Gunungtugel peristiwa sebuah awal peradaban lama,yang telah mengawali peradaban baru sebagai pondasi awal terwujadnya ri Bhumi Mataram.Hal yang demikian diperoleh dari winarah para Sepuh dari jaman ke jaman.Diantaranya winarah yang diperoleh mbah Datrim dari mbah Datuk Kahfi.winarah yang di maksut adalah latar belakang Gunungtugel.Demikian juga winarah dari mbah Bakri dari eyang Muhsin.Eyang Muhsin dari Syeh Abdurahman,dari Ki Buyut Manguneng.
Kamis, 10 Januari 2019
Kajian Wredhatama 70-74
Kajian Wedatama (70): Karasa Wosing Dumadi
Bait ke-70, Pupuh Gambuh, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV:
Samengko ingsun tutur,
gantya sembah ingkang kaping catur. Sembah rasa karasa wosing dumadi, Dadine wis tanpa tuduh,
Mung kalawan kasing batos..
Terjemahan dalam bahasa Indonesia:
Sekarang saya berbicara,
Beralih kepada sembah nomer empat, Sembah rasa terasalah hakekat kehidupan ini, Terwujudnya tanpa petunjuk,
Hanya dengan kesentausaan batin.
Kajian per kata:
Samengko (sekarang) ingsun (saya) tutur (berbicara), gantya (beralih) sembah (sembah) ingkang (yang) kaping (ke-) catur (empat). Sekarang saya berbicara, beralih kepada sembah nomer empat.
Sampailah sekarang pada sembah yang terakhir, sembah rasa. Apakah rasa itu? Ada banyak padanan kata dari rasa ini: rahsa, rahasa, rahasya, sir, raswa, driya, dll. Kesemua kata itu merujuk pada inti terdalam dari manusia yang tersembunyi.
Disebut sir yang berarti kecenderungan yang halus atau lembut (dari bahasa Arab sirr), seperti pada kata: atiku sir karo bocah wadon kae, hatiku mempunyai kecenderungan suka pada anak perempuan (gadis) itu.
Rasa disebut juga rahsa, rahasa, rahasya, raswa yang artinya rahasia terdalam. Yang menarik kata rahsa ini juga dipakai untuk menyebut wiji manusia manikem, alias air mani. Manikem sering kali juga disebut sebagai intisari dari seorang lelaki.
Disebut driya yang artinya perasa, ini bisa berarti fisik atau non fisik. Secara fisik rasa adalah apa yang terjadi pada lidah jika bersentuhan dengan sesuatu: amla (kecut), kayasa (sepet), kathuka (pedhes), sarkara (legi) lan tikta (pahit). Instrumen dari rasa dalam arti fisik adalah lidah. Secara non-fisik rasa sering dipakai untuk menyebut hal-hal yang terjadi pada hati: senang, gembira, sedih, haru, dll.
Jadi kata rasa bisa mempunyai banyak arti, tetapi kesemua arti itu selalu merujuk kepada intisari dari manusia. Rasa mempunyai makna yang berbeda dengan kalbu meski kadang dua kata ini dapat dipertukarkan untuk menggambarkan keadaan pada diri manusia. Rasa bersifat lebih halus, lebih dalam, lebih lembut daripada kalbu yang sering berbolak-balik.
Rasa juga berbeda dengan jiwa, dan letaknya lebih dalam pada struktur wujud manusia. Ia berkaitan dengan sejatinya manusia, pusat terdalam yang menjadi inti dari manusia itu, maka seringkali disebut dengan kata majemuk: rasa sejati.
Dalam bahasa lain rasa ini dekat dengan kata intelek (Inggris), atau juga dekat dengan kata ulul albaab (Arab). Disebut intelek karena mampu menangkap bukan saja fenomena tetapi juga noumena. Orang yang mempunyai intelek disebut ulul albaab, karena mampu menangkap ayat-ayat.
Sembah rasa (sembah rasa) karasa (terasalah) wosing (inti, hakekat) dumadi (kehidupan). Sembah rasa terasalah hakekat kehidupan ini.
Sembah rasa dengan demikian berati menyembah dengan intisari (wosing) atau hakekat terdalam dari kehidupan manusia. Wosing adalah inti atau bisa diartikan makna diciptakannya (dumadine) manusia. Rasa adalah puncak atau pencapaian akhir dari: raga yang tunduk, kalbu yang mantep (artinya sudah tetap, tidak berbolak-balik lagi, sudah tsabit) dan jiwa yang telah awas, eling dan emut.
Dadine (terwujudnya) wis (sudah) tanpa (tanpa) tuduh (pituduh, petunjuk), mung (hanya) kalawan (dengan) kasing (kesentausaan) batos (batin). Terwujudnya tanpa petunjuk, hanya dengan kesentausaan batin.
Sembah rasa ini merupakan buah dari laku yang dijalani raga, kalbu dan jiwa. Jika ketiga sembah terdahulu terpenuhi maka sembah rasa akan mewujud dengan sendirinya, tanpa petunjuk lagi. Ini bisa disebut buah dari kesentausaan batin (kasing batos).
Namun demikian sembah rasa juga mengandung jebakan betmen yang perlu diwaspadai. Agar kita tak salah mengenali seperti yang bisa terjadi pada sembah jiwa, atau yang disebut salah surup. Dua bait berikutnya akan menerangkan hal tersebut, jangan lewatkan kajian berikutnya.
Kajian Wedatama (71): Muluka kalamun Melok
Bait ke-71, Pupuh Gambuh, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV:
Kalamun durung lugu,
aja pisan wani ngaku aku.
Antuk siku kang mangkono iku kaki. Kena uga wenang muluk,
kalamun wus padha melok.
Terjemahan dalam bahasa Indonesia:
Apabila belum (mengalami) benar,
jangan sekali-kali mengaku aku.
Mendapat laknat yang demikian itu anakku. Boleh dikata berhak mengatakan,
apabila sudah sama-sama terlihat. .
Kajian per kata:
Kalamun (apabila) durung (belum) lugu (benar), aja (jangan) pisan (sekali-kali) wani (berani) ngaku aku (mengaku-aku). Apabila belum (mengalami) benar, Jangan sekali-kali mengaku aku.
Setiap laku sembah mempunyai ciri-ciri khusus sebagai pertanda apakah sembah yang dilakukan benar-benar berhasil dijalani atau belum. Sembah raga yang berhasil bercirikan segarnya badan, ini membuat antenging ati (tenangnya hati) sehingga angruwat ruweting batos (menghilangkan kisruhnya pikiran).
Sembah kalbu yang berhasil bercirikan munculnya rasa tumlawung, haru campur bahagia. Sembah jiwa yang berhasil bercirikan munculnya pencerahan berupa urub sumirat-sirat kadya kartika abyor, munculnya cahaya memancar-mancar sepertika bintang gemerlap. Ini adalah kiasan pencerahan batin sehingga jalan hidup di depan dapat dijalani dengan mudah karena sudah terang-benderang, antara yang haq dan batil. Sembah rasa yang berhasil juga mempunyai ciri-ciri khusus. Jika belum berhasil janganlah mengaku-aku.
Antuk (mendapat) siku (laknat, hukuman) kang (yang) mangkono (demikian) iku (itu) kaki (nak). Mendapat laknat yang demikian itu anakku.
Yang demikian itu tidaklah elok dilakukan (yakni mengaku-aku tadi). Akan mendapat laknat apabila demikian itu, anakku! Maksud dari siku (laknat) adalah hukuman atas kelancangan tersebut, yakni gagalnya mencapai hasil yang dituju oleh sembah rasa tersebut, maka menjadi sia-sialah seluruh upaya keras yang dilakukan.
Kena (boleh) uga (juga) wenang (berhak) muluk (mengaku, mengatakan), kalamun (apabila) wus (sudah) padha (sama-sama) melok (terlihat nyata). Boleh juga berhak mengatakan, apabila sudah sama-sama terlihat.
Muluk adalah menyajikan makanan dalam tangan siap dimasukkan ke mulut. Ini adalah ungkapan untuk mengklaim. Wenang muluk berarti boleh mengklaim, berhak mengaku apabila memang wus padha melok, semuanya sudah terlihat, sudah jelas berdasar pada ciri- cirinya. Apakah ciri-ciri dari sembah rasa yang berhasil? Nantikan kajian pada bait selanjutnya.
Kajian Wedatama (72): Kumandel Marang Takdir
Bait ke-72, Pupuh Gambuh, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV:
Meloke ujar iku,
yen wus ilang sumelanging kalbu.
Amung kandel kumandel marang ing takdir, Iku den awas den emut,
Den memet yen arsa momot.
Terjemahan dalam bahasa Indonesia:
Terlihatnya yang dibicarakan itu,
bila sudah hilang keragu-raguan hati,
Hanya percaya dengan sebenarnya kepada takdir, Itu harap awas dan ingat,
Yeng cermat apabila ingin menguasai seluruhnya.
Kajian per kata:
Meloke (terlihatnya) ujar (yang dibicarakan) iku (itu), yen (bila) wus (sudah) ilang (hilang) sumelanging (kekhawatiran) kalbu (hati). Terlihatnya yang dibicarakan itu (maksudnya sembah rasa), bila sudah hilang keragu-raguan hati.
Orang yang sudah mengetahui rahasia penciptaan, rahasia posisi dan kedudukan sebagai hamba Allah, takkan menyisakan keragu-raguan dalam hati. Tidak ada kekhawatiran, tidak pula ada rasa sedih di hati karena memikirkan hari esok, la tahinu wala tahzan.
Amung (hanya) kandel (percaya) kumandel (dengan sebenarnya) marang (kepada) ing takdir (takdir). Hanya percaya dengan sebenarnya kepada takdir.
Kandel di sini dari kata andel, andal. Orang jawa sering mengatakan senjata dengan kata sipat kandel, artinya kalau sudah memegang senjata kepercayaan diri meningkat karena keselamatannya lebih terjamin. Jadi kandel kumandel di sini bermakna percaya dengan sangat terhadap ketentuan (takdir) Allah. Inilah sifat seorang yan sudah berhasil dalam sembah rasa.
Iku (itu) den (yang) awas (awas) den (yang) emut (ingat), den (yang) memet (cermat, teliti) yen (jika) arsa (ingin) momot (memuat, menguasai). Itu harap awas dan ingat, yang cermat apabila ingin menguasai seluruhnya.
Kedua hal itu, hilangnya rasa khawatir (sumelang) dan percaya sepenuhnya (kandel kumandel) terhadap takdir, hendaknya selalu diawasi dengan cermat apakah sudah ada dalam diri kita. Apabila belum berarti sembah rasa yang kita lakukan belum sempurna, belum berhasil, maka harus diupayakan lagi. Apabila sudah ada rasa itu maka silakan membuat pengakuan atas penguasaannya, silakan melakukan klaim. Meski langkah terakhir juga sebenarnya tidaklah seyogyanya dilakukan, karena muara akhir dari rangkaian sembah yang dilakukan manusia tidak berhenti di sini. Ada tugas lain yang menanti apabila sudah paripurna dalam melakukan semua sembah itu.
Sampai di sini perjalanan menuju Tuhan sudah selesai. Catur sembah merupakan fungsi manusia dalam kedudukan sebagai hamba Allah. Sekarang ada dharma lain yang masih harus disandang, ialah memasuh malaning bumi (membersihkan penyakit di bumi) dan memayu hayuning bawana, memperidah keindahan semesta, dua tugas terakhir adalah tugas manusia sebagai fungsi khalifah (pengganti) Allah di bumi.
Bait ke-72 ini merupakan bait terakhir dalam naskah baku serat Wedatama. Hal ini karena pada naskah asli tertulis kata TITI yang berarti tamat. Para pakar berpendapat bahwa sisa bait dalam Wedatama dari bait ke-73 sampai bait ke-100 adalah naskah tambahan. Terdapat silang pendapat berkaitan dengan siapa penulis bait tambahan ini. Namun kami tidak akan masuk ke pembahasan tersebut. Sesuai niat awal kajian ini hanya mengkaji dari sisi gramatikalnya saja, dengan tujuan agar mudah dipahami.
Kajian Wedatama (73): Weruh Wekasing Dumados.
Bait ke-73, Pupuh Gambuh Lanjutan, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV:
Pamotaning ujar iku,
kudu santosa ing budi teguh. Sarta sabar tawekal legaweng ati. Trima lila ambeg sadu.
Weruh wekasing dumados.
Terjemahan dalam bahasa Indonesia:
Penguasaan atas petuah itu,
haruslah disertai dengan sentausa dan teguhnya akal budi. Serta harus sabar, tawakal dan ikhlas di hati.
Menerima, rela dan berwatak adiutama.
Memahami akhir dari setiap penciptaan.
Kajian per kata:
Kita lanjutkan kembali kajian serat Wedatama bait ke-73. Kajian kali ini sampai pada bab lanjutan, Pupuh Gambuh. Disebut lanjutan karena sebelumnya serat Wedatama telah dinyatakan tamat (titi). Namun kembali disambung dengan 38 bait lagi.
Terdapat kontroversi mengenai apakah bait-bait lanjutan ini masih merupakan karya Sri Mangkunegara IV. Tetapi seperti yang kami nyatakan pada bahasan yang lalu kita tidak akan mempermasalahkan hal itu. Selain karena isi dari bait lanjutan ini masih relevan dengan bait- bait sebelumnya, secara bahasa bait ini pun bergaya mirip dengan bagian inti. Kami mengambil kesimpulan bahwa bait lanjutan ini juga karya Sri Mangkunegara IV.
Pamotaning (penguasaan) ujar (petuah) iku (itu), kudu (harus) santosa (sentausa) ing (dalam) budi (budi) teguh (teguh). Penguasaan atas petuah itu, haruslah disertai dengan sentausa dan teguhnya akal budi.
Pada bait sebelumnya telah dinyatakan, jika hendak menguasai sembah rasa harus dilakukan dengan cermat, den memet (cermat) yen arsa momot. Kali ini ada syarat tambahan yakni harus mempersiapkan diri agar sentausa dan teguh dalam akal budi. Dengan ungkapan yang sederhana persiapan mentalnya harus kuat. Jika tidak akan terjadi ketakjuban sesaat yang berujung ketidaksadaran, alias sulap dengan kenyataan yang ditemui.
Sulap adalah kondisi tidak bisa melihat kebenaran justru ketika sangat dekat dengan kebenaran itu sendiri. Seperti halnya kita tak dapat melihat matahari karena saking (terlalu) terangnya matahari itu.
Sarta (serta) sabar (sabar) tawekal (tawakal) legaweng (ikhlas di) ati (hati). Serta harus sabar, tawakal dan ikhlas di hati.
Sabar karena laku yang ditempuh sangat berat, sejak awal sampai akhir depenuhi dengan keadaan serba mengekang hawa nafsu, meper (menahan) keingingan dan meminimalkan kebutuhan. Tawakal karena hasilnya bukan kita yang menentukan, tergantung pada kehendakNya untuk memberi pencerahan atau tidak. Ikhlas karena terlebih dahulu harus menyingkirkan motif rendah dan artifisial, dan menggantinya dengan hati yang kosong dari keinginan.
Trima (menerima) lila (rela) ambeg (watak, sifat) sadu (utama, hati yg suci). Menerima, rela dan berwatak adiutama.
Trima adalah sikap tidak protes terhadap apapun yang diberikan padanya. Lila bersikap senang hati atas apa yang diterima, atau terhadap yang tidak diterimanya. Ambeg sadu adalah watak orang yang telah mencapai derajat di atas keutamaan (adiutama). Hatinya mendekati hati orang-orang yang suci, terbebas dari pamrih apapun.
Weruh (memahami) wekasing (akhir) dumados (penciptaan). Memahami akhir dari setiap penciptaan.
