Rabu, 12 September 2018

Kamis, 06 September 2018

Wekasan kenther tan ethor

Kajian Wedharaga (17;18) Bait ke-17;18, Pupuh Gambuh (metrum: 7u 10u 12i 8u 8o), Serat Wedharaga, karya Raden Ngabehi Ranggawarsita: Ingkang mangkono iku, badaningong pribadi ing dangu. Paksa unggul wekasan malah katinggil. Panggilesing jabung alus, winangsulan tyas kaleson. Mangkono kang tinemu, marmane wong ngaurip punika, aja pisan paksa ambeg kumalikih. Angaku sarwa linuhung, wekasan kether tan ethor. Terjemahan dalam bahasa Indonesia: Yang demikian itu, diri saya sendiri (mengalami) dahulu. Memaksakan unggul akhirnya malah terpukul. Tergilas oleh orang dekat, (ingin) mengulang lagi hati sudah lesu. Demikian yang terjadi, oleh karena itu orang berkehidupan itu, jangan sekali-kali memaksakan berwatak sombong. Mengaku serba lebih hebat, akhirnya terbengkelai karena tidak becus. Kajian per kata: Ingkang (yang) mangkono (demikian) iku (itu), badaningong (diri saya) pribadi (sendiri) ing (ketika) dangu (dahulu). Yang demikian itu, diri saya sendiri (mengalami) dahulu. Ki Gambuh (penggubah serat ini) pernah mengalami yang demikian itu, yakni memaksakan diri tampil hebat seolah paling unggul. Memang sikap seperti itu acapkali menjangkiti anak muda yang belum berpengalaman dalam kehidupan, terutama mereka yang baru mempelajari pengetahuan baru. Karena kaget dan takjub akan ilmu barunya yang selama ini tidak dikenalnya, lantas mengira bahwa orang lain juga tidak mengerti akan hal itu. Jadilah dia berlagak seolah hanya dirinya yang tahu. Maka tak aneh kalau Ki Gambuh pun pernah mengalaminya. Paksa (memaksakan) unggul (unggul) wekasan (akhirnya) malah (malah) katinggil (katenggel, terpukul), panggilesing (tergilas) jabung alus (orang yang dekat), winangsulan (diulang lagi) tyas (hati) kaleson (sudah lesu). Memaksakan unggul akhirnya malah terpukul, tergilas oleh orang dekat, (ingin) mengulang lagi hati sudah lesu. Inilah pengalaman Ki Gambuh di masa dahulu, memaksakan penampilan akhirnya malah terpukul. Tenggel adalah memotong atau memukul sesuati tepat sasaran, telak, pas di tengah secara melintang. Katenggel atau katinggil artinya terpukul secara telak, tentu terasa amat menyakitkan. Jabung adalah sejenis perekat, njabung alus adalah kata majemuk yang merupakan idiom, artinya merapatkan diri, menempel dengan halus. Panggilesing jabung alus artinya yang menggilas atau memukul telak tadi adalah orang dekat. Hal ini membuat Ki Gambuh benar-benar syok dan lemah lunglai sehingga tak berdaya lagi untuk bangkit. Kaleson adalah ungkapan untuk perasaan hati yang lesu, tidak semangat lagi. Mangkono (demikian) kang (yang) tinemu (ditemukan, terjadi), marmane (oleh karena) wong (orang) ngaurip (berkehidupan) punika (itu), aja (jangan) pisan (sekali-kali) paksa (memaksakan) ambeg (berwatak) kumalikih (sombong). Demikian yang terjadi, oleh karena itu orang berkehidupan itu, jangan sekali-kali memaksakan berwatak sombong. Demikian itulah yang terjadi jika suka umuk di atas kemampuan sendiri. Oleh karena dalam kehidupan ini jangan sekali-kali mendahului proses, tak sabar untuk segera memetik hasil, memaksakan diri tampil seolah sudah berhasil, bahkan terkesan meremehkan kemampuan orang lain. Angaku (mengaku) sarwa (serba) linuhung (lebih unggul, lebih hebat), wekasan (akhirnya) kether (terbengkelai) tan (tidak) ethor (becus). Mengaku serba lebih hebat, akhirnya terbengkelai karena tidak becus. Mengaku-aku serba hebat dan unggul dibanding orang lain hanya demi decak kagum. Akhirnya ketika tiba saatnya harus membuktikan kemampuannya justru yang terjadi adalah urusannya terbengkelai karena sebenarnya dia tak mampu. Kether artinya tak tertangani karena tak mampu. Ethor varian kasar dari kata ethes, artinya cakap, terampil. Tan ethor artinya tak becus, dalam bahasa Jawa istilah lainnya adalah ora jegos (tidak bisa, konotasinya kasar).

