa Wosing Dumadi
Bait ke-70, Pupuh Gambuh, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV:
Samengko ingsun tutur,
gantya sembah ingkang kaping catur. Sembah rasa karasa wosing dumadi, Dadine wis tanpa tuduh,
Mung kalawan kasing batos..
Terjemahan dalam bahasa Indonesia:
Sekarang saya berbicara,
Beralih kepada sembah nomer empat, Sembah rasa terasalah hakekat kehidupan ini, Terwujudnya tanpa petunjuk,
Hanya dengan kesentausaan batin.
Kajian per kata:
Samengko (sekarang) ingsun (saya) tutur (berbicara), gantya (beralih) sembah (sembah) ingkang (yang) kaping (ke-) catur (empat). Sekarang saya berbicara, beralih kepada sembah nomer empat.
Sampailah sekarang pada sembah yang terakhir, sembah rasa. Apakah rasa itu? Ada banyak padanan kata dari rasa ini: rahsa, rahasa, rahasya, sir, raswa, driya, dll. Kesemua kata itu merujuk pada inti terdalam dari manusia yang tersembunyi.
Disebut sir yang berarti kecenderungan yang halus atau lembut (dari bahasa Arab sirr), seperti pada kata: atiku sir karo bocah wadon kae, hatiku mempunyai kecenderungan suka pada anak perempuan (gadis) itu.
Rasa disebut juga rahsa, rahasa, rahasya, raswa yang artinya rahasia terdalam. Yang menarik kata rahsa ini juga dipakai untuk menyebut wiji manusia manikem, alias air mani. Manikem sering kali juga disebut sebagai intisari dari seorang lelaki.
Disebut driya yang artinya perasa, ini bisa berarti fisik atau non fisik. Secara fisik rasa adalah apa yang terjadi pada lidah jika bersentuhan dengan sesuatu: amla (kecut), kayasa (sepet), kathuka (pedhes), sarkara (legi) lan tikta (pahit). Instrumen dari rasa dalam arti fisik adalah lidah. Secara non-fisik rasa sering dipakai untuk menyebut hal-hal yang terjadi pada hati: senang, gembira, sedih, haru, dll.
Jadi kata rasa bisa mempunyai banyak arti, tetapi kesemua arti itu selalu merujuk kepada intisari dari manusia. Rasa mempunyai makna yang berbeda dengan kalbu meski kadang dua kata ini dapat dipertukarkan untuk menggambarkan keadaan pada diri manusia. Rasa bersifat lebih halus, lebih dalam, lebih lembut daripada kalbu yang sering berbolak-balik.
Rasa juga berbeda dengan jiwa, dan letaknya lebih dalam pada struktur wujud manusia. Ia berkaitan dengan sejatinya manusia, pusat terdalam yang menjadi inti dari manusia itu, maka seringkali disebut dengan kata majemuk: rasa sejati.
Dalam bahasa lain rasa ini dekat dengan kata intelek (Inggris), atau juga dekat dengan kata ulul albaab (Arab). Disebut intelek karena mampu menangkap bukan saja fenomena tetapi juga noumena. Orang yang mempunyai intelek disebut ulul albaab, karena mampu menangkap ayat-ayat.
Sembah rasa (sembah rasa) karasa (terasalah) wosing (inti, hakekat) dumadi (kehidupan). Sembah rasa terasalah hakekat kehidupan ini.
Sembah rasa dengan demikian berati menyembah dengan intisari (wosing) atau hakekat terdalam dari kehidupan manusia. Wosing adalah inti atau bisa diartikan makna diciptakannya (dumadine) manusia. Rasa adalah puncak atau pencapaian akhir dari: raga yang tunduk, kalbu yang mantep (artinya sudah tetap, tidak berbolak-balik lagi, sudah tsabit) dan jiwa yang telah awas, eling dan emut.
Dadine (terwujudnya) wis (sudah) tanpa (tanpa) tuduh (pituduh, petunjuk), mung (hanya) kalawan (dengan) kasing (kesentausaan) batos (batin). Terwujudnya tanpa petunjuk, hanya dengan kesentausaan batin.
Sembah rasa ini merupakan buah dari laku yang dijalani raga, kalbu dan jiwa. Jika ketiga sembah terdahulu terpenuhi maka sembah rasa akan mewujud dengan sendirinya, tanpa petunjuk lagi. Ini bisa disebut buah dari kesentausaan batin (kasing batos).
Namun demikian sembah rasa juga mengandung jebakan betmen yang perlu diwaspadai. Agar kita tak salah mengenali seperti yang bisa terjadi pada sembah jiwa, atau yang disebut salah surup. Dua bait berikutnya akan menerangkan hal tersebut, jangan lewatkan kajian berikutnya.
Kajian Wedatama (71): Muluka kalamun Melok
Bait ke-71, Pupuh Gambuh, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV:
Kalamun durung lugu,
aja pisan wani ngaku aku.
Antuk siku kang mangkono iku kaki. Kena uga wenang muluk,
kalamun wus padha melok.
Terjemahan dalam bahasa Indonesia:
Apabila belum (mengalami) benar,
jangan sekali-kali mengaku aku.
Mendapat laknat yang demikian itu anakku. Boleh dikata berhak mengatakan,
apabila sudah sama-sama terlihat. .
Kajian per kata:
Kalamun (apabila) durung (belum) lugu (benar), aja (jangan) pisan (sekali-kali) wani (berani) ngaku aku (mengaku-aku). Apabila belum (mengalami) benar, Jangan sekali-kali mengaku aku.
Setiap laku sembah mempunyai ciri-ciri khusus sebagai pertanda apakah sembah yang dilakukan benar-benar berhasil dijalani atau belum. Sembah raga yang berhasil bercirikan segarnya badan, ini membuat antenging ati (tenangnya hati) sehingga angruwat ruweting batos (menghilangkan kisruhnya pikiran).
Sembah kalbu yang berhasil bercirikan munculnya rasa tumlawung, haru campur bahagia. Sembah jiwa yang berhasil bercirikan munculnya pencerahan berupa urub sumirat-sirat kadya kartika abyor, munculnya cahaya memancar-mancar sepertika bintang gemerlap. Ini adalah kiasan pencerahan batin sehingga jalan hidup di depan dapat dijalani dengan mudah karena sudah terang-benderang, antara yang haq dan batil. Sembah rasa yang berhasil juga mempunyai ciri-ciri khusus. Jika belum berhasil janganlah mengaku-aku.
Antuk (mendapat) siku (laknat, hukuman) kang (yang) mangkono (demikian) iku (itu) kaki (nak). Mendapat laknat yang demikian itu anakku.
Yang demikian itu tidaklah elok dilakukan (yakni mengaku-aku tadi). Akan mendapat laknat apabila demikian itu, anakku! Maksud dari siku (laknat) adalah hukuman atas kelancangan tersebut, yakni gagalnya mencapai hasil yang dituju oleh sembah rasa tersebut, maka menjadi sia-sialah seluruh upaya keras yang dilakukan.
Kena (boleh) uga (juga) wenang (berhak) muluk (mengaku, mengatakan), kalamun (apabila) wus (sudah) padha (sama-sama) melok (terlihat nyata). Boleh juga berhak mengatakan, apabila sudah sama-sama terlihat.
Muluk adalah menyajikan makanan dalam tangan siap dimasukkan ke mulut. Ini adalah ungkapan untuk mengklaim. Wenang muluk berarti boleh mengklaim, berhak mengaku apabila memang wus padha melok, semuanya sudah terlihat, sudah jelas berdasar pada ciri- cirinya. Apakah ciri-ciri dari sembah rasa yang berhasil? Nantikan kajian pada bait selanjutnya.
Kajian Wedatama (72): Kumandel Marang Takdir
Bait ke-72, Pupuh Gambuh, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV:
Meloke ujar iku,
yen wus ilang sumelanging kalbu.
Amung kandel kumandel marang ing takdir, Iku den awas den emut,
Den memet yen arsa momot.
Terjemahan dalam bahasa Indonesia:
Terlihatnya yang dibicarakan itu,
bila sudah hilang keragu-raguan hati,
Hanya percaya dengan sebenarnya kepada takdir, Itu harap awas dan ingat,
Yeng cermat apabila ingin menguasai seluruhnya.
Kajian per kata:
Meloke (terlihatnya) ujar (yang dibicarakan) iku (itu), yen (bila) wus (sudah) ilang (hilang) sumelanging (kekhawatiran) kalbu (hati). Terlihatnya yang dibicarakan itu (maksudnya sembah rasa), bila sudah hilang keragu-raguan hati.
Orang yang sudah mengetahui rahasia penciptaan, rahasia posisi dan kedudukan sebagai hamba Allah, takkan menyisakan keragu-raguan dalam hati. Tidak ada kekhawatiran, tidak pula ada rasa sedih di hati karena memikirkan hari esok, la tahinu wala tahzan.
Amung (hanya) kandel (percaya) kumandel (dengan sebenarnya) marang (kepada) ing takdir (takdir). Hanya percaya dengan sebenarnya kepada takdir.
Kandel di sini dari kata andel, andal. Orang jawa sering mengatakan senjata dengan kata sipat kandel, artinya kalau sudah memegang senjata kepercayaan diri meningkat karena keselamatannya lebih terjamin. Jadi kandel kumandel di sini bermakna percaya dengan sangat terhadap ketentuan (takdir) Allah. Inilah sifat seorang yan sudah berhasil dalam sembah rasa.
Iku (itu) den (yang) awas (awas) den (yang) emut (ingat), den (yang) memet (cermat, teliti) yen (jika) arsa (ingin) momot (memuat, menguasai). Itu harap awas dan ingat, yang cermat apabila ingin menguasai seluruhnya.
Kedua hal itu, hilangnya rasa khawatir (sumelang) dan percaya sepenuhnya (kandel kumandel) terhadap takdir, hendaknya selalu diawasi dengan cermat apakah sudah ada dalam diri kita. Apabila belum berarti sembah rasa yang kita lakukan belum sempurna, belum berhasil, maka harus diupayakan lagi. Apabila sudah ada rasa itu maka silakan membuat pengakuan atas penguasaannya, silakan melakukan klaim. Meski langkah terakhir juga sebenarnya tidaklah seyogyanya dilakukan, karena muara akhir dari rangkaian sembah yang dilakukan manusia tidak berhenti di sini. Ada tugas lain yang menanti apabila sudah paripurna dalam melakukan semua sembah itu.