Orang yang telah memahami akhir dari segala penciptaan, paraning dumadi, maka tidak akan banyak keresahan, kegalauan, ketakutan, kekhawatiran di hatinya. Sikapnya penuh dengan kerelaan, lila-legawa, rela dan legawa. Legawa adalah sikap bersenang hati atas apa yang terjadi, ini pencapaian yang lebih tinggi dari lila.
Begitulah watak dari para priyagung luhur yang telah mencapai kesempurnaan sembah rasa. Sepintas lalu uraian sifat-sifat di atas terlalu teoritis tetapi marilah kita mohon kekuatan agar diri kita mampu mencapai tahap itu. Berharaplah dengan pantas terhadap kehidupan. Dan bermohonlah kepada Yang Memberi Hidup.
Kajian Wedatama (74): Sumimpang Ing Laku Dur
Bait ke-74, Pupuh Gambuh Lanjutan, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV:
Sabarang tindak tanduk,
tumindake lan sakadaripun.
Den ngaksama kasisipaning sesami. Sumimpanga ing laku dur, hardaning budi kang ngrondon.
Terjemahan dalam bahasa Indonesia:
Semua tindak-tanduk,
dilakukan dengan sekadarnya.
Suka memberi maaf kepada kelalaian sesama manusia. Mengindarlah dari perbuatan tercela,
yang timbul dari hasrat angkara yang membesar.
Kajian per kata:
Sabarang (semua) tindak tanduk (tindak-tanduk, perilaku), tumindake (dilakukan) lan (dengan) sakadaripun (sekadarnya). Semua tindak-tanduk, dilakukan dengan sekadarnya.
Ini adalah sifat dari orang yang sudah mencapai tahap makrifat, weruh wekasing dumados, yakni sudah paham akan akhir dari segala penciptaan. Output dari pencapaian itu adalah perbuatannya sehari-hari yang terukur, sekadarnya saja, tidak berlebihan, tidak terlalu rendah dan terlalu tinggi, tidak terlalu ke kiri dan terlalu ke kanan, tidak terlalu banyak ataupun terlalu sedikit.
Sifat sekadarnya ini dapat diterapkan pada banyak hal. Dalam hal makan ialah makan seperlunya, tandanya apabila dia lapar dia makan dan sebelum kenyang dia berhenti. Dalam hal pakaian adalah tidak memakai sesuatu yang menarik perhatian, tidak terlalu bagus hingga mengundang pergunjingan, tidak terlalu jelek sehingga mengundang belas kasihan.
Dalam sikap sehari-hari pun juga bisa diterapkan, tidak membuat jengkel orang lain tetapi juga tidak berkesan asal membuat senang. Tidak otoriter tapi juga tidak lemah. Tidak menentang tapi juga tidak membebek. Tidak nyinyir tapi juga tidak apatis. Dan banyak contoh lain dari sikap sekadarnya ini. Yang jelas sikap sekdarnya lahir dari sebuah perenungan tentang sikap yang harus diambil secara tepat. Dalam hal ini kematangan rasa memegang peranan penting, dan rasa yang matang hanya diperoleh melalui sembah rasa yang berhasil.
Den (memberi) ngaksama (maaf) kasisipaning (kelalaian) sesami (sesama manusia). Suka memberi maaf kepada kelalaian sesama manusia.
Memberi maaf adalah kualitas agung dari jiwa manusia. Hanya orang-orang pilihan yang mampu melakukan. Namun ada yang lebih tinggi dari itu, adalah memaafkan kekhilafan orang lain, sebelum mereka menyadari kesalahan sendiri. Tidak perlu memaksa-maksa orang lain untuk meminta maaf, tetapi telah memaafkan dengan sendirinya.
Sifat pemaaf adalah pakaian orang-orang suci yang telah mengosongkan hatinya dari egoisme. Telah mampu membuang hasrat mengalahkan, dan telah menyingkirkan keinginan menampilkan kebesaran diri. Hanya orang-orang yang telah mencapai derajat sadu ing budi yang mampu melakukannya.
Sumimpanga (menghindarlah) ing (dari) laku (perbuatan) dur (tercela), hardaning (hasrat angkara) budi (budi) kang (yang) ngrondhon (membesar). Menghindarlah dari perbuatan tercela, yang timbul dari hasrat angkara yang membesar.
Menghindari adalah perbuatan preventif, artinya sengaja menjauhkan diri dari kondisi yang akan membuat diri menjadi terjebak dalam perbuatan tercela, atau menjauh dari tempat di mana ada potensi-potensi untuk munculnya hasrat-hasrat tercela.
Rondhon adalah rembuyung, yakni tumbuhnya tunas baru pada batang pohon secara cepat. Demikian juga hasrat-hasrat buruk bisa tumbuh cepat, ngrondhon di hati manakala mendapati lingkungan yang subur. Hal inilah yang harus dihindari.
Kajian Wredatama 65-69
Kajian Wedatama (65): Jagad Agung Ginulung Jagad Alit
Bait ke-65, Pupuh Gambuh, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV:
Ruktine ngangkah ngukut,
ngiket ngruket triloka kakukut. Jagad agung ginulung lan jagad alit. Den kandel kumandel kulup,
mring kelaping alam kono.
Terjemahan dalam bahasa Indonesia:
Merawatnya dengan berusaha menguasai, mengikat, merangkul, tiga jagad dikuasai. Jagad besar digulung oleh jagad kecil. Perkuatlah keyakinanmu anakku, terhadap gemerlapnya alam itu.
Kajian per kata:
Ruktine (merawatnya) ngangkah (menjangkau) ngukut (mengemasi, menguasai), ngiket (mengikat) ngruket (memeluk) triloka (tiga jagad) kakukut (dikemas, dikuasai). Merawatnya dengan berusaha menguasai, mengikat, merangkul, tiga jagad dikuasai.
Sembah Jiwa adalah perjalanan terakhir (pepuntoning laku), maka hendaklah benar-benar dirawat pencapaian ini dengan tuntas. Cara merawatnya dengan menjangkau sampai betul- betul dikuasai tiga jagad (triloka), yakni alam material, alam mental dan alam ruh.
Tiga alam tersebut dikemas dan diikat dalam sanubari dengan cara yang sudah kami sampaikan dalam bait terdahulu. Alam material dikuasai dengan mengerjakan syari’at secara lahir, alam mental dikuasai dengan menahan hawa nafsu dan alam ruh dikuasai dengan selalu awas dan ingat (dzikir).
Apabila semua itu telah dilakukan menurut laku masing-masing, yakni sembah raga, sembah kalbu dan sembah jiwa, maka tiga alam tadi (triloka) sudah diikat dan dikemas dalam genggaman. Jika sudah demikian maka diri menguasai segala sesuatu.
Jagad (jagad) agung (besar) ginulung (digulung, dikemas, dikuasai) lan (oleh) jagad (jagad) alit (kecil). Jagad besar digulung oleh jagad kecil.
Jagad besar adalah makrokosmos, alam raya seluruhnya. Jagad kecil adalah mikrokosmos, diri manusia. Dua istilah ini sering dipakai dalam kazanah sufisme. Mereka sering memperbandingkan jagad besar sebagai ciptaan Allah dan Allahlah penguasanya, dengan jagad kecil dalam diri manusia, tempat diri manusia berkuasa. Perbandingan ini memberikan tamsil, bahwa sebagaimana Allah berkuasa terhadap makrokosmos, maka hendaklah manusia juga berkuasa atas mikrokosmos.
Berkuasa atas mikrokosmos mengandung pengertian manusia mampu menundukkan apapun gejolak yang ada dalam diri manusia. Hasrat, keinginan, nafsu dan angan-angan hendaklah ditundukkan dan diatur agar harmonis sebagaimana harmonisnya makrokosmos. Ini tentu sangat berat jika kita tak berlatih untuk mengendalikan diri. Hanya orang-orang yang sudah paripurna dalam laku yang dapat menguasai mikrokosmos. Itulah yang disebut insan kamil.
Seorang yang sudah mencapai derajat insan kamil akan mengetahui rahasia penciptaan melalui renungan terhadap mikrokosmos tersebut. Inilah yang dimaksud dalam sabda Nabi, “Barang siapa mengenal dirinya, maka dia mengenal Tuhannya.”
Insan kamil adalah penguasa terhadap dirinya sendiri. Dia bertindak atas dirinya sebagaimana Allah bertindak atas alam raya (makrokosmos). Di sini orang yang mampu mengendalikan mikrokosmos akan memahami pula rahasia dari sistem yang berlaku pada makrokosmos. Inilah yang dimaksud dalam gatra ini, jagad agung ginulung lan jagad alit.
Den (di) kandel (tebal, maksudnya: perkuatlah) kumandel (keyakinan diri) kulup (nak), mring (terhadap) kelaping (gemerlapnya) alam (alam) kono (di situ). Perkuatlah keyakinanmu anakku, terhadap gemerlapnya alam itu.
Namun hendaklah diwaspadai, perkuatlah, perkokohlah mental spriritual kita agar kuat dan kokoh dalam menghadapi gemerlapnya alam itu. Ini merujuk pada seringnya orang terpeleset karena ketakjuban. Banyak pelaku sufisme yang mengalami hal seperti ini sehingga menjadi mabuk dan ekstatik, trance. Al Hallaj adalah contoh besar dalam hal ini. Di Jawa ada juga, Syeikh Siti Jenar. Mereka berdua silau oleh keindahan Yang Maha Kuasa sehingga tanpa sadar, karena telah menguasai mikrokosmos mengira menguasai makrokosmos dalam pengertian yang sebenarnya sehingga berteriak, “Akulah Tuhan!”
Maka berhati-hatilah!
Kajian Wedatama (66): Kanyut Ing Kanyatan
Bait ke-66, Pupuh Gambuh, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV:
Keleme mawi limut.
Kalamatan jroning alam kanyut. Sanyatane iku kanyatan kaki. Sejatine yen tan emut,
sayekti tan bisa amor.
Terjemahan dalam bahasa Indonesia:
Tenggelam oleh suasana gelap.
Mendapat firasat di dalam alam yang menghanyutkan itu. Sebenarnya itu kenyataan, anakku.
Sebenarnya kalau tidak ingat,
benar-benar tak bisa berecampur.
Kajian per kata:
Keleme (tenggelamnya) mawi (oleh, dengan) limut (gelap). Tenggelam oleh suasana gelap.
Orang yang sudah masuk dalam jagad alit akan tenggelam dalam suasana gelap, hening dan sangat pribadi. Meski dia berada di keramaian, hal itu takkan mengganggu kesendiriannya bersama Tuhan. Saluran komunikasi telah terbuka, khusus antara hamba dan Gusti Allah. Tak perlu melibatkan siapa-siapa dalam hal ini.
Segala aturan di alam fisik tak lagi menjadi kriteria di sini. Karena seorangpun jika sudah menghadap Tuhan maka dia harus meninggalkan segala urusan. Menjadikan hubungan personalnya dengan Gusti Allah sebagai prioritas, mengalahkan yang lain. Ini bukan berarti kemudian melahirkan sikap abai terhadap dunia, justru kini dia lebih peduli dengan keselamatan dunia seisinya. Karena dirinya telah menjadi pelayan Tuhan di dalam memayu hayuning bawana.
Kalamatan (mendapat alamat, firasat) jroning (dalam) alam (alam) kanyut (yang menghanyutkan). Mendapat firasat di dalam alam yang menghanyutkan itu.
Itulah alam kanyut, alam yang menghanyutkan. Batas antara alam fisik dan ruh. Sayup-sayup terdengar bisikan dari alam sana, namun di satu sisi masih terkait dengan alam sini. Kesadaran seolah-olah hanyut ke dalam alam itu, seolah seperti mimpi. Kenyataan menjadi terang benderang dalam sekejap, sebelum kemudian menghilang. Itulah yang disebut ngalamat, atau pesan kebenaran yang sesaat datang sebelum terjadinya sebuah kenyataan. Ngalamat ini dapat muncul karena di batas dua alam tersebut jiwa menjadi hening, mengendap sari-patinya, maka munculah sinar terangnya. Pada saat ini pandangan mata batin menjadi sangat tajam.
Analogi dari kejadian ini dapat kita temui pada waktu kita masuk dalam ruang gelap, (betul- betul gelap secara fisik, bukan kiasan). Saat pertama masuk ke dalam kegelapan mendadak mata kita tak mampu melihat sesuatu pun. Lambat laun mata mulai menyesuaikan. Sedikit demi sedikit mata dapat menangkap cahaya remang-remang, sampai puncaknya mata kita menjadi peka dalam membedakan gradasi kehitaman. Secara samar-samar kita mulai dapat mengenali benda-benda sekitar walau hanya ada sedikit cahaya. Mata kita menjadi sangat peka.
Kira-kira seperti itulah kerja mata batin kita dalam kegelapan realitas. Namun awas dalam gelap mata batin bisa menjadi awas dan peka, tetapi rasa kantuk sering lebih dahulu menyerang. Maka janganlah kita sampai hanyut (kanyut).
Sanyatane (sebenarnya) iku (itu) kanyatan (kenyataan) kaki (nak). Sebenarnya itu kenyataan, anakku.
Sebenarnya ngalamat yang datang secara sporadis dan sekejap tadi adalah kenyataan yang sebenarnya. Namun karena mata batin kita rabun oleh pekatnya nafsu, kenyataan menjadi tampak samar-samar, bahkan gelap. Maka hendaklah kita mengasah ketajaman hati melalui sembah jiwa agar mata batin kita awas.
Sejatine (sebenarnya) yen (kalau) tan (tidak) emut (ingat), sayekti (benar-benar) tan (tak) bisa (bisa) amor (bercampur). Sebenarnya kalau tidak ingat, benar-benar tak bisa bercampur (ke alam itu).
Kita kembali ke konsep dzikir sebagai cara untuk masuk (amor) ke alam ruh. Dzikir adalah mengingat kembali persaksian primordial kita di alam pra-kreasi. Dzikir adalah mengingat fitrah kita sebagai makhluk yang tunduk dan patuh terhadap Sang Pencipta. Maka jika kita tak mampu untuk melakukan dzikir tersebut kita takkan mampu berbaur dengan ritme kehidupan di alam itu.
Hasil dari dzikir adalah emut (ingat) tentang siapa diri kita sebenarnya. Emut adalah kesadaran paripurna dari sembah jiwa.
Kajian Wedatama (67): Katone Sang Dhiri
Bait ke-67, Pupuh Gambuh, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV:
Pamete saka luyut.
Sarwa sareh saliring panganyut. Lamun yitna kayitnan kang miyatani. Tarlen mung pribadinipun,
kang katon tinonton kono.
Terjemahan dalam bahasa Indonesia:
Sarananya dari luyut (batas lahir dan batin).
Serba sabar dalam mengikuti alam yang menghanyutkan. Asal waspada dengan kewaspadaan yang andal.
Itu tak lain hanya pribadinya,
Yang tampak terlihat di situ.
Kajian per kata:
Pamete (sarananya) saka (dari) luyut (batas lahir dan batin). Sarananya dari luyut (batas lahir dan batin).
Sembah jiwa membuat kita mampu menjangkau sampai batas kesadaran di alam ruh. Kita hampir menapak ke alam sana, sementara kita masih tetap berada di alam sini. Di tapal batas dua alam ini kita mengalami resonansi kenyataan yang disebut ngalamat. Ngalamat memberi kita potongan-potongan kebenaran dari alam sana yang sebenarnya walau tersembunyi adalah kenyataan yang sejati.
Sarwa (serba) sareh (sabar) saliring (semua hal) panganyut (yang menghanyutkan). Serba sabar dalam mengikuti alam yang menghanyutkan.
Hendaknya kita sabar dalam mengikuti alam kanyut tersebut. Karena di sanalah kebenaran sejati, kenyataan yang sebenarnya, berada. Semakin sering kita berdzikir kita akan mencapai keadaan emut, yakni terbukanya kenyataan primordial atau fitrah kita sebagai hamba Allah.