Mung met kaeahayon

Kajian Wedharaga (36;38) Bait ke-36;38, Pupuh Gambuh (metrum: 7u 10u 12i 8u 8o), Serat Wedharaga, karya Raden Ngabehi Ranggawarsita: Ki Gambuh bisa muwus, anglakoni dhewe durung kaur. Dangdang sumyang watak wantune wong langip. Tan kawawa wuwur sembur, pitutur bae yen kanggo. Amung amrih rahayu, ewadene ing babasanipun, alah kandha ana ing tandha lan yekti. Titenana ala nganggur, begja kang gelem anganggo. Tursan rong sapteng lebu, Ki Pujangga panggupitanipun. Tawi tawar ing surasa tanpa manis. Marma kongsi karya pemut, mung met marta karahayon. Terjemahan dalam bahasa Indonesia: Ki Gambuh hanya bisa berkata, menjalani sendiri belum sempat. Hanya banyak bicara seperti watak tabiatnya orang lemah. Tak kuasa memberi saran dan doa, petuah ini saja jika berguna. Hanya agar selamat, walau demikian ada peribahasa, daripada hanya kata lebih baik ada tanda bukti kesungguhan. Ingatlah sambil lalu, beruntung yang mau mematuhi. Terusan liang ada tujuh jalan masuk, Ki Pujangga menggubahnya. Hambar tanpa rasa dalam makna tanpa manis. Karena sebab sampai membuat peringatan ini, hanya mencari hidup penuh keselamatan. Kajian per kata: Ki Gambuh (Ki Gambuh, penggubah serat ini) bisa (hanya bisa) muwus (berkata), anglakoni (menjalani) dhewe (sendiri) durung (belum) kaur (sempat). Ki Gambuh hanya bisa berkata, menjalani sendiri belum sempat. Ki Gambuh sendiri belum bisa melaksanakan apa yang beliau tulis ini, baru sebatas berkata-kat dengan menuangkan ke dalam karya sastra ini. Gatra ini adalah ungkapan kerendahan hati dari penggubah karya-karya klasik yang selalu menyejukkan, rendah hati tanpa sikap arogan. Dalam banyak karya sastra akan ditemukan pernyataan seperti ini, amat jauh berbeda dengan yang kita baca di medsos. Dangdang sumyang (istilah untuk beramai-ramai) watak (watak) wantune (tabiat) wong (orang) langip (lemah). Hanya banyak bicara seperti watak tabiatnya orang lemah. Dangdang adalah tempat menanak nasi. Sumyang, umyung artinya ramai-ramai. Umumnya dangdang atau dandang dipakai untuk menanak nasi dalam jumlah besar pada acara hajatan. Banyak orang terlibat di dapur sehingga suaranya sangat ramai. Ungkapan dangdang sumyang dipakai untuk menggambarkan suara yang ramai, gayeng. Maksud gatra ini adalah Ki Pujangga baru bisa berama-ramai seperti watak orang lemah. Orang lemah yang dimaksud adalah lemah dalam kehendak, sudah berniat melakukan tapi tekadnya kurang kuat. Dan tentu saja kalimat ini hanya ungkapan kerendahan hati dari Ki Ranggawarsita saja. Tan (tak) kawawa (kuasa) wuwur sembur (istilah untuk saran dan doa), pitutur (petuah) bae (saja) yen (jika) kanggo (berguna). Tak kuasa memberi saran dan doa, petuah ini saja jika berguna. Wuwur sembur adalah saran dan do’a, sesuatu yang diharapkan dari para orang tua ketika seseorang mempunyai keperluan atau persoalan. Dalam kedua hal ini Ki Pujangga juga tak sanggup, hanya mampu memberi petuah jika berkenan mengambil manfaat darinya. Amung (hanya) amrih (agar) rahayu (selamat), ewadene (walau demikian) ing (ada di) babasanipun (peribahasa), alah (daripada) kandha (kata) ana (ada) ing tandha (tanda) lan (dan) yekti (bukti). Hanya agar selamat, walau demikian ada peribahasa, daripada hanya kata lebih baik ada tanda bukti kesungguhan. Walau tak mampu memberi apa-apa, yang beliau inginkan hanyalah agar semua selamat. Seperti peribahasa daripada hanya kata lebih baik ada tanda dan bukti kesungguhan, serat Wedharaga yang ditujukan untuk para muda inilah tanda dan bukti itu. Titenana (ingat-ingatlah) ala