Sampai di sini perjalanan menuju Tuhan sudah selesai. Catur sembah merupakan fungsi manusia dalam kedudukan sebagai hamba Allah. Sekarang ada dharma lain yang masih harus disandang, ialah memasuh malaning bumi (membersihkan penyakit di bumi) dan memayu hayuning bawana, memperidah keindahan semesta, dua tugas terakhir adalah tugas manusia sebagai fungsi khalifah (pengganti) Allah di bumi.
Bait ke-72 ini merupakan bait terakhir dalam naskah baku serat Wedatama. Hal ini karena pada naskah asli tertulis kata TITI yang berarti tamat. Para pakar berpendapat bahwa sisa bait dalam Wedatama dari bait ke-73 sampai bait ke-100 adalah naskah tambahan. Terdapat silang pendapat berkaitan dengan siapa penulis bait tambahan ini. Namun kami tidak akan masuk ke pembahasan tersebut. Sesuai niat awal kajian ini hanya mengkaji dari sisi gramatikalnya saja, dengan tujuan agar mudah dipahami.
Kajian Wedatama (73): Weruh Wekasing Dumados.
Bait ke-73, Pupuh Gambuh Lanjutan, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV:
Pamotaning ujar iku,
kudu santosa ing budi teguh. Sarta sabar tawekal legaweng ati. Trima lila ambeg sadu.
Weruh wekasing dumados.
Terjemahan dalam bahasa Indonesia:
Penguasaan atas petuah itu,
haruslah disertai dengan sentausa dan teguhnya akal budi. Serta harus sabar, tawakal dan ikhlas di hati.
Menerima, rela dan berwatak adiutama.
Memahami akhir dari setiap penciptaan.
Kajian per kata:
Kita lanjutkan kembali kajian serat Wedatama bait ke-73. Kajian kali ini sampai pada bab lanjutan, Pupuh Gambuh. Disebut lanjutan karena sebelumnya serat Wedatama telah dinyatakan tamat (titi). Namun kembali disambung dengan 38 bait lagi.
Terdapat kontroversi mengenai apakah bait-bait lanjutan ini masih merupakan karya Sri Mangkunegara IV. Tetapi seperti yang kami nyatakan pada bahasan yang lalu kita tidak akan mempermasalahkan hal itu. Selain karena isi dari bait lanjutan ini masih relevan dengan bait- bait sebelumnya, secara bahasa bait ini pun bergaya mirip dengan bagian inti. Kami mengambil kesimpulan bahwa bait lanjutan ini juga karya Sri Mangkunegara IV.
Pamotaning (penguasaan) ujar (petuah) iku (itu), kudu (harus) santosa (sentausa) ing (dalam) budi (budi) teguh (teguh). Penguasaan atas petuah itu, haruslah disertai dengan sentausa dan teguhnya akal budi.
Pada bait sebelumnya telah dinyatakan, jika hendak menguasai sembah rasa harus dilakukan dengan cermat, den memet (cermat) yen arsa momot. Kali ini ada syarat tambahan yakni harus mempersiapkan diri agar sentausa dan teguh dalam akal budi. Dengan ungkapan yang sederhana persiapan mentalnya harus kuat. Jika tidak akan terjadi ketakjuban sesaat yang berujung ketidaksadaran, alias sulap dengan kenyataan yang ditemui.
Sulap adalah kondisi tidak bisa melihat kebenaran justru ketika sangat dekat dengan kebenaran itu sendiri. Seperti halnya kita tak dapat melihat matahari karena saking (terlalu) terangnya matahari itu.
Sarta (serta) sabar (sabar) tawekal (tawakal) legaweng (ikhlas di) ati (hati). Serta harus sabar, tawakal dan ikhlas di hati.
Sabar karena laku yang ditempuh sangat berat, sejak awal sampai akhir depenuhi dengan keadaan serba mengekang hawa nafsu, meper (menahan) keingingan dan meminimalkan kebutuhan. Tawakal karena hasilnya bukan kita yang menentukan, tergantung pada kehendakNya untuk memberi pencerahan atau tidak. Ikhlas karena terlebih dahulu harus menyingkirkan motif rendah dan artifisial, dan menggantinya dengan hati yang kosong dari keinginan.
Trima (menerima) lila (rela) ambeg (watak, sifat) sadu (utama, hati yg suci). Menerima, rela dan berwatak adiutama.
Trima adalah sikap tidak protes terhadap apapun yang diberikan padanya. Lila bersikap senang hati atas apa yang diterima, atau terhadap yang tidak diterimanya. Ambeg sadu adalah watak orang yang telah mencapai derajat di atas keutamaan (adiutama). Hatinya mendekati hati orang-orang yang suci, terbebas dari pamrih apapun.
Weruh (memahami) wekasing (akhir) dumados (penciptaan). Memahami akhir dari setiap penciptaan.
Orang yang telah memahami akhir dari segala penciptaan, paraning dumadi, maka tidak akan banyak keresahan, kegalauan, ketakutan, kekhawatiran di hatinya. Sikapnya penuh dengan kerelaan, lila-legawa, rela dan legawa. Legawa adalah sikap bersenang hati atas apa yang terjadi, ini pencapaian yang lebih tinggi dari lila.
Begitulah watak dari para priyagung luhur yang telah mencapai kesempurnaan sembah rasa. Sepintas lalu uraian sifat-sifat di atas terlalu teoritis tetapi marilah kita mohon kekuatan agar diri kita mampu mencapai tahap itu. Berharaplah dengan pantas terhadap kehidupan. Dan bermohonlah kepada Yang Memberi Hidup.
Kajian Wedatama (74): Sumimpang Ing Laku Dur
Bait ke-74, Pupuh Gambuh Lanjutan, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV:
Sabarang tindak tanduk,
tumindake lan sakadaripun.
Den ngaksama kasisipaning sesami. Sumimpanga ing laku dur, hardaning budi kang ngrondon.
Terjemahan dalam bahasa Indonesia:
Semua tindak-tanduk,
dilakukan dengan sekadarnya.
Suka memberi maaf kepada kelalaian sesama manusia. Mengindarlah dari perbuatan tercela,
yang timbul dari hasrat angkara yang membesar.
Kajian per kata:
Sabarang (semua) tindak tanduk (tindak-tanduk, perilaku), tumindake (dilakukan) lan (dengan) sakadaripun (sekadarnya). Semua tindak-tanduk, dilakukan dengan sekadarnya.
Ini adalah sifat dari orang yang sudah mencapai tahap makrifat, weruh wekasing dumados, yakni sudah paham akan akhir dari segala penciptaan. Output dari pencapaian itu adalah perbuatannya sehari-hari yang terukur, sekadarnya saja, tidak berlebihan, tidak terlalu rendah dan terlalu tinggi, tidak terlalu ke kiri dan terlalu ke kanan, tidak terlalu banyak ataupun terlalu sedikit.
Sifat sekadarnya ini dapat diterapkan pada banyak hal. Dalam hal makan ialah makan seperlunya, tandanya apabila dia lapar dia makan dan sebelum kenyang dia berhenti. Dalam hal pakaian adalah tidak memakai sesuatu yang menarik perhatian, tidak terlalu bagus hingga mengundang pergunjingan, tidak terlalu jelek sehingga mengundang belas kasihan.
Dalam sikap sehari-hari pun juga bisa diterapkan, tidak membuat jengkel orang lain tetapi juga tidak berkesan asal membuat senang. Tidak otoriter tapi juga tidak lemah. Tidak menentang tapi juga tidak membebek. Tidak nyinyir tapi juga tidak apatis. Dan banyak contoh lain dari sikap sekadarnya ini. Yang jelas sikap sekdarnya lahir dari sebuah perenungan tentang sikap yang harus diambil secara tepat. Dalam hal ini kematangan rasa memegang peranan penting, dan rasa yang matang hanya diperoleh melalui sembah rasa yang berhasil.
Den (memberi) ngaksama (maaf) kasisipaning (kelalaian) sesami (sesama manusia). Suka memberi maaf kepada kelalaian sesama manusia.
Memberi maaf adalah kualitas agung dari jiwa manusia. Hanya orang-orang pilihan yang mampu melakukan. Namun ada yang lebih tinggi dari itu, adalah memaafkan kekhilafan orang lain, sebelum mereka menyadari kesalahan sendiri. Tidak perlu memaksa-maksa orang lain untuk meminta maaf, tetapi telah memaafkan dengan sendirinya.
Sifat pemaaf adalah pakaian orang-orang suci yang telah mengosongkan hatinya dari egoisme. Telah mampu membuang hasrat mengalahkan, dan telah menyingkirkan keinginan menampilkan kebesaran diri. Hanya orang-orang yang telah mencapai derajat sadu ing budi yang mampu melakukannya.
Sumimpanga (menghindarlah) ing (dari) laku (perbuatan) dur (tercela), hardaning (hasrat angkara) budi (budi) kang (yang) ngrondhon (membesar). Menghindarlah dari perbuatan tercela, yang timbul dari hasrat angkara yang membesar.
Menghindari adalah perbuatan preventif, artinya sengaja menjauhkan diri dari kondisi yang akan membuat diri menjadi terjebak dalam perbuatan tercela, atau menjauh dari tempat di mana ada potensi-potensi untuk munculnya hasrat-hasrat tercela.
Rondhon adalah rembuyung, yakni tumbuhnya tunas baru pada batang pohon secara cepat. Demikian juga hasrat-hasrat buruk bisa tumbuh cepat, ngrondhon di hati manakala mendapati lingkungan yang subur. Hal inilah yang harus dihindari.
Kajian Wredatama 65-69
Kajian Wedatama (65): Jagad Agung Ginulung Jagad Alit
Bait ke-65, Pupuh Gambuh, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV:
Ruktine ngangkah ngukut,
ngiket ngruket triloka kakukut. Jagad agung ginulung lan jagad alit. Den kandel kumandel kulup,
mring kelaping alam kono.
Terjemahan dalam bahasa Indonesia:
Merawatnya dengan berusaha menguasai, mengikat, merangkul, tiga jagad dikuasai. Jagad besar digulung oleh jagad kecil. Perkuatlah keyakinanmu anakku, terhadap gemerlapnya alam itu.
Kajian per kata:
Ruktine (merawatnya) ngangkah (menjangkau) ngukut (mengemasi, menguasai), ngiket (mengikat) ngruket (memeluk) triloka (tiga jagad) kakukut (dikemas, dikuasai). Merawatnya dengan berusaha menguasai, mengikat, merangkul, tiga jagad dikuasai.
