Gunungtugel peristiwa sebuah awal peradaban lama,yang telah mengawali peradaban baru sebagai pondasi awal terwujadnya ri Bhumi Mataram.Hal yang demikian diperoleh dari winarah para Sepuh dari jaman ke jaman.Diantaranya winarah yang diperoleh mbah Datrim dari mbah Datuk Kahfi.winarah yang di maksut adalah latar belakang Gunungtugel.Demikian juga winarah dari mbah Bakri dari eyang Muhsin.Eyang Muhsin dari Syeh Abdurahman,dari Ki Buyut Manguneng.
Rabu, 12 September 2018
Kamis, 06 September 2018
Wekasan kenther tan ethor
Mung met kaeahayon
Tanazul taraqqi
Kajian Wedhatama (34;35) Bait ke-34;35, Pupuh Gambuh (metrum: 7u 10u 12i 8u 8o), Serat Wedharaga, karya Raden Ngabehi Ranggawarsita: Pangracutan pangukut, myang pambabarira tan keliru. Panarikan patrape tanajul tarki, ing sangkan paran sumurup, tan kalendhon nora kadho. Lamun mangkono patut, tinirua tepaning tumuwuh. Tan lyan saking sambadeng badan pribadi, binudi sidaning sadu. Aneng kene kana kanggo. Terjemahan dalam bahasa Indonesia: Agar cara melepaskan dan mengemas, dan penjabarannya tidak keliru. Penerapan amalan tanazul taraqqi, dalam asal dan tujuan ketahuilah, agar tidak keliru dan tidak ada kekhawatiran. Jika demikian patutlah, ditiru oleh sesama manusia. Tak lain dari kekuatan diri sendiri (masing-masing), diupayakan tercapainya ketenangan batin. (Watak ini) di sini dan di sana berguna. Kajian per kata: Pangracutan (melepaskan) pangukut (mengemas, menggulung), myang (dan) pambabarira (penjabarannya) tan (tidak) keliru (keliru). Agar cara melepaskan dan mengemas, dan penjabarannya tidak keliru. Dalam bait sebelumnya sudah diuraikan akidah yang benar berkaitan dengan relasi kawula-Gusti. Yang demikian itu perlu ditegaskan agar tidak keliru dalam penerapannya. Berkaitan dengan hal tersebut muncul istilah angracut dan angukut. Angracut artinya melepaskan. Banyak yang salah paham dengan mengatakan bahwa yang dimaksud angracut adalah melepaskan jiwa (sukma) untuk kemudian bergabung dengan Tuhan. Yang demikian itu tidak benar dan tidak mungkin. Para filosof sejak zaman prasejarah sepakat bahwa berpindahnya jiwa dari tubuh selama seseorang masih hidup adalah mustahil. Yang benar angracut di sini berarti melepaskan ego atau kedirian sehingga ketika seorang hamba dalam beribadah sudah sangat ikhlas yang terjadi adalah kedekatan yang sempurna dengan Tuhan. Dirinya menjadi tiada, yang ada adalah segala kehendakNya. Inilah yang dimaksud dengan angracut. Sedangkan yang dimaksud mangukut adalah mengemasi hawa nafsu. Kala seorang pedagang kaki lima yang berdagang siang hari, maka pada sore hari dia mengemasi dagangannya, ini disebut mengukut, mengemasi. Mangukut hawa nafsu artinya hawa nafsu dilarang buka lapak dalam diri. Dua istilah tersebut kadang dipertukarkan sesuai konteks, karena pengertiannya hampir sama. Itulah pengertian yang benar dan tidak bertentangan dengan syariat. Hendaknya berhati-hati dalam perkara akidah, karena jika salah rusaklah seluruh amal dan akal. Panarikan (penarikan, penerapan) patrape (perilaku, amalan) tanajul (tanazul) tarki (taraqqi), ing (dalam) sangkan (asal) paran (tujuan) sumurup (diketahui), tan (tidak) kalendhon (keliru) nora (tidak) kadho (khawatir). Penerapan amalan tanazul taraqqi, dalam asal dan tujuan ketahuilah, agar tidak keliru dan tidak ada kekhawatiran. Istilah tanajul tarki yang dimaksud adalah istilah dari bahasa Arab tanazul taraqqi. Sebelum mengupas makna gatra ini ada baiknya kita mengerti beberapa istilah yang dipakai dalam gatra tersebut. Sekarang kita mulai akan membahas relasi kawula-Gusti dalam bentuk yang berbeda dari sebelumnya, yakni tanazul-taraqqi. Taraqqi adalah upaya seorang hamba menuju derajat ilahiyah dengan cara melakukan kewajiban syariat dan amalan-amalan yang dianjurkan dengan penuh keikhlasan dan cinta kasih kepada Tuhan. Tanazul adalah tanggapan Tuhan atas upaya makhluknya tersebut. Tanggapan ini bisa berupa perhatian dan pertolongan agar sang hamba semakin mudah mendekatiNya. Dalam sebuah hadits Qudsi disebutkan bahwa jika seorang hamba mendekat kepada Tuhan sejarak sehasta Tuhan akan merespon dengan mendekati hambanya sejarak sedepa, jika seorang hamba mendekat kepada Tuhan dengan berjalan maka Tuhan akan membalas dengan mendekat secara berlari. Relasi tanggap-aksi inilah yang disebut tanazul-taraqqi. Sedangkan istilah sangkan-paran sangat berkaitan dengan kesadaran asal-usul dan tujuan. Sangkan artinya tempat kita berasal, yakni Tuhan. Paran artinya tujuan hidup kita, yakni Tuhan juga. Istilah sangkan paran sangat bersesuaian dengan kalimat yang sering kita baca saat ada musibah, innalillahi wa inna ilaihi raji’uun. Dari Allah kita berasal dan kepadaNya kita akan kembali. Istilah-istilah di atas perlu kita pahami agar dalam pengamalan sehari-hari tidak keliru dan menimbulkan kekhawatiran dalam hati. Lamun (jika) mangkono (demikian) patut (patut, pantas), tinirua (ditiru, diteladani) tepaning (sesama) tumuwuh (makhluk, manusia). Jika demikian patutlah, ditiru oleh sesama manusia. Bait sebelumnya menceritakan tentang kisah pemuda yang sadar dari sikap omong besar dan kemudian belajar kembali sampai mencapai tingkat ilmu yang tinggi. Apa yang dilakukan tersebut patutlah ditiru oleh sesama manusia. Tan (tak) lyan (lain) saking (dari) sambadeng (kekuatan) badan (diri) pribadi (sendiri), binudi (diupayakan) sidaning (jadinya, tercapainya) sadu (kesabaran, ketenangan), aneng (ada) kene (di sini) kana (di sana) kanggo (berguna). Tak lain dari kekuatan diri sendiri (masing-masing), diupayakan tercapainya ketenangan batin. (Watak ini) di sini dan di sana berguna. Hendaklah seseorang mencontoh sesuai kekuatan diri masing-masing. Upayakan tercapainya ketenangan hati (sadu budi). Tak ada salahnya melakukan upaya yang sungguh-sungguh untuk mencapai hal ini karena watak yang demikian akan sangat berguna di alam sini (dunia) dan di alam sana (akhirat).