nganggur (timbang nganggur, sambil lalu), begja (beruntung) kang (yang) gelem (mau) anganggo (memakai, mematuhi). Ingatlah sambil lalu, beruntung yang mau mematuhi. Tidak usah serius amat, sambil lalu saja amat-amatilah, beruntung yang mau memakai petuah ini. Tursan (terusan) rong (liang) sapteng (tujuh dalam) lebu (masuk), Ki Pujangga (Ki Pujangga) panggupitanipun (menggubahnya). Terusan liang ada tujuh jalan masuk, Ki Pujangga menggubahnya. Tursan rong sapteng lebu adalah candra sengkala, penanda tahun dituliskannya serat ini, jika dinyatakan dalam angka adalah tahun 1799 Jawa, atau 1870 Masehi. Tawi (tawa, hambar) tawar (tanpa rasa) ing (dalam) surasa (makna) tanpa (tanpa) manis (manis). Hambar tanpa rasa dalam makna tanpa manis. Memang hanya hambar perkataan sang Pujangga, tak ada bunga-bunga manisnya. Bukan sebuah petuah yang menggetarkan jiwa, bukan sebuah rangkaian kata yang menggores rasa. Ki Pujangga tak mampu membuat yang seperti itu. Marma (karena sebab) kongsi (sampai) karya (membuat) pemut (peringatan), mung (hanya) met (mencari) marta (indah, hidup) karahayon (keselamatan). Karena sebab sampai membuat peringatan ini, hanya mencari hidup penuh keselamatan. Karena sebab sampai dibuatnya karya ini hanya untuk peringatan, hanyalah upaya untuk mencari keselamatan bagi semua. Dan inilah hasilnya, Serat Wedharaga karya Ki Ranggawarsita yang digubah pada tahun 1870 Masehi. Ketika itu usia Ki Ranggawarsita sudah 68 tahun. Beliau meninggal pada tahun 1873 M dan dimakamkan di Palar. Bait ini adalah penutup dari Serat Wedharaga. Dengan berakhirnya kajian ini maka tuntas sudah kita kaji serat Wedharaga karya Raden Ngabehi Ranggawarsita, pujangga dari Kasunanan Surakarta Adiningrat.

Tanazul taraqqi

Kajian Wedhatama (34;35) Bait ke-34;35, Pupuh Gambuh (metrum: 7u 10u 12i 8u 8o), Serat Wedharaga, karya Raden Ngabehi Ranggawarsita: Pangracutan pangukut, myang pambabarira tan keliru. Panarikan patrape tanajul tarki, ing sangkan paran sumurup, tan kalendhon nora kadho. Lamun mangkono patut, tinirua tepaning tumuwuh. Tan lyan saking sambadeng badan pribadi, binudi sidaning sadu. Aneng kene kana kanggo. Terjemahan dalam bahasa Indonesia: Agar cara melepaskan dan mengemas, dan penjabarannya tidak keliru. Penerapan amalan tanazul taraqqi, dalam asal dan tujuan ketahuilah, agar tidak keliru dan tidak ada kekhawatiran. Jika demikian patutlah, ditiru oleh sesama manusia. Tak lain dari kekuatan diri sendiri (masing-masing), diupayakan tercapainya ketenangan batin. (Watak ini) di sini dan di sana berguna. Kajian per kata: Pangracutan (melepaskan) pangukut (mengemas, menggulung), myang (dan) pambabarira (penjabarannya) tan (tidak) keliru (keliru). Agar cara melepaskan dan mengemas, dan penjabarannya tidak keliru. Dalam bait sebelumnya sudah diuraikan akidah yang benar berkaitan dengan relasi kawula-Gusti. Yang demikian itu perlu ditegaskan agar tidak keliru dalam penerapannya. Berkaitan dengan hal tersebut muncul istilah angracut dan angukut. Angracut artinya melepaskan. Banyak yang salah paham dengan mengatakan bahwa yang dimaksud angracut adalah melepaskan jiwa (sukma) untuk kemudian bergabung dengan Tuhan. Yang demikian itu tidak benar dan tidak mungkin. Para filosof sejak zaman prasejarah sepakat bahwa berpindahnya jiwa dari tubuh selama seseorang masih hidup adalah mustahil. Yang benar angracut di sini berarti melepaskan ego atau kedirian sehingga ketika seorang hamba dalam beribadah sudah sangat ikhlas yang terjadi adalah kedekatan yang sempurna dengan