Sembah Jiwa adalah perjalanan terakhir (pepuntoning laku), maka hendaklah benar-benar dirawat pencapaian ini dengan tuntas. Cara merawatnya dengan menjangkau sampai betul- betul dikuasai tiga jagad (triloka), yakni alam material, alam mental dan alam ruh.
Tiga alam tersebut dikemas dan diikat dalam sanubari dengan cara yang sudah kami sampaikan dalam bait terdahulu. Alam material dikuasai dengan mengerjakan syari’at secara lahir, alam mental dikuasai dengan menahan hawa nafsu dan alam ruh dikuasai dengan selalu awas dan ingat (dzikir).
Apabila semua itu telah dilakukan menurut laku masing-masing, yakni sembah raga, sembah kalbu dan sembah jiwa, maka tiga alam tadi (triloka) sudah diikat dan dikemas dalam genggaman. Jika sudah demikian maka diri menguasai segala sesuatu.
Jagad (jagad) agung (besar) ginulung (digulung, dikemas, dikuasai) lan (oleh) jagad (jagad) alit (kecil). Jagad besar digulung oleh jagad kecil.
Jagad besar adalah makrokosmos, alam raya seluruhnya. Jagad kecil adalah mikrokosmos, diri manusia. Dua istilah ini sering dipakai dalam kazanah sufisme. Mereka sering memperbandingkan jagad besar sebagai ciptaan Allah dan Allahlah penguasanya, dengan jagad kecil dalam diri manusia, tempat diri manusia berkuasa. Perbandingan ini memberikan tamsil, bahwa sebagaimana Allah berkuasa terhadap makrokosmos, maka hendaklah manusia juga berkuasa atas mikrokosmos.
Berkuasa atas mikrokosmos mengandung pengertian manusia mampu menundukkan apapun gejolak yang ada dalam diri manusia. Hasrat, keinginan, nafsu dan angan-angan hendaklah ditundukkan dan diatur agar harmonis sebagaimana harmonisnya makrokosmos. Ini tentu sangat berat jika kita tak berlatih untuk mengendalikan diri. Hanya orang-orang yang sudah paripurna dalam laku yang dapat menguasai mikrokosmos. Itulah yang disebut insan kamil.
Seorang yang sudah mencapai derajat insan kamil akan mengetahui rahasia penciptaan melalui renungan terhadap mikrokosmos tersebut. Inilah yang dimaksud dalam sabda Nabi, “Barang siapa mengenal dirinya, maka dia mengenal Tuhannya.”
Insan kamil adalah penguasa terhadap dirinya sendiri. Dia bertindak atas dirinya sebagaimana Allah bertindak atas alam raya (makrokosmos). Di sini orang yang mampu mengendalikan mikrokosmos akan memahami pula rahasia dari sistem yang berlaku pada makrokosmos. Inilah yang dimaksud dalam gatra ini, jagad agung ginulung lan jagad alit.
Den (di) kandel (tebal, maksudnya: perkuatlah) kumandel (keyakinan diri) kulup (nak), mring (terhadap) kelaping (gemerlapnya) alam (alam) kono (di situ). Perkuatlah keyakinanmu anakku, terhadap gemerlapnya alam itu.
Namun hendaklah diwaspadai, perkuatlah, perkokohlah mental spriritual kita agar kuat dan kokoh dalam menghadapi gemerlapnya alam itu. Ini merujuk pada seringnya orang terpeleset karena ketakjuban. Banyak pelaku sufisme yang mengalami hal seperti ini sehingga menjadi mabuk dan ekstatik, trance. Al Hallaj adalah contoh besar dalam hal ini. Di Jawa ada juga, Syeikh Siti Jenar. Mereka berdua silau oleh keindahan Yang Maha Kuasa sehingga tanpa sadar, karena telah menguasai mikrokosmos mengira menguasai makrokosmos dalam pengertian yang sebenarnya sehingga berteriak, “Akulah Tuhan!”
Maka berhati-hatilah!
Kajian Wedatama (66): Kanyut Ing Kanyatan
Bait ke-66, Pupuh Gambuh, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV:
Keleme mawi limut.
Kalamatan jroning alam kanyut. Sanyatane iku kanyatan kaki. Sejatine yen tan emut,
sayekti tan bisa amor.
Terjemahan dalam bahasa Indonesia:
Tenggelam oleh suasana gelap.
Mendapat firasat di dalam alam yang menghanyutkan itu. Sebenarnya itu kenyataan, anakku.
Sebenarnya kalau tidak ingat,
benar-benar tak bisa berecampur.
Kajian per kata:
Keleme (tenggelamnya) mawi (oleh, dengan) limut (gelap). Tenggelam oleh suasana gelap.
Orang yang sudah masuk dalam jagad alit akan tenggelam dalam suasana gelap, hening dan sangat pribadi. Meski dia berada di keramaian, hal itu takkan mengganggu kesendiriannya bersama Tuhan. Saluran komunikasi telah terbuka, khusus antara hamba dan Gusti Allah. Tak perlu melibatkan siapa-siapa dalam hal ini.
Segala aturan di alam fisik tak lagi menjadi kriteria di sini. Karena seorangpun jika sudah menghadap Tuhan maka dia harus meninggalkan segala urusan. Menjadikan hubungan personalnya dengan Gusti Allah sebagai prioritas, mengalahkan yang lain. Ini bukan berarti kemudian melahirkan sikap abai terhadap dunia, justru kini dia lebih peduli dengan keselamatan dunia seisinya. Karena dirinya telah menjadi pelayan Tuhan di dalam memayu hayuning bawana.
Kalamatan (mendapat alamat, firasat) jroning (dalam) alam (alam) kanyut (yang menghanyutkan). Mendapat firasat di dalam alam yang menghanyutkan itu.
Itulah alam kanyut, alam yang menghanyutkan. Batas antara alam fisik dan ruh. Sayup-sayup terdengar bisikan dari alam sana, namun di satu sisi masih terkait dengan alam sini. Kesadaran seolah-olah hanyut ke dalam alam itu, seolah seperti mimpi. Kenyataan menjadi terang benderang dalam sekejap, sebelum kemudian menghilang. Itulah yang disebut ngalamat, atau pesan kebenaran yang sesaat datang sebelum terjadinya sebuah kenyataan. Ngalamat ini dapat muncul karena di batas dua alam tersebut jiwa menjadi hening, mengendap sari-patinya, maka munculah sinar terangnya. Pada saat ini pandangan mata batin menjadi sangat tajam.
Analogi dari kejadian ini dapat kita temui pada waktu kita masuk dalam ruang gelap, (betul- betul gelap secara fisik, bukan kiasan). Saat pertama masuk ke dalam kegelapan mendadak mata kita tak mampu melihat sesuatu pun. Lambat laun mata mulai menyesuaikan. Sedikit demi sedikit mata dapat menangkap cahaya remang-remang, sampai puncaknya mata kita menjadi peka dalam membedakan gradasi kehitaman. Secara samar-samar kita mulai dapat mengenali benda-benda sekitar walau hanya ada sedikit cahaya. Mata kita menjadi sangat peka.
Kira-kira seperti itulah kerja mata batin kita dalam kegelapan realitas. Namun awas dalam gelap mata batin bisa menjadi awas dan peka, tetapi rasa kantuk sering lebih dahulu menyerang. Maka janganlah kita sampai hanyut (kanyut).
Sanyatane (sebenarnya) iku (itu) kanyatan (kenyataan) kaki (nak). Sebenarnya itu kenyataan, anakku.
Sebenarnya ngalamat yang datang secara sporadis dan sekejap tadi adalah kenyataan yang sebenarnya. Namun karena mata batin kita rabun oleh pekatnya nafsu, kenyataan menjadi tampak samar-samar, bahkan gelap. Maka hendaklah kita mengasah ketajaman hati melalui sembah jiwa agar mata batin kita awas.
Sejatine (sebenarnya) yen (kalau) tan (tidak) emut (ingat), sayekti (benar-benar) tan (tak) bisa (bisa) amor (bercampur). Sebenarnya kalau tidak ingat, benar-benar tak bisa bercampur (ke alam itu).
Kita kembali ke konsep dzikir sebagai cara untuk masuk (amor) ke alam ruh. Dzikir adalah mengingat kembali persaksian primordial kita di alam pra-kreasi. Dzikir adalah mengingat fitrah kita sebagai makhluk yang tunduk dan patuh terhadap Sang Pencipta. Maka jika kita tak mampu untuk melakukan dzikir tersebut kita takkan mampu berbaur dengan ritme kehidupan di alam itu.
Hasil dari dzikir adalah emut (ingat) tentang siapa diri kita sebenarnya. Emut adalah kesadaran paripurna dari sembah jiwa.
Kajian Wedatama (67): Katone Sang Dhiri
Bait ke-67, Pupuh Gambuh, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV:
Pamete saka luyut.
Sarwa sareh saliring panganyut. Lamun yitna kayitnan kang miyatani. Tarlen mung pribadinipun,
kang katon tinonton kono.
Terjemahan dalam bahasa Indonesia:
Sarananya dari luyut (batas lahir dan batin).
Serba sabar dalam mengikuti alam yang menghanyutkan. Asal waspada dengan kewaspadaan yang andal.
Itu tak lain hanya pribadinya,
Yang tampak terlihat di situ.
Kajian per kata:
Pamete (sarananya) saka (dari) luyut (batas lahir dan batin). Sarananya dari luyut (batas lahir dan batin).
Sembah jiwa membuat kita mampu menjangkau sampai batas kesadaran di alam ruh. Kita hampir menapak ke alam sana, sementara kita masih tetap berada di alam sini. Di tapal batas dua alam ini kita mengalami resonansi kenyataan yang disebut ngalamat. Ngalamat memberi kita potongan-potongan kebenaran dari alam sana yang sebenarnya walau tersembunyi adalah kenyataan yang sejati.
Sarwa (serba) sareh (sabar) saliring (semua hal) panganyut (yang menghanyutkan). Serba sabar dalam mengikuti alam yang menghanyutkan.
Hendaknya kita sabar dalam mengikuti alam kanyut tersebut. Karena di sanalah kebenaran sejati, kenyataan yang sebenarnya, berada. Semakin sering kita berdzikir kita akan mencapai keadaan emut, yakni terbukanya kenyataan primordial atau fitrah kita sebagai hamba Allah.
Lamun (asal, jika) yitna (waspada) kayitnan (kewaspadaan) kang (yang) miyatani (mitayani, diandalkan). Asal waspada dengan kewaspadaan yang andal.