Lamun (asal, jika) yitna (waspada) kayitnan (kewaspadaan) kang (yang) miyatani (mitayani, diandalkan). Asal waspada dengan kewaspadaan yang andal.
Apabila kita selalu waspada menjaga keadaan ini secara terus menerus dengan kewaspadaan yang andal, bersungguh-sungguh dalam dzikir, Insya Allah kita akan menemukan kebenaran sejati.
Tarlen (tak lain) mung (hanya) pribadinipun (pribadinya), kang (yang) katon (tampak) tinonton (terlihat) kono (di situ). Itu tak lain hanya pribadinya,yang tampak terlihat di situ.
Puncak dari pencapaian sembah jiwa melalui apa yang disebut dzikir, mengingat fitrah kita, menelusuri kesejatian, adalah menemukan diri sendiri. Ini selaras dengan sabda Nabi, “Barangsiapa mengenal dirinya maka ia mengenal Tuhannya.”
Dalam kazanah budaya Jawa ada kisah pewayangan tentang pencarian diri ini, yakni dalam cerita Bima Suci. Dalam cerita ini Bima dikisahkan mencari tirta amreta atau air keabadian. Oleh sang guru Begawan Drona Bima disuruh mencari di dasar samudera. Karena patuh dan percaya pada sang guru Bima tidak berpikir panjang, dia menceburkan diri ke dalam lautan. Dia hanyut dalam pusaran air di kegelapan samudera.
Di dalam keadaan antara hidup dan mati, di batas dua alam inilah Bima justru menemukan kebenaran sejati. Dalam cerita itu dia ditemui sosok yang disebut Dewa Ruci, personifikasi Dewa Ruci adalah sosok yang mirip dengan Bima tetapi kecil, oleh karena sering disebut Bima Kunthing. Yang sesungguhnya Dewa Ruci adalah diri Bima sendiri dalam pencapaian puncak kesadaran manusiawi. Dewa Ruci adalah saripati dari Bima sendiri yang muncul dalam keadaan kepasrahan total kepada Sang Penguasa Jagad Raya.
Kajian Wedatama (68): Urub Pangareping Budi
Bait ke-68, Pupuh Gambuh, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV:
Ning aywa salah surup,
kono ana sajatining urub.
Yeku urub pangarep uriping budi. Sumirat sirat narawung,
kadya kartika katonton.
Terjemahan dalam bahasa Indonesia:
Tetapi jangan salah terima,
di situ ada cahaya sejati.
Ialah cahaya yang memimpin hidupnya sanubari. Bercahaya memancar benderang,
bagaikan bintang nampaknya.
Kajian per kata:
Ning (tetapi) aywa (jangan) salah surup (salah terima), kono (di situ) ana (ada) sajatinig (sejatinya) urub (cahaya). Tetapi jangan salah terima, di situ ada cahaya sejati.
Pembahasan bait ini masih tentang alam kanyut, yang sebenarnya adalah alam tempat bertemunya dua alam, alam materi dan alam ruh. Filosof muslim Ibnu ‘Arabi secara metafora menyebut alam ini sebagai alam imajinal atau barzakh atau alam antara. Sebagaimana alam barzakh yang sering kita dengar adalah alam antara dunia dan akhirat, barzakh yang dimaksud Ibnu Arabi adalah alam antara materi dan ruh. Sifat alam imajinal ini merupakan campuran keduanya, kadang masih bercampur sifat materinya, kadang bersifat ruhaniah.
Walau demikian kedudukan alam ini adalah lebih tinggi dari alam material, hanya saja perlu sebuah upaya yang sungguh-sungguh agar tidak terpeleset ketika masuk ke wilayah ini. Yakni harus selalu menjaga agar tetap dalam keadaan emut, ingat akan posisi kita di dalam konstelasi wujud sebagai hamba Allah. Sebuah pengakuan yang dahulu pernah kita ucapkan dalam alam pra-kreasi.
Jika keadaan emut tersebut tak tercapai atau kadang hilang kita bisa tergelincir karena alam ini sangat mudah menghanyutkan, oleh karena disebut alam kanyut. Contoh ketergelinciran adalah apa yang dilakukan Al Hallaj dan Syeikh Siti Jenar, dalam riwayat-riwayat yang sudah sering kita dengar.
Maka keadaan emut tadi harus senantiasa kita upayakan dengan sungguh-sungguh, agar kita tidak hanyut dan kemudian meracau tak karuan seperti para mistikus yang trance yang mengira cahaya diri sebagai sifat ketuhanan, sehingga terlontar ucapan: “Ana Al Haqq!”
Yeku (yaitu) urub (cahaya) pangarep (pemimpin, penuntun) uriping (hidupnya) budi (sanubari, akal budi). Ialah cahaya yang memimpin hidupnya sanubari.
Pangarep berarti yang didepan, ini berarti cahaya yang kita lihat seharusnya kita sikapi sebagai pertolongan Allah yang membuat jalan menjadi terang. Hendaknya kita selalu emut dengan posisi kita tadi sebagai hamba Allah, maka cahaya apapun yang kita lihat dapat menjadi pangarep, penuntun dalam melangkah ke depan.
Sumirat (bercahaya) sirat (memancar) narawung (benderang), kadya (bagaikan) kartika (bintang) katonton (nampaknya, terlihat). Bercahaya memancar benderang, bagaikan bintang nampaknya.
Urub (cahaya) tadi apabila kita mampu menempatkan dengan benar akan menjadi penerang hidup kita, membawa kita dari kegelapan menuju terang, sehingga laku kita menjadi semakin mudah, tujuan kita menjadi jelas karena jalan yang ditempuh menjadi terang benderang.
Sumirat-sirat berarti cahaya yang memancar-mancar, sebagai pertanda keadaan terang benderang. Secara metafora ini adalah keadaan ketika manusia tidak lagi bingung dalam membedakan antara yang haq dan batil. Sehingga menjadi jelas, tanpa perlu bujukan, perintah dan ancaman lagi, ke mana kaki harus melangkah.
Ini adalah rahasia terdalam dari pengamalan syariat. Ketika di tingkat syariat kita memerlukan motivasi dalam berbuat,yang berupa pahala surga dan daya dorong yang berupa ancaman siksa neraka. Namun ketika kita sudah mengenali yang haq secara hakiki segala pahala dan siksa kehilangan makna. Yang tersisa adalah ketertundukan yang sukarela, ikhlas dan tanpa pamrih.
Kajian Wedatama (69): Kang Wengku-Winengku
Bait ke-69, Pupuh Gambuh, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV:
Yeku wenganing kalbu.
Kabukane kang wengku winengku. Wewengkone wis kawengku neng sireki, Ning sira uga kawengku,
Mring kang pindha kartika byor.
Terjemahan dalam bahasa Indonesia:
Itulah terbukanya hati,
Terbukalah yang kuasa dan dikuasai, Daerahnya sudah kau kuasai,
Tetapi kau juga dikuasai,
Oleh cahaya yang seperti bintang gemerlap.
Kajian per kata:
Yeku (yaitu) wenganing (terbukanya) kalbu (hati). Itulah terbukanya hati.
Apabila di dalam luyut, yakni batas antara lahir dan batin yang juga disebut sebagai alam kanyut tadi, kita sudah mampu melihat cahaya memancar (sumirat) sebagai petunjuk jalan, maka artinya sudah terbuka hati kita untuk menerima kebenaran sejati.
Terbukanya hati memunculkan kesadaran baru bahwa antara hanya ada SATU WUJUD di alam semesta ini, ialah Wujud Tuhan Sang Pencipta. Ini bukan sebuah kemenyatuan atau manunggaling kawula-Gusti, tetapi sebuah kenyataan bahwa wujud kita berasal dari-Nya, bukan dari sesuatu yang lain. Kita adalah manifestasinya di alam materi ini.
Hendaklah berhati-hati dalam memahami persoalan ini. Banyak orang terjebak pada doktrin pantheisme akibat salah paham tentang kesatuan wujud Tuhan-manusia. Pada saatnya nanti kami akan menjelaskan ini secara lebih detail.
Kabukane (terbukanya) kang (yang) wengku (kuasa) winengku (yang dikuasai). Terbukanya yang kuasa dan dikuasai.
Sesudah kita sampai di batas alam (luyut) dan menguasai makna di dalamnya, maka diri kita pun dibuat takjub oleh sinar kebenaran yang memancar. Keagungan Tuhan di alam itu benar- benar menguasai diri kita, sehingga kita tak mampu memalingkan muka karena ketakjuban.
Wewengkone (wilayahnya) wis (sudah) kawengku (dikuasai) neng (oleh) sireki (engkau), ning (tetapi) sira (engkau) uga (juga) kawengku (dikuasai), mring (oleh) kang (yang) pindha (seperti) kartika (bintang) byor (gemerlap). Daerahnya sudah kau kuasai, tetapi kau juga dikuasai, oleh cahaya yang seperti bintang gemerlap.
Meski kita mampu menjangkau alam kanyut dan menguasainya, namun kita juga dikuasai oleh pesona keindahan cahayanya yang menakjubkan. Kita tak mampu beranjak lama-lama dari situ. Hati kita senantiasa kemanthil-kanthil, terbayang-bayang untuk kembali lagi ke sana.
Di awal serat Wedatama ini, dalam Pupuh sinom, disebutkan tentang laku Panembahan Senopati yang kayungyun eningingtyas. Kata kayungyun sering dipakai untuk menyebut orang yang sedang dimabuk asmara, siang malam merindukan kekasih hati, selalu ingin jumpa. Frasa kayungyun eningingtyas menggambarkan keadaan seorang yang selalu rindu untuk menyepi, melakukan komunikasi dengan Tuhan. Keadaan seperti inilah yang dimaksud dalam bait ini.
Orang yang telah menyaksikan cahaya Ilahi ini akan senantiasa kecanduan untuk berlama- lama menikmatinya. Jika pun dia kembali ke alam materi hatinya selalu terpaut di sini. Membuat dia tak sabar untuk meluangkan waktu agar dapat kembali. Mungkin hal inilah yang dialami Panembahan Senopati sehingga beliau selalu, di sela-sela kesibukannya sebagai Raja Mataram, meluangkan waktu untuk menyepi. Beliau seolah-olah kecanduan dan dikuasai oleh sesuatu yang begitu indah sehingga sulit untuk ditinggalkan. Kata kayungyun sangat tepat untuk menggambarkan keadaan itu.
Bait ini adalah akhir dari pembahasan tentang sembah jiwa. Laku-nya adalah awas dan eling, mengingat fitrah kesejatian kita sebagai hamba Allah. Outputnya adalah kesadaran wujudiyah, bahwa hanya Wujud Allah-lah yang ada.
Kajian Wredatama 60-64
Kajian Wedatama (60): Wenganing Alam Kinaot
Pada atau bait ke-60, Pupuh Gambuh, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV:
Mring jatining pandulu,
Panduk ing ndom dedalan satuhu, Lamun lugu legutaning reh maligi, Lageyane tumalawung, Wenganing alam kinaot.
Terjemahan dalam bahasa Indonesia:
Pada pandangan yang sebenarnya,
Mencapai pedoman jalan yang benar,
Jika sungguh-sungguh biasannya (ada pertanda) khusus, Ciri khasnya keadaan haru bercampur bahagia. Terbukanya alam yang lain.
Kajian per kata:
Mring (kepada) jatining (sejatinya) pandulu (pandangan). Pada pandangan yang sebenarnya.
Orang yang berhasil dalam sembah kalbu akan terbuka kepada pandangan yang sebenarnya, tentang hakekat kehidupan. Itu terjadi karena sembah kalbu membuat seseorang mampu berpikir jernih akibat tidak terkontaminasi hawa nafsu. Karena sudah dibiasakan untuk sekedar memenuhi kebutuhan saja, tanpa mengumbar keinginan yang tak perlu.
Sering terjadi dan acapkali kita lihat bahwa meskipun seseorang terdidik dan pandai tetapi sering blawur (rabun) dalam melihat kenyataan. Boleh jadi hal tersebut karena yang bersangkutan menyimpan pamrih dalam hati. Cobalah perhatikan hari-hari ketika menjelang pilkada, pasti ada satu-dua orang pintar yang berpendapat minor, tak masuk akal, dan kadang terlalu vulgar sikap ngawurnya, hanya karena dia mendukung salah satu cakada.
Dalam kazanah budaya Jawa ada ungkapan melik nggendhong lali, artinya ketika seseorang menyimpan hasrat memiliki (entah apapun) dalam hatinya, pikirannya menjadi khilaf. Oleh karena itu amat sangat penting membersihkan diri dari hasrat-hasrat dalam hati.
Panduk (terkena, menerima, mencapai) ing (pada) ndom (pandom, pedoman) dedalan (jalan) satuhu (yang benar). Mencapai pedoman jalan yang benar.
Karena pandangannya lebih awas dalam melihat hakekat kehidupan, maka akan tercapai pedoman perikehidupan yang sebenarnya. Ibarat orang yang berjalan dan mampu melihat rambu-rambu di sepanjang jalan, maka dia pasti mengetahui arah yang benar dan takkan tersesat.
Lamun (jika) lugu (sungguh-sungguh) legutaning (biasanya) reh (hal) maligi (khusus). Jika bersungguh-sungguh biasanya (ada pertanda) khusus.
Jika bersungguh-sungguh dalam melakukan sembah kalbu maka akan ada pertanda khusus sebagai isyarat bahwa jalan yang ditempuh sudah benar.
Manusia ketika hidup di dunia ini memang hanya mampu melihat tanda-tanda kekuasaan Allah SWT. Tanda-tanda itu bisa kuat bisa lemah, tergantung pada kemampuan spiritual yang bersangkutan. Oleh karena itu sudah seharusnya manusia selalu berusaha mempertajam kepekaan dalam mengenali tanda-tanda tersebut melalui latihan-latihan. Dalam budaya Jawa ada istilah memasah mingising budi, mengasah ketajaman akal-budi. Sembah kalbu adalah salah satunya.
Lageyane (ciri khasnya, sifatnya) tumalawung (haru bercampur bahagia, seperti melihat kebesaran Tuhan). Ciri khasnya keadaan haru bercampur bahagia.
Ciri khasnya adalah munculnya perasaan haru campur bahagia. Ini biasa terjadi jika kita sedang kusyu’ berdoa, mendekatkan diri kepada Tuhan (biasanya pada saat shalat), ada rasa haru di hati, ada rasa lega, plong seperti beban yang hilang diangkat. Ada rasa tunduk dan khidmat seolah sudah menghadap Allah Yang Maha Besar, mengadukan segala masalah, memohon pertolongan, memohon kekuatan, dan rasanya plong, lega sekali.
Wenganing (terbukanya) alam (alam) kinaot (terpaut, yang lain). Terbukanya alam yang lain.
Ketika sampai pada keadaan yang demikian itu maka terbukalah alam lain, alam yang lebih tinggi dari alam materi yang didalamnya kita juga hidup sekarang ini. Karena sesungguhnya kita sekarang tidak hidup di satu alam saja, melainkan berlapis-lapis. Hal itu sudah kami jelaskan pada saat membahas triloka pada bait ke-34, Aywa Kongsi Mbabar Angkara.
Kajian Wedatama (61): Ilanging Rasa Tumlawung
Bait ke-61, Pupuh Gambuh, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV:
Yen wis kambah kadyeku.
Sarat sareh saniskareng laku. Kalakone saka eneng ening eling. Ilanging rasa tumlawung.
Kono adiling Hyang Manon.
Terjemahan dalam bahasa Indonesia:
Bila sudah mencapai keadaan itu.
Saratnya sabar segala tindak tanduk. Terlaksananya dengan cara tenang syahdu ingat. Hilangnya rasa haru campur bahagia.
Itulah Maha adilnya Tuhan Yang Maha Melihat.