Tuhan. Dirinya menjadi tiada, yang ada adalah segala kehendakNya. Inilah yang dimaksud dengan angracut. Sedangkan yang dimaksud mangukut adalah mengemasi hawa nafsu. Kala seorang pedagang kaki lima yang berdagang siang hari, maka pada sore hari dia mengemasi dagangannya, ini disebut mengukut, mengemasi. Mangukut hawa nafsu artinya hawa nafsu dilarang buka lapak dalam diri. Dua istilah tersebut kadang dipertukarkan sesuai konteks, karena pengertiannya hampir sama. Itulah pengertian yang benar dan tidak bertentangan dengan syariat. Hendaknya berhati-hati dalam perkara akidah, karena jika salah rusaklah seluruh amal dan akal. Panarikan (penarikan, penerapan) patrape (perilaku, amalan) tanajul (tanazul) tarki (taraqqi), ing (dalam) sangkan (asal) paran (tujuan) sumurup (diketahui), tan (tidak) kalendhon (keliru) nora (tidak) kadho (khawatir). Penerapan amalan tanazul taraqqi, dalam asal dan tujuan ketahuilah, agar tidak keliru dan tidak ada kekhawatiran. Istilah tanajul tarki yang dimaksud adalah istilah dari bahasa Arab tanazul taraqqi. Sebelum mengupas makna gatra ini ada baiknya kita mengerti beberapa istilah yang dipakai dalam gatra tersebut. Sekarang kita mulai akan membahas relasi kawula-Gusti dalam bentuk yang berbeda dari sebelumnya, yakni tanazul-taraqqi. Taraqqi adalah upaya seorang hamba menuju derajat ilahiyah dengan cara melakukan kewajiban syariat dan amalan-amalan yang dianjurkan dengan penuh keikhlasan dan cinta kasih kepada Tuhan. Tanazul adalah tanggapan Tuhan atas upaya makhluknya tersebut. Tanggapan ini bisa berupa perhatian dan pertolongan agar sang hamba semakin mudah mendekatiNya. Dalam sebuah hadits Qudsi disebutkan bahwa jika seorang hamba mendekat kepada Tuhan sejarak sehasta Tuhan akan merespon dengan mendekati hambanya sejarak sedepa, jika seorang hamba mendekat kepada Tuhan dengan berjalan maka Tuhan akan membalas dengan mendekat secara berlari. Relasi tanggap-aksi inilah yang disebut tanazul-taraqqi. Sedangkan istilah sangkan-paran sangat berkaitan dengan kesadaran asal-usul dan tujuan. Sangkan artinya tempat kita berasal, yakni Tuhan. Paran artinya tujuan hidup kita, yakni Tuhan juga. Istilah sangkan paran sangat bersesuaian dengan kalimat yang sering kita baca saat ada musibah, innalillahi wa inna ilaihi raji’uun. Dari Allah kita berasal dan kepadaNya kita akan kembali. Istilah-istilah di atas perlu kita pahami agar dalam pengamalan sehari-hari tidak keliru dan menimbulkan kekhawatiran dalam hati. Lamun (jika) mangkono (demikian) patut (patut, pantas), tinirua (ditiru, diteladani) tepaning (sesama) tumuwuh (makhluk, manusia). Jika demikian patutlah, ditiru oleh sesama manusia. Bait sebelumnya menceritakan tentang kisah pemuda yang sadar dari sikap omong besar dan kemudian belajar kembali sampai mencapai tingkat ilmu yang tinggi. Apa yang dilakukan tersebut patutlah ditiru oleh sesama manusia. Tan (tak) lyan (lain) saking (dari) sambadeng (kekuatan) badan (diri) pribadi (sendiri), binudi (diupayakan) sidaning (jadinya, tercapainya) sadu (kesabaran, ketenangan), aneng (ada) kene (di sini) kana (di sana) kanggo (berguna). Tak lain dari kekuatan diri sendiri (masing-masing), diupayakan tercapainya ketenangan batin. (Watak ini) di sini dan di sana berguna. Hendaklah seseorang mencontoh sesuai kekuatan diri masing-masing. Upayakan tercapainya ketenangan hati (sadu budi). Tak ada salahnya melakukan upaya yang sungguh-sungguh untuk mencapai hal ini karena watak yang demikian akan sangat berguna di alam sini (dunia) dan di alam sana (akhirat).