Apabila kita selalu waspada menjaga keadaan ini secara terus menerus dengan kewaspadaan yang andal, bersungguh-sungguh dalam dzikir, Insya Allah kita akan menemukan kebenaran sejati.
Tarlen (tak lain) mung (hanya) pribadinipun (pribadinya), kang (yang) katon (tampak) tinonton (terlihat) kono (di situ). Itu tak lain hanya pribadinya,yang tampak terlihat di situ.
Puncak dari pencapaian sembah jiwa melalui apa yang disebut dzikir, mengingat fitrah kita, menelusuri kesejatian, adalah menemukan diri sendiri. Ini selaras dengan sabda Nabi, “Barangsiapa mengenal dirinya maka ia mengenal Tuhannya.”
Dalam kazanah budaya Jawa ada kisah pewayangan tentang pencarian diri ini, yakni dalam cerita Bima Suci. Dalam cerita ini Bima dikisahkan mencari tirta amreta atau air keabadian. Oleh sang guru Begawan Drona Bima disuruh mencari di dasar samudera. Karena patuh dan percaya pada sang guru Bima tidak berpikir panjang, dia menceburkan diri ke dalam lautan. Dia hanyut dalam pusaran air di kegelapan samudera.
Di dalam keadaan antara hidup dan mati, di batas dua alam inilah Bima justru menemukan kebenaran sejati. Dalam cerita itu dia ditemui sosok yang disebut Dewa Ruci, personifikasi Dewa Ruci adalah sosok yang mirip dengan Bima tetapi kecil, oleh karena sering disebut Bima Kunthing. Yang sesungguhnya Dewa Ruci adalah diri Bima sendiri dalam pencapaian puncak kesadaran manusiawi. Dewa Ruci adalah saripati dari Bima sendiri yang muncul dalam keadaan kepasrahan total kepada Sang Penguasa Jagad Raya.
Kajian Wedatama (68): Urub Pangareping Budi
Bait ke-68, Pupuh Gambuh, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV:
Ning aywa salah surup,
kono ana sajatining urub.
Yeku urub pangarep uriping budi. Sumirat sirat narawung,
kadya kartika katonton.
Terjemahan dalam bahasa Indonesia:
Tetapi jangan salah terima,
di situ ada cahaya sejati.
Ialah cahaya yang memimpin hidupnya sanubari. Bercahaya memancar benderang,
bagaikan bintang nampaknya.
Kajian per kata:
Ning (tetapi) aywa (jangan) salah surup (salah terima), kono (di situ) ana (ada) sajatinig (sejatinya) urub (cahaya). Tetapi jangan salah terima, di situ ada cahaya sejati.
Pembahasan bait ini masih tentang alam kanyut, yang sebenarnya adalah alam tempat bertemunya dua alam, alam materi dan alam ruh. Filosof muslim Ibnu ‘Arabi secara metafora menyebut alam ini sebagai alam imajinal atau barzakh atau alam antara. Sebagaimana alam barzakh yang sering kita dengar adalah alam antara dunia dan akhirat, barzakh yang dimaksud Ibnu Arabi adalah alam antara materi dan ruh. Sifat alam imajinal ini merupakan campuran keduanya, kadang masih bercampur sifat materinya, kadang bersifat ruhaniah.
Walau demikian kedudukan alam ini adalah lebih tinggi dari alam material, hanya saja perlu sebuah upaya yang sungguh-sungguh agar tidak terpeleset ketika masuk ke wilayah ini. Yakni harus selalu menjaga agar tetap dalam keadaan emut, ingat akan posisi kita di dalam konstelasi wujud sebagai hamba Allah. Sebuah pengakuan yang dahulu pernah kita ucapkan dalam alam pra-kreasi.
Jika keadaan emut tersebut tak tercapai atau kadang hilang kita bisa tergelincir karena alam ini sangat mudah menghanyutkan, oleh karena disebut alam kanyut. Contoh ketergelinciran adalah apa yang dilakukan Al Hallaj dan Syeikh Siti Jenar, dalam riwayat-riwayat yang sudah sering kita dengar.
Maka keadaan emut tadi harus senantiasa kita upayakan dengan sungguh-sungguh, agar kita tidak hanyut dan kemudian meracau tak karuan seperti para mistikus yang trance yang mengira cahaya diri sebagai sifat ketuhanan, sehingga terlontar ucapan: “Ana Al Haqq!”
Yeku (yaitu) urub (cahaya) pangarep (pemimpin, penuntun) uriping (hidupnya) budi (sanubari, akal budi). Ialah cahaya yang memimpin hidupnya sanubari.
Pangarep berarti yang didepan, ini berarti cahaya yang kita lihat seharusnya kita sikapi sebagai pertolongan Allah yang membuat jalan menjadi terang. Hendaknya kita selalu emut dengan posisi kita tadi sebagai hamba Allah, maka cahaya apapun yang kita lihat dapat menjadi pangarep, penuntun dalam melangkah ke depan.
Sumirat (bercahaya) sirat (memancar) narawung (benderang), kadya (bagaikan) kartika (bintang) katonton (nampaknya, terlihat). Bercahaya memancar benderang, bagaikan bintang nampaknya.
Urub (cahaya) tadi apabila kita mampu menempatkan dengan benar akan menjadi penerang hidup kita, membawa kita dari kegelapan menuju terang, sehingga laku kita menjadi semakin mudah, tujuan kita menjadi jelas karena jalan yang ditempuh menjadi terang benderang.
Sumirat-sirat berarti cahaya yang memancar-mancar, sebagai pertanda keadaan terang benderang. Secara metafora ini adalah keadaan ketika manusia tidak lagi bingung dalam membedakan antara yang haq dan batil. Sehingga menjadi jelas, tanpa perlu bujukan, perintah dan ancaman lagi, ke mana kaki harus melangkah.
Ini adalah rahasia terdalam dari pengamalan syariat. Ketika di tingkat syariat kita memerlukan motivasi dalam berbuat,yang berupa pahala surga dan daya dorong yang berupa ancaman siksa neraka. Namun ketika kita sudah mengenali yang haq secara hakiki segala pahala dan siksa kehilangan makna. Yang tersisa adalah ketertundukan yang sukarela, ikhlas dan tanpa pamrih.
Kajian Wedatama (69): Kang Wengku-Winengku
Bait ke-69, Pupuh Gambuh, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV:
Yeku wenganing kalbu.
Kabukane kang wengku winengku. Wewengkone wis kawengku neng sireki, Ning sira uga kawengku,
Mring kang pindha kartika byor.
Terjemahan dalam bahasa Indonesia:
Itulah terbukanya hati,
Terbukalah yang kuasa dan dikuasai, Daerahnya sudah kau kuasai,
Tetapi kau juga dikuasai,
Oleh cahaya yang seperti bintang gemerlap.
Kajian per kata:
Yeku (yaitu) wenganing (terbukanya) kalbu (hati). Itulah terbukanya hati.
Apabila di dalam luyut, yakni batas antara lahir dan batin yang juga disebut sebagai alam kanyut tadi, kita sudah mampu melihat cahaya memancar (sumirat) sebagai petunjuk jalan, maka artinya sudah terbuka hati kita untuk menerima kebenaran sejati.
Terbukanya hati memunculkan kesadaran baru bahwa antara hanya ada SATU WUJUD di alam semesta ini, ialah Wujud Tuhan Sang Pencipta. Ini bukan sebuah kemenyatuan atau manunggaling kawula-Gusti, tetapi sebuah kenyataan bahwa wujud kita berasal dari-Nya, bukan dari sesuatu yang lain. Kita adalah manifestasinya di alam materi ini.
Hendaklah berhati-hati dalam memahami persoalan ini. Banyak orang terjebak pada doktrin pantheisme akibat salah paham tentang kesatuan wujud Tuhan-manusia. Pada saatnya nanti kami akan menjelaskan ini secara lebih detail.
Kabukane (terbukanya) kang (yang) wengku (kuasa) winengku (yang dikuasai). Terbukanya yang kuasa dan dikuasai.
Sesudah kita sampai di batas alam (luyut) dan menguasai makna di dalamnya, maka diri kita pun dibuat takjub oleh sinar kebenaran yang memancar. Keagungan Tuhan di alam itu benar- benar menguasai diri kita, sehingga kita tak mampu memalingkan muka karena ketakjuban.
Wewengkone (wilayahnya) wis (sudah) kawengku (dikuasai) neng (oleh) sireki (engkau), ning (tetapi) sira (engkau) uga (juga) kawengku (dikuasai), mring (oleh) kang (yang) pindha (seperti) kartika (bintang) byor (gemerlap). Daerahnya sudah kau kuasai, tetapi kau juga dikuasai, oleh cahaya yang seperti bintang gemerlap.
Meski kita mampu menjangkau alam kanyut dan menguasainya, namun kita juga dikuasai oleh pesona keindahan cahayanya yang menakjubkan. Kita tak mampu beranjak lama-lama dari situ. Hati kita senantiasa kemanthil-kanthil, terbayang-bayang untuk kembali lagi ke sana.
Di awal serat Wedatama ini, dalam Pupuh sinom, disebutkan tentang laku Panembahan Senopati yang kayungyun eningingtyas. Kata kayungyun sering dipakai untuk menyebut orang yang sedang dimabuk asmara, siang malam merindukan kekasih hati, selalu ingin jumpa. Frasa kayungyun eningingtyas menggambarkan keadaan seorang yang selalu rindu untuk menyepi, melakukan komunikasi dengan Tuhan. Keadaan seperti inilah yang dimaksud dalam bait ini.
Orang yang telah menyaksikan cahaya Ilahi ini akan senantiasa kecanduan untuk berlama- lama menikmatinya. Jika pun dia kembali ke alam materi hatinya selalu terpaut di sini. Membuat dia tak sabar untuk meluangkan waktu agar dapat kembali. Mungkin hal inilah yang dialami Panembahan Senopati sehingga beliau selalu, di sela-sela kesibukannya sebagai Raja Mataram, meluangkan waktu untuk menyepi. Beliau seolah-olah kecanduan dan dikuasai oleh sesuatu yang begitu indah sehingga sulit untuk ditinggalkan. Kata kayungyun sangat tepat untuk menggambarkan keadaan itu.
Bait ini adalah akhir dari pembahasan tentang sembah jiwa. Laku-nya adalah awas dan eling, mengingat fitrah kesejatian kita sebagai hamba Allah. Outputnya adalah kesadaran wujudiyah, bahwa hanya Wujud Allah-lah yang ada.