Kajian per kata:
Yen (Bila) wis (sudah) kambah (mencapai) kadyeku (keadaan itu), sarat (syarat) sareh (sabar) saniskareng (saniskara ing, segala) laku (tindak-tanduk). Bila sudah mencapai keadaan itu, saratnya sabar segala tindak tanduk.
Bila sudah mencapai keadaan itu, yakni terbukanya alam lain yang lebih tinggi (bait ke-60), maka harus dijaga agar keadaan itu secara terus menerus hadir dalam kalbu.
Apapun pencapaian spiritual manusia apabila tak dijaga bisa hilang sewaktu-waktu, maka harus selalu dipertahankan agar tidak kembali melorot derajatnya. Dalam sembah kalbu yang selalu harus dijaga adalah sabar dalam segala tindak-tanduk, sehari-hari, selama-lamanya.
Kalakone (terlaksananya) saka (dengan cara) eneng (tenang) ening (syahdu) eling (ingat). Terlaksananya dengan cara tenang syahdu ingat.
Terlaksananya kontinuitas sembah kalbu adalah dengan cara eneng, ening dan eling. Eneng adalah keadaan diam, yang dimaksud adalah diamnya pikiran dari segala gerak-gerik keinginan. Dalam eneng pikiran-pikiran kotor akan mengendap, sehingga pikiran menjadi jernih, khidmat dan dipenuhi keagungan (syahdu).
Ening adalah jernihnya pikiran karena kotorannya telah mengendap. Karena telah mengendap, maka pikiran yang telah jernih tadi akan mampu mengingat (eling) akan diri pra- kreasi. Ini adalah proses mengingat fitrah manusia pada masa sebelum penciptaan, ketika kita pernah berkata: “Aku bersaksi!” terhadap keagungan Allah. Jadi eling adalah mengingat (zikir) akan posisi azali kita di hadapan Allah SWT.
Eneng, ening, eling adalah proses kesadaran yang selalu harus dijaga agar selalu menjadi watak sehari-hari, karena apabila hilang sungguh akan merugikan sendiri. Mengapa?
Ilanging (hilangnya) rasa (perasaan) tumlawung (haru campur bahagia). Hilangnya rasa haru campur bahagia.
Hilangnya eneng, ening, eling karena lalai tidak mengupayakannya terus-menerus akan berakibat hilangnya perasaan haru bercampur bahagia (tumlawung) yang selalau dirasakan manakala sedang shalat. Ini adalah kemunduran karena shalatnya kemudian menjadi semata- mata sembah raga saja.
Kono (di situ) adiling (adilnya) Hyang (Yang) Manon (Maha Melihat). Itulah Maha Adilnya Tuhan Yang Maha Melihat.
Di situlah keadilan Allah Yang Maha Melihat. Dia senantiasa memantau keadaan hamba- hambanya, tak mengabaikan walau hanya sebentar. Kepada yang telah bersungguh-sungguh berusaha dia akan memberikan rahmatNya, kepada yang lalai Dia akan mencabutnya kembali. Dia menangani segala urusan, dan tak pernah tidur. Gusti Allah ora sare, kata orang Jawa.
Kajian Wedatama (62): Gagare Ngunggar Kayun
Pada atau bait ke-62, Pupuh Gambuh, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV:
Gagare ngunggar kayun,
Tan kayungyun mring ayuning kayun, Bangsa anggit yen ginigit nora dadi, Marma den awas den emut,
Mring pamurunging lelakon.
Terjemahan dalam bahasa Indonesia:
Gagalnya membiarkan kehendak hati.
Tidak tertarik kepada keindahan tujuan,
Hal yang direka-reka bila dirasakan tidak terwujud, Maka dari itu harap waspada dan ingat,
Terhadap penghalang di perjalanan.
Kajian per kata:
Gagare (gagalnya) ngunggar (membiarkan) kayun (hati, kehendak). Gagalnya membiarkan kehendak hati.
Melihat konteks kalimat di atas lebih tepat jika diartikan sebagai: gagalnya mewujudkan potensi hati, gagalnya meraih potensi maksimalnya. Hati kita sebenarnya dapat berpotensi untuk meraih hal-hal yang telah disebutkan dalam bait sebelumnya, tetapi hal tersebut dapat gagal karena berbagai sebab. Jadi membiarkan hati dalam gatra ini lebih tepat diartikan sebagai membiarkan hati meraih potensi terbaiknya.
Tan (tidak) kayungyun (tertarik, terpesona) mring (pada) ayuning (kindahan) kayun (hati).
Antara lain sebab gagalnya adalah; hati tidak tertarik pada keindahan bentuk sempurnanya. Hal ini merujuk pada kisah Panembahan senopati pada bait ke-16 yang kayungyun eningingtyas, terpesona kaheningan hati sehingga beliau terpacu semangatnya untuk menyepi. Apa hubungan ening dan ayu? Keduanya sama-sama bentuk puncak dari potensi hati yang diasah melalui pertapaan, atau mengurangi hawa nafsu. Jadi kurang lebih keduanya serupa. Jika seseorang sudah tidak tertarik pada keindahan hati, maka dipastikan usaha untuk meraihnya pun mengendur.
Bangsa (semacam hal) anggit (direka-reka) yen (kalau) ginigit (digigit, dirasakan) nora (tidak) dadi (terwujud). Hal yang direka-reka bila dirasakan tidak terwujud.
Hal tersebut (tidak tertariknya hati) membuat hati enggan, seolah terpaksa untuk meraih ayuningtyas, sehingga cenderung untuk mereka-reka (nganggit). Bisa jadi hal ini karena enggan menempuh laku sembah kalbu karena kemalasan sehingga merasa sudah mencapai tujuannya. Padahal itu hanya tujuan semu, yang kalau dirasakan (ginigit) tidak ada wujudnya (nora dadi).
Marma (oleh karena itu) den (harap) awas (awas) den (dan harap) emut (ingat), mring (terhadap) pamurunging (penghalang) lelakon (diperjalanan). Maka dari itu harap waspada dan ingat, terhadap penghalang di perjalanan.
Ghirah dalam beribadah secara fisik (sembah raga) kepada Allah dapat naik-turun, kadang sangat bersemangat tetapi kadang tak bergairah, loyo. Hal itu bisa karena berbagai kondisi, mungkin terlalu lelah fisik sehingga hati menjadi kendur, mungkin karena hati terlalu terpaut pada dunia sehingga tak lagi cenderung pada ibadah, maka tubuh yang kuat pun tak mampu tergerak.
Dalam hal sembah kalbu, godaan lebih berat lagi karena sembah kalbu adalah ibadah yang tak tampak oleh orang lain. Tidak ada istilah riya’ dalam sembah kalbu karena sembah kalbu tak dapat dilihat oleh orang lain. Yang memotivasi adalah diri sendiri.
Beberapa hal yang membuat gagalnya sembah kalbu adalah ketidaksabaran, kurang hati-hati dan merasa cukup. Maka perlu kiranya selalu menjaga hati agar senantiasa bersikap tata, titi, ngati-ati, sareh dan telaten. Pengertian masing-masing sikap telah diuraikan dalam bait-bait sebelumnya.
Bait ini adalah bait terakhir yang membahas sembah kalbu, bait selanjutnya akan berbicara tentang sembah jiwa. Apakah itu? Silakan terus mengikuti kajian ini.
Kajian Wedatama (63): Sembah Jiwa
Pada atau bait ke-63, Pupuh Gambuh, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV:
Samengko kang tinutur,
sembah katri kang sayekti katur,
mring Hyang sukma sukmanen saari-ari. Arahen dipun kacakup,
sembahing jiwa sutengong.
Terjemahan dalam bahasa Indonesia:
Sekarang yang dibicarakan,
sembah ke tiga yang sebenarnya diperuntukkan, untuk Yang Ghaib, dijalankan setiap hari. Arahkan agar tercakup,
sembah jiwa ini, anakku!
Kajian per kata:
Samengko (sekarang) kang (yang) tinutur (dibicarakan), sembah (sembah, ibadah) katri (yang ketiga) kang (yang) sayekti (sebenarnya) katur (diperuntukkan), mring (kepada) Hyang (Yang) Sukma (Ruh, Ghaib), sukmanen (hayatilah, jiwailah) saari-ari (sehari-hari) Sekarang yang dibicarakan, sembah ke tiga yang sebenarnya diperuntukkan, bagi Yang Ghaib, maka jalankan sehari-hari.
Setelah membicarakan tentang sembah kalbu dalam bait-bait terdahulu, sekarang tibalah saatnya membicarakan sembah selanjutnya. Sembah yang ketiga ini diperuntukkan bagi Yang Ghaib, maka jiwailah, hayatilah setiap saat, sehari-hari.
Sukma adalah padanan (sinonim) dari kata ruh, maka sembah yang ketiga ini diperuntukkan bagi Yang Maha Ghaib, Pemilik alam Ruh. Ruh adalah dzat yang membuat kita hidup. Tanpa ruh kita adalah bukan manusia lagi, maka frasa sukmanen saari-ari yang secara tekstual berarti ruhilah sehari-hari, bermakna hayatilah dalam kehidupan sehari-hari.
Arahen (arahkan) dipun (agar) kacakup (tercakup), sembahing (sembahnya) jiwa (jiwa) sutengong (suta ingong, anakku). Arahkan segala sembah terdahulu agar mencakup sembah yang ini, yakni sembah jiwa, anakku.
Sembah yang ketiga inilah sembah jiwa. Dalam budaya Jawa jiwa bisa berarti hidup, menghayati, maka sembah Jiwa berarti menghayati sembah sebagai sifat yang merasuk (sukmanen, merasuklah) ke dalam dzat manusia itu sendiri. Sehingga tidak perlu mengusahakan hadirnya dalam kalbu sebagaimana sembah kalbu, tetapi senantiasa menetap dalam diri manusia. Dalam redaksi yang lebih mudah dipahami sembah jiwa adalah menyembah Allah secara menjiwai, mendarah-daging, terpatri dalam sifat dan dzat manusia yang melakukan sembah itu.
Orang yang telah berhasil dalam sembah jiwa akan tetap menyembah dalam diam dan gerakan. Dalam shalat dan diluar shalat. Dalam berbagai kegiatan yang bahkan terlihat sebagai kegiatan duniawi. Dirinya sudah ikhlas dalam segala hal. Dirinya sudah fana dalam diri-nya sendiri, hingga hanya menyisakan Dia Yang Ada. Inilah ibadahnya jiwa.
Kami cukupkan sekian dulu tentang sembah jiwa ini, dalam bait-bait berikutnya akan diuraikan agar semakin jelas maknanya. Jangan sampai ketinggalan!
Kajian Wedatama (64): Pepuntoning Laku
Bait atau pada ke-64, Pupuh Gambuh, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV:
Sayekti luwih perlu,
Ingaranan pepuntoning laku,
Kalakuwan tumrap kang bangsaning batin, Sucine lan awas emut,
Mring alaming lama maot.
Terjemahan dalam bahasa Indonesia:
Sebenarnya lebih penting,
Disebut penghabisannya tindakan,
Tindakan yang bersangkutan dengan batin, Pembersihnya dengan awas dan ingat,
Kepada alam lama yang memuat, (alam prakreasi).
Kajian per kata:
Sayekti (sebenarnya) luwih (lebih) perlu (penting), ingaranan (disebut) pepuntoning (penghabisannya) laku (tindakan). Sebenarnya lebih penting, disebut penghabisannya tindakan.
Sebenarnya sembah jiwa ini adalah akhir dari perjalanan (laku). Mengapa disebut demikian? Karena dari fakultas manusia yang dipakai untuk melakukan sembah sejak mulai dari raga, cipta (kalbu) sampai jiwa, kesemuanya itu mempunyai sifat yang tidak sempurna. Raga jelas tidak sempurna karena bisa luka, menderita sakit dan mati. Cipta (kalbu) juga tidak sempurna karena seringkali berpikir liar, tidak fokus, berbolak-balik (qalb), sering tidak fokus dalam tujuannya. Jiwa juga tidak sempurna karena kemantapannya sangat tergantung pengendalian diri dari nafsu-nafsu. Jiwa mudah diseret hawa nafsu menuju ke tempat hina. Karena harus selalu diawasi dengan waspada dan berhati-hati.
Terhadap segala ketaksempurnaan itulah segala latihan dan tirakat ditujukan. Agar semua fakultas tersebut menjadi disiplin dan terkendali sehingga cemerlang dan menjadi penerang dalam mencapai tujuan. Ini berbeda dengan sembah rasa yang akan kita bahas nanti.
Kalakuwan (tindakan) tumrap (kepada) kang (yang) bangsaning (berkaitan) batin (alam batin). Tindakan yang bersangkutan dengan batin.
Akhir dari perjalanan yang berkaitan dengan alam batin. Setelahnya tidak ada lagi laku lagi, baik raga maupun jiwa, setelah ini adalah sampai pada tujuan. Oleh karena itu sembah jiwa ini adalah laku yang penting.
Sucine (pembersihnya) lan (dengan) awas (awas) emut (mengingat). Pembersihnya dengan awas dan ingat.
Jika sembah raga bersucinya dengan air, sembah kalbu bersucinya dengan mengurangi hasrat di hati, maka sembah jiwa bersucinya dengan waspada dan mengingat. Awas terhadap tujuan bermakna, jangan sampai salah mengenali apakah yang dituju sudah benar-benar tujuan hidup yang sebenarnya. Atau dalam bahasa yang lebih mudah apakah yang disembah adalah Tuhan yang sebenarnya? Ataukah hanya sosok lain yang dipertuhankan? Hal ini penting karena banyak orang silau dengan gemerlapnya alam batin sehingga salah mengenali kenyataan, Al Haq.
Mengingat bermakna mengingat-ingat asal kejadian atau sangkaning dumadi. Kita sudah menjelaskan dalam bait yang lalu, dan kita ingat kembali dalam gatra di bawah ini.
Mring (kepada) alaming (alam) lama (lama, pra keabadian) maot (yang memuat). Kepada alam lama yang memuat, (alam prakreasi).
Ingat pada perjanjian pra-azali ketika kita sudah menyatkan, “Aku bersaksi, Bala syahidna!” Yang terakhir ini hanya mungkin jika kita mengenal fitrah kita sebagai manusia. Dengan fitrah itulah kita mengenal sedikit demi sedikit alam lama kita yang kita pernal tinggal di sana (lebih tepatnya disemai di sana).
Bagaimana caranya kita melakukan itu? Kita sudah mulai melakukan itu sejak ketika kita lakukan sembah raga di awal perjalanan. Dengan itu kita telah sedikit-demi sedikit membersihkan kerak yang menutupi hati, semakin dalam kita lakukan sembah dengan sembah kalbu dan sembah jiwa ini semakin tampak cahaya hati yang bersinar terang. Hanya tinggal menunggu waktu untuk sampai. Bersabarlah sampai pada bait-bait akhir serat Wedatama ini.
Kajian Wredatama 55-59
Kajian Wedatama (55): Angruwat Ruweding Batos
Bait ke-55, Pupuh Gambuh, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV:
Wong seger badanipun,
otot daging kulit balung sumsum. Tumrah ing rah memarah antenging ati, Antenging ati nunungku,
Angruwat ruweding batos.
Terjemahan dalam bahasa Indonesia:
Orang yang sehat badannya,
otot, daging kulit, tulang dan sungsum, Mempengaruhi darah menjadikan tenangnya hati, Tenangnya hati menjadikan,
hilangnya ruwet di pikiran,
.
Kajian per kata:
Wong (orang) seger (segar, sehat) badanipun (badannya), otot daging kulit balung sumsum. Orang yang sehat badannya, otot, daging kulit, tulang dan sungsum.