Rmpan papan suraos

Kajian Wedharaga (32;33) Bait ke-32;33, Pupuh Gambuh (metrum: 7u 10u 12i 8u 8o), Serat Wedharaga, karya Raden Ngabehi Ranggawarsita: Wong anom meneng ngungun, kaluhuran sabda alon mundur. Ing wekasan mari dennya mbek gumaib, mung lukita kang ginilut, empan papaning wiraos. Malah wiwit anggayuh, tuturutan pangkating ngelmu. Kasampurnan pamoring kawula Gusti, mahasucekken Datipun, pangrakiting reh tan keron. Terjemahan dalam bahasa Indonesia: Orang muda terdiam keheranan, teratasi perkataannya (oleh kakek tua), lalu mundur perlahan. Pada akhirnya sembuh dari watak sok pintar, hanya kitab-kitab yang tekun dipelajari, serta cara menempatkan diri yang diasah. Bahkan mulai menggapai, urutan derajat yang lebih tinggi dalam ilmu. Kesempurnaan kesatuan kawula-Gusti, (dengan tetap) mensucikan DzatNya, agar pelaksanaanya tidak keliru. Kajian per kata: Wong (orang) anom (muda) meneng (diam) ngungun (keheranan), kaluhuran (teratasi, diungguli) sabda (dalam perkataan) alon (perlahan) mundur (mundur). Orang muda terdiam keheranan, teratasi perkataannya (oleh Kakek tua), lalu mundur perlahan. Si pemuda terdiam mendengar ucapan kakek tua, setengah keheranan dengan perilakunya sendiri. Karena merasa kalah dalam kebijaksanaan, menyadari kesalahan sikapnya dan berniat memperbaikinya. Dia perlahan mundur dan memperdalam lagi pengetahuannya. Ing (pada) wekasan (akhirnya) mari (sembuh) dennya (darinya) mbek (watak) gumaib (sombong, sok pintar), mung (hanya) lukita (kitab-kitab) kang (yang) ginilut (diperlajari), empan (cara menerapkan) papaning (papan, tempat) wiraos (dirasakan, diasah agar peka). Pada akhirnya sembuh dari watak sok pintar, hanya kitab-kitab yang tekun dipelajari, serta cara menempatkan diri yang diasah. Setelah peristiwa itu, dia sembuh dari watak sok pintar. Kemudian memperdalam ilmu, menyempurnakan pengetahuan dengan mengkaji kitab-kitab. Mengkaji di sini maksudnya dengan berguru kepada ahlinya, bukan sekedar membaca di kamar. Zaman dahulu belum seperti sekarang ketika kitab-kitab banyak berserak di toko buku. Dahulu mengkaji kitab harus kepada yang empunya kitab, ialah para cerdik pandai yang berkaitan. Apa yang diperdalam berkaitan dengan ilmu empan papan, yakni kemampuan untuk bersikap dan menempatkan diri pada tempat yang benar. Untuk dapat menguasai hal ini harus mempunyai empati kepada orang lain, tepa slira, serta mulat sarira hangrasa wani. Arti tepa slira sudah kita jelaskan dalam bait yang lalu, yakni mampu menerapkan akibat segala tindak-tanduk kepada diri sendiri atau dalam bahasa Indonesia disebut tenggang rasa. Mulat sarira hangrasa wani adalah filosofi Jawa yang bermakna mampu melihat nilai diri sendiri dan berani mengoreksi kesalahan sendiri. Misalnya dalam kasus orang yang suka umuk tadi, setelah mulat sarira, melihat diri sendiri ternyata ditemukan bahwa dirinya telah berbuat yang tidak patut, maka tahap selanjutnya adalah hangrasa wani, berani mengoreksi kesalahan tersebut. Dengan menyingkirkan rasa malu dan gengsi bersedia untuk memperbaiki diri, belajar lagi agar ilmu lebih sempurna. Orang muda yang diceritakan dalam bait ini tampaknya telah berhasil melewati tahap ini. Malah (bahkan) wiwit (mulai) anggayuh (menggapai), tuturutan (urutan) pangkating (derajat yang lebih tinggi) ngelmu (dalam ilmu). Bahkan mulai menggapai urutan derajat yang lebih tinggi dalam ilmu. Bahkan setelah selesai mengatasi egonya, si orang muda mulai menggapai derajat keilmuan yang lebih tinggi. Inilah sikap seorang pelajar sejati, kecanduan ilmu pengetahuan. Semakin banyak mereguk ilmu semakin haus, laksana minum air laut. Namun dalam hal ini kecanduan tersebut bersifat positif. Meski demikian harus tetap awas. Apapun yang overdosis sangat membahayakan. Orang yang bijaksana tahu kapan waktunya harus berhenti. Namun ilmu apakah yang derajatnya lebih tinggi itu? Kasampurnan (kesempurnaan) pamoring (kesatuan) kawula (kawula) Gusti (Gusti), mahasucekken (mensucikan) Datipun (DzatNya), pangrakiting (pelaksanaanya) reh tan (agar tidak) keron (keliru). Kesempurnaan kesatuan kawula-Gusti, (dengan tetap) mensucikan DzatNya, agar pelaksanaanya tidak keliru. Adalah kesempurnaan kesatuan kawula-Gusti. Amor adalah bersama atau bercampur atau kesatuan. Pamoring artinya kesatuannya antara kawula-Gusti, makhluk dan Allah Sang Pencipta. Namun hendaknya diingat bahwa kesatuan di sini bukan seperti yang sering disebut dengan manunggaling kawula-Gusti. Dalam syariat Islam, agama yang dianut Ki Gambuh penggubah serat ini, konsep manunggaling kawula-Gusti adalah konsep batil. Yang benar adalah konsep satunggaling kawula-Gusti. Inti dari konsep satunggaling kawula-Gusti adalah penyadaran akan realitas bahwa kita dan Tuhan itu satu dan tidak pernah terpisah. Dikatakan dalam Al Quran bahwa Allah lebih dekat daripada urat leher kita sendiri. Namun adakalanya manusia jauh dari Tuhan karena dirinya sendiri yang merasa jauh. Apabila kita sudah menyadari bahwa antara kita dan Tuhan itu dekat dan satu wujud. Bahwa wujud kita adalah WujudNya yang dipinjamkan, kalau dalam falsafah Jawa disebut nyawa mung gadhuhan, maka pada titik itulah realitas satunggaling kawula-Gusti tertanam dalam kesadaran kita. Konsep inilah yang sesuai dengan akidah Islam dan tidak mengotori kesucian Dzat Allah. Dalam penerapannya pun takkan sesat karena tidak akan pernah ada anggapan bahwa dirinya adalah Tuhan. Syari’at tetap dilaksanakan karena merupakan bentuk perekat atas realitas satunggal tersebut.