Kajian Wredatama 60-64
Kajian Wedatama (60): Wenganing Alam Kinaot
Pada atau bait ke-60, Pupuh Gambuh, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV:
Mring jatining pandulu,
Panduk ing ndom dedalan satuhu, Lamun lugu legutaning reh maligi, Lageyane tumalawung, Wenganing alam kinaot.
Terjemahan dalam bahasa Indonesia:
Pada pandangan yang sebenarnya,
Mencapai pedoman jalan yang benar,
Jika sungguh-sungguh biasannya (ada pertanda) khusus, Ciri khasnya keadaan haru bercampur bahagia. Terbukanya alam yang lain.
Kajian per kata:
Mring (kepada) jatining (sejatinya) pandulu (pandangan). Pada pandangan yang sebenarnya.
Orang yang berhasil dalam sembah kalbu akan terbuka kepada pandangan yang sebenarnya, tentang hakekat kehidupan. Itu terjadi karena sembah kalbu membuat seseorang mampu berpikir jernih akibat tidak terkontaminasi hawa nafsu. Karena sudah dibiasakan untuk sekedar memenuhi kebutuhan saja, tanpa mengumbar keinginan yang tak perlu.
Sering terjadi dan acapkali kita lihat bahwa meskipun seseorang terdidik dan pandai tetapi sering blawur (rabun) dalam melihat kenyataan. Boleh jadi hal tersebut karena yang bersangkutan menyimpan pamrih dalam hati. Cobalah perhatikan hari-hari ketika menjelang pilkada, pasti ada satu-dua orang pintar yang berpendapat minor, tak masuk akal, dan kadang terlalu vulgar sikap ngawurnya, hanya karena dia mendukung salah satu cakada.
Dalam kazanah budaya Jawa ada ungkapan melik nggendhong lali, artinya ketika seseorang menyimpan hasrat memiliki (entah apapun) dalam hatinya, pikirannya menjadi khilaf. Oleh karena itu amat sangat penting membersihkan diri dari hasrat-hasrat dalam hati.
Panduk (terkena, menerima, mencapai) ing (pada) ndom (pandom, pedoman) dedalan (jalan) satuhu (yang benar). Mencapai pedoman jalan yang benar.
Karena pandangannya lebih awas dalam melihat hakekat kehidupan, maka akan tercapai pedoman perikehidupan yang sebenarnya. Ibarat orang yang berjalan dan mampu melihat rambu-rambu di sepanjang jalan, maka dia pasti mengetahui arah yang benar dan takkan tersesat.
Lamun (jika) lugu (sungguh-sungguh) legutaning (biasanya) reh (hal) maligi (khusus). Jika bersungguh-sungguh biasanya (ada pertanda) khusus.
Jika bersungguh-sungguh dalam melakukan sembah kalbu maka akan ada pertanda khusus sebagai isyarat bahwa jalan yang ditempuh sudah benar.
Manusia ketika hidup di dunia ini memang hanya mampu melihat tanda-tanda kekuasaan Allah SWT. Tanda-tanda itu bisa kuat bisa lemah, tergantung pada kemampuan spiritual yang bersangkutan. Oleh karena itu sudah seharusnya manusia selalu berusaha mempertajam kepekaan dalam mengenali tanda-tanda tersebut melalui latihan-latihan. Dalam budaya Jawa ada istilah memasah mingising budi, mengasah ketajaman akal-budi. Sembah kalbu adalah salah satunya.
Lageyane (ciri khasnya, sifatnya) tumalawung (haru bercampur bahagia, seperti melihat kebesaran Tuhan). Ciri khasnya keadaan haru bercampur bahagia.
Ciri khasnya adalah munculnya perasaan haru campur bahagia. Ini biasa terjadi jika kita sedang kusyu’ berdoa, mendekatkan diri kepada Tuhan (biasanya pada saat shalat), ada rasa haru di hati, ada rasa lega, plong seperti beban yang hilang diangkat. Ada rasa tunduk dan khidmat seolah sudah menghadap Allah Yang Maha Besar, mengadukan segala masalah, memohon pertolongan, memohon kekuatan, dan rasanya plong, lega sekali.
Wenganing (terbukanya) alam (alam) kinaot (terpaut, yang lain). Terbukanya alam yang lain.
Ketika sampai pada keadaan yang demikian itu maka terbukalah alam lain, alam yang lebih tinggi dari alam materi yang didalamnya kita juga hidup sekarang ini. Karena sesungguhnya kita sekarang tidak hidup di satu alam saja, melainkan berlapis-lapis. Hal itu sudah kami jelaskan pada saat membahas triloka pada bait ke-34, Aywa Kongsi Mbabar Angkara.
Kajian Wedatama (61): Ilanging Rasa Tumlawung
Bait ke-61, Pupuh Gambuh, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV:
Yen wis kambah kadyeku.
Sarat sareh saniskareng laku. Kalakone saka eneng ening eling. Ilanging rasa tumlawung.
Kono adiling Hyang Manon.
Terjemahan dalam bahasa Indonesia:
Bila sudah mencapai keadaan itu.
Saratnya sabar segala tindak tanduk. Terlaksananya dengan cara tenang syahdu ingat. Hilangnya rasa haru campur bahagia.
Itulah Maha adilnya Tuhan Yang Maha Melihat.
Kajian per kata:
Yen (Bila) wis (sudah) kambah (mencapai) kadyeku (keadaan itu), sarat (syarat) sareh (sabar) saniskareng (saniskara ing, segala) laku (tindak-tanduk). Bila sudah mencapai keadaan itu, saratnya sabar segala tindak tanduk.
Bila sudah mencapai keadaan itu, yakni terbukanya alam lain yang lebih tinggi (bait ke-60), maka harus dijaga agar keadaan itu secara terus menerus hadir dalam kalbu.
Apapun pencapaian spiritual manusia apabila tak dijaga bisa hilang sewaktu-waktu, maka harus selalu dipertahankan agar tidak kembali melorot derajatnya. Dalam sembah kalbu yang selalu harus dijaga adalah sabar dalam segala tindak-tanduk, sehari-hari, selama-lamanya.
Kalakone (terlaksananya) saka (dengan cara) eneng (tenang) ening (syahdu) eling (ingat). Terlaksananya dengan cara tenang syahdu ingat.
Terlaksananya kontinuitas sembah kalbu adalah dengan cara eneng, ening dan eling. Eneng adalah keadaan diam, yang dimaksud adalah diamnya pikiran dari segala gerak-gerik keinginan. Dalam eneng pikiran-pikiran kotor akan mengendap, sehingga pikiran menjadi jernih, khidmat dan dipenuhi keagungan (syahdu).
Ening adalah jernihnya pikiran karena kotorannya telah mengendap. Karena telah mengendap, maka pikiran yang telah jernih tadi akan mampu mengingat (eling) akan diri pra- kreasi. Ini adalah proses mengingat fitrah manusia pada masa sebelum penciptaan, ketika kita pernah berkata: “Aku bersaksi!” terhadap keagungan Allah. Jadi eling adalah mengingat (zikir) akan posisi azali kita di hadapan Allah SWT.
Eneng, ening, eling adalah proses kesadaran yang selalu harus dijaga agar selalu menjadi watak sehari-hari, karena apabila hilang sungguh akan merugikan sendiri. Mengapa?
Ilanging (hilangnya) rasa (perasaan) tumlawung (haru campur bahagia). Hilangnya rasa haru campur bahagia.
Hilangnya eneng, ening, eling karena lalai tidak mengupayakannya terus-menerus akan berakibat hilangnya perasaan haru bercampur bahagia (tumlawung) yang selalau dirasakan manakala sedang shalat. Ini adalah kemunduran karena shalatnya kemudian menjadi semata- mata sembah raga saja.
Kono (di situ) adiling (adilnya) Hyang (Yang) Manon (Maha Melihat). Itulah Maha Adilnya Tuhan Yang Maha Melihat.
Di situlah keadilan Allah Yang Maha Melihat. Dia senantiasa memantau keadaan hamba- hambanya, tak mengabaikan walau hanya sebentar. Kepada yang telah bersungguh-sungguh berusaha dia akan memberikan rahmatNya, kepada yang lalai Dia akan mencabutnya kembali. Dia menangani segala urusan, dan tak pernah tidur. Gusti Allah ora sare, kata orang Jawa.
Kajian Wedatama (62): Gagare Ngunggar Kayun
Pada atau bait ke-62, Pupuh Gambuh, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV:
Gagare ngunggar kayun,
Tan kayungyun mring ayuning kayun, Bangsa anggit yen ginigit nora dadi, Marma den awas den emut,
Mring pamurunging lelakon.
Terjemahan dalam bahasa Indonesia:
Gagalnya membiarkan kehendak hati.
Tidak tertarik kepada keindahan tujuan,
Hal yang direka-reka bila dirasakan tidak terwujud, Maka dari itu harap waspada dan ingat,
Terhadap penghalang di perjalanan.
Kajian per kata:
Gagare (gagalnya) ngunggar (membiarkan) kayun (hati, kehendak). Gagalnya membiarkan kehendak hati.
Melihat konteks kalimat di atas lebih tepat jika diartikan sebagai: gagalnya mewujudkan potensi hati, gagalnya meraih potensi maksimalnya. Hati kita sebenarnya dapat berpotensi untuk meraih hal-hal yang telah disebutkan dalam bait sebelumnya, tetapi hal tersebut dapat gagal karena berbagai sebab. Jadi membiarkan hati dalam gatra ini lebih tepat diartikan sebagai membiarkan hati meraih potensi terbaiknya.
Tan (tidak) kayungyun (tertarik, terpesona) mring (pada) ayuning (kindahan) kayun (hati).
Antara lain sebab gagalnya adalah; hati tidak tertarik pada keindahan bentuk sempurnanya. Hal ini merujuk pada kisah Panembahan senopati pada bait ke-16 yang kayungyun eningingtyas, terpesona kaheningan hati sehingga beliau terpacu semangatnya untuk menyepi. Apa hubungan ening dan ayu? Keduanya sama-sama bentuk puncak dari potensi hati yang diasah melalui pertapaan, atau mengurangi hawa nafsu. Jadi kurang lebih keduanya serupa. Jika seseorang sudah tidak tertarik pada keindahan hati, maka dipastikan usaha untuk meraihnya pun mengendur.
Bangsa (semacam hal) anggit (direka-reka) yen (kalau) ginigit (digigit, dirasakan) nora (tidak) dadi (terwujud). Hal yang direka-reka bila dirasakan tidak terwujud.