Bait ini masih kelanjutan dari bait sebelumnya tentang amalan lahir atau ibadahnya tubuh atau sembah raga. Bahwa manfaat sembah raga adalah badannya sehat, bugar dan segar. Orang yang sehat badannya tentu juga sehat organ-organnya. Otot, daging, kulit, tulang dan sungsum semuanya dalam keadaan sehat. Hal ini bisa terjadi karena orang yang mengamalkan syari’at akan hidup secara teratur, seimbang dalam makan, proporsional dalam bekerja, cukup istirahat dan tidak berlebihan dalam menikmati kesenangan duniwi. Karena semua ada batasan-batasan kewajiban dan kepatutan.
Tumrah (menurun, mempengaruhi) ing (di) rah (darah) memarah (menjadikan) antenging (tenangnya) ati (hati). Mempengaruhi darah menjadikan tenangnya hati.
Tubuh yang sehat, istirahat cukup, tidak berlebihan dalam setiap urusan. Tidak telalu tertekan kepanikan karena stress tapi tetap aktif. Tidak malas-malasan, tapi terukur dalam bekerja. Itulah ritme hidup terbaik yang akan membuat darah lancar mengalir. Pasokan nutrisi ke seluruh organ tubuh terjamin. Kondisi ini akan menjadikan hati selalu tenang, tidak bergejolak oleh aktivitas yang mendadak, tidak berdebar-debar karena tak ada kekhawatiran.
Antenging (tenangnya) ati (hati) nunungku (membuat tungku, arti kiasan menjadikan), angruwat (menghilangkan) ruweding (kisruhnya) batos (batin, pikiran). Tenangnya hati menjadikan, hilangnya ruwet di pikiran.
Tenangnya hati akan membuat seseorang mampu berpikir jernih, mampu mencari solusi dari setiap problem, mampu membuat karya yang baru, mampu menyusun rencana dengan matang. Segala masalah yang ruwet (kisruh) sekalipun akan mampu dicarikan jalan keluar. Segala tantangan hidup yang berat mampu diatasi dengan pikiran yang jernih.
Inilah efek langsung dari teraturnya gerakan tubuh. Seseorang yang terbiasa mendisiplinkan tubuhnya dengan sembah raga pasti akan mendapat manfaat yang banyak sekali. Itu baru ditinjau dari sisi fisik semata-mata, sesuai kajian kita tentang sembah raga dalam beberapa bait yang lalu.
Bait ini mengakhiri bahasan tentang sembah raga. Bait berikutnya akan bercerita tentang mengapa penggubah Wedatama ini perlu menyampaikan pesan-pesan tersebut di atas. Nantikan kajian berikutnya pada bait ke-56.
Kajian Wedatama (56): Beda Panduk Panduming Dumadi
Bait ke-56, Pupuh Gambuh, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV:
Mangkono mungguh ingsun, Ananging ta sarehne asnapun,
Beda beda panduk panduming dumadi, Sayektine nora jumbuh,
Tekad kang padha linakon.
Terjemahan dalam bahasa Indonesia:
Demikianlah yang baik bagi saya.
Tetapi karena orang itu berbeda-beda,
lain-lain qadla dan qadarnya dalam penciptaan. Sebenarnya tidak cocok,
tekad yang dijalani itu.
.
Kajian per kata:
Mangkono (demikianlah) mungguh (pantas, baik bagi) ingsun (saya). Demikianlah yang baik bagi saya.
Ini merujuk pada apa yang disampaikan pada bait-bait sebelumnya tentang sembah raga bahwasanya itulah wawasan atau piwulang atau nasihat yang terbaik menurut penggubah Wedatama ini. Di sini sang penggubah Wedatama, Sri Mangkunegara IV hanyalah menyampaikan piwulang yang menurutnya baik untuk dilakukan oleh generasi muda dan masyarakat pada umumnya.
Ananging (tetapi) ta sarehne (karena) asnapun (berbeda-beda), beda beda (lain-lain) panduk (terkena) panduming (kebagian, kadar) dumadi (penciptaan). Tetapi karena orang itu berbeda, lain-lain qadla dan qadarnya dalam penciptaan.
Sesungguhnya keadaan orang berbeda-beda satu dengan yang lain (asnapun). Perbedaan itu disebabkan karena ketetapan Allah Sang Pencipta. Panduk di sini berarti terkena, panduming berarti mendapat pembagian. Jadi panduk adalah qadla dan pamduming berarti qadar. Dalam hal ini setiap manusia tentu tidak sama antara satu dengan yang lainnya.
Qadla dan Qadar adalah rahasia Allah SWT. Kita manusia tak mampu menjangkau hal tersebut, yang dapat kita lakukan adalah ikhtiyari, mencari dan memilih tindakan apa yang terbaik untuk kita. Soal mana yang terbaik tersebut tentu bagi setiap orang juga berbeda-beda. Boleh jadi satu amalan kebaikan cocok untuk orang tertentu, namun justru memberatkan bagi orang lain.
Sayektine (sebenarnya) nora (tidak) jumbuh (cocok), tekad (tekad) kang (yang) padha (sama-sama) linakon (dijalani). Sebenarnya tidak cocok, tekad yang dijalani.
Oleh karena hal di atas, sebenarnya (apa yang saya ajarkan-penulis wedatama) tidak cocok untuk setiap keadaan. Mengingat keadaan setiap orang berbeda-beda, tak sama persis antara satu dengan yang lain. Maka ambillah sekedar sebagai penggugah semangat saja, agar kalian bertekad untuk sama-sama melakukan kebaikan.
Di gatra ini penggubah Wedatama menyadari bahwa ajaran yang beliau sampaikan tak dapat ditiru secara persis. Pada Pupuh Pangkur yang lalu, berulang kali beliau tegaskan bahwa meneladani seseorang juga tak mungkin menirunya persis. Tirulah tekad atau semangat yang mendasari perbuatan para leluhur, adapun bentuk pengamalannya disesuaikan dengan kondisi masing-masing.
Kajian Wedatama (57): Nugraha Ageming Keprabon
Pada atau bait ke-57, Pupuh Gambuh, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV:
Nanging ta paksa tutur.
Rehne tuwa tuwase mung catur.
Bok lumuntur lantaraning reh utami. Sing sapa temen tinemu.
Nugraha geming keprabon.
Terjemahan dalam bahasa Indonesia:
Tetapi memaksa diri memberi petuah.
Karena sebagai orang tua bisanya hanya berpetuah. Siapa tahu dapat menurun melalui segala kebaikan. Siapa bersungguh-sungguh akan mendapatkan. Anugrah untuk orang pilihan .
.
Kajian per kata:
Nanging (tetapi) ta paksa (memaksakan) tutur (memberi petuah). Tetapi memaksa diri memberi petuah.
Bait ini ada hubungannya dengan bait sebelumnya yang menyatakan bahwa apa yang beliau ajarkan tidak mungkin diterapkan oleh semua orang karena perbedaan keadaan masing- masing. Meski demikian beliau memaksakan diri untuk memberi petuah sebagai bagian dari tugas kemanusiaan, menyampaikan apa yang diyakini sebagai kebenaran. Asalkan dalam penyampaian itu -dan ini dicontohkan oleh beliau- tidak serta merta dengan kesombongan seolah-olah yang disampaikan itulah yang benar sendiri.
Rehne (karena) tuwa (orang tua) tuwase (bisanya, mampunya) mung (hanya ) catur (berpetuah). Karena sebagai orang tua bisanya hanya berpetuah.
Orang tua bisanya hanya memberi petuah, atas dasar pengalaman hidup yang telah dilalui. Walau pengalaman orang juga tidak sama, dan karena itu tak bisa ditiru oleh orang lain secara persis, tetapi tidaklah mengapa. Mungkin ada saripati, semangat dan tekad kuat yang bisa menjadi inspirasi bagi anak muda di kemudian hari.
Bok (siapa tahu) lumuntur (menurun) lantaraning (melalui) reh (segala) utami (kebaikan). Siapa tahu dapat menurun melalui segala kebaikan.
Saripati dan semangat itulah yang diharapkan lumuntur, menurun bersama tauladan utama yang telah mereka berikan. Lumuntur di sini diambil dari kata luntur. Kalau kita punya kain berwarna dan dicuci bersama kain lainnya, semisal kain putih, kadang-kadang warna itu luntur dan mengenai kain putih tersebut. Maka kain putih tadi menjadi berwarna serupa dengan kain yang luntur meski gradasi warnanya tak bisa menyamai. Nah seperti itulah kira- kira yang dimaksud oleh sang penggubah Wedatama ini, ora ketang sethithik (walau hanya sedikit) kebaikan itu bisa lumuntur (menurun) melalui tauladan yang diberikan kepada anak cucu.
Sing (yang) sapa (siapaun) temen (bersungguh-sungguh) tinemu (akan menemukan). Siapa bersungguh-sungguh akan mendapatkan.
Barang siapa yang bersungguh-sungguh berusaha menggali tauladan tersebut, niscaya akan menemukan kebaikan bagi dirinya sendiri. Sebenarnya kita kaum mutaakhirin sangat beruntung mendapat banyak contoh dari para generasi yang terdahulu, oleh karena itu tugas kita hanya bersungguh-sungguh menggali saripati kebaikan moral dari perbuatan yang telah dilakukan oleh orang-orang terdahulu tersebut.
Nugraha (anugrah) geming (pakaian) keprabon (raja, orang pilihan). Anugrah untuk orang pilihan.
Bagi yang berusaha sungguh-sungguh akan menemukan nugraha (anugrah). Nugraha adalah pemberian Allah yang diberikan kepada manusia karena telah berhasil meningkatkan kemampuan dirinya. Jadi bukanlah pemberian yang asal-asalan, tetapi dengan memperhatikan usaha dan capaian si penerima.
Geming dari kata ageming yang artinya pakaian. Dalam bahasa Jawa memang ada kebiasaan menghilangkan satu dua suku kata dari kata yang sudah umum dipakai sehari-hari. Hal ini karena bentuk serat Wedatama ini adalah tembang Macapat yang terikat dengan guru wilangan, banyak suku kata dalam satu gatra (baris). Sehingga demi memenuhi metrum tembang, kadang satu suku kata harus dihilangkan tanpa mengurangi maknanya.
Kata ageming di sini pernah keluar di bait pertama dalam bentuk kalimat agama ageming aji. Kali ini muncul lagi dalam format geming keprabon, yang kurang lebih artinya sama yakni kaum pilihan. Kata prabu berarti raja, tetapi kadang dipakai untuk merujuk sesuatu yang lain yang berkaitan dengan pangkat atau maqom tertentu. Keprabon juga sering dipakai untuk menyebut peninggalan leluhur yang berharga, misal pada kata: anak lanang sing bakal nglungsur keprabon (anak lelaki yang mewarisi posisi orang tuanya).
Dari uraian di atas dapat dimaknai arti gatra terakhir sebagai anugrah yang biasa diberikan kepada orang-orang pilihan.
Kajian Wedatama (58): Patitis Tetesing Kawruh
Bait ke-58, Pupuh Gambuh, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV:
Samengko sembah kalbu.
Yen lumintu uga dadi laku.
Laku agung kang kagungan Narapati. Patitis tetesing kawruh.
Meruhi marang kang momong.
Terjemahan dalam bahasa Indonesia:
Sekarang tentang sembah kalbu.
Jika terus-menerus dilakukan juga menjadi laku. Laku besar yang dimiliki oleh raja.
Tepat tumbuhnya ilmu ini.
Dapat mengetahui yang merawat.
Kajian per kata:
Samengko (sekarang) sembah (sembah, ibadah) kalbu (kalbu, hati). Sekarang tentang sembah kalbu.
Sembah kalbu atau menurut bait ke-48 disebut sebagai sembah cipta adalah ibadah yang tidak memakai tubuh sebagai pelaksana. Ini berarti sembah kalbu ini tidak berdiri sendiri sebagai bentuk ibadah, tetapi selalu terkait dengan amalan lahiriah. Bisa saja sembah kalbu ini dilakukan bersamaan dengan sembah raga, atau pun dengan praktik ibadah yang lain.
Titik tekan pada sembah kalbu ini adalah hati (kalbu) atau pikiran (cipta). Oleh karena penggubah Wedatama ini menggunakan dua istilah untuk menyebut sembah ini, maka sebaiknya kita definisikan dahulu maknanya agar tidak rancu dengan sembah-sembah yang lain.
Yang pertama apakah ada kaitan antara cipta dan kalbu? Cipta adalah gagasan yang ada dalam angan-angan, sedangkan kalbu adalah sumber dari angan-angan itu. Kalbu berasal dari bahasa Arab qalb, yang artinya berbolak-balik. Maka ada doa yang berbunyi: tsabit qalbi ‘ala diinika, tetapkan hatiku dalam agamamu. Doa ini meminta agar hati kita, qalb kita tidak ragu-ragu lagi menjalankan perintah agama.
Penjelasan singkat di atas kiranya dapat menghilangkan kerancuan dari dua istilah yang dipakai, bahwa sembah cipta atau sembah kalbu (selanjutnya istilah ini yang akan dipakai), merupakan sembah yang menggunakan peranan hati sebagai subyek penyembahan. Hati yang menyembah Tuhan adalah hati yang senantiasa mengagungkan wujud Allah Ta’ala. Maknanya hati harus selalu tunduk terhadap perintah dan larangannya. Apakah hati bisa ingkar terhadap perintah Allah, tentu saja bisa apabila masih berpikir tentang selainNya, walau hanya berupa angan-angan saja.
Yen (kalau) lumintu (terus-menerus) uga (juga) dadi (menjadi) laku (laku, amalan). Jika terus-menerus dilakukan juga menjadi laku.
Sembah kalbu ini apabila dilakukan secara terus-menerus, kontinyu, ajeg, akan menjadi laku. Yang disebut laku adalah amalan yang membuat pelakunya meningkatkan kemampuan diri, meninggikan derajat atau mendekatkan pada tujuan.
Namun laku dalam sembah kalbu tidaklah melibatkan anggota tubuh, melainkan lebih mengedepankan peranan kalbu, hati manusia. Sembah kalbu dengan demikian adalah sembah yang wilayah cakupannya ada di dalam dada manusia, tak terlihat oleh orang lain. Walau hanya dirinya sendiri yang tahu sembah kalbu tetaplah memerlukan kehadiran seorang guru yang harus mengawasi polah batin kita agar tidak sesat dalam membaca rambu-rambu ciptaan Allah SWT.
Laku (laku, amalan) agung (besar, agung) kang (yang) kagungan (dimiliki) Narapati (raja). Laku besar yang dimiliki oleh raja.
Sembah kalbu ini bukan saja merupakan laku bagi orang kebanyakan, tetapi juga merupakan laku yang sering dijalani oleh para raja. Sebuah laku yang juga dilakukan oleh orang-orang pilihan. Laku yang akan mengantarkan orang lebih cepat kepada tujuannya, layaknya seorang pejalan yang berjalan di jalan raya.
Patitis (tepat) tetesing (menetesnya, menurunnya) kawruh (ilmu, pengetahuan). Tepat menetesnya pengetahuan.
Sembah kalbu adalah laku yang akan membuat pelakunya bertambah pengetahuan tentang ketuhanan. Lebih tepat (patitis) dalam menerima tetesan (tetesing) ngelmu rasa sejati. Mengenai ngelmu rasa ini akan dibahas lebih lanjut ketika sampai pada bab sembah rasa.
Meruhi (mengetahui) marang (kepada) kang (yang) momong (merawat).
Ilmu yang diperoleh karena laku sembah kalbu akan membuat sesorang awas dalam mengenali kebenaran sehingga dia tak salah dalam mengenali siapa yang merawat alam semesta ini.
Demikian kajian bait ke-58, bait-bait berikutnya akan semakin menjelaskan tentang amalan sembah kalbu ini. Jangan sampai ketinggalan!
Kajian Wedatama (59): Tata Titi Ngati-ati
Pada atau bait ke-59, Pupuh Gambuh, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV:
Sucining tanpa banyu.