Jun kurang idsi

Kajian Wedharaga (29;31) Bait ke-29;31, Pupuh Gambuh (metrum: 7u 10u 12i 8u 8o), Serat Wedharaga, karya Raden Ngabehi Ranggawarsita: Maksih cilik ususmu, baya lagi sadami gengipun. Yen nyabranga luwih saking seket warsi, wus gedhe dawa ususmu. Barang kapinteran kamot. Mokal lamun alimut, jroning layang Nitisastra iku. Gajeg ana pralampitane kang muni, upama jun kurang banyu, kocak-kocik kendhit ing wong. Manawa kebak kang jun, yekti anteng den indhit ing lambung. Iku bae kena kinarya palupi, pedah apa umbak umuk, mundhak kaeseman ing wong. Terjemahan dalam bahasa Indonesia: Masih kecil ususmu, paling-paling baru sebatang padi besarnya. Kalau sudah melewati lebih dari lima puluh, sudah besar dan panjang ususmu. Sembarang pengetahuan termuat. Tak masuk akal jika (engkau) tak tahu, dalam serat Panitisastra itu. Kiranya ada perumpamaan yang berbunyi, seumpama guci kurang air, kocak-kocak jika dipinggang orang. Jika klenthing itu penuh, sungguh akan tenang kalau dibawa di pinggang. Hal itu saja bisa dibuat sebagai contoh, manfaat apa yang diperleh dengan pamer dan banyak mulut, hanya ditertawakan orang. Kajian per kata: Maksih (masih) cilik (kecil) ususmu (ususmu), baya (paling) lagi (baru) sadami (sebatang padi) gedhene (besarnya). Masih kecil ususmu, paling-paling baru sebatang padi besarnya. Kalimat cilik usus di atas adalah ungkapan tentang seseorang yang belum berpengalaman dalam kehidupan. Sebaliknya, di Jawa ada ungkapan dawa ususe, artinya orang yang sabar dan telaten dalam melakukan sesuatu, tidak grusa-grusu (tergesa-gesa) serta pemikirannya jauh ke depan. Yen (kalau) nyabranga (melintas) luwih (lebih) saking (dari) seket (lima puluh) warsi (tahun), wus (sudah) gedhe (besar) dawa (panjang) ususmu (ususmu). Kalau sudah melewati lebih dari lima puluh, sudah besar dan panjang ususmu. Di sini ada kata dawa usus, artinya sudah diterangkan di atas. Menurut Ki Gambuh yang menggubah serat ini batas kedewasaan seseorang dimulai dari usia 50 tahun. Lebih dari usia itu seharusnya sudah matang dalam pemikiran dan dewasa dalam tindakan, bajik dalam perilaku, bijak dalam pertimbangan. Kalau sudah lebih dari 50 tahun kok belum mempunyai ciri-ciri tersebut, yang bersangkutan sedang mengalami idiot spiritual. Barang (sembarang) kapinteran (pengerahuan) kamot (termuat). Sembarang pengetahuan termuat. Pada usia itu seharusnya pengetahuan seseorang sudah sempurna karena sudah tiba waktu baginya untuk mengajarkan pada seseorang segala kepandaian yang ia miliki. Meski mencari ilmu bisa dilakukan sampai ajal namun pada usia tersebut seseorang seharusnya sudah mulai membagikan ilmunya kepada orang lain. Mokal (tak masuk akal) lamun (jika) alimut (gelap, tak tahu), jroning (dalam) layang (serat, kitab) Nitisastra (panitisastra) iku (itu). Tak masuk akal jika (engkau) tak tahu, dalam serat Panitisastra itu. Limut artinya gelap, dalam gatra ini bermakna gelap pengetahuan atau tidak tahu. Nitisastra adalah nama serat yang berisi ajaran untuk hidup bermasyarakat di zaman dahulu. Serat Nitisastra yang asli ditulis dalam bahasa Kawi dalam bentuk kakawin. Oleh Sri Pakubuwana IV kemudian diperintahkan untuk disadur dalam bahasa Jawa anyar dalam bentuk Macapat, dan jadilah serat yang baru dengan nama Serat Panitisastra. Gajeg (kiranya, kalau tak salah) ana (ada) pralampitane (perumpamaan) kang (yang) muni (berbunyi), upama (seumpama) jun (klenthing, guci tanah liat) kurang (kurang) banyu (air), kocak-kocik (kocak-kocak) kendhit (di pinggang) ing wong (orang). Kiranya ada perumpamaan yang berbunyi, seumpama guci