Hal tersebut (tidak tertariknya hati) membuat hati enggan, seolah terpaksa untuk meraih ayuningtyas, sehingga cenderung untuk mereka-reka (nganggit). Bisa jadi hal ini karena enggan menempuh laku sembah kalbu karena kemalasan sehingga merasa sudah mencapai tujuannya. Padahal itu hanya tujuan semu, yang kalau dirasakan (ginigit) tidak ada wujudnya (nora dadi).
Marma (oleh karena itu) den (harap) awas (awas) den (dan harap) emut (ingat), mring (terhadap) pamurunging (penghalang) lelakon (diperjalanan). Maka dari itu harap waspada dan ingat, terhadap penghalang di perjalanan.
Ghirah dalam beribadah secara fisik (sembah raga) kepada Allah dapat naik-turun, kadang sangat bersemangat tetapi kadang tak bergairah, loyo. Hal itu bisa karena berbagai kondisi, mungkin terlalu lelah fisik sehingga hati menjadi kendur, mungkin karena hati terlalu terpaut pada dunia sehingga tak lagi cenderung pada ibadah, maka tubuh yang kuat pun tak mampu tergerak.
Dalam hal sembah kalbu, godaan lebih berat lagi karena sembah kalbu adalah ibadah yang tak tampak oleh orang lain. Tidak ada istilah riya’ dalam sembah kalbu karena sembah kalbu tak dapat dilihat oleh orang lain. Yang memotivasi adalah diri sendiri.
Beberapa hal yang membuat gagalnya sembah kalbu adalah ketidaksabaran, kurang hati-hati dan merasa cukup. Maka perlu kiranya selalu menjaga hati agar senantiasa bersikap tata, titi, ngati-ati, sareh dan telaten. Pengertian masing-masing sikap telah diuraikan dalam bait-bait sebelumnya.
Bait ini adalah bait terakhir yang membahas sembah kalbu, bait selanjutnya akan berbicara tentang sembah jiwa. Apakah itu? Silakan terus mengikuti kajian ini.
Kajian Wedatama (63): Sembah Jiwa
Pada atau bait ke-63, Pupuh Gambuh, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV:
Samengko kang tinutur,
sembah katri kang sayekti katur,
mring Hyang sukma sukmanen saari-ari. Arahen dipun kacakup,
sembahing jiwa sutengong.
Terjemahan dalam bahasa Indonesia:
Sekarang yang dibicarakan,
sembah ke tiga yang sebenarnya diperuntukkan, untuk Yang Ghaib, dijalankan setiap hari. Arahkan agar tercakup,
sembah jiwa ini, anakku!
Kajian per kata:
Samengko (sekarang) kang (yang) tinutur (dibicarakan), sembah (sembah, ibadah) katri (yang ketiga) kang (yang) sayekti (sebenarnya) katur (diperuntukkan), mring (kepada) Hyang (Yang) Sukma (Ruh, Ghaib), sukmanen (hayatilah, jiwailah) saari-ari (sehari-hari) Sekarang yang dibicarakan, sembah ke tiga yang sebenarnya diperuntukkan, bagi Yang Ghaib, maka jalankan sehari-hari.
Setelah membicarakan tentang sembah kalbu dalam bait-bait terdahulu, sekarang tibalah saatnya membicarakan sembah selanjutnya. Sembah yang ketiga ini diperuntukkan bagi Yang Ghaib, maka jiwailah, hayatilah setiap saat, sehari-hari.
Sukma adalah padanan (sinonim) dari kata ruh, maka sembah yang ketiga ini diperuntukkan bagi Yang Maha Ghaib, Pemilik alam Ruh. Ruh adalah dzat yang membuat kita hidup. Tanpa ruh kita adalah bukan manusia lagi, maka frasa sukmanen saari-ari yang secara tekstual berarti ruhilah sehari-hari, bermakna hayatilah dalam kehidupan sehari-hari.
Arahen (arahkan) dipun (agar) kacakup (tercakup), sembahing (sembahnya) jiwa (jiwa) sutengong (suta ingong, anakku). Arahkan segala sembah terdahulu agar mencakup sembah yang ini, yakni sembah jiwa, anakku.
Sembah yang ketiga inilah sembah jiwa. Dalam budaya Jawa jiwa bisa berarti hidup, menghayati, maka sembah Jiwa berarti menghayati sembah sebagai sifat yang merasuk (sukmanen, merasuklah) ke dalam dzat manusia itu sendiri. Sehingga tidak perlu mengusahakan hadirnya dalam kalbu sebagaimana sembah kalbu, tetapi senantiasa menetap dalam diri manusia. Dalam redaksi yang lebih mudah dipahami sembah jiwa adalah menyembah Allah secara menjiwai, mendarah-daging, terpatri dalam sifat dan dzat manusia yang melakukan sembah itu.
Orang yang telah berhasil dalam sembah jiwa akan tetap menyembah dalam diam dan gerakan. Dalam shalat dan diluar shalat. Dalam berbagai kegiatan yang bahkan terlihat sebagai kegiatan duniawi. Dirinya sudah ikhlas dalam segala hal. Dirinya sudah fana dalam diri-nya sendiri, hingga hanya menyisakan Dia Yang Ada. Inilah ibadahnya jiwa.
Kami cukupkan sekian dulu tentang sembah jiwa ini, dalam bait-bait berikutnya akan diuraikan agar semakin jelas maknanya. Jangan sampai ketinggalan!
Kajian Wedatama (64): Pepuntoning Laku
Bait atau pada ke-64, Pupuh Gambuh, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV:
Sayekti luwih perlu,
Ingaranan pepuntoning laku,
Kalakuwan tumrap kang bangsaning batin, Sucine lan awas emut,
Mring alaming lama maot.
Terjemahan dalam bahasa Indonesia:
Sebenarnya lebih penting,
Disebut penghabisannya tindakan,
Tindakan yang bersangkutan dengan batin, Pembersihnya dengan awas dan ingat,
Kepada alam lama yang memuat, (alam prakreasi).
Kajian per kata:
Sayekti (sebenarnya) luwih (lebih) perlu (penting), ingaranan (disebut) pepuntoning (penghabisannya) laku (tindakan). Sebenarnya lebih penting, disebut penghabisannya tindakan.
Sebenarnya sembah jiwa ini adalah akhir dari perjalanan (laku). Mengapa disebut demikian? Karena dari fakultas manusia yang dipakai untuk melakukan sembah sejak mulai dari raga, cipta (kalbu) sampai jiwa, kesemuanya itu mempunyai sifat yang tidak sempurna. Raga jelas tidak sempurna karena bisa luka, menderita sakit dan mati. Cipta (kalbu) juga tidak sempurna karena seringkali berpikir liar, tidak fokus, berbolak-balik (qalb), sering tidak fokus dalam tujuannya. Jiwa juga tidak sempurna karena kemantapannya sangat tergantung pengendalian diri dari nafsu-nafsu. Jiwa mudah diseret hawa nafsu menuju ke tempat hina. Karena harus selalu diawasi dengan waspada dan berhati-hati.
Terhadap segala ketaksempurnaan itulah segala latihan dan tirakat ditujukan. Agar semua fakultas tersebut menjadi disiplin dan terkendali sehingga cemerlang dan menjadi penerang dalam mencapai tujuan. Ini berbeda dengan sembah rasa yang akan kita bahas nanti.
Kalakuwan (tindakan) tumrap (kepada) kang (yang) bangsaning (berkaitan) batin (alam batin). Tindakan yang bersangkutan dengan batin.
Akhir dari perjalanan yang berkaitan dengan alam batin. Setelahnya tidak ada lagi laku lagi, baik raga maupun jiwa, setelah ini adalah sampai pada tujuan. Oleh karena itu sembah jiwa ini adalah laku yang penting.
Sucine (pembersihnya) lan (dengan) awas (awas) emut (mengingat). Pembersihnya dengan awas dan ingat.
Jika sembah raga bersucinya dengan air, sembah kalbu bersucinya dengan mengurangi hasrat di hati, maka sembah jiwa bersucinya dengan waspada dan mengingat. Awas terhadap tujuan bermakna, jangan sampai salah mengenali apakah yang dituju sudah benar-benar tujuan hidup yang sebenarnya. Atau dalam bahasa yang lebih mudah apakah yang disembah adalah Tuhan yang sebenarnya? Ataukah hanya sosok lain yang dipertuhankan? Hal ini penting karena banyak orang silau dengan gemerlapnya alam batin sehingga salah mengenali kenyataan, Al Haq.
Mengingat bermakna mengingat-ingat asal kejadian atau sangkaning dumadi. Kita sudah menjelaskan dalam bait yang lalu, dan kita ingat kembali dalam gatra di bawah ini.
Mring (kepada) alaming (alam) lama (lama, pra keabadian) maot (yang memuat). Kepada alam lama yang memuat, (alam prakreasi).
Ingat pada perjanjian pra-azali ketika kita sudah menyatkan, “Aku bersaksi, Bala syahidna!” Yang terakhir ini hanya mungkin jika kita mengenal fitrah kita sebagai manusia. Dengan fitrah itulah kita mengenal sedikit demi sedikit alam lama kita yang kita pernal tinggal di sana (lebih tepatnya disemai di sana).
Bagaimana caranya kita melakukan itu? Kita sudah mulai melakukan itu sejak ketika kita lakukan sembah raga di awal perjalanan. Dengan itu kita telah sedikit-demi sedikit membersihkan kerak yang menutupi hati, semakin dalam kita lakukan sembah dengan sembah kalbu dan sembah jiwa ini semakin tampak cahaya hati yang bersinar terang. Hanya tinggal menunggu waktu untuk sampai. Bersabarlah sampai pada bait-bait akhir serat Wedatama ini.
Kajian Wredatama 55-59
Kajian Wedatama (55): Angruwat Ruweding Batos
Bait ke-55, Pupuh Gambuh, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV:
Wong seger badanipun,
otot daging kulit balung sumsum. Tumrah ing rah memarah antenging ati, Antenging ati nunungku,
Angruwat ruweding batos.
Terjemahan dalam bahasa Indonesia:
Orang yang sehat badannya,
otot, daging kulit, tulang dan sungsum, Mempengaruhi darah menjadikan tenangnya hati, Tenangnya hati menjadikan,
hilangnya ruwet di pikiran,
.
Kajian per kata:
Wong (orang) seger (segar, sehat) badanipun (badannya), otot daging kulit balung sumsum. Orang yang sehat badannya, otot, daging kulit, tulang dan sungsum.