Mung nyunyuda mring hardaning kalbu. Pambukaning tata titi ngati-ati.
Atetep telaten atul.
Tuladan marang waspaos.
Terjemahan dalam bahasa Indonesia:
Bersihnya tanpa memakai air.
Hanya dengan mengurangi hasrat di hati.
Mulainya dengan sikap teratur, cermat dan berhati-hati. Serta tetap tidak bosan dan menjadi watak.
Tauladan untuk yang waspada.
Kajian per kata:
Sucining (bersihnya) tanpa (tanpa memakai) banyu (air). Bersihnya tanpa memakai air.
Lazimnya manusia bersuci untuk menghilangkan najis dan hadats. Alat bersucinya adalah dengan air. Tata caranya adalah berwudlu atau mandi. Yang demikian itu untuk mensucikan badan. Namun untuk mensucikan kalbu pirantinya tidak memakai air, karena kalbu adalah organ halus non materi yang tidak terikat hukum-hukum material. Maka caranya adalah berikut ini.
Mung (hanya) nyunyuda (mengurangi) mring (terhadap) hardaning (keinginan) kalbu (hati). Hanya dengan mengurangi hasrat di hati.
Harda adalah hasrat, yakni keinginan yang sudah memuncak, sangat-sangat ingin, tak bisa ditunda lagi. Kata harda sering dipakai dalam ungkapan hardaning kanepson, nafsu yang sudah memuncak untuk segera terlampiaskan. Maka kata hardaning kalbu lebih tepat jika diterjemahkan dengan hasrat di hati, yang berarti keinginan hati yang sangat, kalau dalam bahasa Jawa padanan kata yang tepat adalah kemecer, sangat ingin. Nah yang demikian ini harus dikurangi karena kadang keinginan yang sangat hanya timbul dari nafsu semata-mata, bukan karena kebutuhan.
Misalnya seseorang sudah mempunyai sepeda motor yang cukup untuk alat transportasi, tetapi karena di jalan sering melihat sepeda motor yang bagus, dengan warna-warni atraktif, bisa melaju kenceng, tak nyerendhet mesinnya, kok jadi kepengin juga. Hal-hal seperti inilah yang harus dihindarkan bagi yang ingin berhasil dalam sembah kalbu.
Pambukaning (mulainya) tata (teratur) titi (cermat) ngati-ati (berhati-hati). Mulainya dengan sikap teratur, cermat dan berhati-hati.
Memulai laku sembah kalbu ini diawali dengan sikap yang teratur, cermat dan berhati-hati. Teratur (tata) melaksanakan sembah kalbu, yakni dengan mengurangi hasrat di hati secara terus-menerus. Hidup prasaja dengan mengambil apa yang diperlukan saja, membuang sikap berlebihan dalam kehidupan sehari-hari.
Cermat (titi) dalam mengenali hasrat di hati. Mampu memisahkan antara kebutuhan dan keinginan. Jikalaupun butuh tetap harus dijaga agar tidak berlebihan dalam berhajat, sekedar memenuhi kebutuhan saja.
Berhati-hati dalam melaksanakan itu semua. Jangan sampai hawa nafsu menyeruak dan tampil dalam baju keshalihan. Berpura-pura menjadi teman dengan sejuta argumen pembenaran. Dalam hal ini yang patut selalu dicurigai adalah diri sendiri karena datangnya godaan hanya dari dalam dada.
Atetep (tetap, kontinyu) telaten (tidak bosan) atul (menjadi kebiasaan, terbiasa). Serta tetap tidak bosan dan menjadi kebiasaan.
Berketetapan untuk melakukan hal-hal di atas dengan tidak bosan (telaten). Selalu diulang- ulang setiap waktu sehingga menjadi kebiasaan. Atul berarti sudah terbiasa, sudah mengenal sifat-caranya, sehingga tak sulit lagi untuk melaksanakannya.
Menurut ilmu akhlak suatu pekerjaan yang dilakukan berulang-ulang dalam jangka waktu tertentu akan membuat pelakunya semakin ringan dalam melakukannya. Semakin lama suatu pekerjaan dilakukan dan semakin sering maka akan mendarah daging menjadi kebiasaan yang justru sulit ditinggalkan. Jikalau sudah demikian maka akan menjadi watak seseorang tersebut.
Dengan demikian kita dapat merubah watak seseorang dengan membiasakan melakukan pekerjaan baik secara terus-menerus sampai menjadi kebiasaan sehari-hari. Inilah yang harus kita lakukan, membiasakan hal-hal baik di atas (tata, titi, ngati-ati) sehingga menjadi watak.
Tuladan (tauladan) marang (kepada yang) waspaos (waspada). Tauladan untuk yang waspada.
Yang demikian itu adalah tauladan kepada siapa saja yang waspada. Yang benar-benar mantap hendak melakukan sembah kalbu.
Cukup sekian kajian bait ke-59, bait berikutnya masih akan membahas kelanjutan sembah kalbu. Jangan sampai ketinggalan!
Kajian Wredatama 51-55
Kajian Wedatama (51): Guru Angger Nyalemong
Bait ke-51, Pupuh Gambuh, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV:
Thithik kaya santri Dul,
Gajeg kaya santri brai kidul, saurute Pacitan pinggir pasisir.
Ewon wong kang padha nggugu.
Anggere padha nyalemong.
Terjemahan dalam Bahasa Indonesia:
Sedikit ada yang seperti santri Dul,
Kalau tak salah seperti santri dari daerah selatan, Di sepanjang pinggir pantai Pacitan,
Ribuan orang yang menuruti.
Aturannya yang asal diucapkan.
Kajian per kata:
Makna bait ini merupakan sambungan dari bait sebelumnya Sarengate Elok-Elok, bahwa karena masih pemula dan lagi semangat-semangatnya, banyak orang yang memperlihatkan tatacara aneh dalam ibadah. Mungkin maksud mereka untuk mencari ilmu sejati yang memang harus dilakukan dengan laku tarekat, namun karena belum mengerti dan tergesa- gesa justru yang muncul adalah tatacara yang mengherankan, ajaib, tak masuk akal. Bait berikut memberi satu contoh di jaman itu.
Thithik (thik-thik, sedikit-sedikit) kaya (seperti) santri (santri) Dul (Dul, nama orang). Sedikit ada yang seperti santri Dul.
Thik-thik, sedikit-sedikit, ada yang seperti santri Dul. Sangat mungkin Dul ini hanya sebutan saja, seperti kata dalam bahasa Arab fulan, merujuk ke sembarang orang yang bisa siapa saja. Kata santri yang disematkan pada sosok Dul menunjukkan bahwa dia baru belajar agama, jadi soal ilmu batin (wulang kang sinerung) belumlah menguasai secara sempurna. Namun dia sudah berani memperlihatkan pelajaran yang tersembunyi seperti disinggung pada bait sebelumnya.
Gajeg (kalau tak salah) kaya (seperti) santri (santri) brai (daerah) kidul (selatan), saurute (di sepanjang) Pacitan (Pacitan) pinggir (pinggir) pasisir (pantai). Kalau tak salah seperti santri dari daerah selatan, di sepanjang pinggir pantai Pacitan.
Gatra ini menunjukkan bahwa si Dul sudah pulang kampung dan membuka pelajaran ilmu batin di wilayah asalnya, yakni di sepanjang pinggir pantai wilayah Pacitan.
Ewon (ribuan) wong (orang) kang (yang) padha (yang) nggugu (menuruti). Ribuan orang yang menuruti.
Tampaknya santri Dul ini cukup populer di wilayah tersebut, banyak orang menuruti ajarannya. Pengikutnya banyak dari kalangan orang awam, ini bisa dilihat dari kondisi jaman ketika itu (saat serat Wedatama ini digubah) daerah Pacitan pinggir pantai adalah wilayah pelosok yang jauh dari kotaraja. Daerah itu kurang produktif dan terpinggirkan. Sangat masuk akal kalau santri Dul mendapat banyak pengikut di situ karena tingkat pemahaman masyarakat setempat masih rendah.
Anggere (aturan) padha (yang) nyalemong (asal ucap). Aturannya yang asal diucapkan
Nyalemong berarti nyeletuk, asal ucap, tidak berdasar. Itulah tatacara yang diajarkan si Dul tadi. Karena memang belajarnya belum tuntas, tetapi sudah mengajarkan kepada orang lain maka yang terjadi adalah praktek tatacara ibadah yang asal-asalan, tidak sesuai dengan ajaran para ulama yang telah mengerti benar.
Kajian Wedatama (52): Akale Kaliru Enggon
Pada atau bait ke-52, Pupuh Gambuh, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV:
Kasusu arsa weruh.
Cahyaning Hyang kinira yen karuh.
Ngarep arep urub arsa den kurebi.
Tan wruh kang mangkono iku.
Akale kaliru enggon.
Terjemahan dalam bahasa Indonesia:
Tergesa-gesa ingin segera tahu.
Mengira kenal dengan cahaya Tuhan.
Mengharap cahaya kan ditelungkupi.
Tidak tahu yang begitu itu.
Pandangannya salah tempat.
Kajian per kata:
Kasusu (tergesa-gesa, tak sabar) arsa (hendak, ingin) weruh (melihat, mengetahui). Tergesa- gesa ingin segera tahu.
Bait ini masih melanjutkan penjelasan tentang keadaan santri Dul yang pada bait ke-51 mengajarkan ilmu yang belum dikuasai benar, sehingga ajarannya asal-asalan, angger nyalemong. Yang demikian itu karena dia tergesa-gesa dalam mempraktikkan ilmu. Dia mengira bahwa belajar tentang ilmu batin itu mudah, sehingga baru belajar sedikit saja (belum tuntas) sudah merasa mengerti tentang ketuhanan. Sudah merasa bahwa apa yang dilakukan telah mencapai tujuan akhir dari perjalanan spiritual, padahal baru memulai. Masih ada banyak tahapan yang perlu dilatih dengan usaha yang sungguh-sungguh.
Kalau dalam bahasa yang sederhana, santri Dul ini mengira bahwa apa yang dilakukan sudah akan mengantar ke surga, padahal dia baru merasakan sedikit manisnya dari mengamalkan agama. Orang yang demikian ini juga banyak ditemui di setiap zaman, termasuk di zaman ini (sekarang).
Cahyaning (cahaya) Hyang (Tuhan) kinira (dikira) yen (kalau) karuh (kaeruh, dikenali). Mengira kenal dengan cahaya Tuhan.
Baru mengetahui ilmu yang sedikit, dan juga baru mengamalkan yang sedikit sudah tak sabar hendak mengetahui Cahaya Tuhan. Mengira sudah sampai di tujuan, padahal jalannya pun baru saja ditapaki. Masih banyak stasiun pemberhentian yang mesti disinggahi dalam perjalanan menuju Tuhan itu.
Dia baru saja melihat secercah cahaya penerang jalan, tetapi sudah mengira itu sebagai Cahaya Suci Yang Maha Agung. Fenomena inilah yang disebut terhijab cahaya atau silau. Mendekat ke sumber cahaya tetapi justru pandangannya kabur karena terlalu banyak cahaya masuk ke mata. Ini bisa berbahaya karena mengira diri sudah sampai, padahal baru mulai jalan.
Sesungguhnya bagi seorang pejalan (salik), tujuan akhir tempat segala kenikmatan spiritual berada, akan sukar dicapai. Akan panjang jalannya, banyak rintangannya dan takkan selalu mudah dijalani. Maka hendaklah setiap salik menguji diri, apakah sudah melalui rintangan yang berat, jalan terjal dan berliku? Karena kalau belum mengalami itu semua, dipastikan bahwa kenikmatan apapun yang diraih adalah capaian semu. Karena kesempurnaan sejati takkan mudah didapat begitu saja.
Ngarep (mengharap) arep (harap) urub (cahaya) arsa (hendak) den (di) kurebi (telungkupi, dipeluk). Mengharap-harap cahaya hendak dipeluk.
Dapat dimaklumi apabila seseorang yang telah bertekad untuk menempuh perjalanan pastilah sangat merindukan sampainya pada tujuan, untuk bertemu Dzat Agung yang kepadanya kita semua menuju. Kerinduan ini memuncak laksana seorang kekasih yang merindukan pujaan hatinya, selalu terpikirkan siang dan malam. Ketika di jalan melihat sosok yang mirip kekasihnya dikiranya ialah orangnya, dan hendak dipeluklah segera.
Orang-orang yang mencari Tuhan (salik) dengan menempuh perjalanan (suluk) jika terlalu dikuasai hasrat bisa jadi akan mengalami hal yang seperti itu. Ketika melihat tanda-tanda kekuasaanNya maka dia mengira sudah sampai padaNya, dan bersegera memeluknya (den kurepi, ditelungkupi). Yang demikian itu karena belum berpengalaman dan tak sabaran, sehingga hilanglah kewaspadaan.
Tan (tak) wruh (tahu, melihat) kang (yang) mangkono (demikian) iku (itu). Tidak tahu yang begitu itu (karena belum mengenali Tuhan Yang Sejati).
Karena hasrat kerinduan yang membara untuk segera bertemu Tuhan itulah kadang menjadi salah mengenaliNya. Salah dalam membaca tanda-tanda (ayat-ayat) Nya. Salah dalam menafsirkan kehendakNya. Salah dalam bertindak mencari keridhaanNya.
Akale (pandangannya, pemikirannya)kaliru (salah) enggon (tempat). Pandangannya salah tempat.
Karena salah mengenali maka salahlah tindakannya. Sehingga memunculkan perilaku yang tak sewajarnya, aneh-aneh dan kadang mengherankan yang melihat. Ini sering terjadi pada para pencari jalan yang karena takjub dan terpesona dengan kebesaran Allah SWT menjadi meracau, ekstatik, mabuk kepayang kepada keagungan Tuhan, dan yang terparah kadang mengeluarkan pernyataan-pernyataan yang diluar nalar. Salah satu contoh yang terkenal adalah sufi besar Al Hallaj yang sering mengeluarkan pernyataan kontroversial itu. Yang seperti itu juga banyak ditemukan di Jawa dalam kadar yang lebih kecil. Dalam serat Wedatama ini dicontohkan seperti santri Dul tadi.
Kajian Wedatama (53): Tinata tan Gawe Bingung
Pada atau bait ke-53, Pupuh Gambuh, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV:
Yen ta jamna rumuhun,
Tata titi tumrah tumaruntun.
Bangsa srengat tan winor lan laku batin.
Dadi nora gawe bingung,
kang padha nembah Hyang Manon
.
Terjemahan dalam bahasa Indonesia:
Kalau orang di jaman dahulu,
Diatur sebaik-baiknya dari awal hingga akhir.
Bagian syariat tidak dicampur dengan ulah batin.
Sehingga tidak membingungkan,
Bagi yang menyembah Tuhan Yang Maha Melihat.
Kajian per kata:
Yen (kalau) ta jamna (orang) rumuhun (jaman dahulu), tata (diatur) titi (secara baik, cermat) tumrah (segalanya) tumaruntun (berkesibambungan). Kalau orang di jaman dahulu, diatur sebaik-baiknya dari awal hingga akhir.
Di jaman dahulu tidak dikenal tatacara peribadatan seperti sekarang ini, yakni mencampurkan antara amalan lahir dan amalan batin. Gatra ini masih menyoroti ulah santri Dul yang karena kedangkalan ilmunya mencampurkan amalan lahir dan amalan batin bagi orang awam. Karena pada jaman dahulu ketika para wali masih menjadi guru di tanah Jawa amalan batin hanya dikhususkan bagi mereka yang telah siap menjalani tirakat.