kurang air, kocak-kocak jika dipinggang orang. Jun atau disebut juga klenthing adalah guci dari tanah liat/tembikar tempat air. Sering dipakai untuk membawa air dari sumber air kala belum ada sumur. Biasanya para ibu rumah tangga membawanya dengan dijepit di pinggang dengan tangan. Cara membawa dengan posisi ini disebut ngendhit. Dalam serat Panitisastra ada sebuah perumpamaan tentang penguasaan ilmu seseorang. Diibaratkan ilmu seseorang laksana klenthing yang diisi air. Jika air tidak penuh ketika dibawa akan kocak dan berbunyi, krucuk-krucuk. Berisik suaranya. Manawa (jika) kebak (penuh) kang jun (klenthing itu), yekti (sungguh) anteng (tenang) den indhit (dibawa) ing (di) lambung (pinggang). Jika klenthing itu penuh, sungguh akan tenang kalau dibawa di pinggang. Sebaliknya jika klenthing itu penuh, sungguh akan tenang tak bersuara kalau dibawa di pinggang. Tidak terdengar bunyi krucuk-krucuk lagi. Dalam bahasa Indonesia ada pepatah yang artinya sama, tong kosong nyaring bunyinya. Artinya jika seseorang tak berilmu alias kosong otaknya, justru akan nyaring suaranya. Iku (itu) bae (saja) kena (bisa) kinarya (dibuat) palupi (contoh), pedah (manfaat) apa (apa) umbag (sombong, pamer) umuk (banyak mulut), mundhak (malah, hanya tambah) kaeseman (disenyumi, ditertawakan) ing wong (orang). Hal itu saja bisa dibuat sebagai contoh, manfaat apa yang diperleh dengan pamer dan banyak mulut, hanya ditertawakan orang. Dari kejadian sederhana tersebut sebenarnya kita sudah dapat mengambil pelajaran. Tidak ada manfaat dari suka pamer dan omong besar, hanya mengungkap bahwa kita kosong dari pengetahuan. Akibatnya orang-orang pun tertawa, tersenyum sinis melihatnya. Kaeseman artinya diberi senyuman, artinya mereka menertawakan secara halus. Dalam hati mereka berkata, “Oh maklum , orang kurang pengertian!”

Tanda durung kamot

Kajian Wedharaga (26;28) Bait ke-26;28, Pupuh Gambuh (metrum: 7u 10u 12i 8u 8o), Serat Wedharaga, karya Raden Ngabehi Ranggawarsita: Dongeng jaman karuhun, mbokmanawa pantes dadi pemut. Ana janma bagus anom sarwa wasis, nanging kuciwa kasebut, tukang sual juru waon. Sawiji dina nuju, temu lawan wong tuwa wus pikun. Mintoaken kabangkitan lair-batin. Kaki tuwa alon muwus, mengko ta wong bagus anom. Manira takon tuhu, lagi pira umurira bagus. Winangsulan uwis telung puluh warsi, kaki tuwa mesem muwus, layak durung bisa amot. Terjemahan dalam bahasa Indonesia: Ada cerita dari zaman dahulu, barangkali pantas menjadi peringatan. Ada seorang yang tampan masih muda serta cakap, tetapi yang mengecewakan dia disebut, tukang mencari masalah dan suka mencela. Suatu hari kebetulan, bertemu dengan orang tua yang sudah pikun. (Pemuda itu)menunjukkan kepandaian lahir batin. Kakek tua itu berkata dengan pelan halus, “Sebentar anak muda tampan. Saya bertanya yang sebenarnya, baru berapa umurmu, cah bagus?” Dijawab (oleh orang muda itu), “Sudah tiga puluh tahun.” Kakek tua tersenyum sambil berkata, “Pantas belum bisa memuat (pengetahuan)!” Kajian per kata: Dongeng (cerita) jaman (zaman) karuhun (dahulu), mbokmanawa (barangkali) pantes (pantas) dadi (menjadi) pemut (peringatan). Ada cerita dari zaman dahulu, barangkali pantas menjadi peringatan. Dongeng adalah cerita didaktik yang sering dipakai oleh para orang tua zaman dulu untuk menyampaikan pesan atau petuah. Pesan-pesan itu dibingkai dalam cerita agar berkesan mendalam. Umumnya dongeng ditujukan untuk anak-anak yang belum begitu berkembang pikirannya. Karena itu dongeng sering berbentuk fabel semisal Kancil Nyolong Timun, Timun Emas, Kancil dan Buaya, dll. Dengan