Bait ini masih kelanjutan dari bait sebelumnya tentang amalan lahir atau ibadahnya tubuh atau sembah raga. Bahwa manfaat sembah raga adalah badannya sehat, bugar dan segar. Orang yang sehat badannya tentu juga sehat organ-organnya. Otot, daging, kulit, tulang dan sungsum semuanya dalam keadaan sehat. Hal ini bisa terjadi karena orang yang mengamalkan syari’at akan hidup secara teratur, seimbang dalam makan, proporsional dalam bekerja, cukup istirahat dan tidak berlebihan dalam menikmati kesenangan duniwi. Karena semua ada batasan-batasan kewajiban dan kepatutan.
Tumrah (menurun, mempengaruhi) ing (di) rah (darah) memarah (menjadikan) antenging (tenangnya) ati (hati). Mempengaruhi darah menjadikan tenangnya hati.
Tubuh yang sehat, istirahat cukup, tidak berlebihan dalam setiap urusan. Tidak telalu tertekan kepanikan karena stress tapi tetap aktif. Tidak malas-malasan, tapi terukur dalam bekerja. Itulah ritme hidup terbaik yang akan membuat darah lancar mengalir. Pasokan nutrisi ke seluruh organ tubuh terjamin. Kondisi ini akan menjadikan hati selalu tenang, tidak bergejolak oleh aktivitas yang mendadak, tidak berdebar-debar karena tak ada kekhawatiran.
Antenging (tenangnya) ati (hati) nunungku (membuat tungku, arti kiasan menjadikan), angruwat (menghilangkan) ruweding (kisruhnya) batos (batin, pikiran). Tenangnya hati menjadikan, hilangnya ruwet di pikiran.
Tenangnya hati akan membuat seseorang mampu berpikir jernih, mampu mencari solusi dari setiap problem, mampu membuat karya yang baru, mampu menyusun rencana dengan matang. Segala masalah yang ruwet (kisruh) sekalipun akan mampu dicarikan jalan keluar. Segala tantangan hidup yang berat mampu diatasi dengan pikiran yang jernih.
Inilah efek langsung dari teraturnya gerakan tubuh. Seseorang yang terbiasa mendisiplinkan tubuhnya dengan sembah raga pasti akan mendapat manfaat yang banyak sekali. Itu baru ditinjau dari sisi fisik semata-mata, sesuai kajian kita tentang sembah raga dalam beberapa bait yang lalu.
Bait ini mengakhiri bahasan tentang sembah raga. Bait berikutnya akan bercerita tentang mengapa penggubah Wedatama ini perlu menyampaikan pesan-pesan tersebut di atas. Nantikan kajian berikutnya pada bait ke-56.
Kajian Wedatama (56): Beda Panduk Panduming Dumadi
Bait ke-56, Pupuh Gambuh, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV:
Mangkono mungguh ingsun, Ananging ta sarehne asnapun,
Beda beda panduk panduming dumadi, Sayektine nora jumbuh,
Tekad kang padha linakon.
Terjemahan dalam bahasa Indonesia:
Demikianlah yang baik bagi saya.
Tetapi karena orang itu berbeda-beda,
lain-lain qadla dan qadarnya dalam penciptaan. Sebenarnya tidak cocok,
tekad yang dijalani itu.
.
Kajian per kata:
Mangkono (demikianlah) mungguh (pantas, baik bagi) ingsun (saya). Demikianlah yang baik bagi saya.
Ini merujuk pada apa yang disampaikan pada bait-bait sebelumnya tentang sembah raga bahwasanya itulah wawasan atau piwulang atau nasihat yang terbaik menurut penggubah Wedatama ini. Di sini sang penggubah Wedatama, Sri Mangkunegara IV hanyalah menyampaikan piwulang yang menurutnya baik untuk dilakukan oleh generasi muda dan masyarakat pada umumnya.
Ananging (tetapi) ta sarehne (karena) asnapun (berbeda-beda), beda beda (lain-lain) panduk (terkena) panduming (kebagian, kadar) dumadi (penciptaan). Tetapi karena orang itu berbeda, lain-lain qadla dan qadarnya dalam penciptaan.
Sesungguhnya keadaan orang berbeda-beda satu dengan yang lain (asnapun). Perbedaan itu disebabkan karena ketetapan Allah Sang Pencipta. Panduk di sini berarti terkena, panduming berarti mendapat pembagian. Jadi panduk adalah qadla dan pamduming berarti qadar. Dalam hal ini setiap manusia tentu tidak sama antara satu dengan yang lainnya.
Qadla dan Qadar adalah rahasia Allah SWT. Kita manusia tak mampu menjangkau hal tersebut, yang dapat kita lakukan adalah ikhtiyari, mencari dan memilih tindakan apa yang terbaik untuk kita. Soal mana yang terbaik tersebut tentu bagi setiap orang juga berbeda-beda. Boleh jadi satu amalan kebaikan cocok untuk orang tertentu, namun justru memberatkan bagi orang lain.
Sayektine (sebenarnya) nora (tidak) jumbuh (cocok), tekad (tekad) kang (yang) padha (sama-sama) linakon (dijalani). Sebenarnya tidak cocok, tekad yang dijalani.
Oleh karena hal di atas, sebenarnya (apa yang saya ajarkan-penulis wedatama) tidak cocok untuk setiap keadaan. Mengingat keadaan setiap orang berbeda-beda, tak sama persis antara satu dengan yang lain. Maka ambillah sekedar sebagai penggugah semangat saja, agar kalian bertekad untuk sama-sama melakukan kebaikan.
Di gatra ini penggubah Wedatama menyadari bahwa ajaran yang beliau sampaikan tak dapat ditiru secara persis. Pada Pupuh Pangkur yang lalu, berulang kali beliau tegaskan bahwa meneladani seseorang juga tak mungkin menirunya persis. Tirulah tekad atau semangat yang mendasari perbuatan para leluhur, adapun bentuk pengamalannya disesuaikan dengan kondisi masing-masing.
Kajian Wedatama (57): Nugraha Ageming Keprabon
Pada atau bait ke-57, Pupuh Gambuh, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV:
Nanging ta paksa tutur.
Rehne tuwa tuwase mung catur.
Bok lumuntur lantaraning reh utami. Sing sapa temen tinemu.
Nugraha geming keprabon.
Terjemahan dalam bahasa Indonesia:
Tetapi memaksa diri memberi petuah.
Karena sebagai orang tua bisanya hanya berpetuah. Siapa tahu dapat menurun melalui segala kebaikan. Siapa bersungguh-sungguh akan mendapatkan. Anugrah untuk orang pilihan .
.
Kajian per kata:
Nanging (tetapi) ta paksa (memaksakan) tutur (memberi petuah). Tetapi memaksa diri memberi petuah.
Bait ini ada hubungannya dengan bait sebelumnya yang menyatakan bahwa apa yang beliau ajarkan tidak mungkin diterapkan oleh semua orang karena perbedaan keadaan masing- masing. Meski demikian beliau memaksakan diri untuk memberi petuah sebagai bagian dari tugas kemanusiaan, menyampaikan apa yang diyakini sebagai kebenaran. Asalkan dalam penyampaian itu -dan ini dicontohkan oleh beliau- tidak serta merta dengan kesombongan seolah-olah yang disampaikan itulah yang benar sendiri.
Rehne (karena) tuwa (orang tua) tuwase (bisanya, mampunya) mung (hanya ) catur (berpetuah). Karena sebagai orang tua bisanya hanya berpetuah.
Orang tua bisanya hanya memberi petuah, atas dasar pengalaman hidup yang telah dilalui. Walau pengalaman orang juga tidak sama, dan karena itu tak bisa ditiru oleh orang lain secara persis, tetapi tidaklah mengapa. Mungkin ada saripati, semangat dan tekad kuat yang bisa menjadi inspirasi bagi anak muda di kemudian hari.
Bok (siapa tahu) lumuntur (menurun) lantaraning (melalui) reh (segala) utami (kebaikan). Siapa tahu dapat menurun melalui segala kebaikan.
Saripati dan semangat itulah yang diharapkan lumuntur, menurun bersama tauladan utama yang telah mereka berikan. Lumuntur di sini diambil dari kata luntur. Kalau kita punya kain berwarna dan dicuci bersama kain lainnya, semisal kain putih, kadang-kadang warna itu luntur dan mengenai kain putih tersebut. Maka kain putih tadi menjadi berwarna serupa dengan kain yang luntur meski gradasi warnanya tak bisa menyamai. Nah seperti itulah kira- kira yang dimaksud oleh sang penggubah Wedatama ini, ora ketang sethithik (walau hanya sedikit) kebaikan itu bisa lumuntur (menurun) melalui tauladan yang diberikan kepada anak cucu.
Sing (yang) sapa (siapaun) temen (bersungguh-sungguh) tinemu (akan menemukan). Siapa bersungguh-sungguh akan mendapatkan.
Barang siapa yang bersungguh-sungguh berusaha menggali tauladan tersebut, niscaya akan menemukan kebaikan bagi dirinya sendiri. Sebenarnya kita kaum mutaakhirin sangat beruntung mendapat banyak contoh dari para generasi yang terdahulu, oleh karena itu tugas kita hanya bersungguh-sungguh menggali saripati kebaikan moral dari perbuatan yang telah dilakukan oleh orang-orang terdahulu tersebut.
Nugraha (anugrah) geming (pakaian) keprabon (raja, orang pilihan). Anugrah untuk orang pilihan.
Bagi yang berusaha sungguh-sungguh akan menemukan nugraha (anugrah). Nugraha adalah pemberian Allah yang diberikan kepada manusia karena telah berhasil meningkatkan kemampuan dirinya. Jadi bukanlah pemberian yang asal-asalan, tetapi dengan memperhatikan usaha dan capaian si penerima.
Geming dari kata ageming yang artinya pakaian. Dalam bahasa Jawa memang ada kebiasaan menghilangkan satu dua suku kata dari kata yang sudah umum dipakai sehari-hari. Hal ini karena bentuk serat Wedatama ini adalah tembang Macapat yang terikat dengan guru wilangan, banyak suku kata dalam satu gatra (baris). Sehingga demi memenuhi metrum tembang, kadang satu suku kata harus dihilangkan tanpa mengurangi maknanya.
Kata ageming di sini pernah keluar di bait pertama dalam bentuk kalimat agama ageming aji. Kali ini muncul lagi dalam format geming keprabon, yang kurang lebih artinya sama yakni kaum pilihan. Kata prabu berarti raja, tetapi kadang dipakai untuk merujuk sesuatu yang lain yang berkaitan dengan pangkat atau maqom tertentu. Keprabon juga sering dipakai untuk menyebut peninggalan leluhur yang berharga, misal pada kata: anak lanang sing bakal nglungsur keprabon (anak lelaki yang mewarisi posisi orang tuanya).