Tanpa persiapan mental dan kesediaan untuk mengikuti petunjuk guru amalan batin justru merusak amalan lahir. Bahkan bisa menjadikan orang awam antipati terhadap ajaran agama, disebabkan karena diajarkan secara aneh dan tidak umum. Contohnya adalah ketika Brandal Lokajaya bertobat dan menjadi murid Sunan Bonang. Oleh Sunan Bonang Lokajaya digembleng dengan laku tirakat yang sangat berat.
Hanya karena tekad yang kuat untuk menebus jalan salah yang telah ia tempuhlah yang membuat Lokajaya mampu menjalani bimbingan Sunan Bonang. Maka hasilnya Lokajaya menjadi seorang yang sangat mumpuni dalam bidang ilmu batin sekaligus sangat paham budaya Jawa, yakni Sunan Kalijaga. Tatacara yang demikian jelas tak dapat dipakai untuk sembarang orang. Maka diperlukan kearifan bagi seorang guru bagaimana ia harus membagi ilmu kepada para muridnya. Inilah yang tidak diperhatikan guru-guru amatir macam santri Dul tadi.
Aamalan lahir diberlakukan untuk umum, karena amalan lahir sifatnya wajib bagi siapapun. Di situ ada tingkat kewajiban dari yang wajib sampai yang dilarang. Semua itu dipelajari dalam ilmu fikih.
Untuk ilmu batin hendaknya disesuaikan dengan si pencari ilmu. Kesanggupan apa yang telah ia penuhi sehingga mampu menerima pelajaran lebih lanjut. Tentu saja bimbingan guru sangat diperlukan agar tidak salah arah. Mereka harus mengikuti petunjuk sang guru dari awal sampai akhir dengan pengawasan yang ketat.
Bangsa (bagian, jenis) srengat (syari’at) tan (tidak) winor (dicampur) lan (dengan) laku (metode, laku) batin (batin). Bagian syariat tidak dicampur dengan ulah batin.
Dengan pengaturan yang demikian tidak akan terjadi kesalahan. Mereka yang baru bisa mengamalkan syariat secara lahir atau sembah raga tetap pada jalurnya sendiri, tidak teganggu dengan berbagai laku aneh. Sebaliknya bagi yang telah mampu mengamalkan ilmu batin dengan bimbingan guru juga bisa berkonsentrasi pada laku yang harus dijalani. Dalam amalan-amalan lahir sehari-hari keduanya tetap melakukan dalam bentuk yang sama, secara bersama-sama. Karena dengan adanya amalan batin tidak menghapus kewajiban amalan lahir, justru semakin memantapkannya.
Dadi (sehingga) nora (tidak) gawe (membuat) bingung (bingung). Sehingga tidak membingungkan.
Pemisahan dalam memberikan bimbingan tersebut membuat para murid dan masyarakat tidak kebingungan. Hal itu karena amalan-amalan agama dikerjakan sesuai dengan kemampuan dan kesiapan masing-masing.
Kang (bagi) padha (yang) nembah (menyembah, ibadah) Hyang (Tuhan) Manon (Yang Maha Melihat). Bagi yang menyembah Tuhan Yang Maha Melihat.
Dengan demikian bagi para penyembah Tuhan tidak akan timbul kerancuan. Bagi yang mencukupkan diri denan amalan lahir, yakni sembah raga dipersilakan. Namun bagi yang ingin memantapkan dengan amalan batin dapat minta petunjuk kepada guru agar dibimbing sesuai sifat, kemampuan dan arah yang ingin dicapai. Dengan demikian harmoni dalam masyarakat akan terjamin.
Kajian Wedatama (54): Kudu Ajeg lan Taberi
Pada atau bait ke-54, Pupuh Gambuh, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV:
Lire sarengat iku,
kena uga ingaranan laku, Dhingin ajeg kapindhone ataberi, Pakolehe putraningsung, Nyenyeger badan mrih kaot.
Terjemahan dalam bahasa Indonesia:
Artinya syair’at itu,
dapat juga disebut laku.
Pertama dilakukan dengan tetap (kontinyu), kedua harus tekun, Hasilnya anakku,
menyegarkan badan agar lebih baik.
Kajian per kata:
Lire (artinya) sarengat (syari’at) iku (itu), kena (dapat) uga (juga) ingaranan (disebut) laku (laku). Artinya syair’at itu, dapat juga disebut laku.
Sebenarnya syariat itu, yakni hukum-hulum dan perkara yang mengatur amal-amal badaniyah, juga merupakan laku. Karena setiap laku pasti membutuhkan tubuh sebagai pelaksana, maka syariat juga merupakan laku. Artinya seorang yang melaksanakan syari’at pun juga sudah mendapat peningkatan kemampuan diri. Banyak manfaat syariat yang langsung meningkatkan aspek kehidupan seseorang.
Sebagai contoh orang yang rajin shalat shalat akan terbiasa bangun pagi untuk shalat subuh. Ini tentu baik bagi badan dibanding orang yang selalu bangun siang. Ketika waktu shalat dhuhur tiba dia berhenti bekerja untuk shalat sambil istirahat, dengan demikian tubuh tidak terforsir. Ketika sore hari mau tak mau harus segera berhenti kembali sebelum kehilangan waktu ashar. Seterusnya sampai malam hari adanya waktu shalat membuat ritme hidup seseorang teratur. Sehingga badan pun tidak melakukan kerja yang berlebihan. Efek jangka panjangnya badan selalu bugar.
Apakah hanya itu manfaat shalat? Tentu tidak, tetapi di sini kita hanya membatasi dalam ranah sembah raga, yakni ibadah ditinjau dari gerak tubuh semata. Adapun manfaat lain akan diuraikan dalam sembah batin (ada 3 tingkatan) yang akan diuraikan nanti. Jangan mengira bahwa empat sembah itu adalah kegiatan yang terpisah. Sama sekali tidak, melainkan tingkatan penghayatan pada setiap tingkatan wujud kita. Untuk lebih jelasnya kita akan kaji lebih jauh dalam sembah cipta, dst.
Satu contoh lagi adalah soal makanan. Orang yang melaksanakan syari’at pasti tidak akan makan sembarang makanan. Dipastikan kehalalannya terlebih dulu. Jadi pastilah minuman khamar, narkoba dan sejenisnya juga takkan disentuh. Seorang yang melaksanakan syari’at dalam hal makanan setidaknya sudah terhindar dari mengkonsumsi zat yang berbahaya. Manfaatnya jelas badan lebih sehat. Selain itu, juga ada kriteria thoyyiban, makan yang baik- baik saja. Ttidak semua yang halal lantas dimakan begitu saja, jika ada yang lebih baik pilihlah yang lebih baik itu.
Ketentuan syari’at secara keseluruhan memang membuat tubuh manusia lebih sehat, dalam aspek muamalah juga menjamin tegaknya keadilan. Individu yang melaksanakan syari’at akan bermartabat, masyarakat yang melaksanakan syari’at akan makmur berkeadilan.
Dhingin (pertama) ajeg (tetap, kontinyu) kapindhone (kedua kali) ataberi (tekun). Pertama dilakukan dengan tetap (kontinyu), kedua harus tekun.
Dalam melaksanakan syari’at yang pertama harus kontinye, ajeg. Tidak boleh lalai dan alpa karena memang sudah menjadi kewajiban kita sejak akil baligh sampai akhir hayat. Yang kedua harus tekun (taberi), yakni dilakukan dengan sungguh-sungguh. Tidak boleh asal- asalan hanya agar kewajibannya gugur. Juga tidak boleh dilakukan sekehendak hati karena sudah ada syarat dan rukun yang mesti dipenuhi.
Pakolehe (hasilnya) putraningsung (anakku), nyeyeger (menyegarkan) badan (badan) mrih (agar) kaot (sehat, bugar). Hasilnya anakku, menyegarkan badan agar bugar.
Hasil dari melaksanakan syari’at pada tataran fisik adalah tubuh yang bugar. Ini karena syariat dalam agama Islam tidak saja mengatur soal moralitas, tetapi juga mengatur semua hal, semua tataran hidup manusia, dari fisik sampai batin. Namun seperti kita sampaikan di atas bahwa bahasan kita kali ini hanyalah soal sembah raga, yakni ibadahnya tubuh saja sehingga soal lain tidak dikaji di sini.
Seperti yang disebutkan pada bait pertama, serat Wedatama ini memang ditujukan untuk anak muda. Maka sebagian besar nasehatnya juga diperuntukkan bagi mereka, agar kelak tidak salah langkah dalam mengambil tindakan. Senantiasa berpedoman pada unggah-ungguh dan pekerti luhur warisan nenek moyang di tanah Jawa.
Kajian Wedatama (55): Angruwat Ruweding Batos
Bait ke-55, Pupuh Gambuh, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV:
Wong seger badanipun,
otot daging kulit balung sumsum.
Tumrah ing rah memarah antenging ati, Antenging ati nunungku,
Angruwat ruweding batos.
Terjemahan dalam bahasa Indonesia:
Orang yang sehat badannya,
otot, daging kulit, tulang dan sungsum.
Mempengaruhi darah menjadikan tenangnya hati, Tenangnya hati menjadikan,
hilangnya ruwet di pikiran,
.
Kajian per kata:
Wong (orang) seger (segar, sehat) badanipun (badannya), otot daging kulit balung sumsum. Orang yang sehat badannya, otot, daging kulit, tulang dan sungsum.
Bait ini masih kelanjutan dari bait sebelumnya tentang amalan lahir atau ibadahnya tubuh atau sembah raga. Bahwa manfaat sembah raga adalah badannya sehat, bugar dan segar. Orang yang sehat badannya tentu juga sehat organ-organnya. Otot, daging, kulit, tulang dan sungsum semuanya dalam keadaan sehat. Hal ini bisa terjadi karena orang yang mengamalkan syari’at akan hidup secara teratur, seimbang dalam makan, proporsional dalam bekerja, cukup istirahat dan tidak berlebihan dalam menikmati kesenangan duniwi. Karena semua ada batasan-batasan kewajiban dan kepatutan.
Tumrah (menurun, mempengaruhi) ing (di) rah (darah) memarah (menjadikan) antenging (tenangnya) ati (hati). Mempengaruhi darah menjadikan tenangnya hati.
Tubuh yang sehat, istirahat cukup, tidak berlebihan dalam setiap urusan. Tidak telalu tertekan kepanikan karena stress tapi tetap aktif. Tidak malas-malasan, tapi terukur dalam bekerja. Itulah ritme hidup terbaik yang akan membuat darah lancar mengalir. Pasokan nutrisi ke seluruh organ tubuh terjamin. Kondisi ini akan menjadikan hati selalu tenang, tidak bergejolak oleh aktivitas yang mendadak, tidak berdebar-debar karena tak ada kekhawatiran.
Antenging (tenangnya) ati (hati) nunungku (membuat tungku, arti kiasan menjadikan), angruwat (menghilangkan) ruweding (kisruhnya) batos (batin, pikiran). Tenangnya hati menjadikan, hilangnya ruwet di pikiran.
Tenangnya hati akan membuat seseorang mampu berpikir jernih, mampu mencari solusi dari setiap problem, mampu membuat karya yang baru, mampu menyusun rencana dengan matang. Segala masalah yang ruwet (kisruh) sekalipun akan mampu dicarikan jalan keluar. Segala tantangan hidup yang berat mampu diatasi dengan pikiran yang jernih.
Inilah efek langsung dari teraturnya gerakan tubuh. Seseorang yang terbiasa mendisiplinkan tubuhnya dengan sembah raga pasti akan mendapat manfaat yang banyak sekali. Itu baru ditinjau dari sisi fisik semata-mata, sesuai kajian kita tentang sembah raga dalam beberapa bait yang lalu.
Bait ini mengakhiri bahasan tentang sembah raga. Bait berikutnya akan bercerita tentang mengapa penggubah Wedatama ini perlu menyampaikan pesan-pesan tersebut di atas. Nantikan kajian berikutnya pada bait ke-56.
Kajian Wredatama 46-49
Kajian Wedatama (46): Lumuh Ingaran Luput
Bait ke-46, Pupuh Pucung, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV:
Sakeh luput, ing angga tansah linimput, Linimpet ing sabda,
Narka tan ana udani,
Lumuh ala ardane ginawa gada.
Terjemahan dalam Bahasa Indonesia:
Segala kesalahan, dirinya selalu ditutupi, Disembunyikan dalam alasan,
Mengira tak ada yang tahu,
Tak mau disebut jelek, angkaranya dipakai memukul.
Kajian per kata:
Sakeh (segala) luput (kesalahan) ing (di) angga (badan, diri) tansah (selalu) linimput (ditutupi). Segala kesalahan dirinya selalu ditutupi.
Ini adalah watak orang nylekunthis (pengecut), tidak ksatria. Selalu menutupi kesalahan diri sendiri. Tidak mau berterus terang mengakui kesalahannya. Selalu menutup-nutupi agar tak terlihat orang lain.
Linimpet (disembunyikan) ing (dalam) sabda (perkataan, alasan). Disembunyikan dalam alasan
Setiap tindakan salah yang dilakukannya selalu dicari-carikan pembenaran. Kesalahannya disembunyikan dalam berbagai alasan. Dengan perkataan yang mempesona, berusaha menghindar dari tuduhan. Seolah-olah suatu kesalahan adalah hal sangat tabu sehingga disimpan rapat-rapat.
Narka (mengira) tan (tak) ana (ada) udani (telanjang, maksudnya tahu yang sebenarnya). Mengira takkan ada yang tahu.
Dia mengira bahwa dengan menyembunyikan kesalahan takkan ada yang tahu. Dia tak sadar bahwa sebenarnya orang lain pun pasti curiga dengan cara-caranya mencari alasan yang dibuat-buat itu.
Lumuh (tak mau) ala (jelek) ardane (angkara) ginawa (dipakai) gada (senjata gada, memukul). Tak mau disebut jelek, angkaranya dipakai memukul.
Tak mau kelihatan kurang, tak mau disebut jelek, jika ada yang menyebutnya seperti itu tindak angkaranya keluar untuk membungkan dengan kekerasan.
Bait ini menggambarkan watak orang berjiwa kerdil, berpikiran sempit. Tandanya adalah selalu menyembunyikan kesalahan diri, tak mau dikoreksi, harus selalu tampil benar. Orang ini mengira dengan memberi alasan untuk menutupi kesalahan, orang lain tak mampu melihat kelemahannya. Padahal alasan yang dibuat-buat akan tampak terang benderang kebohongannya.
Dan jikalau ada yang menunjuk kelemahan alasannya dia tidak mau mengalah. Ogah terlihat jelek, tak mau terlihat salah. Senjata terakhirnya jikalau semua alasannya dipatahkan adalah memukul. Penthuuuung.....!!!
Kajian Wedatama (47): Cupet Kepepet Pamrih
Bait ke-47, Pupuh Pucung, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV:
Durung punjul ing kawruh kaselak jujul. Keseselan hawa.
Cupet kepepetan pamrih.
Tangeh nedya anggambuh mring Hyang wisesa.
Terjemahan dalam Bahasa Indonesia:
Belum pandai dalam ilmu tetapi tergesa-gesa ingin dipuji pandai, Disisipi hawa nafsu,
Tak cukup karena terdesak keinginan,
Mustahil dapat mendekati kepada Yang Maha Kuasa.
Kajian per kata:
Durung ( belum) punjul (lebih dari yang lain) ing (dalam) kawruh (pengetahuan) kaselak (tergesa) jujul (kelebihan, artinya mendapat pujian). Belum pandai dalam ilmu tetapi tergesa- gesa ingin dipuji pandai.
Kata punjul merujuk pada keadaan lebih dari sekitarnya atau lebih dari seharusnya. Ada ungkapan bahasa jawa yang terkenal, punjul ing apapak, bermakna lebih dari sesamanya. Dalam hal pengetahuan (kawruh) jelas merujuk pada makna lebih pandai dari yang lain.