dongeng pesan-pesan disampaikan dengan berkesan tanpa harus menggurui. Kadang seorang anak yang pikirannya sudah berkembang membantah dongeng tersebut karena sering tidak masuk akal, seperti binatang kok bisa bicara, dll. Orang tua zaman dahulu hanya menjawab singkat, “Ini kan hanya dongeng, dipaido kenging!” Dalam bait ini Ki Gambung juga hanya menyampaikan dongeng, jadi Anda pun boleh membantahnya, tetapi lebih baik dengarkalah, barangkali bisa menjadi peringatan bagi kita semua. Ana (ada) janma (seorang) bagus (tampan) anom (masih muda) sarwa (serta) wasis (cakap), nanging (tetapi) kuciwa (yang mengecewakan) kasebut (disebut), tukang (tukang) sual (mencari masalah) juru (suka) waon (mencela). Ada seorang yang tampan masih muda serta cakap, tetapi yang mengecewakan dia disebut, tukang mencari masalah dan suka mencela. Ada seorang pemuda yang tampan dan cakap serta pintar. Namun ada hal yang mengecewakan darinya. Dia disebut-sebut orang suka mencari persoalan dengan orang lain. Dan juga suka mencela sesama. Ini adalah khas perilaku anak muda yang suka mengikuti gejolak hati, seperti yang sudah kita sebutkan wataknya dalam bait-bait yang lalu. Sawiji (suatu) dina (hari) nuju (di saat, kebetulan), temu (bertemu) lawan (dengan) wong (orang) tuwa (tuwa) wus (sudah) pikun (pikun). Mintoaken (dari kata mitontonaken, menunjukkan) kabangkitan (kepandaian) lair –batin (lahir batin). Suatu hari kebetulan, bertemu dengan orang tua yang sudah pikun.(Pemuda itu)menunjukkan kepandaian lahir batin. Suatu hari dia bertemu dengan seorang tua yang sudah pikun. Tanpa unggah-ungguh dan sopan santun pemuda itu menunjukkan kepandaiannya lahir dan batin. Anak muda memang tidak sabaran. Ketika melihat sesuatu yang berbeda dari apa yang diketahuinya biasanya langsung bereaksi dengan cara yang kurang patut. Misalnya, menyalahkan, mencela atau menggurui. Ini reaksi yang wajar dari seorang yang kurang sempurna ilmunya, tanda tak luas wawasannya, menunjukkan kerdilnya pikiran dan dangkalnya pengetahuan. Mereka tidak mempertimbangkan ada kebenaran lain yang diluar pengetahuannya. Kaki (kakek) tuwa (tua) alon (pelan, halus) muwus (berkata), mengko ta (sebentar) wong (orang) bagus (tampan) anom (muda). Manira (saya) takon (bertanya) tuhu (yang sebenarnya), lagi (baru) pira (berapa) umurira (umurmu) bagus (bagus, tampan). Kakek tua itu berkata dengan pelan halus, “Sebentar anak muda. Saya bertanya yang sebenarnya, baru berapa umurmu cah bagus?” Menanggapi ketidak sopanan orang muda tadi kakek tua berkata dengan halus, “Sebentar anak muda. Ke sinilah dahulu. Duduklah di sini! Saya ingin bertanya, baru berapa umurmu bocah bagus?” Bocah bagus, atau cah bagus adalah panggilan sayang para orang tua kepada anak-anak muda. Namun panggilan ini sering kali dipakai sebagai cara untuk membujuk anak-anak nakal agar mau dinasehati. Tampaknya kakek tua sedang melakukan itu. Winangsulan (dijawab) uwis (sudah) telung puluh (tiga puluh) warsi (tahun), kaki (kakek) tuwa (tua) mesem (tersenyum) muwus (berkata), layak (pantas) durung (belum) bisa (bisa) amot (memuat). Dijawab (oleh orang muda itu), “Sudah tiga puluh tahun.” Kakek tua tersenyum sambil berkata, “Pantas belum bisa memuat (pengetahuan)!” Ketika orang muda itu menjawab sudah tiga puluh umurnya, kakek tua hanya berkata setengah bergumam, “Oh pantas belum bisa memuat (pengetahuan)!” Tiga puluh tahun ternyata belum mencapai usia yang matang dalam berilmu, itulah pendapat si kakek tua. Lalu berapakah usia seseorang mencapai kematangan pikir dan kedewasaan sikap? Nantikan dalam kajian berikutnya.