Dari uraian di atas dapat dimaknai arti gatra terakhir sebagai anugrah yang biasa diberikan kepada orang-orang pilihan.
Kajian Wedatama (58): Patitis Tetesing Kawruh
Bait ke-58, Pupuh Gambuh, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV:
Samengko sembah kalbu.
Yen lumintu uga dadi laku.
Laku agung kang kagungan Narapati. Patitis tetesing kawruh.
Meruhi marang kang momong.
Terjemahan dalam bahasa Indonesia:
Sekarang tentang sembah kalbu.
Jika terus-menerus dilakukan juga menjadi laku. Laku besar yang dimiliki oleh raja.
Tepat tumbuhnya ilmu ini.
Dapat mengetahui yang merawat.
Kajian per kata:
Samengko (sekarang) sembah (sembah, ibadah) kalbu (kalbu, hati). Sekarang tentang sembah kalbu.
Sembah kalbu atau menurut bait ke-48 disebut sebagai sembah cipta adalah ibadah yang tidak memakai tubuh sebagai pelaksana. Ini berarti sembah kalbu ini tidak berdiri sendiri sebagai bentuk ibadah, tetapi selalu terkait dengan amalan lahiriah. Bisa saja sembah kalbu ini dilakukan bersamaan dengan sembah raga, atau pun dengan praktik ibadah yang lain.
Titik tekan pada sembah kalbu ini adalah hati (kalbu) atau pikiran (cipta). Oleh karena penggubah Wedatama ini menggunakan dua istilah untuk menyebut sembah ini, maka sebaiknya kita definisikan dahulu maknanya agar tidak rancu dengan sembah-sembah yang lain.
Yang pertama apakah ada kaitan antara cipta dan kalbu? Cipta adalah gagasan yang ada dalam angan-angan, sedangkan kalbu adalah sumber dari angan-angan itu. Kalbu berasal dari bahasa Arab qalb, yang artinya berbolak-balik. Maka ada doa yang berbunyi: tsabit qalbi ‘ala diinika, tetapkan hatiku dalam agamamu. Doa ini meminta agar hati kita, qalb kita tidak ragu-ragu lagi menjalankan perintah agama.
Penjelasan singkat di atas kiranya dapat menghilangkan kerancuan dari dua istilah yang dipakai, bahwa sembah cipta atau sembah kalbu (selanjutnya istilah ini yang akan dipakai), merupakan sembah yang menggunakan peranan hati sebagai subyek penyembahan. Hati yang menyembah Tuhan adalah hati yang senantiasa mengagungkan wujud Allah Ta’ala. Maknanya hati harus selalu tunduk terhadap perintah dan larangannya. Apakah hati bisa ingkar terhadap perintah Allah, tentu saja bisa apabila masih berpikir tentang selainNya, walau hanya berupa angan-angan saja.
Yen (kalau) lumintu (terus-menerus) uga (juga) dadi (menjadi) laku (laku, amalan). Jika terus-menerus dilakukan juga menjadi laku.
Sembah kalbu ini apabila dilakukan secara terus-menerus, kontinyu, ajeg, akan menjadi laku. Yang disebut laku adalah amalan yang membuat pelakunya meningkatkan kemampuan diri, meninggikan derajat atau mendekatkan pada tujuan.
Namun laku dalam sembah kalbu tidaklah melibatkan anggota tubuh, melainkan lebih mengedepankan peranan kalbu, hati manusia. Sembah kalbu dengan demikian adalah sembah yang wilayah cakupannya ada di dalam dada manusia, tak terlihat oleh orang lain. Walau hanya dirinya sendiri yang tahu sembah kalbu tetaplah memerlukan kehadiran seorang guru yang harus mengawasi polah batin kita agar tidak sesat dalam membaca rambu-rambu ciptaan Allah SWT.
Laku (laku, amalan) agung (besar, agung) kang (yang) kagungan (dimiliki) Narapati (raja). Laku besar yang dimiliki oleh raja.
Sembah kalbu ini bukan saja merupakan laku bagi orang kebanyakan, tetapi juga merupakan laku yang sering dijalani oleh para raja. Sebuah laku yang juga dilakukan oleh orang-orang pilihan. Laku yang akan mengantarkan orang lebih cepat kepada tujuannya, layaknya seorang pejalan yang berjalan di jalan raya.
Patitis (tepat) tetesing (menetesnya, menurunnya) kawruh (ilmu, pengetahuan). Tepat menetesnya pengetahuan.
Sembah kalbu adalah laku yang akan membuat pelakunya bertambah pengetahuan tentang ketuhanan. Lebih tepat (patitis) dalam menerima tetesan (tetesing) ngelmu rasa sejati. Mengenai ngelmu rasa ini akan dibahas lebih lanjut ketika sampai pada bab sembah rasa.
Meruhi (mengetahui) marang (kepada) kang (yang) momong (merawat).
Ilmu yang diperoleh karena laku sembah kalbu akan membuat sesorang awas dalam mengenali kebenaran sehingga dia tak salah dalam mengenali siapa yang merawat alam semesta ini.
Demikian kajian bait ke-58, bait-bait berikutnya akan semakin menjelaskan tentang amalan sembah kalbu ini. Jangan sampai ketinggalan!
Kajian Wedatama (59): Tata Titi Ngati-ati
Pada atau bait ke-59, Pupuh Gambuh, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV:
Sucining tanpa banyu.
Mung nyunyuda mring hardaning kalbu. Pambukaning tata titi ngati-ati.
Atetep telaten atul.
Tuladan marang waspaos.
Terjemahan dalam bahasa Indonesia:
Bersihnya tanpa memakai air.
Hanya dengan mengurangi hasrat di hati.
Mulainya dengan sikap teratur, cermat dan berhati-hati. Serta tetap tidak bosan dan menjadi watak.
Tauladan untuk yang waspada.
Kajian per kata:
Sucining (bersihnya) tanpa (tanpa memakai) banyu (air). Bersihnya tanpa memakai air.
Lazimnya manusia bersuci untuk menghilangkan najis dan hadats. Alat bersucinya adalah dengan air. Tata caranya adalah berwudlu atau mandi. Yang demikian itu untuk mensucikan badan. Namun untuk mensucikan kalbu pirantinya tidak memakai air, karena kalbu adalah organ halus non materi yang tidak terikat hukum-hukum material. Maka caranya adalah berikut ini.
Mung (hanya) nyunyuda (mengurangi) mring (terhadap) hardaning (keinginan) kalbu (hati). Hanya dengan mengurangi hasrat di hati.
Harda adalah hasrat, yakni keinginan yang sudah memuncak, sangat-sangat ingin, tak bisa ditunda lagi. Kata harda sering dipakai dalam ungkapan hardaning kanepson, nafsu yang sudah memuncak untuk segera terlampiaskan. Maka kata hardaning kalbu lebih tepat jika diterjemahkan dengan hasrat di hati, yang berarti keinginan hati yang sangat, kalau dalam bahasa Jawa padanan kata yang tepat adalah kemecer, sangat ingin. Nah yang demikian ini harus dikurangi karena kadang keinginan yang sangat hanya timbul dari nafsu semata-mata, bukan karena kebutuhan.
Misalnya seseorang sudah mempunyai sepeda motor yang cukup untuk alat transportasi, tetapi karena di jalan sering melihat sepeda motor yang bagus, dengan warna-warni atraktif, bisa melaju kenceng, tak nyerendhet mesinnya, kok jadi kepengin juga. Hal-hal seperti inilah yang harus dihindarkan bagi yang ingin berhasil dalam sembah kalbu.
Pambukaning (mulainya) tata (teratur) titi (cermat) ngati-ati (berhati-hati). Mulainya dengan sikap teratur, cermat dan berhati-hati.
Memulai laku sembah kalbu ini diawali dengan sikap yang teratur, cermat dan berhati-hati. Teratur (tata) melaksanakan sembah kalbu, yakni dengan mengurangi hasrat di hati secara terus-menerus. Hidup prasaja dengan mengambil apa yang diperlukan saja, membuang sikap berlebihan dalam kehidupan sehari-hari.
Cermat (titi) dalam mengenali hasrat di hati. Mampu memisahkan antara kebutuhan dan keinginan. Jikalaupun butuh tetap harus dijaga agar tidak berlebihan dalam berhajat, sekedar memenuhi kebutuhan saja.
Berhati-hati dalam melaksanakan itu semua. Jangan sampai hawa nafsu menyeruak dan tampil dalam baju keshalihan. Berpura-pura menjadi teman dengan sejuta argumen pembenaran. Dalam hal ini yang patut selalu dicurigai adalah diri sendiri karena datangnya godaan hanya dari dalam dada.
Atetep (tetap, kontinyu) telaten (tidak bosan) atul (menjadi kebiasaan, terbiasa). Serta tetap tidak bosan dan menjadi kebiasaan.
Berketetapan untuk melakukan hal-hal di atas dengan tidak bosan (telaten). Selalu diulang- ulang setiap waktu sehingga menjadi kebiasaan. Atul berarti sudah terbiasa, sudah mengenal sifat-caranya, sehingga tak sulit lagi untuk melaksanakannya.
Menurut ilmu akhlak suatu pekerjaan yang dilakukan berulang-ulang dalam jangka waktu tertentu akan membuat pelakunya semakin ringan dalam melakukannya. Semakin lama suatu pekerjaan dilakukan dan semakin sering maka akan mendarah daging menjadi kebiasaan yang justru sulit ditinggalkan. Jikalau sudah demikian maka akan menjadi watak seseorang tersebut.
Dengan demikian kita dapat merubah watak seseorang dengan membiasakan melakukan pekerjaan baik secara terus-menerus sampai menjadi kebiasaan sehari-hari. Inilah yang harus kita lakukan, membiasakan hal-hal baik di atas (tata, titi, ngati-ati) sehingga menjadi watak.
Tuladan (tauladan) marang (kepada yang) waspaos (waspada). Tauladan untuk yang waspada.
Yang demikian itu adalah tauladan kepada siapa saja yang waspada. Yang benar-benar mantap hendak melakukan sembah kalbu.
Cukup sekian kajian bait ke-59, bait berikutnya masih akan membahas kelanjutan sembah kalbu. Jangan sampai ketinggalan!
Langganan:
Postingan (Atom)