Sedangkan kata jujul dipakai untuk menggambarkan suatu kelebihan dari semestinya. Misalnya sebatang pensil yang tidak bisa masuk pada wadah yang tersedia karena terlalu panjang disebut jujul. Kata ini juga sering dipakai untuk menyebut uang kembalian dari suatu pembayaran. Misal jika membeli roti seharga Rp. 4000 dengan uang Rp. 5000, maka ada jujul Rp. 1.000.
Jadi gatra ini menyoroti si anak muda yang baru belajar ilmu. Biasanya mereka walau belum menguasai pengetahuan secara tuntas tetapi merasa lebih pandai (punjul) dari orang sekitarnya. Sikap mereka berlebihan agar terkesan pandai dan mendapat pujian, oleh jujul.
Keseselan (disisipi) hawa (hawa nafsu). Disisipi hawa nafsu.
Sikap yang berlebihan dalam pamer pengetahuan (yang sebenarnya hanya sejengkal) tadi sangat rawan disusupi oleh hawa nafsu. Keinginan tersembunyi muncul mendompleng perilaku terburu-buru. Ingin dipuji, ingin terkenal, ingin mendapat keuntungan duniawi, ingin tampil sholeh, ingin kelihatan kusyu’, ingin diidolakan banyak orang, ingin masuk TV, ingin dapat kontrak eksklusif, dll.
Cupet (tak sampai, tak cukup, kurang) kepepetan (terdesak) pamrih (pamrih, keinginan untuk kepentingan diri). Tak cukup karena terdesak keinginan.
Apabila keinginan-keinginan tadi diberi tempat dalam diri kita, mereka akan semakin membesar. Akibatnya sifat rakus akan tampil menguasai diri. Nafsu memiliki (pamrih) mendesak nalar, membuat orang khilaf, alpa terhadap pertimbangan, lalai terhadap kebenaran. Hidup seseorang menjadi cupet, serba tak cukup, serba kurang akibat terdesak keinginan.
Tangeh (mustahil) nedya (bermaksud) anggambuh (mendekat) mring (kepada) Hyang (Yang) Wisesa (Kuasa). Mustahil dapat mendekati kepada Yang Maha Kuasa.
Dalam keadaan demikian upaya seseorang untuk mendekati Yang Maha Kuasa menjadi mustahil. Alih-alih justru semakin jauh dari tujuan semula, semakin dalam terperosok dalam kuasa hawa nafsu. Inilah munafik sejati, penampilan suci tapi berhati culas.
Bait ini adalah bait terakhir dari Pupuh Pucung dalam Serat Wedatama. Kata ang-gambuh dalam gatra terakhir yang berarti mendekati, juga menjadi isyarat bahwa akan masuk ke Pupuh selanjutnya, yakni Pupuh Gambuh.
PUPUH GAMBUH
Kajian Wedatama (48): Sembah Catur
Bait ke-48, Pupuh Gambuh, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV:
Samengko ingsun tutur.
Sembah catur supaya lumuntur.
Dhihin raga, cipta, jiwa, rasa, kaki. Ing kono lamun tinemu,
tandha nugrahaning Manon.
Terjemahan dalam Bahasa Indonesia:
Sekarang saya menasihati.
Empat sembah supaya terpahamkan.
Pertama, raga, cipta, jiwa, rasa, nak,
Di situ bila tercapai,
itulah anugrah dari Yang Maha Melihat.
Kajian per kata:
Samengko (sekarang) ingsun (saya) tutur (berkata, memberi nasihat). Sekarang saya menasihati.
Kata tutur dalam bahasa Jawa sering dipakai untuk menyebut perkataan orang-orang tua, mereka yang sudah pengalaman dalam mengarungi samudera kehidupan. Istilah lebda ing pitutur sering dipakai untuk menyebut orang-orang yang sudah pantas untuk memberi nasehat tersebut.
Dalam budaya Jawa orang yang sudah tua (sepuh) memang sangat dihargai, walau secara materi tidak produktif tetapi mereka dialap (diharap) berkah dan nasihatnya. Diharap do’a dan restunya pada setiap ada hajat dan keperluan penting. Nah, dari merekalah kearifan diturunkan (lumuntur) melalui piwulang (ajaran kebaikan), wewarah (pengertian) dan pitutur (nasihat).
Sembah (sembah, ibadah) catur (empat) supaya (supaya) lumuntur (terwarisakan, terpahamkan). Empat sembah supaya terpahamkan.
Bahwa dalam peribadatan ada empat macam sembah. Ini berkaitan dengan lapisan maujud yang ada pada manusia, dari badan kasar (wadhag) sampai ruh yang halus (alus). Ada empat lapis ketundukkan dalam penyembahan, keempatnya mesti sinkron agar tercipta harmoni dalam diri. Agar tidak terpecah kepribadian manusia atau split personality.
Dhihin (yang awal) raga (raga, badan), cipta (cipta, pikiran), jiwa (jiwa), rasa (hati), kaki (nak). Pertama, raga, cipta, jiwa, rasa, nak!
Yang pertama adalah sembah raga, tubuh, anggota badan. Sembahnya tubuh adalah gerakan fisik, seperti orang yang sedang melakukan shalat ada ketentuan tatacara gerakan-gerakan tersebut yang sudah baku.
Yang kedua adalah sembah cipta, yakni pikiran. Dalam melakukan sembah raga harus disertai sembah cipta, yakni pemusatan pikiran kepada Yang Disembah (Allah). Pikiran tunduk kepada keagungan dan ketuhanan Allah semata-mata.
Yang ketiga adalah sembah jiwa, jiwa adalah produsen angan-angan, maka dalam sembah jiwa harus menyertakan konsentrasi segala angan-angan hanya kepada Allah semata. Tidak elok jika sedang shalat mengingat-ingat bakul nasi di dapur, misalnya.
Keempat adalah sembah rasa, inilah puncak tertinggi dari penyembahan. Segala rasa bersumber dari hati, maka sembah rasa adalah upaya untuk mensucikan hati. Membiasakan agar hati menjadi tenang, tuma’ninah, madhep mantep menghadap Yang Maha Melihat. Dalam bahasa agama disebut ihsan.
Itulah empat macam sembah yang harus selalu dilakukan simultan, serentak bersamaan dalam satu rangkaian gerakan. Hal-hal itulah yang harus engkau ketahui, wahai anak muda!
Ing (di) kono (situ) lamun (kalau) tinemu (ditemukan, tercapai), tandha (pertanda) nugrahaning (mendapat anugrah) Manon (Yang Maha Melihat). Di situ bila tercapai, itulah anugrah dari Yang Maha Melihat.
Dalam rangkaian sembah itu, jika dapat dilakukan akan bertemu dengan rosing panembah, yakni tunduknya badan, pikiran, jiwa dan rasa ke haribaan Ilahi. Yang demikian itu, manusia hanya dapat berusaha untuk mencapainya melalui serangkaian laku yang sudah ditentukan. Adapun sampainya pada tujuan semata-mata adalah anugrah dari Yang Maha Melihat.
Keempat sembah tersebut di atas akan diuraikan panjang lebar dalam bait-bait selanjutnya pada Pupuh Gambuh dari serat Wedatama. Kita akan membahasnya secara rinci pada bait- bait mendatang.
Kajian Wedatama (49): Sembah Raga
Bait ke-49, Pupuh Gambuh, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV:
Sembah raga punika,
pakartine wong amagang laku.
Sesucine asarana saking warih, Kang wus lumrah limang wektu, Wantu wataking weweton.
Terjemahan dalam bahasa Indonesia:
Sembah raga adalah,
perbuatan orang yang baru memulai perjalanan.
Bersucinya memakai sarana dari air,
Yang wajib adalah lima waktu,
Bersifat menuruti aturan dan rukun.
Kajian per kata:
Sembah (ibadah) raga (raga, tubuh) punika (itu adalah), pakartine (perbuatan) wong (orang) amagang (baru memulai) laku (perjalanan). Sembah raga adalah, perbuatan orang yang baru memulai perjalanan.
Sembah raga adalah ibadahnya tubuh. Bahwa kita manusia diciptakan dengan tubuh biologis, yang tunduk pada hukum-hukum materi. Tubuh adalah sarana kita untuk hidup di dunia materi ini, tanpanya niscaya kita tak dapat beraktivitas.
Walau kelak akan fana dan kita tinggalkan, tubuh juga berhak untuk mengungkapkan keagungan Allah, Sang Pencipta. Maka ada tatacara yang khusus bagi tubuh dalam menyembah Tuhan. Dalam agama Islam bentuk penyembahan itu adalah shalat. Dalam shalat dilakukan penyembahan melalui tubuh dengan melakukan gerakan-gerakan sesuai rukun- rukun tertentu, itulah yang disebut sembah raga.
Sembah raga ini adalah awal dari perjalanan, awal dari laku yang harus dijalani manusia. Setiap orang muslim yang hendak menjalankan agama pastilah sesudah akil baligh diwajibkan menjalankan shalat. Entah yang bersangkutan sudah paham atau belum mengapa harus shalat, entah yang bersangkutan tahu atau tidak apa gunanya shalat, semua wajib melakukan itu. Karena sembah raga ini adalah bentuk dari pengakuan kita akan kebesaran Allah. Pengakuan itu diwujudkan dalam ritual sujud dan ruku’, merendahkan diri kita serendah-rendahnya di hadapanNya. Sembah raga adalah ibadahnya tubuh.
Mengapa sembah raga disebut sebagai awal dari perjalanan? Karena sesungguhnya hakekat manusia bukanlah tubuhnya, tubuh hanya sarana untuk hidup di dunia. Kelak ruh kita yang akan abadi menghadap Allah di alam baqa. Tetapi pengenalan ruh tak dapat dilakukan serta- merta. Kemampuan kita dalam mengenali hakekat diri takkan berhasil jika tidak melalui tubuh. Tubuhlah sarana kita mengenali alam sekitar, baru kemudian mengenali tanda- tandaNya yang tak tampak di dunia. Tubuhlah yang paling awal menemani ruh di dunia materi ini. Maka ibadah atau sembah apapun yang dilakukan tubuh adalah awal dari sembah- sembah yang lain.
Sesucine (bersucinya) asarana (memakai sarana) saking (dari) warih (air). Bersucinya memakai sarana dari air.
Syarat-syarat untuk melakukan ibadah shalat adalah bersuci dengan air. Ini sesuai watak dari tubuh yang bersifat materi, yang hanya dapat dibersihkan dengan materi juga.
Kang (yang) wus lumrah (sudah umum, wajib) limang (lima) wektu (waktu). Yang wajib adalah lima waktu.
Sembah raga yang wajib adalah lima waktu, yakni shalat wajib yang harus dilakukan oleh setiap orang. Di luar kewajiban lima waktu ada banyak shalat sunat yang dianjurkan kepada seorang muslim sesuai dengan kesanggupan dan keadaan masing-masing. Bersifat tidak wajib dan opsional, sesuai dengan situasai, kondisi dan kelonggaran masing-masing orang.
Wantu (berkala) wataking (bersifat) weweton (aturan, rukun). Bersifat menuruti aturan waktu dan rukun.
Shalat wajib yang lima waktu tadi tidak bisa dikerjakan secara sembarangan karena ada batasan waktu dan rukun-rukun, serta syarat-syarat untuk melakukannya. Waktunya harus sudah masuk sesuai waktu masing-masing, yakni shalat Subuh selepas fajar, shalat Dhuhur selepas tergelincir matahari, Shalat Ashar menjelang matahari turun, shalat Magrib sesudah terbenam matahari dan shalat Isya’ menjelang malam.
Juga ada rukun-rukun tertentu yang harus dipatuhi, dari takbiratul ikram sampai salam. Serta harus memenehi syarat-syarat tertentu. Untuk lebih detailnya dapat dilihat di buku-buku fikih, karena akan panjang jika diuraikan di sini.
Selain sebagai salah satu penyembahan, shalat juga dimaksudkan untuk mendisiplinkan manusia berkenaan dengan hubungan antara tubuh dan ruh. Juga ada konsekuensi logis dari pelaksanaan shalat pada tataran tubuh fisik. Contohnya seseorang yang shalat dengan tertib dan ajeg, pasti akan tampak berseri raut mukanya, karena paling tidak dalam sehari lima kali dia harus membasuh muka. Masih ada banyak manfaat sampingan dari shalat ini, bait-bait selanjutkan serat Wedatama akan menguraikannya untuk kita pelajari bersama.
Kajian Wedatama (50): Sarengate Elok-elok
Bait ke-50, Pupuh Gambuh, Serat Wedatama karya KGPAA Sri Mangkunegara IV:
Inguni uni durung,
sinarawung wulang kang sinerung.
Lagi iki bangsa kas ngetokken anggit. Mintokken kawignyanipun,
sarengate elok-elok.
Terjemahan dalam Bahasa Indonesia:
Dahulu kala belum pernah,
dikenalkan dengan pelajaran tersembunyi.
Baru sekarang kelompok yang bersemangat memperlihatkan angan-angannya. Memeperlihatkan kemampuannya,
dengan tata cara yang aneh-aneh.
Kajian per kata:
Inguni (ing uni, pada dahulu) uni (dulu) durung (belum), sinarawung (dikenalkan) wulang (pelajaran) kang (yang) sinerung (tersembunyi, rahasia). Pada jaman dahulu kala belum pernah, dikenalkan pelajaran yang tersembunyi.
Ini masih berkaitan dengan macam-macam sembah yang disebutkan pada bait ke-48, bahwa pada zaman sebelum ini belum pernah dikenalkan dengan pelajaran yang tersembunyi, kita sebut saja ilmu batin (wulang kang sinerung). Yang dimaksud adalah tentang pelajaran tentang tiga sembah yang terakhir. Yang sudah diketahui umumnya baru apa yang terlihat jelas, yakni hanya sembah raga saja. Amalan-amalan yang dilakukan baru sebatas amalan tubuh, yang karenanya cukup mudah dipahami. Amalan-amalan batin belum diperkenalkan karena memang kemauan untuk mempelajari hal itu belum kuat, belum ada semangat untuk mempelajarinya.
Lagi iki (baru sekarang) bangsa (kelompok) kas (kemauan, semangat) ngetokken (memperlihatkan) anggit (rekaan, angan). Baru sekarang kelompok yang bersemangat memperlihatkan angan-angannya.
Hal ini sangat mungkin merujuk pada kondisi waktu serat ini digubah. Ada semangat untuk mempelajari hal-hal spiritual pada sebagian kalangan anak muda. Namun karena belum ada piwulang yang dapat dipakai sebagai pedoman maka banyak yang masih menduga-duga, hanya berangan-angan saja (anggit).
Mintokken (memperlihatkan) kawignyanipun (kemampuannya), sarengate (tatacara, aturan) elok-elok (aneh-aneh). Memeperlihatkan kemampuannya dengan tata cara (syariat) yang aneh-aneh.
Orang-orang yang bersemangat tadi tidak ragu-ragu memperlihatkan kemampuannya dalam mengamalkan laku spritual, namun karena sesungguhnya mereka adalah para pemula yang belum berpengalaman. Banyak dari mereka yang justru memperlihatkan keanehan-keanehan. Ini tampak pada tatacara ibadah mereka yang mungkin tak biasa bagi orang awam.
Frasa sarengate elok-elok di atas menujukkan praktik tatacara ibadah yang tak lazim. Kata elok dalam bahasa Jawa berarti ajaib, atau di luar nalar yang sudah dipahami secara umum, membuat orang keheranan.
Apa saja praktik ibadah yang aneh itu? Bait berikutnya akan sedikit mengungkap satu contoh yang ada di jaman itu. Akan lebih baik dari segi keruntutan pengertian apabila kajian bait ini disatukan dengan bait berikutnya. Namun karena kita konsisten untuk mengkaji per bait, maka kita cukupkan dulu sampai di sini. Jangan ketinggalan pada kajian bait selanjutnya.
Langganan:
Postingan (Atom)